PANGARSA : Jurnal Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Volume. Nomor. Juni 2025 E-ISSN . : 3089-6347: Hal. Tersedia: https://journal. id/index. php/PANGARSA Transformasi Lembaga Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam (Studi Kasus: Ponpes Nur Rohman AuMbah UmarAy Donorojo Pacitan Jawa Timu. Ali Mahbub Prodi Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti Wonogiri. Indonesia Email: mahbubupati@gmail. Alamat: Jl. Cempaka 6. Wonoboyo. Kec. Wonogiri. Kabupaten Wonogiri. Jawa Tengah. Indonesia Penulis korespondensi Abstract. This article discusses the emergence of transformation theory in education and its implications for Islamic education management. The background of this study departs from the demands of the times that demand the birth of a creative, innovative, and productive generation that is able to contribute to the development of society and the formation of a better global civilization. To answer these challenges, a new perspective is needed in the implementation of education, namely a transformative perspective. This study uses a qualitative descriptive approach with a focus on transformative learning theory introduced by Jack Mezirow. This theory emphasizes the importance of changing the way students think through critical reflection on the experiences and values adhered to. In the context of Islamic education, this theory has developed into a transformative educational theory that is relevant in the face of the challenges of globalization and the dynamics of the 21st century. The implications of this approach require Islamic educational institutions to focus on improving the quality and competitiveness of the institution. The case study of the Nur Rahman Donorojo Islamic Boarding School shows that the application of a transformative approach has succeeded in improving the quality of education through the establishment of SMK Negeri 1 Donorojo in the pesantren environment. This is proof that the integration of transformation theory in Islamic education management can encourage institutional innovation and strengthen the contribution of Islamic education in community development. Keywords: Education Management. Globalization Of Education. Islamic Education. Theory Mezirow. Transformative Education Abstrak. Artikel ini membahas kemunculan teori transformasi dalam pendidikan dan implikasinya terhadap manajemen pendidikan Islam. Latar belakang kajian ini berangkat dari tuntutan zaman yang menuntut lahirnya generasi kreatif, inovatif, dan produktif yang mampu berkontribusi dalam pembangunan masyarakat serta pembentukan peradaban global yang lebih baik. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan perspektif baru dalam penyelenggaraan pendidikan, yaitu perspektif transformatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan fokus pada teori pembelajaran transformatif yang diperkenalkan oleh Jack Mezirow. Teori ini menekankan pentingnya perubahan cara berpikir peserta didik melalui refleksi kritis terhadap pengalaman dan nilai-nilai yang dianut. Dalam konteks pendidikan Islam, teori ini berkembang menjadi teori pendidikan transformatif yang relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan dinamika abad ke-21. Implikasi dari pendekatan ini menuntut lembaga pendidikan Islam untuk berfokus pada peningkatan kualitas dan daya saing institusi. Studi kasus Pondok Pesantren Nur Rahman Donorojo menunjukkan bahwa penerapan pendekatan transformatif berhasil meningkatkan mutu pendidikan melalui pendirian SMK Negeri 1 Donorojo di lingkungan pesantren. Hal ini menjadi bukti bahwa integrasi teori transformasi dalam manajemen pendidikan Islam dapat mendorong inovasi kelembagaan dan memperkuat kontribusi pendidikan Islam dalam pembangunan Kata kunci: Globalisasi Pendidikan. Manajemen Pendidikan. Pendidikan Islam. Pendidikan transformatif. Teori Mezirow PENDAHULUAN Banyak cerita duka yang pernah kita dengarkan tentang pondok pesantren surut sepeninggal kyai-nya, kemudian tidak sedikit kisah sedih pondok pesantren yang sekarang tinggal nama karena penerusnya kurang berkualitas, dan bahkan terdapat di lingkungan sekitar Diterima: 12 Juni, 2024. Direvisi: 29 Juni 2024. Diterima: 15 Juli 2024. Terbit: 30 Juli, 2024 Transformasi Lembaga Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam kita lembaga pendidikan Islam mati, tidak diminati masyarakat karena mis manajemen Di era revolusi industri 4. 