SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 10 No. Maret 2022 P1-10 E-ISSN 2798-8678 Kajian Etnografi Pada Seniman I Nyoman Raos di Desa Singapadu. Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar. Bali Gede Basuyoga Prabhawita Prodi Produksi Film dan Televisi. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Denpasar-Indonesia basuyogaprabhawita@isi-dps. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas I Nyoman Raos sebagai seniman tari Barong dari Desa Singapadu. Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar-Bali. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif berupa aktivitas keseharian kehidupan seniman. Metode dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Data dianalisis dengan tahapan mengumpulkan data, mengklasifikasikan data, menganalisis berdasarkan teori yang dirumuskan, dan menarik kesimpulan. Etnografi berkonsentrasi pada detail kehidupan lokal dan pada saat yang sama mengaitkan mereka dengan proses-proses sosial yang lebih luas. Hasilnya menunjukan bahwa seniman I Nyoman Raos yang tumbuh di lingkungan yang masih mengusung kehidupan beragama yang menghadirkan kreatifitas budaya berlandaskan nilai-nilai agama dan kehidupan sosial adat istiadat yang sudah menjadi tatanan sosial yang harus dijalani sebagai anggota masyarakat. Nyoman Raos menjadi seorang seniman tari Barong yang tumbuh dan berkembang di lingkungan seni. Desa Singapadu. Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar-Bali. Dengan latihan-latihan yang sering diajarkan oleh ayahnya, maka I Nyoman Raos pun tumbuh mengikuti jejak sang ayah. Dari kecil hingga sekarang. I Nyoman Raos terus melakukan latihan menari. Selain pentas untuk hiburan. I NyomanRaos amat sering pentas untuk kegiatan upacara agama. Kata Kunci: Etnografi. Seniman Bali. Tari Barong. Budaya Bali. This study aims to describe the activities of I Nyoman Raos as a Barong dance artist from Singapadu Village. Sukawati District. Gianyar-Bali Regency. This study used a descriptive research design with qualitative methods. The type of data in this study is qualitative data in the form of daily activities of the artist's life. Data collection methods and techniques in this research are observation, interview, documentation and literature study. The data were analyzed with the stages of collecting data, classifying data, analyzing based on the formulated theory, and drawing conclusions. Ethnography concentrates on the details of local life and at the same time relates them to broader social processes. The results show that the artist I Nyoman Raos who grew up in an environment that still carries religious life presents cultural creativity based on religious values and social life and customs that have become a social order that must be lived as a member of society. I Nyoman Raos became a Barong dance artist who grew and developed in the arts environment. Singapadu Village. Sukawati District. GianyarBali Regency. With the exercises often taught by his father. I Nyoman Raos grew up following in his father's footsteps. From childhood until now. I Nyoman Raos continues to practice dancing. Apart from performing for entertainment. I Nyoman Raos often performs for religious ceremonies. Keywords: Ethnography. Balinese Artists. Barong Dance. Balinese Culture. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 PENDAHULUAN Etnografi adalah suatu deskripsi mengenai kebudayaan suatu bangsa. Di Eropa Barat dikenal dengan istilah Ethnography yang berarti pelukisan tentang bangsabangsa. Istilah ini digunakan untuk menyebut bahan keterangan yang termaktub dalam karangan-karangan tentang masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di luar Eropa, serta segala metode untuk mengumpulkan dan mengumumkan bahan itu (Koentjaraningrat, 2009: . Istilah ini dipakai untuk menyebut bagian dari ilmu antropologi yang bersifat deskriptif. Mengkombinasikan pandangan Malinowski dan Radcliffe-Brown, berarti tujuan dari sebuah penelitian etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya masyarakat. Di Indonesia sangat beragam terdapat kebudayaan dari masing-masing daerah, dan salah satu kebudayaan yang dikenal adalah kebudayaan Bali. Wilayah Bali yang unik di dalam panorama yang luas dari kebudayaan Indonesia, seperti juga kreatifitas orang-orangnya yang secara umum diterima. Bagi para pakar sejarah kebudayaan Indonesia, masyarakat Bali telah lama menjadi perhatian khusus, karena tidak seperti kepercayaan Hindu Jawa yang secara praktis telah lenyap dengan penyebaran Islam (Claire Holt, 2000: . Kebudayaan merupakan produk yang dihasilkan oleh kemampuan manusia dengan menggunakan lambang atau simbol. Maka dari itu, wujud kongkrit kebudayaan . dalam bentuk kompleks aktivitas manusia yang saling berinteraksi . erutama agama dan sen. tetap memiliki landasan konseptual yang bersumber pada kompleksitas sistem simbol. Kebudayaan Bali menjadi terkenal karena adat istiadatnya yang begitu unik, serta berbagai cabang seni yang berkembang seperti seni pertunjukan dan seni rupa. Di Desa Singapadu. Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar-Bali dalam seni pertunjukannya terkenal dengan tarian Barong. Masyarakat disana dikenal dengan kepandaian membuat dan menarikan Barong. Singapadu merupakan daerah seni, yang dikenal melahirkan seniman-seniman dibidang seni pertunjukan dan seni kriya. Salah seorang seniman sebagai penari Barong yang di kenal dari desa tersebut adalah I Nyoman Raos. Ia adalah seorang anak yang terlahir di keluarga yang memiliki AukeakhlianAy menari Barong. Ayahnya I Made Gina juga dulunya adalah seorang penari Barong. Menjadi penting untuk melakukan penelitian terkait dengan aktivitas seniman I Nyoman Raos dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang keseharian seniman berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatannya serta dalam aktivitas keagamaan yang menyangkut ritual dan kepercayaan. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data bersumber dari informan dan beberapa dokumen yang memiliki kaitannya dengan Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik yaitu dimulai dengan melakukan wawancara, dilanjutkan kegiatan observasi, dokumentasi dan kepustakaan yang berkaitan dengan aktivitas seniman I Nyoman Raos. Setelah data terkumpul, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk mencari makna data yang dikumpulkan dengan mencari hubungan, persamaan, atau perbedaan untuk ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan yang ada. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 HASIL DAN PEMBAHASAN Keseharian I Nyoman Raos Desa Singapadu yang masuk wilayah kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar ini tergolong daerah agraris yang memiliki keharmonian dalam kehidupan berkesenian oleh masyarakatnya. Pagi hari hawa yang masih terasa segar begitu terasa di desa ini, petani berangkat ke sawah dengan berjalan kaki dan ada juga orang-orang yang naik sepeda motor dengan maksud efisiensi waktu mengingat banyak kegiatan lain mereka yang masih menunggu. Di tengah arus global ini, alat-alat bertani mereka pun sudah modern seperti mesin traktor yang membutuhkan waktu penggemburan tanah yang lebih cepat dibandingkan sebelumnya