AKTIVITAS ANTIPIRETIK DARI BEBERAPA SENYAWA AKTIF Sinta Fadilah Nurfitriah*. Keke Jayanti. Rofikoh. Bulan Anggita Putri. Teti Trisnawati. Rahmania Putri. Shanti Sri Oktavia. Maulana Yusuf Alkandahri. Surya Amal. Dedy Frianto. Maya Arfania Fakultas Farmasi. Universitas Buana Perjuangan Karawang. Karawang. Jawa Barat. Indonesia *Penulis koresponding: fm17. sintanurfitriah@mhs. ABSTRAK Demam merupakan suatu keadaan dimana terjadi kenaikan suhu di atas normal. Pengobatan demam biasanya menggunakan obat-obatan sintesis yang memungkinkan terjadinya resistensi. Untuk mencegah hal itu para peneliti mulai mencari kandidat senyawa obat antipiretik baru yang berasal dari bahan alam yang telah terbukti secara ilmiah memiliki aktivitas antipiretik. Beberapa senyawa aktif yang berhasil di isolasi dari berbagai tumbuhan diantaranya kurkumin, quercetin, kaempferol, piperin, andrographolide dan catechin telah teruji secara ilmiah memiliki aktivitas antipiretik dengan mekanisme kerja yang berbeda-beda. Kata kunci : Antipiretik, senyawa aktif, in vivo, in vitro ABSTRACT Fever is a condition in which the temperature rises above normal. Treatment of fever usually uses synthetic drugs that allow resistance to occur. To prevent this, researchers began to look for candidates for new antipyretic drug compounds derived from natural ingredients that have been scientifically proven to have antipyretic activity. Several active compounds that have been isolated from various plants including curcumin, quercetin, kaempferol, piperine, andrographolide and catechins have been scientifically tested to have antipyretic activity with different mechanisms of action. Keywords: Antipyretic, active compound, in vivo, in vitro PENDAHULUAN Demam merupakan suatu keadaan dimana terjadi kenaikan suhu di atas normal. Bila diukur pada rectal sushunya mencapai > 38oC, jika diukur pada oral, suhunya di atas 37,8oC dan jika diukur melalui aksila suhunya di atas 37,2oC . oF) (Schmitt, 1. Sedangkan menurut NAPN (National Association of Pediatrics Nurs. disebutkan bahwa demam terjadi bila bayi yang berumur kurang dari 3 bulan memiliki suhu rectal melebihi 38oC, pada anak dengan umur lebih dari 3 bulan suhu aksila dan oralnya lebih dari 38,3oC. Demam mengacu pada peningkatan suhu tubuh yang berhubungan langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang, misalnya terhadap toksinbakteri, peradangan, dan rangsangan pirogenik lain. Bila produksi sitokin pirogen secara sistemik masih dalam batas yang dapat ditoleransi maka efeknya akan menguntungkan tubuh secara keseluruhan , tetapi bila telah melampaui batas kritis tertentu maka sitokin ini membahayakan tubuh. Batas kritis 17 sitokin pirogen sistemik tersebut sejauh ini belum diketahui secara pasti karena sangat sulit melakukan penelitian mengenai hal tersebut (Sherwood. Jurnal Buana Farma Vol. 1 No. Antipiretik merupakan obat yang dapat menurunkan suhu tubuh akibat demam/suhu yang lebih tinggi. Suhu normal pada manusia berada dikisaran antara 36 Ae 37oC. Kebanyakan analgetik juga memberikan efek antipiretik, dan begitupun sebaliknya antipiretik juga dapat mengurangi rasa sakit yang diderita pasien. Masingmasing obat tergantung yang mana efek paling dominan. Salah satu contoh Acetaminofen dan aspirin memiliki efek antipiretik yang lebih dominan ketimbang efek analgesiknya (Anief, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN KURKUMIN Kurkumin adalah polifenol