0 serta masyarakat 5. 0 ini perlu untuk mengelola lembaga pendidikan dengan visi yang jauh ke depan. Pondok pesantren Nur Rahman Donorojo Pacitan telah bertransformasi dari mengelola pondok pesantren tradisional menjadi pengelola lembaga pendidikan sekolah yang megah dengan nama SMK Negeri 1 Donorojo yang berlokasi di atas tanah wakaf dari KH. Umar Sahid Donorojo. Beliau menghibahkan tanah milik pribadi seluas 600 m2 dan bangunan 5 ruang kepada pemerintah kabupaten Pacitan untuk pendidikan yang selanjutnya digunakan SMK Negeri Donorojo. Sekarang SMK Negeri Donorojo telah berkembang memiliki 23 rombongan belajar dengan jumlah peserta didik 657 orang. Memiliki 19 ruang kelas dan 2 ruang praktek serta Laboratorium KKPI dan TKJ yang memenuhi Standart. Menghadapi perkembangan abad 21, tujuan pendidikan lebih dari sekedar mentransfer pengetahuan, tetapi juga pengembangan nalar kritis peserta didik. Pendidikan harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya berdaya saing dalam kompetensinya, tetapi juga harus menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan dan berperan dalam perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Permasalahan di masyarakat yang semakin kompleks dan multikultur membutuhkan generasi-generasi yang kreatif, inovatif, produktif dan mampu berkontribusi membangun masyarakat, bangsa dan negara serta peradaban dunia Tuntutan dan tantangan masa depan tersebut membutuhkan adanyaperspektif baru dalam pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan perubahan dari waktu ke waktu. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Pertanyaan ini mengarahkan pada rekonstruksi pemikiran penyelenggaraan pendidikan yang lebih transformatifAiyang mampu membaca kondisi riil masyarakat, peluang dan tantangan dalam upaya Kata Transformasi atau transformatif telah menjadi kata kunci dalam kaitannya dengan pendidikan berkelanjutan. Secara sederhana, transformasi populer dan identik dengan kata perubahan. Perubahan merupakan sunnatullah dan menjadi bagian hidup manusia. Tidak terkecuali dalam ranah Lingkungan pendidikan yang semakin kompetitif dan masyarakat yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu memberikan tantangan bagi institusi pendidikan untuk bisa mengikuti segala bentuk perkembangan tersebut agar bertahan. Allah SWT sendiri menganjurkan manusia dapat berfikir dan bertindak transformatif, sebagaimana firman-Nya: PANGARSA - VOLUME. NOMOR. JUni 2025 E-ISSN . : 3089-6347: Hal. AcEEa aE OacOa aI aaC eOsI a Nc OacOaeO aI aIe aA a aN eIA AA acI NA Artinya: AuSesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ay (Qs. Ar-RaAod . : . Meski sangat populer dibahas dalam beberapa kajian akademis, kata AotransformatifAo membutuhkan pemahaman terkait konsep dasar dan perkembangan teori yang muncul. upaya mewujudkan pendidikan yang berlandaskan perubahan, kata ini pada dasarnya membutuhkan pemahaman untuk benar-benar dapat mewujudkannya. Dengan demikian, diperlukan pembahasan mengenai teori transformasi dimulai pemaknaanya, kemunculannya dan implikasinya bagi pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang bermutu. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan metode penelitian lapangan dan kepustakaan. Hamzah menjelaskan bahwa dalam konteks penelitian lapangan dengan mengamati lembaga pendidikan tempat penelitian secara langsung beserta dokumendokumen yang menerangkan tentang sejarah pendirian sampai perkembangannya, adapun studi kepustakaan, data-data diperoleh melalui eksplorasi terhadap bahan-bahan pustaka yang dikaji secara holistik, kemudian dianalisis berdasarkan kerangka berpikir atau teori tertentu/paradigma filosofis yang melandasinya, juga menggunakan pendekatan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. penelitian ini menggunakan paradigma kerangka transformatif,yang berupaya menyuarakan gagasan-gagasan tentang pentingnya memahami kehadiran teori transformasi, sehingga dapat membangkitkan