Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI SWASTA SEHAT DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCY PROCESS (AHP) (STUDY KASUS : PROVINSI LAMPUNG) Sulasminarti Dosen Manajemen Informatika. AMIK Dian Cipta Cendikia Pringsewu E-Mail : sulasminartiys@gmail. ABSTRAK Pergurun tinggi swasta di Lampung 87,25 % berada di kluster 4 dan 5 yang artinya perguruan tinggi tersebut masuk ke dalam perguruan tinggi tidak AusehatAy. Sejalan dengan hal tersebut, maka perguruan tinggi perlu melakukan perubahan dan pembenahan, baik dalam arah serta tujuan perguruan tinggi yang menyangkut kualitas dan kuantitas, sehingga perguruan tinggi mampu bersaing (Gamar at al:2. Permasalahanya adalah, bagaimana pemerintah bekerjasama dengan masyarakat dapat mengawasi dan mengevaluasi kesehatan sebuah perguruan tinggi, mengingat banyaknya jumlah perguruan tinggi di Indonesia, 4. 259 PT. Sehingga untuk memudahkan proses pengawasan, sangat diperlukan sebuah sistem penunjang keputusan, dalam menentukan kualitas perguruan tinggi terutama perguruan tinggi swasta. Dalam hal ini banyak perguruan tinggi swasta yang belum masuk dalam kategori perguruan tinggi swasta sehat maka dari itu diperlukan system pendukung keputusan yang mampu menjawab maslah tersebut. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan aplikasi SmartPLS dalam pengolahan data hasil Dari hasil pengolahan menggunakan SmartPLS diperoleh bobot yang akan digunakan dalam perhitungan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan aplikasi Expert Choice. Hasil dari perhitungan dengan aplikasi Expert Choice diperoleh urutan-urutan kriteria yang dapat digunakan dalam menetukan perguruan tinggi swasta sehat. urutan-urutan kriteria tersebut meliputi Tingkat Kepedulian Perguruan Tinggi/Institusi Terhadap Kegiatan Kemahasiswaan. Persentase Dosen Berpendidikan S3. Jumlah Program Studi yang memiliki Akreditasi/Sertifikasi Internasional. Akreditasi Institusi. Persentase Dosen Dalam Jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar. Akreditasi Program Studi. Kinerja Pengabdian Masyarakat. Kinerja Penelitian. Prestasi Mahasiswa Tingkat Nasional dan Internasional. Rasio Jumlah Publikasi Terindeks Terhadap Jumlah Dosen. Jumlah Mahasiwa Asing. Rasio Jumlah Dosen Terhadap Jumlah Mahasiswa. Key Word : Pergurun Tinggi Swasta. SmartPLS. Analytical Hierarchy Process (AHP). Expert Choice ABSTRACT 25% of private higher education in Lampung are in clusters 4 and 5. It means that these universities are not included in AuhealthyAy universities. Higher education needs to make changes and improvements. They are both in the direction and goals of higher education related to quality and quantity so that universities are able to compete (Gamar et al: 2. The problem is how can the government cooperate with the community to monitor and evaluate the health of a university, given a large number of universities in Indonesia, 4,259 PT. To facilitate the supervisory process, a decision support system is needed in determining the quality of higher education, especially private universities. In this case, there are many private universities that have not been included in the category of healthy private universities, therefore a decision support system is needed that is able to answer these problems. In this study, it used the SmartPLS application in processing data from the questionnaire results. From the results of processing using SmartPLS, the weight was able to be used in calculations using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method with the Expert Choice application. The results of calculations used the Expert Choice application and it obtained a sequence of criteria that can be used in determining healthy private universities. The sequence of these criteria included the level of concern of 170 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 higher education on student activities, percentage of doctoral education lecturers, number of study programs that have international accreditation/certification, institutional accreditation, percentage of lecturers in the position of head and professors, accreditation of study programs, service performance. Society. Research Performance. National and International Student Achievement. Ratio of Number of Indexed Publications to Number of Lecturers. Number of Foreign Students. Ratio of Number of Lecturers to Number of Students. Keywords: Private university. SmartPLS. Analytical Hierarchy Process (AHP). Expert Choice Pendahuluan Perguruan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian (UU 2 tahun 1989, pasal 16, ayat . Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari pada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah (PP 30 Tahun 1990, pasal 1 Ayat . Tujuan pendidikan tinggi adalah Mempersiapkan peserta didik menjadi kemampuan akademik dan professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan Mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional (UU 2 tahun 1989. Pasal 16 . Ayat . PP 30 Tahun 1990. Pasal 2. Ayat . Perguruan tinggi haruslah sehat dan kuat, karena PT merupakan bagian dari upaya percepatan kualitas SDM Konsep strategis menuju perguruan tinggi sehat dan berdaya saing sangat ditopang oleh semangat tridarma perguruan tinggi dan didukung dengan system IT, (Picconi. Ives:2005. Min-Seok et al. :2. Sumberdaya Manusia (Gamar at. al:2016. Alttbabach dan Knight:2010. Amelia Lisa: Penelitian berkembangnya kultur ber wirausaha (Alttbabach dan Knight:2010. Hanani :2. Kualits pendidikan tinggi bisa dicerminakan dalam kualitas perguruan tinggi dan perguruan tinggi yang berkualitas adalah perguruan tinggi yang sehat (Halim A:2. Jaminan kualitas adalah tuntutan masyarakat sebagai pelanggan, karena pelanggan adalah komponen utama yang harus diperhatikan (Sonhadji: 1999. Mantja:1. Pada Dirjen Kelembagaan Kemenristek Dikti. Patdono Suwignjo mengatakan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia hanya 31,5 persen dengan jumlah PT 4. Tertinggal dari Malaysia dengan APK 38 persen dan Singapura dengan APK 78 persen. Salah satu penyebab rendahnya APK, walaupun jumlah PT besar adalah 70 persen perguruan tinggi di Indonesia masuk di kluster empat, perguruan tinggi tidak AusehatAy. Berdasarkan data di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II (Sumatera Selatan. Lampung. Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitun. ada 250 perguruan tinggi swasta dengan rincian sebagai berikut : Sumatera Selatan sebanyak 122 perguruan tinggi swasta. Lampung sebanyak 90 perguruan tinggi swasta. Bengkulu sebanyak 18 perguruan tinggi swasta, dan Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 20 perguruan tinggi swasta. Berdasarkan Sistem Informasi Pemeringkatan Perguruan Tinggi Direktorat Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan DIKTI, dalam Pemeringkatan Tahun 2017 ada 3320 perguruan tinggi yang masuk kedalam pemeringkatan dengan rincian sebagai berikut : sebanyak 11 perguruan tinggi masuk kluster 1, sebanyak 55 perguruan tinggi masuk kluster 2, sebanyak 644 perguruan tinggi masuk kluster 3, sebanyak 2329 perguruan tinggi masuk kluster 4, dan sebanyak 281 perguruan tinggi masuk kluster 5. Lampung ada 75 perguruan tinggi swasta yang masuk dalam pemeringkatan dengan rincian sebagai berikut : sebanyak 17 perguruan tinggi swasta yang masuk kedalam kluster 3, sebanyak 54 perguruan tinggi swasta yang masuk kedalam kluster 4, sebanyak 4 perguruan tinggi swasta yang masuk kedalam kluster 5. Data diatas menunjukan pergurun tinggi swasta di Lampung 87,25 % berada di kluster 4 dan 5 171 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. yang artinya perguruan tinggi tersebut masuk ke dalam perguruan tinggi tidak AusehatAy. Sejalan dengan hal tersebut, maka perguruan tinggi perlu melakukan perubahan dan pembenahan, baik dalam arah serta tujuan perguruan tinggi yang menyangkut kualitas dan kuantitas, sehingga perguruan tinggi mampu bersaing (Gamar at al:2. Permasalahanya adalah, bagaimana pemerintah bekerjasama dengan masyarakat dapat mengawasi dan mengevaluasi kesehatan sebuah perguruan tinggi, mengingat banyaknya jumlah perguruan tinggi di Indonesia, 4. 