Jurnal Intelektual Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi Vol. 11 No. P-ISSN:2338- 7521 E-ISSN: 3047-2725 Tradisi Grebeg Suro Sebagai Ritual Religi Desa Gerbo Dengan Pendekatan Symbolic Convergence Theory Mohammad Alfian Ekarizal Maulana. Nurma Yuwita. Universitas Yudharta Pasuruan nurma@yudharta. Abstract. Grebeg Suro is an important tradition in Javanese culture which is carried out in Gerbo Village. Pasuruan Regency. This tradition combines religious, cultural and social elements, and is a symbol of togetherness and cultural identity of the local community. This research uses the Symbolic Convergence Theory (SCT) approach to analyze the symbolic meaning and communication processes that occur in the Grebeg Suro tradition. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through interviews and documentation. The research results show that the Grebeg Suro tradition not only functions as a religious celebration, but also as a means of strengthening social relations between village residents and strengthening their cultural identity. Analysis using SCT revealed fantasy themes such as togetherness and cultural identity that emerged in group communication during the Grebeg Suro event. The symbols in this tradition, praying together, sharing food, have deep meanings that reflect the cultural and religious values of the Javanese people in Gerbo Village. This research provides insight into the importance of the Grebeg Suro tradition in maintaining and strengthening social ties and cultural identity of the Gerbo Village community. It is hoped that the results can become a reference for efforts to preserve local culture and develop cultural communication studies. Keywords: grebeg suro. Javanese culture. symbolic convergence theory. religious ritual PENDAHULUAN Kata "kebudayaan" berasal dari bahasa Sanskerta "buddhayah," yang merupakan bentuk jamak dari "buddhi," yang berarti akal. Secara harfiah, konsep kebudayaan berarti "hal-hal yang terkait dengan akal", mencakup semua aspek kehidupan terkait pemikiran manusia, seperti nilai-nilai, norma, keyakinan, pengetahuan, dan praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi (Wibowo and Hariyati 2. Indonesia memiliki kekayaan intelektual dan budaya yang tercermin dalam tradisi-tradisi yang dianggap sebagai bagian integral dari identitas dan kekayaan bangsa. Istilah "tradisi" berasal dari kata Arab "turats" dan Latin "traditio", yang mengacu pada warisan yang diturunkan dari generasi ke Tradisi dipertahankan melalui penyaluran informasi baik secara tindakan nyata maupun komunikasi lisan (Faramita. Fadhilah, and Indriana 2. Salah satu tradisi yang sangat penting dalam budaya Jawa adalah Grebeg suro, tradisi ini untuk merayakan awal tahun baru Jawa dengan penuh semangat dan Grebeg suro memadukan unsurunsur keagamaan, budaya, dan sosial dalam satu perayaan yang meriah. Kata "Grebeg" dalam kamus Jawa Kuno Indonesia merujuk pada suara gemuruh dari banyak kaki yang berderap, berasal dari istilah "gumrebeg" yang berarti riuh dan ramai (Supandi et al. Grebeg suro berasal dari Kata "Suro" berasal dari bahasa Arab "asyura", yang mengacu pada hari kesepuluh dalam bulan Suro pada Jurnal Intelektual Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi Vol. 11 No. penanggalan Jawa, sejajar dengan bulan Muharram dalam kalender Islam atau hijriah. Istilah ini penting dalam takwim Jawa sebagai penanda awal perhitungan waktu (RifaAoi and Fadhilasari 2. Grebeg suro di Desa Gerbo memperlihatkan aspek keagamaan Islam dan budaya Jawa melalui rangkaian upacara, seperti doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat dan tradisi berbagi makanan kepada yang membutuhkan. Hal ini mencerminkan nilai kedermawanan dan kepedulian dalam budaya Jawa (Nuha et al. Desa Gerbo merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Purwodadi. Kabupaten Pasuruan. Jawa Timur. Desa Gerbo termasuk Desa terbesar ke dua se Kabupaten Pasuruan setelah Desa Gempol. Desa Gerbo dihuni oleh 759 kepala keluarga dengan total populasi 195 jiwa. Berbatasan secara langsung dengan Desa Nongkojajar yang cukup terkenal di kalangan masyarakat (Tingang. Nugroho, and Hanafie 