Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. 01, 2026 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam The Role of Islamic Religious Education in Building the Character of the Muslim Generation in the Modern Era Ahmad Nasrudin1. Ika Elsa Junita2. Rini Suhestiwi3. Dalima Septiria4. Bambang Irawan5 UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ahmadnasrudin808@gmail. ikaelsa026@gmail. rinisuhesti407@gmail. dalima271214@gmail. bambang02594@gmail. Abstract Background: Technological developments in the modern era significantly impact education by providing easier access to information while posing new challenges for character development in the younger This study analyzes the role of Islamic Religious Education in shaping Muslim generation character amidst modernization and identifies challenges arising from digital technology. Current moral crises manifest through problematic behaviors indicating weak internalization of religious values and insufficient synergy between educational institutions, families, and communities. Method: This study employs a library research methodology by reviewing relevant academic literature including journals, books, and scientific reports. This approach facilitates deep understanding of the research topic, theoretical analysis, and logical conclusion drawing regarding PAI function in character Results: The findings demonstrate that PAI plays a central role in shaping Islamic character through internalizing values of honesty, discipline, responsibility, and tolerance. PAI serves as a moral bulwark protecting youth from negative technology impacts including decreased empathy and spiritual Obstacles include weak application of moral values in learning and lack of synergy between schools, families, and communities. While digital technology offers opportunities through virtual platforms, uncontrolled usage risks moral crises, necessitating wise integration that maintains alignment with Islamic Conclusion: PAI possesses an essential role in forming Muslim personalities with deep spiritual understanding while protecting students from modern era negative impacts through comprehensive Islamic teachings. Despite challenges regarding minimal ethical approaches and environmental influences. PAI must adapt to contemporary developments while maintaining Islamic identity and producing faithful generations with noble character. Keywords: Islamic Religious Education. Character. Muslim Generation. Modern Era. How to cite this article: Nasrudin. Junita. Suhestiwi. , septiria. Irawan. The Role of Islamic Religious Education in Building the Character of the Muslim Generation in the Modern Era. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 11. , 1Ae10. Received: 18-12-2025 Revised: 06-03-2026 Accepted: 07-04-2026 2 | Ahmad Nasrudin1. Ika Elsa Junita2. Rini Suhestiwi3. Dalima Septiria4. Bambang Irawan5 PENDAHULUAN Pada era saat ini, kemajuan teknologi membawa perubahan yang besar kepada aspek kehidupan manusia seperti pada bidang sosial, budaya, ekonomi dan pendidikan. Hal ini ditandai dengan kemajuan, suatu fenomena yang membuat individu maupun kelompok dapat terhubung tanpa batas ke semua belahan dunia. Kemudahan akses informasi yang membawa dampak signifikasi terhadap suatu individu terhadap pola pikir dan gaya hidup. Selain itu, kemajuan teknologi dapat meningkatkan kualitas pendidikan yang bisa membuat peluang besar dalam mengembangkan inovasi. (Aulia Herawati et al. , 2. Pendidikan senantiasa untuk menjadikan pribadi yang baik dalam arti kata membuat perubahan-perubahan sosial yang diakibatkan dengan kemajuan pendidikan. Pendidikan sebagai institusi yang bertanggung jawab pada masa depan bangsa dengan menumbuhkan kembangkan manusia agar melahirkan warga negara yang baik. (Rusiani et al. , 2. Pendidikan Agama Islam sebagai usaha yang membina serta mengembangkan pribadi manusia yang jasmani maupun rohani secara integratif dan Pendidikan sebagai usaha sadar dalam membentuk siswa dengan memahami, meyakini, mengamalkan, serta menghayati ajaran Islam pada kegiatan baik dengan bimbingan, latihan atau pengajaran yang mewujudkan persatuan. Pendidikan saat ini di era modern berorientasi akan pelaksanaan pendidikan yang baik dengan memanfaatkan teknologi dan ilmu. Perkembangan teknologi memberikan peluang sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan dalam upayanya mencapai tujuan pendidikan, yaitu mencetak generasi yang cerdas secara intelektual dan berakhlak mulia. Sebagaimana yang dijelaskan pada UUD No. 20 Tahun 2003 mengenai AuSistem Pendidikan NasionalAy di ayat 1 yang menjelaskan AuPendidikan yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran serta berguna memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan dalam dirinya yang diperlukan pada masyarakat, bangsa dan negaraAy. (UU RI No. Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2. Perkembangan yang meluas saat ini, dapat mengubah pola pikir seseorang dalam berperilaku di masyarakat. Pada pembentukan karakter anak, pendidikan berperan dalam memberikan nilai kebenaran dan kekuatan. PAI menjadi suatu landasan yang bertanggung jawab pada pembentukan karakter individu dengan berlandaskan akan beberapa nilai Islam. Nilai Islam yang terkandung contohnya kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi serta saling menghargai yang menjadi landasan atau fondasi dalam menciptakan masyarakat yang beradab. (Muis et al. , 2. Pendidikan berkarakter sebagai aspek dalam penekanan kuat pada pentingnya proses internalisasi prinsip moral Pendidikan agama Islam menekankan pada pembentukan karakter dengan membentuk keteladanan dan menerapkan pembiasaan yang mulia pada kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter harus diterapkan pada kehidupan sehari-hari dengan mencontohkan Rasulullah SAW. sebagaimana yang tercantum dalam surah Al-Ahzab ayat 21 yaitu: AaEaCe aEaI aEaEeI aAeO a aeO aE aNcEE ae aO U aIU acE aI eI aEaI aOe a O aNcEE aO eEaOeO aI eE a a aO aaEa aNcEE aEaeOU A Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. 01, 2026 | Pages. 1-10 | 3 AuSungguh, pada . Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari Kiamat serta yang banyak mengingat AllahAy. Pada ayat tersebut, dijelaskan bahwasanya Rasulullah menjadi contoh teladan yang Sehingga pembentukan karakter dapat dilakukan melalui keteladanan, bimbingan, dan pembiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidik, peran orang tua, serta lingkungan sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai Islam. Secara idealnya. PAI mempunyai bertujuan untuk menaikkan tingkat keimanan serta menjunjung nilai religius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan agama Islam dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang bertakwa sehingga generasi muslim di era sekarang sadar akan pentingnya pendidikan agama Islam. (Mulyadi et al. Di era saat ini, pembentukan karakter ditekankan untuk menghindari berbagai hal yang tidak diharapkan seperti berbohong, tidak memiliki sifat toleransi dan tidak menghargai sesama manusia. Perkembangan teknologi yang marak menyebabkan krisis moral yang terjadi di lingkungan sosial. Banyak institusi pendidikan yang memandang pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran tambahan, sehingga kurang mendapatkan perhatian yang serius. Proses pembelajaran yang lebih fokus pada aspek kognitif sering kali tidak menyentuh pembentukan karakter secara mendalam. Akibatnya, nilai-nilai agama tidak terinternalisasi secara baik dalam perilaku siswa di luar lingkungan sekolah. Peran orang tua menjadi pendidik pertama dan utama sangat penting, namun sering kali terhambat oleh kurangnya komunikasi yang efektif dan minimnya penerapan ajaran agama di rumah, yang mengakibatkan anak-anak tidak memiliki figur orang tua yang dapat dijadikan (Mulyadi et al. , 2. Lingkungan memainkan peran fundamental dalam pembentukan karakter, terutama bagi generasi muslim. Untuk mengoptimalkan perkembangan moral dan etika, diperlukan sinergi yang kuat antara tiga pilar utama: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kolaborasi harmonis ini membentuk sebuah ekosistem pendidikan yang holistik. Ketiga elemen tersebut menciptakan benteng yang kokoh, melindungi individu dari pengaruh negatif seperti pergaulan bebas dan gaya hidup yang kontraproduktif. Sebaliknya, jika salah satu pilar ini lemah, individu rentan terjerumus pada perilaku yang tidak sejalan dengan ajaran Dengan demikian, hubungan yang solid antara masyarakat, keluarga, serta sekolah sangat krusial guna mencetak generasi muslim yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia. (Hidayat, 2. Permasalahan karakter peserta didik yang bisa dilihat dari sikap dan perilaku mereka seperti perbuatan tidak sopan, tawuran, bullying, suka bolos, berbohong dan perilaku buruk lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan ranah kognitif saja tidak mencukupi dari perubahan perilaku peserta didik, namun diarahkan dengan pelaksanaan pembelajaran yang mengarah pada persiapan karakter dan tingkah laku. (Elsi Fitrianis et al. , 2. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menelaah secara mendalam peranan pendidikan Agama Islam dalam proses pembentukan karakter peserta didik pada era digital. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengkaji berbagai tantangan serta peluang yang muncul dalam upaya mengintegrasikan pendidikan Agama Islam dengan kemajuan teknologi This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 4 | Ahmad Nasrudin1. Ika Elsa Junita2. Rini Suhestiwi3. Dalima Septiria4. Bambang Irawan5 Selanjutnya, penelitian ini berfokus pada penyusunan rekomendasi strategis bagi pendidik dan lembaga pendidikan agar dapat mengoptimalkan penerapan pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter peserta didik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan Agama Islam serta penguatan karakter generasi muda di tengah perkembangan dunia modern. METODE Penelitian ini menerapkan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan tujuan menelaah berbagai sumber literatur yang berkaitan dengan topik peran pendidikan agama Islam dalam pembentukan karakter peserta didik di era digital. Pendekatan ini dipilih karena memberikan kesempatan bagi peneliti untuk memperoleh data dan informasi dari berbagai referensi tertulis, seperti buku akademik, jurnal penelitian, artikel ilmiah, tesis, laporan studi, disertasi, serta sumber daring yang kredibel. Metode penelitian kepustakaan memiliki nilai penting dalam bidang pendidikan, karena dapat membantu peneliti memahami isu penelitian secara mendalam, merumuskan pertanyaan penelitian yang tepat, melakukan analisis teoritis, dan menarik kesimpulan yang logis serta dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, penelitian jenis ini dapat dilakukan secara individual maupun dalam bentuk kolaborasi dengan peneliti lain (Abdurrahman, 2. Tujuan dari pendekatan library research untuk memperdalam pemahaman terhadap topik penelitian yang dipilih dalam ranah pendidikan. Melalui metode ini, peneliti dapat menelaah serta menganalisis berbagai dimensi yang berkaitan dengan topik tersebut, menemukan kekurangan atau celah pengetahuan yang masih belum terisi, serta merumuskan kerangka teori yang menjadi dasar bagi penelitian lanjutan. Sumber data yang digunakan pada penelitian kepustakaan sesuai dengan fokus penelitian dan tujuan penelitian yang dilaksanakan seperti buku, jurnal, dokumen, perpustakaan digital dan bahan arsip. (Abdurrahman, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan Karakter Pendidikan Islam memiliki peran utama untuk membentuk pribadi Muslim yang memiliki pemahaman mendalam tentang Allah sebagai Pencipta, serta mampu melaksanakan ibadah dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Selain itu, pendidikan ini membekali individu dengan kemampuan untuk menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi secara bertanggung jawab dan amanah. Melalui proses pendidikan yang berkesinambungan, diharapkan terbentuk insan kamil, yakni manusia yang mampu mengintegrasikan aspek ilahiyyah . ubungan dengan Tuha. , insaniyyah . ubungan sesama manusi. , serta kauniyyah . ubungan dengan alam semest. secara seimbang dikehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, pendidikan Islam bukan sekadar menekankan penguasaan ilmu saja, melainkan pembentukan spiritual, moral, dan karakter yang harmonis (L. Putri, 2. Pendidikan Agama Islam berperan untuk melindungi siswa dari dampak negatif era modern dengan cara memberikan pemahaman menyeluruh mengenai ajaran Islam. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. 01, 2026 | Pages. 