Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 KORELASI HIGH SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN . s-CRP) DENGAN MONOSIT PADA PASIEN TUBERKULOSIS SETELAH PENGOBATAN Frieti Vega Nela1. Erawati2. Triffit Imasari1. Erlina Setia Ningrum1 D4 Teknologi Laboratoium Medis Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. Jl. KH Wachid Hasyim No. Bandar Lor. Kediri. Kota Kediri. Jawa Timur 64114 D3 Teknologi Laboratoium Medis Fakultas Teknologi dan Manajemen Kesehatan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. Jl. KH Wachid Hasyim No. Bandar Lor. Kediri. Kota Kediri. Jawa Timur 64114 Info Artikel: Disubmit: 23-05-2025 Direvisi: 09-06-2025 Diterima: 19-06-2025 Dipublikasi: 20-06-2025 Penulis Korespondensi: Email: veganela@iik. Kata kunci: hs-CRP. Monosit. Tuberkulosis DOI: 10. 47539/gk. ABSTRAK Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksius yang berlangsung lama dan utamanya mempengaruhi organ paru. Kondisi ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang biasanya menyerang sistem pernapasan manusia. Pemeriksaan High Sensitivity C-Reactive Protein . s-CRP) dan monosit dapat digunakan sebagai pemeriksaan untuk mengetahui terjadinya inflamasi pasien tuberkulosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 15 sampel. Hasil pemeriksaan hs-CRP didapatkan nilai rata-rata 3,22 mg/L dan rata-rata monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan yaitu 540,80 mm3. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas Shapiro-wilk dan uji korelasi menggunakan uji pearson product moment. Berdasarkan uji pearson product moment didapatkan nilai signifikasi 0,037 dengan nilai koefisien korelasi yang diperoleh yaitu 0,542. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya korelasi antara hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan, dengan korelasi positif yang menandakan korelasi kuat antara hasil hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan. ABSTRACT Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease that primarily affects the lungs and is caused by Mycobacterium tuberculosis. This pathogen typically targets the human respiratory system. Highsensitivity C-reactive protein . s-CRP) and monocyte levels can serve as diagnostic indicators to assess inflammation in TB patients. This study examines the relationship between hs-CRP and monocyte levels in tuberculosis patients following treatment. A cross-sectional study design with accidental sampling was employed, involving 15 participants. The mean hs-CRP level was 3. 22 mg/L, while the mean monocyte count was 540. 80 cells/mmA. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test and Pearson product-moment correlation test. The Pearson test yielded a significance value of 0. 037 and a correlation coefficient . The results indicate a statistically significant positive correlation between hs-CRP and monocyte levels in tuberculosis patients after treatment. This suggests a moderate to strong association between inflammatory response and monocyte activity post-therapy. Keywords : hs-CRP. Monocytes. Tuberculosis Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 PENDAHULUAN Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi kronis yang terutama menyerang paru-paru, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penularan terjadi melalui droplet udara yang dikeluarkan oleh penderita Bakteri Tahan Asam (BTA) positif saat batuk atau bersin. Bakteri ini dapat terhirup oleh individu sehat dan menyebabkan infeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri gram positif, aerob obligat, non-motil, tidak membentuk endospora atau kapsul, dan tahan asam. Bakteri berbentuk batang ini berukuran 0,2Ae0,4 y 2Ae10 m serta tumbuh lambat, membutuhkan 2Ae60 hari pada suhu 37AC. (Mar'iyah and Zukarnain, 2. Menurut WHO, sekitar seperempat populasi dunia diperkirakan terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, dengan 10 juta kasus TB tercatat secara global pada tahun 2020. Di Indonesia, terdapat 969 ribu kasus baru dan 144 ribu kematian akibat TB pada tahun 2022. Pada tahun yang sama. Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat 78. 799 kasus TB paru (Dinkes, 2. Rata-rata kejadian tuberkulosis paru di RSD Nganjuk priode April-Juni 2023 terdapat 33 pasien setelah pengobatan. Mycobacterium tuberculosis menyebar saat penderita TBC paru BTA positif mengeluarkan droplet nuclei saat berbicara, batuk, atau bersin. Droplet ini dapat tersebar lebih luas melalui aliran udara (Sahadewa et al. , 2. Saat terinfeksi, tubuh akan mengaktifkan sistem imun yang memicu perubahan metabolisme dan reaksi inflamasi berkepanjangan, ditandai dengan demam, penurunan nafsu makan, malabsorpsi nutrisi, dan gangguan metabolisme. Bakteri yang masuk ke alveoli memicu respon inflamasi, di mana makrofag melepaskan sitokin seperti IL-6 yang merangsang hati memproduksi protein fase akut, termasuk C-Reactive Protein (CRP) dan fibrinogen. Protein ini membantu fagositosis terhadap bakteri. Peningkatan kadar CRP menjadi indikator inflamasi dan terbukti meningkat pada kasus TBC aktif maupun saat pengobatan gagal (Seno et al. , 2. Peningkatan kadar CRP berkaitan dengan respons tubuh terhadap terapi antibiotik. Kadar CRP yang tinggi di awal pengobatan mencerminkan peradangan, dan akan menurun setelah beberapa bulan terapi OAT yang teratur (Maliza et al. , 2. Terapi OAT fase awal selama dua bulan efektif mencegah resistensi, menurunkan populasi bakteri, dan mengurangi jumlah leukosit. Tanpa penanganan. TBC dapat menyebabkan peradangan ginjal dan peningkatan CRP. Pada pasien TBC, kadar CRP dapat meningkat meskipun tanpa kerusakan paru, namun lebih tinggi pada kasus TBC aktif dengan kerusakan jaringan paru yang luas (Seno et al. , 2. High Sensitivity C-Reactive Protein . s-CRP) adalah metode sensitif yang dapat mendeteksi kadar CRP dalam jumlah sangat kecil, bahkan dalam rentang normal. Metode ini memungkinkan identifikasi dini inflamasi ringan, termasuk pada infeksi tuberkulosis laten akibat Mycobacterium Hs-CRP terbukti menjadi penanda yang andal untuk mendeteksi inflamasi sistemik dengan derajat rendah (Yulistian, 2. Tuberkulosis (TBC) merupakan penyebab utama peningkatan monosit . , yang berperan penting dalam respons imun terhadap infeksi. Mycobacterium tuberculosis dipecah oleh monosit dan makrofag, membentuk sel epiteloid dan tuberkel, sehingga monositosis sering dianggap Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 sebagai penanda TBC aktif dan berhubungan dengan prognosis buruk. Monosit berfungsi menyajikan antigen dan melakukan fagositosis terhadap bakteri. Peningkatannya umum terjadi pada infeksi granulomatosa dan gangguan mieloproliferatif. Dengan peran pentingnya dalam respons imun, jumlah monosit meningkat saat terjadi infeksi aktif TBC (Nabilah et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan. METODE Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Waktu penelitian tanggal 21 Maret-17 Mei 2024, bertempat di RSD Nganjuk dengan nomor uji etik 893/06/411. 701/2024. Populasi pada penelitian ini yaitu pasien tuberkulosis setelah pengobatan dua bulan di RSD Nganjuk sebanyak 15 pasien. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah whole blood dan serum pasien tuberkulosis. Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling, subjek diambil secara kebetulan berdasarkan ketersediaannya. Kriteria inklusi penelitian ini adalah pasien yang telah menjalani pengobatan OAT selama dua bulan, sedangkan kriteria eksklusi untuk penelitian ini antara lain pasien tuberkulosis yang belum pernah diobati dengan OAT dan pasien tuberkulosis yang sudah selesai melakukan pengobatan OAT berdasarkan data rekam medis, pasien diberikan penjelasan dan mengisi Infomed Consent. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kadar hs-CRP dan variabel terikat pada penelitian ini adalah kadar monosit. Pemeriksaan hs-CRP menggunakan metode Immunofluorescence dengan alat ichromaE II sedangkan pemeriksaan monosit menggunakan Hematology analyzer Sysmex XN-550. Kriteria nilai hs-CRP yaitu nilai rendah <0. 