Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUANGAN DENGAN KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BONE ROMBO KECAMATAN KULISUSU KABUPATEN BUTON UTARA Rosdarni1. Lodes Hadju2. Serni 3 D-IV Teknologi Laboratorium Medis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya Email: sernikendari123@gmail. ABSTRAK Peran tenaga laboratorium sangat dibutuhkan dalam mengidentifikasi dan menganalisis meningkatnya kecacingan di suatu wilayah dengan melakukan pemeriksaan laboratorium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui telur cacing Soil Transmitted Helminth pada anak-anak dan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, kebiasaan mencuci tangan, dan kebersihan kuku dengan kejadian kecacingan pada anak-anak Sekolah Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Bone Rombo. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan model pemeriksan secara langsung untuk menganalisis kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas I SD N 1 Malalanda. Lemo, dan Rombo sebanyak 58 orang, sementara sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 orang. Hasil penelitian disimpulkan: . Terdapat telur cacing Soil Transmitted Helminth pada siswa pada SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Terdapat hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan infeksi kecacingan pada siswa pada SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Terdapat hubungan kebersihan kuku dengan infeksi kecacingan pada siswa pada SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Adapun saran Skripsi ini yaitu: . Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan yang intensif tentang pentingnya personal hygiene. Pemerintah setempat dan petugas kesehatan bagian sanitasi yang ada di puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang teratur dan terjadwal untuk mengetahui kondisi kesehatan anak. Kata Kunci : Kecacingan. Personal Hygiene. Kebiasaan Mencuci Tangan. Kebersihan Kuku Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 yang buruk PENDAHULUAN (Kemenkes, 2. Beberapa daerah Kecacingan masih menjadi masalah Indonesia prevalensi infeksi kecacingan kesehatan yang banyak di temukan di dunia. umumnya masih tinggi antara 60-90%. Data yang dirilis World Health Organization utamanya pada anak-anak sekolah dasar (WHO) lebih dari satu miliar orang terinfeksi dan golongan penduduk yang kurang Ascaris Lumbricoides, 795 juta orang mampu dengan akses sanitasi yang mengalami infeksi cacing Trichiuris Trichiura Kelompok umur terbanyak atau 740 juta orang terinfeksi cacing adalah pada usia 5-14 tahun, 21% Hooworm. Infeksi tersebar luas di daerah diantaranya menyerang anak usia sekolah tropis dan subtropics, dengan jumlah tersebar luas di sub-Sahara. Afrika. Amerika. Cina. Sementara dan Asia Timur (WHO, 2. Sulawesi Tenggara. Di belahan dunia, banyak ditemukan survei tahun 2021 adalah 40,01%. penyakit kecacingan terutama Negara yang Tingginya prevalensi ini disebabkan oleh memiiki iklim tropis. berdasarkan Bank kondisi iklim Sulawesi Tenggara yang Data Global WHO tahun 2021 menyatakan tropis dengan curah hujan tinggi serta bahwa penyakit kecacingan merupakan kondisi sanitasi dan higiene yang buruk. suatu penyakit yang ada di dunia dengan Infeksi kecacingan tersebar luas, baik di tingkat prevalensi tertinggi jumlah penderita pedesaan maupun di perkotaan. Angka cacing Ascaris lumbricoides sebanyak 1 infeksi tinggi, tetapi intensitas infeksi miliar orang, dan 795 juta orang terinfeksi . umlah cacing dalam peru. cacing Trichuris triciura serta terinfeksi Hasil survey kecacingan di sekolah dasar cacing Hookworm sebanyak 740 