Analisis Keterkaitan Durasi Menonton Animasi Digital dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 4Ae6 Tahun di BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal TK Sion Oepura Volume 5 Nomor 2. July 2026 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Analisis Keterkaitan Durasi Menonton Animasi Digital dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 4Ae6 Tahun di TK Sion Oepura Dika Sonia Gloria Lasi1*. Credo G. Betty2. Theodorina Novyani Seran3. Angelikus N. Koten4 1,2,3,4 Universitas Nusa Cendana. Indonesia Received: April 25th, 2025. Revised: June 27th, 2026. Accepted: June 30th, 2026. Published: July 5th, 2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan durasi menonton animasi digital dengan perkembangan bahasa anak usia 4Ae6 tahun di TK Sion Oepura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas empat anak usia 4Ae6 tahun, dengan informan pendukung berupa empat orang tua dan dua guru kelas. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara, kemudian dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi menonton yang terbatas, sekitar satu jam per hari dan disertai pendampingan orang dewasa, berkaitan dengan kecenderungan perkembangan bahasa yang lebih baik, seperti bertambahnya kosakata, meningkatnya keberanian berbicara, dan kemampuan memahami instruksi. Sebaliknya, durasi menonton yang lebih lama, sekitar 1,5Ae2 jam per hari, terutama tanpa pendampingan yang konsisten, terindikasi berkaitan dengan rendahnya konsentrasi, kurang jelasnya artikulasi, dan berkurangnya interaksi sosial verbal. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengaturan durasi menonton, pemilihan konten edukatif, serta pendampingan aktif orang tua dan guru agar penggunaan animasi digital dapat mendukung perkembangan bahasa anak secara lebih Kata kunci: anak usia dini, animasi digital, durasi menonton, perkembangan bahasa Abstract This study aims to analyze the relationship between digital animation viewing duration and language development among children aged 4Ae6 years at TK Sion Oepura. This study employed a qualitative descriptive method. The subjects consisted of four children aged 4Ae6 years, with four parents and two classroom teachers serving as supporting informants. Data were collected through direct observation and interviews and were analyzed through data collection, data reduction, data display, and conclusion Data trustworthiness was ensured through source and technique triangulation. The findings indicate that limited viewing duration of approximately one hour per day, accompanied by adult supervision, was associated with better language development tendencies, such as increased vocabulary, greater speaking confidence, and improved ability to understand instructions. Conversely, longer viewing duration, approximately 1. 5Ae2 hours per day, particularly without consistent supervision, was indicated to be associated with lower concentration, unclear articulation, and reduced verbal social These findings highlight the importance of regulating viewing duration, selecting educational content, and providing active parental and teacher support so that digital animation can support childrenAos language development more proportionally. Keywords: early childhood, digital animation, screen time, language development Copyright . 2026 Dika Sonia Gloria Lasi. Credo G. Betty. Theodorina Novyani Seran. Angelikus N. Koten * Correspondence Address: Email Address: gloryalasi@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Dika Sonia Gloria Lasi. Credo G. Betty. Theodorina Novyani Seran, & Anglikus N. Koten Pendahuluan Anak usia dini merupakan individu yang berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, anak usia dini berada pada rentang usia lahir hingga enam tahun dan memerlukan rangsangan pendidikan agar pertumbuhan serta perkembangannya berlangsung secara optimal. Perkembangan anak mencakup beberapa aspek yang saling berkaitan, yaitu nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosialemosional, bahasa, dan seni (Rahmi, 2. Di antara aspek-aspek tersebut, bahasa menjadi salah satu aspek penting karena berperan sebagai alat komunikasi, sarana berpikir, serta dasar bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Alya dkk. , 2. Perkembangan bahasa anak berkaitan erat dengan kemampuan kognitif, pengalaman sosial, dan stimulasi yang diperoleh anak dari lingkungannya. Menurut teori Piaget, bahasa berkembang sejalan dengan kemampuan kognitif anak dan berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat berpikir untuk memahami dunia (Alya dkk. , 2. Rahayu . membagi perkembangan bahasa anak menjadi empat aspek, yaitu bahasa reseptif, bahasa ekspresif, keaksaraan awal, dan komunikasi sosial. Bahasa reseptif berkaitan dengan kemampuan anak memahami bahasa lisan, sedangkan bahasa ekspresif berkaitan dengan kemampuan anak menyampaikan