alami utama yang ditemukan dalam rimpang Kunyit (Curcuma long. dan Temulawak (Curcuma xanthorriz. (Aggrwal et al. Substansi yang dapat menyebabkan demam disebut pirogen dan berasal baik dari eksogen atau Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh berupa mikroorganisme seperti bakteri, virus dan jamur. Sedangkan pirogen endogen berupa molekul kimia seperti kompleks antigen-antibodi, metabolit steroid androgenik dan sitokin inflamasi (IL-1. IL-6. TNF dan IFN). Pirogen dapat menyebabkan keadaan demam melalui stimulus hipotalamus (Cimpello et al, 2. Pirogen eksogen yang masuk ke dalam tubuh atau zat asing akan dikelilingi dan dilekatkan pada imunoglobulin serta komplemen yang selanjutnya difagosit oleh Proses ini akan melepaskan sejumlah sitokin pro inflamasi seperti IL-1. IL-6. TNF-. Interferon (IFN) yang bekerja pada daerah preoptik hipotalamus anterior. Sitokin akan memicu pelepasan asam arakidonat yang berasal dari membran fosfolipid dengan bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakidonat selanjutnya diubah menjadi prostaglandin karena peran dari enzim siklooksigenase 2 (COX-. Prostaglandin dapat terbentuk secara langsung dan dapat juga terbentuk melalui pelepasan cyclic adenosine monophosphate . AMP) yang nantinya akan meningkatkan suhu termostat di susunan saraf pusat dan menyebabkan demam (Dalal et al, 2006. Sherwood, 2012. Silbernagl et al, 2. Salah satu target obat dalam mengatasi demam yaitu dengan cara menghambat COX- 2. Terdapat berbagai senyawa yang dapat menghambat aktivitas dari COX-2, salah satunya kurkumin yang terkandung didalam tumbuhan. Kunyit digunakan dalam berbagai bidang seperti kesehatan, kuliner dan kosmetik. Pada pengobatan tradisional, kunyit digunakan sebagai antiinflamasi, antiseptic, antiiritansia, anoreksia, obat luka dan gangguan hati (Winarsih et al. , 2. Antioxidant (Mulyani et al. , 2. , antibacterial (Fitoni et al. , 2. , antikanker (Sianipar el al. , 2. , antivirus (Marbawati dan Umniyati 2. , selain itu kunyit juga memiliki khasiat sebagai antipiretik (Kusumaningrum. Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang dapat menghambat aktivitas COX-2. Sehingga ketika terjadi penghambatan COX-2 maka pembentukan prostaglandin akan terhambat, sehingga akan terjadi penurunan suhu tubuh pada keadaan demam (Fahryl dkk. Pada penelitian Azam et al. , 2014 melaporkan bahwa ekstrak etanol Temu putih (Curcurma zedoari. secara signifikan menurunkan suhu tubuh yang diinduksi ragi dalam tikus dengan cara tergantung dosis dan efek antipiretik pada dosis 750 mg / kg sebanding dengan standar obat parasetamol antipiretik . mg / k. (Azam et al. , 2. QUERCETIN Kuersetin adalah salah satu flavonol dari kelompok senyawa flavonoid polifenol yang banyak ditemukan dalam tanaman, tumbuh, sayuran, buah-buahan dan bijibijian (Jusuf E, 2. Kuersetin dilaporkan memiliki beberapa aktivitas farmakologi diantaranya sebagai antiinflamasi, antioksidan, antikanker, antidiabetes, menurunkan kolesterol dan antipiretik (Mutia et al. Selain Itu, aktivitas kuersetin dilaporkan dapat menghambat COX-2 (Cheong et al. , 2. kuersetin juga Jurnal Buana Farma Vol. 1 No. dapat bekerja mengambat biosintesis prostaglandin dengan cara menghambat COX-1 dan COX-2 (Noreen et al, 1. Hasil penelitian Malik et al. , melaporkan pada buah yang terkandung kuersetin memiliki efek aktivitas antipiretik yang bekerja dengan menghambat biosintesis prostaglandin serta leukotrien (Malik et al, 2. Sementara itu. Suryasaputra et al. , melaporkan bahwa kuersetin memiliki aktivitas COX-2 inhibitor terbaik sebagai antipiretik secara in vitro dengan nilai IC50 sebesar 5,46 AAM (Suryasaputra et al. , 2. Pada penelitian Ningsih et al. , melaporkan bahwa aktivitas antipiretik dari ekstrak daun C. papaya secara in vivo dapat menurunkan suhu rektal pada hewan uji pada dosis 100 mg/KgBB, 200 mg/KgBB, dan 400 mg/KgBB yang diinduksi vaksin DPT-Hb. Aktivitas daun C. tersebut memiliki kadar flavonoid total sebesar 41,05%. Flavonoid golongan flavonol yaitu kuersetin dapat menghambat eikosanoid yang menyebabkan terjadinya lipooksigenase yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar prostaglandin sebagai mediator inflamasi dan menghambat prostaglandin yang menyebabkan penurunan suhu tubuh (Ningsih, 2. Hasil penelitian Hesti et al. , menunjukkan pada suhu rektal tikus yang mendapatkan perlakuan dari ekstrak etanol Medicago sativa . , 100 dan . mg/Kg BB lebih rendah dari pada tikus kelompok kontrol negatif . <0,. Hal ini dapat membuktikan bahwa ekstrak etanol Medicago sativa terbukti memiliki efek antipiretik dalam kandungan flavonoid golongan flavonol yaitu Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dosis ekstrak etanol M. sativa 50 mg/Kg BB sudah efektif dapat menurunkan suhu rektal tikus demam yang diinduksi oleh vaksin DPT (Hesti et al. , 2. KAEMPFEROL Kaempferol merupakan kristal padat berwarna kuning dengan titik lebur 276-278 A C. Senyawa ini tidak larut dalam air tetapi larut dalam etanol dan dietil eter. Kaempferol memiliki berbagai aktivitas farmakologi, termasuk antioksidan, anti-inflamasi, antibakteri, antikanker, antidiabetes, dan anti-osteoporosis (Calderon et al. , 2. Kaempferol dilaporkan mempunyai aktivitas antibakteri namun belum diketahui pasti bagaimana mekanismenya (Lim et al. , 2. Demam terajadi pada suhu > 37, 2AC, biasanya disebabkan oleh infeksi . akteri, virus, jamu atau parasi. (Hartini. , 2. Penyebab utama demam thypoid ini adalah bakteri salmonella thypi. Bakteri salmonella thypi adalah berupa basil gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai tiga macam antigen yaitu antigen O, antigen H dan antigen VI (Lestari. , 2. Penatalaksanaan pada demam tifoid adalah dengan menggunakan antibakteri sehingga dengan demikian terdapat korelasi antara aktivitas antibakteri dan antipiretik dari kaempferol (Patel et al. , 2. Penelitian Yosua kaempferol memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan demam thypoid. Zona hambat minimal bakteri Salmonella typhi terbentuk pada konsentrasi 20% dengan rerata diameter 12,33 mm, dan zona hambat maksimal terbentuk pada konsentrasi 100% dengan rerata diameter 25 mm (Yosua et al. , 2. Sealin itu pada penelitian Vonisya dan Rasmi melaporkan bahwa kandungan Kaempferol pada kelompok flavonoid memiliki efek terhadap penurun demam yaitu dengan memblok jalur siklooksigenase (COX-. dan fosfolipase A2 serta menjadi penghambat mediator inflamasi. Sehingga dapat menghambat pada proses terjadinya demam dan bila digunakan ketika demam berlangsung maka dapat memiliki efektivitas sebagai penurun demam (Vonisya dan Rasmi, 2. PIPERINE Tanaman lada memiliki beberapa aktivitas antara lain antioksidan, antimutagenik, antitumor, antiinflamasi, antihipertensi, antityroid juga Hasil aktivitas antibakteri karena adanya kandungan senyawa-senyawa khususnya kandungan piperin (Nisar et al. , 2. Selian