juta orang. di beberapa kabupaten kota di Sulawesi Kejadian Infeksi Tenggara untuk semua umur berkisar tertinggi yang sebabkan oleh golongan STH antara 40-60% (Dinkes Sultra, 2. terjadi di Sub-Sahara Afrika yang mencapai Berdasarkan data profil Kesehatan . ,9 jut. orang yang terinfeksi khususnya Kabupaten Buton Utara tahun 2021, pada anak usia sekolah dasar, disusul dengan Negara Amerika Selatan. China. Kabupaten Buton Utara India, serta Asia Timur dengan prevalensi Puskesmas Bone Rombo adalah tertinggi pada anak usia sekolah dasar salah satu puskesmas yang berada di sebanyak 75% (WHO, 2. Kabupaten Buton Utara. Pada tahun Hasil survei Kementerian Kesehatan 2020-2021 di Puskesmas Bone Rombo. Republik Indonesia di beberapa provinsi di kecacingan masuk dalam 10 besar Indonesia Data Puskesmas Bone Rombo kecacingan untuk semua umur di Indonesia menunjukkan bahwa dari tahun 2020berkisar antara 40%-60%. Tingginya 2021 penderita kecacingan mengalami prevalensi kecacingan disebabkan oleh iklim Penderita kecacingan tahun tropis dan kelembaban udara tinggi di 2019 sebanyak 93 orang, pada tahun Indonesia, sehingga menjadi lingkungan yang 2020 sebanyak 79 orang, dan pada tahun baik untuk perkembangan cacing, serta Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 2021 jumlah penderita kecacingan sebanyak penanganan kejadian kecacingan dapat 116 orang, sementara untuk tahun 2022 dari Berdasarkan hasil survey yang Januari sampai Desember jumlah penderita dilakukan di Kabupaten Buton Utara kecacingan sebanyak 124 orang (Dinkes terkhusus di Wilayah Kerja Puskesmas Buton Utara, 2. Bone Rombo, jumlah kasus kecacingan Anak sekolah merupakan aset atau dari periode Mei sampai Februari 2023 modal utama pembangunan masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi pemeriksaan laboratorium dianggap Anak usia Sekolah Dasar (SD) sangat rentan terkena kecacingan. Infeksi mendapatkan data yang lebih akurat mengenai jumlah kecacingan tersebut. menyebabkan penurunan produktivitas kerja Berdasarkan uraian data tersebut anak-anak peneliti tertarik untuk melakukan menyebabkan gangguan pada tumbuh penelitian tentang AoFaktor-Faktor yang Dampak kecacingan bagi Berhubuangan dengan Kecacingan pada kesehatan anak akan mengalami beberapa Anak Sekolah Dasar Di Wilayah Kerja keluhan kesehatan, seperti nyeri perut, diare. Puskesmas Bone Rombo Kecamatan mual, perut kembung, kelelahan, hingga Kulisusu Kabupaten Buton UtaraAoAo. penurunan berat badan tanpa alasan. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan Cacingan juga dapat menyebabkan anak terjadinya resiko penyebab kecacingan mengalami disentri (Sofia, 2. pada anak sekolah dasar antara lain Faktor yang menyebabkan masih melalui makanan yang terkontaminasi tingginya infeksi cacing adalah rendahnya oleh telur cacing, kaki yang langsung tingkat sanitasi pribadi . erilaku hidup bersih seha. seperti kebiasaan cuci tangan sebelum mengandung vektor cacing, karena tidak makan dan setelah buang air besar (BAB), memakai alas kaki, kebiasaan Buang Air kebersihan kuku, perilaku jajan di sembarang Besar (BAB) di sembarang tempat, tempat yang kebersihannya tidak dapat kebiasaan mencuci tangan, kebersihan dikontrol, perilaku BAB tidak di WC yang kuku, kepemilikan jamban, lantai rumah menyebabkan pencemaran tanah dan ketersediaan air bersih. lingkungan oleh feses yang mengandung telur cacing serta ketersediaan sumber air bersih. METODE PENELITIAN Peran tenaga laboratorium sangat Jenis penelitian yang di gunakan dibutuhkan dalam mengidentifikasi dan adalah metode observasional dengan menganalisis meningkatnya kecacingan di pendekatan model pemeriksan