Penerimaan Diri Terhadap Siswa-Siswi Smp Plus Al-Qodiri Jember PENERIMAAN DIRI TERHADAP SISWA-SISWI SMP PLUS AL-QODIRI JEMBER Mahardika Ainun Firdausi Program Studi S1 Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Surabaya Email: mahardika. 20050@mhs. Abstrak Penelitian ini ditulis dengan maksud untuk mengetahui bagaimana kondisi penerimaan diri yang terjadi pada siswa SMP Plus Al-Qodiri Jember. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dan hasil yang ditemukan bahwa terdapat 5 siswa . %) dengan tingkat penerimaan diri rendah, 14 siswa . %) dengan kategori sedang dan 7 siswa . %) pada kategori tinggi. Penelitian ditujukan pada siswa kelas Vi dan diikuti oleh 26 siswa. Kondisi penerimaan diri tersebut dipengaruhi oleh lingkungan, tuntutan norma yang berlaku, dan pengalaman masa lalu yang dialami oleh masing-masing siswa. penerimaan diri pada siswa mampu ditingkatkan dengan bantuan layanan bimbingan dan konseling, seperti konseling kelompok dan pembentukan dukungan sosial yang baik. Penerimaan diri siswa mempengaruhi kehidupan remaja mereka seperti bagaimana cara mereka memandang individu sekitar mereka, cara mereka mengatasi masalah, dan juga bagaimana cara mereka membuat rencana cita-cita mereka. Kata Kunci: penerimaan diri, siswa SMP Abstract This research was written with the intention of finding out what conditions of self-acceptance exist among students at SMP Plus Al-Qodiri Jember. The method used was a quantitative descriptive method and the results found that there were 5 students . %) with a low level of self-acceptance, 14 . %) students in the medium category and 7 students in the high category . %). The research was aimed at eighth grade students and was attended by 26 students. The condition of self-acceptance is influenced by the environment, the demands of applicable norms, and the past experiences experienced by each student. Students' self-acceptance can be increased with the help of guidance and counseling services, such as group counseling and the establishment of good social support. Students' self-acceptance influences their teenagers' lives, such as how they view individuals around them, how they deal with problems, and also how they plan their dreams. Keywords: self acceptance, junior hight school student kedua institusi pendidikan tersebut, menciptakan suatu lingkungan belajar yang komprehensif yang menyatukan nilai-nilai pengetahuan dan teknologi. Sekolah Berbasis Pesantren, yakni program yang berupaya menggabungkan keunggulan sistem pendidikan sekolah dengan penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren (Kusnandi. Sekolah mengintegrasikan kebenaran nash (Al-Quran dan Hadit. dengan sains . lmu pengetahuan dan teknolog. melalui pengembangan tiga dimensi pendidikan unggul (Nurochim, 2. Sekolah dan pondok pesantren memainkan peran penting dalam proses perkembangan individu remaja (Thohiroh dkk. , 2. Menurut Azizah . , pada masa perkembangan remaja, individu mengalami peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang memengaruhi fungsi mental, fisik, dan psikologisnya. Oleh karena itu, pengakuan atas identitas diri menjadi penting bagi mereka. Dengan demikian, remaja PENDAHULUAN Sekolah Berbasis Pesantren merupakan inovasi dalam dunia pendidikan yang mengintegrasikan keunggulan sistem pendidikan sekolah dengan aspek pendidikan di pondok pesantren. Menurut Saifuddin . , pondok pesantren telah berkembang menjadi penyedia pendidikan formal, dimana siswa tidak hanya mempelajari ilmu agama tetapi juga ilmu pengetahuan sebagaimana siswa pada umumnya. Institusi pendidikan pesantren dan institusi pendidikan sekolah memiliki sistem sosial dan keunggulan masing-masing. Untuk mengakomodasi dikotomi tersebut maka timbul model Sekolah Berbasis Pesantren. Model Sekolah Berbasis Pesantren, yang merupakan konsep pendidikan terintegrasi, mencoba untuk menjembatani perbedaan antara pondok pesantren dan sekolah formal (Alfiana, 2. