VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 36 - 45 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA PEMBELAJARAN AGAMA KATOLIK MELALUI MODEL PROBINGPROMPTING FASE D DI SMP SANTO ANTONIUS BANGUN MULIA Helena Br Sitepu1*. Din Oloan Sihotang2*. Ermina Waruwu3 1,2,3 STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan. Medan. Indonesia Email : helenasitepustp01@gmail. com1, oloansihotang08@gmail. erminawaruwu@unprimdn. Abstrak: Kemampuan berpikir kritis penting dalam perkembangan intelektual siswa. Artikel ini membahas pentingnya berpikir kritis dalam pendidikan, dengan menyoroti faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa dan metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkannya, serta mengevaluasi dampak penggunaan model pembelajaran Probing-Prompting di SMP Santo Antonius Bangun Mulia. Medan. Model ini dipilih karena kemampuannya dalam merangsang proses berpikir siswa dan memfasilitasi pengembangan keterampilan berpikir kritis. Artikel juga membahas indikator penting dalam mengukur kemampuan berpikir kritis siswa, serta faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan tersebut, baik internal maupun eksternal. Model Probing-Prompting dideskripsikan sebagai metode pembelajaran yang merangsang proses berpikir siswa melalui serangkaian pertanyaan yang mengarah pada pemecahan masalah, dengan menjelaskan langkah-langkah model ini dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus penelitian, melibatkan 26 siswa kelas VII SMP Santo Antonius Bangun Mulia. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa setelah penerapan model Probing-Prompting, yang memberikan kontribusi teoritis dalam pemahaman tentang pembelajaran berpikir kritis dan manfaat praktis bagi pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kata kunci: Berpikir kritis. Probing-Prompting, penelitian tindakan kelas Abstract: Critical thinking skills are vital for students' intellectual development. This article examines the importance of critical thinking in education, focusing on factors influencing students' abilities and effective learning methods to enhance them. The study evaluates students' critical thinking abilities before and after using the Probing-Prompting learning model at Santo Antonius Bangun Mulia Middle School. Medan. This model was chosen for its ability to stimulate thinking processes and develop critical thinking skills. Key indicators for measuring critical thinking abilities, such as analysis, evaluation, inference, explanation, and skepticism, are discussed. The article also explores internal and external factors affecting these abilities. The Probing-Prompting model is described as stimulating students' thinking through a series of problem-solving questions, detailing the interactions between teachers and The research, conducted through classroom action research (PTK) with two cycles, involved 26 class VII students. Results show an increase in students' critical thinking abilities after implementing the These findings aim to contribute to theoretical understanding and offer practical benefits for educators to improve education quality. Keywords: Critical thinking. Probing-Prompting, classroom action research PENDAHULUAN Kemampuan berpikir kritis adalah aspek krusial dalam perkembangan intelektual seseorang, terutama dalam dunia pendidikan. Berpikir kritis tidak hanya melibatkan pemrosesan informasi, tetapi juga mencakup kemampuan individu untuk mengevaluasi, menganalisis, dan merumuskan argumen secara bijaksana. Intinya, berpikir kritis adalah kemampuan untuk memilah, menilai, dan menginterpretasi informasi secara objektif (Indah, 2. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa, baik dari aspek internal maupun eksternal, serta mencari metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan ini. Dalam dunia pendidikan, peran penting berpikir kritis bagi siswa tidak dapat diabaikan. Berpikir kritis membantu siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengembangkan keterampilan analitis dan reflektif yang sangat dibutuhkan di era informasi saat ini (Rahardhian, 2. Dasar dari penelitian ini adalah pemahaman bahwa kemampuan berpikir kritis bukanlah sesuatu yang telah dimiliki sejak lahir, tetapi harus diperoleh melalui latihan dan pembelajaran yang sesuai (Lumbanbatu, 2. Manfaat berpikir kritis bagi siswa meliputi kemampuan untuk menghindari pemikiran