Volume 7. Nomor 2, 2026, hlm 351-362 Jurnal Terapan Teknik Industri ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 https://jurnal. id/index. php/jenius Strategi pemilihan supplier lokal part engine mounting menggunakan fault tree analysis dan AHP pada industri komponen otomotif Local supplier selection strategy for engine mounting parts using fault tree analysis and AHP in the automotive component industry Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin. Rustam Sihombing *Universitas Borobudur. Raya Kalimalang No. Cipinang Melayu. Kota Jakarta Timur 13620 *Email: m. mawanarifin@borobudur. INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK HistoriArtikel Artikel dikirim 10/01/2025 Artikeldiperbaiki 09/02/2026 Artikel diterima 08/03/2026 Industri otomotif saat ini menghadapi persaingan yang semakin ketat sehingga menuntut perusahaan memiliki sistem rantai pasok yang andal, efisien, dan responsif terhadap gangguan pasokan. Salah satu permasalahan utama yang sering terjadi adalah keterlambatan pengiriman material, terutama pada komponen yang masih bergantung pada supplier luar negeri. Pada proyek engine mounting LH D20N, perusahaan mengalami keterlambatan pasokan part damper dari supplier Jepang yang berdampak signifikan terhadap jadwal produksi. Selama ini, pemilihan supplier umumnya hanya didasarkan pada pertimbangan harga, sehingga belum mempertimbangkan risiko keterlambatan secara Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan mengintegrasikan metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam satu kerangka pengambilan keputusan. FTA digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab keterlambatan sebagai dasar kebutuhan lokalisasi supplier, sedangkan AHP digunakan untuk melakukan seleksi supplier secara objektif berdasarkan kriteria harga, kualitas, pengiriman, dan layanan. Integrasi kedua metode ini menghasilkan pendekatan yang lebih sistematis, berbasis risiko, dan dapat direplikasi sebagai model pengambilan keputusan strategis dalam manajemen rantai pasok industri otomotif. Kata Kunci: Material Part Damper. Fault Tree Analysis (FTA). Analytical Hierarchy Process (AHP). Software Expert Choice ABSTRACT The automotive industry is currently facing increasingly fierce competition, requiring companies to have a reliable, efficient, and responsive supply chain system to deal with supply disruptions. One of the main problems that often occurs is the delay in material delivery, especially for components that still depend on foreign suppliers. In the LH D20N engine mounting project, the company experienced a delay in the supply of damper parts from a Japanese supplier, which significantly impacted the production schedule. Supplier selection has generally been based solely on price considerations, thus not fully considering the risk of delays. This study provides a scientific contribution by integrating the Fault Tree Analysis (FTA) and Analytical Hierarchy Process (AHP) methods into a single decision-making framework. FTA is used to identify the root causes of delays as a basis for supplier localization needs, while AHP is used to objectively select suppliers based on price, quality, delivery, and service criteria. The integration of these two methods results in a more systematic, risk-based approach that can be JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. 352 Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin. Rustam Sihombing Strategi pemilihan supplier lokal part engine mounting menggunakan fault tree analysis dan AHP pada industri komponen otomotif replicated as a strategic decision-making model in automotive supply chain Keywords: Damper Part Material. Fault Tree Analysis (FTA). Analytical Hierarchy Process (AHP). Expert Choice Software Pendahuluan Industri komponen otomotif saat ini dituntut untuk semakin efisien dan memiliki produktivitas yang tinggi agar mampu menghasilkan produk dengan daya saing yang optimal, baik di pasar domestik maupun internasional . Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan dukungan yang kuat dari supplier sebagai pihak yang berperan menyediakan bahan baku . aw materia. maupun komponen pendukung bagi operasional perusahaan . Industri manufaktur, khususnya industri perakitan otomotif, sangat bergantung pada ketersediaan material dari supplier, bahkan beberapa assembly parts atau semi finished product juga berasal dari pihak luar. Pengalaman menunjukkan bahwa kelancaran rantai pasok, baik dari segi ketepatan waktu pengiriman, kuantitas, maupun kualitas produk, sangat memengaruhi proses produksi di lini produksi serta berdampak langsung terhadap efisiensi dan kualitas produk akhir . Permasalahan yang terjadi pada proyek engine mounting LH D20N adalah keterlambatan material part damper yang diimpor dari Jepang sehingga menyebabkan delay delivery ekspor. Berdasarkan permasalahan, upaya perbaikan yang relevan melakukan lokalisasi supplier. Dalam pemilihan supplier lokal, pelanggan menginginkan harga yang lebih kompetitif dengan kualitas yang setara dengan produk impor . Oleh karena itu, perusahaan tidak hanya dituntut untuk mengurangi keterlambatan, tetapi juga memilih supplier lokal yang mampu memberikan keunggulan kompetitif secara berkelanjutan. Penelitian ini berfokus pada pengambilan keputusan pemilihan supplier lokal sebagai solusi atas permasalahan keterlambatan material, dengan tujuan meningkatkan keandalan pasokan dan daya saing perusahaan dalam memenuhi permintaan pasar ekspor. Berdasarkan data historis kinerja supplier periode 2022Ae2024, fluktuasi harga rata-rata mencapai 9,6% per tahun, frekuensi klaim kualitas rata-rata 6 kali per tahun, serta keterlambatan pengiriman rata-rata 9 kali per tahun dengan tren peningkatan yang signifikan pada tahun 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan tidak hanya terjadi pada aspek pengiriman, tetapi juga pada ketidakstabilan harga dan kualitas. Dengan demikian, pemilihan supplier tidak lagi dapat didasarkan pada satu kriteria saja, melainkan memerlukan pendekatan multikriteria yang mempertimbangkan risiko secara menyeluruh. Berikut dapat dilihat rekap data laporan harga, kualitas, dan pengiriman tahun 2022-2024, yang ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Rekap data laporan harga, kualitas, dan pengiriman tahun 2022-2024. Kriteria Tahun Rata-Rata Per Penilaian Tahun Harga (Fluktuasi Harg. Kualitas (Claim Frekuens. 7 kali 6 kali 4 kali 6 kali Pengiriman (Delay Frekuens. 6 kali 8 kali 12 kali 9 kali Pemilihan supplier merupakan aktivitas strategis dalam fungsi pembelian karena komponen, bahan baku, dan persediaan merepresentasikan proporsi biaya yang signifikan terhadap produk akhir . Oleh karena itu, pengambil keputusan memerlukan alat analisis yang mampu menangani permasalahan kompleks agar keputusan yang dihasilkan lebih objektif dan berkualitas . Kesalahan dalam pemilihan supplier dapat berdampak langsung pada terganggunya proses produksi dan operasional perusahaan. Industri komponen otomotif berbasis rubber ini memproduksi part hose, damper, dan anti-vibration, dengan sumber pasokan berasal dari supplier lokal maupun impor dari China dan Jepang. Untuk mengurangi ketergantungan impor, perusahaan menjalankan program localization, khususnya pada part damper untuk proyek engine mounting LH D20N, dengan tujuan memperoleh harga lebih ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. kompetitif tanpa mengurangi kualitas. Permasalahan utama dalam program ini adalah menentukan supplier lokal yang tidak hanya unggul dari sisi biaya, tetapi juga dari kualitas dan keandalan pengiriman. Selama ini, pemilihan supplier lokal cenderung hanya berdasarkan satu kriteria yaitu harga, sehingga berpotensi menimbulkan risiko jangka panjang seperti keterlambatan pengiriman dan penurunan kualitas . Banyaknya kriteria yang harus dipertimbangkan menuntut penggunaan metode pengambilan keputusan multikriteria. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang mampu menyusun permasalahan secara hierarkis dan mengevaluasi berbagai kriteria secara sistematis, sehingga menghasilkan keputusan pemilihan supplier yang lebih rasional dan berkelanjutan . Metode Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur komponen otomotif kendaraan roda Objek penelitian difokuskan pada proses pemilihan supplier komponen berbahan karet . ubber par. Metode ini digunakan untuk menentukan prioritas supplier rubber part berdasarkan kriteria terpilih. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada kepala departemen dan staf ahli di divisi purchasing, dimana pemilihan responden sebagai informan kunci didasarkan pada pengalaman dan keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan terkait pemilihan supplier . Tahapan penelitian yang ditunjukkan Gambar 1. Gambar 1. Tahapan penelitian. Pengumpulan data pemilihan calon supplier dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: . Penyusuan kuesioner tahap 1: Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria pemilihan supplier berdasarkan studi literatur melalui penyusunan dan penyebaran kuesioner. Penentuan kriteria pemilihan supplier: Tahap ini menghasilkan kriteria-kriteria utama yang digunakan sebagai dasar dalam proses pemilihan supplier. Penyusunan kuesioner tahap 2: Tahap ini dilakukan untuk memperoleh bobot kepentingan masing-masing kriteria melalui kuesioner penilaian. Pengolahan data pada kuesioner tahap 2: Tahap ini merupakan proses analisis data menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas supplier. Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam memecahkan permasalahan penelitian. Tabel 2 menyajikan sumber data yang digunakan sebagai dasar dalam proses pengolahan data. Tabel 2. Teknik pengumpulan data. Jenis Data Metode Pengambilan Data 1 Data penawaran harga part damper Observasi 2 Data umum tentang harga, kualitas. Observasi 3 Data tentang layanan supplier Wawancara Sumber Data Purchasing Purchasing Purchasing Tabel 2 menyajikan jenis data penelitian beserta metode pengambilan dan sumber datanya. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara di divisi purchasing, sehingga seluruh data bersifat primer dan merepresentasikan kondisi aktual perusahaan dalam proses pemilihan 354 Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin. Rustam Sihombing Strategi pemilihan supplier lokal part engine mounting menggunakan fault tree analysis dan AHP pada industri komponen otomotif Hasil dan Pembahasan Industri komponen otomotif telah melakukan berbagai upaya perbaikan dalam proses pengiriman . part damper. Perusahaan melakukan pengawasan terhadap proses pemesanan kepada supplier hingga kedatangan material untuk meminimalkan terjadinya Dalam penelitian ini digunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) untuk menganalisis dan memetakan hubungan sebab-akibat dari permasalahan keterlambatan pengiriman hingga diperoleh faktor penyebab utama serta alternatif solusi yang dapat diterapkan . Hasil analisis FTA terhadap permasalahan delay delivery part damper disajikan pada Gambar 2. Gambar 2. Fault Tree Analysis (FTA) delay part damper. Usulan perbaikan disusun berdasarkan akar permasalahan . inimal cut-se. yang diperoleh melalui analisis Fault Tree Analysis (FTA) . Deskripsi akar masalah dan usulan perbaikannya disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Deskripsi akar permasalahan dan usulan perbaikan. Akar Masalah 1 Rendahnya tingkat terhadap supplier luar negeri Deskripsi Masalah Usulan Perbaikan Kesimpulan Manajemen lebih Dilakukan Lokalisasi memprioritaskan aspek harga management review Supplier dibandingkan pengelolaan terhadap komponen rantai pasok secara impor untuk menyeluruh, sehingga mendukung studi berpotensi menimbulkan risiko bagi perusahaan. 2 Belum adanya Pengendalian oleh Dilakukan evaluasi Lokalisasi pengendalian oleh departemen purchasing terhadap supplier Supplier masih terbatas pada supplier komponen impor lokal akibat rendahnya untuk diajukan kepada proporsi penggunaan manajemen sebagai komponen impor. dasar lokalisasi 3 Belum terbentuknya Perusahaan belum memiliki Penunjukan satu PIC Lokalisasi departemen Ekspor departemen khusus yang khusus ekspor dan Supplier dan Impor menangani kegiatan ekspor impor disertai kajian ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Akar Masalah Deskripsi Masalah Usulan Perbaikan dan impor, sehingga pengendalian terhadap aktivitas belum optimal, khususnya saat terjadi pemeriksaan oleh pihak bea lokalisasi supplier untuk menekan penambahan tenaga Kesimpulan Berdasarkan Tabel 3, dapat disimpulkan bahwa perusahaan perlu melakukan lokalisasi supplier untuk part damper guna mengurangi risiko keterlambatan pengiriman yang berpotensi berdampak pada keterlambatan pengiriman kepada pelanggan. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data hasil pengamatan terhadap aspek harga, kualitas, layanan, dan pengiriman supplier pada periode 2022Ae2024. Data diperoleh dari laporan departemen purchasing. QA (Quality Assuranc. , dan PPC (Production Planning Contro. yang dijelaskan pada Tabel 4. Tabel 4. Rekap data laporan harga, kualitas, layanan dan pengiriman 2022-2024. Kriteria Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Harga (Fluktuasi Harg. Kualitas (Klaim Frekuens. 5 kali 4 kali 1 kali 7 kali Pengiriman (Delay Frekuens. 4 kali 6 kali 2 kali 8 kali Layanan Kemudahan & Kecepatan Dihubungi Setelah data penelitian terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data. Data dianalisis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas kriteria melalui perbandingan berpasangan antar kriteria . Ada empat tahapan atau prinsip dalam memecahkan masalah dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yaitu: . Mendefinisikan masalah dan menetapkan tujuan. : Dalam penerapan AHP untuk pemilihan alternatif, tahap ini digunakan untuk merumuskan alternatif yang akan . Penyusunan Struktur Hirarki Masalah: Dalam penerapan metode AHP, langkah awal adalah menyusun struktur hierarki. Setelah tujuan ditetapkan, tahap selanjutnya adalah menentukan kriteria dalam pemilihan supplier. Pada penelitian ini digunakan kriteria menurut Nydick dan Hill . , yaitu harga, kualitas, pengiriman, dan layanan. Struktur hierarki penelitian ditunjukkan pada Gambar 3. Berdasarkan Gambar 3, struktur hierarki keputusan pemilihan supplier part damper terdiri atas tiga level. Level pertama menunjukkan tujuan keputusan, yaitu pemilihan supplier terbaik. Level kedua berisi kriteria penilaian yang meliputi harga, kualitas, layanan, dan pengiriman. Level ketiga menunjukkan alternatif supplier yang dibandingkan, yaitu supplier A, supplier B, supplier C, dan supplier D. Gambar 3. Diagram struktur hirarki pemilihan supplier part damper. 356 Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin. Rustam Sihombing Strategi pemilihan supplier lokal part engine mounting menggunakan fault tree analysis dan AHP pada industri komponen otomotif . Menentukan prioritas Penentuan prioritas setiap elemen . omparative judgemen. dilakukan melalui penyusunan perbandingan berpasangan yang dituangkan dalam bentuk matriks perbandingan . airwise comparison matri. Pada tahap ini, pengambil keputusan membandingkan tingkat kepentingan antar alternatif menggunakan skala penilaian tertentu. Dalam penelitian ini digunakan skala prioritas perbandingan yang dikembangkan oleh Saaty. Berdasarkan hasil perbandingan pada Tabel 4, diperoleh nilai pembobotan yang selanjutnya disajikan dalam Tabel Tabel 5. Matriks perbandingan berpasangan untuk kriteria harga. Harga Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Tabel 5 menunjukkan matriks perbandingan berpasangan untuk kriteria harga antar Berdasarkan matriks, supplier C dan supplier D memiliki nilai perbandingan yang lebih baik dibandingkan supplier A dan supplier B, yang menunjukkan bahwa kedua supplier relatif lebih kompetitif dari sisi harga. Sebaliknya, supplier A memiliki nilai perbandingan terendah terhadap supplier lainnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa supplier A kurang unggul dalam aspek harga dibandingkan alternatif lainnya. Untuk menyusun matriks perbandingan berpasangan secara lengkap, nilai 1 ditempatkan pada diagonal utama yang menunjukkan bahwa setiap elemen dibandingkan dengan dirinya sendiri memiliki tingkat kepentingan yang Selanjutnya, nilai perbandingan antar supplier ditentukan berdasarkan skala prioritas, sehingga diperoleh matriks perbandingan berpasangan yang lengkap sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 