yang menggunakan tenaga hewan tentu menghabiskan waktu lebih lama. Singapadu juga terkenal sebagai desa seniman. Dari dahulu sampai sekarang kehidupan berkesenian masayarakat Singapadu masih terasa, yaitu membagi waktu untuk diisi dengan berbagai kegiatan adalah hal penting yang harus diperhatikan. Seperti misalnya waktu yang dimanfaatkan untuk bertani, menjalani kesenangan dalam berkesenian dan mencari nafkah demi kelangsungan hidup berumah tangga, beragama serta bermasyarakat di tengah era global harus bisa Begitulah kehidupan yang sering dilakoni oleh I Nyoman Raos. Menulis sosok seniman I Nyoman Raos menghadapkan peneliti pada pemahaman biografi seorang seniman yang tumbuh dan lahir dari lingkungan agraris Bali, yang kemudian muncul sebagai kreator seni pertunjukkan Bali yang disegani. Dalam kehidupan adat istiadat masih sangat kuat, semua masyarakat yang berada di lingkungan banjar merupakan kelompok-kelompok yang mengikat orang Bali berdasarkan atas prinsip keturunan, diwajibkan untuk hadir dalam komunitas sosial yang diperkuat aktivitas ritual dan adat. Pagi harinya I Nyoman Raos atau yang sering dipanggil Pak Nyoman ini membawa cangkul dan sabit pergi kesawah. Ia tidak mengendarai sepeda motor tetapi berjalan kaki. Sesampainya di sawah. Pak Nyoman langsung menuju gubuk kecil atau yang disebut AukubuAy, disana Pak Nyoman menaruh sandal dan cangkulnya. Pertama saat turun ke sawah. Pak Nyoman melihat masuknya air yang berasal dari hulu yang merupakan pembagian berdasarkan sistem subak . istem pengairan di Bal. Kemudian Pak Nyoman mulai membersihkan rumput-rumput liar yang mengganggu Setelah selesai di sawah. Pak Nyoman bergegas pulang untuk mandi, kemudian berganti pakaian memakai pakaian Sekaa . berupa udeng . embaran kain yang sudah dibentuk untuk mengikat kepal. , bajunya yang berwarna orange, karena Pak Nyoman akan melanjutkan aktivitasnya yang lain yaitu berangkat menuju tempat dimana ia sebagai penari Barong di Sekaa Barong Kuntisraye Kesiman. Ia dengan semangatnya memutar sepeda menuju tempat tersebut. Pak Nyoman juga menari Barong di luar desanya. Tetapi ia tetap menjadi seorang penari yang menari untuk kegiatan-kegiatan di desa. Saat ini Desa Singapadu sangat jarang melakukan pertunjukan Barong secara reguler, yang menjadi kesepakatan sangkep . Adat membebaskan masyarakatnya bergabung dengan seka-seka . elompok-kelompo. di luar desa, kecuali Sekaa Barong Pemaksan Singapadu tetap diminta agar mereka datang pada saat pentas. Setelah selesai menari dari Sekaa Barong Kuntisraye Kesiman. I Nyoman Raos langsung pulang. Sampai di rumah, ia tidak ada waktu untuk bersantai-santai, tetapi masih melakukan aktivitas yang lain yaitu bekerja ngupas kelapa. Hasil dari kelapa ini kemudian di jual ke pasar. Selain pekerjaan ini, ia juga bekerja sebagai pemanjat kelapa, hasil yang ia peroleh bukanlah berupa uang melainkan ia hanya membawa buah kelapa dari hasil panjatannya. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 Di sore hari, murid-muridnyanya pun mulai berdatangan untuk belajar menari Barong ke rumahnya. Murid-murid yang masih anak-anak itu berguru kepadanya. Dalam mengajar dan melatih anak-anak ini. Pak Nyoman tidak pernah meminta imbalan uang sepeserpun. Gambar 1. I Nyoman Raos mengajar tari Barong Menurut Pak Nyoman, kepuasannya bukan terletak dari materi melainkan ada rasa kebanggaan dan puas ketika melihat murid-muridnya pentas dengan baik menarikan Barong. Keseriusannya melatih murid-murid membuat banyak orang yang berdatangan untuk berguru padanya. Malam hari biasanya Pak Nyoman mengisi waktunya dengan menari Barong