Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 PREFERENSI PENGOBATAN ALTERNATIF PASIEN DIABETES MELITUS: STUDI KASUS DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS PUNGGELAN I KABUPATEN BANJARNEGARA Tiara Anggraeni. Dedy Purwito Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. Letjen. Soepardjo Roestam, 53181 Sokaraja Banyumas Jawa Tengah e-mail: tiaraanggraeni8888@gmail. com, dedypurwito@ump. Artikel Diterima : 20 Februari 2025. Direvisi : 13 Maret 2025. Diterbitkan : 24 Maret 2025 ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang terjadi saat glukosa darah dalam tubuh meningkat. DM tipe 2 menyumbang 90% dari kasus global. WHO memperkirakan 21,2 juta penderita di Indonesia pada 2030, tertinggi kedua di Asia Tenggara. Prevalensi di Jawa Tengah mencapai 2,1% pada 2018, dengan kasus baru 10,7%. Kabupaten Banjarnegara 765 penderita pada 2022, sementara di Kecamatan Punggelan terdapat 1. 381 kasus. Penderita diabetes akan melakukan pencarian pengobatan salah satunya menggunakan pengobatan alternatif. Rumah Sehat Thibbun Nabawi Laa Tahzan menangani hingga 80 pasien pengobatan alternatif dalam tiga bulan terakhir. Pemilihan pengobatan alternatif pada pasien diabetes dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mendasari pemilihan pengobatan alternatif pada pasien diabetes melitus. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan teknik purposive sampel. Instrumen menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap dan akses. Analisa data univariat, bivariat regresi logistik dan multivariat regresi logistik ganda. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor pengetahuan dengan hasil p-value 0. 183, faktor biaya dan jarak ke pelayanan kesehatan dengan hasil p-value 0. 003, faktor sikap dengan hasil p-value 0. Kesimpulan: Pengurangan hambatan biaya dan jarak dapat meningkatkan akses atau pemanfaatan layanan kesehatan disamping faktor sikap dan pengetahuan dapat dipertimbangkan sebagai faktor Kata Kunci: akses layanan kesehatan, biaya, diabetes melitus, faktor pemilihan, jarak, pengetahuan, pengobatan alternatif, sikap. Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 285 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 ALTERNATIVE TREATMENT PREFERENCES IN DIABETES MELLITUS PATIENTS: A CASE STUDY IN THE SERVICE AREA OF PUSKESMAS (COMMUNITY HEALTHCARE CENTER) PUNGGELAN 1 BANJARNEGARA REGENCY Tiara Anggraeni. Dedy Purwito Nursing Science Study Program. Faculty of Health Sciences Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. Letjen. Soepardjo Roestam, 53181 Sokaraja Banyumas Jawa Tengah e-mail: tiaraanggraeni8888@gmail. com, dedypurwito@ump. ABSTRACT Background: Diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when blood glucose levels increase in the body. Type 2 DM accounts for 90% of global cases, with the WHO estimating 2 million sufferers in Indonesia by 2030, the second highest in Southeast Asia. The prevalence in Central Java reached 2. 1% in 2018, with a 10. 7% rate of new cases. Banjarnegara Regency recorded 15,765 cases in 2022, while Punggelan District reported 1,381 cases. Diabetes patients often seek treatment, including alternative medicine. Rumah Sehat Thibbun Nabawi Laa Tahzan treated up to 80 patients using alternative medicine in the last three months. The choice of alternative treatment in diabetes patients is influenced by several factors. Objective: To identify the factors underlying the choice of alternative medicine in diabetes mellitus patients. Method: A quantitative study with a cross-sectional approach, using purposive sampling technique. The instrument used was a questionnaire covering knowledge, attitudes, and access. Data analysis involved univariate analysis, bivariate logistic regression, and multivariate multiple logistic regression. Results: The study findings indicate that the knowledge factor had a p-value of 0. 183, the cost and distance to healthcare services factor had a p-value of 0. 003, and the attitude factor had a p-value of 0. Conclusion: Reducing barriers related to cost and distance can improve access to or utilization of healthcare services, while attitude and knowledge factors should also be considered as supporting factors. Keywords: alternative treatment, attitude, cost, diabetes mellitus, distance, healthcare access, knowledge, selection factors. Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 286 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index PENDAHULUAN Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang terjadi saat kadar glukosa darah dalam tubuh meningkat karena tidak dapat menghasilkan dengan cukup insulin atau insulin yang dihasilkan oleh tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik (Wahidah, 2. Penyakit diabetes melitus dapat mengurangi kualitas hidup seseorang seperti meningkatkan risiko kematian dan Penggunaan obat antidiabetes konvensional lebih disukai untuk mencegah gejala dan komplikasi karena obat tersebut cenderung membutuhkan waktu lebih cepat walaupun dengan efek samping yang banyak merugikan (Rahmat & Nafolion Nur, 2. Penyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan beberapa komplikasi diantaranya gangguan penglihatan, penyakit jantung, ginjal, infeksi paru-paru, gangguan pembuluh darah, stroke serta luka sulit sembuh atau ulkus diabetikum yang rentang infeksi dan mengakibatkan luka menjadi busuk atau gangreng (Nurfadillah, 2. Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) 90% dari kasus diabetes melitus yang terjadi di seluruh dunia adalah diabetes melitus tipe 2 yang diungkapkan sebagai penyebab kematian nomor 4 di dunia. Sedangkan WHO mengemukakan bahwa di Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 000 pada tahun 2030 dan menjadikan Indonesia berada pada urutan ke-2 dengan prevalensi diabetes melitus tertinggi di Asia Tenggara (Pane et al, 2. Prevalensi kejadian diabetes melitus di Jawa Tengah berdasarkan JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN Riskesdas 2018 yaitu sebesar 2,1% dan masuk ke dalam 11 besar provinsi dengan jumlah penderita tertinggi tahun 2018 (Kemenkes, 2. Diabetes melitus termasuk dalam dua prioritas utama upaya pengendalian PTM (Penyakit Tidak Menula. di Jawa Tengah setelah hipertensi yaitu dengan kejadian kasus baru diabetes melitus yang dilaporkan sebesar 10,7 % (Dinkes Provinsi Jateng, 2. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara jumlah estimasi penderita diabetes melitus di kabupaten Banjarnegara tahun 2022 yaitu sebesar 15. 765 penduduk yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebanyak 100%. Sedangkan untuk wilayah kecamatan punggelan pada tahun 2022 jumlah penderita diabetes mellitus sebanyak 718 orang di Puskesmas Punggelan 1 dan 663 orang di Puskesmas Punggelan 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Rumah Sehat Thibbun Nabawi Laa Tahzan jumlah penderita diabetes alternatif mencapai 20 orang per minggunya dan dalam tiga bulan terakhir mencapai 80 orang. Pengobatan alternatif atau komplementer didefinisikan sebagai bentuk terapi nonkonvensional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan Pengobatan didasarkan pada ilmu biomedik namun belum sepenuhnya diterima Pendekatan efektivitas, serta kualitas layanan. Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 287 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index pendidikan terstruktur (Liem & Wardhani, 2. Menurut Depkes tahun 2017, di Indonesia masih pengobatan alternatif sebagai tempat pelayanan kesehatan, berdasarkan survey ekonomi nasional yang dilakukan pada tahun 2018, sebanyak 45,17% orang masih memilih menyembuhkan penyakitnya. Hal yang sama ditunjukkan dalam Riset Kesehatan Dasar menyebutkan 9% penderita diabetes melitus di Indonesia tidak berobat. Dalam hal ini, 50,4% menyatakan memerlukan pengobatan dari fasilitas 35,7% menggunakan tanaman obat. Data tersebut juga menunjukkan bahwa 34,4% (Febriani Pelayanan digunakan oleh masyarakat bukan hanya karena kekurangan fasilitas pelayanan kesehatan formal yang disebabkan oleh faktor ekonomi, sosial, demografi dan tingkat pengetahuan seseorang. Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab pasien diabetes lebih memilih pengobatan alternatif yaitu terdiri dari faktor pengetahuan, ekonomi dan dukungan keluarga (Nurfaiza & Purwito, 2. Beberapa orang mencari pengobatan alternatif karena mereka merasa tidak puas dalam beberapa hal terkait pengobatan secara konvensional, ketidakpuasan tersebut mengenai biaya perawatan, hal ini menjadi alasan klasik pasien memilih JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN mengetahui efek samping yang akan dialami (Mattarneh, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pengobatan alternatif pada pasien diabetes METODE PENELITIAN Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif dan pendekatan menggunakan crosectional. Penelitian ini dilakukan di di wilayah kerja UPTD Puskesmas Punggelan 1 dan Rumah Sehat Thibbun Nabawi Laa Tahzan pada bulan Maret sampai Mei 2024. Teknik menggunakan purposive sampel, total sampel sebanyak 86 orang dan terbagi menjadi 2 kelompok yaitu 43 pasien diabetes yang berobat ke pengobatan alternatif dan 43 pasien diabetes yang berobat ke pengobatan medis. Kriteria inklusi yang terdiri dari pasien yang penderita diabetes yang berobat ke pengobatan alternatif dan medis, dan bersedia untuk menjadi responden. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariant dengan regresi logistik digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara satu variabel dependen dan satu variabel independen, membantu mengetahui pengaruh langsung suatu faktor terhadap hasil tertentu, seperti Regresi logistik ini memungkinkan kita untuk menghitung odds ratio dan menilai seberapa kuat hubungan antara kedua variabel tersebut. Sementara itu, analisis multivariat dengan regresi Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 288 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN logistik multivariat ganda digunakan nilai rata-rata 55 tahun dengan usia ketika ada lebih dari satu variabel minimal 35 tahun dan maksimal usia Pada jenis kelamin untuk kategori terhadap variabel dependen. pemilihan pengobatan terbanyak HASIL Berdasarkan tabel 1 hasil perempuan dengan hasil 49 . penelitian yang dilakukan pada Pada tingkat pendidikan karakteristik responden berdasarkan untuk kategori pemilihan pengobatan data demografi yang terdiri dari usia, hasil terbanyak terdapat pada tingkat jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendidikan SD dengan hasil 36 penghasilan, dan lama menderita DM. 9%) responden Berdasarkan kategori usia didapatkan Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Responden Pengobatan Usia . Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Laki-laki Perempuan SMP SMA IRT Buruh Swasta Petani PNS Penghasilan (Jut. Lama Menderita DM . Pada jenis pekerjaan untuk kategori pemilihan pengobatan hasil terbanyak terdapat pada jenis pekerjaan IRT (Ibu Rumah Tangg. dengan hasil 36 . 9%). Pada kategori penghasilan terdapat ratarata penghasilan per bulan sebesar Rp Memilih Tidak Memilih F(%) F (%) Rata-rata 56 . in-mak: 35-. Rata-rata: 1. in-mak: 1. Rata- rata: 5. in-mak: 3-. penghasilan tertinggi sebesar Rp Distribusi frekuensi antara pengetahuan dan pengobatan terdapat 21 . responden dengan pengetahuan tahu serta memilih pengobatan dan terdapat 19 . dengan pengetahuan tahu serta tidak memilih pengobatan. Pada kategori pengetahuan tidak tahu terdapat 29 Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 289 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN . responden yang memilih Pada Regresi Logistik pengobatan dan terdapat 17 . menunjukkan hasil p-value 0. responden dengan pengetahuan tidak . >0. dan nilai Exp B (Coefisie. tahu serta tidak memilih pengobatan. dengan hasil 0. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan pada Penderita Diabetes Melitus Pengobatan Uji Exp B Variabel Total Regresi (Coefisie. Memilih Tidak n (%) Logistik n (%) Memilih (Pn (%) Valu. Pengetahuan 21 . 09 ) 40 . A Tahu . A Tidak Tahu Jarak dan Biaya 43 . A Mudah 7 . A Sulit Sikap A Mendukung . A Tidak Mendukung Total 50 . 86 ) 86 . Berdasarkan tabel 2 hasil distribusi frekuensi antara jarak dan biaya ke tempat pelayanan kesehatan dengan pengobatan terdapat 43 . responden dengan jarak dan biaya mudah memilih pengobatan dan terdapat 19 . responden dengan jarak dan biaya mudah yang tidak memilih pengobatan. Pada kategori jarak dan biaya sulit terdapat 7 . responden memilih pengobatan dan terdapat 17 . responden dengan jarak dan biaya sulit serta tidak memilih pengobatan. Pada Regresi Logistik menunjukkan hasil p-value 0. <0. dan nilai Exp B (Coefisie. dengan hasil 5. Distribusi frekuensi sikap dengan pengobatan terdapat 23 . responden dengan sikap mendukung serta memilih pengobatan dan terdapat 10 . responden dengan sikap mendukung serta tidak memilih Pada kategori sikap tidak mendukung terdapat 27 . responden memilih pengobatan dan terdapat 26 . responden dengan sikap tidak mendukung serta tidak memilih pengobatan. Pada uji Regresi Logistik menunjukkan hasil p-value 0. >0. dan nilai Exp B (Coefisie. dengan hasil 2. Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 290 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN Tabel 3 Faktor yang Paling Dominan dalam Mempengaruhi Pemilihan Pengobatan pada Penderita Diabetes Melitus Variabel Sig Exp B Pengetahuan Jarak dan biaya Sikap Pada uji multivariat regresi logistik ganda model prediksi, dilakukan tahap seleksi bivariat yaitu variabel independen yang dapat Pada tahap ini yang multivariat adalah variabel yang mempunyai p-value < 0. Pada Analisa bivariat di dapatkan variabel pengetahuan hasil p-value 0. >0. , variabel jarak dan biaya hasil p-value 0. <0. , dan variabel sikap p-value 0. >0. Untuk pengetahuan dan sikap tetap masuk dengan variabel dependen. Serta adanya perubahan nilai Exp B atau OR (Odd Rati. dari kedua variabel > 10 . oefisien dari variabel yang masih dalam model berubah besa. Didapatkan pada hasil dari uji multivariat regresi logistik ganda faktor pengetahuan dengan hasil pvalue 0. >0. dan Exp B 516, faktor sikap dengan hasil pvalue 0. >0. dan Exp B 684 serta didapatkan faktor yang paling dominan atau berpengaruh terhadap pemilihan pengobatan adalah faktor jarak dan biaya ke tempat pelayanan kesehatan dengan hasil nilai B 1. 639, nilai p- value 003 . <0. , dan nilai Exp B atau OR 5. PEMBAHASAN Pengetahuan diabetes melitus dengan kategori pengetahuan tidak tahu sebanyak 46 . responden untuk kategori pengetahuan tahu sebanyak 40 . 51 ) responden. Dalam hal ini penderita diabetes melitus tentang health seeking behavior masih kurang hal ini dibuktikan dengan menunjukkan hasil p-value 0. >0. hasil tersebut dikarenakan masih banyak responden yang berpendidikan menengah (SD. SMP. SMA) dan pengetahuan tentang health seeking behavior masih kurang dilihat dari pernyataan tentang respon seseorang ketika Rendahnya rendahnya tingkat pendidikan, memperoleh informasi terhadap termasuk pencarian pengobatan dipengaruhi oleh pendidikan dan pekerjaan (Putri Dafriani & Ratna Indah Sari Dewi, 2. Pendidikan berkaitan erat dengan pengetahuan, di mana semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin baik pengetahuan yang dimiliki, memudahkan seseorang untuk memahami informasi dan Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 291 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index fokus pada aktivitas yang dijalani, serta mempercepat akses untuk memperoleh informasi kesehatan. Informasi kesehatan sangat mempengaruhi tindakan dan perilaku seseorang. (Pane et al. ,2. Informasi yang memadai menunjukkan pengetahuan yang pengetahuan dapat memengaruhi perilaku, termasuk health seeking Lingkungan pengetahuan seseorang, dalam penelitian ini responden yang tinggal di lingkungan pedesaan memiliki informasi terbatas tentang health seeking behavior. (Pane et ,2. Jarak dan biaya ke tempat pelayanan kesehatan pada penderita diabetes melitus dengan kategori akses mudah sebanyak 62 . orang dan jarak dan biaya ke tempat pelayanan kesehatan pada penderita diabetes melitus dengan kategori akses yang sulit ke tempat pelayanan kesehatan sebanyak 24 . Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa jarak dan kesehatan mempunyai pengaruh dalam pemilihan pengobatan hal ini sesuai dengan hasil uji regresi logistik menunjukkan hasil p-value 001 . <0. Hal ini dikarenakan kediamannya tidak terlalu jauh dari tempat pengobatan dan pelayanan kesehatan dengan jarak tempuh <30 Sedangkan untuk biaya pengobatan sendiri, masih ada juga yang beranggapan bahwa biaya JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN perjalanan pengobatan kurang Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa keterjangkauan jarak dan biaya pengobatan dapat menjadi salah satu faktor dalam mencari fasilitas kesehatan. Untuk pembiayaan pengobatan sendiri, pada saat ini bisa dibantu dengan adanya program pemerintah yaitu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosia. dapat membantu meringankan biaya pengobatan yang tinggi (Hermawan et al. Sikap penderita diabetes melitus dengan kategori tidak mendukung sebanyak 53 . penderita diabetes melitus dengan kategori mendukung sebanyak 33 . Dalam hal ini diketahui bahwa sikap penderita diabetes melitus masih kurang hal ini dibuktikan dengan hasil uji Regresi Logistik menunjukkan hasil p-value 0. >0. Hasil ini menunjukkan banyak responden pengobatan saat sakit dan lebih memilih pengobatan non-medis. Lingkungan pedesaan