6. Tabel 6. Matriks perbandingan berpasangan untuk kriteria harga. Harga Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Tabel 6 menunjukkan matriks perbandingan berpasangan yang telah dilengkapi untuk kriteria harga. Berdasarkan matriks, supplier C memiliki tingkat keunggulan harga tertinggi dibandingkan alternatif lainnya, diikuti oleh supplier D, supplier B, dan supplier A. Hal ini menunjukkan bahwa dari aspek harga, supplier C merupakan alternatif yang paling kompetitif dalam pemilihan supplier part damper. Setelah matriks perbandingan berpasangan lengkap, tahap selanjutnya adalah melakukan perhitungan evaluasi untuk kriteria harga. Untuk mempermudah proses perhitungan, nilai matriks dikonversi ke dalam bentuk desimal dan dilakukan penjumlahan pada setiap kolom, sehingga diperoleh matriks disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil penjumlahan setiap kolom untuk kriteria harga. Harga Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D TOTAL 22,0000 0,200 9,200 0,111 0,333 1,644 0,143 0,333 4,476 ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Tabel 7 menunjukkan matriks perbandingan berpasangan dalam bentuk desimal beserta total nilai pada setiap kolom. Total kolom digunakan sebagai dasar untuk proses normalisasi pada tahap selanjutnya. Berdasarkan Tabel 7, kolom supplier A memiliki total nilai terbesar, yang menunjukkan bahwa supplier A memiliki tingkat perbandingan yang relatif lebih dominan dalam struktur matriks sebelum dilakukan normalisasi. Setelah diperoleh jumlah setiap kolom, tahap selanjutnya adalah melakukan normalisasi matriks dengan membagi setiap elemen pada kolom dengan total nilai kolom tersebut, sehingga diperoleh matriks ternormalisasi sebagaimana disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil dinormalkan untuk kriteria harga. Harga Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Supplier A 0,045 0,022 0,068 0,032 Supplier B 0,227 0,109 0,122 0,074 Supplier C 0,409 0,543 0,608 0,670 Supplier D 0,318 0,326 0,203 0,223 Tabel 8 menunjukkan matriks perbandingan berpasangan yang telah dinormalisasi untuk kriteria harga. Berdasarkan matriks tersebut, supplier C memiliki nilai bobot relatif tertinggi dibandingkan supplier lainnya, diikuti oleh supplier D, supplier B, dan supplier A. Hal ini menunjukkan bahwa supplier C merupakan alternatif paling unggul dari aspek harga dalam proses pemilihan supplier part damper. Langkah selanjutnya adalah menentukan bobot prioritas kriteria harga untuk masing-masing supplier. Bobot tersebut diperoleh dari nilai rata-rata setiap baris pada matriks ternormalisasi sebagaimana disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Faktor evaluasi . untuk kriteria harga. Faktor Evaluasi Untuk Kriteria Harga Supplier A . ,045 0,022 0,068 0,. /4 = 0,042 Supplier B ,227 0,109 0,122 0,. /4 = 0,133 Supplier C ,409 0,543 0,608 0,. /4 = 0,558 Supplier D . ,318 0,326 0,203 0,. /4 = 0,268 Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata baris matriks ternormalisasi, diperoleh bobot prioritas kriteria harga untuk masing-masing supplier, yaitu supplier A sebesar 0,042, supplier B sebesar 0,133, supplier C sebesar 0,558, dan supplier D sebesar 0,268. Dengan demikian, supplier C memiliki skor tertinggi untuk kriteria harga. Sebelum bobot ini digunakan sebagai dasar penilaian, konsistensi perbandingan berpasangan harus dievaluasi melalui perhitungan rasio konsistensi . onsistency rati. Menentukan rasio konsistensi Rasio konsistensi . onsistency rati. menunjukkan sejauh mana perbandingan berpasangan yang dilakukan pengambil keputusan konsisten, sehingga mencerminkan kualitas keputusan. Menurut Saaty, rasio konsistensi O 0,10 dianggap konsisten dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, sedangkan rasio konsistensi > 0,10 menunjukkan perlunya evaluasi ulang terhadap jawaban responden . Penentuan rasio konsistensi dimulai dengan menghitung weighted sum vector, yang diperoleh dengan mengalikan bobot prioritas masingmasing supplier dengan kolom terkait pada matriks perbandingan berpasangan, kemudian menjumlahkan hasilnya per baris, sebagaimana disajikan pada Tabel 