Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 Hubungan Antara Pola Menstruasi Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMPN 6 Kota Kediri Tahun 2025 The Relationship Between Menstrual Patterns And The Incidence Of Anemia Among Adolescent Girls at SMPN 6 Kota Kediri In 2025 Liana Wafiq Nabillatun Nadya1*. Dessy Lutfiasari2. Khofidhotur Rofiah3 Program Studi Sarjana Kebidanan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Kadiri Profesi Kebidanan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Kadiri e-mail: lianawafiq. 168@gmail. ABSTRAK Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering dialami remaja putri. Salah satu penyebab anemia adalah pola menstruasi yang tidak normal, seperti siklus pendek, lama menstruasi panjang, dan volume darah banyak. Hasil wawancara pada 19 siswi di SMPN 6 Kediri menunjukkan 10 siswi mengalami anemia, dengan 3 siswi . %) karena status gizi, 2 siswi . %) karena kurangnya pengetahuan, dan 5 siswi . %) karena pola menstruasi. Pola menstruasi tersebut meliputi siklus 21Ae23 hari, lama menstruasi 8Ae9 hari, dan frekuensi ganti pembalut 6 kali per hari. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pola menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 6 Kota Kediri Tahun 2025. Jenis penelitian adalah analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 65 siswi dari kelas 8A,8B dan 8C, sampel 56 orang dengan teknik total sampling. Variabel independen adalah pola menstruasi, sedangkan variabel dependen adalah anemia. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan hemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan dari 56 responden, sebagian besar memiliki pola menstruasi tidak beresiko sebanyak 37 orang . ,1%) dan mengalami anemia sebanyak 23 orang . ,1%). Uji statistik SpearmanAos rho diperoleh p < 0,001 dengan = 0,05 dan nilai korelasi r = 0,858, menunjukkan hubungan signifikan dengan kekuatan hubungan sedang antara pola menstruasi dan anemia. Kesimpulannya, terdapat hubungan antara pola menstruasi dan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 6 Kediri Tahun 2025. Disarankan pihak sekolah memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi untuk mencegah anemia. Kata Kunci: Anemia. Pola Menstruasi. Kejadian Anemia ABSTRACT Anemia isis aa health health problem problem that Anemia that is is often often experienced experienced by One Oneofofthe is nisabnormal an abnormal cycles,prolonged menstruation,and and excessive blood Interviews SMPN 6 Kediri Interviews at at SMPN 6 Kediri . %) . %) with 3 students . %) due to nutritional status, 2 students . %) due to lack of knowledge, and 5 5 students . %) These Thesemenstrual included cycles cycles of of 21Ae23 21Ae23 days, . %) to tomenstrual days, menstrual duration of 8Ae9 days, and a frequency of changing sanitary pads 6 times per day. of 8Ae9 days, a frequency of changing pads and 6 times This Thismenstrual study aimed to determine the and the per of study anemia among adolescent girls at SMPN 6 Kota Kediri in 2025. Article History: Received: August 19 ,2025. Revised: September 20, 2025. Accepted: October 25, 2025 This research is a correlational analytic study with a cross-sectional approach. The population consisted of 65 students from classes 8A, 8B, and 8C, with a sample of 56 students using total sampling technique. The independent variable was menstrual pattern, while the dependent variable was anemia. Data were collected through questionnaires and hemoglobin examinations. The results showed that out of 56 respondents, most had non-risk menstrual patterns as many as 37 students . 1%) and experienced anemia as many as 23 students . 1%). The SpearmanAos rho statistical test obtained p < 0. 001 with = 0. 05 and a correlation coefficient r = 0. 858, indicating a significant relationship with a moderate correlation between menstrual patterns and anemia. In conclusion, there is a relationship between menstrual patterns and the incidence of anemia among adolescent girls at SMPN 6 Kediri in 2025. It is recommended that the school provide education about reproductive health and nutrition to prevent Keywords: Anemia. Menstrual Patterns. Incidence of Anemia PENDAHULUAN Anemia merupakan suatu keadaan kadar hemoglobin (H. di dalam darah lebih rendah daripada nilai normal sesuai kelompok umur dan jenis kelamin. Hemoglobin adalah zat warna di dalam darah yang berfungsi mengangkut oksigen dan karbon dioksida di dalam tubuh (Lutfiasari & Yanuaringsih, 2. Prevalensi anemia di Indonesia mencapai 48,9% dengan proporsi tertinggi pada kelompok umur 15Ae24 Data menunjukkan adanya peningkatan kejadian anemia pada remaja putri, yaitu dari 37,1% menjadi 48,9% pada tahun 2018 (World Health Organization, 2. Di Jawa Timur, sebanyak 23% remaja putri mengalami anemia. Di Kota Kediri terdapat 8. 