Andragogi Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 4. No. September 2024. DOI: https://doi. org/10. 31538/adrg. E-ISSN 2807-8233 pp. Tradisi. Akal, dan Aksi: Studi Pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah Afiful Ikhwan1 Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Indonesia. afifulikhwan@gmail. Keywords: Philosophical School. Islamic Education. Modern Islamic Boarding School. Kata kunci: Aliran Islam, pondok modern. Article history: Received: 15-07-2024 Revised 13-08-2024 Accepted 02-09-2024 Abstract This study explains the philosophical schools that form the Islamic education system at the Ar Risalah Modern Islamic Boarding School. As part of a modern Islamic educational institution in Indonesia. The purpose of this study is to describe and explain the impact of the three dominant Islamic philosophical schools, namely Religious-Conservative. Religious-Rational, and Pragmatic on the structure, curriculum, and learning activities at the Islamic boarding The approach used is a qualitative method with observation, interview, and document analysis techniques. The results of the study show that the Ar Risalah Modern Islamic Boarding School combines three approaches in its The conservative approach is seen in strengthening faith and worship in accordance with traditional Islamic teachings. The rational approach is seen in the way they encourage students to think openly and critically, and combine religious knowledge with general knowledge. Meanwhile, the pragmatic approach is seen in educational policies and curricula that are adjusted to the needs of the times. These three approaches form a balanced education system, which will maintain Islamic values, but is also able to adapt to the challenges of modern life. Abstrak Penelitian ini menjelaskan aliran-aliran filsafat yang membentuk sistem pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah. Sebagai bagian dari lembaga pendidikan Islam modern di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan dampak dari tiga aliran filsafat Islam yang dominan yaitu ReligiusKonservatif. Religius-Rasional, dan Pragmatis terhadap struktur, kurikulum, dan kegiatan pembelajaran di pondok. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Modern Ar Risalah memadukan tiga pendekatan dalam pendidikannya. Pendekatan konservatif terlihat pada penguatan keimanan dan ibadah sesuai dengan ajaran Islam tradisional. Pendekatan rasional terlihat dari cara mereka mendorong santri untuk berpikir terbuka dan kritis, serta memadukan pengetahuan agama dengan pengetahuan umum. Sementara itu, pendekatan pragmatis terlihat pada kebijakan pendidikan dan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Ketiga pendekatan ini yang membentuk sistem pendidikan yang seimbang, yang akan tetap mempertahankan nilai-nilai keislaman, akan tetapi juga mampu beradaptasi dengan tantangan kehidupan modern. Corresponding Author: (Author yang komunikasi dengan edito. Afiful Ikhwan Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Indonesia. afifulikhwan@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan bertujuan untuk mendidik siswa untuk berperilaku baik, apa pun zamannya di masyarakat. Dunia pendidikan mendapatkan banyak manfaat dari diskusi tentang filsafat pendidikan. Tidak dapat disangkal bahwa peran filsafat sangat penting dalam memfasilitasi berbagai aspek pendidikan ini. Karena itu, teori sistematis dapat disebut sebagai pendidikan yang didasarkan atas filsafat (Arifin, 2. Pendidikan https://pasca. id/index. php/adrg/index Tradisi. Akal, dan Aksi: Studi Pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah adalah sistem jaringan. Berbagai aspek pendidikan dirumuskan Berdasarkan pemikiran filosofis tertentu. Ada lima aliran filsafat yang mempengaruhi konsep Pendidikan. Yaitu, reliabilitasisme, idealisme, realisme, eksistensialisme, dan progresivisme. Semua sekolah tersebut menawarkan ide untuk memperkuat konsep pendidikan (Eko Nursalim & Khojir, 2. Dalam hal ini. Dewey mengatakan, " Pendidikan dianggap sebagai kebutuhan hidup . necessity of lif. , fungsi sosial . social functio. , arahan . s guidanc. , dan sarana pertumbuhan . s a means of growt. Pendidikan mempersiapkan, membuka, dan membentuk disiplin hidup melalui transmisi baik informal, formal, maupun non-formal. Lordge mengatakan bahwa: "Pendidikan dan proses hidup dan kehidupan manusia berjalan beriringan, tidak terpisah satu dengan yang lain-kehidupan adalah pendidikan, dan pendidikan adalah kehidupan. Ay Pendidikan Islam adalah proses holistik yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi spiritual, intelektual, emosional, dan sosial manusia berdasarkan ajaran Islam. Seiring dengan perkembangan zaman, pemikiran tentang pendidikan Islam dipengaruhi oleh berbagai aliran filsafat yang menawarkan berbagai pendekatan terhadap konsep pengetahuan, tujuan pendidikan, metode pengajaran, dan hubungan antara guru dan murid. Filsafat, sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan, memberikan kerangka teori yang mendalam untuk memahami dan merancang sistem pendidikan yang efektif dan bermakna (Oktamia Anggraini Putri, 2. Prinsip-prinsip, metode, dan manfaat dari teori pendidikan Islam telah Berdasarkan akal dan wahyu, hanya menggunakan akal dan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Sebagai hasilnya, ini adalah ide dasar yang berbeda dari produk pendidikan Barat pada umumnya. Di dunia yang sempurna, pendidikan Islam akan bermanfaat bagi manusia dan Tuhan. Menerima instruksi tentang prinsip-prinsip pendidikan Islam berarti diajarkan dengan cara yang jelas, ringkas, menyeluruh, dan konsisten. Untuk melakukan penelitian yang lebih menyeluruh, mereka juga harus mempelajari aspek-aspek lain dari Islam, seperti tafsir. Hadits, sastra bahasa, analisis, sosiologi, politik, dan ekonomi. Filsafat pendidikan Islam mengacu pada tubuh pengetahuan yang membahas pendidikan Islam. Hal ini merangkum prinsip-prinsip pendidikan Islam dan bagaimana kegiatan pendidikan dapat dilakukan dengan sukses sesuai dengan hukum Islam (Ilham, 2. Di bidang pendidikan, filsafat berfungsi untuk memberikan aliran filsafat pendidikan sebagai acuan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan oleh masyarakat atau bangsa. Filsafat dianggap sebagai induk ilmu pengetahuan, atau ibu ilmu pengetahuan, yang memiliki kemampuan untuk memecahkan semua masalah dan Dari persoalan alam semesta dan persoalan manusia, dan semua masalah dan masalah yang terkait dengannya, termasuk masalah di dunia pendidikan Islam. bidang pendidikan, tujuannya adalah untuk menggunakan filsafat dalam bidang pendidikan sebagaiupaya untuk mencapai standar pendidikan yang diharapkan oleh bangsa atau Masyarakat (Yanuarti, 2. Karena keduanya membentuk sistem pendidikan, hubungan antara pendidikan dan falsafah sangat penting. Falsafah berfungsi sebagai landasan yang kokoh bagi . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Author: Afiful Ikhwan sistem pendidikan dan sebagai pedoman untuk perbaikan dan kemajuan. lebih-lebih Islam. Sebagian besar filsuf Islam terbagi menjadi dua kelompok besar. Yang pertama adalah filsuf Muslim di Timur, yang memiliki dasar agama dan spiritual yang kuat. Yang kedua adalah filsuf Muslim di Barat, yang memiliki dasar sosial dan budaya yang sangat berbeda. Akibatnya, komponen sosial-kultural yang mempengaruhi setiap filsuf akan sangat signifikan. Oleh karena itu, penelitian harus dilakukan tentang apa sebenarnya pendidikan Islam: ontologi, metode, nilai, dan peran. Dalam hal ini, alQur'an dan al-Hadis, yang merupakan pilar keilmuan Islam, harus terus dipelajari (Sri Mulyani et al. , 2. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, penelitian ini akan didasarkan pada mazhab atau aliran yang disebutkan dalam periode pendidikan Islam. Penelitian ini berfokus pada tiga penulis: Ibnu Khaldun. Ikhwan as-Shafa, dan Ghazali. Hasilnya, penulis menyatakan bahwa Firqoh diidentifikasi sebagai teori pendidikan Islam. AlGhazali dan Ikhwan As-Shafa merupakan perwakilan dari kelompok konservatisme, sedangkan Ibnu Khaldun merupakan perwakilan dari kelompok progresivisme Setelah menganalisa pendapat para tokoh mengenai pendidikan Islam yang berkaitan dengan masing-masing individu, penulis kemudian menggunakan kitab suci dan adat istiadat Islam untuk menjelaskan implikasi pendidikan Islam serta hubungannya dengan kurikulum sekolah Islam, pendekatan, atau bahkan penilaian METODE PENELITIAN (Penulisan bab adalah Uppercase atau Caps Lock semua huruf dan Bold, sedangkan penulisan subbab adalah Capitalize Each Word serta Bold dan Itali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pemahaman tentang fenomena sosial dari sudut pandang seorang partisipan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian dengan judul "Aliran Aliran Filsafat Pendidikan Islam Di Pondok Modern Ar Risalah" menggunakan tiga metode pengumpulan data: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di Pondok Modern Ar Risalah di Ponorogo. Jawa Timur, dan subjeknya adalah Ustadzah Azkiya Sayidatun Nisa' Azahroh, guru pondok tersebut. Peneliti akan mengkaji atau menganalisis data yang telah terkumpul dengan menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Metodemetode tersebut didasarkan pada model analisis data kualitatif yang dibuat oleh Miles dan Huberman . , yaitu tentang reduksi data dan analisis data (Maharani et. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Aliran Aliran Filsafat dalam pendidikan Islam Religius-Konservatif . l-diniyyi al-Muhafid. Ibnu Jama'a. Sanun. Ibnu Hajar al-Haytami, alQobishi. Nasruddin al-Tusi, dan Imam al-Ghazali adalah beberapa pemimpin mazhab ini. Mazhab konservatif-religius memiliki kecenderungan untuk menjadi saleh secara religius. Para anggota yang . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Tradisi. Akal, dan Aksi: Studi Pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah kompeten dari mazhab ini percaya bahwa pengetahuan didefinisikan secara sempit, hanya mencakup pengetahuan yang diperlukan saat seseorang masih hidup, dan pengetahuan ini akan bermanfaat di akhirat. Ia memulai dengan mempelajari Al-Qur'an dan kemudian menghafal dan menganalisis ayat-ayatnya untuk memperoleh pengetahuan (Basyah, 2. Menurut mazhab ini, pengetahuan dibagi menjadi dua kategori: pengetahuan yang dapat diajarkan dengan cara representatif dan pengetahuan yang harus diajarkan secara individual. Nasiruddin al-Tusi mengontraskan makanan utama, atau pokok, dengan pengetahuan utama. Manusia akan mati kelaparan jika ia kekurangan dan tidak Dia juga membandingkan ilmu kedokteran dengan kategori pengetahuan kedua. Pengobatan hanya diberikan ketika benar-benar diperlukan. Secara umum, mazhab al-Muhafidz secara eksklusif bersifat religius. Pengetahuan ditafsirkan secara sempit dalam mazhab ini. Al-Thusi menegaskan bahwa ilmu yang paling penting adalah ilmu yang dibutuhkan saat ini dan tidak diragukan lagi akan berguna di masa depan (Pendidikan, n. Selain itu. Ini memaknai pendidikan Islam dengan sangat sempit, yang berarti hanya ilmu yang diperlukan dan bermanfaat di akhirat. Menurut firqoh ini, setiap orang yang mencari ilmu harus memulai dengan mempelajari Al-Qur'an, bahkan jika itu memungkinkan mereka untuk menghafal beberapa ayat. Setelah itu, mereka harus mempelajari Ulumul Al-Qur'an, karena dengan belajar ulumul Al-Qur'an, mereka yang mencari ilmu dapat memelajari dengan jelas maksud dan motivasi dari ayat-ayat Karena Al-Qur'an adalah sumber pengetahuan utama umat Islam. Al-Hadist dan Ulumul Al-Hadist akan dipelajari setelah kedua bab tersebut selesai. Setelah itu, para peserta didik mulsim, atau penuntut ilmu, diminta untuk bersungguh sungguh menuntut ilmu ushul dan Nahwu, atau tata bahasa. Hal ini dilakukan untuk membantu siswa Muslim memahami dan menafsirkan Al-Qur'an secara menyeluruh (Mughni & Bakar, 2. Al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori berdasarkan kajiannya: . Ilmu syarAoiyyah: Ilmu ushul . lmu poko. Ilmu furu' . lmu caban. Ilmu pengantar . , dan Ilmu pelengkap meliputi keseluruhan ilmu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. Tiga komponen utama dari ilmu ghairu syar'iyyah adalah . ilmu yang terpuji, . ilmu yang diperbolehkan . idak merugika. , dan . ilmu yang berasal dari ijtihad ulama' atau intelektual muslim. Dapat dibagi menjadi dua kategori: ilmu fardlu 'ain dan ilmu fardlu kifayah berdasarkan status hukumnya karena rasio adalah satu-satunya cara manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menerima perintah-Nya. Al-Ghazali berpendapat bahwa ilmu keagamaan hanya dapat diperoleh melalui kesempurnaan rasio dan kejernihan akal budi. Pada kenyataannya, sekolah konservatif-religius ini mempromosikan pendidikan yang dimulai dengan penguasaan Al Qur'an dan berkembang ke disiplin ilmu agama lainnya. Tujuan pendidikannya adalah untuk mengembangkan orangorang yang berakhlak mulia dan sadar akan agama, dengan fokus pada asimilasi prinsip-prinsip Islam ke dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga ini terus memberikan . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Author: Afiful Ikhwan dampak besar pada sistem pendidikan Islam tradisional, termasuk pesantren-pesantren di Indonesia, yang memberikan penekanan kuat pada pengembangan karakter moral dan penguasaan ilmu agama (Jobariyah, 2. Al-Ghazali menggunakan dua pendekatan umum dalam pendidikan. Yang pertama adalah kegiatan menuntut ilmu yang berfokus pada pencapaian ridha Allah. Pendekatan kedua adalah teori ilmu ilhami yang digunakan sebagai landasan. Agama adalah tujuan utama pencarian ilmu. Istilah "ilmu" terbatas pada pengetahuan tentang Allah. Menurut Imam Ghazali, tujuan utama pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan duniawi dan akhirat dengan mendekatkan diri . kepada Allah SWT. Berdasarkan penjelasan tersebut, mazhab Konservatif