Herbal Medicine Journal e-ISSN 2621-2625 Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Evaluasi Penggunaan Obat Antituberkulosis di Puskesmas Simpur Bandar Lampung Ulfa Mutia Karina Sinungan1. Teodhora2*. Ritha Widya Pratiwi3 Fakultas Farmasi. Institut Sains dan Teknologi Nasional. Jakarta. Indonesia teodhora@istn. ABSTRACT Pulmonary tuberculosis is one of the major infectious diseases and public health concerns in Indonesia. Inappropriate use of antituberculosis drugs may lead to resistance, recurrence, and treatment failure. This study aimed to describe the characteristics of pulmonary tuberculosis patients and evaluate the appropriateness of antituberculosis drug use at the Simpur Inpatient Health Center. Bandar Lampung City. This research was a descriptive observational study with a cross-sectional approach. Data were collected retrospectively from 64 medical records of pulmonary tuberculosis patients treated between January and December 2021. Evaluation focused on five parameters: correct indication, right patient, proper drug selection, appropriate dosage, and proper timing of administration. Most patients were male . 38%) and within the productive age range . -44 years, 53. 13%). New tuberculosis cases accounted for 93. AFBpositive results were found in 59. 38% of patients, and category I treatment was administered to 93. 75% of Evaluation results showed 100% correct indication, 100% right patient, 100% proper drug selection, 95. 31% correct dosage, and 98. 44% appropriate timing. The use of antituberculosis drugs at the Simpur Inpatient Health Center generally followed the 2020 tuberculosis management guidelines issued by the Ministry of Health. This evaluation is essential to ensure rational, safe, and effective drug use in the treatment of pulmonary tuberculosis. Keywords: Drug use evaluation. Category I. Category II. Simpur Health Center. Pulmonary tuberculosis ABSTRAK Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Penggunaan obat antituberkulosis yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi, kekambuhan, dan kegagalan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien tuberkulosis paru dan mengevaluasi ketepatan penggunaan obat antituberkulosis di Puskesmas Rawat Inap Simpur. Kota Bandar Lampung, pada tahun 2021. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Data dikumpulkan secara retrospektif dari 64 rekam medis pasien TB paru yang dirawat pada periode JanuariAeDesember 2021. Evaluasi dilakukan terhadap lima parameter ketepatan penggunaan obat, yaitu indikasi, pasien, pemilihan obat, dosis, dan waktu pemberian. Sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki . ,38%) dan berada pada usia produktif . -44 tahun, 53,13%). Kasus baru TB paru mencapai 93,75%, hasil BTA sebesar 59,38%, dan pengobatan kategori I diberikan kepada 93,75% pasien. Evaluasi menunjukkan ketepatan indikasi . %), ketepatan pasien . %), ketepatan pemilihan obat . %), ketepatan dosis . ,31%), dan ketepatan waktu pemberian . ,44%). Penggunaan obat antituberkulosis di Puskesmas Rawat Inap Simpur umumnya telah sesuai dengan pedoman tatalaksana tuberkulosis Kementerian Kesehatan tahun 2020. Evaluasi ini penting untuk menjamin penggunaan obat yang rasional, aman, dan efektif dalam pengobatan tuberkulosis paru. Kata kunci: Evaluasi penggunaan obat. Kategori I. Kategori II. Puskesmas Simpur. Tuberkulosis Program Studi Sarjana Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Senior Medan Evaluasi Penggunaan Obat Antituberkulosis di Puskesmas Simpur Bandar Lampung PENDAHULUAN Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri penyebab utama penyakit tuberkulosis paru (TB), suatu infeksi menular yang terutama menyerang paru-paru. Meskipun paru-paru menjadi lokasi utama infeksi, bakteri ini juga dapat menyebar ke organ lain seperti ginjal, otak, dan tulang. Ciri khas dari TB paru antara lain batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, nyeri pada bagian dada, batuk berdahak, hingga batuk yang disertai darah (Center for Disease Control and Prevention, 2. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui program End TB Strategy menetapkan prevalensi TB sebesar 80% dan menurunkan angka kematian hingga 90% dalam rentang waktu 2015 hingga 2030 (WHO, 2. Pada tahun 2020, tercatat sebanyak 9,9 juta kasus TB dan 1,5 juta kematian akibat penyakit ini. Pada tahun berikutnya, sekitar 86% kasus baru berasal dari 30 negara dengan beban TB Indonesia menempati posisi ketiga setelah India dan Tiongkok dalam jumlah kasus TB (WHO, 2. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus TB yang ditemukan meningkat 936 kasus pada tahun 2020 menjadi 377 kasus pada tahun 2021 (Kementerian Kesehatan RI, 2. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi TB paru secara nasional adalah 0,4%. Di Provinsi Lampung, prevalensinya sedikit lebih rendah, yaitu sebesar 0,33%, yang menunjukkan bahwa angka kasus di wilayah ini berada di bawah rata-rata nasional (Riskesdas, 2. Kawasan penduduk dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat atau terklasifikasi sebagai daerah kumuh merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi tingginya angka kejadian Faktor lain yang turut berperan dalam meningkatnya kasus TB adalah tingkat pengetahuan masyarakat dan kondisi sosial Selain itu, hambatan dalam mengakses layanan TB seperti keterbatasan finansial, jauhnya lokasi layanan, dan minimnya sarana transportasi juga menjadi tantangan yang perlu diatasi (Sembiring. Pemerintah nasional penemuan kasus tuberkulosis sebesar Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Lampung, diperkirakan bahwa pada tahun 2021 terjadi peningkatan angka penemuan kasus sebesar 45% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 40,1%. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa lebih banyak kasus tuberkulosis yang berhasil ditemukan dan ditangani. Di Kota Bandar Lampung, jumlah kasus TB tercatat sebanyak 232 per 000 penduduk pada tahun 2021, mengalami kenaikan dari 211 kasus per 000 penduduk pada tahun 2020 (Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, 2. Strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) diperkenalkan oleh WHO dan International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) pada awal 1990-an TB. Indonesia menerapkan metode ini secara bertahap sejak 1995, dan sejak awal 2000-an strategi DOTS telah dijadikan layanan standar di berbagai fasilitas kesehatan, khususnya di Puskesmas (Carolus, 2. Obat anti-tuberkulosis memegang peranan krusial dalam keberhasilan terapi Ketidaktepatan penggunaannya dapat menimbulkan berbagai konsekuensi serius seperti resistensi obat, kekambuhan penyakit, serta kegagalan pengobatan pada pasien. Oleh karena itu, evaluasi terhadap pemanfaatan obat antituberkulosis menjadi langkah penting dalam meminimalisasi risiko kegagalan terapi (Kementerian Kesehatan RI, 2. Di Puskesmas Kalikajar I, hasil ketepatan terapi TB paru cukup tinggi, yakni 100% pada aspek indikasi, pemilihan obat, dan kecocokan pasien. Namun, ketepatan dalam hal dosis hanya mencapai 84%, sementara ketepatan waktu pemberian obat sebesar 69% (Fairuzelsa & Dewi, 2. Temuan serupa Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Evaluasi Penggunaan Obat Antituberkulosis di Puskesmas Simpur Bandar Lampung juga terlihat di Puskesmas Mider. Bandar Lampung, dengan tingkat ketepatan dosis sebesar 87,2% dan 12,8% sisanya tidak sesuai (Sutarto, 2. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun sebagian besar aspek pengobatan telah sesuai ketepatan dosis dan waktu pemberian obat masih memerlukan peningkatan. Di Puskesmas Rawat Inap Simpur, tuberkulosis termasuk dalam tiga besar penyakit infeksi dengan kasus terbanyak, dan jumlahnya terus mengalami peningkatan setiap tahun. Melihat fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan evaluasi terhadap penggunaan obat anti-TB paru di fasilitas tersebut pada tahun 2021. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang . , menggunakan 64 rekam medis pasien TB paru yang berasal dari Januari hingga Desember 2021. Proses pengumpulan data dilakukan pada bulan Desember 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan karakteristik pasien TB paru berdasarkan jenis kelamin dan usia, serta menjabarkan penggunaan obat anti-TB pemeriksaan dahak, dan kategori pengobatan, penggunaannya di Puskesmas Rawat Inap Simpur. Kota Bandar Lampung, pada tahun METODOLOGI Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan deskriptif dan pendekatan potong lintang . ross-sectiona. untuk memperoleh data penelitian. Data dikumpulkan melalui telaah rekam medis pasien yang telah terdiagnosis tuberkulosis Lokasi penelitian berada di Puskesmas Rawat Inap Simpur, yang beralamat di Jalan Tamin No. Kelurahan Kelapa Tiga. Kecamatan Tanjung Karang Pusat. Kota Bandar Lampung. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 12 - 28 Desember Populasi dalam penelitian mencakup seluruh rekam medis pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan di Puskesmas Rawat Inap Simpur sepanjang periode Januari hingga Desember 2021. Sampel terdiri atas seluruh data rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien TB paru yang melakukan pengobatan di tahun 2021, berusia 17 tahun ke atas, serta memiliki rekam medis lengkap dan terbaca, termasuk data mengenai jenis kelamin, usia, berat badan, tanggal terapi, riwayat kesehatan, gejala klinis, hasil pemeriksaan dahak, jenis dan dosis obat, serta durasi pemberian obat. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi pasien yang meninggal menyelesaikan terapi, menderita TB paru dengan HIV positif, anak-anak, ibu hamil atau menyusui, serta pasien dengan rekam medis yang tidak lengkap atau sulit dibaca. Variabel bebas dalam penelitian ini mencakup ketepatan indikasi, ketepatan pasien, pemilihan jenis obat, ketepatan dosis, dan waktu pemberian obat. Adapun variabel terikatnya adalah respons pengobatan pasien terhadap penggunaan obat anti-TB. Selain itu, terdapat variabel moderator seperti jenis kelamin, usia, tipe pasien, hasil uji dahak, dan klasifikasi pengobatan. Pengumpulan data menggunakan kombinasi sumber primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan petugas kesehatan di Puskesmas untuk memperoleh gambaran terkini mengenai tata laksana tuberkulosis Sedangkan data sekunder berasal dari penelaahan dokumen rekam medis pasien. Proses pengumpulan dilakukan selama 16 hari, dimulai dengan seleksi kartu pengobatan berdasarkan kriteria inklusi, yang kemudian ditetapkan berjumlah 64 data rekam medis. Selanjutnya, peneliti mempelajari setiap rekam medis dan mencatat informasi yang relevan ke dalam formulir pengumpulan data yang telah Analisis data dilakukan secara analisis yang melibatkan satu variabel. Tujuannya untuk menyajikan distribusi frekuensi, nilai rata-rata, dan ukuran penyebaran data (Supardi & Surahman, 2. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Rawat Inap Simpur. Kota Bandar Lampung, dengan jumlah sampel sebanyak 64 pasien tuberkulosis paru. Pengumpulan data ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Rawat Inap Simpur selama periode Januari hingga Desember 2021. Tabel 1. Karakteristik Pasien Tuberkulosis Paru Karakteristik Frekuensi (%) Jenis Kelamin Laki-laki 38 . Perempuan 26 . Usia 17-44 years (Desaw. 