Jurnal Bimbingan dan Konseling Borneo, 2. 2020, 79-90 http://ojs. id/ojs/index. php/JBKB ISSN 2685-0753 . ISSN 2685-2039 . TINJAUAN PERILAKU KEJAHATAN BERDASARKAN PERSPEKTIF TIGA DIMENSI KEPRIBADIAN P-E-N DALAM TEORI ANALISIS FAKTOR HANS J. EYSENCK Bambang Setiawan IAIN Syekh Nurjati Cirebon Email: setiawan89. bambang@gmail. Abstrak Berdasarkan sudut pandang teori kepribadian analisis faktor Hans J. Eysenck, mengemukakan penjelasan yang kontroversial mengenai penyebab perilaku kejahatan yang dapat dipengaruhi oleh faktor kepribadian. Tinjauan empiris mengenai konsep yang dikemukakan Eysenck tentang perilaku kejahatan memunculkan beragam dukungan. Para tokoh menyetujui bahwa psychoticism yang tinggi memiliki kecenderungan berhubungan dengan perilaku kejahatan, neuroticism lebih tinggi pada kelompok kriminal daripada populasi normal, serta extraversion-introversion berkaitan dengan under-socialized. Metode penelitian yang digunakan yaitu library research untuk mengkaji mengenai perilaku kejatahatan ditinjau berdasarkan sudut pandang tiga dimensi kepribadian Psychoticism. Extraversion-Introversion, dan Neuroticism dalam teori analisis faktor Hans J. Eysenck. Ditemukan hasil bahwa, konsep mengenai korelasi antara tiga dimensi kepribadian Eysenck, yaitu Psychoticism. Extraversion-Introversion, dan Neuroticism terhadap perilaku kejahatan atau kriminalitas memiliki korelasi yang signifikan. Kata Kunci : Perilaku Kejahatan. Psychoticism. Extraversion-Introversion. Neuroticism. Analisis Faktor. PENDAHULUAN Keragaman individu merupakan faktor esensial dalam mengungkap bagaimana perbedaan setiap individu terhadap perilaku yang ditampilkannya. Faktor-faktor dalam perbedaan individu ini seperti, kepribadian, inteligensi, ataupun faktor fisik seperti ukuran badan, tinggi badan, jenis kelamin, usia, dan faktor lainnya yang dapat diteliti dan dapat digunakan dalam memahami keragaman individu. Eysenck . merupakan salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam bidang differential psychologists. Analisis faktor digunakan untuk sifat-sifat membentuk kepribadian seseorang. Pengklasifikasian perilaku merupakan hal yang sangat esensial sebagai tahapan awal untuk mengukur perilaku manusia, dan analisis faktor merupakan mengklasifikasikan perilaku manusia. Analisis faktor mengkritisi penelitian yang menekankan atas dasar teori, untuk mengangkat hal esensial dari teknik penelitian terhadap teori. Analisis secara rata-rata, dan gambaran umum . Teori dikeluarkan oleh Hans J. Eysenck dikenal dengan gigantic three, yaitu sebuah konsep yang merujuk kepada tiga faktor utama dari dimensi kepribadian, yaitu Psychoticism (P). Extraversion-Introversion (E), dan Neuroticism (N), yang kemudian disebut dengan PEN. Ketiga dimensi kepribadian ini bersifat orthogonal, dimana saling berdiri sendiri dan tidak berkorelasi satu sama lain, sehingga skor tinggi dari salah satu faktor tidak berpengaruh terhadap skor dari faktor Dalam pandangan teori ini, tidak ada faktor lain selain PEN yang kepribadian seseorang. Teori analisis faktor Eysenck menekankan pada dasar biologis dari kepribadian manusia, perilaku yang refleksi dari perilaku dasar otak. Salah satu bagian otak yang berperan penting sebagai variabel antara kepribadian manusia dengan perilaku-perilaku yang dihasilkannya adalah cortical arousal. Ketiga faktor kepribadian PEN dihubungkan oleh arousal untuk menghasilkan perilaku atau sifat yang akan ditampilkan oleh masing-masing tipe kepribadian tersebut. Eysenck