2. Penelitian ini menghubungkan perayaan Grebeg Suro dengan konsep Symbolic Convergence Theory (SCT). Teori konvergensi simbolik yang Ernest Borman menawarkan kerangka konseptual untuk memahami bagaimana cerita, simbol, dan ritus seperti Grebeg Suro membentuk dan Borman berpendapat bahwa melalui komunikasi simbolik, individu dalam suatu kelompok dapat berbagi realitas sosial dan membangun makna bersama (Dr. Ruliana and Puji 2. Teori Konvergensi Simbolik (SCT) menjelaskan proses komunikasi dalam tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo dengan dramatisasi pesan, tema fantasi, jenis fantasi, dan visi retoris. Ketika anggota kelompok contoh-contoh singkat seperti humor, permainan kata, kiasan, atau analogi, serta cerita atau narasi yang lebih menghasilkan perubahan fantasi yang serupa. Rangkaian fantasi bisa berulang, yang pada P-ISSN:2338- 7521 E-ISSN: 3047-2725 akhirnya membentuk tema fantasi yang lebih konsisten (Indriani and Prasanti 2. Penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana hubungan antara perayaan Grebeg suro dalam budaya Jawa dengan konsep SCT. Dengan melihat Grebeg suro sebagai fenomena budaya yang menggabungkan aspek ritual dan religi, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana pesan-pesan simbolik dan fantasi terbentuk dan berubah selama Fokusnya adalah menganalisis bagaimana dramatisasi pesan, tema fantasi, dan jenis-jenis fantasi tercermin dalam Grebeg suro serta bagaimana pesan-pesan tersebut mempengaruhi kesadaran kelompok. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan mendalam tentang dinamika komunikasi simbolik dalam konteks budaya Jawa dan pemahaman tentang integrasi nilainilai keagamaan dan sosial dalam tradisi METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan pendekatan Fenomenologi. Fokus penelitian ini membahas bagaimana tradisi grebeg suro sebagai ritual religi dalam budaya Jawa di Desa Gerbo dengan pendekatan symbolic convergence theory. Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Gerbo. Kec. Purwodadi. Kab. Pasuruan. Jawa Timur. Jenis dan sumber data penelitian yaitu data Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dari penenlitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Bangsa Indonesia memiliki ribuan budaya dan kearifan lokal yang tersebar di berbagai pulau, sebuah karunia dari Tuhan yang Maha Kuasa yang perlu kita lestarikan dan pelihara bersama. Keberagaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang sangat berharga dan menjadi ciri khas unik yang mungkin tidak dimiliki oleh negara lain (RifaAoi and Fadhilasari 2. Jurnal Intelektual Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi Vol. 11 No. Salah satu contohnya adalah tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo. Tradisi ini merupakan warisan dari nenek moyang yang diteruskan dari generasi ke generasi melalui cerita lisan, sehingga masih ada hingga Para tetua di Desa Gerbo mengisahkan tradisi ini, yang berkaitan dengan cerita tentang danyang desa yang melindungi kawasan tersebut serta asal-usul Grebeg Suro yang masih melekat dalam ingatan masyarakat Desa Gerbo. Tradisi Grebeg Suro merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala berkah yang diterima dan perlindungan dari berbagai Fantasi Tema dan Fantasi Tipe dalam Grebeg Suro Teori Konvergensi Simbolik (SCT) yang dikembangkan oleh Ernest Borman mencakup konsep "fantasi tema" dan "fantasi tipe" (Oro. Andung, and Liliweri 2. "Fantasi tema" adalah narasi kecil yang unik bagi suatu kelompok, membangun ikatan dan pengertian Di Desa Gerbo, "fantasi tema" terlihat dalam cerita tentang danyang desa dan pengalaman spiritual selama Grebeg Suro, serta kisah kedermawanan dan gotong royong. Sedangkan "Fantasi tipe" adalah pola cerita berulang yang mencerminkan nilai-nilai budaya luas. Dalam Grebeg Suro di Desa Gerbo, ini terlihat dalam perubahan dari kegiatan tradisional seperti pembakaran dupa dan sesajen menjadi doa bersama, pembacaan Al-Qur'an, dan berbagi makanan, yang menegaskan kebersamaan dan solidaritas masyarakat serta menghubungkan peserta dengan nilai-nilai religius dan budaya. Tematema ini membangun pemahaman bersama tentang