Jurnal Pengabdian West Science Vol. No. Desember, 2023, pp. Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini: Media Komik dan Storytelling untuk Siswa MI KH. Ahmad Dahlan Jatigreges Pace Nganjuk Triyo Ambodo1. Khoiriyah2 IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk Corresponding Author* E-mail: triyoambodo@iaipd-nganjuk. id1, akundevita4@gmail. Article History: Received: Desember, 2023 Revised: Desember, 2023 Accepted: Desember, 2023 Abstract: Korupsi merupakan persoalan serius yang merusak tatanan sosial dan moral bangsa, sehingga pendidikan antikorupsi perlu dikenalkan sejak dini. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab melalui pendekatan media komik dan storytelling kepada siswa MI KH. Ahmad Dahlan Jatigreges. Pace. Nganjuk. Metode pelaksanaan mencakup pelatihan membaca dan membuat komik edukatif bertema antikorupsi, serta sesi mendongeng tokoh inspiratif dari khazanah Islam dan budaya lokal. Program ini pembelajaran aktif dan kreatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep kejujuran, serta munculnya refleksi positif dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, guru mendapatkan media pembelajaran karakter yang dapat diterapkan secara berkelanjutan. Kegiatan ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam menumbuhkan generasi muda yang berintegritas sejak bangku pendidikan dasar. Keywords: Pendidikan Antikorupsi. Komik Edukasi. Storytelling. Karakter Siswa. Siswa MI Pendahuluan Korupsi bukan lagi sekadar istilah teknis dalam wacana hukum dan tata kelola 1 Ia telah merambah menjadi kebiasaan yang diserap secara sosial, bahkan sejak dini tanpa disadari. Perilaku mencontek, tidak jujur dalam permainan, hingga membenarkan kebohongan kecil kerap dianggap wajar oleh sebagian anakanak. 2 Situasi ini menjadi cermin bahwa pendidikan antikorupsi tidak bisa ditunda hingga jenjang pendidikan tinggi, melainkan harus ditanamkan sejak masa kanak- Warjio. Muhammad Fuad Othman, dan Suyatno Ladiqi. Good Party Governance: Praktik Partai Politik Di Indonesia Dan Malaysia Dalam Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik (Gerhana Publishing, 2. 2Taufiq Pasiak. Membangunkan Raksasa Tidur: Optimalkan Kemampuan Otak Anda dengan Metode Alissa (Maghza Pustaka, 2. Vol. No. Desember, 2023, pp. kanak ketika nilai-nilai moral mulai terbentuk secara kuat dan menetap. MI KH. Ahmad Dahlan Jatigreges, sebuah madrasah yang berada di desa Pace. Nganjuk, menjadi saksi realitas keseharian siswa yang tumbuh dalam lingkungan sosial pedesaan yang dinamis namun tidak lepas dari pengaruh luar. Sebagian besar siswa hidup dalam keluarga sederhana, di mana orang tua berprofesi sebagai petani, buruh harian, atau pelaku UMKM. 3 Di tengah keterbatasan ekonomi dan informasi, anak-anak tetap berhadapan dengan tantangan zaman: gawai di tangan, media sosial yang terus mengalir, dan budaya konsumtif yang semakin masuk ke ruang keluarga. Dalam konteks ini, pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak agar siswa tidak hanya pintar, tapi juga jujur dan bertanggung jawab. Sayangnya, pendekatan pembelajaran nilai-nilai kejujuran dan antikorupsi selama ini masih cenderung tekstual dan normatif. 5 Anak-anak diminta menghafal definisi kejujuran atau menyebutkan contoh perilaku baik, namun minim ruang untuk merasakan dan mengalami nilai-nilai itu secara nyata. Padahal, anak-anak usia MI cenderung memiliki imajinasi yang kaya dan rasa ingin tahu yang tinggi. 6 Mereka belajar lebih efektif ketika terlibat langsung dalam cerita, gambar, atau pengalaman Di sinilah komik dan storytelling menjadi media yang potensial untuk membuka kesadaran mereka tentang makna kejujuran secara lebih hidup. Komik edukatif dan storytelling adalah metode yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menyampaikan pesan moral secara halus dan membekas. 