45-59 years (Pra lansi. Ou60 years (Lansi. Tipe Pasien Kasus baru 60 . Kasus kambuh Hasil Pemeriksaan Dahak BTA BTA26 . Kategori Pengobatan Pengobatan TB Kategori I Pengobatan TB Kategori II Sebagian besar pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Rawat Inap Simpur. Kota Bandar Lampung, merupakan laki-laki. Berdasarkan wawancara dengan petugas TB setempat, kondisi ini kemungkinan berkaitan dengan jenis pekerjaan yang dijalani oleh sebagian besar pasien pria, seperti buruh dan pedagang, yang menuntut intensitas interaksi sosial yang tinggi. Selain itu, kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol turut dianggap sebagai faktor yang berkontribusi. Merokok diketahui dapat mengganggu sistem kerentanan terhadap infeksi. Karena perilaku merokok lebih umum dijumpai pada pria, prevalensi tuberkulosis pun cenderung lebih tinggi pada kelompok ini. Selain menyebabkan gangguan pernapasan, rokok juga berdampak negatif terhadap sistem kekebalan tubuh, sehingga menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Risiko penularan TB semakin meningkat bila seseorang memiliki jenis pekerjaan yang menuntut kontak erat dan sering dengan individu yang terinfeksi (MarAoiyah & Zulkarnain, 2. Sementara itu, pada kelompok tuberkulosis dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti tingginya jumlah kelahiran . , adanya riwayat kontak langsung dengan penderita TB, paparan asap dapur yang berkepanjangan, serta kondisi tempat tinggal dengan ventilasi yang tidak memadai (Muslih et al. , 2. Sebagian besar pasien yang terdiagnosis tuberkulosis paru di Puskesmas Rawat Inap Simpur berada pada kelompok usia produktif, yakni 15 hingga 64 tahun. Menurut laporan Kementerian Kesehatan RI tahun 2021, sebesar 82,3% kasus TB paru terjadi pada kelompok usia tersebut. Usia merupakan faktor yang berkontribusi terhadap risiko penularan TB, khususnya karena individu pada usia produktif cenderung melakukan aktivitas fisik yang tinggi. Bila aktivitas ini berlangsung dalam kondisi kerja yang kurang mendukung, imunitas tubuh dapat menurun, sehingga memperbesar risiko infeksi (Fransiska & Hartati, 2019. Kemenkes RI, 2. Individu dalam kelompok usia produktif memiliki potensi lima hingga enam kali lebih tinggi untuk terpapar Mycobacterium tuberculosis karena tingkat mobilitas dan kontak sosial yang intens (Andayani & Astuti, 2. Pasien-pasien TB paru di fasilitas ini didiagnosis dalam rentang waktu Januari hingga Desember 2021. Mayoritas merupakan kasus baru, yaitu pasien yang belum pernah menerima terapi TB atau baru mengonsumsi obat TB kurang dari satu bulan. Sementara itu, pasien yang sebelumnya dinyatakan sembuh atau menyelesaikan pengobatan namun kembali terinfeksi dikategorikan sebagai kasus kambuh (Kemenkes RI, 2. Gejala umum pada kasus baru meliputi nyeri dada, batuk yang menetap selama dua hingga tiga minggu, kelelahan, keringat malam, penurunan berat badan, dan kemungkinan adanya darah dalam Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Evaluasi Penggunaan Obat Antituberkulosis di Puskesmas Simpur Bandar Lampung Gambaran klinis pasien kambuh umumnya serupa dengan pasien baru (Danusantoso, 2018. Widyastuti et al. , 2. Tingginya angka notifikasi TB di Kota Bandar Lampung pada tahun 2021 mencapai 232 per 100. 000 penduduk. Kontak erat di rumah dan lingkungan kerja menjadi penyebab dominan munculnya kasus baru. Penularan biasanya terjadi ketika dua individu berada di satu ruangan tertutup dan terdapat droplet infeksius yang dapat bertahan di udara (Basir & Thahir, 2021. Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, 2. Kontak dengan individu yang belum terdiagnosis TB, baik dari keluarga maupun lingkungan kerja, juga berpotensi menyebabkan kekambuhan. Studi yang dilakukan oleh Naomi et al. menunjukkan kasus kekambuhan pada seorang pasien setelah berinteraksi dengan rekan kerja yang awalnya hanya dicurigai mengalami batuk biasa. Infeksi ulang tersebut teridentifikasi lima bulan kemudian. Penegakan memerlukan pemeriksaan bakteriologis, salah satunya melalui uji mikroskopis BTA . asil tahan asa. dan tes cepat molekuler (TCM). Namun, karena Puskesmas Rawat Inap Simpur belum memiliki perangkat TCM, diagnosis awal dilakukan menggunakan mikroskop untuk pemeriksaan BTA. Sampel dahak yang digunakan terdiri dari dua jenis, yakni sampel dahak pagi (F) yang diambil saat bangun tidur dan sampel sewaktu (S) yang dikumpulkan di puskesmas. Dahak yang layak diperiksa berwarna kuning kehijauan dan memiliki volume