Literat: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume II, No. 1, Februari 2023 ISSN 2963-4342 https://ejournal.unsap.ac.id/index.php/literat UNSUR PENOKOHAN DALAM KUMPULAN CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI SEBAGAI PENYUSUNAN BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA Eli Fatimah1, Kuswara*2, Ece Sukmana3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – FKIP Universitas Sebelas April Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima 27/12/2022 Disetujui 11/1/2023 Dipublikasikan 22/2/2023 Kata kunci: Unsur penokohan, biografi pengarang, unsur pembangun cerita, kumpulan cerpen Senyum Karyamin. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya sebuah karya sastra dalam mendukung peserta didik untuk mengembangkan empat kemampuan berbahasanya. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik pada cerpen khususnya unsur penokohan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan sebuah pendekatan kajian sastra secara ekspresif untuk menganalisis unsur ekstrinsiknya. Teknik penelitian dalam melaksanakan analisis adalah dengan menggunakan teknik analisis teks yang peneliti gunakan untuk menganalisis unsur intrinsik dalam cerpen, serta studi dokumentasi untuk mendapatkan riwayat hidup pengarang. Berdasarkan hasil analisis, setiap unsur nama yang terdapat dalam ke13 cerpen yang ada menggunakan nama-nama yang sangat identik dengan penduduk desa, khusunya yang tinggal di daerah Jawa. Ini sangat berpengaruh terhadap penokohan yang ada pada setiap cerita. Yakni dalam penggambaran karakter dan pekerjaan tokoh. Unsur penokohan tersebut sangat berkaitan erat dengan unsur intrinsik yang lain. Semua unsur pendukung dalam penokohan yang menggambarkan kehidupan dan masalah sosial di pedesaan ini, tidak terlepas dari latar belakang pengarang, yakni Ahmad Tohari yang lahir dan besar di sebuah desa di bagian tengah pulau Jawa. Sehingga hampir semua tema yang diangkat dalam cerpen pada kumpulan ini menceritakan tentang permasalahan sosial masyarakat ekonomi rendah yang kebanyakan hidup di pedesaan. ABSTRACT Kata kunci: characterization elements, author biography, story building elements, a collection of short stories Senyum Karyamin. This research is motivated by the importance of a literary work in supporting students to develop their four language skills. This research was conducted to describe the intrinsic elements of the short story, especially the characterization elements. The method used in this study is a qualitative descriptive method with an expressive literary study approach to analyze its extrinsic elements. The research technique in carrying out the analysis is to use text analysis techniques that researchers use to analyze the intrinsic elements in the short story, as well as documentation studies to obtain the author's biography. Based on the results of the analysis, each element of the name contained in the 13 short stories uses names that are very identical to the villagers, especially those who live in the Java area. This is very influential on the characterizations in each story. Namely in the depiction of characters and character work. The characterization elements are closely related to other intrinsic elements. All the supporting elements in the characterizations that describe life and social problems in this village, cannot be separated from the background of the author, namely Ahmad Tohari who was born and raised in a village in the middle of the island of Java. So that almost all the themes raised in the short stories in this collection tell about the social problems of low-income people who mostly live in rural areas. © 2023 Universitas Sebelas April – Sumedang 7 Fatimah, Kuswara & Sukmana. – Unsur Penokohan dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin 8 *Corresponding Author: Kuswara, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sebelas April