kesadaran masyarakat muslim khususnya untuk dapat semakin meningkatkan mutu pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Pendekatan yang digunakan adalah intepretatif, yaitu sebagai bentuk upaya memamahi suatu pemahaman. Peneliti membaca dan mengkaji bahan-bahan pustaka yang sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi . ontent analysi. PEMBAHASAN Kata transformasi, seringkali digunakan untuk merujuk pada makna perubahan. Kata ini berasal dari bahasa Inggris transform, yang artinya . to change in composition or structure. to change the outward from or appearance of dan . to change in character of condition. Dari makna-makna tersebut dapat ditarik pengertian bahwa transformasi berarti perubahan Transformasi Lembaga Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam komposisi atau struktur, penampilan, atau karakter dari sebuah kondisi. Istilah lain yang serupa dengan kata ini adalah metamorphose, convert dan transmute. Ketiganya dapat dimaknai adanya sebuah perubahan, di mana tidak hanya berubah derajatnya tetapi berubah jenisnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Daszko. Macur & Sheinberg yang menyatakan bahwa semua transformasi itu perubahan, tetapi tidak semua perubahan itu dapat disebut transformasi . ll transformation is change, not all change is transformatio. Disebut transformasi jika merujuk pada perubahan jenis (AuTransformation is a change in kind. not a change in degreeA. Kemunculan Teori Transformasi dalam Pendidikan Teori transformasi muncul dalam dunia pendidikan dikembangkan pertama kali oleh Mezirow pada tahun 70-an. Mezirow mengembangkan teori pembelajaran transformatif (Transformative learnin. Teori ini dikembangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Mezirow pada sekelompok wanita putus sekolah, yang bersekolah kembali setelah sekian lama meninggalkan bangku sekolah. fokus dari penelitian adalah perubahan peranan dan konsep diri yang terjadi pada para wanita tersebut, sebagai akibat dari hasil proses Studi tersebut menghasilkan kesimpulan adanya perubahan asumsi dan cara berfikir . rame of referenc. para wanita tersebut seiring dengan muncul dan berkembangnya kesadaran kritis sebagai hasil dari pengalaman pembelajaran. Mezirow7 menyebut perubahan perspektif tersebut dengan istilah Aotransformation perspektifAo . erspektif transformati. Perspektif transformatif muncul diasumsikan karena adanya konsep lama pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai objekAibukan subjek dan pasifAisehingga tidak ada pengakuan terhadap potensi peserta didik. Pengukuran keberhasilan pembelajaran pada konsep ini berfokus pada kinerja akademik siswa. Salah satu pendekatan lama tersebut misalnya pendekatan instrumentalist, yang mengukur kualitas pembelajaran dari sudut pandang teknis, yaitu melalui kinerja akademik peserta didik. Pendekatan ini lebih berfokus pada hasil yang ingin melihat perubahan-perubahan pada peserta didik . isalnya perilaku, bertambahnya hafalan ds. , melalui pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai objek pasif. Perspektif pembelajaran instrumentalis pada akhirnya mendapatkan kritik, karena hanya dapat diberlakukan pada lembaga formal yang memiliki sistem jelas. Padahal, pembelajaran pada manusia dapat berlaku kapan saja dan di mana saja, dan sepanjang hayat. Misalnya pada pendidikan non-formal, di mana struktur dan sistem-nya disesuaikan sedemikian rupa dengan kondisi peserta didik. Diperlukan konsep pengukuran kualitas pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai subjek dengan mendengar langsung penilaian mereka tentang pengalaman belajarnya sendiri. 