antara 3 hingga 5 ml. Pasien dinyatakan positif secara bakteriologis apabila salah satu atau kedua sampel menunjukkan hasil BTA positif. Bila hasil pemeriksaan BTA negatif, pasien akan dirujuk ke fasilitas yang memiliki alat TCM untuk Seluruh pemeriksaan dilakukan sebelum pemberian terapi dimulai (Kemenkes RI, 2020. PDPI, Berdasarkan data pada Tabel 1, jumlah pasien tuberkulosis paru dengan hasil pemeriksaan BTA positif di Puskesmas Rawat Inap Simpur terbilang cukup tinggi. Tingginya angka kasus TB dengan BTA ini diduga dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti kondisi lingkungan yang tidak sehat, hunian yang tidak memenuhi standar kelayakan, kebiasaan merokok, penggunaan bahan bakar yang kurang ramah lingkungan untuk memasak, serta sistem ventilasi rumah yang tidak memadai (Agustina et al. , 2. Mayoritas pasien yang menjalani pengobatan di puskesmas ini termasuk dalam kategori I, yang mengindikasikan bahwa sebagian besar merupakan kasus baru. Jenis obat anti-TB yang digunakan di Puskesmas Simpur adalah kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination/FDC), yang dikenal juga dengan singkatan KDT. Untuk pasien kategori I, digunakan rejimen 2(HRZE)/4(HR)CE, yang terdiri atas kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol selama dua bulan tahap awal, dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin selama empat bulan pada tahap lanjutan. Sementara itu, terapi untuk pasien kategori II yaitu mereka yang mengalami kekambuhan TB menggunakan rejimen 2(HRZES)/(HRZE)/5(HR)CEECE. Pada fase awal pengobatan, pasien menerima kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol, streptomisin selama dua bulan. Selanjutnya, injeksi streptomisin dihentikan dan pasien tetap melanjutkan pengobatan dengan kombinasi isoniazid, rifampisin, dan etambutol selama lima bulan (Kemenkes RI. Namun, berdasarkan Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor HK. 02/i. 1/936/2021, pengobatan kategori II sudah tidak lagi Dalam pedoman terbaru, kombinasi dengan OAT kategori I selama enam bulan dan penggunaannya harus sesuai dengan petunjuk dokter spesialis paru. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Tabel 2. Perbandingan Pengobatan Kategori II Kategori II di Puskesmas Kategori II Kemenkes 2021 Simpur Kategori II Kemenkes 2020 . 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HRE) atau 2(HRZE)/4(HR) Sesuai tidak sesuai 2HRZES/HRZE/5(HR)CEECE 8 bulan 6 bulan Sesuai tidak sesuai Pemberian dosis Pemberian harian pada fase Sesuai tidak sesuai harian/intermiten pada fase lanjutan dan intensif lanjutan dan dosis harian pada fase intensif Pada tahun 2021. Puskesmas Simpur Evaluasi terhadap penggunaan obat masih menerapkan pedoman tatalaksana merupakan suatu proses sistematis dan tuberkulosis edisi tahun 2020 karena instalasi berkelanjutan yang bertujuan untuk menjamin farmasi masih memiliki persediaan obat kesesuaian antara penggunaan obat dengan berdasarkan panduan tersebut. Kondisi ini indikasi klinis, serta memastikan efektivitas, tidak menimbulkan permasalahan, mengingat keamanan, dan rasionalitas penggunaannya Kementerian Kesehatan memberikan arahan (Permenkes RI, 2016. Dalam penelitian ini, untuk mengutamakan pemanfaatan stok obat evaluasi difokuskan pada empat aspek, yakni yang tersedia sebelum beralih ke pedoman ketepatan pemilihan pasien, ketepatan jenis Studi yang dilakukan oleh Surani dan obat, kesesuaian dosis, serta ketepatan durasi rekan-rekan Puskesmas Sriwijaya. Evaluasi ini dimaksudkan untuk Kabupaten Lampung Tengah, mengukur sejauh mana penggunaan obat antimemperlihatkan bahwa pengobatan TB tuberkulosis di Puskesmas Rawat Inap Simpur kategori II masih merujuk pada pedoman telah memenuhi prinsip pengobatan yang tahun 2020 (Surani et al. , 2. tepat dan rasional. Tabel 3. Distribusi Penggunaan Obat Antituberkulosis Paru Berdasarkan Ketepatan Indikasi. Pasien. Pemilihan Obat, dan Lama Pemberian Variabel Tingkat Ketepatan Frekuensi (%) Ketepatan Indikasi Pasien Tuberkulosis Paru Tepat 64 . Ketepatan Pasien Kasus baru Tepat 60 . Kasus kambuh Tepat 4 . Ketepatan Pemilihan Obat OAT Category I . (HRZE)4(HR)3 Tepat 60 . OAT category II 2(HRZE)S/HRZE Tepat 4 . 