Sumedang, Jl. Angkrek Situ No.19 Situ, Kec. Sumedang Utara, Kab. Sumedang (453523) Email : kuswara@unsap.co.id 1. PENDAHULUAN Pada silabus Kurikulum Tingkat Satuan Tahun 2013, edisi revisi berdasarkan Permendiknas No.36 Tahun 2018, pembelajaran cerpen diberikan di kelas XI dengan kompetensi dasar 3.9 menganalisis unsur-unsur pembangun cerita pendek dalam buku kumpulan cerita pendek. Materi yang dipelajarinya adalah unsur-unsur pembangun cerita pendek serta kegiatan pembelajaran yang dilakukan yaitu mengidentifikasi cerpen dengan memperhatikan unsur-unsur pembangunnya. Materi pembelajaran unsur-unsur pembangun cerpen terbagi menjadi dua macam yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi tokoh dan penokohan, latar, alur, tema, sudut pandang, amanat, dan gaya bahasa. Sedangkan unsur ekstrinsik meliputi latar belakang masyarakat dan latar belakang pengarang. Upaya siswa dalam memahami materi ini sebenarnya tidaklah terlalu sulit, tentunya jika siswa dapat benar-benar berkonsentrasi serta memiliki rasa keingintahuan terhadap materi yang diajarkan. Penelitian ini menitikberatkan pada analisis unsur instrinsik dalam sebuah cerpen, yakni unsur penokohan dalam sebuah kumpulan cerpen. Cerpen memiliki karakter cerita yang sangat singkat dan juga mudah dipahami dari segi bahasa maupun alurnya. Selama ini, kajian penelitian sastra jarang sekali menghubungkan antara isi kajian unsur instrinsik dengan unsur ekstrinsik. Sehingga dalam penelitian ini pun mengaitkan hasil kajian unsur instrinsik yaitu unsur penokohan dengan unsur ekstrinsik yaitu unsur kehidupan pengarang. Karya sastra yang dipilih untuk diteliti dalam penelitian ini yaitu sebuah kumpulan cerpen yang berjudul Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur penokohan dalam setiap cerpen, keterkaitan dengan unsur intrinsik cerpen, serta keterkaitannya dengan biografi pengarang berdasarkan hasil kajian penokohan dalam kumpulan cerpen. 1.1. Cerpen Jenis kesusastraan yang paling populer dan banyak dibaca orang dengan pemahaman yang memadai pada saat ini adalah cerpen. Seperti karya sastra lain, cerpen sulit didefinisikan. Namun dilihat dari bentuk fisiknya, cerita pendek atau disingkat cerpen merupakan cerita yang relatif pendek. Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Poe (Nurgiyantoro,1998: 10) yang menyatakan “Cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dan sekali duduk, kira-kira berkisar antar setengah sampai dua jam. Suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel”. Sehingga dalam hal ini, cerita dalam sebuah cerpen harus memiliki kepaduan atau kebulatan yang tinggi. Selain itu, tokoh yang digambarkan dalam cerpen harus diperhatikan agar tidak mengurangi kebulatan cerita yang biasanya berpusat pada tokoh utama dari awal hingga akhir. Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 07-17 9 1.2. Unsur Penokohan Istilah tokoh menurut Nurgiyantoro (2010: 165) “Menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, dan penokohan adalah gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita”. Penokohan ini bermaksud untuk memberikan gambaran tentang watak karakter atau perangai seseorang yang hidup dalam angan-angan pengarang. Membicarakan masalah tokoh tidak terlepas dari perwatakan atau karakter yang dilibatkan oleh pengarang. Seperti pendapat Stanton (Nurgiyantoro, 2013: 165) “Karakter dapat berarti pelaku cerita dan dapat pula berarti perwatakan.” Berdasarkan pendapat tersebut dapat penulis simpulkan bahwa dalam penokohan terdapat dua pokok penting yaitu (1) masalah tokoh atau pelaku dan (2) masalah watak atau karakter. Tokoh atau pelaku adalah para pelaku yang terlibat dalam peristiwa yang ada dalam cerita masing-masing memiliki rupa, watak, atau sifat kepribadian yang khas, sedangkan watak atau karakter adalah sifat dan ciri yang terdapat pada tokoh, kualitas dan jiwanya yang membedakannya dari tokoh lain. Tokoh dapat dibagi- bagi berdasarkan