tindakan di masa lalu dan masa depan. Beberapa tema dalam genre fantasi bisa menjadi acuan untuk isu-isu serupa, yang lalu berkembang menjadi berbagai jenis fantasi. Ketika sebuah kelompok menciptakan berbagai jenis fantasi, visi retoris kelompok itu pun muncul (Indriani and Prasanti 2. Analisis Kajian Visi Retoris Dalam Tradisi Grebeg Suro P-ISSN:2338- 7521 E-ISSN: 3047-2725 Ada empat kajian utama dalam visi retoris yakni sebagai berikut : Karakter Dalam tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo, karakter-karakter penting memainkan peran sentral. Pak Ngatmari, tokoh agama setempat, berperan sebagai pemimpin spiritual, memimpin doa bersama dan upacara Beliau sering ditunjuk sebagai juru kunci karena sikap spiritual dan sosialnya yang baik serta tentang prosesi Grebeg Suro. Pak Ngatmari bertanggung jawab atas persiapan dan pelaksanaan acara, memastikan setiap tahap berjalan sesuai dengan adat dan Selain itu, beliau memberikan arahan kepada peserta dan menjaga suasana tetap khidmat. Masyarakat Desa Gerbo dan panitia acara juga berperan aktif, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti pawai, mendukung kelancaran dan makna acara tersebut. Alur Tradisi mencerminkan nilai-nilai spiritual, budaya, dan sosial yang mendalam bagi masyarakat Desa Gerbo. Tradisi grebeg suro di Desa Gerbo mengikuti alur acara khas yang melibatkan aspek fisik, spiritual, budaya, dan Seminggu sebelum acara, masyarakat menyiapkan koreografi pawai dan kayon secara gotongroyong. Pada hari pertama, doa bersama diadakan malam hari dengan prosesi tahlilan dan kendurian sebagai ungkapan syukur. Makanan yang dibawa dibagi setelah doa selesai. Hari kedua dimulai pukul 9 pagi dengan pawai mengelilingi desa yang diiringi sound system. Acara dilanjutkan dengan jabutan, di mana masyarakat berebut hasil bumi dalam Jurnal Intelektual Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi Vol. 11 No. kayon, simbol syukur atas panen Hari ketiga ditutup dengan pentas seni tradisional seperti ludruk dan wayang. Pada tahun 2023, tambahan hiburan berupa lima sound horeg juga diadakan. Hari ini bertujuan mengapresiasi keberhasilan acara dan memberikan hiburan bagi Lokasi Tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo mengalami perubahan tempat pelaksanaan yang mencerminkan Awalnya. Sanggar menjadi pusat kegiatan karena dianggap sakral. Namun, modernisasi menggeser kegiatan ke doa bersama seperti tasyakuran, tahlil, dan sholawatan di setiap RT desa. Menurut teori konvergensi simbolik, perubahan ini adalah hasil dari interaksi simbolis dalam Narasi kolektif tentang sakralitas Sanggar dan danyang desa berkonvergensi dengan narasi baru yang sesuai dengan nilai-nilai modern dan agama formal. Doa bersama mempertahankan esensi spiritual Grebeg Suro dalam bentuk yang lebih sesuai dengan zaman sekarang. Perantara pendukung . anctioning Dalam tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo, perantara pendukung . anctioning peranan penting dalam menjaga dan melestarikan acara. Panitia acara berperan utama dalam koordinasi persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta mengatur izin dan pengumpulan dana dengan komunikasi efektif untuk membangun narasi kolektif. Selain itu, masyarakat dan pemerintah desa juga turut mendukung melalui partisipasi aktif dan pemberian izin serta dukungan resmi. Kolaborasi ini P-ISSN:2338- 7521 E-ISSN: 3047-2725 menunjukkan bagaimana simbol dan narasi Grebeg Suro terbentuk dan dipertahankan melalui tindakan kolektif dan komunikasi terstruktur, sesuai dengan teori konvergensi Peran perantara pendukung ini memastikan kelancaran dan kesuksesan acara setiap tahun, menjaga makna dan nilai budaya Grebeg Suro tetap hidup dan relevan bagi masyarakat Desa Gerbo. Pengaruh Pesan Retoris Dalam Tradisi Grebeg Suro Tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo Pasuruan tidak hanya kaya akan aspek-aspek religius dan budaya, tetapi juga mencerminkan tiga visi utama yang berperan penting dalam membentuk identitas dan dinamika sosial yang saling melengkapi dan memperkaya makna serta tujuan dari perayaan Grebeg Suro Kesalehan (Righteou. Menuurut Borman Kesalehan itu yang menjadikan