Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Pelatihan Soft Skills untuk Meningkatkan Daya Saing Angkatan Kerja Muda di Desa Situ Gadung Kabupaten Tangerang Rahmi Hermawati1. Rima Handayani2. Endang Kustini3 Universitas Pamulang. Indonesia dosen00817@unpam. id1, dosen00551@unpam. id2, dosen01518@unpam. Submitted: 14th April 2025 | Edited: 29th June 2025 | Issued: 01st July 2025 Cited on: Hermawati. Handayani. , & Kustini. Pelatihan Soft Skills untuk Meningkatkan Daya Saing Angkatan Kerja Muda di Desa Situ Gadung Kabupaten Tangerang. Jurnal PKM Manajemen Bisnis, 5. , 666674. ABSTRACT The increasing competitiveness of the job market requires young workers to possess not only technical abilities but also strong soft skills. In response to this need, a Community Service Program (PKM) titled Soft Skills Training to Improve the Competitiveness of Young Workers in Situ Gadung Village. Tangerang Regency was conducted. This program aimed to equip the youth in Situ Gadung Village with essential soft skills to enhance their employability and adaptability in the workforce. The activity was carried out on April 26Ae27, 2025, in Situ Gadung Village, involving 14 lecturers from Universitas Pamulang as facilitators and 24 local participants. The training used a combination of methods including material presentation, hands-on practice, group discussion, and question-and-answer sessions to ensure effective learning. The topics covered communication skills, teamwork, time management, problem-solving, and work ethics. The results showed increased awareness and understanding among participants regarding the importance of soft skills, with positive feedback indicating that the training was beneficial and applicable to real-life work settings. This PKM activity contributes to community development by fostering a more prepared and competitive young workforce. Keywords: Soft Skills. Community Service. Youth Workforce. Employability. Situ Gadung Village PENDAHULUAN Pasar kerja global saat ini menunjukkan tantangan serius bagi pemuda. Salah satu persoalan utama adalah tingginya angka pengangguran usia muda dibandingkan populasi umum (World Bank, 2. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD, 2. mencatat bahwa kesenjangan antara keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan kompetensi lulusan masih menjadi masalah besar, terutama dalam aspek soft skills seperti komunikasi, kemampuan bekerja dalam tim, manajemen waktu, dan pemecahan masalah. Di Indonesia, hasil penelitian oleh Sekolah Bisnis ITB . menunjukkan adanya korelasi positif antara pengembangan soft skills dengan kesiapan kerja. Lulusan yang memiliki soft skills lebih baik, seperti kemampuan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. komunikasi dan kepemimpinan, cenderung merasa lebih siap untuk masuk ke dunia kerja dan lebih cepat terserap oleh industry (Kementerian Ketenagakerjaan, 2. Soft skills kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, tetapi telah menjadi komponen utama yang sangat diperhitungkan oleh perusahaan (Catalano, et al. , 2. Penelitian Sahabuddin, et al. menunjukkan bahwa pelatihan soft skills berkontribusi langsung pada peningkatan employability, dengan self-efficacy sebagai mediator yang signifikan. Artinya, peningkatan kepercayaan diri dan persepsi terhadap kemampuan diri sendiri yang diperoleh dari pelatihan ini juga memengaruhi kesiapan individu dalam menghadapi tantangan dunia kerja (Jannah & Hidayat, 2. Penelitian yang sama juga mengungkapkan bahwa metode pelatihan yang memadukan teori dan praktik berdampak lebih efektif dalam membangun kompetensi interpersonal peserta (Lippman, et al. , 2. Temuan serupa diperoleh dari konteks internasional, misalnya program pengembangan kepemudaan di Brunei Darussalam yang berhasil meningkatkan persepsi employability peserta secara signifikan (Adilah Hisa, et al. , 2. Di tingkat lokal, studi di Makassar dan Yogyakarta juga mengonfirmasi bahwa siswa vokasi menunjukkan profil soft skills pada tingkat menengah, namun masih jauh dari standar dunia industri (Wulaningrum & Hadi, 2. Ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk program pelatihan yang mampu meningkatkan kemampuan nonteknis di kalangan pemuda, terutama di wilayah dengan akses terbatas terhadap sumber daya pelatihan formal. Implementasi pelatihan soft skills di berbagai daerah menunjukkan keberhasilan yang konsisten. Penelitian Prabowo, et al. mengenai pengembangan employability siswa SMK di Bogor, serta studi Lubis, et al. mengenai pelatihan karier di daerah Belawan, menunjukkan bahwa pelatihan berbasis pengalaman, diskusi kelompok, dan simulasi kerja sangat membantu meningkatkan kemampuan kerja Pelatihan ini menjadi lebih efektif ketika disesuaikan dengan konteks lokal dan melibatkan pendekatan partisipatif. Secara teoretis, kerangka Positive Youth Development (PYD) memberikan dasar yang kuat bagi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Teori ini menekankan bahwa pemberdayaan pemuda melalui penguatan kompetensi seperti komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan akan menumbuhkan kepercayaan diri, hubungan sosial Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. yang sehat, serta kontribusi positif bagi masyarakat (Robles, 2. Penerapan prinsipprinsip PYD dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) memungkinkan pemuda tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan di Di Desa Situ Gadung. Kabupaten Tangerang, pemuda menghadapi tantangan serius dalam memasuki dunia kerja karena dominasi keterampilan teknis dasar yang tidak diimbangi dengan kemampuan soft skills. Situasi ini menyebabkan daya saing di pasar kerja formal dan informal relatif rendah. Berdasarkan observasi awal, sebagian besar pemuda belum memiliki keterampilan komunikasi yang memadai, kurang percaya diri, dan belum terbiasa bekerja dalam tim, yang semuanya merupakan kompetensi dasar dalam lingkungan kerja modern. Oleh karena itu, kegiatan berupa pelatihan soft skills menjadi sangat relevan. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan pemecahan masalah (Tri Wulaningrum & Samsul Hadi, 2019. Yunita & Hartono, 2. Pendekatan pelatihan yang digunakan akan memadukan pemaparan materi, diskusi interaktif, praktik langsung, dan sesi tanya jawab. Model pelatihan ini selaras dengan hasil studi Sahabuddin . dan Sekolah Bisnis ITB . , yang menekankan pentingnya kombinasi antara teori dan praktik dalam membentuk kompetensi soft skills dan membangun kepercayaan diri. Berdasarkan uraian di atas, kegiatan PKM AuPelatihan Soft Skills untuk Meningkatkan Daya Saing Angkatan Kerja Muda di Desa Situ GadungAy disusun sebagai upaya konkret untuk memberdayakan pemuda desa dalam menghadapi tantangan Melalui pelatihan selama dua hari dengan metode yang partisipatif dan memperoleh kepercayaan diri, dan siap bersaing dalam dunia kerja yang semakin Kegiatan ini juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat lokal melalui peningkatan kualitas sumber daya METODE Metode pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini disusun dalam tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Pada tahap persiapan, tim pelaksana yang terdiri dari 14 dosen Universitas Pamulang melakukan identifikasi kebutuhan masyarakat melalui observasi awal di Desa Situ Gadung. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa materi yang disusun sesuai dengan kebutuhan aktual pemuda dan masyarakat usia produktif di desa tersebut. Berdasarkan hasil identifikasi, disusun materi pelatihan yang berfokus pada penguatan soft skills, meliputi keterampilan komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan pemecahan masalah. Selain itu, dilakukan juga perancangan metode penyampaian, penyusunan perangkat evaluasi, serta koordinasi teknis dengan perangkat desa untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kegiatan. Tahap pelaksanaan kegiatan PKM dilangsungkan pada tanggal 26Ae27 April 2025, bertempat di Desa Situ Gadung. Kabupaten Tangerang. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan sebanyak 24 orang yang merupakan perwakilan masyarakat desa dengan rentang usia produktif. Metode pelatihan yang digunakan bersifat partisipatif dan interaktif, mencakup pemaparan materi, praktik langsung, diskusi kelompok, serta sesi tanya jawab. Seluruh sesi dipandu oleh dosen Universitas Pamulang yang memiliki kompetensi di bidang pengembangan sumber daya manusia dan pelatihan soft skills. Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak untuk terlibat aktif melalui simulasi kasus, role-play, dan latihan kelompok, agar mereka dapat langsung mengaplikasikan keterampilan yang dipelajari dalam konteks kehidupan dan dunia kerja nyata. Tahap terakhir adalah pelaporan, yang mencakup penyusunan laporan kegiatan secara menyeluruh, mulai dari dokumentasi proses kegiatan, hasil evaluasi ketercapaian Evaluasi membandingkan hasil pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Selain itu, tim juga menghimpun umpan balik dari peserta sebagai bahan refleksi untuk perbaikan kegiatan serupa di masa depan. Laporan kegiatan ini tidak hanya digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik, tetapi juga menjadi dasar pengembangan program berkelanjutan di Desa Situ Gadung, khususnya dalam bidang pemberdayaan pemuda dan peningkatan daya saing tenaga kerja lokal. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. PEMBAHASAN Profil Peserta dan Pelaksana PKM Peserta kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini merupakan masyarakat Desa Situ Gadung. Kabupaten Tangerang, yang terdiri atas 24 orang dengan latar belakang usia produktif, khususnya generasi muda yang sedang mencari atau mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja. Para peserta sebagian besar merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), namun belum memiliki pengalaman kerja yang cukup atau keterampilan nonteknis yang dibutuhkan oleh pasar kerja saat ini. Berdasarkan hasil identifikasi awal, sebagian besar peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan soft skills, seperti keterampilan komunikasi, kerja sama, manajemen waktu, dan pemecahan Peserta dipilih berdasarkan koordinasi dengan perangkat desa setempat dan menunjukkan komitmen untuk mengikuti kegiatan secara penuh selama dua hari. Pelaksana kegiatan ini adalah tim dosen dari Universitas Pamulang yang berjumlah 14 orang, berasal dari berbagai latar belakang keilmuan yang relevan, khususnya di bidang pendidikan, manajemen, komunikasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Seluruh pelaksana memiliki pengalaman dalam kegiatan pengabdian masyarakat serta kompetensi dalam memberikan pelatihan dan pendampingan berbasis pendekatan partisipatif. Dalam kegiatan ini, masing-masing dosen memiliki peran yang terstruktur, mulai dari perancang materi, fasilitator diskusi, pemateri inti, hingga tim evaluasi dan dokumentasi. Keberagaman latar belakang akademik pelaksana menjadi kekuatan tersendiri dalam menyampaikan materi secara kontekstual dan aplikatif, sehingga dapat menjawab kebutuhan peserta secara lebih menyeluruh dan efektif. Masalah yang Dihadapi Masalah utama yang dihadapi oleh peserta kegiatan PKM berkaitan dengan rendahnya penguasaan soft skills yang menjadi salah satu faktor penghambat dalam memasuki dunia kerja. Meskipun sebagian peserta telah menyelesaikan pendidikan formal, banyak dari mereka belum memiliki keterampilan nonteknis seperti kemampuan berkomunikasi secara efektif, bekerja dalam tim, mengatur waktu secara efisien, serta memecahkan masalah secara mandiri. Keterampilan-keterampilan tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern yang semakin kompetitif dan dinamis. Kurangnya pelatihan yang terstruktur serta minimnya pengalaman dalam lingkungan Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. kerja yang menuntut kolaborasi menjadi penyebab utama lemahnya kesiapan kerja para pemuda di Desa Situ Gadung. Selain itu, sebagian peserta mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan diri dan inisiatif karena terbatasnya akses terhadap bimbingan dan lingkungan belajar yang mendorong pengembangan diri. Kurangnya paparan terhadap praktik dunia kerja juga menyebabkan mereka belum memahami pentingnya etika profesional, sikap proaktif, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi kerja. Akibatnya, daya saing mereka di pasar kerja relatif rendah, baik untuk sektor formal maupun informal. Masalah-masalah tersebut menunjukkan bahwa penguatan soft skills melalui kegiatan pelatihan yang komprehensif dan aplikatif menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kalangan angkatan kerja muda Desa Situ Gadung. Pelaksanaan PKM Kegiatan PKM ini diawali dengan sesi pembukaan yang dilaksanakan pada hari pertama, tanggal 26 April 2025, bertempat di Balai Desa Situ Gadung. Acara pembukaan dihadiri oleh para peserta pelatihan, perangkat desa, dan seluruh tim pelaksana dari Universitas Pamulang. Sambutan pertama disampaikan oleh perwakilan dosen selaku ketua tim PKM, yang menjelaskan tujuan dan urgensi pelatihan soft skills bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Desa Situ Gadung, yang memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pengembangan kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa. Setelah itu, dilakukan sesi perkenalan antara peserta dan pemateri guna membangun suasana interaktif sejak awal kegiatan. Sesi pembahasan materi dimulai setelah pembukaan dengan topik pertama yaitu komunikasi efektif dalam dunia kerja. Materi ini membahas secara teknis tentang jenisjenis komunikasi . erbal, nonverbal, dan tertuli. , serta bagaimana menyampaikan pesan secara jelas, sopan, dan persuasif dalam berbagai situasi kerja. Peserta juga dilatih untuk mengenali hambatan komunikasi, cara mendengarkan aktif, dan pentingnya bahasa tubuh dalam membangun kesan profesional. Dalam sesi praktik, peserta diminta melakukan simulasi wawancara kerja dan presentasi ide sederhana, lalu diberikan umpan balik langsung oleh fasilitator. Tujuannya adalah agar peserta mampu membiasakan diri menyampaikan pendapat secara percaya diri dan tepat sasaran. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Topik kedua yang disampaikan adalah kerja sama tim . , yang merupakan kemampuan krusial dalam hampir semua lingkungan kerja. Materi mencakup pemahaman tentang peran individu dalam tim, prinsip kolaborasi, komunikasi dalam kelompok, serta penyelesaian konflik secara produktif. Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberi tugas untuk menyelesaikan sebuah tantangan bersama, seperti menyusun strategi pemasaran untuk produk fiktif. Dari aktivitas ini, peserta belajar mengatur peran, membagi tugas, dan mengelola perbedaan pendapat demi mencapai tujuan bersama. Penekanan diberikan pada pentingnya sikap saling menghargai dan mendukung antaranggota tim dalam mencapai hasil kerja yang optimal. Selanjutnya, peserta diberikan pelatihan tentang manajemen waktu dan Dalam sesi ini, peserta dikenalkan pada konsep perencanaan waktu, penentuan prioritas tugas . rgent vs importan. , serta penggunaan alat bantu manajemen waktu seperti to-do list dan kalender kerja. Sesi ini bersifat sangat aplikatif, di mana peserta diminta membuat jadwal harian dan mingguan berdasarkan aktivitas pribadi maupun profesional yang realistis. Fasilitator memberikan masukan terhadap rancangan waktu yang dibuat oleh peserta, termasuk cara mengantisipasi gangguan serta menjaga konsistensi terhadap jadwal yang telah disusun. Tujuan utama dari materi ini adalah menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola waktu secara Materi terakhir yang disampaikan adalah keterampilan pemecahan masalah . roblem solvin. dan pengambilan keputusan. Peserta diajarkan untuk mengenali masalah secara objektif, menganalisis akar penyebabnya, serta memilih alternatif solusi yang paling tepat. Pendekatan yang digunakan adalah teknik problem tree dan SWOT analysis, yang kemudian dipraktikkan melalui studi kasus sederhana yang disesuaikan dengan konteks keseharian peserta, seperti permasalahan dalam mencari kerja atau membangun usaha kecil. Latihan ini bertujuan untuk melatih daya pikir kritis, keterbukaan terhadap masukan, serta pengambilan keputusan yang logis dan bertanggung jawab. Sepanjang pelaksanaan materi, metode yang digunakan bersifat kombinatif antara ceramah interaktif, studi kasus, role-play, diskusi kelompok, dan praktik lapangan Para pemateri juga memanfaatkan media pembelajaran seperti slide presentasi, video ilustratif, dan lembar kerja untuk meningkatkan pemahaman peserta. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. Suasana pelatihan dibuat terbuka dan komunikatif agar peserta tidak merasa canggung dalam menyampaikan pendapat atau bertanya. Setiap sesi diakhiri dengan refleksi dan evaluasi singkat untuk melihat sejauh mana pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Setelah seluruh rangkaian materi selesai dilaksanakan, peserta menyampaikan berbagai manfaat yang mereka rasakan selama mengikuti kegiatan. Banyak peserta mengaku lebih percaya diri dalam berkomunikasi, mampu menyampaikan pendapat dengan lebih terstruktur, dan memahami pentingnya kerja sama tim dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, peserta merasa terbantu dengan pemahaman baru mengenai cara mengatur waktu dan menghadapi masalah secara lebih sistematis. Beberapa peserta bahkan menyampaikan motivasi untuk mulai melamar pekerjaan atau membangun usaha kecil dengan pendekatan yang lebih terencana dan profesional. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan ini berhasil meningkatkan kompetensi soft skills peserta secara nyata dan aplikatif. KESIMPULAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini berjalan dengan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta, yang berhasil memperoleh pemahaman mendalam serta keterampilan praktis dalam komunikasi efektif, kerja sama tim, manajemen waktu, dan pemecahan masalah, keterampilan yang selama ini menjadi kendala utama dalam memasuki dunia kerja. Peningkatan soft skills tersebut tidak hanya memperkuat kesiapan kerja peserta, tetapi juga memperbesar peluang mereka untuk beradaptasi dan bersaing di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif dan dinamis. Implikasi dari kegiatan ini sangat penting dalam pemberdayaan sumber daya manusia lokal, karena penguatan soft skills menjadi fondasi utama dalam mendorong produktivitas, kreativitas, dan kemandirian angkatan kerja muda. Keberhasilan pelatihan ini juga menegaskan kebutuhan akan program berkelanjutan serta kolaborasi lintas sektor untuk mengintegrasikan pengembangan soft skills secara lebih luas, guna meningkatkan kualitas tenaga kerja di berbagai daerah dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan. Jurnal PKM Manajemen Bisnis Vol. No. July 2025 e-ISSN 2797-8338 DOI 10. DAFTAR PUSTAKA