dangkal, mengenali serta mengatasi prasangka, membuat keputusan yang lebih baik, membentuk karakter yang kuat, mengembangkan kemampuan untuk melihat dan belajar dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Siswa akan terpacu untuk terus belajar dan memanfaatkan setiap peluang untuk mengaktifkan semua potensi yang dimilikinya. Selain itu, berpikir kritis juga membantu siswa mengambil keputusan yang tepat saat diperlukan, serta meningkatkan minat mereka dalam mempelajari materi baru karena adanya beragam pertanyaan yang mendorong pemikiran kritis (Rusda Elsabrina et al. , 2. Menurut penelitian Muhfahroyin, pentingnya berpikir kritis bagi siswa adalah untuk membantu mereka menjadi individu yang dapat berpikir secara mandiri, sesuai dengan perkembangan jenis pekerjaan di masa depan yang membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, mengevaluasi argumen, serta memahami sudut pandang orang lain (Muhfahroyin, 2. Indikator penting dalam mengukur kemampuan berpikir kritis siswa termasuk analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, dan skeptisisme. Analisis melibatkan memecah informasi, evaluasi menilai nilai informasi, inferensi membuat kesimpulan logis, penjelasan menyampaikan ide dengan jelas, dan skeptisisme penting untuk memeriksa informasi dengan hati-hati (Rusda Elsabrina et al. Facione . menyajikan beberapa indikator kemampuan berpikir kritis, termasuk penafsiran, analisis, penilaian, inferensi, penerangan, dan pengaturan diri. Ini meliputi kemampuan siswa dalam menulis informasi yang diketahui, menjawab pertanyaan, memodelkan pembelajaran, mengidentifikasi informasi penting, memilih metode penyelesaian yang tepat, menulis solusi soal dengan benar, menarik kesimpulan, memberikan alasan yang meyakinkan, dan memverifikasi hasil penyelesaian soal (Qohar & Sulandra, 2. Artikel ini akan membahas penelitian yang mengevaluasi kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan setelah menggunakan model pembelajaran Probing-Prompting di kelas VII SMP Santo Antonius Bangun Mulia. Medan. Model ini dipilih karena kemampuannya merangsang proses berpikir siswa dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Penelitian sebelumnya pada siswa SMA menunjukkan bahwa penggunaan model Probing-Prompting meningkatkan pemahaman konsep kimia dan kemampuan berpikir kritis siswa secara signifikan dibandingkan dengan metode konvensional. Penelitian terdahulu oleh (Langrehr, 2. dan Harris et al. menunjukkan bahwa model Probing-Prompting efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah siswa. Langrehr fokus pada pembelajaran IPA secara umum, sementara Harris et menyoroti keterampilan pemecahan masalah tanpa menyebutkan subjek atau lokasi spesifik. Sebaliknya, penelitian ini membahas "Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Penerapan Model Probing-Prompting pada Pase D Kelas VII Santo Antonius Bangun Mulia" berfokus pada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII di sekolah Santo Antonius Bangun Mulia. Penelitian ini lebih spesifik dalam hal lokasi, subjek, dan konteks implementasi, memberikan kontribusi unik dengan mengadaptasi model Probing-Prompting untuk memenuhi kebutuhan siswa di lingkungan pendidikan yang spesifik ini. Khususnya pada pembelajaran agama katolik. Pendidikan agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan untuk membina moral peserta didik dan mengembangkan kemampuan mereka dalam memperkuat iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Katolik. Guru pendidikan agama Katolik memahami ketidakstabilan perkembangan remaja, sehingga mereka berupaya mengendalikan diri remaja untuk mencapai tingkat pasca-konvensional dengan menjelaskan ajaran agama mengenai teladan Yesus Kristus yang selalu membimbing orang ke jalan yang benar dan makna mendekatkan diri kepada Tuhan, agar karakter peserta didik terbentuk sehingga dalam situasi apapun mereka akan selalu datang kepada Tuhan untuk mengadu segala persoalanny (Wulandoni et al. , 2. Survei awal di SMP St. Antonius Bangun Mulia Medan mengungkapkan tantangan kritis dalam kemampuan berpikir siswa, yang dapat berdampak negatif terhadap kinerja akademis, kepercayaan diri, dan kesejahteraan mental siswa jika tidak ditangani dengan baik (Siburian et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan kemampuan berpikir kritis siswa sebelum dan sesudah menerapkan model pembelajaran Probing-Prompting, serta