berpendapat bahwa ilmu pengetahuan adalah ilmu al-hal, atau ilmu yang diperlukan saat ini dan bermanfaat di bahwa ilmu selain agama tidak berguna. dan bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui rasio (Parid & Rosadi, 2. Kriteria yang tercantum dalam aliran ini adalah sebagai berikut: . Pendidikan Islam harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang harus dikembangkan dari prinsipprinsip Islam. tujuan pengajaran dan pengelompokan pengetahuan berdasarkan prinsip-prinsip Islam. rangkuman ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadis, serta pendapat para ulama. tidak boleh bertentangan dengan kondisikondisi yang serius dalam masyarakat Muslim yang bertentangan dengan ajaran Islam. Karya terpenting dari aliran ini adalah Imam al-Ghazali. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa guru harus memiliki hal hal ini dalam pekerjaan mereka: . Bersahabat dengan siswa mereka dan memperlakukan mereka seperti anak-anak mereka sendiri. Mencontohkan langkah-langkah Rasulullah SAW, yaitu semua untuk mencari kebahagiaan Allah SWT dan taqarrub kepadanya. Jangan lalai untuk memberi nasihat kepada siswa mereka, tetapi jangan memberi nasihat kepada mereka dengan tujuan mendapatkan pengetahuan yang merupakan taqarrub kepada Allah SWT dan bukan untuk kehormatan. Untuk menghindari menimbulkan antipati di antara siswa terhadap kelas lain, seorang pendidik yang mengajar topik tertentu tidak boleh menimbulkan antipati di antara siswa terhadap kelas lain. Sebagai contoh, guru PAI menghina pelajaran bahasa di depan siswa. Ketika Ketika seorang guru memberikan instruksi, itu disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Guru harus menerapkan pengetahuannya sehingga perilakunya tidak bertolak belakang, berhati-hati dalam menjaga lisan karena ilmu memerlukan pertimbangan hati-hati (Syihabuddin, 2. Aliran Religius-Rasional . l-Diniy al-AoAqlani. Ikhwan al-Shafa, al-Farabi. Ibnu Sina, dan Ibnu Miskawaih adalah tokoh-tokoh dalam aliran ini. Penulis menganggap Ikhan As-shofa sebagai representasi dari pendekatan al-Dini al-Akhran dalam pemikiran. Ilmu dan sastra akan gagal jika mereka tidak menghubungkan masa depan dengan Tuhan. Ia berpendapat bahwa kebodohan adalah lawan dari ilmu karena ilmu adalah ekspresi jiwa orang yang memahaminya. Mereka tidak terlihat oleh orang lain. Selain itu, saya percaya bahwa alasan mengapa orang yang alim dan orang yang masih belajar jiwa belajar bersama adalah karena . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Tradisi. Akal, dan Aksi: Studi Pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah keduanya bekerja untuk memaksimalkan potensi dan kekayaan mereka. Aliran ini berpendapat bahwa pembelajaran adalah proses untuk mengubah potensi manusia menjadi individu yang memiliki kemampuan untuk berkembang secara psikomotorik. Keyakinan seperti ini berbeda dari pandangan konservatif-tradisionalis sebelumnya tentang pengetahuan berbasis intuitif. Semua siswa harus siap untuk belajar karena jiwa mereka penuh dengan pengetahuan. (Nuthpaturahman, 1. Karena mereka menghargai budaya sederhana orang Badui, aliran ini menempatkan filosofi mengatasi agama dan menggunakan filosofi sebagai dasar untuk memahami ilmu pengetahuan dan agama. Filsafat digunakan sebagai dasar untuk pemahaman agama sebagai tanggapan terhadap perkembangan pikiran di masyarakat Badui. Untuk menghindari terjebak dalam pemahaman indrawi tentang Rahji, orang yang berpengetahuan tinggi harus menggunakan tawil. Oleh karena itu, kami sangat memprioritaskan kolaborasi antara filsafat dan agama untuk mengubah ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang dapat digunakan secara nyata dan nyata. Kami berusaha untuk mengubah ilmu pengetahuan dari menjadi murni spekulasi seperti metafisika (Masang, 2. Berbagai bidang ilmu yang berkembang dan membantu kemajuan kehidupan manusia sangat dihargai oleh Ikhwan. Ini menunjukkan bahwa konsep bahwa ilmu memiliki "kesedia-kalaan" tidak memiliki batasan. Ikhwan membagi ilmu menjadi tiga jenis: Ilmu Syar'iyah . Ilmu Filsafat, dan Ilmu Riyadliyyat. Filsafat Yunani memiliki pengaruh yang signifikan terhadap konsep-konsep yang dianut oleh aliran religius-konservatif. Selain itu, akademisi-akademisi ini terus berusaha untuk menyamakan pemikiran mereka dengan pandangan fundamental dari orientasi keagamaan yang menjadi pedomannya. Menurut Ikhwanus Safa, tujuan awal dari menuntut ilmu, atau, dalam beberapa kasus, tujuan perantaranya, adalah untuk mencapai tujuan akhir dari pencarian ilmu, yaitu untuk dapat mengenali kepribadiannya sendiri. Fokus penelitian ini adalah untuk