7 Ketika seorang siswa melihat tokoh dalam cerita yang memilih jujur meskipun menghadapi risiko, ia belajar lebih dari sekadar teori. ia belajar melalui empati. Pendekatan ini sejalan dengan konsep multiple intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner, di mana kecerdasan visual, linguistik, dan interpersonal sangat menonjol pada anak usia MI. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini berupaya menjawab tantangan pendidikan karakter dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia anak- Observasi di MI KH. Ahmad Dahlan Joho Pace Asarina Jehan Juliani dan Adolf Bastian. AuPendidikan Karakter Sebagai Upaya Wujudkan Pelajar Pancasila,Ay in Prosiding seminar nasional program pascasarjana universitas PGRI Palembang, 2021. 5Elystia Febriyanti. Nur Kholid, dan Rudi Hartono. AuThe Ethical Values in Islamic Tradition Reinterpreting Morals in the Context of Global Moral Crisis,Ay Bulletin of Science Education 5, no. 14Ae32. 6Alfiyanti Nurkhasyanah et al. AuMembangun Minat Baca Anak Usia Dini dengan Menggunakan Buku Bercerita Bergambar,Ay Jurnal Anak Bangsa 3, no. : 235Ae246. 7Gabena Yolanda. AuPenerapan Metode Kisah Dalam Pembentukan Akhlak Mulia Peserta Didik Kelas IV Di SD Negeri 200119 Batang Ayumi Julu PadangsidimpuanAy (UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, 2. Vol. No. Desember, 2023, pp. Pemilihan MI KH. Ahmad Dahlan sebagai mitra pengabdian tidak terlepas dari komitmen lembaga ini dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan Selain sebagai lembaga pendidikan, madrasah ini juga menjadi pusat pembinaan keagamaan dan sosial masyarakat desa. Guru-gurunya terbuka terhadap inovasi pembelajaran, dan siswa-siswanya menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kegiatan nonformal. Faktor-faktor ini menjadi dasar kuat bahwa program ini dapat berjalan dengan baik sekaligus menjadi model bagi madrasah lain di lingkungan Harapan besar dari kegiatan ini bukan hanya agar siswa mampu membuat komik atau mendengarkan dongeng, tetapi agar mereka mulai berpikir kritis tentang kejujuran dan tanggung jawab. Saat anak mulai bertanya AuMengapa aku harus jujur meskipun tidak ada yang melihat?Ay, di situlah benih integritas mulai tumbuh. Ketika mereka berani berkata benar meski berbeda dari mayoritas, di situlah pendidikan antikorupsi menemukan maknanya yang paling dalam: membentuk keberanian moral yang mandiri dan berakar. Dengan latar sosial dan semangat kolaboratif yang kuat, program ini diharapkan tidak hanya memberi dampak sementara, tetapi meninggalkan jejak jangka panjang berupa media pembelajaran yang dapat digunakan kembali, serta membentuk kebiasaan kecil yang menjadikan kejujuran sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari siswa. Pengabdian ini ingin membuktikan bahwa dari ruang kelas madrasah yang sederhana, gerakan antikorupsi masa depan bisa dimulai, dengan cara yang menyenangkan dan membumi. Metode Program pengabdian ini diawali dengan proses identifikasi kebutuhan lokal melalui observasi dan wawancara informal bersama guru, kepala madrasah, serta beberapa orang tua siswa di MI KH. Ahmad Dahlan Jatigreges. Hasil pengamatan menunjukkan adanya kecenderungan perilaku siswa yang masih belum konsisten terhadap nilai-nilai kejujuran dalam interaksi sehari-hari. Guru menyampaikan bahwa nilai karakter seperti tanggung jawab dan jujur sering kali belum terintegrasi dalam pembelajaran secara kontekstual. Karena itulah, dibutuhkan pendekatan kreatif dan menyenangkan untuk menjadikan pendidikan karakter sebagai bagian yang hidup dalam rutinitas belajar siswa. Vol. No. Desember, 2023, pp. Subjek pengabdian dalam program ini adalah siswa kelas IV dan V MI KH. Ahmad Dahlan Jatigreges yang berjumlah 38 orang, didampingi oleh 6 guru, serta kepala madrasah yang sangat suportif terhadap kegiatan luar kelas. Lokasi pengabdian berada di desa Jatigreges. Kecamatan Pace. Kabupaten NganjukAisebuah wilayah