menilai dampak penggunaan model tersebut terhadap kemampuan siswa dalam mengembangkan berpikir kritis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SMP Santo Antonius Bangun Mulia. Medan. KAJIAN TEORI Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis menjadi fokus utama dalam literatur terkait. Faturrohman . menggambarkan berpikir kritis sebagai proses pemikiran yang masuk akal dan reflektif, menitikberatkan pada evaluasi terhadap apa yang patut dipercayai atau dilakukan (Siti Sumiati. Muh. Makhrus, 2. menyoroti peran signifikan kemampuan berpikir kritis dalam pembangunan pengetahuan siswa. Qohar menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan proses kognitif siswa dalam menganalisis dan menyelesaikan masalah pembelajaran (Qohar, 2. Berfikir secara kritis merupakan suatu proses yang melibatkan aktivitas mental seperti deduksi, induksi, klasifikasi, evaluasi, dan penalaran. Signifikansi dari kemampuan berpikir kritis, upaya untuk meningkatkan kemampuan tersebut, dan pentingnya pembelajaran yang mendorong kemampuan berpikir kritis diperbincangkan dalam penelitian ini (Muhfahroyin, 2. Berpikir kritis merupakan suatu bentuk berpikir yang mengedepankan logika dan refleksi, dengan fokus pada pengambilan keputusan mengenai keyakinan atau tindakan yang diperlukan. Proses berpikir kritis melibatkan analisis atau evaluasi informasi yang diperoleh dari pengamatan, pengalaman, naluri, atau interaksi. Ini mencerminkan kemampuan berpikir secara rasional dan terstruktur untuk memahami hubungan antara ide atau fakta yang ada. Berpikir kritis membantu individu dalam menentukan kepercayaan yang tepat. Menurut Jensen . , berpikir kritis adalah proses mental yang efektif dan andal yang digunakan untuk menghasilkan pengetahuan yang akurat dan bermakna tentang dunia. Bobby Porter et al. mengamini bahwa kemampuan berpikir kritis, bersama dengan kreativitas, termasuk dalam keterampilan lanjutan yang esensial diajarkan kepada siswa (Rusda Elsabrina et al. , 2. Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan fokus utama dalam literatur terkait pendidikan. Definisi berpikir kritis meliputi proses pemikiran yang masuk akal dan reflektif, menitikberatkan pada evaluasi terhadap keyakinan atau tindakan yang Pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam pembangunan pengetahuan siswa telah ditekankan oleh banyak peneliti. Proses berpikir kritis melibatkan aktivitas mental seperti deduksi, induksi, klasifikasi, evaluasi, dan penalaran, dan berperan penting dalam membantu individu memahami hubungan antara ide atau fakta yang ada. Penekanan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis menjadi bagian integral dari pendidikan, karena hal ini membantu siswa dalam menganalisis dan menyelesaikan masalah pembelajaran. Para peneliti juga menyoroti perlunya upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis melalui pembelajaran yang tepat. Kesimpulannya, kemampuan berpikir kritis adalah aspek krusial dalam pengembangan siswa dan harus diberikan perhatian serius dalam konteks pendidikan. Indikator Berpikir Kritis Berdasarkan konteks pembelajaran, perhatian terhadap pentingnya indikator berpikir kritis telah menjadi sorotan utama dalam literatur pendidikan. Salah satu aspek krusial dari berpikir kritis siswa adalah . kemampuan analisis, yang mencakup keterampilan untuk memecah informasi atau situasi menjadi elemen-elemen yang lebih kecil atau komponen-komponen yang dapat dipahami. Berpikir kritis melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen kunci dan memahami hubungan antara mereka. evaluasi yaitu. Kemampuan untuk menilai nilai atau kualitas informasi, argumen, atau tindakan. Ini mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta untuk membuat penilaian atau keputusan berdasarkan bukti dan pertimbangan yang rasional . inferensi yaitu. Kemampuan untuk membuat kesimpulan logis atau mengembangkan ide-ide baru berdasarkan informasi yang ada. Berpikir kritis melibatkan kemampuan untuk membuat inferensi yang masuk akal dan relevan dari data atau fakta yang diberikan. penjelasan yaitu. Kemampuan untuk mengomunikasikan ide atau informasi dengan jelas dan logis. Berpikir kritis melibatkan kemampuan untuk menyusun argumen yang koheren, memberikan alasan yang kuat, dan menjelaskan pemikiran dengan tepat. sikap skeptisisme. Kemampuan dalam bersikap hati-hati dan kritis terhadap informasi, di