PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2023. Vol. No. 3, 282-289 https://doi. org/10. 55681/primer. EPISTEMOLOGI FILSAFAT Tira Reseki Pajriani1*. Suci Nirwani2. Muhammad Rizki3. Nadia Mulyani4. Tri Oca Ariska5. Sahrul Sori Alom Harahap6 1,2,3,4,5,6STAIN Bengkalis Tirareseki1@gmail. e-ISSN: 2985-7996 Article History: Received: 20-04-2023 Accepted: 25-05-2023 Abstrak : Analisis pada epistemologi filsafat yang membahas tentang proses bagaimana memperoleh pengetahuan, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan untuk memperoleh pengetahuan yang benar, apa yang benar, dan apa yang menjadi Analisis ini bertujuan untuk mempertanyakan bagaimana sesuatu itu terjadi, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakannya dengan yang lain, dan sebagainya tentang keadaan dan kondisi sesuatu dalam ruang dan waktu. Lantas apa dasar tataran epistemologis yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan tentang logika, etika, dan estetika, serta metode dan prosedur untuk memperoleh kebenaran ilmiah, keindahan moral, dan keindahan artistik, dan kebaikan moral. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metodeanalisis deskriptif kuantitatif. Alat analisis yang digunakan adalah analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistomologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji dan mengenai cara manusia berfikir. Epistomologi juga bermakna ilmu sehingga dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu yang merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Namun dalam pemahaman mengenai objek, cara memperoleh ilmu dan ukuran kebenaran dala epistomologi filsafat terdapat perbedaan Kata Kunci : Epistemologi. Filsafat. Objek Filsafat This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 03 (Juni, 2. : 282-289 e-ISSN 2985-7996 PENDAHULUAN Epistemologi selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji karena disinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan. Konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat dalam hal ini filsafat modern Ae terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun eksistensialisme dan lain-lain. Epistemologi ialah sebuah kajian ilmu yang sangat populer dan menjadi sebuah hal yang paling menarik. Oleh karena itu sebuah hakikat dari kebenaran yang Hakiki yang dijadikan objek dalam epistemologi menjadi hal yang mustahil untuk didapatkan oleh pemikiran dan rasa dari seorang manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan. Pada perkembangan ilmu terutama pada bidang kajian filsafat terdapat hal-hal pokok yang menjadi sebuah cabang kajian mengenai cara manusia berpikir. ada tiga cabang diantaranya nya ontologi, epistemologi dan aksiologi. Epistemologi berasal dari kata epistemologi yaitu sebuah pengetahuan dan juga logos yang bermakna ilmu, sehingga secara secara etimologi, epistemologi dapat diartikan sebagai sebuah teori tentang ilmu pengetahuan atau theory of knowledge. Epistomologi bertujuan untuk mempertanyakan bagaimana sesuatu itu terjadi, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakannya dengan yang lain, dan sebagainya tentang keadaan dan kondisi sesuatu dalam ruang dan waktu. Lantas apa dasar tataran epistemologis yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan tentang logika, etika, dan estetika, serta metode dan prosedur untuk memperoleh kebenaran ilmiah, keindahan moral, dan keindahan artistik, dan kebaikan moral. METODE PENELITIAN Dalam penelitian, penulis menggunakan metode analisis yaitu metode analisis deskriptif kualitatif yang fokus pada pengamatan yang mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Epistemologi Pengertian Epistemologi Menurut Simon Blackburn dalam The Dictionary of Philosophy, epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme . dan logos . ata/diskusi/ilm. , dan jika diungkapkan berarti cabang filsafat yang bersangkutan dengan