Peran Kelembagaan dan Atribut Inovasi dalam Adopsi Teknologi. (Lukman Effend. PERAN KELEMBAGAAN DAN ATRIBUT INOVASI DALAM ADOPSI TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI SAWAH DI KABUPATEN BANDUNG BARAT DAN SUMEDANG The Role of Institutional and Innovation Attributes for Adoption of Integrated Rice Management Technology (PTT) in Bandung Barat and Sumedang Regency Lukman Effendy* Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor *Korespondensi penulis. E-mail: f1515DI@gmail. Diterima: Maret 2017 Disetujui terbit: April 2017 ABSTRACT Research on the role of institutional and innovation attributes in influencing the adoption of integrated crop management technology has been done in several sub-district in Bandung Barat and Sumedang Regency. The purpose of research to describe the role of institutional and innovation attributes in influencing the adoption of integrated crop management technology. Research approach using a survey approach, in which all members of farmer groups who participate in production improvement rice corn and soybean (PAJALE) program as population. The sample determination done randomly simple (Simple Random Samplin. , and with the formula slovin the number of samples amounted to 124 respondents. Based on the descriptive analysis obtained that. the complexity of innovation, the role of farmer groups as production units, and the use of new improved varieties as PTT technological component obtained the lowest everage value, both in Bandung Barat and Sumedang district. Keywords: extension institution, farmer group, innovation attribute. PTT technology ABSTRAK Penelitian peran kelembagaan dan atribut inovasi dalam mempengaruhi adopsi teknologi PTT telah dilakukan di beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung Barat dan Sumedang. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan peran kelembagaan penyuluhan, kelompok tani dan atribut inovasi dalam adopsi PTT. Penelitian menggunakan pendekatan survei, di mana seluruh anggota kelompok tani yang mengikuti program peningkatan produksi padi-jagung dan kedelei sebagai populasi. Penetapan sampel dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Samplin. , dan dengan rumus Slovin banyaknya sampel berjumlah 124 orang responden. Berdasarkan analisis diskriptif diperoleh tingkat kerumitan inovasi, peran kelembagaan penyuluhan dalam memberikan percontohan usahatani, peran kelompok tani sebagai unit produks, dan penggunaan varietas unggul baru pada teknologi PTT, memperoleh nilai rata-rata terendah baik di Sumedang maupun di Bandung Barat. Kata Kunci: kelembagaan penyuluhan, kelompok tani, atribut inovasi, teknologi PTT Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 PENDAHULUAN Sejak tahun 2015 pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mencanangkan program untuk meningkat produksi yang disebut dengan Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi. Jagung, dan Kedelai. Targetkan masing-masing 4 juta ton, 20 juta ton, dan 2 juta ton untuk kedelai. Untuk komoditas padi sawah diterapkan teknologi budidaya dengan pendekatan terpadu yang disebut Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), yaitu sebuah sistem pengeloan tanaman secara intensif untuk meingkatkan produktivitas dan pendapatan petani serta melestarikan lingkungan produksi melalui pengeloaan lahan, air, air, tanaman. OPT, dan iklim secara terpadu (Dewi dan Hanifa. Sebagai inovasi. PTT terdapat komponen teknologi yang dibagi dalam dua kelompok yaitu komponen teknologi dasar dan komponen teknologi pilihan. Menurut Nurhayati . teknologi dasar adalah teknologi yang sangat dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi, seperti: . Penggunaan varietas unggul baru, inbrida atau hibrida, . Penggunaan benih bermutu dan berlabel, . Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos dan pupuk kandang, . Pengaturan jarak tanam Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, dan . Pengendalian OPT dengan pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT). Sementara disesuaikan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat, antara lain: Pengelolaan tanah sesuai dengan musim dan pola tanam, . Penggunaan bibit muda O 21 hari, . Tanam bibit 1 -3 batang per lubang, . Pengairan secara efektif dan efisien, . Penyiangan dengan landak atau gasrok, dan . Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok. Sebuah inovasi mesti memiliki daya tarik sehingga masyarakat berminat dan mau untuk menerapkannya. Menurut Rogers dan Shoemaker . ciri inovasi terdiri atas: keuntungan relatif . elative advantag. Kompatibilitas . Kompleksitas . Triabilitas . Observabilitas . Berbagai diseminasi atau penyebaran PTT sudah diantaranya karakteristik inovasi yang melekat pada teknologi PTT tanaman jagung yang dilakukan oleh Dewi dan Hanifa pada tahun 2013 dan faktor kelembagaan yang dilakukan Andriyanita dan Hermawan pada tahun 2013. Hasil pengkajian Dewi dan Hanifa tersebut menemukan bahwa karakteristik inovasi yang mempengaruhi adopsi adalah bertentangan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat, tingkat kemudahan diaplikasi. Sementara faktor keberadaan kelompok tani, penyuluh pertanian, dan keberadaan BPTP. Berdasarkan Undang-undang No. 16 Tahun 2006 tentang sistem penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan pasal 8, kelembagaan penyuluhan meliputi: . Kelembagaan penyuluhan pemerintah, . Kelembagaan penyuluhan swasta, dan . Kelembagaan Kelembagaan kecamatan berbentuk Balai Penyuluhan Balai Penyuluhan Pertanian. Perikanan, dan Kehutanan (BP3K). BP3K memiliki peran strategis dalam penyebaran kegiatan fasilitasi diseminasi inovasi teknologi dan informasi, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permenta. Nomor 26 Tahun 2012. Lebih lanjut dalam peraturan tersebut diuraikan peran BP3K menyebarluaskan inovasi informasi dan teknologi melalui kegiatan penyuluhan, petani, melaksanakan model pembelajaran melalui demplot, dan membangun jejaring Kelompok Tani merupakan bentuk kelembagan petani yang dilahirkan oleh petani anggota untuk memperjuangkan kepentingan petani agar usahatani mereka lebih baik sehingga anggota atau petani Menurut Permentan Nomor 82 Tahun 2013. Kelompok tani memiliki tiga Peran Kelembagaan dan Atribut Inovasi dalam Adopsi Teknologi. (Lukman Effend. fungsi yaitu: . Kelas Belajar, merupakan wadah belajar mengajar bagi anggota keterampilan dan sikap. Wahana Kerjasama: Kelompoktani tempat untuk memperkuat kerjasama baik di antara sesama petani dalam poktan dan antar poktan maupun dengan pihak lain. Unit Produksi, yang mana masingmasing keseluruhan harus dipandang sebagai kesatuan usaha. Interaksi kelembagaan penyuluhan di kecamatan, kelompok tani, dan atribut inovasi dalam mempengaruhi proses adopsi khususnya teknologi PTT belum banyak dilakukan, karena itu untuk mengetahui sejauhmana peran kelembagaan dan atribut inovasi mempengaruhi adopsi PTT padi sawah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Sumedang maka dirancang penelitian ini. Berdasarkan fokus permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian adalah sejaumanakah peran kelembagaan penyuluhan, kelompok tani, dan atribut inovasi PTT dalam adopsi PTT padi sawah di KBB dan Sumedang. Penetapan diharapkan dapat menjawab rumusan masalah, tujuan penelitian adalah untuk penyuluhan, kelompok tani dan atribut inovasi pada tingkat adopsi PTT padi sawah di KBB dan Kabupaten Sumedang. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai: . bahan informasi peningkatan adopsi teknologi PTT padi sawah di KBB dan Kabupaten Sumedang, . kontribusi dalam pengembangan ilmu karakteristik inovasi, peran kelembagaan penyuluhan kecamatan, dan kelembagaan petani, khususnya kelompok tani, . dengan penelitian ini diharapkan teknologi PTT dapat tersebar atau terdifusi lebih METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Kerangka penelitian ini merupakan cerminan faktorfaktor yang diduga saling berhubungan dalam mempengaruhi adopsi PTT yaitu: Atribut inovasi teridiri atas, keuntungan trialabilitas, dan observabilitas. Peran Kelembagaan Penyuluhan perencanaan program, fasilitasi kegiatan petani, percontohan, dan penumbuhan jejaring kemitraan, dan . fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi. Secara skematis hipotesi penelitian tersaji pada gambar berikut: KELEMBAGAAN PENYULUHAN A Perencanaan Program A Pelaksanaan Penyuluhan A Peningkatan Kapasitas SDM A Penguatan Kelembagaan Petani A Percontohan Usahatani ATRIBUT INOVASI A Keuntungan Relatif A Kesesuaian A Kerumitan A Dapat dicoba A Dapat diamati ADOPSI PTT A Varietas Unggul Baru A Benih Bermutu A Pupuk Berimbang A Populasi Tanaman/Jarwo A Pengendalian OPT secara PHT A Penanganan Pascapanen ADOPSI TEKNOLOGI PTT KELEMBAGAAN PETANI A Kelas Belajar A Wahana Kerjasama A Unit Produksi Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Gambar 2. Kerangka Pemikiran Penelitian Metode Pengumpulan Data Penelitian Kabupaten Bandung Barat dan mengambil kelembagaan penyuluhan di tingkat Kecamatan (BP3K). Jumlah BP3K di Kabupaten Bandung Barat sebanyak 16 buah yang berada di setiap Kecamatan, sedangkan di kabupaten Sumedang terdapat 26 Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian Pengembangan (UPTDP) yang merupakan kelembagaan yang menangani urusan penyuluhan di tingkat kecamatan. Lokasi Kabupaten Bandung Barat di BP3K Cipongkor. BP3K Sindangkerta, dan BP3K Gununghalu, sedangkan untuk Kabupaten Sumedang UPTDP Kecamatan Sumedang Selatan UPTDP Kecamatan Rancakalong. Pelaksanaan penelitian dimulai pada Bulan Mei sampai dengan Juli 2016. Berdasarkan penelitian ini merupakan bentuk Ex post facto, yaitu penelitian menemukan sebab atau faktor yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi. Selanjutnya dilaksanakan dalam bentuk survey yang dilakukan pada populasi dan direpresentasikan oleh Teknik sampling menggunakan pendekatan probability sampling, khusunya dengan Simple Random Sampling, yaitu sederhana tanpa memperhatikan strata yg ada dalam populasi. Populasi penelitian adalah petani anggota kelompok yang telah mengikuti program peningkatan produksi padi (UPSUS Pajal. pada beberapa kelompok tani di masing-masing Berdasarkan tersebut jumlah populasi di Kabupaten Sumedang sedangkan di Kabupaten Bandung Barat Dengan menggunakan rumus Slovin diperoleh jumlah sampel sebanyak 124 orang. Rincian jumlah sampel setiap kecamatan dan kabupaten tersaji pada tabel berikut. Tabel 3. Kerangka Sampling dan Jumlah sampel setiap Kecamatan dan Kabupaten Kabupaten Bandung Barat Sumedang Kecamatan Cipongkor Sindangkerta Gununghalu Jumlah I Sumedang Selatan Rancakalong Jumlah II Total populasi I II Populasi . Sampel . Ditetapkan secara proporsional Penentuan dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil perhitungan sampel menggunakan rumus Slovin diketahui jumlah sampel dari populasi berjumlah 315 orang adalah sebanyak 124 orang, yang terdiri atas 65 orang sampel dari Kabupaten Bandung Barat dan 59 orang sampel dari Kabupaten Sumedang, dengan rincian seperti pada Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang berisi daftar pertanyaanpertanyaan yang berhubungan dengan peubah-peubah Struktur Peran Kelembagaan dan Atribut Inovasi