259 PT. Sehingga pengawasan, sangat diperlukan sebuah sistem penunjang keputusan, dalam menentukan kualitas perguruan tinggi terutama perguruan tinggi Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan metode Sistem Pendukung Keputusan. Metode Sistem Pendukung Keputusan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Analytical Hierarchy Process (AHP). P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 kualitas dan kuantitas, sehingga perguruan tinggi mampu bersaing (Gamar at al:2. Konsep model standar mutu perguruan tinggi, model pemberdayaan SDM dan perubahan manajemen perguruan tinggi berbasis mutu, faktor utama manajemen mutu serta indikator-indikator kebijakan mutu (Sanusi A:2013. Srikanthan. Dalrymple, 2. Pengembangan kualitas pendidikan tinggi membutuhkan penjaminan mutu pendidikan tinggi (Srikanthan. Gitachari dan Dalrymple. Jhon F: 2. Mutu pendidikan tinggi adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggara pendidikan tinggi dengan standar pendidikan tinggi yang diterapkan di perguruan tinggi. Dimana standar perguruan tinggi tersebut harus berada pada tingkat yang sama atau lebih tinggi dari pada Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNDIKTI). Proses penjaminan mutu perguruan tinggi dapat dijelaskan pada gambar 1 dibawah ini. Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuSISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI SWASTA SEHAT DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCY PROCESS (AHP)Ay dengan studi kasus pada PROVINSI LAMPUNG. Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan Sistem Pendukung Keputusan/ Metode Sistem Pendukung Keputusan yang peneliti gunakan adalah metode Analytical Hierarcy Process (AHP). Kemuadian peneliti akan menggunakan metode ini untuk menghasilkan urutan - urutan kriteria perguruan tinggi swasta sehat. Landasan Teori 1 Mutu Perguruan Tinggi Kualitas pendidikan tinggi bisa dicerminkan dalam kualitas perguruan tinggi dan perguruan tinggi yang berkualitas adalah perguruan tinggi yang sehat (Halim A:2. Jaminan kualitas adalah tuntutan masyarakat sebagai pelanggan, karena pelanggan adalah komponen utama yang harus diperhatikan (Sanusi :2015. Sonhadji: Mantja:1. Sejalan dengan hal diatas, maka perguruan tinggi perlu malakukan perubahan dan pembenahan, baik dalam arah serta tujuan perguruan tinggi yang menyangkut Sistem Penjamin Mutu Internal Sistem Penjamin Mutu Eksternal Mutu Pen Pangkalan Data Gambar 1. Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi 2 Perguruan Tinggi Sehat Perguruan tinggi yang terjamin proses tatakelola penjaminan mutu pendidikan tingginya akan menghasilakan perguruan tinggi yang sehat. Sehat Prof. Dr. Jamal Wiwoho, menjelaskan rumusan perguruan tinggi sehat adalah pertama, sehat idealism yang dimaknai sebagai tujuan mencerdaskan bangsa, bukan kepentingan Kedua, sehat organisasi, perguruan tinggi manapun harus memiliki organisasi yang sehat dalam pengelolaanya. Organisasi perguruan tinggi yang sehat menjamin pelayanan yang baik dan berkelanjutan. Ketiga. Sehat financial. Artinya perguruan tinggi harus memiliki sumber dana kegiatan yang tidak satu tempat. Tapi membuka sember pendanaan lain yang tidak melawan peraturan. Misalnya menggandeng 172 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. dunia industry. Keempat. Sehat sivitas akademik. Yakni mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa sampai alumni memiliki kemampuan Dosen berpendidikan tertinggi dalam jenjang perguruan tinggi, tenaga kependidikan harus professional, rekrutmen mahasiswa terseleksi dengan baik dan alumninya juga terkelola. Kelima. Sehat Artinya perguruan tinggi tersebut menjadi rujukan dan kepercayaan orang tua dalam mendapatkan pendidikan memadai bagi anak-anaknya. Abdul Hakim Halim Perguruan Tinggi (PT) Sehat adalah pertama, perguruan tinggi yang memiliki kemampuan untuk menjalankan tridharma perguruan tinggi secara efektif . erdasarkan pada SNDIKTI) untuk