5(HR)3E3 Ketepatan Lama Pemberian Pengobatan TB Kategori I 6 bulan Tepat 58 . >6 bulan Tepat 2 . <6 bulan Pengobatan TB Kategori II 8 bulan Tepat 3 . >8 bulan Tepat 1 . <8 bulan Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Pemberian obat yang sesuai dengan gejala yang dialami pasien menjadi salah satu ketepatan indikasi terapi (Kemenkes RI, 2. Dalam studi ini, penilaian terhadap ketepatan indikasi dilakukan melalui penelaahan data pada rekam medis pasien, yang mencakup informasi diagnosis, hasil pemeriksaan fisik, uji bakteriologis, dan radiografi toraks. Keputusan pemeriksaan bakteriologis TB biasanya didasarkan pada temuan dari evaluasi klinis awal (Fairuzelsa & Dewi, 2020. Kemenkes RI. Menurut Pedoman Tatalaksana Tuberkulosis Tahun 2020, penetapan diagnosis TB paru mengacu pada hasil anamnesis, bakteriologis, serta pemeriksaan radiologis Gejala utama yang mengindikasikan TB paru antara lain batuk berdahak selama dua minggu atau lebih, hemoptisis . atuk dara. , sesak napas, kelelahan, penurunan nafsu makan, keringat malam tanpa aktivitas, dan demam berkepanjangan selama lebih dari Pemeriksaan dilakukan menggunakan dua spesimen dahak, yaitu dahak sewaktu (S) yang diambil di fasilitas pelayanan kesehatan, dan dahak pagi (F) yang dikumpulkan pasien setelah bangun tidur (Kemenkes RI, 2. Hasil evaluasi di Puskesmas Rawat Inap Simpur menunjukkan bahwa prosedur penetapan indikasi telah sesuai dengan standar klinis yang ditetapkan dalam pedoman tahun 2020. Sementara itu, ketepatan pasien atau patient accuracy dinilai berdasarkan ada tidaknya kondisi fisiologis maupun patologis yang menjadi kontraindikasi penggunaan obat anti-TB (Kemenkes RI, 2. Di Puskesmas Rawat Inap Simpur, pasien yang ditangani mencakup kasus baru TB paru, kasus relaps, serta pasien dengan komorbid seperti Diabetes Melitus tipe 2. Pemilihan regimen pengobatan disesuaikan dengan kondisi klinis khusus pasien, termasuk kehamilan, menyusui, atau penyakit penyerta lainnya, sesuai dengan pedoman yang berlaku (Kemenkes RI, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketepatan pasien di fasilitas ini mencapai pemilihan terapi telah mempertimbangkan kondisi fisiologis dan patologis pasien secara menyeluruh, berdasarkan hasil evaluasi klinis dan bakteriologis. Penegakan diagnosis yang akurat menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum menentukan jenis obat yang akan digunakan, agar terapi yang diberikan dapat menghasilkan efek yang optimal secara klinis (Kemenkes RI, 2. Dalam penelitian ini, evaluasi ketepatan pemilihan obat dilakukan dengan mencocokkan data resep dengan riwayat pengobatan serta hasil diagnosis tuberkulosis paru pada masing-masing pasien. Di Puskesmas Rawat Inap Simpur, pasien TB paru mendapatkan terapi menggunakan kombinasi dosis tetap (KDT) sesuai dengan kategori I atau II. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terapi TB yang diberikan di Puskesmas Simpur telah sesuai dengan pedoman klinis yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Pemilihan regimen pengobatan didasarkan pada Pedoman Tatalaksana Tuberkulosis Tahun 2020. Untuk pasien dengan kasus baru, 2(HRZE)/4(HR)CE, sedangkan untuk pasien yang mengalami kekambuhan, diberikan kategori II dengan regimen 2(HRZE)S/HRZE diikuti oleh 5(HR)CEECE. Sementara itu, pasien TB paru yang memiliki komorbid Diabetes Melitus tipe 2 juga mendapatkan pengobatan kategori I, tetapi dengan pemantauan ketat terhadap kadar gula darah serta pemberian tambahan vitamin B6 (Kemenkes RI, 2. Ketepatan dalam pemberian dosis menjadi hal yang krusial agar obat yang diberikan tidak melebihi maupun kurang dari takaran yang dibutuhkan untuk mencapai efek Dosis yang terlalu kecil dapat membuat