Volume 9 No 1 . Pages 14-19 Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya ISSN: 2621-1017 (Onlin. 2549-7928 (Prin. Journal Homepage: https://journal. id/index. php/Purwadita Dinamika Pemertahanan Upacara Ngaben Adat Pada Masyarakat Desa Sidatapa Komang Agus Budhi Arya Pramana 1A. I Made Santika 2 1 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia 2 Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Indonesia Abstrak Ngaben adat di Desa Sidatapa, yang dikenal juga sebagai ngaben adat nangun, menunjukkan dinamika pemertahanan yang unik di tengah masyarakatnya. Ritual ini tidak hanya memiliki tata cara pelaksanaan yang khas, tetapi juga sarat dengan makna filosofis dan ideologis yang diwariskan secara turun-temurun. Meskipun menghadapi tantangan dari perubahan zaman dan pengaruh eksternal, masyarakat Desa Sidatapa tetap berkomitmen untuk menjaga kelestarian upacara ngaben adat sebagai bagian penting dari identitas budaya mereka. Penelitian ini bertujuan mengkaji dinamika pemertahanan upacara ngaben adat dengan fokus pada alasan, serta implikasi sosial dan budaya yang muncul. Metode deskriptif kualitatif digunakan dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemertahanan upacara ngaben adat didorong oleh beberapa faktor utama, yaitu komitmen menjaga rumah adat sebagai simbol identitas, pelestarian banten bali taksu dan banten bangun urip sebagai warisan spiritual, persatuan semua wangsa dalam masyarakat, eksistensi orang suci yang memimpin upacara, serta kepatuhan terhadap sanksi leluhur dan Ida Panembahan. Secara implikasi, upacara ngaben adat memberikan ketenangan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan, menanamkan nilai-nilai moral dan pendidikan dalam kehidupan sehari-hari, serta memperkuat ideologi kekeluargaan dan solidaritas sosial di antara warga. Dengan demikian, dinamika pemertahanan upacara ngaben adat di Desa Sidatapa menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sumber nilai, identitas, dan kekuatan sosial yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kata Kunci: ngaben adat. Abstract Traditional Ngaben ceremony in Sidatapa Village, also known as Ngaben Adat Nangun, demonstrates a unique dynamic of preservation within its community. This ritual not only features distinctive procedures but is also rich with philosophical and ideological meanings passed down through generations. Despite facing challenges from changing times and external influences, the people of Sidatapa Village remain committed to maintaining the continuity of the traditional Ngaben ceremony as an essential part of their cultural identity. This study aims to examine the dynamics of preserving the Ngaben Adat ceremony, focusing on the reasons behind its preservation, the implementation process, and the resulting social and cultural implications. A qualitative descriptive method was employed, with data collected through interviews, observations, and document studies, followed by in-depth analysis. The findings reveal that the preservation of the Ngaben Adat ceremony is driven by several key factors: the commitment to maintaining the traditional house as a symbol of identity, the preservation of sacred offerings such as banten bali taksu and banten bangun urip as spiritual heritage, the unity of all wangsa . within the community, the presence of holy persons who lead the ceremony, and adherence to ancestral sanctions and Ida Panembahan. In terms Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 14 of implications, the traditional Ngaben ceremony provides psychological comfort to the bereaved families, instills moral and educational values in daily life, and strengthens the ideology of kinship and social solidarity among the villagers. Thus, the dynamic preservation of the Ngaben Adat ceremony in Sidatapa Village affirms that this tradition is not merely a religious ritual but also a source of values, identity, and social strength that continues to be maintained and passed down from generation to generation. Keywords: traditional Ngaben. Sidatapa. Copyright . 2025 Komang Agus Budhi Arya Pramana This is an open access article under the CCAeBY-SA license A Corresponding author: Komang Agus Budhi Arya Pramana Email Address : mangagus460@gmail. Received 21 February 2025. Accepted 7 March 2025. Published 13 March 2025 DOI: https://doi. org/10. 55115/purwadita. Publisher: Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja PENDAHULUAN Upacara Ngaben merupakan salah satu ritual kematian yang sangat penting dalam tradisi masyarakat Hindu Bali. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai prosesi pemakaman, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembalikan roh orang yang meninggal ke alam leluhur dan menyucikan jiwa agar dapat mencapai moksha atau pembebasan spiritual. Namun, meskipun memiliki tujuan yang sama, pelaksanaan Ngaben di berbagai daerah di Bali menunjukkan variasi yang khas sesuai dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masingmasing komunitas (Indarwati et al. , 2025. Ningrat et al. , 2. Desa Sidatapa, yang terletak di Kabupaten Buleleng, merupakan salah satu komunitas yang memiliki tradisi Ngaben adat yang unik dan berbeda dengan praktik Ngaben pada umumnya di Bali. Ritual yang dikenal dengan sebutan Ngaben Adat Nangun ini menampilkan sejumlah kekhasan, seperti tidak dilakukannya kremasi atau pembakaran mayat, peran sentral Balian sebagai pemimpin upacara, serta penggunaan sarana dan prasarana ritual yang berbeda dari kebiasaan Hindu Bali mainstream. Keunikan ini tidak hanya menunjukkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga menegaskan keberadaan nilai-nilai dan ideologi yang melekat dalam masyarakat Bali Aga yang mendiami wilayah pegunungan Bali, termasuk Desa Sidatapa (Indarwati et al. , 2025. Ningrat et al. , 2025. Sudarsana, 2. Fenomena pemertahanan tradisi Ngaben Adat Nangun di tengah arus modernisasi dan globalisasi menjadi sebuah kajian yang menarik dan penting. Perubahan sosial, pengaruh teknologi informasi, serta masuknya budaya luar berpotensi menggerus nilai-nilai tradisional dan mengancam kelangsungan ritual adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, memahami dinamika pemertahanan ritual ini menjadi sangat penting untuk mengetahui bagaimana masyarakat Desa Sidatapa merespons tantangan tersebut dan strategi apa yang mereka gunakan untuk menjaga kelestarian tradisi leluhur mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika pemertahanan upacara Ngaben adat di Desa Sidatapa dengan fokus pada alasan-alasan yang melatarbelakangi pelestarian ritual tersebut serta implikasi sosial dan budaya yang muncul dari pelaksanaan upacara tersebut. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai proses adaptasi dan resistensi budaya yang terjadi di masyarakat Bali Aga, khususnya dalam konteks ritual kematian yang sarat makna filosofis dan ideologis. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengungkap bagaimana nilai-nilai tradisional yang terkandung dalam Ngaben Adat Nangun berperan dalam memperkuat solidaritas sosial, menjaga identitas budaya, serta menanamkan nilai moral dan spiritual kepada generasi Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya penting bagi pengembangan ilmu Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 15 budaya dan antropologi, tetapi juga dapat menjadi referensi dalam upaya pelestarian budaya lokal di tengah perubahan zaman. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan postpositivisme. Pendekatan ini dipilih untuk menggali dan mendeskripsikan secara mendalam dinamika pemertahanan upacara Ngaben adat pada masyarakat Desa Sidatapa, khususnya fokus pada alasan pemertahanan serta implikasi sosial dan budaya yang muncul. Penelitian dilakukan di Desa Adat Sidatapa. Kecamatan Banjar. Kabupaten Buleleng. Bali, selama beberapa bulan yang mencakup persiapan, pengumpulan data lapangan, serta observasi pelaksanaan upacara. Teknik pengumpulan data menggunakan triangulasi metode, yaitu observasi partisipatif untuk mengamati secara langsung proses dan tahapan ritual Ngaben adat Nangun, wawancara mendalam dengan informan kunci seperti prajuru desa adat. Balian, tokoh masyarakat, dan warga yang memiliki pengetahuan terkait pelaksanaan upacara, serta studi dokumentasi yang meliputi pengumpulan data sekunder dari arsip desa, catatan adat, dan literatur relevan. Pemilihan informan dilakukan dengan metode purposive sampling untuk mendapatkan narasumber yang memiliki keterlibatan langsung dalam upacara, dan snowball sampling untuk memperluas jaringan informan berdasarkan rekomendasi informan Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui tahap reduksi data, penyajian data dalam bentuk narasi, dan penarikan kesimpulan berdasarkan pola dan tema yang muncul dari lapangan. Untuk menjaga validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode dengan membandingkan dan mengonfirmasi data dari berbagai sumber agar informasi yang diperoleh akurat dan Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai dinamika pemertahanan upacara Ngaben adat di Desa Sidatapa HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan mengkaji dinamika pemertahanan upacara Ngaben adat Nangun pada masyarakat Desa Sidatapa, dengan fokus pada alasan pemertahanan serta implikasi sosial dan budaya yang muncul. Hasil kajian menunjukkan bahwa ritual Ngaben adat Nangun di