dalam Adopsi Teknologi. (Lukman Effend. instrumen dibagi dalam tiga bagian, yaitu: Bagian pertama adalah data dasar, diletakkan di depan, berisikan identitas responden seperti nama, alamat tempat tinggal, dan tipologi daerah, nama . , pelaksanaan wawancara, dan tanda Bagian pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan peubah bebas, terdiri atas: (X. Atribut inovasi, (X. BP3K sebagai representasi kecamatan, (X. Kelompok Tani sebagai representasi kelembagaan petani, dan peubah terikat (Y) berupa adopsi inovasi PTT. Reliabilitas mencerminkan kemampuannya dalam mengukur fenomena atau respon secara Untuk keterandalan instrumen sebelum penelitian langkah-langkah: . Uji coba, dilakukan pada penyuluhan di Kabupaten Bogor sebanyak 20 orang, yang merupakan petani anggota kelompok yang menyerupai petani anggota kelompok di lokasi penelitian sesungguhnya. Uji reliabilitas menggunakan rumus koefisien Cronbach Alpha (Marzuki dan Burhan 2. , dimana instrumen tergolong terandalkan . bila nilai koefisien antara 0. 6 Ae 1. Hasil uji instrumen diperoleh nilai Cronbach Alpha adalah 0. 0895, sehingga instrumen yang dibuat dapat digunakan untuk pengumpulan data pada responden Data menggunakan skala interval dengan nilai 1 Ae 4, yang mana nilai 1 menunjukan nilai terendak ayng berarti mencerminkan kurang baik/berperan dst, sementara nilai 4 adalah nilai tertinggi yang berarti sangat baik/sangat berperan dst. Metode Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis dengan statistik deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi dengan bantuan program SPSS versi 2. mendapatkan nilai rerata peubah masingmasing kabupaten. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai Rerata Peubah Masing - Masing Kabupaten Secara umum hasil penelitian masing-masing masing-masing Berikut diuraikan nilai rata-rata dan peringkat masing-masing peubah di Kabupaten Sumedang (Tabel 4 s. d Tabel Tabel 4. Nilai rata-rata dan peringkat atribut inovasi di Kab. Sumedang Indikator Rata-rata Peringkat Dapat diamati Dapat dicoba Keuntungan relatif Kesesuaian Kerumitan Tabel 5. Nilai rata-rata dan peringkat Kelembagaan Penyuluhan di Kab. Sumedang Indikator Perencanaan Program Pelaksanaan Penyuluhan Peningkatan Kapasitas SDM Penguatan Kelembagaan Petani Percontohan Usahatani Rata-rata Peringkat Tabel 6. Nilai rata-rata dan peringkat Kelembagaan Petani di Kab. Sumedang Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Indikator Wahana Kerjasama Kelas Belajar Unit Produksi Rata-rata Peringkat Tabel 7. Nilai rata-rata dan peringkat Tahapan Inovasi di Kab. Sumedang Indikator Pemupukan berimbang Pengaturan populasi/Jarwo Penggunaan benih bermutu Penanganan pasca panen Pengendalian OPT secara PHT Penggunaan varietas unggul baru Berdasarkan data di atas (Tabel 4 d Tabel . diperoleh, bahwa nilai ratarata terendah masing-masing peubah adalah: . tingkat kerumitan untuk peubah atribut inovasi, . percontohan usahatani penyuluhan, . unit produksi untuk peubah kelembagaan petani, dan . penggunaan varietas unggul baru. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kerumitan sebuah inovasi menjadi menerima atau adopsi. Demikian halnya Rata-rata Peringkat peran kelembagaan penyuluhan dalam memberikan percontohan usahatani tidak Selanjutnya fungsi kelompok tani sebagai unit produksi kurang berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sementara paket teknologi PTT yang masih kurang diadopsi adalah penggunaan varietas unggul baru. Berikut ini diuraikan nilai rata-rata dan peringkat masing-masing peubah di Kabupaten Bandung Barat (Tabel 8 s. Tabel . Tabel 8. Nilai rata-rata dan peringkat atribut inovasi di Kab. Bandung Barat Indikator Rata-rata Peringkat Dapat diamati Dapat dicoba Keuntungan