0 mg/L, tinggi >3. 0 mg/L sedangkan nilai monosit rendah <100mm3, normal 100-800mm3 dan tinggi >800 mm3. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan korelasi menggunakan uji pearson product moment, pengambilan keputusan didasarkan pada nilai alpha () 0,05. Jika nilai > 0,05 maka H0 diterima yaitu terdapat korelasi, sebaliknya apabila nilai < 0,05 maka H0 ditotak yaitu tidak terdapat korelasi. HASIL Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hasil pemeriksaan hs-CRP dan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan diperoleh responden sebanyak 15 dengan hasil sebagai berikut. Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan jenis kelamin total 15 responden, dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 10 orang . %) dan perempuan sebanyak 5 orang . %). Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan usia Usia Total Pada Tabel 2 terdapat karakteristik responden penelitian berdasarkan umur dan diketahui frekuensi terbanyak di rentang umur 52-69 tahun 6 responden . %) . Tabel 3. Hubungan pemeriksaan hs-CRP dan monosit Pemeriksaan hs-CRP Monosit Mean A SD p-value 0,037 Tabel 3 menunjukkan hasil pemeriksaan hs-CRP nilai rata-rata 3,22 mg/L dan monosit rata-rata 540,80 mm3, uji selanjutnya mengunakan pearson product moment yang menunjukkan hasil hs-CRP dengan monosit didapatkan nilai koefisien korelasi 0,542 yang artinya terdapat hubungan kuat antara hasil pemeriksaan hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan dan nilai sig sebesar 0,037. Berarti terdapat hubungan sig antara hs-CRP dan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan. BAHASAN Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksius yang berlangsung lama dan utamanya memengaruhi organ paru. Penularan TBC terjadi saat penderita batuk atau bersin, menyebabkan inhalasi droplet kecil. Meskipun umumnya menyerang paru-paru. TBC juga bisa menginfeksi organ lain seperti kelenjar, tulang, dan sistem saraf (Kemenkes, 2. Infeksi virus maupun bakteri dapat mengakibatkan kenaikan kadar CRP serum. Peningkatan monosit dan aktivitas makrofag selama peradangan adalah faktor yang dapat mendorong hati untuk memproduksi CRP. Pada kasus tuberkulosis aktif, jumlah monosit mungkin naik signifikan, tetapi akan menurun saat pasien mulai pulih (Irawati et al. , 2. Penyakit tuberkulosis paru biasanya lebih banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan. Lakilaki memiliki beberapa faktor yang meningkatan risiko terinfeksi TBC, pekerjaan yang berat, minimnya waktu untuk beristirahat, serta kebiasaan buruk seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol, yang lebih umum ditemukan pada populasi laki-laki. Pada perempuan memiliki tingkat perhatian yang lebih tinggi terhadap kesehatan dibandingkan laki-laki mungkin menjadi alasan mengapa kasus TBC paru lebih jarang terjadi pada perempuan. Hal ini juga didukung kecenderungan perempuan untuk lebih aktif melaporkan gejala penyakit dan mencari konsultasi medis karena perilaku yang lebih teliti (Sunarmi and Kurniawaty, 2. Penggunaan kontrasepsi hormonal maupun non-hormonal pada perempuan dapat memicu peningkatan kadar CRP dalam darah. Oleh karena itu, tingginya kadar CRP pada perempuan Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 tidak selalu mengindikasikan adanya peradangan akibat keberadaan antigen Mycobacterium tuberculosis (Wuan et al. , 2. Tuberkulosis paru umumnya mendominasi pada individu berusia 55-64 tahun (Fitria et al. , 2. Pola hidup cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Ini disebabkan oleh dampak penyakit, karena pada usia lanjut, lebih beresiko mengalami komplikasi penyakit lain dan harapan kesembuhan rendah dibandingkan dengan penderita umur produktif termotivasi untuk sembuh (Abrori et al. , 2. Peningkatan hasil pemeriksaan hs-CRP menunjukkan adanya peradangan yang masih berlangsung di dalam tubuh penderita (Wuan et