Sidetapa merupakan tradisi sakral yang telah dilaksanakan secara turuntemurun dan dianggap tidak boleh diganggu gugat. Secara etimologis, kata ngaben bagi masyarakat Sidatapa berasal dari kata AungabahinAy yang berarti AumekelinAy atau memberikan bekal, sehingga ritual ini bermakna memberikan bekal doa kepada roh yang meninggal agar dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya dengan tenang (Wikarman, 2. Keberlanjutan ritual ini didukung oleh sejumlah alasan utama yang berakar kuat pada aspek budaya, sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat setempat (Indarwati et al. , 2. Alasan pertama adalah pemertahanan rumah adat yang menjadi pusat pelaksanaan upacara Ngaben. Rumah adat bukan hanya tempat fisik, tetapi simbol identitas budaya Bali Aga Sidatapa yang harus dilestarikan. Dengan mempertahankan ritual Ngaben, masyarakat juga mempertahankan keberadaan rumah adat sebagai ciri khas desa mereka. Kedua, pemertahanan keunikan banten Bali Taksu dan banten Bangun Urip yang merupakan sarana ritual sangat penting. Banten Bali Taksu menggunakan sok . nyaman bamb. sebagai wadah persembahan, yang selain bernilai budaya juga berkontribusi pada ekonomi lokal melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan (Pramana, 2. Banten Bangun Urip, yang menggunakan seluruh bagian babi lokal dalam penyajiannya, mempersonifikasikan tubuh manusia yang diupacarai dan menjadi simbol pelestarian nilai budaya luhur. Ketiga, upacara Ngaben adat Nangun mempersatukan semua wangsa dan kasta di Desa Sidatapa, karena ritual ini menghapus sekat kasta dan menyatukan warga dalam satu wangsa Sidatapa, memperkuat persatuan sosial dan solidaritas (Indarwati et al. , 2. 16 | Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 Keempat, eksistensi para orang suci desa atau balian sangat bergantung pada kelangsungan upacara ini. Berbeda dengan praktik Ngaben di Bali pada umumnya yang dipimpin oleh sulinggih atau pandita, di Sidatapa upacara ini dipimpin oleh balian yang memiliki peran sentral dan eksklusif (Pramana, 2. Tanpa balian, upacara tidak dapat dilaksanakan, dan tanpa upacara, keberadaan balian pun terancam. Kelima, sanksi dari leluhur dan Ida Panembahan menjadi faktor utama yang membuat masyarakat tidak berani meninggalkan ritual ini. Masyarakat percaya bahwa pelanggaran terhadap pelaksanaan Ngaben adat akan membawa musibah, bencana, dan kemalangan, sehingga penghormatan terhadap leluhur dan Ida Panembahan menjadi landasan kuat dalam mempertahankan tradisi Pelaksanaan ritual Ngaben adat Nangun memiliki rangkaian yang terstruktur dan penuh makna. Prosesi dimulai sejak H-11 dengan mesadok . oleh keluarga kepada balian dan tokoh adat untuk koordinasi pelaksanaan, memastikan tidak bentrok dengan acara desa lain. Dilanjutkan dengan penyerahan banten batun lis sebagai simbol persiapan dan pembiayaan upacara oleh desa, yang bertanggung jawab membiayai pelaksanaan melis karena orang yang meninggal dianggap AungeletehinAy desa. Tiga hari sebelum upacara, dilakukan nanceb untuk mempersiapkan Bale Sawa, tempat utama pelaksanaan ritual, yang dianggap sangat vital. Dua hari sebelum upacara, keluarga dan masyarakat bersama-sama membuat karangan dan persiapan lainnya, dengan keterlibatan aktif terutama dari wanita (Reuter, 2. Sehari sebelum puncak upacara, dilakukan mebersih dengan pemotongan babi hitam Bali sebagai sarana ritual. Pemotongan ini dilakukan di luar area upacara oleh orang terlatih, dan seluruh bagian babi digunakan sebagai persembahan. Ritual pembersihan juga melibatkan simbol-simbol seperti prahpah, sampat, serok, dan caluk yang melambangkan pembersihan dan penjemputan roh yang akan diupacarai. Pada puncak upacara, keluarga membawa nasi sok be karangan berisi lauk daging babi sebagai bekal roh, yang kemudian dibawa ke setra tanpa menggunakan bade . dan tanpa pembakaran mayat, melainkan menggunakan sok sebagai wadah. Prosesi ini sangat berbeda dengan Ngaben pada umumnya di Bali yang melibatkan kremasi. Setelah upacara di setra, ritual dilanjutkan di rumah adat dengan peran sentral Jro Balian yang memimpin seluruh rangkaian hingga upacara ngapisin yang menandai selesainya prosesi. Implikasi pelaksanaan ritual ini sangat luas dan dapat ditinjau dari aspek psikologis, moral, dan ideologis. Secara psikologis, ritual ini memberikan ketenangan dan kedamaian bagi keluarga yang ditinggalkan, karena melalui doa dan prosesi diyakini unsur-unsur badan sang yang meninggal kembali ke asalnya sehingga atma tidak terikat oleh indria. Hal ini menimbulkan rasa lega dan penghiburan bagi keluarga, memperkuat kepercayaan akan kesakralan ritual dan pentingnya pelaksanaannya. Secara moral, ritual ini sarat dengan nilainilai