Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Halaman jurnal di https://journal. id/skenoo Simbol Sapaan Manasumo Raka? Sebagai Teologi Lokal: Upaya Menjaga Relasi Masyarakat Beragama di Toraja Theofilus Welem Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga email: 752021013@student. INFO ARTIKEL Sejarah artikel: Dikirim 10 Mei 2024 Direvisi 21 Oktober 2024 Diterima 15 November 2024 Terbit 30 Desember 2024 Kata kunci: Manasumo Raka? Masyarakat Lintas Iman Teologi Lokal Tradisi Lisan Keywords: Manasumo Raka? Interfaith Community Local Theology Oral Tradition ABSTRAK Artikel ini menjelaskan bagaimana ungkapan lokal manasumo raka? yang mulai pudar dalam masyarakat Toraja dapat menjadi sumber teologi persahabatan antara masyarakat beda agama di Toraja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan teori interaksionisme simbolik Mead dan Teologi Lokal Sedmark. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa sapaan manasumo raka? mengandung unsur persahabatan, kekeluargaan yang merujuk pada keterbukaan, sekaligus juga sebagai ekspresi anti-ego yang amat khas sebagai identitas orang Toraja. Sapaan ini menjadi simbol upaya orang Toraja untuk membuka sekat-sekat yang memisahkan masyarakat, baik itu dalam hal status sosial, status ekonomi, usia, dan tentunya perbedaan agama, sehingga dapat dilihat bahwa ungkapan ini memiliki makna dan nilai yang sangat dan lebih mendalam daripada ungkapan atau sapaan keagamaan lainnya. ABSTRACT This article explains how the fading local expression manasumo raka? in Toraja society can be a source of theology of friendship between people of different religions in Toraja. This research uses qualitative method, with the approach of Mead's symbolic interactionism theory and Sedmark's local The results of this article show that the greeting manasumo raka contains elements of friendship, kinship that refers to openness, as well as an expression of anti-ego which is very distinctive as the identity of the Toraja This greeting symbolizes the Torajans' efforts to open the barriers that separate the community, be it in terms of social status, economic status, age, and of course religious differences, so it can be seen that this expression has a very deep meaning and value than other religious expressions or greetings. PENDAHULUAN Berkomunikasi, memungkinkan sistem sosial dalam suatu masyarakat dapat terlaksana atau terjadi. Setiap masyarakat bergantung pada komunikasi baik itu melalui simbol dan tak terkecuali dalam hal ini diwujudkan melalui bahasa. 1 Fungsi sosial dari Angel Yohana and Muhammad Saifulloh. AuInteraksi Simbolik Dalam Membangun Komunikasi Antara Atasan Dan Bawahan Di Perusahaan,Ay WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi 18 . : 122Ae30. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 129 memperlihatkan kedekatan dengan orang lain, mengembangkan dan menjaga hubungan. Selain itu, komunikasi melalui bahasa juga berfungsi untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan kehadiran suatu masyarakat. Bagi Friksa dkk, berkomunikasi melalui bahasa diperlukan dalam menyampaikan berbagai norma serta kebudayaan pada generasi Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa bahasa adalah bagian dari budaya masyarakat, yang memengaruhi tingkat pengetahuan serta melibatkan struktur ide atau gagasan yang ada dalam pikiran seseorang. 3 Jikalau bahasa merupakan sebuah sistem ide dan kemudian menjadi gagasan yang ada dalam pikiran manusia, maka salah satu bagian dari bahasa yang memiliki ide dan gagasan dapat ditemui melalui sapaan. Sapaan merupakan Unsur yang tak terpisahkan dalam tatanan sosial komunitas. Meskipun bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu, akan tetapi tidak dipungkiri bahwa berbagai latar belakang suku yang berbeda-beda memiliki juga berbagai macam bentuk sapaan yang menjadi suatu ciri khas masyarakat yang telah lama ada bahkan sebelum bahasa Indonesia, sapaan tersebut memuat ide serta gagasan masyarakat dan menjadi sebuah kebudayaan tersendiri dari tiap-tiap kelompok masyarakat di suatu daerah. Tidak hanya suku, setiap agama juga memiliki jenis sapaan atau salam yang berbeda, misalnya Kristen dan Katolik menggunakan sapaan Syalom atau Salam sejahtera bagi kita semua. Islam dengan AssalamuAoalaikum. Hindu dengn Om Sawastiastu. Budha dengan Namu Budaya, serta Konghucu dengan Salam Kebajikan. Ada juga beberapa contoh sapaan khas dari beberapa suku di Indonesia, misalnya dari Jawa, yaitu Piye kabare, dari Aceh dengan Peu nah aba, dari Batak Toba dengan Bao da kabar hamu, dari Papua dengan Nara gerotelo, dan lain sebagainya. Sapaan menjadi bukti akan adanya koneksi atau hubungan antar individu. Sapaan menunjuk pada rangkaian kata atau frasa dalam sebuah percakapan serta akan menunjukkan hal yang