di Ubud bersama Seka Panca Artha untuk wisatawan dan kadang-kadang ngayah . enari untuk pertunjukan di pur. dengan banjarnya atau sekaa lain yang membutuhkan tenaganya menari Barong. I Nyoman Raos dalam Aktivitas Seni dan Ritual I Nyoman Raos tumbuh dan berkembang di lingkungan seni. Bakat seninya sudah mulai nampak sejak duduk di bangku sekolah dasar. Pak Nyoman waktu kecil sering melihat ayahnya I Made Gina menarikan tarian Barong. Pak Nyoman kecil sangat tertarik dengan peran tukang mapang . enari Baron. yang ditarikan oleh Karena kesehariannya yang sering melihat tarian tersebut dan di dukung oleh keluarga serta lingkungan. Pak Nyoman menjadi tertarik untuk bisa menjadi penari Barong seperti ayahnya. Ketertarikan itu juga muncul karena ia sering melihat ayahnya melatih muridnya di rumah. Ketertarikannya ini sangat didukung, akhirnya Pak Nyoman diajari menari oleh ayahnya. Mengalir darah seni di dalam tubuhnya. I Nyoman Raos mulai ikut latihan meskipun masih kecil di belakang murid-murid I Made Gina adalah penari Barong yang dikenal di Bali sejak berumur kurang lebih 25 tahun dan orang-orang banyak berdatangan untuk berguru padanya. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 Ketika sedang jayanya budaya ngelawang . elakukan pertunjukan dengan membawa Barong Ket keliling des. Pak Nyoman sering ikut dengan ayahnya ngelawang ke beberapa desa. Saat ayahnya tidak aktif lagi menari karena sudah tua. Pak Nyoman memberanikan diri menggantikan peran ayahnya sebagai penari Barong. Orang-orang di desanya ternyata memberikan apresiasi yang luar biasa, karena gerakan tarinya begitu memukau. Keberaniannya tampil menambah keyakinan dirinya untuk terus berkiprah di dunia seni. Semenjak bergabung dengan Seka Barong di banjarnya. Pak Nyoman selalu aktif mengikuti petunjukan ngelawang di luar desa, daerah yang didatangi seperti Ubud. Kedewatan. Blahbatuh. Keramas. Sibang dan daerah lain yang mengenal keberadaan seka Barong Singapadu. Ngelawang ini dilakukan dari setu desa ke desa lain dengan berjalan kaki sambil menarikan Barong. Berlatih dengan keras dan dibarengin dengan keseriusan, ayahnya mewariskan segala ilmu kepadanya sehingga ia terkenal sebagai penari Barong. Pak Nyoman setiap harinya selalau menyempatkan diri untuk dapat latihan menari, meskipun aktivitasnya yang lain juga banyak. Latihan itu diakuinya dilakukan agar tarian yang ia tekuni bisa terus dimantapkan dan biar bisa lebih menjiwai, kata Pak Nyoman. Kepekaan terhadap tabuh . terlihat saat seniman ini melakukan pementasan dengan menguasai musik iringan, dikala menari membuat penampilannya mantap memiliki kedalaman rasa, dapat memberi roh pada Barong yang biasa disebut taksu. Hal itu disebabkan oleh keseriusan dan kepiawaiannya memainkan alat musik kendang, ia pemain alat musik Kendang Balaganjur di daerahnya. Seringnya memainkan musik tanpa sengaja melatih kepekaan mendengar aksen-aksen musik, apalagi dalam tari Barong, penari yang piawai membawakan tarian ini sangat teruji improfisasinya dan tetap konsen terhadap musik iringan. Benar-benar dapat menyesuaikan diri dan peka dengan iringan terutama ketepatan dalam mengikuti aksen alat musik kendang. Mengikuti aksen alat musik kendang ini adalah salah satu letak kesulitan tari Barong dan jarang penari lain yang dapat melakukan hal tersebut. Untuk dapat menguasainya memerlukan latihan intensif, tak jarang melalui latihan yang cukup panjang. Berkat kegigihannya dan ketekunannya belajar tari. Pak Nyoman akhirnya dikenal sebagai seniman. Tawaran menari terus mengalir. Pak Nyoman yang dikenal sebagai penari Barong dalam lakon Calonarang