mana seseorang tidak langsung menerima tanpa mempertimbangkan bukti atau argumen yang mendukungnya (Elsabrina et al. , 2. Facione . , dalam penelitiannya, merumuskan indikator berpikir kritis yang meliputi penafsiran yaitu kemampuan untuk menguraikan atau menginterpretasikan informasi atau data yang diterima menjadi makna yang dapat dipahami dan relevan, nalisis yaitu kemampuan dalam pemecahan suatu informasi atau situasi menjadi komponenkomponen yang lebih kecil atau unsur-unsur yang dapat dipahami dengan lebih baik, penilaian yaitu kemampuan dalam mengevaluasi atau penentuan nilai atau kualitas suatu informasi, argumen, tindakan, atau kondisi (Qohar & Sulandra, 2. Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa indikator berpikir kritis menjadi fokus penting dalam literatur pendidikan. Indikator tersebut mencakup kemampuan analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, dan sikap skeptisisme. Berpikir kritis melibatkan proses mental yang kompleks, seperti memecah informasi menjadi elemen-elemen yang lebih kecil, menilai nilai atau kualitas informasi, membuat kesimpulan logis, menyusun argumen yang koheren, dan bersikap skeptis terhadap informasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kritis Dalam kajian faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa, banyak penelitian menyoroti aspek-aspek internal dan eksternal. Amalia et al. , . , menekankan faktorfaktor internal seperti kemampuan kognitif, metakognitif, minat, motivasi, kemampuan argumentasi, kemampuan analisis, kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, dan kondisi fisik. Di sisi lain, faktorfaktor eksternal seperti pendidikan, lingkungan sosial, pemaparan pada bentuk pemikiran, dan motivasi juga memegang peranan penting (Sihotang et al. , 2. Natcha Mahapoonyanonta . Sitorus et al . , dalam penelitiannya menemukan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa meliputi aspek pendidikan, seperti metode pengajaran, media pembelajaran, dan lingkungan belajar. Selain itu, faktor-faktor seperti prestasi belajar, kemampuan membaca, motivasi, niat untuk belajar, sikap terhadap pembelajaran, dan kecerdasan emosional juga memainkan peran penting. Selain dari itu, faktor-faktor pribadi siswa seperti status, sikap, serta cara pengasuhan dari lingkungan keluarga juga turut berkontribusi dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis (Mujanah, 2. Ermatiana, . menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa, di antaranya adalah: . kondisi fisik, yang merupakan kebutuhan fisiologis dasar manusia. Ketika kondisi fisik terganggu, kemampuan untuk berpikir secara matang dalam mengatasi masalah juga terpengaruh karena kurangnya konsentrasi dan respons cepat akibat kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. motivasi, yang merupakan upaya untuk menghasilkan dorongan atau rangsangan agar individu mau melakukan tindakan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. kecemasan, yang merupakan kondisi emosional yang ditandai oleh kegelisahan dan ketakutan akan bahaya potensial. Kecemasan dapat muncul secara otomatis ketika individu mengalami stimulus yang berlebihan. perkembangan intelektual, yang merujuk pada kemampuan mental seseorang dalam merespon dan menyelesaikan masalah. Perkembangan intelektual tiap individu berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembangannya (Dores . Pd. Pd et al. , 2. Berdasarkan macam-macam penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kemampuan kognitif, metakognitif, minat, motivasi, kemampuan argumentasi, kemampuan analisis, kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, dan kondisi fisik. Sementara itu, faktor eksternal mencakup pendidikan, lingkungan sosial, pemaparan pada bentuk pemikiran, dan motivasi. Selain itu, faktor-faktor pribadi siswa seperti status, sikap, dan cara pengasuhan dari lingkungan keluarga juga berperan penting dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis. Adapun faktor-faktor eksternal seperti metode pengajaran, media pembelajaran, lingkungan belajar, prestasi belajar, kemampuan membaca, motivasi, niat untuk belajar, sikap terhadap pembelajaran, dan kecerdasan emosional juga memainkan peran signifikan dalam proses ini. Selain itu, faktor-faktor seperti kondisi fisik, motivasi, kecemasan, dan perkembangan intelektual juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Model