ide, keinginan, dan perasaan melalui kata maupun kalimat. Keaksaraan awal berkaitan dengan pengenalan huruf dan hubungan bunyi-tulisan, sedangkan komunikasi sosial berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan bahasa secara tepat dalam interaksi sehari-hari. Pada usia 4Ae6 tahun, anak umumnya mulai mampu memahami instruksi sederhana, menggunakan kosakata yang semakin beragam, serta menyusun kalimat untuk menyampaikan pengalaman dan keinginannya. Eky dkk. menjelaskan bahwa anak usia 4Ae6 tahun idealnya sudah menunjukkan kemampuan memahami instruksi, memiliki kosakata yang cukup, dan mampu menyusun kalimat sederhana. Kemampuan bahasa pada tahap ini menjadi indikator penting dalam kesiapan anak memasuki pendidikan formal, karena berhubungan dengan kemampuan anak memahami arahan guru, menjawab pertanyaan, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mengikuti kegiatan pembelajaran di Seiring dengan perkembangan teknologi digital, anak usia dini semakin akrab dengan berbagai tayangan animasi melalui televisi, ponsel, maupun tablet. Animasi digital memiliki daya tarik bagi anak karena menyajikan gambar bergerak, warna, suara, musik, dan tokoh yang mudah diingat. Dalam durasi yang terbatas dan disertai pendampingan orang dewasa, tayangan animasi dapat menjadi sarana stimulasi bahasa karena anak memperoleh kosakata baru, mengenal bunyi, meniru ungkapan sederhana, dan memahami cerita melalui visual yang menarik. Namun, apabila anak menonton dalam durasi yang terlalu lama dan tanpa pendampingan, kegiatan menonton dapat menjadi aktivitas pasif yang mengurangi kesempatan anak untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang Safitri dkk. menjelaskan bahwa penggunaan media digital secara berlebihan dapat berkaitan dengan menurunnya kemampuan bahasa ekspresif, berkurangnya interaksi sosial, serta kecenderungan anak meniru kosakata atau perilaku dari tayangan yang belum tentu dipahami maknanya. Durasi menonton animasi digital perlu diperhatikan karena berkaitan dengan keseimbangan antara stimulasi media dan interaksi langsung. Anak yang menonton dalam waktu terbatas dan mendapat pendampingan dari orang tua atau guru memiliki peluang untuk menjadikan tayangan sebagai bahan percakapan, misalnya dengan menyebutkan nama tokoh, menceritakan ulang isi tayangan, atau mengenal kosakata baru. Sebaliknya, durasi menonton yang terlalu lama dapat mengurangi waktu anak untuk bermain, berbicara, bertanya, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dalam penelitian ini, durasi sekitar BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Analisis Keterkaitan Durasi Menonton Animasi Digital dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 4Ae6 Tahun di TK Sion Oepura satu jam per hari diposisikan sebagai durasi menonton yang terbatas, sedangkan durasi 1,5Ae 2 jam per hari dipahami sebagai durasi yang lebih lama dan memerlukan pendampingan lebih intensif. Berdasarkan hasil pengamatan awal di TK Sion Oepura, ditemukan empat anak usia 4Ae6 tahun yang menunjukkan perkembangan bahasa yang belum optimal. Kesulitan yang tampak meliputi pelafalan yang kurang jelas, pengucapan kata yang tidak lengkap, suara yang terlalu pelan, serta kesulitan menyusun kalimat sederhana. Beberapa anak juga masih mengganti bunyi huruf tertentu, misalnya mengucapkan AutatAy untuk AucatAy atau AumimunAy untuk AuminumAy. Selain itu, sebagian anak hanya menggunakan satu atau dua kata ketika ingin menyampaikan sesuatu, seperti Aumau ituAy atau Auambil bolaAy, tanpa mampu mengembangkan kalimat yang lebih utuh. Kesulitan lain terlihat ketika anak diminta memahami instruksi guru. Beberapa anak tampak bingung, lambat merespons, atau melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan perintah sederhana seperti merapikan mainan, meletakkan pensil di meja, atau berbaris. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif anak masih perlu mendapatkan stimulasi yang tepat. Fenomena ini diduga berkaitan dengan kebiasaan menonton animasi digital dalam durasi yang cukup lama, terutama ketika anak lebih banyak menerima bahasa dari tayangan daripada berlatih menggunakan bahasa dalam interaksi langsung. Dalam konteks ini, pendampingan orang tua dan guru memiliki peran Ketika anak menonton tanpa arahan, mereka cenderung meniru bahasa, nada bicara, atau perilaku tokoh animasi tanpa memahami konteks penggunaannya. Sebaliknya, dengan bimbingan orang dewasa, anak dapat diarahkan untuk memilih tontonan yang sesuai, memahami isi tayangan, serta menghubungkan kosakata yang diperoleh dengan pengalaman sehari-hari. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan durasi menonton animasi digital dengan perkembangan bahasa anak usia 4Ae6 tahun di TK Sion Oepura. Penelitian ini tidak hanya memperhatikan lama waktu anak menonton animasi digital, tetapi juga mempertimbangkan pendampingan orang tua, jenis tayangan, serta kecenderungan perilaku berbahasa anak setelah menonton. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana kebiasaan menonton animasi digital dapat diarahkan agar lebih mendukung perkembangan bahasa anak usia dini. Tinjauan Pustaka Anak usia dini merupakan individu yang berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, anak usia dini berada pada rentang usia sejak lahir hingga enam tahun. Pada masa ini, anak mengalami perkembangan pada berbagai aspek yang saling berkaitan, yaitu nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosialemosional, seni, dan bahasa sebagaimana tercantum dalam standar tingkat pencapaian perkembangan anak. Kemampuan bahasa menjadi salah satu aspek penting karena berperan sebagai dasar komunikasi, interaksi sosial, dan kesiapan belajar anak pada jenjang pendidikan berikutnya. Menurut Alya dkk. , kemampuan bahasa berperan sebagai dasar dalam komunikasi dan proses belajar anak. Pada usia 4Ae6 tahun, anak berada pada fase perkembangan bahasa yang pesat karena mulai mampu memahami dan menggunakan bahasa secara lebih kompleks. Nugroho dkk. juga menyatakan bahwa kemampuan bahasa yang baik dapat mendukung anak dalam berinteraksi sosial serta mengikuti pembelajaran formal pada tahap selanjutnya. Perkembangan bahasa anak mencakup beberapa aspek penting, yaitu bahasa reseptif, bahasa ekspresif, keaksaraan awal, dan komunikasi sosial. Bahasa reseptif berkaitan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Dika Sonia Gloria Lasi. Credo G. Betty. Theodorina Novyani Seran, & Anglikus N. Koten dengan kemampuan anak memahami bahasa yang didengar, sedangkan bahasa ekspresif berkaitan dengan kemampuan anak mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan secara lisan. Keaksaraan awal meliputi kemampuan mengenal huruf dan simbol, sedangkan komunikasi sosial berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Menurut Eky dkk. , anak usia 4Ae6 tahun umumnya telah mampu memahami instruksi sederhana, memiliki kosakata yang cukup banyak, serta menyusun kalimat sederhana. Perkembangan bahasa juga tidak terlepas dari perkembangan kognitif anak. Teori Piaget menjelaskan bahwa bahasa berkembang sejalan dengan kemampuan kognitif, karena bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi sekaligus alat berpikir dalam memahami lingkungan (Alya dkk. , 2. Di era digital, perkembangan bahasa anak turut dipengaruhi oleh kebiasaan menggunakan media digital, salah satunya melalui aktivitas menonton animasi digital. Animasi digital merupakan media audio-visual yang menggabungkan gambar bergerak, suara, warna, musik, dan narasi sehingga memiliki daya tarik bagi anak usia dini. Menurut Alya dkk. , durasi menonton animasi digital dapat dipahami sebagai lamanya waktu anak dalam mengakses dan menikmati tayangan animasi berbasis digital melalui perangkat seperti televisi, ponsel, tablet, maupun media daring lainnya. Tayangan animasi yang bersifat edukatif dapat memberikan stimulasi bahasa karena anak memperoleh kosakata baru, meniru intonasi, mengenal ekspresi, dan memahami alur cerita melalui tampilan visual serta audio yang menarik. Meskipun demikian, durasi menonton perlu diperhatikan agar penggunaan animasi digital tidak mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi secara langsung. Menurut Munafiah dkk. , durasi menonton anak usia dini perlu dibatasi dan sebaiknya disertai pendampingan orang tua. Hal ini sejalan dengan Safitri dkk. yang menyatakan bahwa durasi menonton yang sesuai dapat memberikan manfaat, seperti menambah kosakata anak. Namun, durasi menonton yang berlebihan dapat berkaitan dengan menurunnya kemampuan bahasa ekspresif dan berkurangnya interaksi sosial. Anak yang terlalu lama menonton cenderung lebih banyak menerima bahasa secara pasif daripada mempraktikkan bahasa dalam percakapan nyata dengan orang tua, guru, maupun teman Hasil penelitian Yulismawati dkk. menunjukkan bahwa durasi atau lama menonton merupakan waktu yang dihabiskan anak untuk mengakses perangkat elektronik, seperti televisi, ponsel, komputer, atau media digital lainnya. Durasi menonton yang terlalu panjang dapat berkaitan dengan rendahnya kosakata, berkurangnya minat berkomunikasi, serta kebingungan bahasa apabila anak terpapar tayangan dengan bahasa yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Selain itu. Safitri dkk. menjelaskan bahwa penggunaan teknologi yang berlebihan dapat memengaruhi perkembangan bahasa dan sosial anak karena berkurangnya kesempatan untuk berkomunikasi langsung. Namun, penggunaan teknologi secara bijak, terbatas, dan disertai pendampingan orang dewasa tetap dapat memberikan manfaat edukatif bagi anak. Berdasarkan kajian tersebut, durasi menonton animasi digital perlu dipahami bersama dengan jenis tayangan dan bentuk pendampingan orang dewasa. Animasi digital dapat mendukung perkembangan bahasa apabila digunakan secara terbatas, edukatif, dan disertai interaksi verbal, seperti bertanya jawab, menceritakan kembali isi tayangan, atau menghubungkan kosakata dari animasi dengan pengalaman sehari-hari anak. Sebaliknya, durasi menonton yang terlalu lama tanpa pendampingan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berlatih menyimak, berbicara, bertanya, dan berinteraksi secara langsung. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada keterkaitan durasi menonton animasi digital dengan perkembangan bahasa anak usia 4Ae6 tahun, terutama pada kemampuan menyimak, berbicara, kejelasan artikulasi, keaktifan dalam tanya jawab, komunikasi BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Analisis Keterkaitan Durasi Menonton Animasi Digital dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 4Ae6 Tahun di TK Sion Oepura dengan teman sebaya, serta kecenderungan anak meniru bahasa dari animasi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan secara mendalam keterkaitan durasi menonton animasi digital dengan perkembangan bahasa anak usia 4Ae6 tahun. Penelitian dilaksanakan di TK Sion Oepura. Kota Kupang. Nusa Tenggara Timur, selama dua minggu pada bulan Januari 2026. Subjek penelitian terdiri atas empat anak usia 4Ae6 tahun yang dipilih secara purposif. Pemilihan subjek didasarkan pada hasil pengamatan awal yang menunjukkan bahwa anak memiliki kosakata terbatas, kesulitan menyusun kalimat sederhana, kurang merespons instruksi guru, serta lebih banyak menggunakan gerak tubuh daripada kata-kata dalam Untuk menjaga kerahasiaan identitas anak, nama subjek disamarkan menggunakan kode A1. A2. A3, dan A4. Profil subjek penelitian disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Profil Subjek Penelitian (Anoni. Subjek Usia Jenis Kelamin Durasi Menonton/Hari Kesulitan Bahasa yang Diamati 5 tahun Laki-laki A1 jam Pelafalan kurang jelas dan suara pelan 6 tahun Perempuan A1 jam Kesulitan memahami instruksi 5 tahun Perempuan A1. 5 jam Pasif dalam komunikasi dan kosakata 4 tahun Perempuan A2 jam Sulit menyusun kalimat, lambat merespons, dan berbicara terbata-bata Selain keempat anak tersebut, informan pendukung terdiri atas dua guru kelas dan empat orang tua/wali anak. Guru dipilih karena berinteraksi langsung dengan anak dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, sedangkan orang tua/wali dipilih karena mengetahui kebiasaan anak dalam menonton animasi digital di rumah. Dengan melibatkan anak, guru, dan orang tua/wali, data yang diperoleh diharapkan dapat saling melengkapi dan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai keterkaitan durasi menonton animasi digital dengan perkembangan bahasa anak. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung untuk melihat perilaku berbahasa anak selama kegiatan di sekolah, terutama dalam kemampuan menyimak instruksi, berbicara, kejelasan pengucapan, keaktifan bertanya dan menjawab, interaksi verbal dengan teman sebaya, serta kecenderungan meniru bahasa dari animasi digital. Wawancara dilakukan kepada guru dan orang tua/wali untuk memperoleh informasi mengenai durasi menonton, jenis tayangan yang ditonton anak, bentuk pendampingan orang dewasa, serta perubahan kemampuan bahasa anak yang terlihat di rumah maupun di sekolah. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data, berupa catatan hasil observasi, catatan wawancara, dan dokumen pendukung lain yang relevan. Data durasi menonton diperoleh melalui wawancara dengan orang tua/wali mengenai rata-rata waktu anak menonton animasi digital dalam satu hari, frekuensi menonton, jenis tayangan, perangkat yang digunakan, dan bentuk pendampingan yang diberikan. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil observasi perilaku anak di sekolah dan keterangan guru mengenai kemampuan menyimak, kemampuan berbicara, kejelasan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Dika Sonia Gloria Lasi. Credo G. Betty. Theodorina Novyani Seran, & Anglikus N. Koten artikulasi, dan interaksi sosial verbal anak. Karena penelitian ini tidak menggunakan catatan harian durasi menonton, data durasi dipahami sebagai estimasi berdasarkan laporan orang tua/wali yang diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Instrumen observasi disusun berdasarkan aspek perkembangan bahasa anak dan kebiasaan menonton animasi digital. Kisi-kisi instrumen observasi disajikan pada Tabel 2. Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Observasi No. Aspek yang Diamati Kemampuan Kemampuan berbicara dan Kejelasan Kemampuan Interaksi sosial Peniruan bahasa Jenis tontonan Durasi Indikator Deskripsi yang Diamati Anak Anak memperhatikan guru dan menanggapi perintah dengan tepat Anak Anak mampu berbicara menggunakan kata yang kosakata baru diperoleh dari tayangan Ucapan anak terdengar Anak berbicara dengan jelas, tidak terburu-buru, artikulasi yang jelas dan mudah dipahami Anak Anak aktif dalam tanya jawab dan diskusi dengan bahasa sendiri Anak Anak dengan teman sebaya secara sopan dan relevan animasi secara berlebihan Anak Anak meniru kata, nada penggunaan bahasa atau bicara, atau ekspresi dari ekspresi yang menyerupai karakter animasi Tayangan Anak berdasarkan nilai edukatif, hiburan, atau tayangan potensi bahasa yang ditiru yang kurang sesuai usia Durasi Lama terbatas, cukup lama, atau laporan orang tua/wali Kategori Baik/Cukup/ Kurang Baik/Cukup/ Kurang Baik/Cukup/ Kurang Baik/Cukup/ Kurang Baik/Cukup/ Kurang Baik/Cukup/ Kurang Baik/Cukup/ Kurang Baik/Cukup/ Kurang Pedoman wawancara orang tua/wali digunakan untuk menggali informasi mengenai kebiasaan menonton anak di rumah, bentuk pendampingan, dan perubahan perilaku berbahasa anak setelah menonton animasi digital. Kisi-kisi pedoman wawancara orang tua/wali disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Kisi-Kisi Wawancara Orang Tua/Wali No. Komponen Fokus Pertanyaan Durasi menonton animasi Lama waktu anak menonton dalam satu hari dan frekuensi menonton dalam satu minggu Jenis tayangan yang sering ditonton, bahasa dalam 2 Jenis animasi dan perangkat tayangan, dan perangkat yang digunakan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Analisis Keterkaitan Durasi Menonton Animasi Digital dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 4Ae6 Tahun di TK Sion Oepura Pendampingan tua/wali Perubahan Pengendalian penggunaan media digital Bentuk pendampingan, pembatasan waktu, dan pemilihan Perubahan kosakata, kemampuan berbicara, dan keaktifan anak dalam berkomunikasi Aturan menonton, cara mengingatkan anak, dan pandangan orang tua/wali terhadap dampak animasi digital Pedoman wawancara guru digunakan untuk memperoleh data mengenai kemampuan bahasa anak di sekolah, perilaku anak yang berkaitan dengan kebiasaan menonton animasi, serta strategi guru dalam menstimulasi perkembangan bahasa. Kisi-kisi pedoman wawancara guru disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Kisi-Kisi Wawancara Guru No. Komponen Perkembangan bahasa anak Ciri anak yang sering menonton animasi digital Keterkaitan animasi digital dengan bahasa anak Peran guru dalam stimulasi Kolaborasi guru dan orang Fokus Pertanyaan Kemampuan berbicara, menyimak, memahami instruksi, dan berinteraksi di kelas Perilaku, gaya bicara, peniruan kata, ekspresi, atau gerakan dari tayangan Perubahan kosakata, kemampuan berbicara, konsentrasi, dan keaktifan komunikasi Strategi guru dalam bercerita, bernyanyi, bercakapcakap, dan berdiskusi Bentuk kerja sama dalam mengontrol durasi menonton dan mendampingi penggunaan media digital Analisis data dilakukan menggunakan model analisis kualitatif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap pengumpulan data, peneliti menghimpun data dari observasi, wawancara, dan Pada tahap reduksi data, peneliti memilih dan menyederhanakan data yang relevan dengan fokus penelitian, yaitu durasi menonton animasi digital dan perkembangan bahasa anak. Data yang telah direduksi kemudian disajikan dalam bentuk uraian deskriptif dan tabel ringkasan. Selanjutnya, peneliti menarik kesimpulan berdasarkan pola temuan yang muncul dari hasil observasi dan wawancara. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi dari anak, guru, dan orang tua/wali. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan Dengan cara ini, data yang diperoleh dapat diperiksa kembali sehingga hasil penelitian memiliki tingkat kepercayaan yang lebih baik (Husnullail & Jailani, 2. Penelitian ini juga memperhatikan prinsip etika penelitian karena melibatkan anak usia dini sebagai subjek. Sebelum pengumpulan data dilakukan, peneliti memperoleh izin dari pihak sekolah dan persetujuan dari orang tua/wali anak. Identitas anak disamarkan menggunakan kode A1. A2. A3, dan A4. Data yang diperoleh hanya digunakan untuk kepentingan penelitian dan disajikan secara anonim tanpa mencantumkan identitas asli Hasil Dan Pembahasan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di TK Sion Oepura, ditemukan kecenderungan bahwa durasi menonton animasi digital berkaitan dengan perkembangan bahasa anak usia dini, khususnya pada aspek kemampuan menyimak, berbicara, kejelasan artikulasi, keaktifan dalam tanya jawab, interaksi sosial verbal, serta kecenderungan meniru bahasa dari animasi. Secara umum, anak dengan durasi menonton sekitar satu jam per hari menunjukkan perkembangan bahasa yang relatif lebih baik BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Dika Sonia Gloria Lasi. Credo G. Betty. Theodorina Novyani Seran, & Anglikus N. Koten dibandingkan anak dengan durasi menonton lebih lama, yaitu sekitar 1,5Ae2 jam per hari. Namun, temuan ini tetap perlu dipahami secara kontekstual karena perkembangan bahasa anak juga dipengaruhi oleh pendampingan orang tua, jenis tayangan, interaksi sosial, dan stimulasi bahasa di rumah maupun di sekolah. Kemampuan Mendengarkan dan Memahami Instruksi Hasil observasi menunjukkan bahwa anak dengan durasi menonton sekitar satu jam per hari, yaitu A1 dan A2, cenderung lebih mampu memperhatikan arahan guru dan menyelesaikan tugas secara mandiri, meskipun sesekali masih terlihat melamun atau Sebaliknya, anak dengan durasi menonton lebih lama, yaitu A3 dan A4, lebih sering tampak termenung, lambat merespons, atau kurang fokus saat guru memberikan Meskipun demikian, beberapa anak masih dapat menyelesaikan tugas setelah memperoleh arahan tambahan dari guru. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru yang menyatakan bahwa kemampuan anak dalam memahami instruksi berbeda-beda. Guru 1 menyampaikan. AuKadang anak memahami, tetapi kadang juga bingung dan kurang merespons. Ay Guru 2 juga menjelaskan bahwa sebagian anak cepat memahami penjelasan guru, sedangkan sebagian lainnya memerlukan pengulangan. Dari sisi orang tua, informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa anak dengan durasi menonton lebih lama cenderung lebih mudah terdistraksi dan membutuhkan pengingat lebih sering dalam kegiatan sehari-hari. Dengan demikian, durasi menonton animasi digital tampak berkaitan dengan kemampuan anak dalam mendengarkan dan memahami instruksi. Anak dengan durasi menonton yang lebih terbatas cenderung lebih mudah memusatkan perhatian, sedangkan anak dengan durasi menonton lebih lama memerlukan pendampingan dan pengulangan Temuan ini sejalan dengan Yulismawati dkk. dan Fahimah & Kartika . yang menjelaskan bahwa durasi menonton yang terlalu lama dapat berkaitan dengan menurunnya fokus anak dalam menerima informasi. Selain itu. Munadhiroh dkk. dan Dwi dkk. menegaskan bahwa pendampingan orang tua penting agar anak tidak hanya menerima tayangan secara pasif, tetapi juga memperoleh arahan terhadap isi yang Kemampuan Berbicara dan Penguasaan Kosakata Baru Pada aspek kemampuan berbicara dan penggunaan kosakata baru, hasil observasi menunjukkan bahwa anak mengalami perkembangan yang berbeda. A1 dan A2 mulai menunjukkan keberanian berbicara dan menggunakan beberapa kosakata baru, meskipun pengucapannya belum sepenuhnya jelas. Sementara itu. A3 dan A4 cenderung berbicara dengan suara pelan, menggunakan kalimat pendek, dan masih terbatas dalam menyampaikan gagasan secara lisan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa beberapa orang tua melihat adanya penambahan kosakata setelah anak menonton animasi digital. Orang tua A1 menyampaikan bahwa anak mulai menggunakan kata-kata dari tayangan yang ditonton, meskipun pengucapannya masih perlu diperbaiki. Namun, guru juga menegaskan bahwa kemampuan berbicara anak tidak hanya dipengaruhi oleh tontonan, tetapi juga oleh kebiasaan komunikasi di rumah. Guru 1 menyampaikan bahwa kurangnya pembiasaan komunikasi antara anak dan orang tua dapat memengaruhi kelancaran berbicara anak. Temuan ini menunjukkan bahwa animasi digital dapat menjadi salah satu sumber kosakata baru bagi anak, tetapi tidak dapat menggantikan peran interaksi langsung. Anak tetap membutuhkan stimulasi komunikasi dari orang tua dan guru agar kosakata yang diperoleh dapat digunakan secara tepat dalam percakapan. Hal ini sejalan dengan beberapa studi yang relevan yang menyatakan bahwa tayangan animasi dapat membantu anak mengingat dan menirukan kosakata baru melalui rangsangan visual dan audio (Anggraini. Fadilah & Tanfidiyah, 2025. Mistarin & Yaswinda, 2024. Nina & Fadjria, 2022. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Analisis Keterkaitan Durasi Menonton Animasi Digital dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 4Ae6 Tahun di TK Sion Oepura Saranani, 2022. Syafza & Mahyuddin, 2. Namun, perkembangan bahasa anak tetap membutuhkan dukungan lingkungan keluarga, terutama melalui percakapan langsung dan pembiasaan berkomunikasi. Kemampuan Berbicara Dengan Artikulasi yang Jelas dan Mudah Dipahami Hasil observasi menunjukkan bahwa kejelasan artikulasi anak masih beragam. dan A2 menunjukkan pengucapan yang relatif lebih jelas, meskipun masih terdapat kesalahan seperti cadel atau berbicara terlalu cepat. Sementara itu. A3 dan A4 masih menunjukkan kesulitan artikulasi, seperti berbicara terbata-bata, suara kurang jelas, atau pengucapan kata yang tidak lengkap. Kondisi ini menunjukkan bahwa durasi menonton yang lebih lama tanpa interaksi verbal yang cukup dapat berkaitan dengan kurang optimalnya kelancaran berbicara anak. Hasil wawancara dengan guru mendukung temuan tersebut. Guru 1 menyatakan bahwa sebagian anak masih memiliki kemampuan berbicara yang kurang jelas. Guru 2 juga menyampaikan bahwa beberapa anak terkadang menjawab pertanyaan guru dengan suara pelan atau pengucapan yang kurang jelas. Hal ini menunjukkan bahwa anak masih membutuhkan latihan artikulasi secara langsung melalui kegiatan bercakap-cakap, bercerita, bernyanyi, dan tanya jawab. Temuan ini sejalan dengan beberapa studi yang relevan yang menjelaskan bahwa intensitas menonton yang tinggi tanpa pendampingan dapat berkaitan