asal-usul, hakikat, sifat, dan jenis. Topik ini merupakan salah satu topik yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, apa ciri-cirinya, apa jenisnya, dan hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan (Blackburn 2. Selain itu. Blackburn mengklarifikasi bahwa epistemologi atau hipotesis informasi setara dengan konsep sains, asumsi, landasan, dan tanggung jawab atas representasi informasi yang dikontrol setiap orang. Informasi ini diperoleh orang melalui penalaran dan berbagai teknik termasuk: strategi induktif, keterampilan deduktif, strategi positivis, strategi kontemplatif, dan keterampilan persuasi. Menurut Abdullah. Amin. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas hakikat, kebenaran, sumber, metode, dan struktur pengetahuan. Misalnya, epistemologi mempengaruhi bentuk peradaban manusia dalam skala global, dan secara khusus mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara umum pembahasan epistemologi diawali dengan penjelasan tentang pengertian AusainsAy yang biasanya dibedakan dengan pengetahuan. Misalnya, tidak pernah jelas apakah sains itu sama atau berbeda dengan sains. Istilah sains terkadang disamakan https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/144 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 03 (Juni, 2. : 282-289 e-ISSN 2985-7996 dengan sains, namun terkadang identik dengan pengetahuan. Jadi ilmu bukanlah sembarang ilmu, melainkan ilmu yang telah teruji kebenarannya. Kajian epistemologi membahas tentang bagaimana proses mendapatkan ilmu pengetahuan, hal- hal apakah yang harus diperhatikan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran dan apa kriterianya. Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakan dengan lainnya, jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu mengenai sesuatu hal. Jadi yang menjadi landasan dalam tataran epistemologi ini adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, apa yang disebut dengan kebenaran ilmiah, keindahan seni dan kebaikan moral. Dari pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian epistemologi membahas tentang proses bagaimana memperoleh pengetahuan, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan untuk memperoleh pengetahuan yang benar, apa yang benar, dan apa yang menjadi standar. Kajian epistemologi bertujuan untuk mempertanyakan bagaimana sesuatu itu terjadi, bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana kita membedakannya dengan yang lain, dan sebagainya tentang keadaan dan kondisi sesuatu dalam ruang dan waktu. Lantas apa dasar tataran epistemologis yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan tentang logika, etika, dan estetika, serta metode dan prosedur untuk memperoleh kebenaran ilmiah, keindahan moral, dan keindahan artistik, dan kebaikan moral. Filsafat Pengertian Filsafat Dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda serta hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau secara etimologi, yaitu mempelajari asal-usul suatu filsafat tersebut. Sehingga banyak terdapat kesamaan antara filsafat lainnya. Jika di Kata filsafat dalam bahasa Arab dikenal denga istilah Falsafah dan dalam bahasa Inggris dikenal istilah Phylosophy serta dalam bahasa Yunani dengan istilah Philosophia. Kata Philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta . dan sophia yang berarti kehijasanaan . sehingga secara etimologis istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan . ove of wisdo. dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang filsuf adalah pencinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan olch Phytagoras . -486 SM). Arti filsafat pada waktu itu, kemudian filsafat itu diperjelas seperti yang banyak dipakai sekarang ini dan juga digunakan oleh Socrates . -390 SM) dan filsuf lainnya. Menurut Sutardjo A. Wiramihardja filsafat diartikan sebagai pengetahuantentang cara berfikir terhadap segala sesuatu