berbeda sesuai dengan karakter hubungan diantara Suku Toraja adalah salah satu kelompok etnis yang mendiami wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Sebagai bagian dari masyarakat, suku Toraja senantiasa berinteraksi dan saling berhubungan dalam menjalani kehidupan. Di samping sebagai makhluk sosial, masyarakat Toraja juga merupakan manusia yang berbudaya, dan salah satu bagian dari budayanya ialah bahasa Toraja. Bahasa Toraja adalah bahasa asli daerah tersebut, dan menjadi sumber bagi suku/masyarakat Toraja untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama etnis dalam lingkungan orang Toraja. Bahasa Toraja menjadi kekayaan budaya yang dimiliki orang Toraja dan menjadi bagian dari kekayaan bangsa Indonesia, seperti yang diungkapkan Sunarti dan Safiri bahwa berbagai bahasa Nusantara yang Friska Aritonang. Iky Sumarthina Putri Prayitno, and Gulo Yurulina. AuPermainan Tradisional Budaya Martumba Sebagai Media Pendidikan Karakter Bagi Anak Di Batak Toba,Ay Anthropos: Jurnal Antropologi Dan Budaya 6 . : 52Ae61. 3 Rina Devianty. AuBahasa Sebagai Cermin Kebudayaan,Ay Jurnal Tarbiyah 24 . : 226Ae45. Ridha Mashudi Wibowo and Agustin Retnaningsih. AuDinamika Bentuk-Bentuk Sapaan Sebagai Refleksi Sikap Berbahasa Masyarakat Indonesia,Ay Humaniora 27 . : 269Ae82. 130 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. berfungsi sebagai sarana interaksi antar masyarakat, bahasa-bahasa tersebut menjadi bagian yang memperkaya bangsa Indonesia. 5 Bahasa Toraja yang dijadikan sebagai bentuk komunikasi tersebut, kemudian dituangkan dalam bentuk sapaan. Salah satu sapaan khas yang dimiliki oleh orang Toraja dalam membangun hubungan atau relasi serta interaksinya dengan masyarakat yang lain ialah sapaan manasumo raka? Sapaan ini merupakan salah suatu ciri khas dan menjadi suatu kekayaan budaya yang dimiliki oleh orang Toraja dalam kehidupan sosialnya. Meskipun merupakan salah satu bentuk sapaan yang menjadi ciri khas dari orang Toraja, akan tetapi dalam perkembangannya dewasa ini, pemahaman mengenai nilai serta konsep bahkan makna yang terkandung dalam sapaan manasumo raka? semakin kurang dipahami dan diajarkan. Melalui situasi problematik yang timbul, maka penulis berupaya untuk melihat nilai dan makna penting dari sapaan manasumo raka? dan untuk membangun kembali kecintaan masyarakat Toraja terhadap sapaan manasumo raka? sebagai sebuah bagian dari kebudayaannya. Beberapa tulisan terdahulu yang juga meneliti dan melihat ungkapan manasumo raka? adalah dari Patiung dan Sisoto mengenai AuThe Efforts Of Maintsining Torajan Lenguage As A Mother TOngue of Torajan People From The Threat of Extincion: A Preliminary StudyAy di mana para peneliti melakukan penelitian terhadap bahasa Toraja dengan tujuan untuk menjaga agar bahasa Toraja terlepas dari ancaman kepunahan. Penelitian lain adalah dari Tanduk. Mangera, dan Suluh mengenai AuEtnolech Determination of Toraja Community Kinship in a Foreign LandAy tulisan tersebut berfokus untuk melihat beberapa etnolek yang digunakan oleh masyarakat Toraja sebagai faktor penentu keakraban dan kekerabatan di perantauan dan salah satu di dalamnya ialah sapaan manasumo raka?7 Tulisan ini berbeda dengan tulisan sebelumnya, dikarenakan bertujuan untuk melihat nilai dari sapaan manasumo raka? Dalam sebuah usaha mengangkatnya sebagai sebuah sumber teologi lokal untuk membangun serta menjaga relasi masyarakat yang berbeda kepercayaan . di Toraja. METODE Metode penelitian dipahami sebagai suatu proses atau tata cara pencarian dan penemuan data untuk memenuhi tujuan penelitian, peneliti memilih metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, di mana peneliti mencoba mendeskripsikan dan menganalisis peristiwa-peristiwa terkait dengan permasalahan utama dan keadaan yang ada di masyarakat, khususnya permasalahan dan fenomena yang terkait dengan topik Sumber data diambil dari tinjauan pustaka. Kajian terhadap materi dilakukan 5 Iing Sunarti and Puspita Safiri. AuFungsi-Fungsi Sapaan Bahasa Lampung Dialek Komering,Ay J-Simbol (Bahasa. Sastra. Dan Pembelajaranny. : 1Ae7. Naomi Patiung and Simon Sitoto. AuThe Efforts Of Maintsining Torajan Lenguage As A Mother Tongue of Torajan People From The Threat of Extincion: A Preliminary Study,Ay Linguistik. Terjemahan. Sastra (LINGTERSA) 2 . : 1Ae6. Rita Tanduk. Elisabeth Mangera, and Suluh Sallolo. AuEtnolech Determination of Toraja Community Kinship in a Foreign Land,Ay in Internasional Congress Linguistics Society (KIMLI 2. (Atlantis Press, 2. , 50Ae52. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 131 melalui penelaan dan penelusuran berbagai buku, majalah, jurnal, website, serta beberapa sumber tertulis lainnya dan yang mampu memberi informasi secara terpercaya dan tentunya berkaitan dengan topik penelitian. Pendekatan teori dalam tulisan ini diambil dan disaring dari Teologi Lokal dari Clemens Sedmark teori interaksi simbolik dari Herberd Mead, beserta dengan konsep pemikiran dari beberapa ahli lainnya untuk memperkaya teori yang HASIL DAN PEMBAHASAN Interaksionisme Simbolik Teori interaksi simbolik begitu berutang budi terhadap sosiolog Max Weber, terutama dalam hal yang terkait dengan ide untuk memahami . tindakan orang Menurutnya Weber, suatu aksi atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang memiliki sifat sosial jikalau itu diperhitungkan oleh orang lain dalam suatu masyarakat. 8 Fokus utama teori interaksi simbolik adalah pengaruh interpretasi terhadap individu yang tindakannya Tindakan seseorang dipengaruhi oleh cara menafsirkan perilaku orang lain, dan interpretasi tersebut memberikan dampak pada individu yang tindakannya ditafsirkan. Interaksi simbolik terjadi dalam berbagai konteks komunikasi, baik keluarga, masyarakat, sesama jenis, maupun lawan jenis. Pemakaian simbol sebagai alat menyampaikan pesan dan masyarakat/manusia dikarenakan perilaku manusia terhadap sesama dipengaruhi oleh makna yang diberikan oleh orang lain terhadap komunitas itu. George Herbert Mead menjadi salah satu tokoh yang membahas mengenai teori interaksionisme simbolik. Bagi Mead, manusia mempunyai kemampuan untuk mengunakan berdasarkan makna simbolik di dalam suatu keadaan tertentu. 10 Dalam pandangan Mead, pribadi memiliki dua sisi, yaitu . Kapasitas terpenting yang mengalami perkembangan ketika orang mengalami interaksi simbolik ialah mind dan person. Pikiran . sebagai fenomena sosial, bukanlah sekadar percakapan internal seseorang dengan dirinya sendiri. Pikiran berkembang dan terbentuk melalui proses sosial. Proses sosial mendahului pembentukan pikiran dan proses sosial tidak dihasilkan oleh pikiran. Lantas, apa peran pikiran bagi individu? Menurut Mead, pikiran . memiliki kemampuan untuk menghasilkan bukan hanya satu respons, tetapi juga respons dari komunitas secara Artinya, pikiran memberikan respons terhadap suatu organisasi tertentu. Ketika individu memiliki respons tersebut dalam dirinya, itulah yang disebut pikiran. Diri . memungkinkan individu untuk berpartisipasi dalam percakapan atau komunikasi 8 Sindung Haryanto. SPEKTRUM TEORI SOSIAL: Dari Klasik Hingga Postmodern, ed. Rina and Meita Sandra, 1st ed. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 197. 9Angel Yohana and Muhammad Saifulloh. AuInteraksi Simbolik Dalam Membangun Komunikasi Antara Atasan Dan Bawahan Di Perusahaan,Ay WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi 18 . : 122Ae30. 10 Morissan. Teori Komunikasi Individu HIngga Massa (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2. , 72-73 132 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. dengan orang lain. Berpartisipasi di sini berarti individu dapat menyadari apa yang sedang dikatakannya dan memperhatikan apa yang disampaikan kepada orang lain, kemudian menentukan apa yang akan dikatakan sehubungan dengan relasi dengan orang lain. Person memiliki ketangkasan/kecakapan untuk menerima pribadinya sendiri sebagai objek dan pada satu pihak sebagai subjek. 11 Proses komunikasi reflektif mungkin tidak terlihat secara langsung, tetapi memunculkan kesadaran atau pikiran . tentang diri. Menurut Mead, perkembangan diri seseorang terjadi melalui interaksi dengan masyarakat. Jika proses berpikir merupakan percakapan internal, maka konsep diri . secara tidak tampak merujuk pada identitas diri yang diungkapkan oleh orang lain. Masyarakat terbentuk melalui pertukaran gerakan tubuh dan bahasa . yang mencerminkan proses mental. Simbol yang disampaikan melalui gerakan tubuh dan bahasa ini mengandung makna, yang memungkinkan terjadinya komunikasi dalam masyarakat serta terbentuknya relasi antar Komunikasi yang sejati hanya bisa terjadi dalam masyarakat jika simbol tersebut dipahami oleh semua pihak, dan masing-masing pihak berusaha untuk mengerti makna yang disampaikan oleh pihak lainnya. Konsep utama Mead adalah manusia yang terjalin dengan masyarakatnya melalui bahasa dan interaksi sosial. Oleh karena itu, dalam memahami suatu interaksi dengan orang lain. Mead berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengadopsi perspektif yang berbeda. 13 Aksi dari manusia tidaklah muncul karena adanya kekuatan luar, atau disebabkan oleh kekuatan dalam tetapi, semuanya berdasar pada penghayatan terhadap apa yang ia hadapi. Individu menjadi suatu anggota masyarakat berhubungan tidak hanya melalui interaksi simbolik, tetapi juga melalui saling berbagi sharing simbol, di mana Mead memandang bahasa sebagai salah satu simbol. Mead juga mengartikan simbol sebagai gesture / gerakan non-verbal dan komunikasi non-verbal. Teologi Lokal Baik teologi begitu pula dengan aktivitas berteologi sering kali terkait dengan kondisi . lokal tertentu, yaitu konteks di mana keyakinan seseorang terbentuk dan berkembang dalam kenyataan hidup yang dihadapi atau dijalani. 