sudut pandang yang berbeda, diantaranya sebagai berikut. Berdasarkan Jenis Tokoh Berdasarkan jenis tokohnya, tokoh dalam cerita dapat berupa : a. Manusia, meliputi anak-anak, remaja, dewasa, orang tua. b. Binatang (binatang yang diberi sifat seperti manusia ataupun asli sifat binatang). Contohnya monyet, anjing, kuda, ikan, dan lain-lain. c. Makhluk gaib, meliputi jin, kuntilanak, malaikat, dan lain-lain. d. Tumbuhan, meliputi benda yang diberi sifat seperti manusia. e. Benda, yakni benda yang diberi sifat seperti manusia. Berdasarkan klasifikasi di atas, unsur manusia dapat dikelompokan lagi menjadi bebebrapa bagian. Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut. 1) Tokoh manusia berdasarkan tingkatannya, di antaranya: a) Tokoh supranatural, meliputi manusia yang memiliki kemampuan/ kekuatan melebihi manusia pada umumnya. b) Tokoh pemimpin, yaitu manusia yang menunjukan sifat kepemimpinan dalam cerita. c) Tokoh biasa/ umum, yaitu tokoh yang berupa manusia pada umumnya yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. d) Tokoh hina, yaitu tokoh manusia yang tergolong hina dalam kehidupan, terutama karena faktor kekayaan/harta. 2) Tokoh manusia berdasarkan jenis kelamin, di antaranya: a) Tokoh laki-laki b) Tokoh perempuan 3) Tokoh manusia berdasarkan usianya, di antaranya: a) Tokoh anak-anak b) Tokoh dewasa c) Tokoh lanjut usia Fatimah, Kuswara & Sukmana. – Unsur Penokohan dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin 10 2. Berdasarkan Kedudukan Tokoh dalam Cerita Berdasarkan kedudukannya dalam sebuah cerita, tokoh terbagi atas beberapa bagian, di antaranya sebagai berikut. 3. a. Tokoh utama, yakni tokoh yang diutamakan dalam sebuah cerita, yang paling banyak diceritakan dan banyak hadir dalam setiap kejadian. b. Tokoh bawahan/tambahan, yakni tokoh yang permunculannya lebih sedikit dan kehadirannya jika hanya ada keterkaitannya dengan tokoh utama secara langsung atau tidak langsung. c. Tokoh figuran, yakni tokoh yang kehadirannya dalam cerita hanya sedikit dan tidak memberi pengaruh berarti kepada tokoh utama. Berdasarkan Fungsi Penampilan Tokoh Berdasarkan fungsi penampilannya, tokoh terbagi atas beberapa bagian di antaranya adalah sebagai berikut. 4. a. Tokoh protagonis, yakni tokoh yang secara umum memiliki sifat baik dalam sebuah cerita. b. Tokoh antagonis, yakni tokoh yang identik dengan sifat jahat. Berdasarkan Penggambaran Watak Tokoh Berdasarkan penggambarana wataknya, tokoh terbagi atas beberapa bagian di antaranya adalah sebagai berikut. 5. a. Tokoh sederhana, yakni cara penggambaran tokoh yang wataknya hanya dikisahkan satu segi/sisi (hanya digambarkan sifat baiknya dalam cerita atau hanya digambarkan perilaku jeleknya dalam cerita). Tokoh jenis ini sering disebut juga tokoh hitam/putih atau tokoh strerotif. b. Tokoh bulat, yakni cara penggambaran tokoh secara utuh dari beberapa segi/sisi (perilaku/sifat baik dan jeleknya tokoh digambarkan secara bersamaan dalam cerita). Tokoh ini sering disebut juga tokoh kompleks. Berdasarkan Perkembangan Watak Tokoh Berdasarkan perkembangan wataknya, tokoh terbagi atas beberapa bagian di antaranya adalah sebagai berikut. 6. a. Tokoh statis, yakni tokoh yang tidak mengalami perkembangan ataupun perubahan watak, sikap, perilaku dari awal sampai akhir cerita. b. Tokoh dinamis, yakni tokoh yang mengalami perkembangan ataupun perubahan waktak, sikap, perilaku akibat peristiwa-peristiwa dalam cerita. Berdasarkan Pencerminan Tokoh terhadap Kehidupan Nyata Berdasarkan pencerminan tokoh terhadap dunia nyata tokoh dibedakan menjadi beberapa jenis di antaranya adalah sebagai berikut. 