atau secara sekalian alam. Artinyasemua materi pembicaraan filsafat adalah segala hal yang menyangkutkeseluruhan yang bersifat Aristoteles . -332 SM) tokoh utama silosof klasik, mengatakan bahwafilsafat menyelidiki sebab dan asas segala terdalam dari wujud. Karena itu, iamenamakan filsafat dengan, teologiA atau fisafat pertama. Aristoteles sampaipada kesimpulan bahwa setiap gerak dialam ini digerakkan oleh yang lainFilsafat adalah seni kritik yang bukan semata- mata membatasi diri padadestruktif atau seakan-akan takut untuk membawa pandangan positifnya sendiri,kemudian Franz Magnis Suseno menegaskan bahwa kritisnya filsafat adalah kritisdalam arti bahwa filsafat tidak pernah puas diri, tidak pernah membiarkan sesuatusebagai sudah selesai, bahkan senang, untuk membuka kembali perdebatan ,selalu dan secara hakiki bersifat https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/144 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 03 (Juni, 2. : 282-289 e-ISSN 2985-7996 dialetika dalam arti bahwa setiap kebenaranmenjadi lebih benar dengan setiap putaran tesis dan antithesis Tujuan dari Filsafat Segala sesuatu yang terdapat di alam ini diciptakan dengan fungsinya,dengan kata lain bahwa tidak ada materi yang tidak bermanfaat tak terkecualilahirnya filsafat ilmu. Lahirnya filsafat ilmu memberikan jawaban terhadap persoalan yang muncul terutama yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Oleh karena, di antara tujuannya Dengan berfilsafat kita lebih menjadi manusia lebih mendidik danmembangun diri Sifat yang khusus bagi seorang filsuf ialah bahwasesadar-sadarnya apa saja yang termasuk dalam kehidupan manusia. Tetapidalam pada itu juga mengatasi dunia itu. Sanggup melepaskan diri,menjauhkan diri sebentar dari keramaian hidup dan kepentingan-kepentingansubyektif untuk menjadikan hidupnya sendiri itu obyek peyelidikannya. Dan justru kepentingan kepentingan dan keinginankeinginan subyektif itu makaia mencapai keobyektifan dan kebebasan hati, yang perlu buat pengetahuandan penilaian yang obyektif dan benar tentang manusia dan Dan sifatini, sifat mengatasi kesubyektifan belaka. Sifat melepaskan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan sendiri. Berusaha mempertahankan sikap yang obyektif mengenai intisari dan sifat-sifat objek-objek itu sendiri. Bila seseorang semakin pantas di sebutAuberkepribadianAy. AukebijaksanaanAy. Mengajar dan melatih kita memandang dengan luas dan menyembuhkan kitadari sifat Akuisme dan Aku sentrimisme. Ini berhubungan erat pula denganAuSpesialisasiAy dalam ilmu pengetahuan yang membatasi lapanganpenyelidikan orang sampai satu aspek tertentu dari pada keseluruhan itu. Halinilah dalam ilmu pengetahuan memang perlu akan tetapi sering membawakita kepada kepicikan dalam pandangan. Sehingga melupakan apa saja yangtidak termasuk lapangan perkembangan manusia sebagai keutuhan maka obatnya yang paling manjurialah Aupelajaran filsafatAy. Agar menjadi orang yang dapat berpikir sendiri. Dengan latihan akal yang di berikan dalam filsafat kita harus menjadi orang yang sungguh-sungguh Auberdiri sendiriAy mempunyaipendapat sendiri. Jika perlu dapat dipertahankan pula menyempurnak an arakita berpikir, hingga dapat bersikap kritis, melainkan mencari kebenarandalam apa yang dikatakan orang baik dalam buku-buku maupun dalam suratAe surat kabar dan lainlain. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapatmemahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu. Objek Filsafat Tujuan berfilsafat artinya menemukan kebenaran yang sebenarnya, yg Jika hasil pemikiran itu disusun, maka susunan itulah yang kita sebut sistematika Filsafat. Sistematika atau Struktur Filsafat dalam garis besar terdiri atas antologi, epistemologi serta aksiologi. Isi setiap cabang filsafat ditentukan sang objek apa yang diteliti . Bila ia memikirkan pendidikan maka jadilah Filsafat Pendidikan. Jika yang dipikirkannya aturan maka hasilnya tentulah Filsafat aturan, serta seterusnya. Jika ia memikirkan pengetahuan jadilah ia Filsafat Ilmu. Bila memikirkan etika jadilah Filsafat Etika, dan seterusnya. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/144 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 03 (Juni, 2. : 282-289 e-ISSN 2985-7996 Filsafat sebagai kegiatan pikir murni manusia . eflective thinkin. menyelidiki objek yang tidak terbatas. Ditinjau dari sudut isi atau substansidapat dibedakan menjadi berikut ini. Objek material ialah menyelidiki segala sesuatu yang tak terbatas dengan tujuan memahami hakikat ada . ealitas dan wuju. Objek material filsafat kesemestaan, keuniversalan, dan keumuman bukan particular secara mendasar atau sedalamdalamnya. Menurut Poedjawijatna . 0: . , objek material filsafat adalah apa yang ada dan Objek filsafat materi ini mencakup seluruh ilmu yang mempelajari segala Mohammad Noor . 1: . hampir sependapat dengan Podjawijatna bahwa objek filsafat terbagi menjadi objek material dan immaterial. Objek material mencakup segala sesuatu yang ada dan bisa ada, termasuk materi dan substansi Objek immaterial meliputi hal-hal abstrak dan psikis. Menurut Mohammad Noor, objek immaterial tersebut meliputi logika abstrak, konsep, ruh, nilai, dan lainlain. Objek formal ialah metodologi, sudut, atau cara pandang khas filsafat, pendekatan dan metode untuk meneliti atau mengkaji hakikat yang ada dan mungkin ada - baik yang konkret fisik dan bukan fisik, abstrak dlaan spiritual, maupun abstrak logis, konsepsional, rohaniah, nilai-nilai agama, dan metafisika, bahkan mengenai Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta. Objek formal, yaitu sifat penelitian. Objek formal ialah penyelidikan yang istilah mendalam berarti ingin memahami tentang objek yang tidak realitas. Penyelidikan sains tidak mendalam sebab dia hanya ingin tahu hingga batas objek itu bisa diteliti secara realitas. Objek pengetahuan sains adalah pada batas dapat diriset, sedangkan objek penelitian filsafat terdapat pada daerah tidak dapat diriset, tetapi bisa dipikirkan secara logis. Selanjutnya bisa dikemukakan objek formal filsafat berdasarkan Lasiyo dan Yuwono . 5: . adalah sudut pandang yg menyeluruh, secara umum , sehingga bisa mencapai hakikat dari objek materilnya. Jadi, objek formal filsafat ini membahas objek materiilnya sampai ke hakikat atau esensi berasal yg dibahasnya. Perkembangan selanjutnya adalah filsafat sebagai hasil upaya pemikiran dan renungan . para ahli pikir . Ada juga yang merupakan suatu ajaran atau sistem nilai, baik berupa pandangan hidup . ilsafat hidu. maupun sebagai cita-cita hidup atau ideologi. Misalnya, paham-paham individualisme, kapitalisme, sosialisme, ideologi komunisme, ideologi zionisme, ideologi pan-Islamisme, ideologi nasionalisme, dan sebagainya. Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sain. Sain hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti objek yang ada dan mungkin ada. Sebenarnya masih ada objek lain yang disebut objek forma yang menjelaskan sifat kemendalaman penelitian filsafat. Ini dibicarakan pada epistemologi filsafat. Perlu juga ditegaskan . bahwa saink meneliti objek-objek yang ada dan empiris. yang ada tetapi abstrak . idak empiri. tidak dapat diteliti oleh sain. Sedangkan filsafat meneliti objek yang ada tetapi abstrak, adapun yang mungkin ada, sudah jelas abstrak itu pun jika ada. Dari pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan berfilsafat artinya menemukan kebenaran yang sebenarnya, yg terdalam. Sistematika atau Struktur Filsafat dalam garis besar terdiri atas antologi, epistemologi serta aksiologi. Objek material filsafat kesemestaan, keuniversalan, dan keumuman bukan particular secara mendasar atau sedalam-dalamnya. Objek filsafat material meliputi segala dari https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/144 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 03 (Juni, 2. : 282-289 e-ISSN 2985-7996 Objek formal ialah metodologi, sudut, atau cara pandang khas filsafat, pendekatan dan metode untuk meneliti atau mengkaji hakikat yang ada dan mungkin ada Aibaik yang konkret fisik dan bukan fisik. abstrak dan spiritual. maupun abstrak logis, konsepsional, rohaniah, nilai-nilai agama, dan metafisika, bahkan mengenai Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta. Perkembangan selanjutnya adalah filsafat sebagai hasil upaya pemikiran dan renungan . para ahli pikir . Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat Pertama-tama filosof harus membicarakan . empertanggung jawabka. cara mereka memperoleh pengetahuan filsafat yang menyebabkan kita hormat kepada para filosof antara lain ialah karena ketelitian mereka, sebelum mencari pengetahuan mereka membicarakan lebih dahulu . an mempertanggungjawabka. cara memperoleh pengetahuan tersebut. Sifat itu sering kurang dipedulikan oleh kebanyakan orang. Pada umumnya orang mementingkan apa yang diperoleh atau diketahui, bukan cara memperoleh atau mengetahuinya. Ini gegabah, para filosof bukan orang yang gegabah. Berfilsafat ialah berpikir. Berpikir itu tentu menggunakan Menjadi persoalan, apa sebenarnya akal itu. John Locke (Sidi Gazalba. Sistematika Filsafat. II, 1973:. mempersoalkan hal ini. Ia melihat, pada zamannya akal telah digunakan secara terlalu bebas, telah digunakan sampai di luar batas kemampuan akal. Hasilnya ialah kekacauan pemikiran pada masa itu. Sejak 650 SM sampai berakhirnya filsafat Yunani, akal mendominasi. Selama 1500 tahun sesudahnya, yaitu selama Abad Tengah Kristen, akal harus tunduk pada keyakinan Kristen. akal di bawah, agama (Kriste. Sejak Descartes, tokoh pertama filsafat Modern, akal kembali mendominasi filsafat. Descartes . dengan cogito ergo sumnya berusaha melepaskan filsafat dari dominasi agama Kristen. Ia ingin akal mendominasi filsafat. Sejak ini filsafat didominasi oleh akal. Akal menang lagi. Cara memperoleh pengetahuan antara lain : Rasionalisme. Aliran berpikir yang berpendapat bahwa pengetahuan yang benar mengandalkan akal yang menjadi dasar pengetahuan ilmiah. Salah satu tokoh adalah Leibniz. Empirisme. Sumber pengetahuan satu-satunya adalah pengalaman dan pengamatan Data dan fakta yang ditangkap oleh panca indera kita adalah sumber Salah satu tokohnya adalah John Locke. Kritisme. Bisa menangkap sesuatu sudah di andaikan bahwa kita memiliki konsep atau pemahaman tertentu,juga tidak benar bahwa sejak kelahiran seorang manusia sudah memiliki pengetahuandalam benaknya. Ia justru tahu tentang bena lewat pengalaman dan pengajaran dari orang lain. Salah satu tokohnya adalah Kant. Postivisme Positivisme selalu berpangkal pada apa yang telah diketahui, yang factual dan positif. Semua yang diketahui secara positif adalah semua gejala atau sesuatu yang tampak, karena itu mereka menolak metafisika. Yang paling penting adalah pengetahuan tentang kenyataan dan menyelidiki hubungan-hubungan antar kenyataan untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi dikemudian hari, dan bukannya mempelajari hakikat atau makna dari semua kenyataan itu. Kebenaran pengetahuan Menurut ahli epostemologi dan filsafat, pada umumnya untuk membuktikan bahwa pengetahuan bernilai benar, seseorang menganalisis terlebih dahulu cara, sikap dan sarana yang digunakan untuk membangun suatu Teori skeptivisme, suatu kebenaran dicari ilmiah dan tidak ada kebenaran yang Kesimpulannya ialah bahwa jiwa itu bukan substansi, suatu organ yang memiliki idea-idea jiwa sekedar suatu nama yang abstrak untuk menyebut rangkaian idea. https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/144 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 03 (Juni, 2. : 282-289 e-ISSN 2985-7996 Hasilnya. Hume sudah menghancurkan mind sebagaimana Barkeley menghancurkan Sekarang tidak ada lagi yang tersisa, dan filsafat menemukan dirinya