15 Terdapat begitu banyak ahli atau para tokoh teolog yang membicarakan atau membahas konsep atau teori mengenai teologi lokal, salah satunya ialah Clemens Sedmark. Dalam memulai perjalanan teologi Teresia Noiman Derung. AuInteraksionisme Simbolik Dalam Kehidupan Bermasyarakat,Ay SAPA: Jurnal Kateketik Dan Pastoral Vol 2 . : 118Ae31. 12 George H. Mead. Mind. Self, and Society: From The Standpoint Of A Social Behavorist (Chicago: University of Chicago Press, 1. Izak Lattu. AuPerformative Interreligious Engagement: Memikirkan Sosiologi Hubungan Lintas Agama,Ay in Sosiologi Agama. Pilihan Berteologi Indonesia : 25 Tahun Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana (Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana, 2. 14 Mead. Mind. Self, and Society: From The Standpoint Of A Social Behavorist. , 135-136. Theovania Matatula. AuTeologi Orang Basudara: Rancang Bangun Teologi Lokal GPMAy (Tesis. Universitas Kristen Satya Wacana, 2. , 14. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 133 lokalnya. Sedmark mengajak orang-orang untuk "bangun". Teologi menjadi undangan agar terjaga, sadar dan berperhatian, serta mempunyai perasaan peka. Sedmark mengungkapkan bahwa teologi adalah tentang upaya untuk "terbangun dari tidur", sadar akan situasi yang menyangkut penderitaan orang lain dan semua makhluk. Seseorang yang memiliki kesadaran atau memiliki perhatian penuh, akan dapat membawa perubahan signifikan serta transformasi dalam dunia, karena teologi berkaitan dengan kepedulian terhadap kehidupan, dan tentang menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab. 16 Teologi membahas hakekat manusia dalam terang wahyu Allah. Para teolog perlu mempelajari kehidupan manusia yang merupakan cerminan dari cahaya penciptaan Tuhan, serta meneliti ciptaan Tuhan dalam konteks kehidupan-Nya bersama manusia. Oleh karena itu, pembahasan tentang eksistensi kehidupan adalah bagian dari teologi. Jika ilmu teologi membahas kehidupan, maka ilmu teologi juga perlu mengkaji konteks khusus tempat manusia hidup. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan manusia dibentuk dan terikat pada konteks lokal tertentu, seperti budaya, etnis, ras, sejarah, ekonomi, politik, dan sebagainya. Dalam berteologi, seseorang tidak dapat mengabaikan konteks lokalnya. Sedmark menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cara hidup dan kegiatan yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat. Kebudayaan mencerminkan keinginan manusia untuk merasa aman, menemukan makna, serta menghadapi kekacauan dalam hidup. Kebudayaan menjelaskan identitas dan juga berfungsi untuk menjawab pertanyaan "siapakah saya?", yang juga merupakan pertanyaan fundamental dalam teologi. 18 Bagi Sedmark, perlu adanya upaya mempercakapkan antara paham teologis dan konsep Para teolog perlu berupaya untuk menyelaraskan pesan Yesus dalam konteks budaya-Nya ke konteks budaya lokal. Akan tetapi, tidak terdapat yang namanya teologi AusuperkulturalAy/Aubudaya Kristen universalAy. Dibutuhkan dialog di antara teologi dan kebudayaan, dikarenakan orang Kristen hidup dalam budaya lokal, dan tidak hidup dalam budaya Kristen . onteks di mana Kekristenan pertama kali muncul dan berkemban. Sedmark menyoroti bahwa teologi berkembang sebagai suatu respons, khususnya dalam hubungan dengan kondisi sosial. Memahami konteks sosial menjadi syarat utama untuk mengetahui asal-usul dan nilai-nilai teologi tertentu. Inilah alasan mengapa teologi diharapkan untuk memperhatikan kondisi sosial dan memiliki kesadaran penuh akan situasi yang ada, sehingga hal ini menjadi pertanyaan penting yang perlu diajukan saat merumuskan teologi lokal. 20 Peran seorang teolog ditentukan oleh konteks sosial dan budaya, sehingga diperlukan adanya dialog yang terbuka dan jujur dengan masyarakat. Hal ini penting karena, pertama, seorang teolog selalu menjalankan tugasnya dalam suatu 16 Clemens Sedmark. Doing Local Theology: A Guide for Artisans of a New Humanity (Maryknoll. New York: Orbis Books, 2. 17 Ibid. , 70-71. 18 Ibid. , 72. 19 Ibid. , 80. 20 Ibid. , 95. 134 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. struktur sosial tertentu, di mana institusi menjadi bagian penting dari teologi yang autentik. Kedua, teolog harus menghormati dan memahami fakta sosial tentang keberadaan manusia serta realitas sosial. Ketiga, tugas utama teolog adalah mengangkat isu ketidakadilan dan kejahatan yang ada dalam masyarakat. 