NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan Volume 6. Issue 4. November 2025 DOI: https://doi. org/10. 55681/nusra. Homepage: ejournal. id/index. php/nusra p-ISSN: 2715-114X e-ISSN: 2723-4649 NEGOSIASI IDEOLOGI DALAM CERPEN KURIK KARYA HASAN AL BANNA: KAJIAN HEGEMONI GRAMSCI DALAM PEMBELAJARAN PSIKOLOGI SASTRA Try Annisa Lestari*. Harisah Fitri. Rizki Akbar Mustopa. Handini Rahmawati Politeknik Negeri Media Kreatif. Indonesia *Corresponding author email: Try. lestari@polimedia. Article History ABSTRACT Received: 24 July 2025 Revised: 30 October 2025 Published: 7 November 2025 Every individual basically has the freedom to think and act as they wish. However, in social reality, this freedom is often not fully realized because society has been controlled by dominant ideologies that shape their thinking and behavior structures. Literature is present as an important tool to unite social forces and become a space of resistance for oppressed groups against the dominance of established ideologies. This study aims to explain the forms of ideology that live in society, especially dominant ideologies, as reflected in the short story Kurik by Hasan Al Banna. Using a qualitative descriptive approach and Gramsci's hegemony theory, it was found that the character Sapar in the short story is not a symbol of direct resistance to capitalism. Instead, he is a manifestation of an attempt at compromise, namely negotiation so that capitalism can be more humane and social, which respects human values and the basic rights of every individual. Keywords: hegemony, ideology, capitalism, short story. Gramsci Copyright A 2025. The Author. How to cite: Lestari. Fitri. Mustopa. Rahmawati. NEGOSIASI IDEOLOGI DALAM CERPEN KURIK KARYA HASAN AL BANNA: KAJIAN HEGEMONI GRAMSCI DALAM PEMBELAJARAN PSIKOLOGI SASTRA. NUSRA: Jurnal Penelitian Dan Ilmu Pendidikan, 6. , 852Ae858. https://doi. org/10. 55681/nusra. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan LATAR BELAKANG Cerpen Kurik merupakan karya sastra yang ditulis oleh Hasan Al Banna dengan latar kehidupan masyarakat miskin. Karya ini menggambarkan kondisi sosial yang penuh tekanan, ketimpangan, dan dominasi ideologi kelas atas terhadap masyarakat Melalui kisah tokoh Deslima dan Sapar. Hasan memperlihatkan bagaimana kelompok elite berusaha mengarahkan dan membentuk masyarakat bawah melalui kontrol ideologis yang merasuk ke dalam aspek budaya, sosial, politik, dan agama. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bentuk negosiasi ideologi yang ditampilkan dalam cerpen. Sastra di sini berfungsi sebagai alat para intelektual untuk menyampaikan gagasan dan membentuk kesadaran moral masyarakat. Dalam konteks ini, penulis memanfaatkan teori hegemoni Gramsci yang menekankan pentingnya dominasi yang diperoleh bukan melalui kekerasan, tetapi melalui persetujuan dan kesadaran sosial. Gramsci hegemoni untuk menjelaskan bagaimana dominasinya tidak hanya melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui kontrol ideologis. Hegemoni tercipta ketika kelompok subordinat menerima nilai-nilai dominan sebagai sesuatu yang wajar. Dalam pandangan Gramsci, seni dan sastra berada membentuk kesadaran sosial. Perbedaan utama antara Gramsci dan Marx terletak pada pendekatan terhadap kekuasaan dan kesadaran kelas. Marx menekankan pentingnya kesadaran kelas proletariat untuk melakukan revolusi, sementara Gramsci menyoroti pentingnya representasi ideologi yang inklusif dan konsensus. Oleh karena Volume 6. Issue 4. November 2025 itu, dalam konteks sastra, pengarang dianggap sebagai intelektual organik yang menyampaikan gagasan-gagasan ideologis kepada masyarakat luas. Kegiatan ini adalah aktivitas historis yang dapat dilakukan oleh manusia kolektif (Faruk, 1994: . Karya sastra dijadikan sebagai ajang pemersatu kekuatan-kekuatan sosial yang bertentangan, sekaligus menjadi pertarungan kelompok subordinat untuk melakukan perlawanan terhadap