berada di tengah-tengah reruntuhan hasil karyanya sendiri. Jangan kaget bila Anda mendengar kata-kata begini: No matter never mind. Semua ini gara-gara akal. Akal telah digunakan melebihi kapasitasnya. Oleh karena itu Locke menyelidiki lagi, apa sebenarnya akal itu. Di lain pihak, memang Locke berpendapat bahwa kita belum waktunya membicarakan masalah hakikat sebelum kita mengetahui dengan jelas apa akal itu Tetapi baiklah, kita terima saja bahwa akal itu ada dan ia bekerja berdasarkan suatu cara yang tidak begitu kita kenal. Aturan kerjanya disebut Logika. Sejauh akal itu bekerja menurut aturan Logika, agaknya kita dapat menerima Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan filsafat? Dengan berpikir secara mendalam, tentang sesuatu yang abstrak. Mungkin juga objek pemikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah bagian Audi belakangAy objek konkret itu. Dua abstrak juga. Secara mendalam artinya ia hendak mengetahui bagian yang abstrak sesuatu itu, ia ingin mengetahui sedalam-dalamnya. Kapan pengetahuannya itu dikatakan mendalam? Dikatakan mendalam tatkala ia sudah berhenti sampai tanda tanya. Dia tidak dapat maju lagi, disitulah orang berhenti, dan ia telah mengetahui sesuatu itu secara mendalam. Jadi jelas, mendalam bagi seseorang belum tentu mendalam bagi orang lain. Ukuran kebenaran pengetahuan filsafat Pengetahuan filosofis lebih logis daripada pengetahuan empiris. Kalimat ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filosofis adalah logika pengetahuan. Jika logis benar, jika tidak logis salah. Ada beberapa hal yang harus Anda ingat. Anda tidak dapat meminta bukti empiris untuk membuktikan kebenaran filosofis. Pengetahuan filosofis adalah pengetahuan logis dan hanya logis. Jika itu logis dan empiris, itu adalah pengetahuan ilmiah. Kebenaran teori filosofis tergantung pada apakah teori itu logis. Apakah ukuran logisnya akan terlihat pada argumen-argumen yang mengarah pada kesimpulan . Peran argumen dalam filsafat sama pentingnya dengan data dalam pengetahuan ilmiah. Argumen dan kesimpulan menjadi satu kesatuan, dan kesimpulan ini disebut teori filosofis. KESIMPULAN DAN SARAN Epistemologi membahas tentang proses bagaimana memperoleh pengetahuan, hal-hal apa saja yang harus diperhatikan untuk memperoleh pengetahuan yang benar, apa yang benar, dan apa yang menjadi standar. Sedangkan filsafat diambil dari bahasa yunani bahasa yaitu philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta . dan sophia yang berarti kebijaksaan . sehingga secara etimologis istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan . ove of wisdo. dalam arti yang sedalam-dalamnya. Maka, jika disimpulkan dari epistemologi filsafat ialah cara memperoleh pengetahuan dengan penuh cinta kebijaksanaan. Tujuan dari epistemologi filsafat ialah: Dengan berfilsafat kita lebih menjadi manusia lebih mendidik dan membangun diri Berusaha mempertahankan sikap yang obyektif mengenai intisari dan sifat-sifat objekobjek itu sendiri. Mengajar dan melatih kita memandang dengan luas dan menyembuhkan kitadari sifat akuisme dan aku sentrimisme. Agar menjadi orang yang dapat berpikir sendiri. Objek filsafat terbagi dua yaitu : https://ejournal. id/index. php/primer/article/view/144 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin. Vol. No. 03 (Juni, 2. : 282-289 e-ISSN 2985-7996 Objek material ialah menyelidiki segala sesuatu yang tak terbatas dengan tujuan memahami hakikat ada . ealitas dan wuju. Objek formal ialah metodologi, sudut, atau cara pandang khas filsafat, pendekatan dan metode untuk meneliti atau mengkaji hakikat yang ada dan mungkin ada-baik yang Adapun cara memperoleh pengetahuan filsafat dengan berbagai cara. Salah satunya dengan dengan berpikir secara mendalam, tentang sesuatu yang mungkin juga objek pemikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah bagian Audi belakangAy objek konkret itu. DAFTAR PUSTAKA