meningkatkan martabat manusia dan mencapai keridhaan Allah SWT (Alfazri et al. , 2. Lingkup penelitian mencakup pengkajian dan pemikiran seluruh realitas. Dan Semua jenis ilmu pengetahuan penting. Berikut ini adalah kriteria aliran religius-rasional: Ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al Qur'an dan Hadis . menyoroti tidak hanya keyakinan agama tetapi juga keyakinan sekuler . , . mengaitkan keyakinan agama dengan keyakinan agama untuk menjelaskan suatu hal, . muktasabah adalah fondasi dari semua pengetahuan dan indera adalah fondasi dari semua pengetahuan, dan . dasar pemikirannya adalah selain Al Qur'an. Hadis, dan filsafat. Aliran Pragmatis . l-DzaraiAoi. Ibnu Khaldun adalah salah satu tokoh terkemuka dari tradisi Pragmatisme, dan John Dewey adalah salah satu tokoh terkemuka dari tradisi ini di Barat. Menurut pragmatis John Dewey, tujuan pendidikan harus mencakup hal-hal yang nyata, bukan hal-hal yang di luar jangkauan indra manusia, menurut filsafat pendidikan Islam. Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Author: Afiful Ikhwan Pemikiran pragmatis-progresif diwakili dengan baik oleh Ibn Khaldun. Sebenarnya, kelompok ini tidak kurang komprehensifnya dengan kelompok religius-rasionalis, karena mereka lebih menekankan tujuan penelitian Islam pada hal-hal yang praktis dan Aliran ini tidak hanya memaknai ulang ontologi pendidikan Islam, tetapi juga memposisikan pengetahuan berdasarkan fungsinya daripada hanya bergantung pada fakta dan nilai subtansinya. Oleh karena itu, metode ini mengklasifikasikan ilmu pengetahuan menjadi dua kategori: ilmu pengetahuan intrinsik dan ilmu pengetahuan ekstrinsik-instrumental. (Malang et al. , 2. Salah satu cabang filsafat adalah ilmu alam, seperti ilmu agama, tafsir, hadis, fiqh, kalam, ontologi, dan teologi. Jenis kedua adalah ilmu yang berasal dari luar, seperti matematika, tata bahasa. Islam, dan filsafat. Filsafat pendidikan Islam paling baru yamg diajarkan oleh Ibnu Khaldun menghidupkan kembali kekayaan ilmu Islam saat mazhab konservatif berusaha untuk mengurangi sekularisasi pendidikan Islam dan mazhab rasional berusaha untuk mengumpulkan semua aspek Islam. Karena itu, banyak yang dikategorikan sebagai sains. Sekolah praktik hanya mempertimbangkan pengetahuan langsung tentang kebutuhan manusia utama. Keterampilan intelektual dan spiritual adalah bagian dari semua kebutuhan ini. Ibnu Khaldun menganggap pembelajaran dan ilmu pengetahuan sebagai tabi'I . manusia karena kemampuan berfikir. Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tetapi juga untuk memperoleh keterampilan duniawi dan ukhrowi. Karena pendidikan baginya adalah cara untuk mendapatkan rezeki, keduanya harus menguntungkan. Aliran ini menekankan kebutuhan nyata. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam yang ada didalam aliran ini mengadakan kelas, memberikan instruksi, dan menawarkan program pendidikan khusus. Tujuan pengembangan pendidikan Islam, menurut Mazhab Al-Zara'I, adalah untuk memberi siswa pemahaman yang membuat mereka sadar akan realitas dan memiliki kemampuan untuk menghadapi masalah, ketidakadilan, dan penyimpangan sosial. Oleh karena itu, memiliki kemampuan berpikir logis dan rasional sangat penting untuk menyelidiki, menemukan, dan menyelesaikan masalah sosial. Selain itu, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dan bekerja sama dengan individu dari berbagai masyarakat juga diperlukan. (Basyah, 2. Menurut pemikiran Ibnu Khaldun di atas, prinsip utama aliran pemikiran pragmatis adalah sebagai berikut: bahwa manusia pada dasarnya tidak tahu, tetapi belajar, bahwa akal adalahsumber ilmu pengetahuan independen, dan Keseimbangan antara pengetahuan tentang dunia dan hal-hal ukhrawi. Di antara kriteria yang ditetapkan oleh aliran pragmatis-instumental ini adalah sebagai berikut: . memahami ajaran-ajaran dan prinsip-prinsip inti yang terdapat dalam Al Qur'an dan Al Hadits. secara konsisten menyoroti manfaat praktis dari konsep-konsep pendidikan Islam. memahami konteks historis masyarakat Muslim, baik pada era klasik maupun pada era modern yang menjadi tantangan bagi mereka. Aliran filsafat dalam pendidikan Islam dari sudut pandang filsafat, penulis dapat menyimpulkan bahwa aliran konservatif rasional lebih berfokus pada aspek keagamaan . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Tradisi. Akal, dan Aksi: Studi Pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah secara eksklusif dan mengajarkan ilmu pengetahuan secara sangat ringkas, yaitu hanya ilmu yang dibutuhkan saat ini dan yang jelas akan berguna di masa depan. Namun, religius rasional menegaskan bahwa segala pengetahuan dan doktrin yang tidak mendukung jalan hidup menuju akhirat dan tidak memberikan petunjuk, hanya akan menjadi beban bagi pemiliknya di akhirat kelak. Selain itu, aliran pragmatis lebih menitikberatkan pada aspek penerapan. Dalam artikel ini, klasifikasi ilmu didasarkan pada tujuan fungsionalnya, bukan pada nilai substantifnya Tabel 1 Aliran Aliran Filsafat Pendidikan Islam No Nama aliran Tokoh Perbedaannya Religius-Konservatif Imam al-Ghazali. Aliran religius-konservatif . l-diniyyi al- Nasruddin al-Tusi, merupakan pendekatan dalam Muhafid. Ibnu JamaAoa. Sanun, filsafat Islam yang berfokus Ibnu Hajar al- pada pelestarian ajaran agama Haytami, dan sebagaimana diwariskan oleh alQobishi. para ulama klasik. Religius-Rasional . l- Ikhwan al-Shafa, alDiniy al-AoAqlani. Farabi. Ibnu Sina. Ibnu Miskawaih. Aliran Pragmatis . l- Ibnu Khaldun. DzaraiAoi. Aliran religius-rasional keseimbangan antara wahyu dan akal dalam memahami ajaran Islam. Aliran ini berangkat dari keyakinan bahwa Islam adalah agama yang rasional dan selaras dengan logika serta realitas sosial manusia. Aliran pragmatis dalam filsafat Islam dimensi praktis dan fungsional dari ajaran agama. Fokus utama aliran ini adalah Islam memberikan manfaat nyata ekonomi, dan politik umat. Penerapan Aliran-Aliran Filsafat Di Pondok Pesantren Sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia, pondok pesantren dipengaruhi oleh berbagai aliran filsafat pendidikan Islam. Aliran-aliran ini membentuk dasar cara pengajaran dilakukan, kurikulum, hubungan guru-murid, dan tujuan akhir (Maesaroh & Achdiani, 2. Berikut ini beberapa aliran filsafat pendidikan Islam dan bagaimana penerapannya dalam pondok pesantren: Religius-Konservatif . l-Diniyyi al-Muhafid. Pondok pesantren modern berusaha mengintegrasikan kemajuan pendidikan sambil mempertahankan prinsip-prinsip ajaran Islam yang paling dasar. Pesantren modern dikenal sebagai lembaga yang terbuka terhadap inovasi, tetapi mereka tetap . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Author: Afiful Ikhwan berkomitmen untuk mempertahankan nilai-nilai agama yang berasal dari Al-Qur'an. Hadits, dan tradisi keilmuan Islam klasik. Dalam konteks ini, pondok pesantren modern tetap menjadikan studi agama sebagai dasar. Tafsir, hadits, fiqh, tauhid, akhlak, dll. tetapi juga dikombinasikan dengan mata pelajaran umum seperti matematika, sains, bahasa asing, dan teknologi informasi. Oleh karena itu, pesantren modern berusaha menghasilkan murid yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas tetapi juga teguh dalam akidah dan nilai-nilai keislaman (Al Muiz & Miftah, 2. Menurut ustadzah Azkiya Sayidatun Nisa' Azahroh "Di pondok, para santri tidak hanya belajar ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga mendapatkan pelajaran ilmu umum, sehingga mereka mampu menguasai keduanya secara seimbang. Pesantren modern mempertahankan nilai adab Islami melalui kurikulum yang menggabungkan ilmu agama dan umum. Santri dididik untuk tetap sopan, sederhana, dan taat dalam melakukan ibadah harian seperti shalat berjamaah, mengaji Al-Qur'an, berdzikir, dan kegiatan keagamaan biasa. Penghormatan, atau taAodzim kepada guru masih menjadi nilai yang dijunjung tinggi, seperti yang terlihat dalam tradisi pendidikan Islam klasik. Sebaliknya, metode belajar di pesantren modern lebih interaktif, melibatkan diskusi, debat ilmiah, dan teknik presentasi. Namun, mereka tetap mengikuti aturan moral dan adab Islami yang ketat. Pesantren modern yang menganut ideologi religius konservatif bersikap selektif saat menghadapi modernitas. Mereka menerima kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi hanya jika tidak melanggar etika Islam. Bukan untuk kebebasan tanpa batas yang dapat melanggar etika, teknologi seperti internet, komputer, dan media sosial digunakan untuk mendukung dakwah, memperluas wawasan, dan memudahkan akses ke sumber ilmu. Namun, di pondok pesantren, teknologi juga dibatasi karena takut mengganggu mata pelajaran mereka. Contoh konkret dari penerapan nilai religius-konservatif dalam pesantren modern dapat dilihat di Pondok Modern Ar Risalah. Di pesantren ini, meskipun santri diajarkan berbagai ilmu modern, mereka tetap diwajibkan menjalani pendidikan agama yang ketat, seperti memperdalam bahasa Arab, dan mengamalkan disiplin ibadah harian yang ketat. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren kontemporer yang menganut ideologi Religius-Konservatif berhasil menciptakan model pendidikan Islam yang sesuai dengan perubahan zaman sambil tetap mempertahankan tradisi Islam. Mereka menghasilkan generasi Muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga teguh dalam iman, teguh dalam adab, dan siap menghadapi tantangan zaman sekarang dengan tetap berpegang pada nilai-nilai syariat Islam. Religius-Rasional . l-Diniy al-AoAqlani. Pengunaan aliran Religius-Rasional . l-Diniy al-AoAqlani. di pondok pesantren modern mencerminkan pendekatan pendidikan Islam yang mengedepankan peran akal dan nalar kritis dalam memahami dan mengaktualisasikan ajaran Islam, bukan hanya teks keagamaan. Menurut aliran ini, akal dan agama saling melengkapi. Prinsip-prinsip . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Tradisi. Akal, dan Aksi: Studi Pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah ini diterapkan di pesantren modern melalui penggabungan pendidikan Islam tradisional dengan pendekatan berpikir logis dan analitis. Pengadopsian Falsafah Al-Dinny Al-Aqlaniy oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam sangat mendorong penggunaan ilmu pengetahuan. Berbeda dengan lembaga pendidikan Islam yang menyebarkan apa yang disebut falsafah al-muhafdz, coraknya adalah rasional-religius. Pendidikan Islam pada masa ini lebih moderat, fleksibel, dan terkait dengan bidang-bidang akademis lainnya. Pendidikan agama tidak hanya mengajarkan prinsip-prinsip dasar Islam, tetapi juga pelajaran hidup dan nilai-nilai Organisasi pendidikan Islam yang berafiliasi dengan sekolah ini sangat mendukung kebutuhan intelektual, emosional, dan psikologis siswa. Siswa diajarkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar aktif dan menyediakan sumber belajar. Karena itu, tujuan pengajaran agama Islam di sekolah adalah mendorong siswa untuk aktif. Lembaga keagamaan rasionalis akan memberikan materi pendidikan yang berfokus pada bagaimana siswa dapat menggunakan pengetahuan agama untuk memahami konteks daripada hanya memahaminya. Pendidikan yang terfokus pada siswa, atau berpusat pada siswa. Menurut penulis, diskusi kelompok cukup efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelas (Tolchah, 2. Salah satu cara yang efektif untuk menilai pembelajaran pendidikan Islam adalah dengan menggunakan metode penilaian yang direferensikan oleh Criterian. Peserta didik diharapkan memiliki keterampilan kognitif yang relevan dengan apa yang telah mereka pelajari, memiliki pemahaman yang baik tentang materi, dan mampu menyelesaikan tugas-tugas tertentu yang telah diberikan oleh guru mereka. Selain itu, pesantren kontemporer yang menganut aliran religius-rasional membuka diri terhadap kemajuan ilmu pengetahuan saat ini dan menggabungkannya dengan prinsip Islam. Ilmu-ilmu umum seperti matematika, fisika, biologi, ekonomi, teknologi informasi, dan lain-lain diajarkan bukan hanya untuk kepentingan duniawi tetapi juga untuk memperkuat ketauhidan dan merenungkan ciptaan Tuhan. Oleh karena itu, agama dan sains tidak dipertentangkan. sebaliknya, mereka bekerja sama untuk membentuk pandangan dunia Islam yang logis dan beradab. Selain itu, pondok pesantren kontemporer menggunakan sistem pendidikan yang membantu santri berkembang secara rasional secara intelektual. Menurut Ustadzah Azkiya Sayidatun Nisa' Azahroh, pendidikan termasuk diskusi terbuka, debat ilmiah, pelatihan berpikir kritis, dan kegiatan menulis esai dan jurnal. Namun, "tidak semuanya melakukan penulisan esai, penulisan esai akan diberikan untuk ujian akhir di kelas dua belas. " Pondok pesantren modern yang menggunakan pendekatan religiusrasional berhasil menghasilkan generasi intelektual muslim yang mampu berdialog dengan zaman. Mereka tidak hanya memahami Islam secara tradisional, tetapi juga dapat menyampaikan nilai-nilai Islam secara rasional, argumentatif, dan solutif terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat modern. Ini adalah bukti nyata dari keberhasilan pesantren modern dalam menciptakan pendidikan Islam yang . Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Author: Afiful Ikhwan moderat, berakar pada tradisi, tetapi terbuka terhadap kemajuan pengetahuan dan Pragmatis . l-DzarAAoiAoi. Penggunaan aliran Pragmatis . l-DzarA'i. dalam pondok pesantren kontemporer mencerminkan pendekatan pendidikan yang berfokus pada hubungan langsung antara ilmu yang diajarkan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana pendidikan agama dapat menawarkan solusi konkret bagi tantangan sosial dan ekonomi yang dihadapi umat manusia. Menurut aliran ini, pendidikan Islam tidak boleh terbatas pada aspek teoritis atau keagamaan, tetapi harus memiliki tujuan praktis yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Salah satu cara di mana prinsip pragmatis ini dapat diterapkan dalam pondok pesantren