itu sangat dibutuhkan adanya Sistem Pengendali Mutu Internal (SPMI). Kedua, perguruan tinggi yang mampu mengatasi segala permasalahan internal yang dihadapi secara memadai, tidak ada konflik internal. Ketiga, yang mampu melakukan kesempatan/ancaman yang dihadapi, dan tumbuh dengan bertopang pada kemampuan yang Memiliki RAPB/Renstra/RIP. Rumusan Perguruan Tinggi sehat Prof. Dr. Jamal Wiwoho Sehat idealism yang dimaknai sebagai tujuan mencerdaskan bangsa, bukan kepentingan Sehat organisasi, perguruan tinggi manapun harus memiliki organisasi yang sehat dalam Organisasi perguruan tinggi yang sehat menjamin pelayanan yang baik dan berkelanjutan. Sehat financial. Artinya perguruan tinggi harus memiliki sumber dana kegiatan yang tidak satu tempat. Tapi membuka sember pendanaan lain yang tidak melawan Misalnya menggandeng dunia industry,Ayujarnya. Sehat sivitas akademik. Yakni mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa sampai alumni memiliki kemampuan dan kualitas memadai. Dosen harus berpendidikan tertinggi dalam jenjang perguruan tinggi, tenaga kependidikan harus professional, rekrutmen mahasiswa terseleksi dengan baik dan alumninya juga terkelola. Sehat masyarakat. Artinya perguruan tinggi tersebut menjadi rujukan dan kepercayaan orang tua dalam mendapatkan pendidikan memadai bagi anak-anaknya. P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 3 Continous Improvement Perguruan Tinggi Perguruan tinggi yang sehat memiliki Continous Improvement yang jelas di setiap tahunya. Ada kemajuan berarti pada setiap Tridarma Perguruan Tinggi. Maka untuk menjamin itu semua, dibutuhkan Continous Improvement Process. Continous Improvement Process dapat dilakukan dengan rumus Plan-Do-Check-Actio (PDCA). Penjelasan tertera dibawah ini. Siklus SPMI : Continous Improvement Process C Penetapan Standar Pendidikan Tinggi (Pla. C Pelaksanaan Standar Pendidikan Tinggi (D. Evaluasi Standar Pendidikan Tinggi (Chec. C Pengendalian Standar Pendidikan Tinggi (Actio. C Peningkatan Standar Pendidikan Tinggi (Actio. Gambar 2. Proses Penjaminan Continous Improvement 4 Sistem Pendukung Keputusan (SPK) Konsep Sistem Pendukung Keputusan pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1970-an oleh Michael S. Scott Morton dengan istilah Management Decision System (Sprague, 1. Konsep pendukung keputusan ditandai dengan sistem interaktif berbasis komputer yang membantu pengambil keputusan memanfaatkan data dan model untuk menyelesaikan masalahmasalah yang tidak terstruktur. Pada dasarnya SPK dirancang untuk mendukung seluruh tahap mengidentifikasi masalah, memilih data yang relevan, menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan, sampai mengevaluasi pemilihan alternatif. (Magdalena. Pengertian Sistem Pendukung Keputusan menurut para ahli sebagai berikut (Susilowati, 2. 173 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. Menurut Turban dkk . SPK adalah metodologi untuk mendukung pengambilan Menurut Moore and Chang . SPK adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyelesaikan pemecahan masalah yang dilakukan manajer bersifat semi struktur yang spesifik untuk mengambil suatu keputusan. Menurut Wibowo . SPK adalah proses menggunakan komputer untuk membantu pengambil keputusan dengan menggunakan beberapa data dan model tertentu untuk menyelesaikan beberapa masalah yang tidak Dari pendapat yang dikemukakan di atas dapat Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah suatu sistem berbasis keputusan untuk membantu manajemen dalam terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan menggunakan data dan model. 