dengan artikulasi dan kelancaran berbicara anak karena kurangnya interaksi dua arah (Al-Shyfa & Andika, 2026. Baqi & Afiah, 2025. Gunarti et al. , 2023. Kholifah & Oktaviani, 2025. Lestari et al. , 2024. Maudyta et al. , 2023. Sulistiyaningrum et al. , 2. Anak yang lebih sering terpapar media digital cenderung meniru suara atau kata dari tayangan tanpa selalu memahami struktur pelafalan yang tepat. Oleh karena itu, latihan berbicara langsung dan pembiasaan komunikasi aktif dari guru maupun orang tua menjadi penting untuk membantu perkembangan artikulasi anak. Keaktifan dalam Kegiatan Tanya Jawab dan Diskusi Pada aspek keaktifan dalam kegiatan tanya jawab dan diskusi, anak dengan durasi menonton sekitar satu jam per hari cenderung lebih aktif dan mulai berani menjawab pertanyaan guru. A1 dan A2 menunjukkan keberanian untuk mengangkat tangan, menjawab pertanyaan, dan merespons instruksi secara lebih baik. Sebaliknya. A3 dan A4 masih cenderung pasif, jarang memulai percakapan, dan lebih sering menjawab setelah ditunjuk oleh guru. Guru menyampaikan bahwa strategi yang digunakan untuk menstimulasi anak agar lebih aktif antara lain melalui kegiatan bercakap-cakap, menonton video pembelajaran secara terbatas, bernyanyi, serta memberikan pertanyaan sederhana sesuai kemampuan Guru juga berusaha memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak agar tidak ada anak yang merasa minder karena kemampuan berbicaranya berbeda. Temuan ini menunjukkan bahwa keaktifan komunikasi anak berkembang melalui suasana belajar yang mendukung dan tidak menekan anak. Adinda dkk. menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran berbasis kelompok dapat meningkatkan keaktifan komunikasi anak karena anak diberi kesempatan untuk berinteraksi, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Dengan demikian, meskipun animasi digital dapat memberikan stimulus bahasa, keberanian anak dalam bertanya dan menjawab tetap perlu dibangun melalui interaksi langsung di kelas. Komunikasi dengan Teman Sebaya Hasil observasi menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam berkomunikasi dengan teman sebaya juga berbeda-beda. Anak dengan durasi menonton sekitar satu jam per hari cenderung lebih aktif berinteraksi, mulai mampu menyampaikan pendapat, dan belajar BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Dika Sonia Gloria Lasi. Credo G. Betty. Theodorina Novyani Seran, & Anglikus N. Koten menyesuaikan cara berbicara agar lebih sopan dan mudah dipahami teman. Sementara itu, anak dengan durasi menonton lebih lama cenderung lebih pendiam, jarang memulai percakapan, dan hanya merespons secara singkat ketika diajak berbicara. Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa interaksi anak dengan teman sebaya cukup beragam. Guru 1 menyampaikan bahwa masih ada anak yang terkadang mengganggu teman saat bermain. Sementara itu. Guru 2 menyatakan bahwa sebagian anak sudah dapat bekerja sama dalam kegiatan bermain dan pembelajaran. Perbedaan ini menunjukkan bahwa komunikasi sosial anak sangat dipengaruhi oleh kebiasaan berinteraksi, pembiasaan di kelas, dan kesempatan anak untuk menggunakan bahasa secara Temuan ini sejalan dengan Harahap . yang menyatakan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengurangi kemampuan interaksi sosial anak karena berkurangnya komunikasi langsung dengan teman sebaya. Selain itu. Mardiyani dkk. menjelaskan bahwa interaksi teman sebaya memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sosial dan meningkatkan kemampuan komunikasi anak. Melalui kegiatan bermain, kerja sama, dan percakapan langsung, anak belajar menyesuaikan diri, mengontrol emosi, dan menggunakan bahasa secara tepat dalam konteks sosial. Peniruan Kata. Nada Bicara, dan Ekspresi dari Animasi Seluruh anak menunjukkan kecenderungan meniru kata, nada bicara, atau ekspresi dari animasi yang ditonton, terutama saat bermain. Anak dengan durasi menonton sekitar satu jam per hari cenderung masih mampu menyesuaikan peniruan tersebut dalam batas Sebaliknya, anak dengan durasi menonton lebih lama menunjukkan kecenderungan meniru intonasi, gerakan, atau kebiasaan dari tayangan secara lebih sering dan kurang selektif terhadap konteks penggunaannya. Guru menjelaskan bahwa tidak semua anak yang menonton animasi dapat langsung dikenali dari perilakunya, tetapi beberapa anak menunjukkan ciri tertentu, seperti meniru kata yang tidak sempurna, meniru gerakan dari tayangan, atau bernyanyi mengikuti video yang sering ditonton. Kondisi ini menunjukkan bahwa animasi digital dapat memengaruhi gaya bahasa anak, terutama jika anak menonton tanpa pendampingan dan tanpa penjelasan dari orang dewasa. Temuan ini sejalan dengan Adnyana . yang menjelaskan bahwa film animasi dapat memengaruhi gaya berbahasa anak, terutama dalam aspek intonasi, pilihan kosakata, dan ekspresi tutur yang ditiru secara langsung. Intensitas menonton yang tinggi