21 Teolog memiliki tugas untuk mengeksplorasi dan menganalisis kondisi sosial. Membahas tentang Tuhan, setidaknya secara tidak langsung, juga melibatkan pembahasan mengenai konteks sosial. Teologi menyediakan penilaian yang tajam terhadap elemen-elemen penting dalam situasi sosial. Bagian dari teologi lokal merujuk pada tindakan menganalisis secara sosial diperlukan dalam upaya memberikan keadilan pada konteks. Teologi harus mendialogkan analisis sosial dengan politik dalam memberikan rasa adil pada tatanan sosial lokal. Mengetahui kenyataan sosial dari suatu konteks sosial merupakan bagian yang perlu untuk dipikirkan agar tidak terjebak dalam penilaian yang apriori. 22 Seseorang tidak akan dapat membicarakan tentang Tuhan jikalau tidak membicarakan konteks dari masyarakat manusia, begitulah pernyataan dari Sedmark. Klaim tentang hakikat Tuhan pada suatu kebudayaan memberitahukan berbagai hal tentang tatanan nilai kebudayaan tersebut. Manasumo raka? : Model Interaksionisme Simbolik Masyarakat Toraja Bahasa Toraja merupakan suatu kekayaan budaya yang dimiliki oleh orang Toraja dan dalam bahasa atau ungkapan tersebut akan selalu terselip suatu makna baik biasa/harafiah serta makna simbolik yang mengandung norma-norma besar serta menjadi suatu nilai kearifan lokal dikarenakan bahasa tersebut merupakan bagian dari kebiasaan praktik hidup. Salah satu sapaan yang menjadi kekayaan budaya orang Toraja yaitu ungkapan manasumo raka? Dalam terjemahannya bahasa atau sapaan tersebut diartikan sebagai Auapakah nasi sudah matang?Ay. Bagi sebagian besar orang. Aumanasumo raka?Ay barangkali merupakan pertanyaan yang menimbulkan sebuah kebingungan, dikarenakan sapaan tersebut menanyakan soal matang atau tidaknya nasi saat berkunjung, apalagi jikalau seseorang mendapatkan pertanyaan tersebut dalam keadaan tidak bermaksud untuk Tanduk, dkk. , melihat bahwa sapaan manasumo raka? sama sekali tidak bermaksud untuk menanyakan apapun mengenai persoalan memasak, meski kalimat tanya tersebut akan dijawab io manasumo . a, sudah matan. Dalam kondisi tertentu, penanya terkadang masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa butir nasi untuk dimakan sebagai tanda keakraban antara tetangga dengan warga daerah tertentu. Di daerah Toraja, sapaan manasumo raka? bukanlah mengenai persoalan perut semata. Jikalau melihat dari segi 21 Ibid. , 96-98. 22 Claudya Ingrid Sahertian. AuSakralitas Burung Enggang Dalam Teologi Lokal Masyarakat Dayak Kanayatn,Ay EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristen 5 . : 58Ae75. 23 Sedmark. Doing Local Theology: A Guide for Artisans of a New Humanity. , 104-105 24 Tanduk. Mangera, and Sallolo. AuEtnolech Determination of Toraja Community Kinship in a Foreign Land,Ay in Internasional Congress Linguistics Society. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 135 kontekstual sosial budaya Toraja, sapaan tersebut merupakan sebuah frasa yang diucapkan untuk menyapa, memberi salam saat berjumpa, sekaligus menanyakan kabar dalam sebuah harapan dan doa bahwa orang yang disapa dalam keadaan baik-baik saja. Hal ini sejalan dengan apa yang Lattu lihat, bahwa manusia terhubung dengan masyarakatnya melalui bahasa dan interaksi sosial. Sebagaimana fungsinya sebagai sapaan, frasa tersebut pun melahirkan dialog yang khas bagi orang Toraja. Bagi Yosaka manasumo raka? merupakan id login orang Toraja, balasan dari sapaan tersebut akan dibalas dengan mengetakan manasumo ta lenduAo opa . udah masak, mari singga. yang dimana ini dianggap sebagai passwordnya. Sapaan ini menjadi suatu identitas yang dibawa oleh orang Toraja dimanapun mereka berada. Manasumo raka? merupakan pegangan yang menjadi pengingat bahwa AusayaAy merupakan orang Toraja. Patiung dan Sitoto melihat ungkapan manasumo raka? diucapkan oleh masyarakat Toraja saat mereka berkunjung atau datang secara tiba-tiba ke rumah tetangga atau masyarakat yang lain bahkan saat berkunjung ke keluarganya. Saat sapaan tersebut diucapkan maka kedua bela pihak, baik tamu maupun tuan rumah sedang berusaha untuk membangun hubungan atau interaksi interpersonal yang baik. Mengapa dalam membangun interaksi harus dibuka dengan meminta nasi? Pada umumnya orang Toraja atau masyarakat menanak nasi . nnasu boAoboAo/maAonas. menggunakan tiga unsur kesatuan yakni panci yang terbuat dari tanah liat, air, serta api yang diletakkan di atas tiga batu atau tungku yang menyatu . allu batu lalika. Tiga bagian atau unsur tersebut menjadi satu kesatuan yang melambangkan rahasia kehidupan abadi. Panci tanah liat diletakkan di atas bara api di sebelah kompor/tungku sampai matang. Panci harus diputar dalam tiga arah, yaitu timur, barat melalui utara, yang kemudian melambangkan bahwa kehidupan berasal dari timur . umber kehidupa. menuju ke barat . umber kebangkita. melalui utara . ilayah Puang Matu. Sapaan atau bahasa manasumo raka? tersebut kemudian dipahami bahwa Auapakah langit dan bumi masih milikmu?Ay atau Auapakah anda masih memiliki umur