10. Tabel 10. Weighted sum vector untuk kriteria harga. Weighted Sum Vector Untuk Kriteria Harga Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D . ,042*. ,133*0,. ,558*0,. ,268*0,. = 0,168 . ,042*. ,133*. ,558*0,. ,268*0,. = 0,542 . ,042*. ,133*. ,558*. ,268*. = 2,401 . ,042*. ,133*. ,558*0,. ,268*. = 1,144 Berdasarkan perhitungan weighted sum vector untuk kriteria harga, diperoleh nilai masingmasing supplier sebagai berikut: supplier A = 0,168, supplier B = 0,542, supplier C = 2,401, dan supplier D = 1,144 (Tabel . Nilai ini digunakan sebagai dasar dalam perhitungan rasio 358 Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin. Rustam Sihombing Strategi pemilihan supplier lokal part engine mounting menggunakan fault tree analysis dan AHP pada industri komponen otomotif konsistensi . onsistency rati. Selanjutnya, consistency vector dihitung dengan membagi setiap nilai weighted sum vector dengan bobot prioritas . aktor evaluas. yang telah ditentukan sebelumnya, sebagaimana disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Consistency vector untuk kriteria. Consistency Vector Untuk Kriteria Harga Supplier A 0,168/0,042 = 4,043 Supplier B 0,542/0,133 = 4,076 Supplier C 2,401/0,558 = 4,304 Supplier D 1,144/0,268 = 4,276 Berdasarkan perhitungan consistency vector untuk kriteria harga, diperoleh nilai masingmasing supplier sebagai berikut: supplier A = 4,043, supplier B = 4,076, supplier C = 4,304, dan supplier D = 4,276 (Tabel . Nilai ini digunakan untuk menghitung consistency index dan selanjutnya rasio konsistensi . onsistency rati. Selanjutnya setelah kita menemukan consistency vector-nya, kita perlu menghitung nilai-nilai dua hal lainnya, yaitu lambda () dan Consistency Index (CI), sebelum rasio konsistensi terakhir dapat dihitung . Nilai lambda () biasanya merupakan nilai rataAerata consistency vector. Secara matematis Consistency Index (CI) didapat dengan menggunakan rumus. CI = ( Ae . / . Ae . Dimana n merupakan jumlah barang atau sistem atau dalam hal ini jumlah supplier yang sedang dibandingkan. Dalam kasus ini, n = 4, karena ada empat supplier yang berbeda yang sedang diperbandingkan, adapun hasil kalkulasinya. u = . ,043 4,076 4,304 4,. /4 = 4,175 Sehingga didapatkan: CI = Ae n / n Ae 1 CI = 4,175 Ae 4 / 4 Ae 1 CI = 0,058 Yang terakhir dalam proses perhitungan AHP adalah menghitung Consistency Ratio (CR). Consistency Ratio diperoleh dengan membagi Consistency Index (CI) dengan Random Index (RI), di mana nilai RI ditentukan berdasarkan tabel RI yang telah tersedia. Random Index sendiri merupakan fungsi langsung dari jumlah alternatif atau elemen dalam sistem yang sedang dianalisis . Tabelnya disajikan pada Tabel 12. 0,00 Tabel 12. Random Index (RI). 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 Tabel 12 menunjukkan nilai Random Index (RI) yang digunakan untuk menghitung Consistency Ratio (CR) pada metode AHP, bergantung pada jumlah alternatif . yang Secara matematis Consistency Ratio (CR) dapat dihitung dengan menggunakan CR = CI / RI Sehingga Consistency Ratio (CR) untuk kriteria kualitas. CR = CI / RI CR = 0,058 / 0,90 CR = 0,06 Consistency Ratio (CR) digunakan untuk menilai konsistensi matriks perbandingan berpasangan pada metode AHP. Jika CR < 0,1, maka matriks kriteria dianggap konsisten, sedangkan jika CR > 0,1, matriks tersebut dinyatakan tidak konsisten sehingga pengisian nilai ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. pada matriks berpasangan, baik untuk unsur kriteria maupun alternatif, harus diulang. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan menggunakan software Expert Choice 11 dan Microsoft Excel 2016, diperoleh bobot normalisasi masing-masing alternatif. Hasil perhitungan prioritas alternatif tersebut disajikan pada Gambar 4. Gambar 4. Normalisasi perbandingan berpasangan kriteria harga. Perhitungan menggunakan software Expert Choice 11 dan Microsoft Excel 2016 menunjukkan CR = 0,06, yang berarti matriks perbandingan konsisten. Nilai bobot kriteria harga juga sama antara kedua metode . , dengan supplier C memiliki bobot tertinggi, 0,566. Metode yang sama digunakan untuk menilai setiap perusahaan pada semua faktor pertimbangan, sehingga diperoleh hasil akhir yang menjadi dasar keputusan pemilihan supplier part damper terbaik. , seperti yang terlihat pada Tabel 13. Kriteria Harga Kualitas Pengiriman Layanan Total Tabel 13. Faktor evaluasi tiap supplier. Faktor Evaluasi Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D 0,558 0,268 0,643 0,048 0,632 0,044 0,117 0,286 1,950 0,646 Berdasarkan Tabel 3 faktor evaluasi, bahwa supplier C memiliki bobot tertinggi pada hampir semua kriteria, yaitu 0,558 untuk harga, 0,643 untuk kualitas, dan 0,632 untuk pengiriman, menunjukkan bahwa supplier C unggul dari segi harga, kualitas, dan ketepatan Sebaliknya, supplier B menempati posisi tertinggi pada kriteria layanan dengan bobot 0,576, sedangkan supplier A dan supplier D memiliki bobot relatif lebih rendah di sebagian besar kriteria. Dari total bobot, supplier C memperoleh nilai tertinggi yaitu 1,950, diikuti oleh supplier B . , supplier D . , dan supplier A . , yang menandakan bahwa secara keseluruhan supplier C menjadi alternatif terbaik untuk memenuhi kriteria harga, kualitas, pengiriman, dan layanan dalam pemilihan supplier part damper. Adapun nilai Lambda (). Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR) dari tiap kriteria pada Tabel 14. Tabel 14. Nilai Lambda (). Consistency Index (CI) dan Consistency Ratio (CR). Kriteria Ae Kriteria Nilai Harga Kualitas Pengiriman Layanan Lambda () 4,175 4,174 4,209 4,085 Consistency Index (CI) 0,058 0,058 0,070 0,028 Consistency Ratio (CR) 0,065 0,064 0,077 0,031 Berdasarkan perhitungan, semua nilai Consistency Ratio (CR) < 0,1, yaitu 0,065 untuk harga, 0,064 untuk kualitas, 0,077 untuk pengiriman, dan 0,031 untuk layanan, sehingga perbandingan berpasangan antar kriteria dapat dianggap konsisten. Nilai Lambda () dan Consistency Index (CI) masing-masing juga menunjukkan kesesuaian yang baik dalam analisis AHP. Setelah nilai evaluasi untuk semua kriteria diperoleh, tahap berikutnya dalam pemilihan supplier part damper dilakukan dengan mengalikan total nilai evaluasi masing-masing alternatif 360 Moh Mawan Arifin. Meilan Agustin. Rustam Sihombing Strategi pemilihan supplier lokal part engine mounting menggunakan fault tree analysis dan AHP pada industri komponen otomotif dengan bobot kriteria. Langkah ini bertujuan untuk mendapatkan nilai prioritas akhir yang menjadi dasar dalam menentukan supplier terbaik. Adapun hasil dari perkalian pada Tabel 15. Tabel 15. Hasil perkalian nilai evaluasi dengan nilai bobot kriteria. Supplier Kriteria Bobot Supplier A Supplier B Supplier C Supplier D Harga 0,529 0,022 0,070 0,295 0,142 Kualitas 0,315 0,032 0,066 0,202 0,015 Pengiriman 0,105 0,024 0,010 0,066 0,005 Layanan 0,051 0,003 0,029 0,006 0,015 Total 0,080 0,175 0,570 0,176 Berdasarkan perhitungan bobot kriteria dikalikan dengan nilai evaluasi masing-masing supplier, supplier C memperoleh total bobot tertinggi sebesar 0,570, diikuti oleh supplier D . , supplier B . , dan supplier A . Hasil ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan supplier C menjadi alternatif terbaik untuk memasok part damper. Berdasarkan hasil analisis AHP, kriteria yang paling berpengaruh dalam pemilihan supplier pada industri komponen otomotif adalah harga, dengan bobot 0,529, diikuti kualitas . , pengiriman . , dan layanan . Tingginya bobot pada kriteria harga menunjukkan bahwa industri ini menekankan harga sebagai pertimbangan utama dalam memilih supplier, karena adanya impact cost dari program lokalisasi tanpa impact cost terhadap customer, lokalisasi kemungkinan tidak dapat dilakukan. Selain itu, harga bahan baku yang lebih rendah memungkinkan perusahaan menekan biaya produksi, sehingga secara langsung dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas perusahaan. Kriteria harga memiliki peran penting karena pembelian bahan baku merepresentasikan porsi signifikan dari nilai penjualan produk Dengan harga bahan baku yang lebih rendah, perusahaan dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan. Berdasarkan kriteria harga, urutan supplier terbaik adalah supplier C . , supplier D . , supplier B . , dan supplier A . Selanjutnya, kriteria kualitas menempati urutan kedua karena bahan baku dari supplier lokal minimal harus setara dengan kualitas bahan baku impor. Hal ini penting agar customer mendapatkan kesamaan mutu produk, karena bahan baku berkualitas baik akan berpengaruh positif terhadap kualitas produk akhir, sedangkan bahan baku kurang berkualitas dapat menurunkan mutu Berdasarkan kriteria kualitas, supplier C menempati prioritas pertama dengan bobot 0,202, diikuti supplier B . , supplier A . , dan supplier D . Kriteria pengiriman menempati urutan ketiga, di mana supplier C tetap menjadi yang terbaik . , diikuti supplier A . , supplier B . , dan supplier D . Kriteria layanan berada pada urutan keempat karena supplier lokal lebih mudah dihubungi dan cepat tanggap dibandingkan supplier Pada kriteria ini, supplier B memperoleh bobot tertinggi . , diikuti supplier D . , supplier C . , dan supplier A . Secara keseluruhan, berdasarkan semua kriteria, supplier C dinilai sebagai supplier terbaik dengan total bobot 0,570, diikuti supplier D . , supplier B . , dan supplier A . Hasil akhir pemilihan supplier part damper ini disajikan pada Tabel 16. Tabel 16. Hasil akhir pemilihan supplier part damper. Supplier Harga Kualitas Pengiriman Layanan Total Supplier A 0,022 0,032 0,024 0,142 21,9% Supplier B 0,070 0,066 0,010 0,029 17,5% Supplier C 0,295 0,202 0,066 0,006 57,0% Supplier D 0,142 0,015 0,005 0,015 17,6% Berdasarkan total bobot dari semua kriteria, supplier C menempati posisi tertinggi dengan nilai 57,0%, sehingga menjadi alternatif terbaik untuk memasok part damper. Selanjutnya, peringkat kedua ditempati supplier D . ,6%), ketiga supplier B . ,5%), dan terakhir supplier A ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. ,9%). Hasil ini menunjukkan bahwa supplier C unggul secara keseluruhan, terutama pada kriteria harga dan kualitas, sehingga layak dipilih sebagai supplier utama. Hasil akhir analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan supplier C merupakan pilihan terbaik bagi industri komponen otomotif sebagai supplier part damper, karena memiliki nilai total tertinggi dibandingkan ketiga supplier lainnya. Posisi masing-masing supplier dapat dilihat pada Gambar Supplier D Supplier C Supplier B Supplier A Gambar 5. Persentase (%) hasil akhir pemilihan supplier part damper. Gambar 5 menunjukkan persentase total bobot dari masing-masing supplier dalam pemilihan supplier part damper. Dari grafik terlihat bahwa supplier C menempati posisi tertinggi dengan 57%, menunjukkan bahwa secara keseluruhan supplier ini adalah pilihan terbaik berdasarkan semua kriteria . arga, kualitas, pengiriman, dan layana. Supplier A memiliki bobot total 21,9%, berada di urutan kedua, sedangkan supplier D . ,6%) dan supplier B . ,5%) menempati urutan berikutnya. Hal ini menegaskan bahwa supplier C unggul terutama pada kriteria harga dan kualitas, sehingga menjadi supplier utama yang direkomendasikan bagi industri komponen otomotif. Grafik ini memberikan representasi visual yang jelas mengenai perbandingan performa masing-masing supplier secara keseluruhan. Simpulan Hasil penelitian ini dilakukan pada industri komponen otomotif berbasis karet yang memproduksi part seperti hose, damper, dan anti-vibration untuk kendaraan roda empat, dengan pelanggan di dalam dan luar negeri. Pada proyek engine mounting LH D20N, terdapat keterlambatan pengiriman part damper dari supplier Jepang. Identifikasi penyebab dilakukan melalui Fault Tree Analysis (FTA), dan sebagai solusi, diputuskan untuk melakukan lokalisasi komponen dengan mencari supplier dalam negeri. Pemilihan supplier lokal dilakukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan perangkat lunak Empat calon supplier (A. D) dinilai berdasarkan empat kriteria: harga, kualitas, pengiriman, dan layanan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa supplier C memperoleh nilai prioritas tertinggi . , diikuti supplier D . dan B . , sedangkan supplier A memiliki nilai terendah . Dengan demikian, supplier C dipilih sebagai supplier terbaik untuk penyediaan material part damper proyek ini. Referensi