9 Karakteristik peserta didik di satuan pendidikan non formal bisa bersifat heterogen, artinya setiap peserta didik akan memberikan makna yang beda PANGARSA - VOLUME. NOMOR. JUni 2025 E-ISSN . : 3089-6347: Hal. untuk menilai pengalaman belajarnya, serta justifikasi hasil dan manfaat pendidikan yang dijalaninya berdasarkan orientasi pendidikan masing-masing. Dengan demikian diperlukanlah pembelajaran perspektif transformatif. Perspektif transformatif, memberikan keyakinan bahwa penilaian keberhasilan suatu pembelajaran, adalah mendengarkan peserta didik menilai sendiri pengalaman belajarnya. Dengan perspektif ini, maka konsep pengukuran kualitas pendidikan, dapat lebih mengedepankan cara-cara yang lebih humanis, yaitu meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar . earning engagemen. dan mendengarkan AuperspektifAy siswa tentang belajar . Pengajaran . dan persekolahan . yang mereka alami menjadi dasar penilaian apakah siswa di mendapatkan manfaat dari program pendidikan tersebut atau keberhasilan siswa dalam belajar dinilai dari perubahan aspek psikologis siswa, khususnya perubahan cara pandang . sebagai perubahan kesadaran yang mendasar yang akan digunakan untuk memaknai pengalaman hidupnya. Cara pandang baru tersebut didapat dari proses berpikir kritis dan hasil refleksi terhadap prilaku dan pengetahuan yang didapat, yang berkontribusi pada pemberdayaan diri tiap siswa. Diskusi tentang perspektif transformatif pada akhirnya melibatkan beragam elemen dan gerakan dalam pendidikan kontemporer. Menurut OAoSullivan pendekatan pada pembelajaran transformatif merupakan upaya integral, yang melibatkan banyak faktor. Teori ini disebut integral transformative learning. Integral artinya dibentuk sebagai satu unit dengan bagian lain. Dengan kata lain, pembelajaran bukan kegiatan yang berdiri sendiri melainkan sangat berkaitan dengan aspek-aspek lain dalam kegiatan pendidikan dalam skala yang lebih luas, yaitu berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia di masa mendatang. Teori ini muncul dari pandangan bahwa manusia hidup dalam periode transisi besar dalam sejarah di mana ada banyak sudut pandang yang bersaing. Manusia hidup dalam suatu periode dari sejarah bumi yang sangat bergolak dan dalam sebuah zaman di mana ada proses perubahan yang menjadi tantangankita di setiap periode waktu. Manusia benar-benar terjebak dalam proses transformasi yang luar biasa tersebut, dan memiliki tanggung jawab signifikan atas arah yang akan diambil. Hal yang menakutkan adalah kepemilikan atas dunia ini sekaligus menjadi kekuatan yang menentukan kepunahan planet ini. Begitu besarnya tanggung jawab atas planet, maka semua usaha pembelajaran transformatif pada akhirnya harus ikut bertanggung jawab dalam upaya kesinambungan hidup planet ini. Hal ini merupakan tantanganbesar untuk semua area Dengan demikian, kegiatan pembelajaran transformatif membutuhkan arah pendidikan transformatif. Ketika menentukan prioritas pendidikan, setiapusaha pendidikan harus mengingat besarnya implikasi hasil pendidikan untuk kehidupan mendatang. Dengan Transformasi Lembaga Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam demikian, pembelajaran dalam konteks "perspektif transformatifAy membutuhkan keterlibatan visi Aupendidikan transformatifAy yang harus mengarahkan perhatian pada konteks masa depan kehidupan manusia. Teori Pembelajaran Transformatif Teori pembelajaran transformatif sejalan dengan paradigma konstruktivis, di mana individu membangun pengetahuan melalui pengalaman selama hidup di dunia. Mezirow menjelaskan pembelajaran transformatif sebagai sebuah proses perubahan frame of reference. Selama hidup, manusia mengembangkan serangkaian konsep, nilai-nilai, perasaan, tanggapan dan hubungan yang kemudian membentuki pengalaman hidup. Kerangka acuan berfikir . rame of referenc. membantu individu untuk memahami pengalaman-pengalaman di dunia melalui dua dimensi: habits of mind . ebiasaan berfiki. dan point of view . udut pandan. berfikir individu dapat diartikulasikan menjadi sudut pandang. Misalnya, konsumerisme adalah kebiasaan pikiran yang diartikulasikan melalui sudut pandang tentang pembelian produk. Sudut pandang umumnya lebih mudah diakses dari pada kebiasaan pikiran, yang lebih sulit untuk diubah daripada sudut pandang. Pembelajaran transformatif berkaitan dengan mengubah bingkai referensi melalui refleksi kritis dari kebiasaan pikiran dan sudut pandang tersebut. Misalnya, ketika secara kritis merefleksikan pola konsumsi dan produksidapat berdampak pada perilaku konsumtif individu itu sendiri. Melalui refleksi kritis, individu dapat memindahkan pemahaman, mengubah pandangan dunia, dan menciptakan pengalaman belajar yang transformatif. Dari contoh refleksi tentang