panjangAy, yang kemudian dijawab oleh tuan rumah manasumo, ta lenduAoopa yang berarti Auya kami/saya memilikinya, semoga anda juga memilikinya, agar kita berdua mendapat keselamatanAy. Sapaan manasumo raka? memiliki suatu makna sosio-religi bagi seseorang yang mengucapkannya disaat berkunjung dan sebaliknya, bagi yang menerima atau yang Melihat pemaknaan tersebut dengan meminjam konsep Mead mengenai manusia yang memiliki kemampuan menggunakan simbol berdasar pada makna simbolik simbol 28 manusia . itu saling terhubung dengan masyarakatnya . melalui bahasa 25 Lattu. AuPerformative Interreligious Engagement: Memikirkan Sosiologi Hubungan Lintas Agama. Ay Yonas Yosaka. AuMenerjemahkan AoManasumo Raka?Ao Sebagai Sapaan Keakraban Sekaligus Perlawanan,Ay Loka Banne. Diakses pada 19 November 2023. 27 Patiung and Sitoto. AuThe Efforts Of Maintsining Torajan Lenguage As A Mother Tongue of Torajan People From The Threat of Extincion: A Preliminary Study. Ay 28 Mead. Mind. Self, and Society: From The Standpoint Of A Social Behavorist. , 42. 136 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. dan interaksi sosial. 29 Dapat dipahami bahwa manusia Toraja memiliki kemampuan untuk menggunakan sapaan manasumo raka? berdasarkan makna simbolis yang muncul dalam situasi spesifik, melalui pemanfaatan simbol sapaan tersebut. Manasumo raka? : Bahasa Simbolik dan Living Teks Masyarakat Toraja Sebagai Sebuah Teologi Lokal Menemukan sumber pengetahuan teologis di luar teks kitab suci merupakan bagian penting yang perlu dilakukan dalam lingkup masyarakat beragama dan beradat/berbudaya, teologi tidak harus terbatas dan dipenjara oleh tinta, dan tidak hanya terfokus pada karya teologi klasik serta kanon. Teks lebih luas dari sekedar tulisan tinta, karena teks adalah pesan bukan tinta demikian yang kemudian menjadi penegasan Lattu. 30 Berteologi dapat pula dimunculkan/dihadirka dari berbegai narasi masyarakat sebagai living teks . eks yag Era sebelumnya, masyarakat Indoesia telah hidup dalam tradisi kelisanan dan barulah mengenal tinta pada era perdagangan rempah. 31 Komunitas tradisional atau lokal membangun hubungan serta pemahaman tentang Tuhan, dewa, dan sesama melalui tradisi lisan, termasuk cerita, ritual, dan simbol-simbol. Pendekatan teologi yang berfokus pada tradisi lokal dan pengalaman hidup berfungsi sebagai upaya mendekonstruksi teologi yang terlalu formal atau terpisah dari konteks masyarakat berwajah barat. 32 Pengetahuan asal/asli suatu masyarakat mampu menjadi landasan yang penting bagi perkembangan dan konstruksi teologi, serta menjadi pembeda antara kelompok masyarakat, dikarenakan aspek sui generis dan kesadaran kolektif adalah upaya komunitas untuk membangun kembali masa lalu, menjalani kehidupan saat ini, dan mempersiapkan masa depan. Pengetahuan yang terkandung dalam memori kolektif ini disimpan melalui bentuk-bentuk kelisanan, seperti ritual, simbol, dan narasi lisan demikianlah pernyataan Izak Lattu. Tentunya apa yang dijelaskan oleh Lattu mengakar pula dalam perjalanan kehidupan masyarakat Toraja sejak dahulu hingga saat ini, sehingga masyarakat tidak harus selalu dipaksa untuk mengembangkan pemahaman teologisnya terhadap berbagai situasi kompleksnya hanya dengan tinta . , tetapi bisa juga dipaksa melalui tanda . imbol 29 Lattu. AuPerformative Interreligious Engagement: Memikirkan Sosiologi Hubungan Lintas Agama. Ay Theofilus Welem. AuMenangkal Radikalisme Agama Menguatkan Perdamaian Umat Di Toraja Melalui Penggunaan Kitab Keagamaan Dan Nilai Budaya Orang Toraja,Ay PURWADITA: Jurnal Agama dan Budaya 7 . : 72Ae83. Izak Lattu. AuTeologi Tanpa Tinta: Mencari Logos Melalui Etnografi Dan Folklore,Ay in Membangun Gereja Sebagai Gerakan Yang Cerdas Dan Solider: Apresiasi Terhadap Kegembalaan Ignatius Kardinal Suharyo, ed. Fransiskus Purwanto and A. Edy Warsono (Yogyakarta: Sanata Dharma Univeristy Press, 2. 32 Welem. AuMenangkal Radikalisme Agama Menguatkan Perdamaian Umat Di Toraja Melalui Penggunaan Kitab Keagamaan Dan Nilai Budaya Orang Toraja. Ay Lattu. AuTeologi Tanpa Tinta: Mencari Logos Melalui Etnografi Dan Folklore,Ay in Membangun Gereja Sebagai Gerakan Yang Cerdas Dan Solider. , 91-94. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 137 dan tindakan simboli. , kata-kata . isan atau naras. , maupun melalui karsah, seperti melalui sapaan manasumo raka?, karena masyarakat Toraja pada hakikatnya mempunyai kotak ilmu pengetahuannya masing-masing. Seiring dengan itu, melalui penjelasan Sedmark, teologi merupakan usaha untuk menyadari situasi sosial. Individu yang menyadari keadaan ini akan membawa banyak perubahan serta transformasi di dunia, karena teologi berkaitan dengan perhatian terhadap kehidupan, sehingga menjalani teologi berarti menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab34, upaya untuk menyusun teologi yang berlandaskan pada tradisi lokal dan pengalaman hidup . iving tek. masyarakat Toraja dengan mengambil tradisi lisan ini merupakan sebuah upaya membangun ulang postur yang dianggap kolonial, yang cenderung mengesampingkan mengabaikan pengetahuan lokal masyarakat dalam menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, maupun lainnya. Melalui gambaran tersebut, maka dari itu penggunaan nilai budaya hidup orang Toraja yang telah lama ada secara khusus dalam hal ini sapaan manasumo raka?, dapat menjadi suatu teks atau sumber non-teologis dalam pengetahuan lokal masyarakat, yang dapat digunakan untuk mengembangkan model teologi persahabatan agar masyarakat Toraja dapat terus hidup damai satu dengan yang lainnya. Berbagai makna beserta nilai budaya dan tradisi lokal yang telah ada sejak dahulu merupakan sumber pengetahuan masyarakat yang seharusnya terus dilestarikan dan dipahami dalam praktek kehidupan sehari-hari pada masa kini dan seterusnya, sehingga teks-teks tersebut tidak dilupakan ditengah derasnya arus globalisasi. Sapaan Simbolik Manasumo raka? dalam Bingkai Menjaga Relasi Masyarakat Lintas Iman di Toraja Membahas tema tentang hubungan lintas iman . merupakan salah satu topik yang begitu penting dalam masyarakat yang hidup dalam kemajemukan. Masyarakat yang beragam secara sosiologis akan menimbulkan berbagai konsekuensi penting dalam bidang kehidupan sosial. Contohnya, stabilitas, keharmonisan, kerukunan, persaingan, bahkan Sikap eksklusif yang muncul dari akar primordialisme sempit, seperti berdasarkan suku, agama, ras, dan golongan, dapat memicu timbulnya konflik horizontal di antara sesama warga negara. 35 Persoalan mengenai disharmoni, perpecahan serta konflik merupakan masalah yang selalu dihadapi oleh berbagai kelompok masyarakat dan bangsabangsa di dunia ini dalam intensitas yang berbeda-beda. Dalam persoalan tersebut banyak upaya yang dilakukan untuk mencegah, dan menyelesaikan perseteruan maupun konflik untuk mewujudkan kedamaian dan kestabilan dalam kehidupan sosial. Hal ini karena 34 Sedmark. Doing Local Theology: A Guide for Artisans of a New Humanity. , 1-3. 35 Lukman Hakim. AuStrategi Komunikasi Lintas Agama FKUB Surabaya Dalam Menangani Konflik,Ay Al-Mada: Jurnal Agama. Sosial Dan Budaya 1 . : 19Ae34. 138 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. keadaan yang damai, harmonis, dan stabil menjadi prasyarat bagi kemajuan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat, baik secara fisik maupun spiritual. Toraja merupakan daerah yang terdiri dari masyarakat yang majemuk dalam segi agama sehingga itu diperlukannya sikap atau tindakan dalam hal membangun hubungan atau relasi yang baik secara terus-menerus agar tercipta kedamaian dan keharmonisan antara satu masyarakat dalam berbagai perbedaan kepercayaan agama, apalagi diketahui bahwa dalam falsafah hidup orang Toraja, nilai kedamaian, ketenteraman, ketenangan . merupakan salah satu dari beberapa nilai-nilai yang dikejar oleh manusia Toraja. 37 Hal ini juga dicatat oleh Kobong, bahwa sesungguhnya orang Toraja bukanlah orang yang agresif-expansif, mereka justru berusaha untuk menjaga kedamaian. Nilai lain dapat dikorbankan demi terciptanya sebuah karapasan . 38 Dan untuk menjaga hubungan bersama orang Toraja terkadang menuangkannya dalam kebudayaan yang mereka miliki. Bagi masyarakat Toraja, budaya memiliki arti sebagai sarana untuk mengekspresikan jati diri, kehidupan sosial, dan perasaannya. 39 Dan semua hal itu dapat dilakukan dan diwujudkan dalam hal yang sederhana melalaui sapaan. Sapaan Manasumo raka? pada dasarnya merupakan sebuah pertanyaan yang hanya memiliki satu jawaban yaitu Jikalau ontologi mempertanyakan suatu eksistensi . yang ada, maka pertanyaan manasumo raka? menggambarkan orang Toraja yang mempertanyakan keberadaan cinta di dalam rumah bahkan secara khusus menjadi sebuah pertanyaan pada diri orang Toraja itu sendiri. Linggi dalam tulisannya, menjelaskan bahwa dalam perjalanan pekabaran Injil di Toraja yang dilakukan oleh seorang misionaris dari Gereformeerde Zendelingsbond-Belanda (GZB) yaitu Antonie. van de Loosdratch, sapaan manasumo raka? dilihat memiliki peran penting dalam terciptanya hubungan baik antara sang misionaris dengan masyarakat Toraja yang pada saat itu masih memeluk kepercayaan Aluk Todolo. Melalui sapaan manasumo raka? Antonie dapat diterima baik oleh masyarakat Toraja . , dan membuatnya dapat membangun hubungan yang baik dengan masyarakat yang ada. 40 Frasa atau sapaan manasumo raka? bukan hanya sekadar sapaan biasa dalam kehidupan keseharian yang 36 Naomi Sampe. AuMenangkal Radikalisme Agama Melalui Akulturasi Agama Dan Budaya Toraja,Ay in Teologi Kontekstual Dan Kearifan Lokal Toraja, ed. Binsar Jonathan Pakpahan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 102. 