al. , 2. Kenaikan hasil hs-CRP setelah pengobatan dapat mengindikasikan kegagalan terapi dan terjadinya resistensi TBC (Seno et al. , 2. High sensitivity C-Reactive Protein . s-CRP) yang merupakan biomarker inflamasi non spesifik yang dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi adanya inflamasi, termasuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (Nurisani et al. , 2. Jumlah monosit serum pada penderita tuberkulosis menurun setelah pengobatan. Pengobatan tuberkulosis paru yang rutin secara efektif mengurangi jumlah monosit, dan seiring waktu, kadar monosit cenderung kembali ke tingkat normal. Penurunan jumlah monosit terjadi sebagai hasil dari pengobatan OAT yang rutin. Terapi ini efektif membunuh bakteri tuberkulosis, sehingga kondisi pasien membaik (Kadarwati et al. , 2. Pada fase awal pengobatan, dimana jumlah monosit belum mengalami penurunan, pengobatan perlu dilanjutkan ke fase lanjutan. Fase ini berfungsi untuk membunuh bakteri persister dan secara efektif mencegah kekambuhan penyakit (Nurisani et al. , 2. Hasil hs-CRP normal dan monosit normal infeksi tuberkulosis pertama kali terjadi, kadar hs-CRP akan naik. Sebaliknya, setelah pasien menyelesaikan pengobatan tuberkulosis, kadar ini akan kembali menunjukkan penurunan. Lama waktu pemberian OAT juga memengaruhi kadar hs-CRP dalam darah. Saat pengobatan berlangsung, proses peradangan dalam tubuh mereda, mengakibatkan penurunan kadar CRP serta jumlah monosit. Aktivitas fisik intens atau olahraga berdampak pada sistem imun dengan menurunkan jumlah sel darah putih mononuklear dalam aliran darah. Sel-sel ini merupakan sumber sitokin pemicu peradangan seperti interleukin-1 (IL-. , interleukin-6 (IL-. , interleukin-1 (IL-. , interleukin-8 (IL-. , dan CRP. Olahraga juga meningkatkan produksi agen anti-inflamasi seperti IL-1 dan IL-10. Penurunan IL-6 berdampak pada penurunan CRP, mengingat IL-6 adalah stimulator utama sekresi CRP di hati (Nurisani et al. , 2. Meningkatnya kadar hs-CRP menunjukkan adanya peradangan dalam tubuh, kadar CRP setelah terapi dapat mengisyaratkan kegagalan pengobatan atau resistensi TBC. Sebaliknya, penurunan jumlah monosit dapat mengindikasikan adanya penekanan sistem imun atau reaksi yang kurang efektif terhadap infeksi (Nurisani et al. , 2. Pada penelitian hubungan antara hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan ditemukan adanya hubungan antara kedua variabel. Pada fase awal pengobatan, tubuh mengalami inflamasi yang memicu sel-sel untuk melepaskan neurotransmiter endogen, mempercepat proses sintesis. Seiring dengan perbaikan inflamasi dan setelah beberapa bulan pengobatan, kadar CRP Gema Kesehatan, p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100 https://gk. com/gk Volume 17. Nomor 1. Juni 2025 dalam darah akan kembali normal. Terapi tuberkulosis melibatkan pemberian OAT. Pada fase awal. OAT diberikan setiap hari selama dua bulan tanpa henti. Pada tahap awal, risiko resistensi OAT dapat dicegah dengan menjalani pengobatan secara teratur dan dibawah pengawasan ketat. Hal ini berkontribusi pada penurunan signifikan populasi bakteri dalam tubuh pasien dan mengurangi potensi masalah dari bakteri yang sudah resisten sebelum pengobatan dimulai. Berkurangnya jumlah bakteri dalam tubuh akan menyebabkan penurunan jumlah monosit, karena proses fagositosis . enelanan dan pencernaa. bakteri oleh sel-sel tersebut berkurang (Seno et al. , 2. SIMPULAN DAN SARAN Adanya korelasi antara hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan. Disarankan bagi pasien tuberkulosis untuk rutin melakukan pemeriksaan dan mengkonsumsi OAT, karena pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan pasien, meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup, mencegah kematian serta komplikasi lebih lanjut, menghindari kekambuhan, dan secara bertahap mengurangi jumlah bakteri demi meminimalkan risiko penularan. Untuk penelitian selanjutnya menambah jumlah sampel dan pemeriksaan LED biomarker inflamasi. RUJUKAN