mengemukakan bahwa kepribadian merupakan jumlah total dari tingkah laku aktual atau potensial Kepribadian berasal dan terbentuk melalui interaksi fungsional empat sektor utama dimana pola-pola tingkah laku ini diorganisasikan, yaitu sektor kognitif . , sektor konatif . , sektor afektif . , dan sektor somatik . (Hall & Lindzey, 1. Fakta bahwa manusia merupakan organisme biologis dan produk dari lingkungan sosial, pengaruh faktor biologis dan faktor sosial secara konstan berinteraksi satu sama lain (Eysenck. Eysenck berbeda karena hereditas, dalam hal bagaimana otak dan sistem saraf pusat bereaksi terhadap lingkungan dan kepribadian (Hall & Lindzey, 1. Teori Eysenck menekankan pada dasar biologis dari kepribadian Kepribadian tidak hanya pada perilaku yang nampak, yang dapat dimanipulasi atau diubah, tetapi juga merupakan refleksi dari perilaku dasar Eysenck mendalilkan bahwa perbedaan cortical arousal bertanggung jawab terhadap perbedaan domain kepribadian (Kar, 2. Proses biologis atau genetika menghasilkan menunjukkan bahwa terdapat hubungan sebab-akibat yang memiliki dua fungsi. Seperti yang diketahui. Eysenck melihat kepribadian dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan hereditas . Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Boeree . bahwa Eysenck menekankan kebiasaan yang dipelajari sebagai alasan utama perbedaan dalam kepribadian, akan tetapi. Eysenck juga menunjukkan hal tersebut pada konfigurasi genetik pada Sehingga kepribadian pada setiap individu bisa disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor belajar dari lingkungan, ataupun berasal dari faktor gen yang diwariskan dari generasi sebelumnya pada individu. Analisis faktor merupakan alat yang esensial dalam teori trait-factor analytic, merupakan prosedur statistika yang didasarkan atas konsep korelasi, analisis faktor memberikan arah atau cara yang sederhana dalam menjelaskan sejumlah besar nomor variabel dengan mengidentifikasi sejumlah kecil nomor dimensi . aktor-fakto. (Cloninger. Konsep korelasi yang biasa digunakan dalam analisis faktor adalah, . correlation coefficient, yaitu pengukuran terhadap hubungan dua variabel . ua set nomo. , korelasi positif jika variabel tinggi berhubungan dengan variabel tinggi lainnya dan variabel rendah berhubungan dengan variabel rendah lainnya, serta nilai koefisien korelasinya berada pada rentang -1 dan 1. correlation matrix, yaitu korelasi dari keseluruhan (Cloninger, 2. Dalam analisis faktor digunakan merupakan satu dari sekian banyak metode untuk mengukur penggunaan konsep khusus terhadap tipe-tipe material khusus, terutama untuk permasalahan psikologis (Eysenck. Para psikolog telah satu langkah lebih maju daripada para ahli statistik dalam hal penggunaan analisis faktor. Lebih Eysenck menjelaskan bahwa para ahli statistik pendeskripsian nilai yang dihasilkan dari metode ini, berbeda dengan para pemaknaan dari faktor-faktor yang Analisis faktor merupakan metode paling efektif dibandingkan dengan metode statistika lainnya, hal ini karena analisis faktor dapat berinteraksi sangat dekat dengan aspek-aspek substantif . dari penelitian psikologis (Eysenck, 1. Dapat disimpulkan memberikan pemahaman secara detail dan mendalam, serta memberikan pemaknaan terhadap faktor-faktor yang dihasilkan, hal ini karena analisis faktor mengidentifikasi secara mendalam dan dapat menghasilkan hasil yang sesuai dengan kondisi sebenarnya. Eysenck (Feist & Feist, 2. mengemukakan empat kriteria dalam mengidentifikasi factors, yaitu . psychometric evidence, adanya faktor harus mapan atau tetap, kriteria yang dianggap wajar harus reliable dan . possess heritability, faktor berikutnya harus memiliki faktor keturunan dan sesuai dengan model . make sense from a Eysenck menggunakan metode deduktif dalam melakukan investigasi, di awali dengan teori dan kemudian mengumplkan data yang logis dan konsisten dengan teori. possess social relevance, harus faktor-faktor variabel yang relevan secara sosial. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan. Penelitian penelitian yang dilakukan secara informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang tersedia, seperti buku, hasil penelitian terdahulu, artikel, serta jurnal ilmiah terkait guna mencari jawaban atas permasalahan yang dihadapi (Khatibah, 2011. Sari & Asmendri, 2. Penelitian ini metaetnografi, yaitu merangkum berbagai hasil penelitian yang relevan secara naratif untuk mengembangkan teori baru dan melengkapi teori-teori sebelumnya (Yusuf & Yusuf, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian oleh Levine & Jackson . terhadap 101 mahasiswa yang berusia 22 tahun, untuk mengukur kepribadian dalam tiga dimensi PEN dengan perilaku kejahatan dan undersocialized. Hasil yang diperoleh kepribadian PEN secara signifikan dapat memprediksi perilaku kejahatan secara lebih sistematis. Psychoticism secara signifikan memiliki korelasi dan dapat memprediksi perilaku kejahatan dan under-socialized, yaitu perilaku yang tidak cukup berasimilasi dengan masyarakat atau antisosial. Hasil yang diperoleh Levine & Jackson . psychoticism merupakan indikator yang kuat dari aktivitas sosial yang tidak tepat atau maladaptif, dan sesuai dengan hasil studi sebelumnya bahwa tidak menghormati aturan berhubungan dengan kurangnya tanggung jawab sosial, yang merupakan tanggung jawab (Farrington et al. , 1982. Furnham & Thompson, 1991. Blackburn, 1. Neuroticism secara signifikan memprediksi under-socialized. Secara parsial mendukung alasan teori kriminalitas Eysenck dan konsisten hubungan antara neuroticism dengan kejahatan (Farrington et al. , 1982. Furnham Thompson. Blackburn. Extraversion merupakan dimensi kepribadian yang memiliki tingkat reliabilitas dan hubungan paling sedikit dengan perilaku kejahatan (Eysenck & Eysenck, 1992. Levine & Jackson. Menurut pandangan Eysenck & Eysenck . bahwa kemampuan sosial memiliki hubungan yang sangat rendah dengan perilaku kejahatan. Eysenck sangat berhati-hati dalam menyebutkan bahwa tidak ada seorang pun yang murni dalam hal apapun, individu yang neurotic tidak selalu neurotic sepanjang waktu, masingmasing kombinasi tertentu dari ketiga dimensi ini dan banyak subdimensi lainnya (Hall & Lindzey, 1. Eysenck mengungkapkan tiga dimensi utama dari kepribadian manusia, yaitu extraversionintroversion, dan neuroticism (Hall & Lindzey, 1985. Boeree, 1998. Feist & Feist, 2. Psychoticism Individu psychoticism bukan berarti individu tersebut orang gila . atau menuju kearah sana. Individu yang memiliki psychoticism yang tinggi ditunjukkan dengan sikap-sikap, seperti sembrono, bersikap acuh tak acuh, dan menunjukkan eksperi emosi yang tidak tepat/tidak pantas. Dimensi kepribadian ini memisahkan individu dari institusi masyarakat (Boeree, 1. Extraversion-Introversion Eysenck . alam Boeree, 1. berhipotesis bahwa extraversionintroversion merupakan persoalan keseimbangan dari AuinhibitionAy dengan AuexcitationAy di dalam otak Excitation ialah otak dalam keadaan AuupAy, yang menjadikan individu menjadi