1-10 | 5 Pendidikan Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara yang baik dan buruk, antara ilmu dan amal. Sehingga generasi muslim dapat menghadapi tantangan di era modern saat ini tanpa kehilangan identitas muslim mereka. (Herawati et al. , 2. Ahmad Dahlan menekankan bahwa materi atau nilai pendidikan Islam sebaiknya mencakup pendidikan moral dan akhlak. Pendidikan ini berfungsi sebagai upaya sistematis guna menanamkan karakter yang baik kepada siswa, sehingga perilaku dan sikap mereka selaras kepada ajaran Al-QurAoan serta as-Sunnah (Zul Fadhli Al Alim et al. Melalui pendidikan moral dan akhlak, individu tidak hanya dibekali dengan pengetahuan, tetapi juga dibimbing untuk menginternalisasi nilai disiplin, kejujuran, tanggung jawab, serta kerja keras dikehidupan sehari-hari. Shidiq atau Jujur Kejujuran merupakan ciri keislaman yang penting dan menandai kesempurnaan akhlak pemiliknya. Orang yang bersikap jujur memperoleh posisi terhormat baik akhirat di dan di dunia. melalui kejujuran ia akan meraih derajat yang mulia dan terhindar dari keburukan(Suriana, 2. Ajaran Islam menekankan pentingnya berperilaku jujur dalam segala situasi, meskipun pada tampilan lahir sikap itu kadang merugikan diri sendiri. Hal ini ditegaskan oleh pada Surah An-Nisa . yang berbunyi: AeOaacOaN acEaeOaI aI aIeO aEeO aIeO aCacO aI eOaI aeEaCea aaN a a aNcEaE aO aEeO aeEO aeIa aEeI aaO eEaO aEa eOaI aO aeCa aeOaI o aeI acOaEeI aaIUcO aeO aC eOU A u aNcEE aeO E O aaNaI aE aacaaO eEaN eO O aeI aea aEeO o aO aeI aeO aeO aea a eO acI aNcEE aEaI aaI aeaI aEeO aI a aeOU A Artinya: AuWahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia . ang diberatkan dalam kesaksia. kaya atau miskin. Allah lebih layak tahu . Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang . ari kebenara. Jika kamu memutarbalikkan . ata-kat. atau berpaling . nggan menjadi saks. , sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu Ay Disiplin Disiplin adalah nilai terpenting yang wajib ditanamkan pada pendidikan, karena menyangkut sikap tertib dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Sikap ini mencakup pengaturan diri, kemampuan mengontrol perilaku, memanfaatkan waktu dengan bijak, serta melaksanakan kewajiban dengan penuh tanggung jawab. Melalui pendidikan kedisiplinan, seseorang akan terbiasa memiliki karakter yang positif, terlatih mengelola waktu, mampu menuntaskan tugas dengan sungguh-sungguh, dan menjalin hubungan sosial dengan etika serta sopan santun (Suryani et al. , 2. Tanggung Jawab Bagi seorang Muslim, tanggung jawab merupakan bagian penting dari akhlak yang harus diwujudkan dalam setiap tindakan, baik yang sedang dikerjakan maupun yang akan dilakukan di kemudian hari. Bentuk tanggung jawab tersebut meliputi dimensi fisik dan mental, dan pada akhirnya setiap amal manusia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat (AlFadhil, 2. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 6 | Ahmad Nasrudin1. Ika Elsa Junita2. Rini Suhestiwi3. Dalima Septiria4. Bambang Irawan5 A aO aCaAeO aNeI aacIaNeIA A aI eI aeO aI aNcEE aAeN aeO aNeI aE O aA a a eEa a eOaIA o Aae aa O acEaeOaI aaEaIeO aO ae aO aaNeI aO aI aEaIeO aOeaaeO aIA o AacI e aiAeO aEeO aIA Artinya: AuLalu, diperintahkan kepada para malaikat,) Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembAy Auselain Allah. Lalu, tunjukkanlah kepada mereka jalan ke . JahimAy. AuTahanlah mereka . i tempat perhentia. Sesungguhnya mereka akan ditanya . entang keyakinan dan perilaku merek. Ay Toleransi Toleransi beragama merupakan bentuk sikap menghargai dan menghormati keyakinan setiap individu terkait ajaran agama dan kepercayaannya terhadap Tuhan. Sikap ini mencerminkan pengakuan terhadap hak asasi setiap orang untuk memilih, meyakini, serta menjalankan ajaran agama sesuai dengan ketentuan dan tuntunan kepercayaannya masing-masing. Dengan demikian, toleransi beragama menjadi dasar penting dalam menjaga keharmonisan sosial dan kebebasan beragama di masyarakat (Hasan, 2. Pendidikan Agama Islam berperan penting dalam membentuk karakter generasi muslim melalui proses pembelajaran yang dirancang secara efektif dan efisien serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di luar kelas (Puspitasari et al. , 2. Selain penyampaian materi keagamaan secara teoritis, penguatan nilai-nilai Islam juga dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas religius dan sosial, seperti pelaksanaan shalat berjamaah, yasinan, jumAoat bersih, shalat sunnah berjamaAoah, kegiatan amal, ujian praktek, dan menerapkan 4 S . enyum, salam, sapa dan santu. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam tidak hanya terfokus pada dimensi kognitif semata, melainkan juga berperan sebagai instrumen perubahan secara karakter menyeluruh, yang membentuk pribadi berbudi luhur serta tangguh dalam menghadapi dinamika zaman modern dengan landasan etika yang kokoh. Tantangan dan peluang pendidikan agama Islam Pendidikan menjadi sebuah program yang meliputi komponen saling berhubungak serta berintegrasi. Komponen ini mencakup visi, misi maupun tujuan pendidikan yang menjadi acuan dalam kurikulum selama proses pembelajaran (Johan et al. , 2. Guru dan peserta didik menjadi peran utama pada proses pembelajaran. Kebutuhan dalam sarana serta prasarana, beberapa alat pembelajaran dan lingkungan yang mendukung menjadi faktor penting dalam memberikan dukungan pembelajaran. Pengelolaan yang baik dan manajemen yang dilakukan turut memberikan efektivitas program yang baik sehingga sistem informasi dapat tercapai. Evaluasi yang dilakukan secara rutin dibutuhkan guna mengukur ketercapaian tujuan serta melakukan perbaikan yang diperlukan (Bainar, 2. Kendala dalam pendidikan agama Islam untuk membentuk karakter Islami di masa kini dapat dikenal dari berbagai perspektif. Di antaranya adalah minimnya pendekatan pendidikan agama Islam yang menekankan pada nilai akhlak, etika, serta pengalaman praktik guna membentuk karakter Islami dalam rutinitas harian. (Yusri et al. , 2. Guru Pendidikan Agama Islam pun kerap mengalami kesulitan dalam mengembangkan Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. 01, 2026 | Pages. 1-10 | 7 karakter murid, akibat pengaruh lingkungan sekitar dan dinamika keluarga. Selain itu, pendidikan Islam juga harus beradaptasi dengan perkembangan zaman beserta isu-isu yang menyertainya, sehingga perlu dirancang agar selaras dengan perkembangan zaman Pembelajaran di dunia pendidikan pada era saat ini berbeda dengan era dahulu. Perkembangan teknologi yang begitu pesat di era ini dapat memengaruhi proses Oleh karena itu, perkembangan di bidang pendidikan perlu disesuaikan dengan perubahan zaman guna meningkatkan mutu pendidikan (Bainar, 2. Dalam konteks pendidikan kontemporer, kemajuan teknologi telah mengalami fase ekspansi yang signifikan, yang tidak hanya menandai transisi dari paradigma tradisional ke yang lebih dinamis, tetapi juga membuka peluang baru untuk merevolusi dinamika Inovasi-inovasi ini, yang muncul sebagai respons terhadap tuntutan era digital, berpotensi menghasilkan transformasi struktural yang mendukung efisiensi dan inklusivitas dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Secara khusus, integrasi teknologi ini memungkinkan pendidik dan peserta didik untuk mengakses sumber daya yang lebih luas, mengoptimalkan interaksi, dan meningkatkan kualitas output pendidikan secara keseluruhan. Beberapa manifestasi utama dari kemajuan teknologi di sektor pendidikan dapat diilustrasikan melalui berbagai aplikasi praktis yang telah terbukti efektif. Pertama, pemanfaatan media massa seperti platform berita digital, podcast edukatif, dan saluran telah berevolusi menjadi repositori utama pengetahuan ilmiah dan pusat pembelajaran non-formal. Media ini tidak lagi sekadar alat hiburan, melainkan instrumen strategis yang memfasilitasi diseminasi informasi secara real-time, sehingga memperkaya kurikulum dengan perspektif global dan mendukung pembelajaran mandiri di luar batas ruang kelas konvensional (R. Putri, 2. Perubahan model pembelajaran tatap muka langsung ke pendekatan virtual telah menjadi salah satu pencapaian paling menonjol, terutama sejak pandemi global mempercepat adopsi teknologi. Platform seperti Google Meet. Zoom. Microsoft Teams, dan aplikasi serupa memungkinkan sesi interaktif jarak jauh yang mempertahankan elemen kolaboratif, seperti diskusi kelompok dan presentasi, sambil mengurangi hambatan geografis dan logistik (Huljanah & Zai, 2. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas bagi peserta didik di wilayah terpencil, tetapi juga mendorong inovasi pedagogis, seperti penggunaan fitur breakout rooms untuk simulasi diskusi mendalam atau integrasi elemen multimedia untuk pengalaman belajar yang lebih imersif (Permana et al. , 2. Kemampuan untuk mengelola dan menganalisis data pendidikan melalui perangkat komputasi seperti komputer desktop, laptop, atau bahkan perangkat mobile telah merevolusi administrasi dan evaluasi pembelajaran. Dengan bantuan perangkat lunak seperti sistem manajemen pembelajaran (Learning Management Systems/LMS) atau tools analitik berbasis AI, institusi pendidikan dapat memproses data siswa secara efisien (Wahyuni, 2. Secara keseluruhan, perkembangan teknologi ini menegaskan perlunya adaptasi kurikulum pendidikan yang holistik, di mana integrasi digital tidak hanya menjadi tambahan, melainkan fondasi utama untuk membekali generasi mendatang dengan kemahiran abad ke-21, yakni literasi digital serta pemecahan masalah berbasis teknologi (Gabriel Siringoringo & Yanuar Alfaridzi, 2. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 8 | Ahmad Nasrudin1. Ika Elsa Junita2. Rini Suhestiwi3. Dalima Septiria4. Bambang Irawan5 Meskipun berbagai dampak positif yang didapatkan dari pemanfaatan teknologi digital yakni peningkatan akses informasi serta inovasi pedagogis penggunaan teknologi yang tidak terkontrol secara signifikan dapat melemahkan karakter peserta didik melalui paparan berlebih terhadap platform media sosial, permainan daring, dan konten digital yang rendah nilai edukatif, yang secara empiris memicu eskalasi perilaku konsumtif, penurunan kapasitas empati sosial, serta degradasi normatif adab terhadap otoritas institusional seperti guru dan orang tua (Zaer & Misra, 2. Lebih lanjut, ketergantungan kronis pada perangkat gawai cenderung menggeser preferensi peserta didik dari interaksi sosial autentik ke ranah virtual, yang secara bertahap mengerosi sensitivitas terhadap dimensi spiritual dan etika Islam, sebagaimana diobservasi dalam studi kontemporer tentang dinamika digital (Nata, 2. Temuan ini selaras dengan analisis (Supriyadi & Riyadi, 2. yang mengindikasikan bahwa ontologis karakter dalam konteks era digital berpotensi menginduksi krisis identitas moral, terutama ketika paradigma pendidikan PAI terdominasi oleh orientasi kognitif dan mengabaikan pembinaan akhlak yang komprehensif. Krisis normatif semacam itu semakin diperkuat oleh kerangka (Salim et al. , 2. yang menegaskan imperatif keseimbangan dialektis antara integrasi teknologi sebagai katalisator inovasi pedagogis dan penguatan aspek karakter melalui PAI, sehingga memungkinkan generasi muda untuk mengurangi risiko pengaruh negatif sekaligus optimalisasi peluang digitalisasi dalam internalisasi nilai-nilai agama sebuah implikasi krusial bagi penelitian ini dalam merumuskan strategi adaptif PAI untuk pembentukan karakter holistik (Malintang et al. , 2. KESIMPULAN Pendidikan Islam memiliki peran utama untuk membentuk pribadi Muslim yang memiliki pemahaman mendalam tentang Allah sebagai Pencipta, serta mampu melaksanakan ibadah dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Pendidikan Agama Islam berperan dalam melindungi peserta didik dari dampak negatif era modern dengan cara memberikan pemahaman menyeluruh mengenai ajaran Islam. Pendidikan Islam memberi ajaran terkait keseimbangan dari akhirat dan dunia, antara yang baik dan buruk, antara ilmu dan amal. Sehingga generasi muslim dapat menghadapi tantangan di era modern saat ini tanpa kehilangan identitas muslim mereka. Kendala dalam pendidikan agama Islam untuk membentuk karakter Islami di masa kini diantaranya adalah minimnya pendekatan pendidikan agama Islam yang menekankan pada nilai akhlak, etika, serta pengalaman praktik guna membentuk karakter Islami dalam rutinitas harian. Guru Pendidikan Agama Islam pun kerap mengalami kesulitan dalam mengembangkan karakter murid, akibat pengaruh lingkungan sekitar dan dinamika keluarga. Selain itu, pendidikan Islam juga harus beradaptasi dengan perkembangan zaman beserta isu-isu yang menyertainya, sehingga perlu dirancang agar selaras dengan perkembangan zaman Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. 01, 2026 | Pages. 1-10 | 9 DAFTAR PUSTAKA