kepekaan moral sebagai dasar bagi bagaimana pandangan retorika bekerja. Grebek Suro merupakan tradisi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah, menyambut bulan Suro, yang dianggap sakral dan penuh makna Di Desa Gerbo, tradisi ini mencerminkan kesalehan melalui pelaksanaan upacara keagamaan seperti doa bersama, istighosah, tahlil, dan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an, yang menegaskan pentingnya tahun baru Islam. Selain itu, tradisi ini melibatkan pembagian makanan kepada masyarakat sebagai wujud kepedulian dan kedermawanan sesuai ajaran Islam. Seiring zaman. Grebek Suro di Desa Gerbo telah mengalami banyak perubahan. Hal ini sama dengan acara Pepetan Jurnal Intelektual Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi Vol. 11 No. Wewe dari Kota Serang (Fauzan and Wibowo keagamaan, acara tersebut kini juga sebagai acara hiburan serta apresiasi seni dan budaya hal itu juga sama dengan tradisi grebeg suro di Desa Gerbo, namun dalam tradisi grebeg Desa Gerbo menghilangkan kesakralan ritual dari tradisi tersebut. Salah satu ritual yang mencerminkan kebudayaan Islam dalam tradisi ini adalah doa bersama atau DibaAoan, di mana warga membawa nasi per rumah dalam lingkup satu RT untuk selamatan desa agar terhindar dari bahaya dan tetap Grebek Suro di Desa Gerbo juga menampilkan seni dan budaya seperti pentas wayang kulit dan ludruk, yang biasanya mengandung nilai-nilai keagamaan mendalam. Pertunjukan ini mengingatkan masyarakat akan pentingnya kebijakan dan kesalehan. Tradisi ini bukan hanya tentang ritual fisik, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan sosial yang mendalam. Masyarakat memperbaiki diri, serta mempererat hubungan dengan Tuhan dan sesama. Grebek Suro di Desa Gerbo tidak hanya merupakan ritual tahunan, tetapi juga cara untuk memperkuat masyarakat yang menjalankannya. Sosial . Menurut Borman, retorika sangat bergantung pada interaksi sosial, sebagaimana terlihat dalam tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo. Tradisi ini menekankan masyarakat dalam mempersiapkan acara, menjadikannya momen penting untuk mempererat ikatan sosial. P-ISSN:2338- 7521 E-ISSN: 3047-2725 berbagi cerita, dan memperkuat hubungan antar anggota komunitas (Kumalasari 2. Grebeg Suro, meskipun berakar pada budaya dan agama tertentu, melibatkan berbagai elemen hormat terhadap keberagaman dan kemampuan untuk bersatu meskipun Kehidupan masyarakat desa sering kali harmonis karena adanya proses interaksi yang terlihat dalam perilaku sehari-hari, yang dipenuhi dengan solidaritas. Nilai-nilai sosial yang mengembangkan solidaritas, dan inklusif, kuat, dan harmonis. Berbagai kegiatan dalam Grebeg Suro, seperti doa bersama, pembagian makanan, dan pertunjukan seni, memungkinkan masyarakat mempererat hubungan antarwarga. Interaksi dalam acara-acara ini mendorong komunikasi dan kerja sama, menciptakan rasa kebersamaan dan saling pengertian. Tradisi ini juga memberi kesempatan bagi warga mendukung, sehingga memperkuat hubungan sosial dan meningkatkan rasa persaudaraan. Melalui tradisi Grebeg Suro, masyarakat Desa Gerbo dapat berkolaborasi demi mencapai tujuan bersama, menambah kerukunan, dan menumbuhkan lingkungan yang damai dan harmonis (Mayang et al. Grebeg Suro menjadi simbol persatuan dan kekuatan komunitas, menunjukkan bagaimana budaya dan mempererat hubungan antar warga. Tradisi ini membuktikan bahwa Jurnal Intelektual Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi Vol. 11 No. melalui interaksi sosial dan kerja sama, masyarakat dapat mencapai struktur sosial yang kuat dan Pragmatis (Pragmati. Menurut Borman, pragmatisme adalah pandangan yang berlandaskan pada manfaat praktis. Dalam konteks ini, tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo memiliki makna dan fungsi kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Jawa. Selain menjadi perayaan Tahun Baru Jawa. Grebeg Suro memperkuat identitas budaya Jawa yang unik dan berharga, serta menandai keberlangsungan adat istiadat dan nilai-nilai budaya yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan nilai-nilai pragmatis ini. Grebeg Suro memperkuat ikatan antar anggota masyarakat