tindakan politik sebagai usaha kelompok subordinat untuk menolak unsur-unsur ideologis yang datang kepada mereka (Faruk, 1994: . Dalam masyarakat akan ditemukan mengakibatkan terjadinya pertarungan kelompok intelektual. Kondisi tersebut dikarenakan proses berkembangnya suatu kelompok menjadi dominan, sehingga berjuang untuk berasimilasi dan bertarung intelektual tradisional (Faruk, 1994: . Salah satu bentuk hegemoni dalam karya sastra adalah adanya formasi ideologi. Formasi adalah susunan yang saling berhubungan dan bersifat bertentangan, dan subordinatif. Formasi ideologi tidak hanya membicarakan tentang ideologi-ideologi yang ada di dalam karya . , tetapi hubungan natara ideologiideologi tersebut (Harjito, 2002: . Ideologi adalah sistem besar yang memberikan orientasi kepada manusia, sehingga ideologi memiliki pengikut. Ideologi bersifat kolektif dan berada di wilayah super struktur yang menjelma dalam praktik-praktik sosial setiap orang, lembagalembaga pemerintah, institusi pendidikan, oranisasi-organisasi, perusahaan komersial, dan lain-lain (Storey, 2003: 4. Harjito, 2002: Negosiasi Ideologi Dalam Cerpen Kurik Karya Hasan Al Banna. Oe Try Annisa Lestari NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis Sumber data utama adalah cerpen Kurik karya Hasan Al Banna, dengan data pelengkap berupa informasi mengenai latar sosial penulis. Langkah-langkah analisis dilakukan melalui pembacaan mendalam, klasifikasi data, seleksi informasi relevan, analisis berdasarkan teori Gramsci, serta penyusunan interpretasi dalam bentuk narasi HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan langsung dan wawancara, ditemukan jika guru Bahasa Inggris di MI Tahfidz As Sholihah telah mulai memanfaatkan media audio visual sebagai bagian dari inovasi Media yang digunakan meliputi video animasi edukatif, lagu Bahasa Inggris anak-anak, dan tayangan Media diintegrasikan ke dalam proses belajar di kelas setiap dua hingga tiga pertemuan. Pandangan Ideologis Hasan Al Banna. Sebagai penulis. Hasan Al Banna menunjukkan kepedulian terhadap realitas sosial masyarakat kelas bawah yang tertindas. Dalam Kurik, ia mengkritik kekuasaan kapitalis yang menindas kelompok miskin. Meski begitu. Hasan tidak secara langsung kompromi ideologis agar kapitalisme menjadi lebih berperikemanusiaan. Hal ini memperlihatkan kemenduaan posisi Hasan sebagai intelektual yang juga hidup dalam realitas sistem kapitalis. Volume 6. Issue 4. November 2025 AuKalau Bou-mu ini, beginilah Makan tak makan. Tapi, taka baik pula Bou banyak Nanti marah pula Tuhan. Iya kanAy. Sapar menganggukangguk dengan mulut yang terisi (Al Banna, 2011:. Representasi Negosiasi Ideologi dalam Cerita Tokoh Sapar menjadi simbol negosiasi ideologi dalam cerita. Ia tidak melawan secara frontal sistem kapitalisme, tetapi memperlihatkan sikap yang penuh empati dan kemanusiaan kepada tokoh Deslima dan keluarganya. Tindakantindakan Sapar mencerminkan upaya mengubah ideologi dominan dari dalam, meskipun pada akhirnya gagal. Ini ditundukkan hanya dengan empati atau kompromi moral. AuYa, malam ini ke Medan. Besok siang baru naik pesawat ke Jakarta. Ay Deslima takjub. AuBegitulah Bou, datanglah Bou ke rumah melepas kami. Ay (Al Banna, 2011:. KESIMPULAN Cerpen Kurik bagaimana ideologi dominan seperti kapitalisme bekerja dalam masyarakat dan memengaruhi cara pandang serta tindakan Hasan Banna menampilkan perlawanan secara langsung, tetapi menawarkan bentuk kompromi melalui nilai-nilai sosial-humanis. Namun, melalui tokoh Sapar yang akhirnya tidak mampu keluar dari sistem, penulis membutuhkan usaha kolektif dan kekuatan yang lebih besar dari sekadar negosiasi Dengan demikian, karya ini menjadi bentuk kritik halus terhadap hegemoni Negosiasi Ideologi Dalam Cerpen Kurik Karya Hasan Al Banna. Try Annisa Lestari NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan kapitalisme dan seruan untuk kesadaran ideologis yang lebih dalam DAFTAR PUSTAKA