tanpa pendampingan dapat membuat anak lebih dominan meniru struktur ujaran daripada mengembangkan kemampuan bahasa melalui interaksi sosial alami. Oleh karena itu, pendampingan orang tua diperlukan agar anak dapat memahami konteks bahasa yang ditonton dan tidak meniru secara berlebihan. Secara umum, rata-rata durasi menonton anak berkisar antara satu hingga dua jam per hari. Anak dengan durasi menonton sekitar satu jam per hari menunjukkan perkembangan yang relatif lebih baik dalam beberapa aspek kemampuan bahasa, seperti kemampuan menyimak instruksi, berpartisipasi dalam tanya jawab, serta berinteraksi dengan teman sebaya. Sementara itu, anak dengan durasi menonton lebih lama, terutama sekitar dua jam per hari, cenderung menunjukkan konsentrasi yang lebih rendah, kurang fokus saat mendengarkan penjelasan guru, serta masih mengalami kesulitan dalam kejelasan pengucapan dan kelancaran berbicara. Dari seluruh indikator yang diamati, kemampuan berkomunikasi dengan teman sebaya dan keaktifan dalam kegiatan tanya jawab merupakan aspek yang mulai berkembang pada sebagian anak. Sebaliknya, kemampuan berbicara dengan artikulasi yang jelas serta penggunaan kosakata baru masih belum berkembang secara optimal pada BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Analisis Keterkaitan Durasi Menonton Animasi Digital dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 4Ae6 Tahun di TK Sion Oepura beberapa anak, terutama pada anak yang memiliki durasi menonton lebih lama. Ringkasan hasil perkembangan bahasa per subjek disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Ringkasan Hasil Perkembangan Bahasa Per Subjek Pendam Menyimak dan Memahami Instruksi Berbicara Kosakata Artiku Interaksi Sosial Peniruan Bahasa Animasi jam/hari Kadangkadang Cukup. Cukup. Kurang, terburuburu dan Cukup. Ada. jam/hari Kadangkadang Baik, fokus dan Cukup. Cukup. Baik, aktif dan mampu Ada, dan wajar A1,5 jam/hari Kadangkadang. Cukup, tetapi mampu Kurang, pasif dan Cukup. Kurang, dan jarang Ada. Kadangkadang Kurang, sering tidak fokus dan Kurang, suara pelan dan kalimat Kurang, terbatabata dan Kurang, pasif dan Ada. Subjek Durasi jam/hari Berdasarkan Tabel 5, terlihat bahwa anak dengan durasi menonton yang lebih terbatas menunjukkan capaian yang lebih baik pada beberapa aspek perkembangan bahasa. A1 dan A2 yang menonton sekitar satu jam per hari menunjukkan kemampuan menyimak, keberanian berbicara, dan interaksi sosial yang relatif lebih baik. Sementara itu. A3 dan A4 yang memiliki durasi menonton lebih lama masih menunjukkan beberapa hambatan, terutama pada konsentrasi, penggunaan kosakata, artikulasi, dan interaksi sosial verbal. Temuan ini menunjukkan bahwa durasi menonton animasi digital perlu dikelola secara bijak, terutama melalui pembatasan waktu, pemilihan konten yang sesuai, serta pendampingan orang tua dan guru. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa durasi menonton animasi digital berkaitan dengan perkembangan bahasa anak usia dini. Animasi digital dapat memberikan manfaat apabila digunakan dalam durasi terbatas, disertai pendampingan, dan dihubungkan dengan interaksi verbal yang nyata. Sebaliknya, durasi menonton yang lebih lama tanpa pendampingan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berlatih menyimak, berbicara, bertanya, dan berkomunikasi secara langsung. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu berkolaborasi dalam mengatur durasi menonton, memilih tayangan yang sesuai usia, serta memberikan stimulasi bahasa melalui percakapan, bercerita, bernyanyi, dan diskusi sederhana setelah anak menonton animasi digital. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, durasi menonton animasi digital menunjukkan keterkaitan dengan perkembangan bahasa anak usia dini. Anak dengan durasi menonton yang terbatas, sekitar satu jam per hari, disertai pemilihan tontonan edukatif dan pendampingan orang dewasa, cenderung menunjukkan perkembangan bahasa yang lebih baik, seperti bertambahnya kosakata, meningkatnya keberanian berbicara, serta BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 5 Nomor 2. July 2026 Dika Sonia Gloria Lasi. Credo G. Betty. Theodorina Novyani Seran, & Anglikus N. Koten kemampuan memahami instruksi. Sebaliknya, anak dengan durasi menonton lebih lama, sekitar 1,5Ae2 jam per hari atau lebih, terutama tanpa pendampingan yang konsisten, cenderung menunjukkan beberapa hambatan, seperti rendahnya konsentrasi saat belajar, kurang aktif dalam komunikasi verbal, pengucapan kata yang kurang jelas, sulit dialihkan dari penggunaan gawai, serta kecenderungan meniru kata, nada bicara, dan perilaku dari animasi secara berlebihan. Oleh karena itu, pengaturan durasi menonton, pemilihan tayangan yang sesuai usia, dan pendampingan aktif dari orang tua maupun guru menjadi penting agar penggunaan media digital dapat mendukung perkembangan bahasa anak secara lebih optimal. Referensi