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mendapatkan akses pada ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya. Tujuan dari Sekolah Berbasis Pesantren adalah memadukan keunggulan dari Penerimaan Diri Terhadap Siswa-Siswi Smp Plus Al-Qodiri Jember lebih positif. Pernyataan-pernyataan yang disusun dalam angket diharapkan mampu menggambarkan kondisi penerimaan diri siswa secara kesuluruhan. Nilai koefesien reliabilitas menggunakan cronbach alpha () instrument sebesar 0,893. memerlukan peningkatan regulasi diri, yang salah satunya dapat diperoleh melalui kesejahteraan (Kabela, 2. Kesejahteraan adalah salah satu konsep yang bisa mempengaruhi regulasi diri dalam belajar siswa (Sukma. Salah satu aspek kesejahteraan yang relevan bagi remaja adalah kesejahteraan psikologis. Menurut Widiastuti, kesejahteraan psikologis membantu remaja dalam pengembangan emosi positif, kepuasan hidup, pengurangan depresi, dan perilaku negatif (Widiastuti. Ryff menyatakan bahwa salah satu dimensi kesejahteraan psikologis adalah penerimaan diri . elf acceptanc. (Papalia dkk, 2. Penerimaan diri dianggap sebagai ciri-ciri penting dalam kesehatan mental seseorang dan juga sebagai karakteristik aktualisasi diri, optimal functioning, dan kematangan (Nurhansyanah. Menurut Anderson, penerimaan diri ini sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang menjalani Seseorang yang mampu menerima dirinya dengan baik, maka ia akan melihat dan berlaku secara jujur, tanpa harus merekayasa apa yang ada dalam dirinya agar terlihat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain (Hurlock. Penerimaan diri adalah sikap positif terhadap diri sendiri yang mencakup pengakuan, penghargaan, dan penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki (Hurlock, 1. Menurut Ryff ciri-ciri individu yang memiliki penerimaan diri rendah akan merasa tidak puas dengan dirinya, menyesali apa yang terjadi di masa lalunya, sulit untuk terbuka, terisolasi dan frustasi dalam hubungan dengan orang lain. Sedangkan, individu yang memiliki penerimaan diri dalam tingkat optimal atau tinggi akan bersikap positif terhadap dirinya, mau menerima kualitas baik dan buruk dirinya, serta memiliki sikap positif terhadap masa lalunya (Purnama, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Realitas penerimaan diri yang rendah pada siswa di SMP Plus AL-Qodiri Jember tercermin dari hasil angket pengukuran skala kesejahteraan psikologis yang menunjukkan kurangnya tingkat keyakinan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Hasil tersebut ketidakpuasan terhadap diri sendiri, dan bahkan kemungkinan adanya penolakan terhadap beberapa aspek dari identitas atau karakteristik pribadi. Hal ini mencerminkan adanya penilaian diri yang negatif secara berlebihan, yang tercermin dalam kesejahteraan psikologis yang rendah pada aspek penerimaan diri siswa di SMP Plus AL-Qodiri Jember. Berdasarkan hasil angket pengukuran skala kesejahteraan psikologis yang telah diberikan kepada 26 siswa SMP Plus Al-Qodiri, diperoleh data bahwa terdapat 5 siswa . %) dengan tingkat penerimaan diri rendah, 14 siswa . %) dengan kategori sedang dan 7 siswa . %) pada kategori tinggi. Tabel 1. Hasil angket pengukuran skala kesejahteraan Nama RSF TFP ADY CLJP ABM METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas Vi SMP Plus Al-Qodiri Jember yang berjumlah 26 siswa. Instrument skala ini merupakan skala psikologis di mana data yang diungkap oleh skala merupakan deskripsi mengenai aspek kepribadian (Latipah. Pengumpulan menggunakan angket skala penerimaan diri yang berjumlah 48 item. Angket disusun berdasarkan Aspekaspek penerimaan