modern adalah dengan melihat berbagai kurikulum yang dirancang untuk menghasilkan santri yang tidak hanya memiliki pengetahuan spiritual tetapi juga keterampilan praktis yang dapat membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari (Mansyur & Ulya, 2. Salah satu contoh penerapan aliran pragmatis di pesantren modern adalah dengan mengintegrasikan pendidikan keterampilan praktis seperti pengelolaan usaha, perkebunan, teknologi informasi, dan kewirausahaan ke dalam kurikulum pesantren. Menurut Azkiya Sayidatun Nisa' Azahroh Aodipondok melakukan sebuah penghijauan atau penanamam pohon yang dikelola oleh badan Perkebunan disana dan untuk kewirausahaan di dikelola oleh pengabdianAo. Pesantren seperti Pondok Pesantren telah lama memanfaatkan konsep pragmatis ini, dengan membekali santri dengan berbagai keterampilan yang berguna dalam kehidupan mereka. Di pondok modern ar risalah, misalnya, pengabdian dilibatkan dalam berbagai program kewirausahaan seperti koperasi pesantren, percetakan, dan pertanian organik yang tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kewirausahaan yang islami. Dengan cara ini, pesantren modern tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membekali santri dengan keterampilan yang dapat digunakan untuk menyongsong masa depan yang mandiri dan produktif. Peserta didik diharapkan memperoleh keterampilan sosial dan profesional selain keterampilan pribadi dan intelektual. Mengembangkan keterampilan tersebut dapat menjadi tujuan dari pendidikan agama Islam. Materi pelajaran pendidikan agama Islam mencakup berbagai masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi manusia, termasuk masalah sosial dan pribadi. Oleh karena itu, pondok pesantren kontemporer yang menganut aliran Pragmatis . l-DzarA'i'i. berusaha untuk menciptakan pendidikan yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dengan menggabungkan pendidikan agama yang mendalam dengan keterampilan praktis yang Metode ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan orang yang berilmu dan saleh, tetapi juga untuk menghasilkan generasi yang mandiri, produktif, dan mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat dan negara. Andragogi: Vol 4 no 2 2024 Tradisi. Akal, dan Aksi: Studi Pendidikan Islam di Pondok Modern Ar Risalah KESIMPULAN Filsafat pendidikan Islam mengacu pada tubuh pengetahuan yang membahas pendidikan Islam. Hal ini mencakup diskusi menyeluruh tentang dasar-dasar pendidikan Islam dan bagaimana kegiatan pendidikan dapat dilakukan dengan sukses sesuai dengan hukum Islam. Filsafat berfungsi sebagai acuan untuk menyediakan bidang filsafat pendidikan sebagai sarana untuk mendapatkan kutipan-kutipan pendidikan yang diinginkan oleh masyarakat umum atau bangsa. Filosof dipandang sebagai cabang pengetahuan, atau otoritas pengetahuan, yang mampu menjawab pertanyaan apa pun atau mengatasi masalah apa pun. Ada tiga aliran filsafat dalam pendidikan Islam: Dari sudut pandang filsafat dalam pendidikan Islam, penulis menyimpulkan bahwa aliran rasional konservatif lebih menitikberatkan pada sekularisme agama dan mengajarkan ilmu pengetahuan secara ringkas, yaitu hanya ilmu yang dibutuhkan saat ini dan berguna di masa yang akan Namun demikian, aliran rasional religius menegaskan bahwa ilmu dan pengetahuan apapun yang tidak meningkatkan kualitas hidup untuk akhirat dan tidak memberikan petunjuk hanya akan merugikan mereka yang di akhirat. Selain itu, aliran pragmatisme lebih mendukung pada aspek aplikasi. Dalam artikel ini, klasifikasi ilmu didasarkan pada tujuan fungsionalnya bukan pada substansinya. Pesantren modern mengembangkan tiga pendekatan utama dalam pendidikan, yaitu Religius-Konservatif . l-Diniyyi al-Muhafid. Religius-Rasional . lDiniyy al-AoAqlani. , dan Pragmatis . l-DzarAAoiAoi. Pendekatan religius-konservatif berfokus pada pelestarian nilai-nilai Islam klasik melalui kurikulum berbasis disiplin ibadah, dan penggunaan teknologi secara selektif agar tidak bertentangan dengan Sementara itu, pendekatan religius-rasional menekankan peran akal dan berpikir kritis dalam memahami agama, mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan ajaran Islam, serta menggunakan metode pembelajaran aktif dan berbasis siswa. Adapun pendekatan pragmatis berupaya mengaitkan pendidikan agama dengan kebutuhan praktis kehidupan sehari-hari, seperti kewirausahaan, pertanian, dan teknologi, untuk menghasilkan santri yang religius, mandiri, dan produktif. Ketiga pendekatan ini mencerminkan upaya pesantren modern dalam menciptakan sistem pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai-nilai keislaman. REFERENSI