7. a. Tokoh tipikal, yakni tokoh yang dapat dianggap mencerminkan suatu kelompok atau lembaga tertentu dalam kehidupan nyata. b. Tokoh netral, yakni tokoh yang hanya dijumpai dalam cerita tersebut. Tokoh ini tidak mewakili suatu kelompok atau lembaga tertentu dalam kehidupan nyata. Berdasarkan Kualitas Tokoh Bawahan Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 07-17 11 Tokoh bawahan terkadang memiliki watak yang melbihi tokoh utama, sehingga terkadang hampir disejajarkan dengan tokoh utama. Jenis tokoh bawahan ini di bagi atas beberapa bagian di antanya adalah sebagai berikut. a. Tokoh wirawan/wirawati, yakni tokoh bawahan yang memiliki keagungan pikiran dan keluhuran budi pekerti. b. Tokoh antiwirawan/antiwirawati, yakni tokoh bawahan yang memiliki watak dan perilaku yang buruk. 1.3. Biografi Pengarang Biografi merupakan sebuah tulisan berisikan kisah kehidupan seseorang yang diceritakan berdasar pada kegiatan hidupnya, mulai dari tanggal lahir, alamat, nama orang tua, riwayat pendidikan, peristiwa penting dalam kehidupan atau peristiwa menarik dalam kehidupan, jasa, hasil karya sampai dengan meninggalnya. Dalam KBBI (2016: 5) Biografi merupakan sebuah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Sehingga dalam hal ini biografi merupakan cerita kehidupan tentang seseorang yang ditulis dan diceritakan orang lain berdasarkan kisah nyata dan data dari seseorang itu sendiri ditambahkan dengan pandangan-pandangan dari orang lain yang bersangkutan. 2. METODE Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Nugrahani (Strauss dan Corbin, 2007: 1) dijelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Selain dengan pendekatan kualitatif, dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kajian sastra secara enklitik. Pendekatan enklitik merupakan sebuah pendekatan kajian sastra yang menggabungkan dua pendekatan sekaligus dalam analisis. Kedua pendekatan kajian sastra yang peneliti gunakan adalah pendekatan struktural atau objektif dengan pendekatan ekspresif. Berdasarkan tujuan penelitian dan permasalahan dalam bab I, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif analisis. Metode ini dipilih karena menurut Surakhmad (1994: 139), “Metode desktiptif adalah sebuah metode yang berusaha untuk mengumpulkan data, meliputi analisis dan interpretasi tentang data itu”. Selain itu menurut Surakhmad (1984: 139), “Metode deskriptif adalah menuturkan dan menafsirkan data yang ada misalnya tentang situasi yang dialami, suatu hubungan, kegiatan, pandangan, sikap yang nampak atau tentang suatu proses yang sedang muncul, kecenderungan yang sedang meruncing”. Berdasarkan kedua pendapat ahli di atas, maka dapat peneliti simpulkan bahwa penggunaan metode deskriptif analisis dalam penelitian ini dipandang sebagai metode yang tepat, karena metode deskriptif analisis ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan faktafakta yang kemudian dikaji dan dianalisis. Selain itu, dalam praktiknya pun penelitian ini melakukan kegiatan untuk mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan, menyimpulkan serta mendeskripsikan yakni sebuah unsur-unsur penokohan dikaitkan dengan latar belakang pengarang yang terdapat dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari sebagai sumber penyusunan bahan pembelajaran apresiasi sastra di SMA. dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik penelitian, yakni teknik analisis teks dengan studi dokumentasi. Teknik analisis teks digunakan untuk menganalisis unsur instrinsik yakni unsur penokohan dalam cerpen, teknik ini dilakukan dengan cara menginterpretasi atau menafsirkan teks-teks berupa unsur intrinsik cerpen yang ada dalam kumpulan cerpen Fatimah, Kuswara & Sukmana. – Unsur Penokohan dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin 12 Senyum Karyamin. Dalam proses ini, elemen-elemen dalam teks cerpen yakni unsur penokohannya akan dianalisis satu persatu. Selanjutnya yaitu studi dokumentasi. Teknik penelitian dengan studi dokumentasi ini peneliti lakukan untuk mendapatkan riwayat hidup pengarang. Sehingga metode dalam studi dokumentasi ini dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan sebagai bahan informasi penelitian, dalam hal ini untuk menelaah riwayat hidup pengarang cerpen Senyum Karyamin. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Kumpulan cerpen Senyum Karyamin berisi tentang kehidupan orang-orang berlatarkan tahun 80-an, dengan alur kehidupan yang sangat sederhana namun penuh dengan ironi. Salah satunya yaitu cerpen yang berjudul “Senyum Karyamin” itu sendiri. Selain “Senyum Karyamin”, dalam buku kumpulan cerpen ini ada dua belas cerpen lainnya yang juga sarat akan makna dan pelajaran. Semua cerpen akan peneliti analisis penokohannya juga dengan keterkaitan antara penokohan dengan latar belakang penulis cerpen sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dicapai. Adapun cerpen yang menjadi bahan kajian dalam penelitian ini beserta tokoh yang terlibat di dalamnya adalah sebagai berikut. Tabel 1. Rekap Nama Tokoh dalam Kumpulan Cerpen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Judul Cerpen “Senyum Karyamin” “Jasa-Jasa Buat Sanwirya” Tokoh yang Terlibat Karyamin, Sarji, Saidah, Pak Pamong Aku, Ranti, Waras, Sampir, Sanwirya, Nyai Sanwirya “Si Minem Beranak Bayi” Kasdu, Minem, Mertua Perempuan, Mertua Lakilaki “Surabanglus” Suing, Kimin, Mak “Tinggal Matanya BerkedipAku, Ayah, Si Cepon, Musgepuk, Para Kedip” Perempuan “Ah, Jakarta” Aku, Karibku, Istri, Polisi “Blokeng” Blokeng, Lurah Hadining, Para Lelaki “Syukuran Sutabawor” Sutabawor, Pak Mertua “Rumah yang Terang” Aku, Haji Bakir, dua tetangga “Kenthus” Kenthus, Dawet “Orang-Orang Seberang Kali” Aku, Kang Samin, Madrakum “Wangon Jatilawang” Aku, Sulam, Tukang Becak “Pengemis dan Shalawat Aku, Pengemis, Pedagang Asongan, Kondektur, Badar” Sopir Berdasarkan tabel. 1, penelitian ini difokuskan pada kajian unsur penokohan. Penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik yang krusial dalam sebuah karya sastra, khusunya cerpen. Penokohan yang baik merupakan penokohan yang digambarkan menyeluruh berdasarkan unsur intrinsik lainnya sebagai pendukung. Tabel 1 merupakan tabel rekap nama tokoh-tokoh yang terlibat dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin. Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa penggunaan nama dalam setiap cerpennya menggunakan nama-nama yang sederhana dan terkesan kampungan. Hal ini karena penggunaan nama tersebut sesuai dengan penokohan yang diperankannya dalam cerita. Selain dilihat dalam segi nama, analisis penokohan dalam kajian ini pun membahas mengenai pekerjaan dan karakter pada tokoh sebagai bahan kajiannya. Adapun data yang dimaksud adalah sebagai berikut. Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 07-17 13 Tabel 2. Rekap Pekerjaan dan Karakter Tokoh yang Terlibat No Nama Tokoh Pekerjaan Karakter Karyamin Pengumpul batu Gigih, penyabar 1 Saidah Pedagang nasi Baik hati 2 Pak Pamong Pejabat kampung Tidak memiliki simpati 3 Ranti Teman seorang Perhatian 4 penderes Waras Teman seorang Egois 5 penderes Sampir Teman seorang Keras kepala 6 penderes Kasdu Lelaki biasa Polos, penakut, bertanggung jawab 7 Minem Istri dari Kasdu Baik, menurut kepada suami 8 Suing Pencuri kayu Tidak sabaran, rakus 9 Pencuri kayu Baik, setia kawan 10 Kimin Pawang kerbau Sombong 11 Musgepuk Lelaki biasa Baik hati, menghargai pertemanan 12 Aku Perampok Buronan yang sedang ketakutan 13 Karibku Wanita biasa Cerewet 14 Istri Wanita keterbatasan Polos 15 Blokeng mental Pemimpin kampung Bijaksana 16 Lurah Hadining Sutabawor Lelaki biasa Polos, penurut 17 Dukun Baik 18 Pak Mertua Lelaki alim Baik, tegas, egois, penyabar 19 Haji Bakir Tetangga Cerewet 20 Dua tetangga Penggiat Kb di Baik hati, penyabar 21 Aku Kampung Lelaki miskin Sombong 22 Kenthus Istri dari Kenthus Baik 23 Dawet Lelaki alim yang Baik hati, sopan 24 Aku paham agama Botoh adu ayam Tidak berperasaan 25 Madrakum Lelaki biasa Baik hati, perhatian 26 Aku Lelaki dengan Polos 27 Sulam kekurangan Penumpang bus Baik, lembut 28 Aku Mengemis Lugu 29 Pengemis Kasar, pemarah 30 Tukang asongan Pedagang Kondektur bus Kasar, pemarah 31 Kondektur Sopir Sopir bus Kasar, pemarah 32 Berdasarkan tabel 2, yang merupakan data rekap nama, pekerjaan dan karakter tokoh dalam cerpen, maka dapat dilihat bahwa setiap tokoh dalam masing-masing cerita memiliki ciri khasnya tersendiri dalam menonjolkan penokohannya. Keterkaitan penokohan dengan unsur intrinsik lainnya sangat tergambar dengan jelas. peneliti akan menyajikan keterkaitan antara penokohan dengan unsur instrinsik lainnya pada cerpen yang semakin mendukung timbulnya sebuah unsur penokohan itu dalam sebuah cerita. 