secara langsung untuk menganalisis faktor yang pemeriksaan laboratorium agar upaya menekan terjadinya kecacingan dapat kecacingan pada anak Sekolah Dasar di Dengan wilayah pesisir Kabupaten Buton Utara. pemeriksaan laboratoium terhadap veses HASIL anak, maka upaya pencegahan dan Telah dilakukan penelitian Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 mulai tanggal 15 Mei sampai 10 Juni No Jenis kelamin 2023 di wilayah kerja Puskesmas Bone Rombo dengan mengambil obyek siswa Laki-Laki 36,11 kelas I Sekolah Dasar Perempaun 63,89 Karakteristik responden Umur Total Umur merupakan satuan waktu Sumber : Data Primer diolah 2023 yang mengukur waktu keberadaan mahluk, baik yang hidup maupun yang Tabel 2 menunjukkan bahwa lebih sudah mati, yang diukur sejak dia lahir hingga waktu umur itu dihitung (Rush, sebanyak 23 orang siswa . ,89%) dan laki2. Kelompok umur responden di laki sebanyak 13orang siswa . ,11%) SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan dengan perbandingan antara perempuan dan SD N 1 Lemo dapat disajikan pada laki-laki yaitu 1 : 3, atau dengan kata lain Tabel 5. jumlah siswa yang dijadikan obyek Tabel 1. Tabel 5. 3 Distribusi Responden penelitian lebih didominasi oleh anak Berdasarkan Kelompok Umur Nama Umur Jumlah Persentase Analisis Univariat Sekolah (%) SD N 1 Malalanda SD N 1 Lemo SD N 1 Rombo Total 36,11 30,56 33,33 Sumber : Data Primer diolah 2023 Tabel 5. 3 menunjukkan bahwa siswa yang dijadikan sampel pada penelitian diperoleh dari kelas yang sama di setiap sekolah yang dijadikan lokasi penelitian, pemilihan kelas yang sama yaitu kelas I yang dijadikan sampel bertujuan agar sampel yang dihasilkan memiliki kesamaan atau homogen. Hasil penelitian diperoleh pada SD N 1 Rombo diperoleh jumlah siswa sebanyak 13 orang siswa . ,11%). SD N 1 Malalanda sebanyak 11 orang siswa . ,56%) dan SD N 1 Lemo sebanyak 12 orang siswa . ,33%). Jenis Kelamin Jenis kelamin adalah identitas anak menurut pengakuan yang didapat dengan cara membedakan secara fisik. Jenis kelamin yang diperoleh dapat disajikan pada Tabel 5. Tabel 2. Tabel 5. 4 Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin Analisis deskriptif dilakukan untuk menilai distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang relevan dengan penelitian dan tujuan penelitian, sebelum dilakukan analisis lebih lanjut . Pengetahuan Distribusi variabel pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Variabel Pengetahuan di Wilayah Kerja Puskesmas Bone Rombo. Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara Pengetahun Jumlah Baik Kurang Total Sumber: Data Primer diolah 2023 Persentase (%) Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Tabel 3 menunjukkan kebiasaan mencuci . Pengetahuan tangan yang baik dalam lima bulan terakhir dan Tabel Distribusi Hubungan terdapat 9 . %). Sedangkan anak yang Pengetahuan memiliki kebiasaan mencuci tangan yang buruk Infeksi Kecacingan pada siswa sebanyak 27 . %). SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di . Kebiasaan Mencuci Tangan Kecamatan Kulisusu Kabupaten Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Buton Utara Berdasarkan Kebiasaan Mencuci Tangan di Wilayah Kerja Puskesmas Pengetahun Baik Buruk Total Jumlah Persentase (%) Tabel 4 menunjukkan kebiasaan mencuci tangan yang baik dalam lima bulan terakhir dan terdapat 9 . %). Sedangkan anak yang memiliki kebiasaan mencuci tangan yang buruk sebanyak 27 . %). Kebersihan Kuku Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kebersihan Kuku di Wilayah Kerja Puskesmas Bone Rombo Kecamatan Kulisusu Tahun Kebersihan Jumlah Persentase Kuku (%) 19,44 Baik 80,56 Kurang Total Sumber: Data Primer diolah 2023 Tabel 5 menunjukkan kebiasaan menjaga kebersihan kuku yang baik dalam lima bulan terakhir dan terdapat 7 . ,44%). Sedangkan anak yang memiliki kebiasaan menjaga kebersihan kuku yang buruk sebanyak 29 . ,56%). Analisis Bivariat Pengetahuan Baik Kurang Total Jumlah Kejadian Kecacingan Cacingan Tidak Kecacingan Sumber: Data Primer diolah 2023 Pada 6 tabel diatas terlihat bahwa dari 15 responden dengan pengetahuan baik sebanyak 15 responden dimana diantaranya 5 responden . 