5 Karakteristik dan Keterbatasan Sistem Pendukung Keputusan Karakteristik Keterbatasan Sistem Pendukung Keputusan (SPK), menurut tinjauan konotatif, merupakan sistem yang ditujukan kepada tingkatan manajemen yang lebih tinggi, dengan penekanan karakteristik sebagai berikut: Berfokus pada keputusan. , ditujukan pada manajer puncak dan pengambil keputusan. Menekankan fleksibilitas, adaptabilitas, dan respon yang cepat. Mampu pengambilan keputusan dan masing-masing pribadi manajer. (Magdalena, 2. Adapun keputusan menurut Magdalena . adalah sebagai berikut : Adanya gambaran bahwa SPK seakan-akan hanya dibutuhkan pada tingkat manajemen Pada kenyataannya, dukungan bagi pengambilan keputusan dibutuhkan pada semua tingkatan manajemen dalam suatu P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 Pengambilan keputusan yang terjadi pada beberapa level harus dikoordinasikan. Jadi, dimensi dan pendukung keputusan adalah pengambil keputusan antar level organisasi yang berbeda maupun pada level organisasi yang sama. 6 Analitycal Hierarcy Process (AHP) Metode Analitycal Hierarcy Process (AHP) merupakan salah satu model pengambilan keputusan untuk membantu kerangka berfikir Metode ini pertama dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 70-an. Dasar berfikirnya metode Analitycal Hierarcy Process (AHP) adalah proses untuk membentuk skor secara numeric untuk menyusun rangking setiap alternative keputusan berbasis pada bagaimana sebaiknya alternative itu dicocokan dengan criteria pembuat keputusan. Analitycal Hierarcy Process (AHP) merupakan salah satu metode untuk membantu untuk menyusun suatu prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan criteria. Karena sifatnya yang multikriteria. Analitycal Hierarcy Process (AHP) cukup banyak digunakan dalam penyusunan prioritas. Sebagai contoh untuk menyususn prioritas penelitian, pihak manajemen beberapa criteria seperti : dampak penelitian. SDM. Kelebihan Metode Analitycal Hierarcy Process (AHP) Kelebihan dari model AHP adalah kemampuanya dalam memecahkan masalah multiobjectivitas dan multikriteria. Fleksibelitasnya tinggi dalam pembuatan hierarki sehingga membuat model AHP ini dapat menangkap beberapa tujuan dan beberapa criteria sekaligus dalam sebuah model atau dalam sebuah hierarki. Kekurangan Metode Hierarcy Process (AHP) Analitycal Model Analitycal Hierarcy Process (AHP) ini Ketergantungan model ini terhadap input beberapa persepsi seorang ahli akan membuat hasil akhir dari model ini menjadi tidak ada artinya apabila penilaian yang diberikan keliru. 174 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. Kebanyakan orang bertanya apakah persepsi dari seorang ahli tersebut dapat mewakili kepentingan orang banyak atau tidak. Keraguan seperti ini disebabkan oleh kenyataan bahwa setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda dengan orang lain. Untuk itu harus diberikan batasan tegas dari seorang ahli untuk menyakinkan masyarakat atau paling tidak sebagian besar masyarakat. Langkah Ae Langkah Metode Analitycal Hierarcy Process (AHP) Untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan elemen. Saaty . menetapkan skala kuantitatif 1 sampai 9. Nilai dan defenisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty bisa diukur menggunakan table analisis seperti ditunjukan pada tabel 1 berikut: Tabel 1. Skala Perbandingan Pasangan dan Irasional Konsistensi (IR) Intensitas Kepentingan Kepentingan Keterangan Kedua elemen sama Elemen yang satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lainnya Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen Satu elemen jelas lebih mutlak penting dari elemen Satu elemen mutlak penting dari pada elemen lainnya 2,4,6,8 Nilai-nilai intermediate Jika untuk aktifitas i mendapat satu angka dibanding dengan aktivitas Kebalikan j, maka j mempunyai nilai kebalikannya dibanding Tabel Irasioal Konsistensi 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 1,41 1,45 1,49 umber: Kusrini, 2007:. Menurut (Kusrini, 2007:. , lanhkah-langkah dalam metode AHP meliputi : Mendefinisikan masalah dan menetukan solusi yang diinginkan Membuat struktur hierarki yang diawali dengan menetapkan tujuan umum, yang merupakan sasaran system secara keseluruhan pada level teratas. Membuat prioritas elemen : Langkah pertama dalam menetukan perbandingan elemen secara berpasangan sesuai criteria yang diberikan. Matrix perbandingan berpasangan diisi mempresentasikan kepentingan relative dari suatu elemen yang lain. Sintesis Adalah pertimbangan-pertimbangan terhadap memperoleh keseluruhan prioritas. Langkahlangkah ini adalah : Menjumlahkan nilai dari setiap kolom pada matriks. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh mormalisasi matriks. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai prioritas Mengukur konsistensi Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relative elemen pertama, dan nilai pada kolom kedua dengan prioritas relative elemen kedua dan Jumlahkan setiap baris. Hasil penjumlahan tiap baris dibagi prioritas bersangkutan dan hasilnya Mencari Nilai Consistency Index (CI) CI = . / . Keterangan : CI = Consistency Indeks maks = eigenvalue maksimum = Banyaknya elemen 175 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. Mencari nilai Consistency Ratio (CR) CR = CI/RI Keterangan : CR = Consistency Ratio CI = Consistency Indeks RI = Random Indeks Memeriksa konsitensi hierarki, yang diukur adalah rasio konsistensi dengan melihat indeks konsistensi. Jika nilai Consistency Ratio > 0,1 maka penilaian data judgment harus diperbaiki mengulangi langkah 3,4 dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. Jika Consistency Ratio < 0,1 maka nilai perbandingan berpasangan pada matriks criteria yang diberikan konsisten. P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 Struktur hierarki seperti pada gambar berikut : Metode Penelitian Gambar 4. Struktur Hierarki 1 Alur Penelitian Alur Penelitian dengan metode AHP dalam penentuan Perguruan Tinggi Swasta Sehat di Provinsi Lampung dapat dilihat pada gambar 3. Mulai Penentuan Kriteria Meliputi 4 Kriteria : Kualitas SDM. Kualitas Kelembagaan. Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan. Kualitas Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Penyebaran Kuisioner dan Pengolahan Data Kuisioner dengan Aplikasi SmartPLS dan Penetuan Bobot Kriteria dan Sub Kriteria 2 Kriteria dan Sub Kriteria Tabel 2. Keterangan Kriteria Penentuan PT Swasta Sehat No. Kriteria Perhitungan dengan Aplikasi Expert Choice untuk menerapkan Metode Analytical Hierarcy Process (AHP) Selesai Gambar 3. Diagram Alur Langkah Penelitian Struktur Hierarki Keterangan Kualitas SDM Kualitas Kelembagaan Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah Tabel 3. Keterangan Subkriteria Dalam Penentuan PT Swasta Sehat Penentuan urutan-urutan kriteria apa yang digunakan agar perguruan tinggi masuk dalam kategori perguruan tinggi swasta sehat dari Hasil Perhitugan AHP Dalam Kualitas SDM Persentase Dosen Berpendidikan S3 Persentase Dosen Dalam Jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar Rasio Jumlah Dosen Terhadap Jumlah Mahasiswa Kualitas Kelembagaan Akreditasi Institusi Akreditasi Program Studi Jumlah Program Studi yang memiliki Akreditasi/Sertifikasi Internasional Jumlah Mahasiwa Asing Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan Prestasi Mahasiswa Tingkat Nasional dan Internasional Tingkat Kepedulian Perguruan 176 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. Tinggi/Institusi Terhadap Kegiatan Kemahasiswaan Kualitas Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kinerja Penelitian Rasio Jumlah Publikasi Terindeks Terhadap Jumlah Dosen Kinerja Pengabdian Masyarakat P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 Model Measurement (Outer Mode. yaitu model pengukuran yang menghubungkan indikator dengan variabel latenya. 3 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa Kuesioner yang dirancang sebagai sarana dalam pengambilan data penelitian. Kuisioner penelitian yang dirancang berada di NGGI SEHAT Hasil Penelitian dan Pembahaasan 1 Hasil Penelitian Metode pengumpulan data dari responden dilakukan dengan menggunakan kuisioner yang disebar ke pihak manajemen perguruan tinggi baik itu secara offline maupun online sesuai dengan petunjuk yang telah disiapkan. Provinsi Lampung memiliki 75 perguruan tinggi swasta dan sebanyak 7 perguruan tinggi telah berhasil mengisi kuisioner yang diperoleh, tidak semua data dapat diolah dikarenakan terdapat beberapa pertanyaan yang tidak terjawab. Sehingga jumlah total responden yang dapat diolah sebanyak 75 responden saja. 2 Implementasi SmartPLS Pemodelan dalam PLS-Path Modeling ada 2 Gambar 6. Model Measurement (Outer Mode. Bobot Kriteria dan Subkriteria Bobot kriteria pada penelitian ini berdasarkan hasil pengujian pada inner model, sedangkan untuk bobot subkriteria berdasarkan hasil pengujian pada outer model. Bobot dari masingmasing kriteria dan subkriteria dapat dilihat dalam Tabel 4. 