37 Yanni Paembonan. AuPendidikan Karakter Anak Usia Dini Berbasis Karapasan,Ay in Teologi Kontekstual Dan Kearifan Lokal Toraja, ed. Binsar Jonathan Pakpahan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 150. 38 Th. Kobong. Manusia Toraja: Dari Mana-Bagaimana-Ke Mana (Toraja: ITGT, 1. , 10. Yulianus Pongtuluran. Ichlaus Amal, and Erwan Agus Purwanto. AuManipulasi Budaya Dalam Politik Pada Pemekaran Daerah: Studi Kasus Di Toraja. Propinsi Sulawesi Selatan,Ay Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi 11 . : 35Ae50. 40 Disampaikan dalam Seminar Budaya yang berjudul AuMengenal Perbedaan Budaya Toraja Sebelum & Sesudah Zending MasukAy, seminar ini dilakukan oleh Gereja Toraja Kalsis Pulau Jawa pada tanggal 11 Juni 2022. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 139 diucapkan masyarakat Toraja, sapaan ini mengandung unsur kelugasan, persahabatan, kekeluargaan, keterbukaan, mental egaliterial, sekaligus juga sebagai ekspresi anti-ego yang amat khas sebagai identitas orang Toraja. Sapaan ini bukan hanya sebagai simbol keakraban, akan tetapi pertanyaan yang eksentrik dalam kehidupan masyarakat Toraja ini kemudian hadir melalui pemaknaan yang lebih kritis lagi. Frasa ini menjadi simbol dari upaya orang Toraja untuk memberontak melawan sekat yang memisahkan. Sekat-sekat tersebut antara lain ialah status sosial, status ekonomi, usia, dan tidak dipungkiri dalam hal ini mengenai perbedaan agama. Hal ini yang kemudian dimaksud oleh Mead bahwa tindakan dari manusia . didasarkan pada pemaknaan terhadap sesuatu yang dihadapinya. Di hadapan sapaan manasumo raka?, semua sekat-sekat dalam masyarakat . baik strata sosial, peredaan pedidikan dan ekonomi, bahkan dalam hal ini perbedaan kepercayaan . , lebur dan menjadi bersifat relatif. 41 Sehingga itu dapat dikatakan bahwa dalam perjumpaan antara individu dengan individu dan masyarakat yang berbeda, batasan atau sekat tersebut dapat menjadi lebur melalui sapaan ini, sehingga ketika masyarakat yang beragama Kristen, atau sebaliknya, mengunjungi atau sambil bertamu ke rumah masyarakat yang berbeda agama dengan dirinya, maka tidak perlu canggung untuk memikirkan apa yang harus diucapkan pada saat berkunjung atau bertamu dikarenakan sapaan manasumo raka? dapat digunakan dan sapaan tersebut dapat diterima dan diucapkan oleh seluruh komunitas Toraja yang memiliki beragam latar belakang agama. KESIMPULAN Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa: Pertama, sapaan manasumo raka? . pakah sudah masak/matan. merupakan sapaan khas menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Toraja yang dapat digunakan sebagai simbol untuk membangun hubungan serta interaksi dalam lingkup masyarakat, bukan hanya mengenai persoalan perut semata tetapi juga merupakan suatu sapaan cinta. Kedua, jikalau melihat dari segi kontekstual sosial budaya Toraja, sapaan manasumo raka? bukan hanya sekedar sapaan biasa dalam kehidupan masyarakat Toraja, sapaan ini mengandung unsur kelugasan, persahabatan, kekeluargaan, keterbukaan, mental egaliterial, sekaligus juga sebagai ekspresi anti-ego yang amat khas sebagai identitas orang Toraja. Ketiga, manasumo raka? diucapkan untuk menyapa, memberi salam saat berjumpa, sekaligus menanyakan kabar dalam sebuah harapan dan doa bahwa orang yang di sapa dalam keadaan baik-baik saja. Sapaan ini menjadi simbol upaya orang Toraja untuk membuka sekat-sekat yang memisahkan masyarakat, baik itu dalam hal status sosial, status ekonomi, usia, dan tidak dipungkiri dalam hal ini mengenai perbedaan iman . , sehingga dapat dilihat bahwa ungkapan ini memiliki makna dan nilai yang sangat dan lebih mendalam dari pada ungkapan atau sapaan keagamaan lainnya. Yosaka. AuMenerjemahkan AoManasumo Raka?Ao Sebagai Sapaan Keakraban Sekaligus Perlawanan. Ay, diakses pada 19 Agustus 2022. 140 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Keempat. Manasumo raka? Merupakan salah satu dari sekian bayak kekayaan budaya yang dimiliki oleh orang Toraja berupa teks hidup yang dapat menjadi sumber teologi lokal serta menjadi salah satu bentuk identitas ka-Torayaan. Sehingga melalui gambaran tersebut sapaan manasumo raka? menjadi bergitu penting untuk tetap dilestarikan dan diwariskan segala nilai dan mekananya bahkan sejarahnya kepada generasi selanjutnya dalam kehidupan masyarakat Toraja dimana pun mereka berada dikarenakan sapaan ini mengandung nilai-nilai yang luhur dan sangat bermakna bagi kehidupan masyarakat Toraja secara khusus dalam konteks keberagaman kehidupan beragama di Toraja, sehingga kebersamaan dan penerimaan serta harmonisasi dapat terus terjaga dan terikat dengan baik dalam menghadapi berbagai situasi keadaan yang caruk maruk di hari ini bahkan untuk hari atau waktu-waktu ke depannya. Daftar Pustaka