kadar obat dalam tubuh tidak sedangkan dosis berlebih meningkatkan potensi timbulnya efek samping (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan pedoman tahun 2020, penentuan dosis obat anti-TB didasarkan pada Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 berat badan pasien. Oleh sebab itu, apabila maka dosis harus disesuaikan, baik ditambah berat badan pasien mengalami perubahan, maupun dikurangi (Kemenkes RI, 2. Tabel 4. Ketepatan Dosis Frekuensi Usia Rasionalitas Dosis Fase Intensif a Fase lanjutan c 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 18-73 tahun Tepat 9 . 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 28-83 tahun Tepat 33 . 26 dan 28 tahun Tidak tepat 2 . 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT 27-63 tahun Tepat 15 . 28 tahun Tidak tepat 1 . 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT Fase Intensif b Fase lanjutan d Usia Rasionalitas Dosis Frekuensi 2 tablet 4KDT Streptomisin 2 tablet 2KDT 2 tablet 500 mg dan 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT Streptomisin 3 tablet 2KDT 3 tablet 42-54 tahun Tepat 3 . 750 mg dan 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT Streptomisin 4 tablet 2KDT 4 tablet 43 tahun Tepat 1 . 1000 mg dan 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Streptomisin 5 tablet 2KDT 5 tablet 1000 mg dan 5 tablet 4KDT A : Kategori I . B : Kategori II . a : 2(HRZE)4(HR)3. b : 2(HRZE)S/(HRZE). c : 4(HR)3. d : 5(HR)3E3 Dalam pengobatan tahap intensif untuk tuberkulosis kategori I, pasien mempertimbangkan berat badan pasien, menerima tablet kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination/FDC atau KDT) yang ketidaksesuaian dosis. Meskipun penggunaan mengandung rifampisin 150 mg, isoniazid 75 FDC bertujuan menjamin efektivitas terapi mg, pirazinamid 400 mg, dan etambutol 275 Obat ini dikonsumsi setiap hari pada pagi samping, hasil pengobatan tidak akan hari sebelum makan. Pada fase lanjutan maksimal jika jumlah obat yang diberikan kategori I, pasien diberikan rifampisin 150 mg tidak sesuai kebutuhan (Kemenkes RI, 2. dan isoniazid 150 mg sebanyak tiga kali Sesuai dengan pedoman nasional, pengobatan Regimen ini dinilai sangat efektif TB paru berlangsung minimal enam bulan dan untuk pengendalian penyakit. Untuk pasien maksimal delapan bulan (Kemenkes RI, 2011. kategori II pada tahap intensif, diberikan kombinasi FDC yang sama ditambah injeksi Pasien dengan kasus baru dan riwayat DM tipe 2 Pemberian dilakukan setiap hari, yang baru terdiagnosis serta memiliki kadar namun pada sebagian kasus tahap intensif gula darah yang terkendali umumnya menjalani dilanjutkan tanpa penggunaan streptomisin. pengobatan kategori I selama enam bulan. Dalam situasi tersebut, kombinasi KDT terdiri Sementara itu, pasien yang juga mengidap DM atas rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg, dan tipe 2 dengan kadar gula darah yang tidak etambutol 275 mg yang diberikan sekali terkontrol dapat membutuhkan terapi lebih dari Pada fase lanjutan kategori II, regimen enam bulan, bahkan hingga sembilan bulan. yang digunakan meliputi etambutol 400 mg. Untuk pasien Di Puskesmas Rawat Inap Simpur, rifampisin 150 mg, dan isoniazid 150 mg Kota Bandar Lampung, pengobatan TB paru dalam bentuk FDC, yang diberikan tiga kali seminggu (Kemenkes RI, 2. mempertimbangkan berat badan pasien. Di Puskesmas Rawat Inap Simpur, sehingga berisiko menimbulkan ketidaksesuaian Kota Bandar Lampung, pengobatan TB paru Meskipun penggunaan FDC bertujuan Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Evaluasi Penggunaan Obat Antituberkulosis di Puskesmas Simpur Bandar Lampung menjamin efektivitas terapi sekaligus menekan kemungkinan efek samping, hasil pengobatan tidak akan maksimal jika jumlah obat yang diberikan tidak sesuai kebutuhan (Kemenkes RI. Sesuai dengan pedoman nasional, pengobatan TB paru berlangsung minimal enam bulan dan maksimal delapan bulan (Kemenkes RI, 2011. DAFTAR PUSTAKA