dengan lingkungan sosial yang masih kental dengan nilai-nilai gotong royong dan tradisi keislaman yang kuat. Lingkungan ini sangat mendukung pendekatan berbasis komunitas, karena ikatan emosional antara warga sekolah, wali murid, dan masyarakat sekitar cukup erat. Perencanaan program dilakukan secara kolaboratif melalui forum diskusi komunitas . yang dihadiri oleh tim pengabdi, guru, dan tokoh Dalam forum ini, semua pihak diminta menyampaikan pandangan tentang perilaku siswa, tantangan pendidikan karakter, dan ide-ide kreatif yang dapat Hasilnya, komik dan storytelling muncul sebagai dua media yang dianggap paling dekat dengan dunia anak, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk berekspresi, belajar empati, dan memahami nilai-nilai kejujuran melalui narasi. Pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah Participatory Action Research (PAR), yang menekankan proses belajar bersama dan perubahan sosial yang tumbuh dari dalam komunitas. Tim pengabdi tidak bertindak sebagai instruktur yang menggurui, melainkan sebagai fasilitator yang membuka ruang dialog dan imajinasi. Strategi ini memungkinkan siswa dan guru menjadi aktor aktif dalam menciptakan pembelajaran antikorupsi yang sesuai dengan konteks lokal mereka. Melalui diskusi, praktik langsung, dan refleksi bersama, kegiatan ini dijalankan sebagai proses timbal balik yang saling memperkaya. Tahapan kegiatan dimulai dengan pelatihan sederhana kepada guru tentang nilai-nilai pendidikan antikorupsi dan cara mengintegrasikannya ke dalam cerita dan Selanjutnya dilakukan sesi pengenalan kepada siswa tentang apa itu korupsi dan bagaimana dampaknya dalam kehidupan sehari-hari, dengan bahasa sederhana dan ilustrasi yang mereka pahami. Setelah itu, siswa diajak membaca dan mendiskusikan komik antikorupsi yang telah disiapkan, lalu membuat versi cerita mereka sendiri dalam bentuk gambar dan tulisan. Kegiatan storytelling dilaksanakan dalam bentuk sesi mendongeng oleh guru dan tim pengabdi, menggunakan tokoh-tokoh inspiratif dari sejarah Islam dan budaya lokal yang menampilkan nilai kejujuran dan keberanian moral. Di akhir sesi, siswa diminta untuk membuat refleksi dari cerita tersebut dalam bentuk cerita ulang atau komik mini. Sementara itu, guru-guru didampingi untuk menyusun modul Vol. No. Desember, 2023, pp. ringan pembelajaran karakter yang bisa digunakan dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajara. di masa mendatang. Proses ini ditutup dengan pameran kecil karya siswa, yang dihadiri oleh wali murid, guru, dan tokoh desa, sebagai bentuk apresiasi dan penguatan nilai di ruang sosial siswa. Pameran tersebut tidak hanya menampilkan hasil karya, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama atas pentingnya membangun generasi yang jujur sejak dini. Dengan cara ini, pendidikan antikorupsi tidak sekadar menjadi wacana formal, tetapi benar-benar menyentuh pengalaman personal dan sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Gambar 1. Flowchart Metode Pendampingan. Hasil Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlangsung selama kurang lebih satu bulan, dimulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi. Seluruh proses dijalankan secara kolaboratif antara tim pengabdi, guru, kepala madrasah, serta siswa kelas IV dan V MI KH. Ahmad Dahlan Jatigreges. Kegiatan berjalan lancar berkat dukungan penuh dari semua pihak. Salah satu hasil awal yang paling terasa adalah meningkatnya antusiasme guru dan siswa dalam mengikuti pendekatan baru pendidikan karakter melalui media komik dan storytelling. Pada tahap awal implementasi, siswa dikenalkan dengan konsep kejujuran dan korupsi dalam bahasa sederhana. Materi disampaikan dengan cara interaktif, termasuk melalui permainan kecil dan diskusi santai. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa mulai mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku tidak jujur yang sering mereka lihat di lingkungan sekitar. Ini menjadi indikator bahwa pendekatan Vol. No. Desember, 2023, pp. penyadaran berbasis cerita dan gambar dapat memicu kesadaran reflektif pada anakanak. Kegiatan membaca dan membuat komik edukatif menjadi momen yang sangat disukai siswa. Mereka tidak hanya menjadi pembaca pasif, tetapi juga kreator cerita. Dalam beberapa kelompok, siswa menggambar karakter Aupahlawan jujurAy yang melawan koruptor di pasar, sekolah, bahkan dalam keluarga. Dari sini terlihat bahwa anak-anak mulai bisa menyusun narasi tentang integritas berdasarkan imajinasi dan pengalaman mereka sendiri. Guru-guru pun menyatakan terkejut melihat kedalaman pesan yang tertuang dalam komik hasil karya siswa. Sementara itu, sesi storytelling yang dilakukan oleh guru dan tim pengabdi menggunakan kisah para sahabat Nabi dan tokoh lokal yang dikenal jujur dan Cerita-cerita tersebut disampaikan secara dramatik dan mengundang diskusi aktif. Setelah sesi berlangsung, beberapa siswa secara spontan menceritakan pengalaman pribadi mereka tentang memilih jujur dalam situasi sulit. Ini menjadi penanda penting bahwa storytelling dapat membangkitkan pengalaman batin siswa yang autentik dan relevan dengan nilai kejujuran. Dari hasil pre dan post pengamatan, terjadi peningkatan pada pemahaman konsep AujujurAy sebagai sikap yang tidak hanya benar di depan guru, tetapi juga ketika tidak ada yang melihat. Guru menyampaikan bahwa setelah kegiatan, beberapa siswa yang sebelumnya cenderung menghindar dari tanggung jawab, mulai menunjukkan perubahan kecil seperti mengakui kesalahan, mengembalikan barang yang bukan miliknya, dan tidak mencontek saat ulangan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus dimulai dari teori besar, tapi bisa dibangun dari kebiasaan kecil yang tumbuh dari kesadaran sendiri. Sebagai bentuk penguatan hasil, diadakan pameran sederhana hasil karya komik siswa di halaman madrasah. Acara ini dihadiri oleh wali murid, perangkat desa, dan tokoh masyarakat. Pameran ini menjadi titik balik, karena banyak orang tua yang menyampaikan rasa bangga sekaligus tersentuh saat melihat cerita-cerita jujur yang ditulis anak mereka. Munculnya interaksi antara hasil belajar siswa dan respons komunitas ini menciptakan ruang sosial baru yang mendukung transformasi nilai secara bersama-sama. Tidak hanya itu, hasil dari program ini juga menciptakan pranata baru dalam bentuk kebiasaan membaca komik tematik di jam literasi. Guru-guru mulai tertarik untuk mengembangkan lebih banyak media visual berbasis karakter dan menyatakan komitmen untuk menjadikan storytelling sebagai metode rutin dalam penguatan Vol. No. Desember, 2023, pp. Ini merupakan dampak lanjutan yang sangat menggembirakan, karena program tidak berhenti di kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi budaya belajar baru di madrasah. Lebih jauh lagi, kegiatan ini juga mendorong lahirnya semacam Aulocal leaderAy dalam diri beberapa siswa. Misalnya, seorang siswa bernama Aisyah secara sukarela menjadi penggerak kegiatan literasi di kelasnya dengan membacakan cerita kejujuran setiap Jumat pagi. Hal ini menandai bahwa pendidikan karakter yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan dapat membentuk kepemimpinan moral sejak usia diniAibukan melalui doktrin, tetapi melalui keteladanan dan pengalaman emosional. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berhasil mencapai tujuan teknisnya dalam memperkenalkan nilai antikorupsi secara kreatif, tetapi juga menghasilkan perubahan perilaku nyata yang dapat ditumbuhkan terus-menerus. Dengan kombinasi media visual dan pendekatan partisipatif, siswa dan guru menjadi subjek aktif dalam membentuk ruang belajar yang jujur, reflektif, dan penuh empati. Inilah bentuk kecil transformasi sosial yang dimulai dari ruang kelas, namun berdampak hingga ruang keluarga dan masyarakat desa. Diskusi