2 dan Tabel 4. 3 berikut : Tabel 4. Kriteria dan Bobot Kriteria Bobot Kualitas Sumber Daya Manusia Kualitas Kelembagaan Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan Kualitas Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Tabel 4. Subkriteria dan Bobot Model struktural (Inner Mode. yaitu model structural yang menghubungkan antar variabel laten Gambar 5. Model Struktural (Inner Mode. 177 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 hirarki i merupakan alternatif yang merupakan sub kriteria sejumlah 12 alternatif. Hasil pengisian kuisioner oleh responden pada penelitian ini telah menghasilkan 12 alternatif sebagai berikut: Tabel 4. 4 Alternatif Perguruan Tinggi Swasta Sehat Gambar 4. Struktur Hierarki Hierarki telah tersusun dengan baik selanjutnya dilakukan penilaian perbandingan pembobotan pada setiap hierarki berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya. Penentuan prioritas untuk semua kriteria pada implementasi Expert Choice disajikan dalam tabel 4. Implementasi Expert Choice Hasil analisa dari aplikasi SmartPLS akan dijadikan acuan untuk menetukan bobot pada metode Analitycal Hierarchy Proccess (AHP). Penyusunan hirarki untuk penelitian ini terdiri dari hirarki I berupa tujuan/goal dalam penelitian ini tujuan utamanya adalah Perguruan Tinggi Swasta Sehat, hirarki II terdiri dari kriteria perguruan tinggi swasta sehat yaitu kualitas sumber daya manusia, kualitas kelembagaan, kualitas kegiatan kemahasiswaan, dan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tabel 4. 5 Matriks Perbandingan Kriteria Dari matriks perbandingan diatas didaptkan nilai vektor bobot untuk kriteria Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan sebesar 0,565, bobot untuk 178 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 kriteria Kualitas Penelitian dan PKM sebesar 0,262, bobot untuk kriteria Kualitas SDM sebesar Kualitas Kelembagaan sebesar 0,055, dan nilai CI sebesar 0,04 yang berarti matrik perbandingan cukup Tahap selanjutnya yaitu membuat matrik perbandingan antara kriteria dan semua alternatif. Berikut ini hasil matrik perbandingan dari kriteria dengan masing-masing alternatif Hasil nilai CI dari kriteria Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan masing-masing alternatif sebesar 0,09 yang berarti matrik perbandingan cukup konsisten. Hasil nilai CI dari kriteria Kualitas Penelitian dan PKM dengan masing-masing alternatif sebesar 0,06 yang berarti matrik perbandingan cukup konsisten. Hasil nilai CI dari kriteria Kualitas SDM dengan masing-masing alternatif sebesar 0,09 yang berarti matrik perbandingan cukup Hasil nilai CI dari kriteria Kualitas Kelembagaan masing-masing alternatif sebesar 0,05 yang berarti matrik perbandingan cukup konsisten. Gambar 4. 10 Dinamic Sensitivity Dengan Sintesis. Performance Sensitifity, dan Dinamic Sensitifity yang dihasilkan maka dapat dilihat hasil penilaian secara keseluruhan atas semua kriteria dan alternatif yang diberikan. Dari hasil analisis Sintesis. Performance Sensitifity, dan Dinamic Sensitifity diperoleh alternatif yang dapat digunakan agar perguruan tinggi masuk dalam kategori perguruan tinggi swasta sehat adalah sebagai berikut: Tabel 4. 10 Hasil Analisis Sintesis. Performance Sensitifity, dan Dinamic Sensitifity Selanjutnya hasil analisis alternatif berdasarkan goal yang ditetapkan dapat dilihat dalam 3 hasil analisis yaitu analisis Sintesis. Performance Sensitivity dan Dinamic Sensitifity. Gambar 4. 8 Analisis Sintesis 5 Analisa dan Pembahasan Gambar 4. 