14 Fatimah, Kuswara & Sukmana. – Unsur Penokohan dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin Adapun unsur-unsur pendukung sebagai berikut. 1. terhadap penokohan dalam setiap cerpen itu adalah Unsur Alur Unsur alur saling terkait dengan unsur penokohan. Hal ini telah peneliti jelaskan pada landasan teori dalam bab sebelumnya. Berdasarkan rekap data nama tokoh pada tabel di atas, tokoh utama dalam setiap cerita menjadi fokus dalam setiap alurnya. Unsur alur sangat berkaitan dengan nama tokoh yang telah disebutkan, hal ini karena nama-nama yang disebutkan merupakan nama yang digunakan masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah. Selain itu orang-orang dengan nama tersebut telah menyampaikan konflik yang terjadi dengan sangat jelas yakni mengenai permasalahan masyarakat rendah antara lain mengenai kemiskinan, kesengsaraan, dan kebodohan orang-orang akibat kurangnya pendidikan. Nama tokoh sebagai orang miskin digambarkan dengan orang yang tidak berdaya, sehingga dalam penyelesaian konflik yang terjadi dalam setiap cerita umumnya tokoh-tokoh tersebut bersikap pasrah, menerima keadaan dengan tidak melakukan perlawanan atas apa yang menimpanya. 2. Unsur Bahasa Jenis bahasa yang digunakan pengarang dalam setiap cerpennya adalah dengan menggunakan bahasa yang sederhana karena mudah dipahami oleh pembaca. Hal ini sejalan dan sangat terkait dengan unsur nama yang telah peneliti sebutkan. Karena nama tersebut menggambarkan orang-orang dari kalangan bawah, sehingga diksi yang digunakannya pun merupakan diksi yang sederhana dan mengandung unsur bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Jawa. Dengan penggunaan nama dari kalangan bawah, berpengaruh terhadap struktur kalimat yang digunakan dalam cerita, yakni dengan menggunakan bahasa yang sederhana, karena manusia dengan latar belakang seperti itu tidak mungkin berbicara dengan struktur kalimat yang rumit. Maka dalam aspek bahasanya pun menggunakan bahasa yang pendek-pendek. Selain itu, dalam pelukisan setiap peristiwa yang menimpa tokoh, pengarang sering kali menggunakan personifikasi untuk mendukung terciptanya suasana. Pada setiap cerita dalam kumpulan, penggunaan bahasa-bahasa yang mencirikan sebuah kesedihan dan kesengsaraan sangat di tonjolkan. Hal ini karena setiap tokoh yang terlibat umumnya menyampaikan cerita yang bermasalah dengan kemiskinan, kesengsaraan, kebodohan serta masalah-masalah sosial lainnya yang keras terjadi di masyarakat yang tinggal di sebuah perkampungan hal ini sangat berkaitan dengan nama setiap tokoh dalam cerita. 3. Unsur Latar Berdasarkan data nama dan pekerjaan tokoh di atas, tokoh-tokoh yang terlibat dalam setiap cerita sangat mencirikan sebagai orang yang tinggal di perkampungan atau daerah pinggiran. Hal ini sangat cocok dengan setiap latar yang digunakan pengarang dalam masing-masing ceritanya yakni bercerita mengenai kehidupan orang-orang yang tinggal di kampung dan di daerah pinggiran, dengan masalah-masalah sosial sekitar yang diangkatnya sebagai konflik dan pemunculan alur. Sehingga dalam hal ini unsur latar, terutama latar tempat sangat berkaitan dengan erat dengan penokohan dalam setiap cerita dilihat sehingga berpengaruh terhadap nama dan pekerjaannya. 