3%) yang kecacingan. Sedangkan responden yang pengetahuan kurang sebanyak 21 responden diamana diantaranya sebanyak 15 responden . %) yang mengalami cacingan. Hal ini berati bahwa responden dengan pengetahuan kurang lebih banyak yang menderita kecacingan, namun disisi yang lain masih ada yang memeliki pengetahuan baik tetapi masih mengalami kecacingan, hal ini disebabkan oleh faktor lain di luar variabel yang diteliti dalam penelitian ini, misalnya faktor budaya dan kebiasaan masyakat di desa yang belum terbiasa berperilaku bersih. Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai X2hit = 4. 644 > X2tab = 3. p value 0,031 < 0,05, maka Ha diterima Ho ditolak, dan nilai phi ( )= 0. 364 yang menunjukkan hubungan lemah dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan kurang pengetahuan dengan infeksi kecacingan pada siswa SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 0,003 Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton value 0,031 < 0,05, maka Ha diterima Ho Utara. ditolak, dan nilai phi ( )= 0. 364 yang . Kebiasaan Mencuci Tangan menunjukkan hubungan lemah dengan Tabel 7. Distribusi Hubungan Kebiasaan demikian dapat disimpulkan bahwa ada Mencuci Tangan hubungan Kebiasaan mencuci tangan Infeksi Kecacingan di SDN 1 dengan infeksi kecacingan pada siswa SD N Rombo. SDN 1 Malalanda dan SDN 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Kabupaten Buton Utara Buton Utara. Kebersihan Kuku Kebiasaan Mencuci Tangan Cacingan Baik Kurang Total Jumlah Kejadian Kecacingan Tidak Kecacingan 0,031 Sumber: Data Primer diolah 2023 Pada 5. 9 tabel di atas terlihat bahwa dari 16 responden dengan kebiasaan mencuci tangan baik sebanyak 16 responden dimana diantaranya 6 responden . 3%) yang kecacingan. Sedangkan responden yang kebiasaan mencuci tangan kurang sebanyak 20 responden diamana diantaranya sebanyak 14 responden . %) yang mengalami cacingan. Hal ini berati bahwa responden dengan kebiasaan mencuci tangan kurang lebih banyak yang menderita kecacingan, namun demikian masih terdapat yang memeliki kebiasaan mencuci tangan baik tetapi masih mengalami kecacingan, hal ini disebabkan oleh faktor lain di luar variabel yang diteliti dalam penelitian ini, misalnya faktor budaya dan kebiasaan masyakat di desa yang belum terbiasa berperilaku bersih, selain itu juga disebabkan oleh perilaku anak-anak yang belum memiliki kepatuhan dalam berperilaku bersih, dan juga aktivitas bermain anak-anak yang tidak mudah diawasi oleh orang tua sehingga banyak hal diluar variabel yang diteliti yang dapat menyebabkan kecacingan. Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai X2hit = 4. 644 > X2tab = 3. 841, p Tabel 8. Distribusi Kebersihan Kuku Berdasarkan Infeksi Kecacingan pada siswa SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara Kebersihan Kuku Cacingan Baik Kurang Total Jumlah Kejadian Kecacingan Tidak Kecacingan Sumber: Data Primer diolah 2023 Pada tabel 5. 10 di atas terlihat bahwa sebanyak 26 responden yang memiliki kebersihan kuku buruk kategori tinggi dimana diantaranya sebanyak 14 responden . 