konsumsi, individu dapat memahami mengapa mereka mengkonsumsi apa yang mereka lakukan saat ini. Pembelajaran transformatif berusaha merubah makna lama yang dimiliki seseorang menuju makna baru berdasarkan hasil dari revisiinterpretasi makna pengalaman sebagai acuan tindakan dimasa mendatang. Siklus dasar transformasi terjadi melalui serangkaian refleksi terhadap pandangan-pandangan hidup dan kebiasaan pikiran hingga dapat mengubah kerangka acuan berpikir seseorang. Tujuan dari pembelajaran transformatif adalah merevisi asumsi lama dan cara menafsirkan pengalaman melalui refleksi kritis dan refleksi diri. Proses ini sering melibatkan curahan emosi melalui rasa sedih, salah paham dan frustasi. Cranton16 menselaraskan pembelajaran kelompok transformatif ini mirip dengan definisi pembelajaran kelompok partisipatif. Penekanannya ada pada refleksi diri dan tanggung jawab siswa untuk tujuan pembelajaran. Kelompok pembelajaran transformatifakan mengarah pada perubahan individu dan sosial. Dalam interpretasinya, peserta didik bisa dan mau terlibat pada tindakantindakan kolektif setelah menetapkan tujuan bersama dalam kelompok tersebut. Tujuan akhir PANGARSA - VOLUME. NOMOR. JUni 2025 E-ISSN . : 3089-6347: Hal. dari pembelajaran transformatif adalah memberdayakan individu untuk mengubah perspektif Pendidik dalam situasi ini bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan terbuka untuk refleksi diri. Lingkungan ini dapat terbentuk jika pendidik dan para pengelola memiliki perspektif pendidikan transformatif. Teori Pendidikan Transformatif Dalam konteks pendidikan lebih luas, teori pembelajaran transformatif mendorong munculnya teori pendidikan transformatif. Meski beberapa ahli menyamakan dan mempertukarkan kedua istilah pembelajaran dan pendidikan. McWhinney dan Laura Markos menjelaskan bahwa keduanya berbeda. belajar adalah sebuah perolehan pengetahuan serta model mengorganisasikan, mempertanyakan, membuat keputusan, dan mengeksplorasi asumsi dan konstruksi diri sendiri terhadap realitas. Belajar terjadi dalam peristiwa, dan tidak secara eksplisit ditata. Belajar adalah proses, dan bukan program. Sebaliknya, pendidikan adalah program atau kursus pembelajaran. Dengan demikian, ia memiliki tujuan dan durasi waktu dan terdiri dari sejumlah acara pembelajaran. Pendidikan selalu terprogram, dan dirancang untuk menghasilkan hasil-hasil sosial yang spesifik untuk populasi khusus yang dilayaninya. Pendidikan tidak pernah secara politis netral. Pendidikan mengarahkan siswa untuk menerima asumsi tentang kekuatan, realitas, moralitas, dan formulasi pengetahuan yang diilhami oleh kurikulum. Sebagian besar pendidikan hari ini adalah proses untuk membesarkan orang untuk memenuhi peran mereka yang tepat dalam masyarakat yang ada, bersosialisasi dengan bahasa mereka, lalu mengajari mereka ekonomi kemasyarakatan, peran mereka dalam masyarakat, dan bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam seni dan ilmu, serta agama dan filosofi. Beberapa orang dididik untuk menjadi pemimpin untuk politik, sistem ekonomi, dan hukum, dan untuk mendukung pendidikan lebih lanjut. Kemunculan teori transformatif pada pembelajaran, yang mengarah pada terbentuknya pelajar-pelajar otonomAiditandai dengan kebebasan berfikir peserta didik sebagai acuan bertindakAimembutuhkan pendidikan yang berparadigma transformatif. Paradigma ini mengarahkan pada model pendidikan yang kooperatif terhadap segenap kemampuan peserta didik menuju proses berpikir kreatif dan bebas. Pendidikan transformatif menghargai potensi Pada konteks ini, setiap komponen pendidikan perlu diarahkan pada refleksi pemahaman terhadap diri sendiri, hubungan dengan orang lain, alam dan masyarakat, serta merancang masa depandan memiliki daya . untuk melakukan tindakan berupa perbaikan masa depan. Integrasi seluruh prinsip ini pada dasarnya adalah saling berkaitan yang terfokus pada transformasi yaitu perubahan yang mendasar dan holistik, tidak hanya dalam Transformasi Lembaga Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam ukuran kuantitatif . enjadi besa. , namun juga kualitas . enjadi lebih bai. Sehingga analogi yang digunakan dalam transformatif ini seringkaliadalah