pendidikan yang mengajarkan penghormatan kepada orang tua, tetangga, tamu, dan leluhur, serta menumbuhkan sikap ramah, santun, dan gotong royong dalam masyarakat. Pelestarian lingkungan juga menjadi bagian penting, dengan penggunaan bahan-bahan lokal dan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, sehingga tradisi ini juga berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem lokal. Secara ideologis, masyarakat Sidatapa menanamkan nilai kekeluargaan, tanggung jawab, dan cinta kasih sejak dini melalui ritual ini. Pendidikan tentang makna dan tujuan Ngaben adat Nangun diajarkan kepada anak-anak sebagai bagian dari pembentukan identitas dan tanggung jawab sosial. Ideologi ini menjadi fondasi kuat bagi keberlangsungan tradisi dan identitas budaya mereka, sehingga tidak terjadi pergeseran nilai yang signifikan meskipun dihadapkan pada pengaruh modernisasi dan globalisasi. Komitmen bersama seluruh elemen masyarakat secara sadar dan terstruktur menjadi kunci keberhasilan pemertahanan ritual ini. Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya, 9 . 2025 | 17 Dengan demikian, dinamika pemertahanan upacara Ngaben adat Nangun di Desa Sidatapa bukan sekadar pelestarian ritual kematian, melainkan juga upaya menjaga nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual yang menjadi jati diri masyarakat Bali Aga Sidatapa. Upaya ini mencerminkan kesadaran kolektif masyarakat dalam mempertahankan warisan leluhur di tengah perubahan zaman, sekaligus menjadi sumber kekuatan sosial dan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang. SIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa upacara Ngaben adat Nangun di Desa Sidatapa merupakan tradisi yang sangat sakral dan unik, yang telah dipertahankan secara turuntemurun meskipun menghadapi berbagai tantangan zaman. Dinamika pemertahanan ritual ini didorong oleh alasan kuat, antara lain pemertahanan rumah adat sebagai pusat pelaksanaan dan simbol identitas budaya Bali Aga Sidatapa, pelestarian keunikan banten Bali Taksu dan banten Bangun Urip yang memiliki nilai budaya dan ekonomi lokal, serta fungsi ritual sebagai perekat sosial yang menyatukan semua wangsa tanpa membedakan kasta. Selain itu, keberadaan para balian sebagai pemimpin upacara dan keyakinan terhadap sanksi leluhur serta Ida Panembahan menjadi faktor kunci yang menjaga kelangsungan ritual ini. Pelaksanaan Ngaben adat Nangun yang berbeda dengan Ngaben pada umumnya di Bali, khususnya tanpa kremasi dan penggunaan bade, menegaskan karakter khas budaya Sidatapa. Implikasi sosial dan budaya dari pelaksanaan ritual ini meliputi aspek psikologis yang memberikan ketenangan dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan, aspek moral yang menanamkan nilai-nilai pendidikan, gotong royong, dan pelestarian lingkungan, serta aspek ideologis yang menumbuhkan rasa kekeluargaan, tanggung jawab, dan cinta kasih Dengan demikian, pemertahanan upacara Ngaben adat Nangun bukan hanya pelestarian ritual kematian, tetapi juga menjaga identitas budaya dan kekuatan sosial masyarakat Desa Sidatapa. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar upaya pemertahanan Ngaben adat Nangun di Desa Sidatapa terus diperkuat melalui berbagai langkah strategis. Pertama, pendidikan budaya dan nilai-nilai tradisional hendaknya diintegrasikan dalam kurikulum dan kegiatan pembelajaran lokal agar generasi muda memahami dan menghargai warisan Kedua, dokumentasi dan publikasi ritual secara sistematis perlu dilakukan untuk menjaga pengetahuan dan meningkatkan kesadaran masyarakat luas, sekaligus membuka peluang pengembangan wisata budaya berkelanjutan. Ketiga, pelibatan generasi muda melalui teknologi informasi dan media digital sangat penting untuk menjaga relevansi tradisi di era modern dan mengantisipasi pengaruh globalisasi. Keempat, dukungan terhadap peran tokoh adat dan balian harus terus diperkuat melalui pelatihan dan pengakuan formal agar pelaksanaan ritual berjalan dengan baik. Kelima, pengelolaan lingkungan dan sumber daya lokal yang terkait dengan ritual, seperti babi Bali dan anyaman bambu, perlu dijaga secara berkelanjutan sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya. Terakhir, kolaborasi erat antara masyarakat adat, pemerintah daerah, dan lembaga budaya sangat diperlukan untuk menyediakan dukungan regulasi, pendanaan, dan fasilitasi agar pemertahanan Ngaben adat Nangun dapat berlangsung optimal dan berkelanjutan. Dengan langkah-langkah tersebut, tradisi Ngaben adat Nangun di Desa Sidatapa diharapkan tetap hidup, memberikan makna spiritual dan sosial yang mendalam, serta menjadi sumber kebanggaan dan identitas budaya yang kuat di tengah dinamika perubahan zaman. DAFTAR PUSTAKA