8%) yang mengalami kecacingan. Sedangkan responden memiliki kebersihan kuku diketahui sebanyak 10 orang dimana diantaranya sebanyak 6 responden . mengalami cacingan. Hal ini berarti bawah responden responden dengan kebersihan kuku kategori buruk lebih banyak yang menderita kecacingan, namun disisi yang lain masih ada yang memeliki kebersihan kuku baik tetapi masih mengalami kecacingan, hal ini disebabkan oleh faktor lain di luar variabel yang diteliti dalam penelitian ini, misalnya faktor budaya dan 0,05 Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 kebiasaan masyakat di desa yang belum terbiasa Diperoleh juga responden yang berperilaku bersih, kemudian hal ini jga memiliki pengetahuan baik tetapi disebabkan oleh anak-anak yang suka jajan mengalami kecacingan . 3%). Hal sembarangan yang belum dapat dipastikan pengetahuan baik, namun memiliki Berdasarkan hasil uji Fisher Exact menunjukan kebiasaan cuci tangan yang kurang nilai p value 1. 000 > 0,05, maka Ho diterima maupun dukungan kebersihan kuku Ha ditolak, maka disimpulkan bahwa tidak ada dan kebersihan jajanan yang kurang hubungan kebersihan kuku dengan infeksi kecacingan pada siswa SD N 1 Rombo. SDN 1 Diketahui bahwa tempat Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan bermain anak sekolah dasar sebagian Kulisusu Kabupaten Buton Utara. besar dilakukan di tanah dan halaman PEMBAHASAN terkontaminasi oleh telur cacing. Hasil analisis data menunjukkan Berdasarkan hasil pengolahan data yang bahwa ada hubungan yang lemah dilakukan dengan menggunakan software antara pengetahuan dengan infeksi statistik serta disesuaikan dengan tujuan kecacingan pada siswa SD N 1 penelitian, maka pembahasan hasil penelitian ini Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N dapat diuraikan sebagai berikut: 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Hubungan Pengetahuan dengan Infeksi Kabupaten Buton Utara. Terdapatnya Kecacingan pada Siswa Sekolah Dasar sebagian besar responden memiliki Hasil pengetahuan kurang dan mengalami menggunakan analisis data ditemukan Hal ini menunjukkan bahwa bahwa bahwa sebagian besar responden pengetahuan yang kurang maka memiliki pengetahuan kurang . 1%). potensial mengalami kecacingan akan Berdasarkan penelitian diketahui bahwa lebih besar. Julia . dalam penelitiannya memahami bahwa telur cacing masuk ke menjelaskan bahwa pengetahuan dalam tubuh karena menyentuh kotoran menjadi bagian yang sangat penting yang berbau bakteri, kurang memahami dalam pengendalian penyakit cacingan bahwa harus mencuci tangan dengan guna menurunkan prevalensi penyakit bersih memakai enam langkah pakai sabun serta meningkatkan mutu sumber daya serta air mengalir sebelum makan. Responden juga kurang memahami bahwa Indonesia yang sehat. Pemahaman mencuci tangan menjadi salah satu yang baik seperti mengendalikan langkah mencegah terinfeksinya cacing penyakit cacingan adalah dengan agar dapat mencegah bagian tubuh memutus mata rantai lingkungan terkontaminasi cacing penyebab penyakit. Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 terkontaminasi oleh cacing. siswa dan orang tua siswa guna Pengetahuan menjadi bagian yang sangat penting dalam meningkatkan pemahaman seseorang terhadap suatu dampak yang mungkin terjadi terhadap Hubungan Kebiasaan Pengetahuan Mencuci Tangan dengan Kejadian responden dapat ditingkatkan dengan Cacingan memberikan penyuluhan kesehatan terkait Hasil penelitian menunjukkan tentang infeksi cacing. Ketika responden sebagian besar responden dapat memahami dengan baik diharapkan memiliki kebiasaan mencuci tangan dapat dikonversikan kedalam bentuk . 