sudah pernah melakukan pementasan sampai kepelosok-pelosok, dari puri ke puri, diketahui pada jamannya tidak sembarang kesenian dan penari dapat pentas di sana. Hampir kesemua kabupaten di Bali pernah ia kunjungi, khususnya di kabupaten Gianyar. Pengalaman pentas Pak Nyoman juga sampai keluar Bali diantaranya Sasak. Lombok Barat. Jakarta. Bandung. Surabaya, malang dan Solo. Atas pengabdiannya pada bidang Kesenian I Nyoman Raos memperoleh penghargaan: Wija Kusuma dari Pemerintah Tingkat II kabupaten Gianyar pada tahun 2004. Pak Nyoman bersama beberapa rekannya yang tergabung dalam sekaa tari Barong Desa Singapadu juga menari ke luar negeri seperti ke London dan Jepang. Selain pentas untuk hiburan. Pak Nyoman amat sering pentas untuk memeriahkan upacara agama, seperti seniman lainnya. Pak Nyoman tidak saja memeriahkan suasana, namun juga sering membawakan tari wali, yakni tari yang merupakan bagian dari upacara keagamaan. Untuk itu Pak Nyoman tidak segan-segan ngaturang ngayah, yakni menari tanpa mengharapkan imbalan. Baginya menari dalam upacara juga berarti berbakti kepada Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Es. Apalagi ia yakin, dari Hyang Widi pulalah sesungguhnya ia memperoleh AykekuatanAy menari yang di Bali disebut taksu. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 Gambar 2. I Nyoman Raos saat menarikan tari Barong Dalam prinsip dan totalitasnya pada kesenian khususnya seni tari. Pak Nyoman mengaku: AyTiang payu ulian ngigelAy . aya dikenal karena menar. Menurut Pak Nyoman, menari haruslah yang benar-benar menari, sebab ada kini yang menari tetapi bukan menari. Karena dalam dunia tari ada penari yang menari bermodal metaksu dan ada yang disebut sebagai yang pintar menari. Komitmen itu tak cukup hanya itu. Pak Nyoman membuktikannya juga di atas panggung. Dalam diri Pak Nyoman, makna menari menjadi jelas bahwa yang terpenting dalam menari adalah totalitas dan tahu mengapa harus melakukan agem, tandang, tangkep, serta merasakan tidak semata dari tuntutan peluang improvisasi dengan tetabuhan lahirnya tarian yang indah. Bagi Pak Nyoman, menari membutuhkan juga kesatuan konsentrasi panca Bukan hanya tubuh yang bergerak, tetapi seluruh jiwa dan raga serta lahir dan batin seharusnya ada dalam tarian itu. Ia juga kerap mengatakan, menari tidak membayangkan atau berimajinasi untuk memasuki roh tarian, tetapi seharusnyalah penari menyatukan pengalaman diri ke dalam peristiwa panggung, contohnya: di dalam menari Barong. Ritual merupakan suatu bentuk upacara atau perayaan . yang berhubungan dengan beberapa kepercayaan atau agama yang ditandai oleh sifat khusus, yang menimbulkan rasa hormat yang luhur dalam arti merupakan suatu pengalamana yang suci. Pengalaman itu mencakup segala sesuatu yang dibuat atau dipergunakan oleh manusia untuk menyatakan hubungan dengan yang AutertinggiAy, dan hubungan itu bukan sesuatu yang sifatnya biasa, tetapi bersifat istimewa, sehingga manusia membuat suatu cara yang pantas guna melaksanakan pertemuan Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 itu, maka muncullah beberapa bentuk ritual agama seperti ibadat atau liturgi (Hadi, 2006: . Masyarakat Bali begitu dekat dengan kehidupan ritual yang berlandaskan akan ajaran Agama Hindu, hal ini tidak bisa dipungkiri hadirnya kesenian berawal dari Prinsipnya masyarakat berkesenian karena adanya motivasi menunjukan rasa bakti kehadapan-Nya, dan sebagai salah satunya adalah melalui media ini. Motivasi tulus dan ikhlas ini di Bali biasanya disebut ngayah. Dengan ngayah, masyarakat meyakini akan mendapatkan keselamatan atau kerahayuan bagi