diri menurut Hasan dan Maulana . Penilaian yang digunakan dalam skala ini, jawaban yang mendukung atau mengindikasikan aspek positif diberi skor 4,3,2, dan 1. Sebaliknya, jawaban yang mengidentifikasikan aspek negative diberi skor 1,2,3 dan Penentuan skor sesuai dengan arah yang dimaksudkan, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan respons yang Skor RSF TFP Kategori Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah CLJP ABM ADY Gambar 1. Grafik hasil angket pengukuran skala kesejahteraan psikologis Bentuk perilaku siswa yang menunjukkan penerimaan diri rendah ditunjukkan pada rasa iri terhadap kegiatan sekolah lain yang lebih menyenangkan, rasa tertinggal terhadap sesuatu yang sedang trending di luar lingkungan Penerimaan Diri Terhadap Siswa-Siswi Smp Plus Al-Qodiri Jember Meninjau perihal tersebut, (Amatullah 2. juga menjelaskan salah satu upaya meningkatkan penerimaan diri siswa adalah melalui penerapan layanan konseling kelompok, layanan konseling kelompok di sekolah menengah dapat memberikan wadah yang aman dan mendukung bagi siswa untuk menjelajahi aspek-aspek dari diri mereka sendiri. Dengan mempertimbangkan permasalahan yang dihadapi oleh santri, layanan konseling kelompok dapat menjadi solusi yang efektif. Melalui interaksi dalam kelompok, santri dapat mengembangkan pemahaman, penilaian, dan kesadaran terhadap diri mereka sendiri, yang pada gilirannya dapat meningkatkan penerimaan diri mereka. Penerapan layanan konseling kelompok, sesuai dengan panduan POP BK SMP 2016 memberikan wadah yang aman dan mendukung bagi santri untuk mengeksplorasi dan memahami aspek-aspek dari diri mereka sendiri. Dengan demikian, layanan dasar yang terdiri dari bimbingan klasikal, bimbingan lintas kelas, dan konseling kelompok merupakan pendekatan komprehensif yang dapat membantu santri dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk penerimaan diri yang lebih baik. pendidikan mereka, seperti yang ada pada media sosial. Hal lain yang menjadi permasalahan adalah rasa minder terhadap kemampuan diri mengenai target akademik pada pendidikan mereka, seperti setoran hafalan dan tugas Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya tingkat penerimaan diri ini bermacam-macam. Mulai dari faktor lingkungan sosial, pengalaman masa lalu, dan tekanan dari norma-norma budaya yang menempatkan standar yang tinggi dalam mengevaluasi diri sendiri. Hal ini dapat mengakibatkan individu merasa tidak puas atau kurang menerima diri mereka apa adanya (Ginting, 2. Perihal tersebut sejalan dengan (Agustina & Naqiyah 2. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa Penyebab rendahnya penerimaan diri dapat terbagi menjadi faktor internal seperti kepercayaan diri dan faktor eksternal seperti respons dari teman, orangtua, dan lingkungan. Dalam lingkungan pendidikan, siswa kerap kali dihadapkan pada pengaruh individu yang memiliki pendapat yang tegas. Situasi ini dapat menjadi hambatan dalam pengembangan penerimaan diri siswa. Mereka cenderung terpengaruh dan terkadang merasa telah mencapai puncak dalam perjalanan hidup mereka, menghambat proses pertumbuhan pribadi yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa peran opini yang kuat dapat menjadi kendala dalam mencapai penerimaan diri yang sehat dan berkualitas pada siswa di lingkungan Dalam konteks pendidikan, interaksi antara faktor peran guru dan faktor asuh keluarga sangatlah penting (Pulungan, 2. Di lain sisi, menurut Syahrir rendahnya tingkat penerimaan diri dapat berdampak pada motivasi belajar yang rendah, interaksi sosial yang kurang sehat, serta perasaan kurangnya kemandirian dalam menghadapi tekanan dan tantangan yang muncul (Syahrir. Merujuk permasalahan yang terjadi pada santri tersebut, maka dibutuhkan layanan dasar yang berfungsi untuk memberikan