relatif Kesesuaian Kerumitan Tabel 9. Nilai rata-rata dan peringkat Kelembagaan Penyuluhan di Kab. Bandung Barat Indikator Perencanaan Program Pelaksanaan Penyuluhan Peningkatan Kapasitas SDM Penguatan Kelembagaan Petani Percontohan Usahatani Rata-rata Peringkat Tabel 10. Nilai rata-rata dan peringkat Kelembagaan Petani di Kab. Bandung Barat Indikator Wahana Kerjasama Kelas Belajar Unit Produksi Rata-rata Peringkat Peran Kelembagaan dan Atribut Inovasi dalam Adopsi Teknologi. (Lukman Effend. Tabel 11. Nilai rata-rata dan peringkat Tahapan Inovasi di Kab. Bandung Barat Indikator Pengaturan populasi/Jarwo Pemupukan berimbang Pengendalian OPT secara PHT Penggunaan benih bermutu Penanganan pasca panen Penggunaan varietas unggul baru Tabel-tabel di atas (Tabel 8 Ae Tabel . menunjukkan, bahwa nilai rata-rata terendah masing-masing peubah, yaitu: . tingkat kerumitan untuk peubah atribut inovasi, . percontohan usahatani untuk peubah peran kelembagaan penyuluhan, . kelembagaan petani, dan . penggunaan varietas unggul baru. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kerumitan sebuah inovasi menjadi menerima atau adopsi. Demikian halnya peran kelembagaan penyuluhan dalam memberikan percontohan usahatani tidak Rata-rata Peringkat Selanjutnya fungsi kelompok tani sebagai unit produksi kurang berjalan sebagaimana yang diharapkan. Sementara paket teknologi PTT yang masing kurang diadopsi adalah penggunaan varietas unggul baru. Nilai Rerata Peubah Gabungan Dua Kabupaten Nilai rata-rata masing-masing peubah gabungan dua kabupaten dapat dilihat pada Tabel 12 s. d Tabel 15. Tabel 12. Nilai rata-rata dan peringkat atribut inovasi gabungan kabupaten Indikator Dapat diamati Keuntungan relatif Dapat dicoba Kesesuaian Kerumitan Rata-rata Tabel 13. Nilai rata-rata dan peringkat Kelembagaan Penyuluhan Indikator Rata-rata Perencanaan Program Pelaksanaan Penyuluhan Peningkatan Kapasitas SDM Penguatan Kelembagaan Petani Percontohan Usahatani Peringkat Peringkat Tabel 14. Nilai rata-rata dan peringkat Kelembagaan Petani Indikator Wahana Kerjasama Kelas Belajar Unit Produksi Rata-rata Peringkat Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Tabel 15. Nilai rata-rata dan peringkat Tahapan Inovasi Indikator Pengaturan populasi/Jarwo Pemupukan berimbang Pengendalian OPT secara PHT Penggunaan benih bermutu Penanganan pasca panen Penggunaan varietas unggul baru Tabel-tabel di atas (Tabel 12 s. Tabel . menunjukkan, bahwa nilai ratarata terendah masing-masing peubah, yaitu: . tingkat kerumitan untuk peubah atribut inovasi, . percontohan usahatani peubah peran penyuluhan, . unit produksi untuk peubah kelembagaan petani, dan . penggunaan varietas unggul baru. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kerumitan sebuah inovasi menjadi menerima atau adopsi. Demikian halnya peran kelembagaan penyuluhan dalam memberikan percontohan usahatani tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Rata-rata Peringkat Selanjutnya fungsi kelompok tani sebagai Sementara paket teknologi PTT yang penggunaan varietas unggul baru. Nilai Rerata dan Peringkat Keseluruhan Indikator Peubah Nilai rata-rata dan peringkat seluruh indikator setiap peubah tersaji pada Tabel 16. Tabel 16. Nilai rata-rata dan peringkat keseluruhan indikator Indikator Wahana Kerjasama Perencanaan Program Dapat diamati Pengaturan populasi/Jarwo Pelaksanaan Penyuluhan Pemupukan berimbang Peningkatan Kapasitas SDM Keuntungan relatif Kelas Belajar Dapat dicoba Penggunaan benih bermutu Kesesuaian Pengendalian OPT secara PHT Penguatan Kelembagaan Petani Rata-rata Peringkat Peran Kelembagaan dan Atribut Inovasi dalam Adopsi Teknologi. (Lukman Effend. Penanganan pasca panen Unit Produksi Penggunaan varietas unggul baru Percontohan