1%). Sebagian besar responden kurang memahami bahwa telur cacing kontaminasi cacing. masuk ke dalam tubuh karena Penelitian ini sejalan dengan kebiasaan yang tidak mencuci tangan penelitian yang dilakukan Sigalingging ketika habis bermain kotor, kurang dkk . bahwa ada hubungan memahami bahwa harus mencuci pengetahuan dengan upaya pencegahan tangan dengan bersih memakai enam cacingan dengan nilai p = 0,000 langkah pakai sabun serta air mengalir . value<0,. yang artinya pengetahuan sebelum makan. Responden juga siswa yang rendah akan memengaruhi kurang memahami bahwa mencuci tindakanya untuk melakukan pencegahan tangan menjadi salah satu langkah penularan kecacingan. Sedangkan menurut mencegah terinfeksinya cacing serta Hardisari . berbanding terbalik menjaga hygiene personal dapat dengan studi lainnya dimana menunjukkan tidak ada hubungan pengetahuan tentang infeksi kecacingan dengan keberadaan jumlah telur cacing anak usia sekolah dasar di Kecamatan Gamping Kabupaten Diperoleh juga responden yang Sleman, hal ini disebabkan oleh faktor lain memiliki kebiasaan mencuci tangan diluar variabel yang diteliti. dengan baik tetapi mengalami Hasil penelitian ini menunjukan kecacingan . 3%). Hal ini karena, bahwa pengetahuan menjadi hal yang sangat penting dan mendasar yang harus mencuci tangan baik, namun dimiliki oleh responden terkait penularan memiliki kebiasaan lain yang juga cacing dan upaya pencegahannya. berhubungan dengan hal yang kotor Sehingga dapat meminimalisir kejadian sehingga berpotensi mengalami kecacingan pada siswa SD N 1 Rombo. Diketahui bahwa anakSDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di anak yang memiliki kebiasaan Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton bermain kotor menyebabkan mereka Utara. Edukasi secara berkala dan sangat rentan terkontaminasi oleh berkelanjutan perlu dilakukan kepada telur cacing. Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Hasil penelitian ini sesuai yang memakai tinja sebagai pupuk. penelitian yang dilakukan oleh Andaruni Dari penelitian ini juga yang menemukan adanya hubungan terdapat 2 anak atau 5 persen anak antara kebiasaan mencuci tangan dengan yang mencuci tangan sebelum infeksi cacingan pada anak di SDN 01 makan, setelah BAB dan setelah Pasirlangu Cisarua dengan persentasi bermain ditanah tetapi mengalami yang mendukung terhadap kejadian cacingan dan terdapat 20 anak yang infeksi cacingan itu sebanyak 52,95 tidak mencuci tangan sebelum Hasil penelitian Budi . juga makan, setelah BAB dan setelah menemukan adanya hubungan antara bermain ditanah. Peneliti berasumsi kebiasaan mencuci tangan dengan bahwa masih terinfeksinya anak infestasi cacing usus pada siswa sekolah walaupun sudah mencuci tangan dasar negeri 119 manado dengan nilai A karena mereka mencuci tangan sebesar 0,04 (A<0. hanya dengan air saja tanpa Hal tersebut sesuai dengan teori Purwanijayanti . dalam bukunya yang menjelaskan bahwa anak-anak paling sering terserang penyakit cacingan karena biasanya jari-jari tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut atau makan nasi tanpa cuci tangan dimana tangan yang kotor atau yang terkontaminasi dapat memindahkan bibit penyakit kedalam tubuh. Kemenkes . menjelaskan bahwa telur cacing gelang keluar bersama tinja pada tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari, telur tersebut tumbuh menjadi infektif. Infeksi cacing gelang terjadi bila telur yang infektif masuk melalui mulut bersama makanan atau minuman dan dapat pula melalui tangan yang kotor . ercemar tanah dengan telur cacin. Menurut Gandahusa . Pemakaian tinja sebagai pupuk kebun sangat penting dalam penyebaran infeksi penyakit cacingan sehingga mencuci tangan sebelum makan, mencuci dengan baik sayuran yang dimakan mentah adalah penting apalagi di negara-negara yang memakai sabun, sehingga kumankuman masih ada yang menempel Ada juga responden yang menurut mereka nanti pada saat akan makan makanan pokok baru mereka mencuci tangan sedangkan pada saat akan makan selain makanan pokok yakni jajan, mereka tidak mencuci tangan terlebih dahulu. Hal tersebut sejalan dengan Suzannita mengatakan cuci tangan dengan menggunakan air merupakan hal yang umum dilakukan di seluruh Namun ternyata kebiasaan ini kurang efektif dibandingkan dengan cuci tangan memakai sabun, karena, sabun dapat meluruhkan lemak dan kotoran yang mengandung kuman. Dengan penggunaan yang benar, semua sabun memiliki efektifitas yang sama dalam meluruhkan kuman-kuman penyebab penyakit. Peneliti beranggapan bahwa dengan mencuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun maka Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 secara otomatis tubuh kita akan . terlindung dari bibit penyakit yang kebersihan kuku kurang terhadap masuk melalui tangan. penularan telur cacing. Dengan demikian sangat perlu untuk dilakukan Hubungan antara kebersihan kuku dengan kejadian cacingan Hasil analisis data diketahui bahwa pengetahuan anak dalam mencegah sebagian besar responden memiliki terjadinya penularan kecacingan. kebersihan kuku buruk sebanyak 26 orang Sedangkan menurut Panjaitan . dan yang memiliki kebersihan kuku baik sesuai dengan hasil studi sebelumnya sebanyak 10 orang. Kemudian hasil bahwa kegiatan penyuluhan sangat penelitian juga diketahui bahwa sebagian bermanfaat dalam meningkatkan besar responden memiliki kebersihan kuku pengetahuan dan peran individu dalam yang buruk dan mengalami kecacingan pencegahan infeksi kecacingan. sebanyak 6 orang. Namun diketahui Oleh karena itu, penyuluhan bahwa terdapat responden memiliki berkesinambungan sangat kebersihan kuku baik namun mengalami oleh orang tua guna cacingan yaitu sebanyak 4 oranng. Hal ini meningkatkan pengetahuan mereka menunjukkan bahwa kebersihan kuku terkait penularan cacing serta upayaresponden tidak menjamin responden upaya yang dapat dilakukan untuk terhindar dari resiko terjadinya kejadian mencegah penularan. Selain itu, kecacingan pada anak. pemeriksaan laboratorium secara Analisis hipotesis data menunjukkan berkala juga sangat diperlukan bagi bahwa tidak ada hubungan kebersihan responden untuk mengetahui infeksi kuku dengan infeksi kecacingan pada siswa SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda Sangat dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu penting bagi para pemangku Kabupaten Buton Utara. Hal ini kebijakan untuk memperhatikan menunjukkan bahwa kebersihan kuku kesehatan anak sekolah dasar karena tidak memberikan dampak yang signifikan mereka merupakan generasi harapan terhadap kejadian kecacingan pada responden penelitian. Hasil penelitian ini sejalan Hasil penelitian ini menunjukkan dengan penelitian yang dilakukan bahwa kebersihan kuku yang baik pada Yulianto Evi responden tidak serta merta dapat menunjukkan adanya hubungan meningkatkan kehati-hatian responden antara kebersihan kuku dengan terhadap kejadian cacingan. Mestinya kejadian penyakit cacingan pada kebersihan kuku yang baik diikuti dengan siswa Sekolah Dasar Negeri kesehatan yang baik pula, namun tidak Rowosari 01 Kecamatan Tembalang demikian yang didapat dalam penelitian Kota Semarang. Penelitian yang Diketahui bahwa sebagian besar sama dilakukan Haryati . yang Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Dari penelitian ini juga di menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara kebersihan kuku dengan dapatkan ada 9 anak