471 remaja putri tingkat SMP dan SMA, dengan 1. 080 remaja putri . ,75%) mengalami anemia (Seluruh Puskesmas Kota Kediri, 2024Ae2. Hasil studi pendahuluan pada 9 SMP yang ada di Kota Kediri pada bulan April tahun 2025Dari 9 SMP kota Kediri, didapatkan masih tingginya putri,termasuk SMPN 6 Kediri yang menduduki angka ke 6 dari 9 SMP yang berada dikota Kediri. Tercatat 9 SMP di Kota Kediri memiliki data kejadian anemia sebagai berikut: SMPN 1 dengan 175 remaja putri, 13 siswi mengalami SMPN 2 dengan 165 remaja putri, 95 siswi mengalami anemia. SMPN 3 dengan 181 remaja putri, 2 siswi mengalami anemia. SMPN 4 dengan 174 remaja putri, 18 siswi mengalami SMPN 5 dengan 177 remaja putri, 35 siswi mengalami anemia. SMPN 6 dengan 187 remaja putri, 19 siswi mengalami anemia. SMPN 7 dengan 170 remaja putri, 89 siswi mengalami SMPN 8 dengan 180 remaja putri, 26 siswi mengalami anemia. dan SMPN 9 dengan 166 remaja putri, 25 siswi mengalami anemia. SMPN 6 Kediri, skrining Hb yang dilakukan pada bulan SeptemberAeOktober menunjukkan bahwa dari 187 siswi yang diperiksa, terdapat 19 siswi . ,16%) mengalami anemia (Puskesmas Mrican, 2024Ae2. Berdasarkan data tersebut, angka kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 6 Kediri menempati urutan ke-6 dari 9 SMP di Kota Kediri. Anemia pada remaja putri dapat disebabkan oleh proses menstruasi yang dialami setiap Salah satu faktor yang berpengaruh adalah pola menstruasi, yang mencakup siklus dan lama menstruasi. Siklus menstruasi normalnya berlangsung antara 24Ae35 hari, dengan rata-rata 28 hari, dan lama menstruasi biasanya 3Ae5 hari. Pola menstruasi yang normal menunjukkan bahwa organ reproduksi dan sistem hormonal perempuan bekerja dengan baik. Siklus menstruasi adalah jarak antara hari pertama menstruasi sebelumnya hingga hari pertama menstruasi berikutnya. Remaja putri dengan siklus menstruasi yang lebih pendek dapat mengalami jumlah darah keluar lebih meningkatkan risiko anemia. Lama menstruasi yang lebih panjang juga dapat menyebabkan volume darah yang hilang menjadi lebih banyak, yang pada akhirnya dapat menimbulkan anemia (Sunirah et al. , 2. Selain pola menstruasi, faktor lain yang memengaruhi timbulnya gangguan menstruasi adalah stres, yang merupakan fenomena universal dan dapat dialami setiap orang. Ketidakseimbangan asupan gizi juga menjadi penyebab anemia pada remaja. Remaja putri umumnya sangat memperhatikan bentuk tubuh, sehingga banyak yang membatasi konsumsi makanan dan memiliki pantangan tertentu (Sunirah et al. , 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan 19 siswi di SMPN 6 Kediri, ditemukan 10 siswi mengalami anemia. Dari jumlah tersebut, 3 siswi . %) menderita anemia karena status gizi, 2 siswi . %) karena kurangnya pengetahuan, dan 5 siswi . %) karena pola menstruasi. Pola menstruasi yang ditemukan meliputi siklus 21 hari pada 1 siswi dan 23 hari pada 4 siswi, lama menstruasi 8 hari pada 1 siswi dan 9 hari pada 4 siswi, serta volume darah menstruasi dengan frekuensi ganti pembalut hingga 6 kali per hari pada 5 siswi. Dampak anemia pada remaja putri dapat berlanjut hingga masa kehamilan, meningkatkan risiko komplikasi seperti melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah, serta risiko perdarahan sebelum dan saat melahirkan yang dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi. Selain itu, anemia dapat menurunkan kemampuan konsentrasi belajar, menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan otak, meningkatkan risiko infeksi akibat daya tahan tubuh yang rendah, serta menurunkan produktivitas (Utami et al. , 2. Salah satu perilaku kesehatan yang berperan dalam pencegahan anemia adalah perilaku pemeliharaan kesehatan, seperti pola makan dan perilaku diet. Remaja putri yang tidak mengonsumsi makanan bergizi seimbang atau melakukan diet ketat berisiko mengalami kekurangan zat besi yang dapat memicu anemia. Kualitas dan memengaruhi kesehatan tubuh secara optimal (Djunaid & Hilamuhu, 2. Mengingat dampak serius yang ditimbulkan, penting dilakukan intervensi holistik untuk menekan angka kejadian anemia pada remaja putri. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan Pola Menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMPN 6 Kota Kediri Tahun METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian inferensial yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk survei lapangan dengan pendekatan cross-sectional, di mana data dikumpulkan dalam satu waktu tertentu untuk melihat keterkaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung, sementara analisis data melibatkan uji statistik untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antar variabel. Penelitian ini bertujuan korelasional, menggunakan data primer yang diperoleh langsung dari responden, yakni siswi kelas 8A sampai 8C di SMPN 6 Kediri pada bulan Mei hingga Juni 2025. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola menstruasi, yang terdiri dari durasi, siklus, dan volume menstruasi, sementara variabel terikat adalah kejadian anemia, yang ditentukan melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (H. menggunakan alat Easy Touch. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 8A hingga 8C di SMPN 6 Kediri yang berjumlah 65 orang. Berdasarkan perhitungan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan sebesar 5%, diperoleh jumlah sampel sebanyak 56 Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional random sampling, di mana jumlah sampel dari tiap kelas ditentukan secara proporsional terhadap besar populasi masingmasing kelas, yakni 22 orang dari kelas 8A, 19 orang dari kelas 8B, dan 15 orang dari kelas 8C. Kriteria inklusi ditetapkan untuk menyaring responden yang relevan, yaitu siswi yang telah menarche, bersedia menjadi responden, dan hadir saat penelitian. Sebaliknya, siswi yang sedang sakit atau tidak bersedia mengikuti penelitian dikeluarkan berdasarkan kriteria Instrumen utama yang digunakan adalah kuesioner pola menstruasi serta lembar observasi untuk pencatatan data antropometri dan kadar hemoglobin. Observasi dilakukan mendapatkan hasil Hb yang lebih stabil. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Menstruasi pada Remaja Putri di SMPN 6 Kota Kediri Tahun 2025 Berdasarkan hasil penelitian terhadap 56 responden remaja putri di SMPN 6 Kota Kediri, ditemukan bahwa sebagian besar responden mengalami pola menstruasi tidak berisiko. Dari total responden, 37 orang . ,1%) memiliki pola menstruasi yang tergolong normal atau tidak berisiko, sedangkan 19 orang . ,9%) memiliki pola menstruasi yang berisiko. Kategori berisiko di sini merujuk pada siklus menstruasi yang terlalu pendek (<24 har. atau terlalu panjang (>35 har. , durasi menstruasi lebih dari tujuh hari, serta volume perdarahan yang tinggi, misalnya ditandai dengan frekuensi ganti pembalut lebih dari lima kali dalam sehari. Kondisi-kondisi ini menjadi indikator penting karena dapat memengaruhi jumlah darah yang hilang dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, salah satunya anemia. Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Sumber: Data Primer 2025 Menstruasi merupakan proses fisiologis yang terjadi secara periodik setiap bulan sebagai bagian dari sistem reproduksi perempuan. Siklus menstruasi yang normal berkisar antara 24Ae35 hari dengan lama perdarahan 3Ae7 hari. Ketidakteraturan siklus menstruasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti stres, aktivitas fisik yang berlebihan, gangguan hormonal, pola makan yang tidak seimbang, hingga penyakit tertentu. Ketika siklus menjadi terlalu pendek, tubuh tidak memiliki cukup endometrium dengan optimal, sehingga risiko perdarahan yang berlebihan menjadi lebih Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pola Menstruasi Sumber: Data Primer 2025 Pola menstruasi berisiko erat kaitannya dengan kehilangan zat besi yang berlebihan. Kehilangan darah setiap siklus menstruasi sudah menjadi mekanisme normal, tetapi ketika jumlahnya melebihi ambang fisiologis, cadangan zat besi dalam tubuh akan cepat menurun. Zat besi adalah komponen penting dalam pembentukan hemoglobin, sehingga kekurangan zat besi dapat mengganggu transportasi oksigen ke seluruh tubuh dan meningkatkan risiko anemia. Hafiz Ansari et al. menegaskan bahwa pola menstruasi yang tidak normal akan mempercepat penurunan kadar hemoglobin sehingga memperbesar peluang terjadinya anemia pada remaja putri. Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Kejadian Anemia Sumber: Data Primer 2025 Penelitian ini sejalan dengan temuan Astuti dan Kulsum . yang menyatakan bahwa remaja putri dengan pola menstruasi normal cenderung memiliki risiko anemia yang lebih rendah. Dalam penelitian mereka terhadap 36 responden, mayoritas memiliki pola menstruasi normal . ,4%), dan sebagian besar tidak mengalami anemia . ,2%). Uji statistik Rank Spearman menunjukkan nilai p-value 0,001 yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pola menstruasi dan kejadian anemia. Hal ini memperkuat bukti bahwa keteraturan siklus menstruasi berperan penting dalam menjaga keseimbangan kadar hemoglobin. Hasil penelitian Suhariyati et al. juga mendukung temuan ini. Dalam penelitian tersebut, 91,7% mahasiswi dengan pola menstruasi tidak normal mengalami anemia, sedangkan hanya 8,8% yang tidak mengalami anemia. Hasil ini menunjukkan bahwa pola menstruasi yang tidak normal dapat meningkatkan risiko anemia hingga lebih dari sembilan kali lipat. Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa penelitian internasional yang menunjukkan hubungan erat antara volume perdarahan menstruasi dan penurunan kadar hemoglobin. Faktor-faktor yang memengaruhi pola menstruasi pada remaja putri cukup Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa beberapa responden mengaku jarang mengonsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati ayam, sayuran berdaun hijau, dan kacang-kacangan. Selain itu, beberapa remaja mengaku mengalami stres akibat beban akademik dan tekanan sosial, yang dapat memengaruhi produksi Stres hipotalamus dan hipofisis, yang berperan Aktivitas fisik yang berlebihan atau kebiasaan diet ketat juga ditemukan sebagai faktor yang dapat memicu ketidakteraturan Beberapa responden mengaku mengikuti program diet tanpa pengawasan gizi, sehingga asupan energi dan zat besi menjadi tidak mencukupi. Diet rendah kalori dapat menekan produksi hormon estrogen dan progesteron, yang mengatur proses ovulasi dan menstruasi. Ketidakseimbangan hormon inilah yang akhirnya menyebabkan siklus menjadi tidak teratur. Dengan mempertimbangkan temuan tersebut, penting bagi remaja putri untuk memahami tanda-tanda pola menstruasi yang tidak normal. Edukasi kesehatan reproduksi perlu diberikan secara rutin, baik melalui kegiatan sekolah maupun program kesehatan masyarakat. Upaya ini tidak hanya membantu remaja mengenali masalah sejak dini, tetapi juga mendorong mereka untuk menerapkan pola makan bergizi dan mengelola stres, sehingga dapat mencegah komplikasi jangka panjang seperti anemia. Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMPN 6 Kota Kediri Tahun 2025 Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin (H. menunjukkan bahwa dari 56 responden, 33 remaja putri . ,9%) tidak mengalami anemia, sedangkan 23 orang . ,1%) mengalami anemia dengan kategori ringan hingga sedang. Tidak ditemukan kasus anemia berat. Anemia pada remaja putri didefinisikan sebagai kadar hemoglobin <12 g/dL, sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar remaja masih berada pada kategori normal, prevalensi anemia tetap cukup tinggi dan menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Anemia pada remaja putri dapat menimbulkan berbagai gejala seperti lemas, mudah lelah, pusing, kulit pucat, dan gangguan konsentrasi. Gejala-gejala ini berpotensi menurunkan prestasi belajar karena keterbatasan suplai oksigen ke otak. Hafzah et al. menegaskan bahwa anemia yang tidak diatasi pada masa remaja dapat berlanjut hingga dewasa, meningkatkan risiko komplikasi saat kehamilan, seperti kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, dan perdarahan pasca Faktor utama yang menyebabkan tingginya prevalensi anemia pada remaja putri adalah kebutuhan zat besi yang meningkat akibat pertumbuhan pesat, sementara asupan zat besi dari makanan sering kali tidak mencukupi. Remaja putri memerlukan sekitar 15 mg zat besi per hari, terutama karena mereka mengalami menstruasi setiap bulan. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, tubuh akan mengambil cadangan zat besi dari jaringan, sehingga lamakelamaan kadar hemoglobin menurun. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden tidak rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) yang sebenarnya disediakan oleh pihak sekolah. Program TTD merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan angka anemia remaja, namun rendahnya kepatuhan konsumsi menjadi hambatan utama. Banyak remaja yang mengaku merasa mual atau tidak nyaman setelah mengonsumsi TTD, sehingga memilih untuk tidak meminumnya secara teratur. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Sari . yang menunjukkan hubungan signifikan antara pola menstruasi, status gizi, dan kejadian anemia dengan nilai p-value 0,000. Dineti et al. juga melaporkan bahwa 51,67% remaja putri dengan pola menstruasi tidak normal mengalami anemia. Temuan-temuan tersebut memperkuat bukti bahwa anemia tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan, tetapi juga oleh faktor biologis seperti frekuensi dan volume perdarahan menstruasi. Status gizi juga menjadi faktor penting dalam kejadian anemia. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa hampir setengah responden memiliki status gizi normal, namun ada juga yang tergolong kurus dan sangat kurus. Kekurangan energi kronis dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam menyerap dan memanfaatkan zat Kondisi ini semakin diperparah apabila remaja menjalani diet yang tidak seimbang atau memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji yang rendah kandungan zat besi. Selain faktor nutrisi, kebiasaan konsumsi minuman seperti teh dan kopi juga dapat memengaruhi penyerapan zat besi. Kandungan tanin dalam teh dan kafein dalam kopi dapat menghambat absorpsi zat besi di usus. Wawancara dengan beberapa responden menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki kebiasaan minum teh manis setiap hari, terutama saat sarapan atau makan siang. Kebiasaan ini dapat menurunkan efektivitas asupan zat besi dari makanan sehari-hari. Mengingat dampak jangka panjang anemia terhadap kesehatan reproduksi dan kualitas hidup, intervensi gizi dan edukasi kesehatan menjadi sangat penting. Pemberian informasi mengenai pentingnya konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati ayam, sayuran berdaun hijau, serta buah-buahan tinggi vitamin C perlu dilakukan secara intensif. Selain itu, pemantauan rutin kadar hemoglobin melalui program UKS di sekolah dapat membantu mendeteksi anemia sejak dini dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Hubungan antara Pola Menstruasi dengan Kejadian Anemia Tabel 4. Tabulasi Silang antara Pola Menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMPN 6 Kediri Sumber: Data Primer 2025 Analisis data menggunakan uji Spearman Rank menunjukkan nilai p-value sebesar <0,001 . < 0,. , yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola menstruasi dan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 6 Kota Kediri. Nilai Ae0,858 menunjukkan bahwa hubungan tersebut tergolong sangat kuat dengan arah negatif. Artinya, semakin baik atau semakin tidak berisiko pola menstruasi seorang remaja putri, semakin rendah pula kemungkinan terjadinya anemia. Arah hubungan yang negatif menjelaskan bahwa keteraturan siklus, lama, dan volume menstruasi merupakan faktor protektif terhadap anemia. Ketika siklus menjadi lebih teratur dan lama perdarahan berada dalam rentang normal, tubuh memiliki cukup waktu untuk memulihkan cadangan zat besi sebelum siklus berikutnya. Sebaliknya, siklus yang terlalu pendek atau perdarahan yang berlebihan akan meningkatkan kehilangan darah dan mempercepat penurunan kadar hemoglobin. Hasil penelitian ini didukung oleh berbagai studi sebelumnya. Astuti dan Kulsum . menemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pola menstruasi dan anemia pada remaja putri dengan nilai pvalue 0,001. Penelitian Sunirah et al. responden, 66 siswi . %) memiliki pola menstruasi tidak normal dan 73 siswi . ,5%) mengalami anemia. Temuan tersebut menegaskan bahwa semakin tidak teratur pola menstruasi, semakin besar risiko terjadinya anemia. Mekanisme biologis yang mendasari hubungan ini dapat dijelaskan melalui proses kehilangan zat besi selama Kehilangan berlebihan akan mengurangi cadangan zat besi dalam tubuh. Apabila asupan zat besi dari makanan tidak mencukupi, tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup, sehingga anemia menjadi tak terhindarkan. Proses ini dapat terjadi secara perlahan dan sering kali tidak disadari hingga gejala anemia muncul. Selain faktor biologis, faktor perilaku seperti kebiasaan makan dan tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah juga memainkan peran penting. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden jarang mengonsumsi TTD secara Rendahnya kepatuhan ini dapat memperburuk dampak pola menstruasi yang berisiko, karena tubuh tidak mendapatkan suplai zat besi tambahan yang dibutuhkan untuk mengganti kehilangan Faktor psikologis seperti stres juga tidak dapat Stres yang berkepanjangan dapat memengaruhi produksi hormon reproduksi, menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak Ketidakteraturan meningkatkan risiko perdarahan yang lebih banyak atau lebih lama, sehingga memicu Dengan demikian, intervensi untuk mengurangi stres, seperti kegiatan konseling atau manajemen waktu yang baik, dapat berkontribusi dalam mencegah anemia. Temuan hubungan kuat antara pola menstruasi dan anemia dalam penelitian ini memiliki implikasi penting bagi program kesehatan Edukasi mengenai pemantauan pola menstruasi perlu menjadi bagian dari kurikulum kesehatan reproduksi. Remaja putri perlu dilatih untuk mencatat siklus menstruasi mereka, mengenali tanda-tanda perdarahan berlebihan, dan segera mencari bantuan medis bila Pemantauan ini dapat menjadi langkah awal dalam pencegahan anemia. Penelitian ini menegaskan bahwa pola menstruasi yang tidak normal bukan hanya masalah reproduksi, tetapi juga masalah gizi dan kesehatan umum. Dengan memperbaiki pola makan, meningkatkan asupan zat besi, serta menjaga keteraturan siklus menstruasi melalui gaya hidup sehat, risiko anemia dapat ditekan secara signifikan. Upaya ini harus melibatkan kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, dan keluarga agar remaja putri dapat memperoleh dukungan yang menyeluruh. Implikasi Penelitian Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting dalam upaya pencegahan anemia pada remaja Mengingat kuatnya hubungan antara pola menstruasi dan kejadian anemia, program edukasi gizi dan kesehatan reproduksi perlu diperkuat di tingkat sekolah. Edukasi harus menstruasi normal, tanda-tanda menstruasi berisiko, dan pentingnya asupan zat besi melalui makanan bergizi. Program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) yang telah dijalankan pemerintah juga harus dipantau secara ketat agar remaja putri Keterlibatan guru, petugas UKS, dan tenaga kesehatan puskesmas menjadi kunci dalam keberhasilan program ini. Selain itu, orang tua perlu diedukasi untuk menyediakan makanan yang kaya zat besi di rumah serta mendukung anak-anak mereka untuk mengonsumsi TTD secara rutin. Pemantauan kadar hemoglobin secara berkala juga perlu dilakukan untuk mendeteksi anemia Dengan komprehensif, risiko anemia pada remaja putri dapat ditekan, sehingga kualitas kesehatan reproduksi mereka di masa depan dapat terjaga. Upaya ini sekaligus akan memberikan dampak positif jangka panjang, yaitu menurunkan angka anemia pada wanita dewasa dan ibu hamil, serta meningkatkan kualitas generasi berikutnya. KESIMPULAN DAN SARAN Hampir setengah remaja putri dengan pola menstruasi berisiko cenderung mengalami anemia, sedangkan mereka yang memiliki pola menstruasi tidak berisiko umumnya tidak mengalami anemia. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pola menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 6 Kota Kediri Tahun 2025. Hubungan tersebut bersifat sangat kuat dengan arah negatif, yang berarti semakin sehat atau teratur pola menstruasi seorang remaja putri, semakin kecil kemungkinan terjadinya anemia. Temuan pemahaman mengenai pola menstruasi yang normal sebagai upaya pencegahan anemia sejak dini, mengingat anemia dapat berdampak kemampuan belajar, dan produktivitas remaja. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan para remaja putri lebih memperhatikan kesehatan reproduksinya, khususnya dalam memahami pola menstruasi yang sehat serta melakukan mengonsumsi makanan bergizi tinggi zat besi dan rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Bagi pihak sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi dan acuan dalam menyusun program edukasi kesehatan remaja, terutama terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan anemia. Sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan puskesmas atau hemoglobin, serta mendukung kebiasaan makan sehat di lingkungan sekolah agar kejadian anemia pada remaja putri dapat ditekan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam proses penelitian ini, khususnya kepada pihak SMPN 6 Kota Kediri yang telah memberikan izin dan fasilitas, para guru serta staf sekolah yang membantu kelancaran pengumpulan data, dan seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berpartisipasi. Penulis juga berterima kasih kepada keluarga, teman, serta pembimbing yang senantiasa memberikan doa, semangat, dan arahan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA