ALACRITY : Journal Of Education Volume 2. Issue 2. Juni 2022 http://lpipublishing. com/index. php/alacrity Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengurutkan Bilangan 1-20 Melalui Media Puzzle Pada Anak Kelompok B TK Gracia Sustain Medan T. A 2021/2022 Fransiska Panjaitan1. Darajat Rangkuti2 1,2Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah. Medan Corresponding Author: siskapanjaitan338@gmail. ARTICLE INFO Article history: Received 01 Juni 2022 Revised 15 Juni 2022 Accepted 25 Juni 2022 Kata Kunci ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mengurutkan lambang bilangan 1-20 dengan puzzle. Subyek penelitian ini adalah anak Kelompok B TK Gracia Sustain sebanyak 14 orang. Objek penelitian ini berupa kegiatan mengurutkan lambang bilangan dengan menggunakan puzzle. Desain Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) desain penelitian Kemmis dan MC Taggart. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanakan tindakan, observasi atau pengamatan dan refleksi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengurutkan bilangan 1-20 dengan menggunakan media puzzle meningkat dari siklus I ke siklus II. Hasil persentase ketuntasan yang diraih anak pada siklus I yatu 50%, dan pada siklus II meningkat menjadi 85,71%. Dengan demikian penggunaan media puzzle pada aktivitas mengurutkan lambang bilangan dapat meningkatkan kemampuan anak kelompok B dalam mengurutkan lambang bilangan 1-20 di TK Gracia Sustain Medan. Anak Usia Dini. Lambang Bilangan 1-20. Puzzle PENDAHULUAN Anak usia dini Merupakan anak yang berada pada rentan usia 0-6 tahun, yang berada pada proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa ini merupakan masa emas atau golden age, karena anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan tidak tergantikan pada masa mendatang(Susanto, 2. Pendidikan di usia dini yang merupakan hak warga negara dalam mengembangkan potensinya sejak dini. Berdasarkan berbagai penelitian bahwa usia dini merupakan pondasi terbaik dalam mengembangkan kehidupan di masa depan. Selain itu pendidikan di usia dini mengembangkan potensi anak sejak usia dini sebagai persiapan untuk hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya(Kompri, 2. Pada anak usia taman kanak-kanak perkembangan kemampuan anak dapat dilihat pada aktivitas sehari-hari. Bagian dari diri anak yang dikembangkan meliputi bidang fisik-motorik, intelektual/kognitif, moral, sosial, emosional, kreativitas, dan bahasa. Salah satu aspek yang perlu dikembangkan di TK pada anak kelompok B adalah perkembangan ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 kognitifnya, salah satunya dalam mengurutkan bilangan 1-20. Pentingnya pengembangan kognitif dalam mengurutkan angka ini dikarenakan angka merupakan hal yang sering dijumpai oleh anak, dalam keseharian mereka yang menghabiskan sebagian waktunya dengan permainan yang menggunakan bilangan. Untuk itu, kemampuan dalam mengurutkan angka sangat penting untuk dikembangkan sejak usia dini, agar anak dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan memudahkan anak untuk menghitung pada waktu yang akan datang(Suyadi, 2. Menurut (Bambang Sujiono, 2. Kemampuan mengurutkan perlu dikembangkan agar anak mampu mengeksplorasi dunia sekitar melalui panca inderanya sehingga dengan pengetahuan yang didapatnya tersebut, anak akan dapat melangsungkan hidupnya dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya sehingga pada akhirnya akan menjadi individu yang mau menolong dirinya sendiri dan orang lain Kemampuan mengurutkan anak berbeda-beda, ada yang lambat adapula yang sesuai dengan perkembangan tergantung pada kematangan anak. Menurut Sudjana, . faktor yang melatar belakangi keterlambatan perkembangan kemampuan mengurutkan, misalnya kurangnya kesempatan dalam memilih suatu media yang sesuai. Perkembangan Anak Usia Dini dalam aspek-aspek bilangan meliputi indikatorindikator sebagai berikut: . Membilang/menyebut urutan bilangan 1-20, . Membilang dengan menunjuk benda . engenal bilangan dengan benda-benda sampai 20, . Menghubungkan/memasangkan lambang bilangan 3 dengan benda-benda sampai 20, . Memahami konsep jumlah, . Menunjukkan urutan benda untuk bilangan sampi 20(Wantah, 2. Menurut Sitorus, . bilangan adalah sebuah angka digunakan untuk melambangkan bilangan, suatu identitas abstrak dalam ilmu matematika. (Susanto, 2011:. seiring dengan perkembangan pemahaman bilangan permulaan ini, menyatakan bahwa konsep yang mulai dipahami anak, diantaranya konsep bilangan. Menurut Sudaryanti . untuk menyatakan suatu bilangan dinotasikan dengan lambang bilangan yang disebut angka. Bilangan itu mewakili banyaknya suatu benda. Lambang bilangan tersebut juga disebut dengan angka. Dengan cara menulis dan membaca lambang bilangan dengan gambar dikatakan bahwa suatu ide yang hanya dapat dihayati atau dipikirkan saja. Untuk mencapai kemampuan kognitif dalam mengurutkan bilangan 1-20 diperlukan media yang menarik bagi anak supaya anak dapat lebih mudah menerima pembelajaran dalam mengurutkan bilangan 1-20. Anak-anak yang cerdas dalam berhitung menyukai kegiatan bermain yang berkaitan dengan berpikir logis seperti mencari jejak, menghitung benda-benda, bermain puzzle dan permainan strategi. Kecerdasan ini sangat penting bagi anak karena dapat membantu dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan berhitung selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga perlu adanya suatu pengenalan konsep berhitung sejak usia dini(Muhammad Fadillah. Khorida, 2. Guru mempunyai peranan sangat besar dalam proses kegiatan belajar mengajar dan diharapkan dapat memilih serta menggunakan media pembelajaran yang tepat dalam ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 setiap kegiatannya. Kegiatan pembelajaran mengenal lambang bilangan pada anak usia dini sebaiknya melalui kegiatan yang menarik, menyenangkan, bervariasi, dan kreatif, seperti melalui kegiatan bermain sambil belajar. Kegiatan tersebut dapat melalui kegiatan bermain media Puzzle. Dengan kegiatan media Puzzle angka diharapkan dapat mempermudah siswa dalam mengenal lambang bilangan angka secara sederhana. Kegiatan pembelajaran(Khoerunnisa, 2. Diakui oleh guru di TK Gracia Sustain bahwa sampai saat ini para guru belum aktif dalam memberikan media yang tepat untuk membantu meningkatkan kemampuan mengurutkan konsep bilangan pada anak. Guru kurang memberikan media yang bervariasi dan juga masih menggunakan metode yang membuat anak merasa bosan dan tidak ada rasa antusias pada anak untuk aktif di dalam kelas. Sehingga dalam mengurutkan konsep bilangan yang diterapkan di TK Gracia Sustain masih menggunakan metode konvensional atau pengerjaan latihan di buku tulis. Hasil dari metode konvensional tersebut dapat dilihat pada laporan tengah semester dari anak-anak menunjukan kurang berkembangnya kognitif anak dalam mengurutkan konsep bilangan(Rusdinal, 2. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis mempunyai inisiatif untuk mengadakan penelitian tindakan kelas di sekolah TK Gracia Sustain karena kemampuan anak di TK Gracia Sustain dalam mengenal konsep bilangan masih kurang Pada waktu observasi terlihat masih ada 3 anak dari 14 anak atau 40% belum berkembang (BB) belum dapat meniru lambang bilangan 1-20, dalam mengurutkan bilangan 1-20 ada 4 anak dari 20 anak atau 20% mulai berkembang (MB) 7 anak dari 14 anak atau 50% berkembang sesuai harapan (BSH) anak sudah bisa menyebutkan dan menunjuk dan menyusun puzzle angka 1-20. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Menurut Arikunto, . Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikenal dengan istilah classroom action research merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara Tindakan tersebut diberikan oleh guru dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. PTK terdiri dari gabungan tiga kata yaitu: Penelitian adalah suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan meteodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 Instrumen Penelitian Instrument penelitian pada data merupakan langkah yang mutlak dalam kegiatan ini karena desain penelitiannya tidak dapat dimodifikasi. Dalam data menjadi satu fase yang sangat strategis bagi dihasilkannya penelitian yang bermutu. Dalam penelitian ini, peneliti dalam instrumennya lebih banyak pada observasi kemudian didukung oleh dokumentasi(Sugiyono, 2. Observasi (Pengamata. Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapi dengan format pengamatan sebagai instrumen. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan di kelas selama kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang diamati meliputi aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Observasi yang dimaksud untuk mengetahui kesusaian tindakan rencana yang telah disusun untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan dengan yang dikehendaki. Observasi ini diperlukan untuk mengetahui perbaikan-perbaikan dalam proses Tabel 1 Rubrik Penilaian Dalam Mengurutkan Lambang Bilangan 1-20 Dengan Media Puzzle No Indikator Deskriptor BSH BSB Mengenal Anak Anak dapat Anak Anak dapat lambang tidak bilangan dapat menunjuk lambang menunju lambang bilangan 1k bilangan 1- 20 secara lambang yang 20 secara acak dengan Anak Tangan Anak sudah Anak Anak sudah mulai bisa sudah bisa rapi menulis lambang masih bilangan dipegang beberapa bilangan 11-20 lambang tanpa belum rapi Anak Anak Anak sudah Anak Anak sudah menyebu tidak mulai dapat sudah bisa dapat t urutan menyebutkan menghitun menyebut ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 bilangan 1-20 bantuan guru Anak n puzzle Anak mulai puzzle dan bilangan 1-0 g urutan bilangan 120 dengan bilangan 120 dengan cepat tanpa Anak Anak sudah menyusun puzzle dan puzzle dan dapat mengurutk membantu teman yang bilangan 1- tidak bisa 20 secara urutan dan puzzle cepat dan Keterangan : : Belum Berkembang : Skor 1 (*) : Mulai Berkembang : Skor 2 (**) BSH : Berkembang Sesuai harapan : Skor 3 (***) BSB : Berkembang Sangat Baik : Skor 4 (****) Nilai Max : 80% . enunjukkan anak berkembang dengan sangat bai. Nilai Min : 15% . enunjukkan anak belum berkemban. Tabel 2. Kriteria Keberhasilan Belajar Anak Dalam Lembar Observasi Anak NO Kriteria Penilaian Kriteria Skor Sangat Baik Ou 80% Baik 60-70% Cukup 40-59% Kurang 20-39% Kurang baik O20% Lembar observasi digunakan untuk menyaring data dalam proses belajar mengjar. Selanjutnya instrumen penelitian yang digunakan adalah dokumentasi. Dokumentasi digunakan sebagai bukti nyata bahwa penelitian bener-bener dilaksanakan. Dokumentasi adalah mengumpulkan data dengan cara mengalir atau mengambil data-data dari catatan, dokumentasi administrasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti dapat berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 Dokumentasi Dokumentasi adalah mengumpulkan data dan menganalisis sejumlah dokumentasi yang terkait dengan masalah penelitian ini Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang rencana pembelajaran di kelas. Dokumentasi ini berupa program satuan pembelajaran. Selain itu, dokumentasi itu berupa foto yang digunakan untuk mendokumntasi data tentang peristiwa yang terjadi dalam proses kegiatan mengurutkan bilangan 1-20 melalui media Semua peristiwa yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran difoto. Teknik Analisis Data Metode Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis Statistik Diskriptif dan Analisis Diskriptif Kuantitatif. Analisis Statistik Diskriptif merupakan suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan teknik dan rumus-rumus statistik deskriptif. Sedangkan metode Analisis Diskriptif Kuantitatif ini digunakan untuk menentukan tinggi rendah kemampuan kognitif dalam mengenal lambang bilangan anak ditentukan dengan menggunakan pedoman konversi Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima. Untuk mengetahui perkembangan anak pada setiap indikasinya dalam proses perlu mengetahui tingkat pencapaian anak dengan melihat dari pelaksanaan kegiatan mengurutkan bilangan 1-20 sambil menyusun puzzle yang dilaksanakan dalam setiap Kriteria keberhasilan pada penelitian ini adalah adanya peningkatan perkembangan bilangan dalam mengenal lambang bilangan pada anak kelompok B di TK Gracia Sustain. Selanjutnya peneliti dapat menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa, kemudian dibagi dengan jumlah siswa di kelas B tersebut sehingga diperoleh rata-rata. Selanjutnya untuk menghitung nilai rata-rata ini dapat dengan menggunakan rumus dibawah ini: Oc ycuycnycoycaycn ycaycuycayco P =Oc ycuycnycoycaycn ycoycaycu ycu100% Keterangan : P = Persentase kecerdasan linguistik anak Analisis ini dihitung dengan menggunakan skala likert, yaitu: Tabel 4 Skala Likert Keterangan Belum Berkembang (BB) Mulai Berkembang (MB) Berkembang Sesuai harapan (BSH) Berkembang Sangat Baik (BSB) ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 Sedangkan untuk menghitung nilai total persen, maka digunakan rumus sebagai TP = ycE1 ycE2 Keterangan: Tp = Total Persen P1 = Persen pertama p2 = Persen kedua Sedangkan untuk menghitung nilai rata-rata ini didapat dengan menggunakan X=Ocx1 x2 x3 x4 (Sudjana, 1984: . Keterangan: X = Nilai rata-rata Ocx= Jumlah total persen OcN= Jumlah indicator Analisis ini di lakukan pada saat tahap refleksi. Hasil digunakan sebagai bahan refleksi anak melakukan perencanaan lanjut dalam siklus selanjutnya. Kriteria Keberhasilan Tindakan Penelitian ini yang menjadi indikator keberhasilannya adalah Anak mengalami peningkatan kemampuan mengurutkan bilangan 1-20 melalui media puzzle. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila anak telah berkembang sesuai harapan (BSB) dengan mencapai skor 80 %. Adapun kriteria penilaiannya sebagai berikut: Dikategorikan anak berkembang sangat baik (BSB) apabila skor anak 80% - 100% Dikategorikan anak berkembang sesuai harapan (BSH) apabila skor anak 60-70% Dikategorikan anak mulai berkembang (MB) apabila skor anak 40%-59%. Dikategorikan anak belum berkembang (BB) apabila skor anak O20% HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pra Siklus Penelitian ini dilaksanakan pada anak kelompok B . sia 5-6 tahu. di TK Gracia Sustain Medan pada semester II T. A 2021-2022. Subjek dalam penelitian ini melibatkan 14 anak didik, penelitian ini dirancang dengan menggunakan 2 siklus. Masalah dalam penelitian ini adalah Anak belum dapat mengenal urutan bilangan 1-20 dengan baik. pada anak usia 5-6 tahun. Sebelum dilaksanakan penelitian untuk tindakan pada siklus selanjutnya, penulis terlebih dahulu melakukan prasiklus dengan kegiatan mengurutkan bilangan 1-20 dengan menggunakan jari dan kartu angka yang biasa digunakan oleh guru. Ketika penulis melakukan observasi, penulis melihat media yang digunakan kurang menarik sehingga anak mudah merasa bosan. Kemudian ketika guru bertanya ada sebagian anak yang belum bisa menjawab dengan benar dan anak masih sulit dalam mengungkapkan kata-kata yang ingin diucapkannya. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 Siklus 1 Seperti halnya kegiatan pra siklus, siklus pertama pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, observasi dan refleksi. Tahap Perencanaan (Plannin. Peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada pra siklus. Kegiatan yang dilakukan adalah: Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) . Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) . Mempersiapkan pembelajaran media puzzle. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati kegiatan belajar mengajar anak Tahap Pelaksanaan (Actio. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui kegiatan media puzzle untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, berdasarkan rencana kegiatan hasil refleksi pada siklus pertama sebagai berikut: Guru mempersiapkan hasil refleksi pra siklus untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperbaiki. Guru menyampaikan tema pembelajaran . Guru menjelaskan tentang media pembelajaran . Guru mengalokasikan waktu yang tepat dalam menyelesaikan kegiatan . Anak mendengarkan penjelasan dari guru . Melakukan kegiatan meningkatkan kemampuan berbicara anak dengan kegiatan media puzzle . Guru memberikan penghargaan atau hadiah pada anak/kelompok/ yang mampu menyelesaikan dengan baik. Guru memberikan motivasi agar anak mampu melakukan kegiatan . Guru melakukan pengamatan dan penilaian Tahap Pengamatan (Observas. Poneliti dan teman sejawat . uru dan kolaborato. melakukan pengamatan terhadap peningkatan kemampuan berbicara anak melalui kegiatan media puzzle. Tahap Refleksi (Reflectin. Setelah melaksanakan kegiatan siklus 1 peneliti melakukan refleksi bahwa masih perlu adanya perbaikan, maka guru memutuskan vatuk melakukan siklus 2. Pelaksanaan siklus 2 ini dilakukan setelah melihat instrumen penilaian terhadap anak. Siklus II Siklus kedua merupakan putaran ketiga dari kegiatan dengan tahapan yang sama seperti pra siklus dan siklus pertama. Tahap siklus 2 sebagai berikut: Tahap Perencansan (Plannin. Peneliti membuat rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada Siklus pertama, yaitu: Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) . Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Hanan (RPPH) ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 . Mempersiapkan Kegiatan media puzzle. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati kegiatan belajar mengajar anak Tahap Pelaksanaan . Guru mempersiapkan kegiatan upaya meningkatkan kemampuan anak mengurutkan bilangan 1-20 melalui media puzzle pada kelompok B dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kermampuan anak dalam mengurutkan lambang bilangan 1-20. Guru mempersiapkan hasil refleksi pra siklus untuk mengetahui hal-hal yang pertu diperbaiki. Guru menyampaikan tema pembelajaran . Melakukan kegiatan upaya meningkatkan kemampuan anak mengurutkan bilangan 1-20 melalui media puzzle pada kelompok B Guru memberikan penghargaan atau hadiah pada kelompok/anak yang mampu menyelesaikan dengan baik. Guru memberikan motivasi agar anak mampu melakukan kegiatan media puzzle . Guru melakukan pengamatan dan penilaian Tahap Pengamatan (Observas. Peneliti bersama dengan teman sejawat . uru dan koleborato. melakukan pengamatan aktivitas kegiatan upaya meningkatkan kemampuan berbicara pada anak usia dini melalui media puzzle pada kelompok B dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kemampuan anak dalam mengurutkan bilangan 1-20. Tahap Refleksi (Reflectin. Tim peneliti melakukan reflecting terhadap siklus kedua dan menganalisis untuk membuat kesimpulan atas pelaksanaan kegiatan upaya meningkatkan kemampuan anak mengurutkan bilangan 1-20 melalui media puzzle pada kelompok B. Setelah melaksanakan siklus ke dua ini Ini peneliti membuat kesimpulan dan memutuskan apakah akan melakukan penelitan selanjutnya. Hal ini dapat dilihat dari instrumen penilaian terhadap Tinggi (BSB) Sedang (BSH) Rendah (MB) Mengenal 1- Meniru 1-20 Menyebut 1- Mengurutkan Aspek Yang diamati Gambar 1. Grafik Mengurutkan Lambang Bilangan 1-20 dengan Media Puzzle Pra Siklus ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 Dari gambar Grafik di atas pada observasi pra siklus, peneliti melihat bahwa rendahnya kemampuan mengurutkan bilangan yang terjadi pada anak-anak kelompok B TK Gracia Sustain. Setelah dilakukan observasi, maka peneliti melakukan perbaikan pembelajaran mengurutkan lambang bilangan 1-20 dengan media puzzle di sekolah tersebut, dengan tujuan agar kemampuan mengurutkan bilanagan pada anak-anak kelompok B di sekolah TK Gracia Sustain dapat meningkat. Pembahasan Siklus I Observasi yang dilakukan pada siklus I ditemukan peneliti anak yang Belum Berkembang (BB) pada kategori Rendah terdapat 1 orang anak . ,14%) dari jumlah anak yang diteliti, anak yang ada pada kategori tersebut yaitu Victoria, dimana anak tersebut belum mengalami perkembangan karena kemampuan kognitif Victoria mengalami hambatan sedari usia dua tahun. Peneliti menemukan sebanyak 3 orang anak . ,42%) anak yang masuk dalam kategori Sedang (MB) anak tersebut yaitu Martua. Bastian dan Arthur. Dimana ketiga anak terebut sudah menunjukkan perkembangan pada siklus I, dimana sebelumnya pada pra Siklus Martua. Bastian dan Arthur masih Belum Berkembang dalam mengenal lambang bilangan 1-20 dengan baik saat diobservasi Peneliti. Anak-anak yang msuk pada kategori Tinggi (BSH) sebanyak 2 orang anak . ,28%), anak tersebut yaitu Dexter dan Steven. Peneliti melihat perkembangan Dexter danSteven meningkat, kedua anak tersebut memiliki kemampuan untuk mengikuti pembelajaran yang disampaikan oleh peneliti. Dari pertemuan siklus I, jumlah anak yang msuk dalam kategori sangat tinggi (BSB) sebanyak 7 orang anak . %) dari jumlah anak yang diteeliti. Anak yang masuk kategori Berkembang Sangat Baik yaitu Putri. Tabita. Tetriana. Felicia. Vania. Michael, dan Christian. Dari data di atas dapat disimpulkan peneliti bahwa pada pertemuan siklus I terjadi peningkatan dalam mengenal lambang bilangan 1-20 dengan menggunakan media puzzle pada anak kelompok B TK Gracia Sustain 2021-2022, namun belum sesuai dengan harapan capaian ketuntasan belajar anak. Dengan demikian peneliti melanjutkan pada siklus selankutnya. Kategori Sangat Tinggi = 7 ycu 100 = 50% Keterangan: Dari hasil temuan persentase pada siklus I, capaian perkembangan kemampuan anak mengurutkan bilangan 1-20 menggunakan media puzzle berkembang mencapai 50%. Namun belum mencapai ketuntasan belajar, maka penelitian akan dilanjutkan kesiklus Pembahasan Siklus II Hasil observasi pada pra siklus dan siklus I kegiatan pembelajaran mengenal lambang bilangan 1-20 dengan menggunakan media puzzle sudah mengalami peningkatan pada siklus I, namun peneliti melihat bahwa capaian perkembangan mengenal lambang ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 bilangan 1-20 dengan media puzzle belum mencapai ketuntasan belajar anak di dalam Dengan demikian maka akan dilanjutkan dengan penelitian siklus II. Berdasarkan hasil observasi pertemuan pertama siklus II pada keempat indikator capaian perkembangan anak mengenal lambang bilanagan 1-20 yaitu indikator mengenal lambang 1-20 dengan media puzzle, meniru lambang bilangan 1-20, menyebutkan lambang bilangan 1-20 dengan media puzzle dan mengurutkan lambang bilangan 1-20 dengan media puzzle, anak yang masuk pada kategori Sedang atau Mulai Berkembang (MB) sebanyak 1 orang . ,14%), dari jumlah anak yang diteliti. Anak tersebut yaitu Victoria. Victoria mengalami peningkatan pembelajaran pada siklus II. Anak yang ada pada capaian Berkembang Sesuai Harapan (BSH) sebanyak 1 orang anak . ,14%) dari jumlah anak yang diteliti. Anak tersebut yaitu Arthur. Arthur mengalami peningkatan pembelajaran pada siklus II. Arthur menunjukkan kemaampuannya pada siklus II dengan bimbingan guru dan usaha Arthur yang mau berusaha dalam menyelesaikan pembelajarannya. Dan untuk kategori sangat tinggi atau Berkembang sangat Baik diperoleh 12 orang anak . ,71%). Anak tersebut yaitu Putri. Tabita. Tetriana. Felicia. Vania. Michael. Christian. Greta. Steven. Dexter. Martua, dan Bastian. Keduabelas anak tersebut sudah menunjukkan kemampuannya dalam pengembangan kemampuan mengenal lambang bilangan 1-20 pada mengenal lambang bilanagan 1-20 yaitu indikator mengenal lambang 1-20 dengan media puzzle, meniru lambang bilangan 1-20, menyebutkan lambang bilangan 1-20 dengan media puzzle dan mengurutkan lambang bilangan 1-20 dengan media puzzle. Kategori Tinggi = 12 ycu 100 = 85, 71% Keterangan: Dari data yang diperoleh maka, capaian pembelajaran pada siklus II anak kelompok B TK Gracia Sustain sudah mencapai ketuntasan belajar yaitu 85,71%. Dan penelitian tidak dilanjutkan lagi. Dari perolehan data yang ditemukan oleh peneliti pada siklus II, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa dalam kegiatan mengurutkan lambang bilangan 1-20 dengan menggunakan media puzzle dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengurutkan lambang bilangan 1-20 di kelompok B TK Gracia Sustain T. A 2021-2022. KESIMPULAN Hasil yang diperoleh dari kegiatan penelitian tindakan kelas dikelompok B di TK Gracia Sustain Medan T. A 2021-2022 yang telah dilaksanakan melalui tindakan siklus I dan siklus II mengalami peningkatan yang bertahap setiap siklusnya. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis yang didapatkan berdasarkan tabel hasil observasi kemampuan anak mengenal lambang bilangan 1-20 dengan menggunakan media puzzle pada pra siklus sebesar 14, 28%. Kemudian mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan siklus I. ALACRITY : Journal Of Education Volume 2 No 1 . Page : 25- 37 dan temuan pada siklus I sebesar 50%. Kemudian mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 85,71% dengan kriteria Berkembang Sangat Baik (BSB). Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media puzzle dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengurutkan lambang bilangan 1-20 pada anak kelompok B di TK Gracia Sustain Medan Tahun Pembelajaran 2021-2022 dan dinyatakan mencapai ketuntasan belajar. UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda dirman panjaitan dan Ibunda emma sinaga serta keluarga tercinta. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Darajat Rangkuti. Pd. selaku pembimbing. Terima kasih kepada seluruh dosen serta staff Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah dan seluruh teman - teman FKIP stambuk DAFTAR PUSTAKA