atau 22,5 persen kejadian cacingan pada pemulung di tpa yang memiliki kuku yang bersih gunung tugel kabupaten banyumas tetapi masih mengalami cacingan dengan nilai A value=0,018. dan terdapat 11 anak atau 27,5 persen yang memiliki kuku yang Nadesul . mengemukakan kotor tetapi tidak mengalami bahwa telur cacing sering kali terselip Hal ini dapat terjadi karena pada kuku yang kotor yang dapat secara langsung terkontaminasi ke mulut karena kebiasaan mencuci tangan yang buruk derajat kesehatannya sendiri yang oleh anak. Keadaan ini sering terjadi meliputi memelihara kebersihan, pada anak yang sering bermain ditanah serta pada orang dewasa yang bekerja meningkatkan daya tahan tubuh dan dikebun atau disawah. Onggowaluyo kesehatan jasmani, menghindari . terjadinya penyakit, dan pemeriksaan penularan infeksi cacingan bisa saja kesehatan masih kurang. melalui kuku jari tangan yang panjang yang kemungkinan terselip telur cacing dan nantinya bisa tertelan ketika makan dan dapat tumbuh menjadi cacing yang dapat menyebabkan penyakit. Hasil penelitian ini juga jelas menunjukkan adanya bakteri yang tersembunyi di bawah kuku-kuku, dan tangan yang tidak bersih, seperti telur cacing, bakteri thypoeid dan desentri. Banyak bakteri yang hidup di bawah kuku yang panjang dan kotor dan jika dibiarkan kondisi semacam ini dapat menularkan penyakit, yakni ketika kita setelah berak tidak mencuci tangan dengan bersih hingga bakteri yang ada pada tangan berpindah ke makanan. antara penyakit yang dipindahkan adalah semua penyakit yang dibawa lalat terutama telur cacing seperti ascaris . acing gelang, yaitu cacing yang hidup di dalam usus halus manusi. dan cacing pita dengan segala macamnya dan penyakit typhoeid, solamania, desentri dan keracunan makanan. Peneliti berasumsi bahwa meskipun anak-anak selalu mencuci tangan sebelum makan tetapi tidak terbiasa memotong kuku secara rutin yakni sekali seminggu maka besar kemungkinannya untuk terinfeksi cacingan karena telur cacing dapat masuk kedalam tubuh melalui kotoran yang berada dibawah kuku pada saat makan, oleh karena itu jangan hanya mencuci tangan yang harus diperhatikan namun juga kebersihan kuku harus tetap terjaga dengan baik dan dipastikan dibersihkan setiap 2 kali Hal ini sesuai dengan teori Gandahusada, . yang menyatakan bahwa kuku sebaiknya selalu dipotong pendek untuk menghindari penularan cacing dari tangan ke KESIMPULAN Dari hasil penelitian tentang hubungan antara analisis kejadian cacingan pada anak di wilayah kerja Puskesmas Bone Rombo Kecamatan Kulisusu maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Terdapat telur cacing Soil Transmitted Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol 8 No 1. Juli 2024 Website : http//:analiskesehatan-mandalawaluya. id/ index. php/JMMedila. p-ISSN : 2580-4073 e-ISSN: 2685-1113 Helminth pada siswa pada SD N 1 Rombo. Posyandu Di Desa Pemecutan Kelod SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Denpasar Barat. Jurnal Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara Dunia Kesehatan, 5. , 29Ae39. Terdapat hubungan pengetahuan dengan infeksi kecacingan pada siswa pada SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara dengan nilai p value 1. 000 > 0,003 Terdapat hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan infeksi kecacingan pada siswa pada SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara dengan nilai p value 1. 000 > 0,031 Terdapat hubungan kebersihan kuku dengan infeksi kecacingan pada siswa pada SD N 1 Rombo. SDN 1 Malalanda dan SD N 1 Lemo di Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara denannilai p value 1. 000 > 0,05 DAFTAR PUSTAKA