metamorfosis pada kupu-kupu, yang tidak hanya berubah bentuk namun berubah menjadi lebih indah. Pendidikan dengan prinsip transformative learning akan mengintegrasikan refleksi peserta didik atau lembaga pendidikan terhadap dirinya sendiri . elf-critical reflectio. yang dikaitkan dengan pengalamannya untuk mengembangkan dan mentransformasi kompetensi hasil belajar secara holistik. Pendidikan transformatif meraih sasaran bagaimana peserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuannya untuk proses perubahan individu secara humanis dan Untuk dapat mewujudkan pendidikan transformatif, terdapat sejumlah prinsip. Pertama, tumbuhnya kesadaran kritis peserta didik. Peserta didik memiliki kesadaran terhadap tatanan masyarakat dan relasi sosial sehingga memahami hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya ketidakadilan, ketimpangan atau ketidaksetaraan sosial. Kedua, berorientasi masa depan. Artinya, potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dapat dikembangkan ke arah kontribusi terhadap kehidupan masa mendatang. Ketiga, berorientasi pada nilai-nilai humanis. Keempat, berorientasi skillAihal ini agar potensipeserta didik dapat teraktualisasi untuk digunakan dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Kelima, adanya jaminan kualitas. Implikasi Teori Transformasi pada Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam Pespektif transformatif dalam pendidikan membawa implikasi pada dibutuhkannya pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang bermutu. Era globalisasi telah memberi dampak yang cukup luas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk tuntutan dalam penyelenggaraan Salah satu tantangan nyata tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi utuh, dikenal dengan kompetensi abad ke-21. Kompetensi abad ke-21 merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki agar generasi penerus mampu berkiprah dalam kehidupan nyata pada abad ke-21. Abad-21 ditantang untuk mampu menciptakan pendidikan yang dapat ikut menghasilkan sumber daya pemikir yang mampu ikut membangun tatanan sosial dan ekonomi. Tantangan tersebut juga berlaku pada pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Dalam sebuah ayat Allah SWT mengingatkan bagaimana kita harus memperhatikan bekal kompetensi untuk generasi mendatang sebagaimana firman Allah SWT: A Eac aOe aI Ea eO aE eO aI eI a eE aA aN eI a aOac a NA a eO aEaeO aN eIA a AaOEeOa eA Artinya: AuDan hendaklah takut . epada Alla. orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap PANGARSA - VOLUME. NOMOR. JUni 2025 E-ISSN . : 3089-6347: Hal. Ay (QS: An-Nisa:. Ayat ini berimplikasi pada pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang memiliki tanggung jawab sosial atas tercapainya tujuan pendidikan dalam mempersiapkan anak didik memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan zaman di mana anak itu akan hidup kelak. Tantangan tersebut dapat dijawab jika pengelolaan lembaga pendidikan Islam Kualitas ini dapat dicapai jika lembaga pendidikan Islam Etistika Yuni Wijaya et al. AuTransformasi Pendidikan Abad 21 Sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia Di Era Global,Ay ini dapat dikelola secara otonom dengan melibatkan partisipasi Prinsip-prinsip pengelolaan pendidikan seperti Total Quality Management (TQM) dapat diterapkan dengan tetap menyesuaikan dengan kebutuhan lembaga dan masyarakat. Dalam hal ini dibutuhkan optimalisasi pengelolaan sumber daya manusia yang berupaya mengembangkan potensi manusia. Di samping itu, dibutuhkan juga penerapan karakteristik kepemimpinan transformasional, di mana konsepnya telah berkembang pesat di dunia pendidikan, dan telah disimpulkan menjadi praktik kepemimpinan yang sesuai untuk menghadapi tantangan abad 21. Menurut Arcaro, mutu adalah sebuah proses struktur untuk memperbaiki keluaran yang Mutu juga dapat kita anggap sebagai sebuah filosofi, yang dijadikan acuan dari pelaksanaan sebuah kegiatan atau program. Sebagaimana yang disampaikan Salis bahwa mutu, khususnya dalam kontek TotalQualityManagement (TQM) adalah merupakan sebuah filosofi yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Jika mutu menjadi filosofi atau acuan dasar, maka mutu harus memiliki standar minimal yang bisa saja terus meningkat seiring dengan kebutuhan dari masyarakat. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Proses dapat dikatan bermutu tinggi apabila pengorganisasian dan penyerasian serta pemanduan input sekolah dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan . njoyable learnin. , mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan mampu benar-benar memberdayakan peserta didik. Dengan penerapan konsep-konsep manajemen mutu kontemporer yang ditunjang dengan praktik kepemimpinan transformasional, maka lembaga-lembaga pendidikan Islam yang semakin meningkat jumlahnya, diharapkan akan dapat bertransformasi menjadi lembagalembaga yang semakin meningkat kualitasnya, mengikuti kebutuhan dan tuntutan zaman. Transformasi Lembaga Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam Transformasi Pendidikan tradisional Pesantren Nur Rahman menjadi SMK N 1 Donorojo meningkatkan mutu dan Daya Saing Lembaga Pendidikan Sebelum surutnya KH. Umar Sahid sebagai pengasuh Ponpes Nur Rahman Donorojo berinisiatif untuk mendirikan sekolah negeri di lingkunan pesanstren beliau. Usulan ini didengar oleh Presidden Susilo Bambang Yudoyono yang menjabat RI 1 pada waktu itu sehinga kemudian berdirilah SMK N 1 Donorojo. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Donorojo Kabupaten Pacitan merupakan di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan. Sekolah ini dibangun di atas tanah Wakaf seluas A 1194 mA yang terletah di Jalan jajar Indah No. Kelurahan Donorojo. Kecamatan Donorojo. Kabupaten Pacitan. Berdiri pada 2006, dengan SK Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur no. 2 / 1992 / 408. 03 / 2004 tahun 2006 dan mulai menerima siswa baru pada awal tahun pelajaran 2006/2007. Dan saat sekarang peserta didiknya berjumlah 805 anak dengan jumlah Guru dan tenaga Kependidikan sebanyak 70 orang. Semester 2024/2025 Ganjil Data PTK dan PD Uraian Guru Tendik PTK Laki-laki Perempuan Total Gambar 1. Jumlah total data PTK dan PD. Demikian sejarah singkat transformasi pengelolaan pondok pesantren Nur Rohman menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Donorojo Kabupaten Pacitan semenjak berdirinya hingga saat ini menjadi sekolah kejuruan yang tidak sepi peminat, adapun programnya adalah sebagai berikut: Kurikulum yang digunakan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Donorojo Kabupaten Pacitan: Kurikulum Dinas Pendidikan. Program Penunjang: Program Kompetensi (Ekstrakurikule. , meliputi Komputer. Jurnalistik. Olahraga Prestasi. Karya Ilmiah Remaja (KIR). Program Insidental, meliputi: Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Pengajaran Luar Kelas (PLK). Kegiatan Romadhon. Class Meeting. Program Ibadah Praktis, meliputi: Sholat Jamaoah. Sholat Dhuha. Program Khusus, meliputi: Prakerin. PANGARSA - VOLUME. NOMOR. JUni 2025 E-ISSN . : 3089-6347: Hal. bimbingan Unas. Try Out Unas. Mentoring. KESIMPULAN Perspektif transformatif pada akhirnya mengantarkan pada perspektif yang lebih luas pada pendidikan transformatif. Pada konteks ini, setiap komponen pendidikan perlu diarahkan pada refleksi pemahaman terhadap diri sendiri, hubungan denganorang lain, alam dan masyarakat, serta merancang masa depandan memiliki daya . untuk melakukan tindakan berupaperbaikan masa depan. Bagi lembaga pendidikan Islam, perspektif transformatif membawa implikasi pada dibutuhkannya pengelolaan lembaga pendidikan Islam yang bermutu. Di Abad-21, lembaga pendidikan Islam ditantang untuk mampu menciptakan pendidikan yang dapat ikut menghasilkan sumber daya pemikir yang mampu ikut membangun tatanan sosial dan ekonomi, hingga terbentuk peradaban manusia yang lebih baik. Proses dapat dikatan bermutu tinggi apabila pengorganisasian dan penyerasian serta pemanduan input sekolah dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan . njoyable learnin. , mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan mampu benar-benar memberdayakan peserta didik sehingga lembaga pendidikan menjadi bermutu dan berdaya saing tinggi, seperti yang telah terjadi di Ponpes Nur Rohman yang mendirikan SMK N 1 Donorojo di lingkungan pesantrennya. DAFTAR PUSTAKA