bantuan yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan tentang penerimaan diri. Bentuk layanan dasar terdiri dari dua cara yaitu melalui media maupun secara langsung. Sesuai POP BK SMP 2016, pemberian layanan secara langsung dibagi menjadi tiga, bimbingan klasikal, bimbingan lintas kelas, dan konseling kelompok. Dalam buku Pengembangan Profesi BK oleh M. Nursalim, konselng kelompok biasanya berkaitan dengan masalah-masalah perkembangan dalam hal-hal situasional para anggotanya. Fokusnya adalah sikap dan perasaan serta pemilihan dan nilai-niai yang terlibat dalam hubugan antarpribadi. Dengan berinteraksi satu sama lain, para anggota membentuk hubungan yang bersifat membantu dan memungkinkan mereka untuk dapat mengembangkan pemahaman, penilaian, dan kesadaran terhadap dirinya. Kutipan dan Acuan Teori Penerimaan Diri Ryff, yang dikembangkan oleh psikolog Carol Ryff, merupakan bagian dari teori Psikologi Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wellbein. Dalam konteks ini, penerimaan diri atau selfacceptance adalah salah satu dari enam dimensi kesejahteraan psikologis yang diidentifikasi oleh Ryff. Penerimaan diri dalam teori Ryff didefinisikan sebagai kesediaan individu untuk menerima dan menghargai diri mereka sendiri, termasuk menerima aspek-aspek positif dan negatif dari diri mereka tanpa syarat. Ini melibatkan penilaian yang realistis terhadap diri sendiri, penerimaan terhadap berbagai aspek dari kepribadian dan pengalaman hidup, serta kesediaan untuk memaafkan diri atas kesalahan dan kegagalan (Ryff, 1. Beberapa aspek yang menjadi inti dari penerimaan diri (Hasan & Maulana, 2. Perasaan kesetaraan, merupakan kemampuan individu untuk merasa sebanding dan setara dengan orang lain tanpa menunjukkan rasa superioritas. Keyakinan diri yang sehat, mengacu pada keyakinan individu akan kemampuannya dalam menghadapi kehidupan, serta kesadaran untuk fokus pada pengembangan aspek positif diri dan mengatasi kelemahan, bukan mengharapkan atau mengidolakan karakteristik orang lain. Penerimaan pada identitas diri saat ini merupakan landasan bagi kepuasan pribadi. Kesediaan dalam menerima tanggung jawab, merupakan sifat individu yang bersedia bertanggung Penerimaan Diri Terhadap Siswa-Siswi Smp Plus Al-Qodiri Jember Saran Penelitian selanjutnya dapat difokuskan pada efektivitas layanan bimbingan dan konseling dalam meningkatkan penerimaan diri siswa di SMP Plus Al-Qodiri Jember. Penelitian ini bisa mengkaji bagaimana intervensi layanan bimbingan dan konseling dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan kesejahteraan psikologis siswa dalam jangka panjang. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi peran guru dan orang tua dalam mendukung program konseling ini, serta bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai media tambahan untuk memperkuat layanan bimbingan dan konseling. Studistudi ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang strategi terbaik untuk meningkatkan penerimaan diri siswa secara efektif. jawab atas tindakan dan perilaku yang mereka Orientasi pada perhatian terhadap orang lain, terlibat secara aktif dalam memperhatikan dan menerima individu lain dalam lingkungan sosial mereka. Konsistensi terhadap prinsip dan nilai pribadi, lebih memilih untuk mengikuti prinsip dan nilai pribadi daripada membiarkan tekanan sosial memengaruhi Kesadaran akan keterbatasan dan kelebihan, mencakup kemampuan individu untuk mengenali serta menghargai keterbatasan dan kelebihan pribadi mereka dengan sikap yang realistis. Penerimaan emosional, menerima dan mengakui berbagai emosi dan impuls tanpa rasa bersalah. Hal ini memungkinkan individu untuk menerima perasaan seperti marah, takut, atau cemas sebagai bagian alami dari diri mereka tanpa perlu menyembunyikan atau DAFTAR PUSTAKA