seringkali menyebabkan masyarakat merasa penyakit bisa ditangani tanpa perlu ke fasilitas kesehatan, yang mempengaruhi sikap mereka dalam mencari pengobatan (Pane et al. Keyakinan ini mempengaruhi sikap responden dan pengetahuan yang dimiliki menjadi faktor penting dalam menentukan sikap Pengetahuan yang baik cenderung menghasilkan sikap positif dalam mencari pengobatan, meskipun ada juga yang bersikap Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 292 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Menurut (Hayden, 2. sikap adalah serangkaian keyakinan yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak seseorang. Dalam konteks kesehatan, keyakinan yang benar tentang kesehatan akan membantu seseorang menentukan sikap untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatannya. Sikap mencerminkan penilaian positif atau negatif terhadap perilaku tersebut, yang dipengaruhi oleh pengalaman atau pengetahuan. Sikap positif meningkatkan kesadaran, sementara sikap negatif meningkatkan risiko atau ancaman. Dengan demikian, pengetahuan yang baik tentang health seeking behavior akan menghasilkan sikap yang lebih Jarak merupakan jumlah lintasan agar seseorang dapat mencapai fasilitas kesehatan, seperti puskesmas atau rumah sakit, yang dinilai berdasarkan waktu tempuh, jarak, dan biaya yang dikeluarkan (Khudori, 2. Usaha yang diperlukan untuk mencapai tempat tersebut seperti waktu dan tenaga, kepemilikan dan memengaruhi tindakan seseorang. Keterjangkauan jarak ke fasilitas kesehatan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi health seeking behavior individu (Rahman et al. , 2. Variabel jarak dan biaya ke tempat pelayanan kesehatan mempunyai nilai p-value 003 . <0. , dan nilai Exp B Variabel jarak dan biaya mempunyai nilai Sig Wald 0,003 . < 0,. sehingga menolak H0 atau yang berarti jarak dan biaya ke memberikan pengaruh parsial yang JMM 2025 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN signifikan terhadap pemilihan pengobatan penderita diabetes. Pada pengaruh ditunjukkan dengan nilai Exp (B) atau disebut juga Odds Ratio (OR). Variabel jarak dan biaya dengan OR 5. 149 maka jarak dan biaya ke tempat pelayanan kesehatan dengan akses mudah mempunyai pengaruh terhadap pemilihan pengobatan sebanyak 149 kali dibandingkan dengan akses jarak dan biaya yang sulit. Nilai B = Logaritma Natural dari 149 = 1. Oleh karena nilai B bernilai positif, maka jarak dan kesehatan mempunyai hubungan Jarak merupakan salah satu variabel yang dinilai untuk mengetahui keputusan pemilihan pengobatan, pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor kesehatan dengan tempat tinggal menjadi faktor urutan pertama terhadap permitaan konsumen dalam pemanfaatan pelayanan (Khudori, menyimpulkan bahwa semakin dekat lokasi pelayanan kesehatan maka semakin tinggi pemanfaatan pelayanan kesehatan. KESIMPULAN Karakteristik individu seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan lamanya menderita diabetes melitus (DM) mempengaruhi pilihan pengobatan pada pasien, di mana sekitar separuh responden memiliki pengetahuan kurang baik mengenai DM namun mayoritas memiliki akses mudah dan terjangkau ke pelayanan kesehatan. Jurnal Menara Medika Vol 7 No 2 Maret 2025 | 293 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index Lebih dari separuh responden menunjukkan sikap tidak mendukung pengobatan konvensional, dan hasil uji regresi logistik menegaskan bahwa akses mudah terhadap pelayanan kesehatan menjadi faktor utama dalam pemilihan pengobatan, dengan kecenderungan responden memilih pengobatan alternatif karena layanan yang lebih terjangkau secara SARAN Meningkatkan pengobatan yang efektif, diperlukan pendekatan holistik yang mencakup edukasi mendalam bagi responden dengan tingkat pendidikan rendah melalui pelatihan dan seminar, serta penyediaan informasi perawatan diabetes dan pengobatan alternatif melalui platform online, brosur, atau kampanye publik. Selain itu, pengembangan kebijakan kesehatan yang mendukung aksesibilitas dan biaya pelayanan yang terjangkau, termasuk subsidi untuk pengobatan DM konvensional dan integrasi pengobatan alternatif, sangat penting. Pelatihan intensif bagi tenaga kesehatan juga diperlukan untuk meningkatkan pemahaman mereka dalam manajemen diabetes. Terakhir, studi lanjutan dan pemantauan saran-saran efektivitasnya dalam meningkatkan hasil kesehatan pasien. DAFTAR PUSTAKA