itu lada juga beberapa senyawa-senyawa lain yaitu pellitorin, pergumidin dan isopiperolin (Venkat, et al. , 2. Piperin memiliki rumus molekul C17H19NO3 atau (E,E)-1-. ,3-benzodioksol-5-i. -1-okso-2,4 pentadieni. piperidin, diperoleh dalam bentuk prisma monosiklik dari alkohol dengan titik lebur 130AC, 1 g piperin larut dalam 15 mL etanol, 36 mL eter dan hampir tidak larut dalam air (Kar, 2. Piperin berbentuk kristal berwarna putih kekuningan dan merupakan alkaloid dari golongan piperidin yang memiliki sifat hampir tidak larut dalam air . mg/L pada suhu 18AC), namun mudah larut dalam alkohol . g/15 mL) dan eter . g/1,7 mL) (Vasavirama dan Upender, 2. Senyawa piperine yaitu senyawa yang dapat menstimulasi aliran saliva, mempengaruhi peningkatan aktifitas buffer yang ada di dalam saliva sehingga pH saliva juga akan meningkat dan membantu penyembuhan lesi karena memiliki sifat antipiretik, analgesik, antifungi, dan antibakteri (Kimura et al. , 2006. Jadid et , 2. Piperin memiliki khasiat sebagai antiinflamasi, antimalaria, menurunkan berat badan, menurunkan demam, menetralkan racun bisa ular, antiepilepsi, membantu meningkatkan penyerapan vitamin tertentu (Kolhe et al. , 2. Piperin memiliki aktivitas sebagai antipiretik pada tikus, dan menunjukkan hasil yang sebanding dengan indometasin sebagai obat standar (Sabina et al. , 2. Piperine dapat bertindak sebagai antipiretik dengan cara melalui penghambatan pembentukan prostaglandin (Sudjarwo, 2. Piperine Jurnal Buana Farma Vol. 1 No. mempunyai daya antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan saraf pusat (Iptek, 2. ANDROGRAPHOLIDE Andrographolide merupakan senyawa diterpen lakton, komponen biokatif utama dan terdapat disemua bagian tanaman Andrographis paniculata (Burm. Nees (Dey et al. , 2. paniculata adalah salah satu tanaman obat yang paling populer digunakan secara tradisional untuk mengobati demam dan penyakit menular (Jarukamjorn et al. , 2008. Okhuarobo et al. Senyawa yang diisolasi dari A. paniculata yaitu 14-deoxy-11,12didehydroandrographolide menunjukkan aktivitas analgesik dan antipiretik (Suebsasana et al. , 2. Kemampuan andrographolide sebagai antipiretik telah dibuktikan dalam beberapa Dalam penelitian pada hewan uji tikus, menunjukkan bahwa andrographolide dapat menurunkan demam yang dihasilkan oleh berbagai agen pemicu demam, seperti endotoksin bakteri, pneumokokus, streptokokus hemolitik, tipus, dan paratifoid (Deng. Penelitian Arifullah et al. , secara in vitro melaporkan bahwa andrographolide memiliki aktivitas antibakteri yang luas terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Salah satunya pada bakteri Streptococcus thermophilus dengan nilai penghambatan pertumbuhan bakteri yaitu 350 AAg/mL (Arifullah et al. Kemungkinan mekanisme kerja sebagai antipiretik adalah dengan menstimulasi sistem imun (Caceres et al. , 1997. Trivedi et al. , 2. Telah dilaporkan bahwa andrographolide memiliki efek yang sama dengan aspirin dalam dosis yang sama untuk mengurangi demam (Madav et al. , 1995. Vedavathy et al. , 1. Penelitian Suebsasana et al. melaporkan efek antipiretik dari andrographolide secara in vivo menurunkan suhu pada hewan uji yang diinduksi ragi roti. Dalam dosis oral 100 dan 300 mg/kg menghasilkan aktivitas yang signifikan . <0,. (Suebsasana et al. , 2. Kemudian penelitian Hilkatul et al. , melaporkan bahwa efek antipiretik dari tablet fraksi etil asetat A. paniculata meningkat dengan