Usahatani Kerumitan Berdasarkan Tabel 16 di atas memperoleh nilai rata-rata dan peringkat terendah, yaitu: kerumitan inovasi untuk peubah atribut inovasi, percontohan kelembagaan penyuluhan, unit produksi untuk peubah peran kelembagaan petani, dan penggunaan varietas unggul baru untuk peubah penerapan teknologi PTT. Kondisi ini terjadi baik secara parsial di masing-masing gabungan atas dua kabupaten. Hasil ini mengindikasikan, bahwa tingkat kerumitan sebuah inovasi belum menjadi pertimbangan utama petani dalam menentukan untuk mengadopsi sebuah inovasi, baik di Kabupaten Sumedang Kabupaten Bandung Barat. Dalam hal ini para petani di kedua kabupaten lebih mengutamakan pertimbangan untuk mengadopsi karena dapatnya diamati baik proses maupun hasil yang dicapai akibat inovasi tersebut. Hasil ini selaras hasil penelitian Fatchiya. Amanah, dan Indah . , bahwa proses adopsi sebuah inovasi memerlukan dasardasar pertimbangan yang dianggap benar, baik dan layak dilakukan untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Senada juga dengan Zulvera . tingkat adopsi inovasi berhubungan dengan sifat inovasi. Selanjutnya peran kelembagaan penyuluhan (BP3K) dalam melaksanakan kabupaten masih belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, justru tugas yang utama dilaksanakan adalah perencanaan Hasil ini sesuai pula dengan hasil penelitian Zulvera . , bahwa dengan tingkat adopsi inovasi pertanian. Senada pula dengan Fatchiya. Amanah, dan Indah . , yang menyatakan penerapan inovasi berhubungan erat dengan penyelenggaraan penyuluhan. Peran menjadikan kelompok sebagai unit produksi ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan. Kondisi ini terjadi baik di Kabupaten Sumedang ataupun Kab. Bandung Barat. Sebagaimana diketahui, masing-masing anggota kelompok secara keseluruhan mesti dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan sebagai unit bisnis. Fungsi kelompok yang sudah dilaksanakan rekatif lebih baik adalah menjadikan kelompok sebagai wahana Hasil ini sejalan dengan Hardianto. W, dan Effendy. yang menyatakan bahwa fungsi kelompok tani sebagai wahana kerjasama telah berjalan relatif baik dalam penyusunan program dalam bentuk RDK/RDKK. Dalam sebuah kelompok diharapkan kerjasama yang baik dan adanya kepercayaan antara anggota harus tetap dijaga agar proses adopsi teknologi. Kemudian teknologi PTT yang masih sangat rendah diadopsi adalah penggunaan varietas unggul bermutu. Komponen teknologi PTT yang lebih sering diadopsi di kedua kabupaten adalah pengaturan populasi tanaman dengan menggunakan sistem jajar legowo dan penerapan pupuk Hasil ini sesuai dengan penelitian Fatchiya. Amanah, dan Indah . , bahwa proses adopsi sebuah dasar-dasar pertimbangan yang dianggap benar, baik dan layak dilakukan untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. No. Mei 2017 Dari uraian pembahasan di atas hasil penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa indikator yang memperoleh nilai rata-rata terendah yaitu: . tingkat kerumitan untuk peubah atribut inovasi, . percontohan usahatani untuk peubah peran kelembagaan penyuluhan, . unit kelembagaan petani, dan . penggunaan varietas unggul baru untuk peubah teknologi PTT. Saran Berdasarkan simpulan di atas, maka perlu upaya: . mengurangi kerumitan yang terdapat pada teknologi PTT terutama dalam pengaturan populasi tanaman dalam sistem jajar legowo, sehingga lebih mudah ketika penanaman tanpa mengurangi populasi tanaman. , . selalu dibuat petak percontohan usahatani baik di lingkungan BPP atau pun di lahan milik petani sebagai pelaksanaan fungsi peningkatan fungsi kelompok tani sebagai sebuah unit produksi, dan . penyuluhan terhadap penggunaan varietas unggul baru perlu diintensifkan. DAFTAR PUSTAKA