diri sendiri, keluarga dan tentu juga bagi masyarakat. Keharmonisan dan keseimbangan akan terjadi saat upacara ritual dilaksanakan secara tulus ikhlas. Dilihat dari asal usul, latar belakang sejarah dan mitologinya. Barong adalah sesuatu yang lahir dari kreatifitas seni budaya dan penghayatan para seniman. Sebagai hasil budaya. Barong kemudian menjadi milik manusia seutuhnya dan diinterpretasikan sebagai proses kreatifitas sehingga tidak mengherankan jika Barong sering didramatisir ke dalam cerita rakyat seperti konsepsi Rwa Bhineda yang selalu dilekatkan pada wujud Barong. Dilihat sebagai benda suci, maka aspek magis dan religiusnya diyakini sebagai pengikat srada ketuhanan yang mampu memberikan keselamatan bagi masyarakat. Aspek magis dan religius Barong ini diaplikasikan untuk mengusir segala hal yang dapat mengganggu. Kegiatan ini masih dijalani oleh masyarakat yang berada di Desa Singapadu, dimana I Nyoman Raos sebagai individu di dalamnya juga selalu aktif ikut ngayah. Pak Nyoman mengisi hari-harinya di lingkungan yang masih mengusung kehidupan beragama dan menghadirkan kreatifitas budaya berlandaskan nilai-nilai agama serta kehidupan sosial adat istiadat yang sudah menjadi tatanan sosial, tentu semua itu harus dijalani sebagai anggota masyarakat. Di Singapadu ada suatu pertunjukan yang disebut Kunti Sraya. Menciptakan tari Barong pada tahun 1948 mengambil lakon AuKunti SrayaAy dengan memadukan beberapa unsur tari dan drama tari menjadi satu-satunya seka yang mempertunjukan Tari Barong dan Calonarang. Asal mula hadirnya pertunjukan Kunti Sraya, berawal dari kebiasaan sekaa di banjar yang memiliki kebisaan ngelawang oleh para pemuda. Pemuda banjar bertanggung jawab dan berkewajiban membawa Barong keliling desa dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat. Ngelawang ini dilakukan tidak setiap hari, tapi ada hari khusus yang dipilih yaitu pada saat bulan purnama dengan hitungan dua bulan sekali. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 Gambar 3. Sesajen yang dipersembahkan dalam upacara untuk Barong dan Rangda Masyarakat berkeyakinan bahwa Barong memiliki kekuatan magis dapat menjaga ketentraman desa dan terhindar dari roh-roh jahat. Selain itu ada juga upacara menyajikan sesajen di hari-hari penting selain hari purnama, saat upacara (Odala. di pura, dimana Barong tersebut diistanakan. Odalan di pura Desa Singapadu ini diadakan pada hari Tumpek Landep setiap enam bulan sekali. Ketika acara itu Barong ditarikan oleh beberapa penari sebagai wujud bakti mereka kepada Tuhan melalui manivestasinya. Sebagian besar masyarakat disana bisa menarikan Barong walau mereka tidak mahir sebagai pregina. I Nyoman Raos sering menarikan tarian Barong ini untuk persembahan saat upacara keagamaan berlangsung sebagai wujud pengabdian dan ketaatannya terhadap adat, pengabdian kepada Sang pencipta. Dengan kegiatan-kegiatan seperti itu maka budaya ritual, adat istiadat otomatis terjaga, kegiatan dilakukan secara komunal praktis tercipta komunitas kreatif. Generasi I Nyoman Raos secara intens mementaskan Calonarang dalam rangka ngayah di pura banjar tempat distanakannya Barong dan Rangda, atau dipertunjukan di Pura Dalem yang memuja Dewi Durga/ Ratu Adil sebagai dewi pelebur yang dipuja ketika upacara ngaben, memohon agar di beri jalan pada roh yang baru meninggal sesuai baktinya semasih hidup. Dengan kemampuannya dalam menari Barong. Pak Nyoman selalu bisa menarikan tarian ini, baik sebagai tarian yang sifatnya hiburan maupun tarian Barong yang sifatnya sakral untuk upacara agama. Sebelum menarikan tarian Barong untuk kegiatan-kegiatan. Pak Nyoman biasa mengawalinya dengan sembahyang di merajan-nya . empat suci untuk keluarg. , setelah itu dilanjutkan dengan sembahyang pada jenis Barong yang akan AuditarikanAy. Tujuan dari persembahyangan ini selain memohon keselamatan saat menarikan Barong. Pak Nyoman juga meyakini bisa memberikan kekuatan saat menari, mendapatkan taksu. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 SIMPULAN Kebudayaan Bali memiliki identitas yang jelas yaitu budaya ekspresif yang termanifestasi secara konfiguratif yang mencakup nilai-nilai dasar yang dominan seperti: nilai religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmoni, dan nilai Kelima nilai dasar tersebut ditengarai mampu bertahan dan berlanjut menghadapi berbagai tantangan. Masyarakat Bali begitu dekat dengan kehidupan ritual yang berlandaskan akan ajaran Agama Hindu. Kepercayaan akan ajaran agama dalam setiap upacara dan juga kegiatan kesenian yang sifatnya ritual memiliki tujuan agar secara umum alam bisa harmoni dengan selalu menjaga keseimbangan demi kelangsungan kehidupan masyarakat. Kegiatan-kegiatan ritual juga tentunya bertujuan untuk menjauhkan hal-hal yang bersifat negatif, menetralisir pengaruh jahat, hingga semua bisa menjadi damai. Keadaan ini masih dijalani oleh masyarakat yang berada di Desa Singapadu dimana seniman I Nyoman Raos tumbuh di lingkungan yang masih mengusung kehidupan beragama yang menghadirkan kreatifitas budaya berlandaskan nilai-nilai agama dan kehidupan sosial adat istiadat yang sudah menjadi tatanan sosial yang harus dijalani sebagai anggota masyarakat. I Nyoman Raos akhirnya menjadi seorang seniman tari Barong yang tumbuh dan berkembang di lingkungan seni. Desa Singapadu. Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar-Bali. Dengan latihan-latihan yang sering diajarkan oleh ayahnya, maka I Nyoman Raos pun tumbuh mengikuti jejak sang ayah. Dari kecil hingga sekarang. I Nyoman Raos terus melakukan latihan menari. Selain pentas untuk hiburan. I NyomanRaos amat sering pentas untuk kegiatan upacara agama. Menari khususnya menari Barong membutuhkan suatu kesatuan konsentrasi panca indra. Bukan hanya tubuh yang bergerak, tetapi seluruh jiwa dan raga serta lahir dan batin seharusnya ada dalam tarian itu serta menari tidak membayangkan atau berimajinasi untuk memasuki roh tarian, tetapi seharusnyalah penari menyatukan pengalaman diri ke dalam peristiwa panggung. Menari tak semata piawai dalam teknik, tetapi bagaimana memadukan dua rasa, yakni sebagai sekala dalam teknik menari dan kemudian niskala sebagai jiwanya. DAFTAR RUJUKAN Dibia. I Wayan. Selayang Pandang Seni Pertunjukkan Bali. Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia (MSPI). Bandung. Hadi. Y Sumandiyo. Seni dalam Ritual Agama. Yogyakarta: Buku Pustaka Holt. Claire. Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia. Bandung: arti. Line Koentjaraningrat. Sejarah teori Antropologi I. Jakarta: UI Press _____________ 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi II. Universitas Indonesia Ae Press. Jakarta. Kuntowijoyo. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana Murgiyanto. Sal. Kritik Tari: Bekal dan Kemampuan Dasar. Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia (MSPI). Bandung. Gede Basuyoga Prabhawita (KajianA) Volume 10 No. Maret 2022 Segara. I Nyoman. Mengenal Barong dan Rangda. Surabaya : Paramita Spradley. James P. Metode Etnografi,trj. Elisabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Widjaja. Suasthi. I Made Kredek 1906-1979 (Kehidupan. Karya, dan Pemikiranny. Sebuah Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.