4. Unsur Tema Tema menjadi salah satu unsur yang berpengaruh terhadap penokohan, sehingga memiliki keterkaitan yang penuh dengan penokohan itu sendiri. Tokoh-tokoh yang dimunculkan oleh pengarang berdasarkan nama dan pekerjaannya sangat dipengaruhi oleh tema ceritanya masing-masing. Tema yang banyak di angkat dalam cerita adalah mengenai Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 07-17 15 masalah-masalah sosial orang kecil, seperti kemiskinan, kesengsaraan, kebodohan, serta ajaran agama yang mengajarkan manusia untuk tidak lalai dalam hidup dan selalu menyertakan Tuhan dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Hal ini sejalan dengan penokohan-penokohan yang mucul pada cerpen dalam setiap ceritanya. Karena tema menjadi salah satu unsur yang sangat berpengaruh terhadap penokohan. Keterkaitan dengan biografi pengarang. Dalam hal ini sebuah biografi dan latar belakang dari pengarang sangat berpengaruh terhadap penokohan yang ada pada masingmasing cerita. Di antaranya seperti penggambaran tokoh yang hidup sederhana di sebuah perkampungan, hal ini karena dalam biografi pengarang, Ahmad Tohari dikatakan lahir dan besar di sebuah desa. Kemudian diangkatnya dan diperankannya tokoh-tokoh yang bermasalah dalam kehidupan social, hal ini dilandasi atas keprihatinannya terhadap lingkungan sosial di sekitarnya pada masa itu. Selanjutnya penokohan yang penuh akan nilai agamis, karena berdasarkan data biografi pengarang, Ahmad Tohari tumbuh dalam dunia pendidikan yang berlandaskan agama, khususnya agama islam. Hasil kajian peneliti yang menunjukan adanya keterkaitan antara penokohan dengan biografi pengarang, adalah sebagai berikut. 1. Penamaan Tokoh dengan Nama yang Sederhana Hal ini karena berdasarkan data biografi pengarang, Ahmad Tohari lahir dan besar di daerah kecil di pulau jawa, khususnya di Jawa Tengah. Sehingga berpengaruh terhadap pemilihan kata dalam ceritanya termasuk dalam penamaan tokoh-tokohnya. Seperti ditemukannya tokoh dengan nama Karyamin, Sarji (”Senyum Karyamin”), Sampir, Waras (“Jasa-Jasa Buat Sanwirya), Kasdu, Minem (“Si Minem Beranak Bayi”), Suing dan Kimin (“Surabanglus”), Blokeng dan Sutabawor, Kenthus dan Dawet (“Kenthus”). Nama-nama yang sebutkan di atas merupakan penamaan tokoh yang ditemukan peneliti tergolong ke dalam kategori nama yang umum digunakan masyarakat Jawa pada zaman dahulu, khususnya dilingkungan perkampungan. Sehingga dalam hal ini berdasarkan temuan tersebut dapat peneliti simpulkan bahwa nama-nama tokoh di atas merupakan nama-nama tokoh yang dipengaruhi oleh biografi pengarang sebagai seorang sastrawan yang lahir dan besar di tanah Jawa. 2. Pekerjaan Tokoh dalam Cerita Setiap tokoh pasti digambarkan pengarang dengan masing-masing pekerjaannya. Namun dalam pembahasan ini, peneliti akan membahas mengenai pekerjaan tokoh yang yang dipengaruhi biografi pengarang berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan. Latar belakang pengarang yang tercantum dalam biografi sebagai acauan dalam keterkaitan ini adalah perihal latar belakang tempat tinggal dan kehidupan sosial Ahmad Tohari ketika masih kecil hingga dengan dewasa. Yakni dihadirkannya tokoh-tokoh dengan pekerjaan yang sederhana serta identik dengan pekerjaan yang dilakukan orang-orang yang hidup di pedesaan atau pinggiran dan jauh dari peradaban modern pada zaman itu. Hal ini sejalan dengan keadaan pengarang yang tumbuh dan besar di daerah pedesaan. Adapun tokoh-tokoh yang disebutkan, yang pertama adalah tokoh Karyamin sebagai pengumpul batu di sungai, Sanwirya sebagai penderes atau penyadap nira kelapa, Suing dan Kimin sebagai pencuri pohon di hutan, serta Musgepuk seorang pawang kerbau, maupun seorang pengemis. 3. Karakter Tokoh dalam Cerita Setiap tokoh dalam cerita pasti disampaikan pengarang dengan karakternya masing-masing. Namun peneliti menemukan, beberapa tokoh dengan karakter yang 16 Fatimah, Kuswara & Sukmana. – Unsur Penokohan dalam Kumpulan Cerpen Senyum Karyamin disinyalir memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial pengarang, yakni latar belakang pendidikan pengarang sebagai seorang santri karena lulusan dari pesantren. Adapun tokoh-tokoh yang peneliti temukan berdasarkan hasil analisis, adalah tokoh Lurah Hadining (“Blokeng”) , tokoh Aku (“Wangon Jatilawang”) dan Haji Bakir (“Rumah yang Terang”) sebagai tokoh yang berjiwa kepemimpinan, yang mampu memandang manusia sebagai makhluk yang sama di hadapan Tuhan, serta manusia yang sangat memikirkan kehidupan di akhirat. Selain ketiga tokoh tersebut, tokoh yang paling menonjol dalam ditemukannya keterkaitan karakternya dengan latar belakang pendidikan pesantren pengarang adalah sosok Madrakum dalam “Orang-Orang Seberang Kali” dan tokoh pengemis dalam “Pengemis dan Shalawat Badar.” Sosok Madrakum yang mengalami sekarat sebelum ajal menjemput, karena kebiasaan buruk semasa hidupnya yang sering judi ayam, dapat ditolong dengan dihadirkannya tokoh Aku sebagai sosok yang alim dan taat beragama, bisa dan hafal membaca Surah Yassin sehingga dapat mendoakan Madrakum. Kemudian untuk sosok pengemis, ia ditampilkan sebagai manusia yang tidak luput untuk mengingat Tuhan dalam setiap aktivitas yang dilakukan, karena sosok ini selalu melantunkan Shalawat Badar dalam kondisi apapun. 4. SIMPULAN Setelah mengkaji dan menganalisis kumpulan cerpen Senyum Karyamin, peneliti memperoleh beberapa temuan sebagai berikut. 1. Penokohan yang terdapat dalam kumpulan cerpen sangat beragam, namun tidak keluar dari ciri khas pengarang yang menggunakan citra tokoh-tokoh yang sederhana. Hal ini karena kebanyakan tokoh yang muncul dalam masing-masing cerpen merupakan tokoh yang mudah dipahami sehingga sederhana baik dalam penamaannya maupun dalam segi karakternya. 2. Keterkaitan penokohan dengan unsur intrinsik lainnya sangat tergambar dengan jelas. Hal ini karena nama-nama tokoh yang ada dalam cerita sangat menggambarkan orangorang dari kalangan bawah dengan latar permasalahan masyarakat miskin akibat kekurangan dan kebodohan sebagai imbas dari rendahnya tingkat pendidikan. Kemudian orang miskin yang disampaikan pengarang dapat diartikan sebagai orangorang yang pasrah, hal ini sangat tersampaikan dengan penyelesaian alur dalam setiap ceritanya. Gaya bahasa yang digunakan dalam keseluruhan isi cerpen merupakan gaya bahasa sederhana yang sesuai dengan penokohannya masing-masing sebagai orang yang tergolong masyarakat miskin, sehingga struktur kalimatnya sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Selain itu, aspek bahasa yang digunakannya pun pendekpendek, namun tidak keluar dari ciri khas pengarang yang banyak menggunakan majas ironi dan personifikasi dalam penyampaiannya, serta penggunaan diksi bahasa Jawa yang selalu ada pada setiap cerpen. 3. Keterkaitan dengan biografi pengarang, dalam hal ini sebuah biografi dan latar belakang dari pengarang sangat berpengaruh terhadap penokohan yang ada pada masing-masing cerita. Di antaranya seperti penggambaran tokoh yang hidup sederhana di sebuah perkampungan, hal ini karena dalam biografi pengarang, Ahmad Tohari dikatakan lahir dan besar di sebuah desa. Kemudian diangkatnya dan diperankannya tokoh-tokoh yang bermasalah dalam kehidupan social, hal ini dilandasi atas Volume II, No. 1, Februari 2023, Hal. 07-17 17 keprihatinannya terhadap lingkungan sosial di sekitarnya pada masa itu. Selanjutnya penokohan yang penuh akan nilai agamis, karena berdasarkan data biografi pengarang, Ahmad Tohari tumbuh dalam dunia pendidikan yang berlandaskan agama, khususnya agama islam. REFERENSI Apri, K.HS dan Suprapto, E. (2018). Kajian Kesusastraan Sebuah Pengantar. Magetan: CV Ae Media Grafika. Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Nurgiyantoro, B. (1998). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Tohari, A. (2013). Senyum Karyamin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Yohanes, S. (2014). Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Zaini, H. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Insan Mandiri.