cara yang bergantung pada dosis. Penurunan demam maksimum diamati pada dosis 100 mg andrographolide/kg setelah jam ketiga pemberian . %). Mekanisme dari aktvitas antipiretik kemungkinan diketahui dengan menghambat sintesis prostaglandin dan menghambat pelepasan sitokin (Hilkatul et al. , 2. Pada dosis 180 atau 360 mg/kg andrographolide dilaporkan dapat meredakan demam pada manusia pada hari ketiga setelah pemberian (Jayakumar et al. , 2. CATECHIN Catechin adalah senyawa bioaktif utama yang ditemukan dalam the hijau (Camellia sinensi. (Sen et al. Catechin dilaporkan memiliki beberapa aktivitas farmakologi antimikroba, anti-inflamasi, antivirus, anticancer dan antialergi (Bae et al. , 2. Banyak penelitian yang telah membuktikan efektivitas flavonoid sebagai anti inflamasi, baik secara in vitro, in vivo, maupun pada manusia (Yonathan et al. Inhibisi flavonoid terhadap berbagai enzim maupun sitokin anti inflamasi disebabkan oleh kemampuan inhibisi sintesis enzim-enzim pro-inflamasi seperti NO. NF-k. MAPK, dan AP-1 (Yonathan et al. NF-B akan dihambat oleh berbagai flavonol seperti apigenin, genistein, dan kaempferol. Pelepasan TNF dan IL-1b dapat dihambat quercetin, genistein dan catechin sehingga melepaskan sitokin anti inflamasi IL10 (Yonathan et al. , 2. Quercetin menunjukkan efek inhibisi terhadap sintesis NO, kinase pemberi sinyal ekstraseluler dan cJun Nterminal kinase, sedangkan catechin dapat menginhibisi c-Jun N-terminal kinase dan p38. Kedua flavonoid tersebut akan mengganggu transkripsi dan transduksi AP-1 yang akhirnya mencegah pembentukan sinyal inflamasi (Yonathan, et al. , 2. Quercetin dan catechin juga merupakan inhibitor yang memiliki potesi tinggi terhadap COXAe2, lipoksigenase, dan NO sintase (Middle et al. , 2. Walaupun belum terdapat studi pada manusia yang dilakukan terhadap catechin, bukti secara in vivo dan in vitro menunjukkan bahwa catechin dalam dosis tertentu dapat menginhibisi COXAe2 dan produksi NO. Sedangkan pemberian quercetin dalam bentuk molekul murni dapat menurunkan CRP dan IL-8 (Yonathan et al. , 2. dimana ini berhubungan dengan kerja neutrofil. Hal ini dapat mencegah inflamasi yang disebabkan P. (Serafini et al. , 2. KESIMPULAN Hasil yang didapatkan yaitu dari kandungan zat yang terdapat di bahan Kurkumin yang digunakan sebagai antiinflamasi, antiseptic, antiiritansia, anoreksia, obat luka dan gangguan hati. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Quercetin sudah efektif dapat menurunkan suhu rektal tikus demam yang diinduksi oleh vaksin DPT. Piperine dapat bertindak sebagai antipiretik dengan cara melalui penghambatan pembentukan prostaglandin, selain itu Piperine mempunyai daya antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan saraf pusat. Andrographolide memiliki mekanisme dari aktvitas antipiretik kemungkinan diketahui dengan menghambat sintesis prostaglandin dan menghambat pelepasan sitokin. Kaempferol pada kelompok flavonoid memiliki efek terhadap penurun demam yaitu dengan memblok jalur siklooksigenase (COX-. dan fosfolipase A2 serta menjadi penghambat mediator inflamasi. Kemudian Catechin juga merupakan inhibitor yang memiliki potesi tinggi terhadap COXAe2, lipoksigenase, dan NO sintase Jurnal Buana Farma Vol. 1 No. terbukti memiliki aktivitas antipiretik yang dapat mengurangi Demam. Oleh karena itu, bahan yang memiliki zat sebagai antipiretik dapat menjadikan terapi yang dapat mengurangi Demam. DAFTAR PUSTAKA