Probing-Prompting Model Probing-Prompting telah mendapatkan perhatian dalam literatur sebagai metode pembelajaran yang merangsang proses berpikir dan aktif dalam siswa. Menurut Penelitian oleh Priatna dalam Sudarti . , ditemukan bahwa proses eksplorasi dapat mendorong siswa untuk aktif dalam merangsang pembelajaran, membutuhkan konsentrasi dan aktivitas yang tinggi, sehingga komunikasi matematis siswa menjadi cukup intensif. Suherman . juga menunjukkan bahwa dengan metode tanya jawab, siswa menjadi lebih aktif dibandingkan dengan metode penjelasan dalam pembelajaran. Suherman . menyatakan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran, terdapat dua aktivitas yang saling berhubungan bagi siswa, yaitu aktivitas berpikir dan aktivitas fisik untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Selain itu, guru berupaya membimbing siswa dengan menggunakan berbagai pertanyaan dari tingkat rendah hingga tinggi (Pattah et al. , 2. Hidayatullah . menggambarkan model ini sebagai pendekatan yang mengandalkan pertanyaan untuk mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. (Theriana, 2. , menjelaskan bahwa model ini melibatkan serangkaian pertanyaan yang bersifat mengarah dan penyelidikan untuk merangsang proses berpikir siswa. Langkah-langkah Model Probing-Prompting Langkah-langkah dalam menerapkan model Probing-Prompting dijabarkan oleh beberapa Langkah-langkah ini melibatkan interaksi antara guru dan siswa melalui serangkaian pertanyaan yang mengarah pada proses berpikir kritis ((Langrehr, 2. Berikut ini adalah tahapantahapan dalam pembelajaran probing-prompting yang dijelaskan melalui tujuh langkah teknik probing yang kemudian dikembangkan dengan prompting menurut (Utami, 2. Guru memperkenalkan siswa pada situasi baru, seperti memperlihatkan gambar, rumus, atau situasi lainnya yang berisi Guru memberikan waktu kepada siswa untuk merumuskan permasalahan yang akan Setelah itu, guru menyajikan pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus (TPK) atau indikator kepada seluruh siswa. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan atau berdiskusi dalam kelompok kecil. Selanjutnya, guru memilih satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jika jawaban siswa tersebut tepat, guru meminta tanggapan dari siswa lain untuk memastikan keterlibatan seluruh siswa dalam kegiatan tersebut. Namun, jika siswa tersebut mengalami kesulitan atau jawabannya kurang tepat, guru mengajukan pertanyaan lain yang memberikan petunjuk tentang cara menyelesaikan masalah. Guru kemudian memberikan pertanyaan lanjutan yang mendorong siswa untuk berpikir lebih mendalam, sehingga mereka dapat menjawab sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator. Pertanyaan-pertanyaan ini diberikan kepada beberapa siswa yang berbeda untuk memastikan keterlibatan seluruh siswa. Terakhir, guru mengajukan pertanyaan penutup kepada siswa yang berbeda untuk menegaskan pemahaman mereka terhadap TPK atau indikator yang telah dipelajari. METODE PENELITIAN Penjelasan mengenai kronologis penelitian meliputi desain penelitian, prosedur . Pseudocode, dll. ), pengujian, dan akuisisi data. Deskripsi program penelitian didukung oleh referensi agar dapat diterima secara ilmiah (Herlawati et al. , 2. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus, meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi tindakan. Subyek penelitian adalah 26 siswa kelas VII SMP Santo Antonius Bangun Mulia tahun pelajaran 2023/2024. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar observasi dan tes pilihan berganda. Analisis data menggunakan persentase rata-rata motivasi belajar siswa dengan rumus dari penelitian Hendrayana . ycE= y 100% Keterangan : ycE = Persentase nilai yang didapat ycu = Jumlah skor yang didapat ycA = Jumlah seluruh nilai Tabel 1 Kritaria Berpikir Kritis Siswa Interval Sumber: (Riduwan, 2012b:. Kriteria Amat Baik Baik Cukup Kurang HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini terdiri dari dua siklus, masing-masing dengan dua pertemuan tatap muka. Dimulai pada 24 Maret 2024, penelitian mengikuti rencana tindakan yang telah disiapkan sebelumnya. Instrumen dan materi pembelajaran telah divalidasi oleh ahli. Materi pembelajaran mencakup Modul Ajar dengan pendekatan Probing-Prompting, dilengkapi dengan LKPD dan video untuk memperlihatkan situasi masalah serta presentasi Power Point. Rincian model Probing-Prompting