melalui berbagai kegiatan bersama seperti pertunjukan seni, doa bersama, dan pembagian makanan. Kegiatankegiatan ini menciptakan rasa Melestarikan budaya dan tradisi Grebeg Suro memastikan bahwa nilai-nilai bermanfaat ini akan terus berlanjut, memberikan manfaat bagi generasi Manfaat pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan, dan penguatan kohesi Secara keseluruhan. Grebeg Suro masyarakat yang lebih sejahtera dan Simbol dan Ritual Dalam Tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo Grebeg Suro adalah sebuah perayaan yang sarat dengan simbolisme, di mana setiap elemen memiliki makna yang mendalam bagi P-ISSN:2338- 7521 E-ISSN: 3047-2725 masyarakat yang merayakannya. Salah satu elemen penting dalam Grebeg Suro adalah pembagian makanan kepada para peserta dan masyarakat setempat. Tradisi ini menjadi manifestasi nyata dari kedermawanan dan kepedulian terhadap sesama. Selama perayaan, warga Desa Gerbo berkumpul untuk menyumbangkan hasil bumi mereka, yang kemudian dijadikan kayon yang akan diperebutkan dalam acara Grebeg. Adapun beberapa makna simbolis dan ritual dalam tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo sebagai Kayon Lanang Kayon lanang biasa diisi dengan hasil bumi yang sudah diolah. Contoh hasil bumi yang umum ditemui dalam kayon lanang adalah singkong yang diolah menjadi keripik, opak, dan berbagai makanan olahan lainnya. Penggunaan hasil bumi yang telah diolah ini melambangkan kreativitas dan kerja keras masyarakat dalam mengubah sumber daya alam menjadi produk bernilai tinggi. Selain itu, kayon ketangguhan dan usaha keras yang Kayon Wadon Sedangkan kayon wadon diisi dengan nasi dan lauk-pauk. Isi kayon wadon ini mencerminkan aspek pemeliharaan dan pemberian kehidupan, mengingatkan kita akan peran penting perempuan dalam Jurnal Intelektual Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi Vol. 11 No. menyediakan makanan dan menjaga kesejahteraan keluarga. Nasi dan lauk-pauk sebagai simbol kayon kesejahteraan, mencerminkan rasa syukur atas berkah alam yang sustenansi kepada masyarakat. Doa Bersama Doa bersama dalam tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo memiliki makna mendalam bagi masyarakat Setiap menyambut bulan Suro sebagai Tahun Baru Islam, warga Desa Gerbo berkumpul untuk mengadakan doa Ritual ini tidak hanya sebagai ungkapan syukur atas berkah yang diberikan, tetapi juga sebagai keselamatan bagi seluruh masyrakata Doa bersama ini juga berfungsi untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, dari yang muda hingga yang tua, menciptakan Selain itu, doa bersama meningkatkan kepedulian sosial, mengajarkan masyarakat untuk saling mendukung dan membantu sesama, serta memperkuat identitas budaya dan masyarakat Jawa yang unik. Secara keseluruhan, doa bersama dalam Grebeg Suro di Desa Gerbo bukan sekadar ritual rutin, melainkan simbol nilai-nilai universal seperti kebersamaan, solidaritas, dan P-ISSN:2338- 7521 E-ISSN: 3047-2725 menjaga dan merayakan warisan budaya dan keagamaan mereka. PENUTUP Kesimpulan Penelitian tentang Tradisi Grebeg Suro di Desa Gerbo. Pasuruan menunjukkan bahwa tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan menggambarkan penerapan teori konvergensi Tradisi ini berkembang dari doa kepada danyang menjadi acara meriah dengan doa bersama, pawai, dan kegiatan tradisional lainnya, mencerminkan adaptasi terhadap perubahan sosial. Pesan retoris tradisi ini pragmatisme, memperkuat identitas kolektif dan kesadaran budaya. Makna simbolis tradisi ini terlihat dalam kayon lanang yang merepresentasikan ketangguhan dan usaha keras, serta kayon wadon yang mencerminkan rasa syukur. Doa bersama meningkatkan kepedulian sosial antar warga, menunjukkan pentingnya simbol dan ritual dalam membentuk realitas sosial dan budaya Saran Saran lestarikan tradisi-tradisi dari nenek moyang kita agar tidak punah. Bagi peneliti pendekatan teoritis, serta dapat dikembangkan dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan bidang ilmu lain sperti antropologi, sosiologi, dan studi agama. Hal ini akan memperkaya analisis dan pemahaman tentang tradisi Grebeg Suro dari berbagai sudut pandang. DAFTAR PUSTAKA