9 Performance Sensitivity Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan menggunakan metode AHP, dimana metode AHP digunakan untuk menetukan bobot kriteria Perguruan Tinggi Swasta Sehat (Kualitas Sumber 179 | S T M I K D i a n C i p t a C e n d i k i a K o t a b u m i Jurnal informasi dan Komputer Vol: 10 No:2. Daya Manusia. Kualitas Kelembagaan. Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan. Kualitas Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyaraka. Hasil dari penggunaan metode AHP menunjukan urutan nilai bobot untuk kriteria Kualitas Sumber Daya Manusia sebesar 0,118, bobot untuk kriteria Kualitas Kelembagaan sebesar 0,055, bobot untuk kriteria Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan sebesar 0,565, dan bobot untuk kriteria Kualitas Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat sebesar 0,262. Untuk nilai uji konsisten indeks sebesar 0,04 yang berarti matrik perbandingan cukup konsisten. Tahap selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan perangkingan terhadap alternatif yang Dimana hasil dari perhitungan menggunakan metode AHP ditemukan bahwa urutan altrnatif perguruan tinggi swasta sehat Tingkat Kepedulian Perguruan Tinggi/Institusi Terhadap Kegiatan Kemahasiswaan dengan bobot sebesar 0,106. Persentase Dosen Berpendidikan S3 dengan bobot sebesar 0,098. Jumlah Program Studi yang memiliki Akreditasi/Sertifikasi Internasional dengan bobot sebesar 0,098. Akreditasi Institusi dengan bobot sebesar 0,094. Persentase Dosen Dalam Jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar dengan bobot sebesar 0,093. Akreditasi Program Studi dengan bobot sebesar 0. Kinerja Pengabdian Masyarakat dengan bobot sebesar 0,089. Kinerja Penelitian dengan bobot sebesar 0,076. Prestasi Mahasiswa Tingkat Nasional dan Internasional dengan bobot sebesar 0,071. Rasio Jumlah Publikasi Terindeks Terhadap Jumlah Dosen dengan bobot sebesar 0,070. Jumlah Mahasiwa Asing dengan bobot sebesar 0,058. Rasio Jumlah Dosen Terhadap Jumlah Mahasiswa dengan bobot sebesar 0,053. Dengan demikian dalam penentuan perguruan tinggi swasta sehat yang harus diperhatikan sebagai prioritas utama adalah Tingkat Kepedulian Perguruan Tinggi/Institusi Terhadap Kegiatan Kemahasiswaan. Hal tersebut menjadi acuan dalam penentuan perguruan tinggi swasta Adapun alternatif lain yang tidak kalah penting yaitu Persentase Dosen Berpendidikan S3. Jumlah Program Studi yang memiliki Akreditasi/Sertifikasi Internasional. Akreditasi Institusi. Persentase Dosen Dalam Jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar. KESIMPULAN DAN SARAN P-ISSN: 2337-8344 E-ISSN: 2623-1247 1 Kesimpulan Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan urutan-urutan kriteria perguruan tinggi swasta Dari hasil penerapan metode AHP dengan menggunakan aplikasi Expert Choice maka dapat disimpulkan bahwa dalam penentuan Perguruan Tinggi Swasta Sehat diperoleh urutan-urutan kriteria yang dihasilkan dengan urutan sebagai Tingkat Kepedulian Perguruan Tinggi/Institusi Terhadap Kegiatan Kemahasiswaan Persentase Dosen Berpendidikan S3 Jumlah Program Studi yang memiliki Akreditasi/Sertifikasi Internasional Akreditasi Institusi Persentase Dosen Dalam Jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar Akreditasi Program Studi Kinerja Pengabdian Masyarakat Kinerja Penelitian Prestasi Mahasiswa Tingkat Nasional dan Internasional Rasio Jumlah Publikasi Terindeks Terhadap Jumlah Dosen Jumlah Mahasiwa Asing Rasio Jumlah Dosen Terhadap Jumlah Mahasiswa 1 Saran Diharapkan perguruan tinggi swasta yang ada di Lampung meningkatkan kualitas perguruan tinggi agar dapat menjadi perguruan tinggi swasta sehat dengan memperhatikan urutan-urutan kriteria yang telah dikaji dalam penelitian ini dengan urutan kriteria utama yaitu Tingkat Kepedulian Perguruan Tinggi/Institusi Terhadap Kegiatan Kemahasiswaan yang diikuti dengan Persentase Dosen Berpendidikan S3. Jumlah Program Studi Akreditasi/Sertifikasi Internasional. Akreditasi Institusi dan Persentase Dosen Dalam Jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar. DAFTAR PUSTAKA