dapat ditemukan dalam Tabel 2. Tabel 2. Langkah Penerapan Model Probing-Prompting Tabel 2. Langkah Penerapan Model Probing-Prompting Sintaks Menghadapkan siswa pada situasi mengandung masalah Kegiatan Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan dan merumuskan jawaban Guru menghadapkan siswa pada situasi, seperti memperhatikan gambar, atau situasi lainnya yang mengandung masalah. Kemudian, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memikirkan dan merumuskan jawaban. Memberikan pertanyaan kepada seluruh siswa Setelah itu, guru memberikan pertanyaan kepada yang sesuai dengan tujuan pembelajaran seluruh siswa yang sesuai dengan tujuan khusus atau indikator. pembelajaran khusus atau indikator. Memberi waktu beberapa saat kepada siswa Guru kembali memberi waktu beberapa saat kepada untuk berpikir dan merumuskan jawaban atau siswa untuk berpikir dan merumuskan jawaban atau berdiskusi kecil berdiskusi kecil. Memilih salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan dan membagi kelompok Guru memilih salah satu siswa untuk menjawab Jika jawaban tepat, guru mengajukan pertanyaan tambahan kepada siswa lain untuk memastikan partisipasi seluruh siswa dalam Namun, jika siswa menghadapi kesulitan, guru memberikan pertanyaan tambahan sebagai petunjuk, terus menerus hingga siswa dapat menjawab sesuai dengan kemampuan dasar atau indikator yang Proses ini berlanjut dengan pertanyaan yang mendorong siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, hingga mereka mampu menjawab pertanyaan sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator yang Pertanyaan pada langkah terakhir sebaiknya melibatkan beberapa siswa berbeda agar seluruh peserta didik terlibat dalam seluruh kegiatan, sesuai dengan landasan disertasi yang diikuti. Jika jawabannya tepat, guru meminta tanggapan dari siswa lain untuk memastikan keterlibatan semua siswa dalam kegiatan. Namun, jika siswa mengalami kesulitan, guru memberikan pertanyaan lain sebagai petunjuk, terus menerus hingga siswa dapat menjawab sesuai dengan kemampuan dasar atau Proses ini dilanjutkan dengan pertanyaan yang mendorong siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, hingga mereka dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan kompetensi dasar atau Pertanyaan pada langkah terakhir ini sebaiknya dilanjutkan dengan beberapa siswa yang berbeda agar semua siswa terlibat dalam seluruh Memberikan pertanyaan terakhir kepada siswa yang berbeda untuk menekankan bahwa semua siswa benar-benar telah memahami tujuan pembelajaran tersebut Guru juga memberikan pertanyaan terakhir kepada siswa yang berbeda untuk menekankan bahwa semua siswa benar-benar telah memahami tujuan pembelajaran tersebut Pada siklus I, dua pertemuan tatap muka diadakan dengan model Probing-Prompting untuk materi Yesus Sang Pengampun. Pertemuan pertama membahas konsep mengampuni, sedangkan pertemuan kedua mereview dan melanjutkan materi. Pembelajaran didukung oleh video, presentasi PowerPoint, dan modul bacaan tambahan. Peneliti dan rekan mengevaluasi berpikir kritis siswa berdasarkan indikator yang ditetapkan. Hasil penelitian dicatat dalam tabel terlampir. Tabel 3. Alternatif Perbaikan Kekurangan Kekurangan Solusi Perbaikan Sebagian siswa kurang aktif saat terlibat dalam diskusi Menambah pengawasan kepada siswa selama diskusi kelompok dan lebih aktif berkeliling ke tiap-tiap kelompok serta memastikan semua siswa ikut dalam berdiskusi Sebagian siswa kurang belum dapat berpikir secara Mendampingi dan memberikan arahan kepada siswa agar dapat bekerja sama dan mempelajari cara menyelesaikan masalah, serta mengajak siswa untuk berpikir lebih dalam atau lebih kritis Sebagian siswa kurang percaya diri untuk melakukan presentasi Memberi dorongan kepada siswa untuk lebih berani, percaya diri dan menekankan jangan takut untuk salah dengan hasil diskusi Sebagian siswa kurang berani menyampaikan Mengajak dan mendorong siswa untuk berani mengeluarkan Pada siklus II, dilakukan dua pertemuan dengan modul ajar yang disempurnakan. Materi yang dipelajari adalah kesamaan mengampuni. Pembelajaran dimulai dengan dorongan semangat, menggunakan video, presentasi PowerPoint, dan modul sebagai sumber bacaan tambahan. Peneliti, dibantu rekan, mengamati. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase berpikir kritis siswa pada siklus I mencapai 68%, yang tergolong "Sedang. " Namun, kemampuan berpikir kritis siswa masih di bawah standar keberhasilan. Karena persentase ini belum memenuhi kriteria, penelitian dilanjutkan ke siklus II. Sebelum siklus II, peneliti merefleksikan kekurangan dari siklus I dan mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan, tercantum dalam tabel berikut. Dari data pada siklus II diketahui bahwa hasil persentase rata-rata berpikir kritis siswa pada siklus II mencapai 91% dengan kriteria "Tinggi. " Penelitian tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya karena persentase berpikir kritis siswa sudah melebihi kriteria keberhasilan yang ditetapkan peneliti sebelum penelitian dilakukan. Pengelolaan pembelajaran yang baik dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa, mendorong partisipasi aktif dan pemahaman mendalam. Berpikir kritis melibatkan analisis, evaluasi informasi, dan penalaran logis untuk membentuk pemahaman komprehensif. Ini mencakup kemampuan mengumpulkan dan menganalisis informasi, menyusun gagasan, dan mengambil kesimpulan untuk menyelesaikan masalah (Kartimi, 2. Kemampuan berpikir kritis seorang siswa merujuk pada aktivitas kognitif siswa dalam menganalisis dan menyelesaikan permasalahan pembelajaran di kelas. Berfikir kritis adalah sebuah kegiatan kognitif yang terkait dengan penerapan nalar atau pemikiran (Mulyana, 2. Oleh karena itu, diperlukan latihan bukan hanya menghafal konsep, karena pembelajaran melibatkan pemanfaatan potensi otak. Berpikir kritis bukanlah sesuatu yang dimiliki sejak lahir, perlu menjalani proses pembelajaran dan penilaian agar dapat diterapkan, dilatih, dan diperkembangkan (Cahyono, 2. Menggunakan model pembelajaran bervariasi menjadi cara yang bisa dilakukan guru pada pengelolaan pembelajaran. (Langrehr, 2. Kemampuan berpikir kritis siswa meningkat melalui penerapan model pembelajaran Probing-Prompting, terlihat dari peningkatan nilai tes pada siklus I dan II. Model ini merangsang proses berpikir, mengaktifkan partisipasi siswa, dan membawa pengalaman baru dalam pembelajaran melalui diskusi pemecahan masalah. Teknik Probing-Prompting menggunakan pertanyaan yang menggali untuk meningkatkan kualitas jawaban siswa, membantu mereka mengorganisir ide-ide dan mendalami pengetahuan, sesuai dengan penelitian Suherman Hidayatullah . Teknik Probing-Prompting melibatkan guru dalam menyajikan serangkaian pernyataan yang membimbing dan menggali, menciptakan suatu proses berpikir yang menghubungkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan materi pembelajaran baru (Theriana, 2. Tabel 6. Ringkasan Penelitian Berpikir Kritis Siswa Kemampuan Berpikir Kritis Siklus I Siklus II Presentase Kriteria Sedang Tinggi Berdasarkan keterangan yang terdapat pada tabel 6. diketahui berpikir kritis siswa dengan penggunaan model Probing-Prompting dalam belajar, persentase rata-ratanya meningkat. Persentase ratarata berpikir kritis siswa dalam siklus I sebesar 68% dan siklus II sebesar 91%. Adanya peningkatan persentase sebesar 23%. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Susanti et al. , 2. Model Probing-Prompting berbantuan multimedia PowerPoint secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pada awalnya, siswa belum terbiasa karena biasanya belajar dengan metode ceramah. Namun, setelah dua pertemuan, siswa merasa nyaman dan antusias. Mereka menyatakan bahwa model ini mendorong semangat belajar, menghargai pendapat teman, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Penggunaan model ini secara konsisten dapat memperkaya pengalaman belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan analisis dari penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Probing-Prompting pada Fase D kelas VII di SMP Santo Antonius Bangun Mulia pada tahun 2023/2024 berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kritis Terjadi peningkatan rata-rata persentase kemampuan berpikir kritis sebesar 23%. Pada siklus I, persentase rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa mencapai 68%, berada dalam kategori "Sedang", sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 91%, masuk dalam kategori "Tinggi". Penerapan model pembelajaran Probing-Prompting ini dapat dijadikan alternatif efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, bahkan dapat dimulai sejak awal semester agar siswa terbiasa dengan model pembelajaran yang menekankan pada diskusi kelompok dan penyelesaian masalah. DAFTAR PUSTAKA