lebih waspada. Inhibition ialah otak dalam keadaan AudownAy, menimbulkan perasaan rileks, dan juga rasa untuk melindungi diri. Individu yang extravert memiliki inhibition yang kuat, sedangkan individu yang introvert memiliki inhibition yang lemah. Sebagai respon dari individu yang extravert dengan introvert ketika mengalami keadaan trauma akibat kecelakaan Individu yang extravert meskipun mengalami pingsan akibat kecelakaan tersebut langsung berani untuk menanyakan kejadian yang telah menimpanya, mental impact dari kecelakaan tersebut tidak dirasakan oleh individu yang extravert, dan bahkan sudah siap untuk mengendarai mobil lagi. Berbeda dengan individu yang introvert, trauma yang disebabkan oleh kecelakaan tersebut akan menyebabkan lebih waspada, dan akan menyebabkan individu tersebut enggan untuk kembali mengendarai mobil atau butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mengendarai mobil Neuroticism Neuroticism merupakan nama yang diberikan oleh Eysenck bagi individu dalam rentang normal, cukup normal, sampai dengan individu dengan keadaan AunervousAy atau gelisah, gugup, dan takut. Penelitian yang dilakukan Eysenck . alam Boeree, 1. menunjukkan bahwa individu yang mengalami nervous termasuk kedalam nervous disorder atau neuroses. Akan tetapi. Eysenck tidak berkata bahwa individu dengan skor neuroticism yang tinggi tidak semata-mata neurotics, individu tersebut diduga hanya mengalami masalah neurotics. Hipotesis Eysenck . alam Boeree, 1. bahwa beberapa nervous system yang lebih responsif Sympathetic merupakan bagian dari nervous system yang berfungsi secara terpisah dari central nervous system dan mengendalikan respon emosi keadaan/situasi berbahaya. Beberapa individu akan tetap tenang meskipun dalam situasi bahaya, namun beberapa individu akan merasakan ketakutan atau lebih emosional ketika dalam situasi bahaya, ataupun bahkan beberapa individu lebih ketakutan meskipun hanya dalam situasi bahaya yang bersifat minor. Konsep extraversion-introversion memiliki sejarah yang panjang dalam psikologi, kembali ke masa lalu ke masa Hippocrates dan Galen (Eysenck. Awalnya teori mengenai empat tipe kepribadian, yakni melancholic, choleric, phlegmatic, dan sanguine dipertahankan, diuraikan secara rinci, dan diletakkan sebagai pusat dari psikologi Eropa oleh Kant sekitar 300 tahun yang lalu . Wundt . alam Eysenck, 1. merupakan orang pertama yang mengambil empat kategori kepribadian ini dan diturunkan menjadi dua dimensi independen. Tipe choleric dan sanguine mendasari extraverted, kemudian tipe melancholic dan phlegmatic merupakan rangkaian yang mendasari introverted, yang mana mendasari ketidakstabilan . evel N atau Neuroticism phlegmatic dan sanguine mendasari kestabilan . evel N atau Neuroticism renda. (Eysenck, 1964. Eysenck. Pertama kali yang menampilkan pandangan mengenai arousal sebagai faktor penyebab dalam perilaku extraverted dan introverted adalah seorang psikiatris Austria Otto Gross . , yang memperkenalkan AuprimaryAy AusecondaryAy (Eysenck, 1. Konsep ini merupakan dasar psikologis dan merujuk pada aktivitas sel otak selama produksi berbagai bentuk konten mental, yang mengantarkan pada nervous processes yang dilibatkan dalam produksi tersebut. Nervous sebagai gagasan dalam pikiran yang diharapkan akan kuat, meskipun bukan pada level sadar, dan menentukkan pembentukan asosiasi dalam pikiran (Eysenck, 1. Teori Eysenck sifat-sifat extraversion-introversion, neuroticism, dan psychoticism, dimana multiple konstruknya (Matthews & Gilliland. Eysenck memiliki asumsi bahwa sifat-sifat kepribadian individu berbedabeda sesuai dengan fungsi otaknya masing-masing, fungsi otak ini lah berisi AukunciAy yang relevan terhadap kepribadian dan perilaku seseorang. Eysenck . alam Matthews & Gilliland, 1. mengidentifikasi dua fungsi utama dari sistem otak sebagai komponen kunci dalam konsep nervous system, yaitu reticulo-cortical circuits dan reticulo-limbic circuits. Reticulocortical circuits mengendalikan cortical arousal yang dihasilkan oleh stimulus yang baru masuk, sedangkan reticulolimbic circuits mengendalikan respon dari stimulus emosional. Matthews & Gilliland . mengungkapkan bahwa extraversionintroversion (E) berkaitan terhadap reticulo-cortical Analisis secara metodologi terhadap studi extraversion oleh Gale . alam Matthews & Gilliland, 1. menjelaskan dua dasar masalah Pertama, individu dengan aktif menggapai level arousal, sehingga hubungan antara kepribadian dengan arousal bisa juga merefleksikan perbedaan individu dalam strategi untuk mencari atau menghindar terhadap pendorong atau stimulus. Kedua, dibawah level tinggi dari Autransmarginal inhibitionAy (TMI) yang menuntun secara bertentangan dalam menurunkan level arousal. Eysenck . berpendapat bahwa AuAin the case of the most arousing testing conditions we might suspect that the optimal point for introverts, but not for extraverts, had already been passed, so that extravertsAo arousal was still growing, introvertsAo decliningAy. Oleh karena itu, introverts bisa jadi lebih tinggi, lebih rendah ataupun sama level arousal-nya berdasarkan kepada interaksi yang kompleks dari tipe-tipe kepribadian dan manipulasi lingkungan. Neuroticism (N) berhubungan dengan arousability dari limbic circuit, neurotic lebih menjadi penggugah daripada penstabil individu sebagai konsekuensi dari pengaruh stimulus Oleh karena itu, perbedaan individu dalam Neuroticism hanya pada (Matthews & Gilliland, 1. Salah satu kekuatan teori Eysenck ialah penggunaan arousal sebagai variabel kepribadian secara kualitatif untuk terhubung dengan berbagai daftar respon yang berbeda-beda. Individu yang memiliki dimensi Normality-Extraversion kecenderungan untuk lincah dan cepat Normality-Introversion dapat diandalkan dan bijaksana. NeuroticismExtraversion mudah tersinggung dan Neuroticism-Introversion cemas dan Dimensi utama yang ke-3, yang diusulkan oleh Eysenck adalah Normality-Psychoticism. Harus digaris bawahi bahwa psychoticism (P) tidaklah sama dengan psychosis, seperti schizophrenia, meskipun orang yang schizophrenic akan memiliki skor yang tinggi dalam psychoticism. Orang yang memiliki P yang tinggi cenderung bermusuhan/berseteru dianggap aneh oleh orang lain (Hall & Lindzey, 1. Secara Eysenck berkorelasi dengan kecenderungan untuk tidak terkondisi dengan mudah, sementara introversion siap dan mudah terkondisi, perbedaan ini dipengaruhi oleh level cortical excitation. Menurut Eysenck pada extraversion, level cortical excitation secara umum rendah, individu seperti ini cenderung untuk mencari stimulus dan butuh lebih banyak stimulus untuk merangsangnya dibanding orang lain butuhkan. sedangkan pada introversion, level excitation tinggi, individu introversion cenderung untuk menghindari stimulus tambahan dan hanya dibutuhkan sedikit stimulus untuk merangsangnya (Hall & Lindzey, 1. Ketika emosional reaktif yang tinggi . eurotic pada dimensi normalityAeneuroticis. dan memiliki cortically excitable yang . ntrovert introversionAeextraversio. , kemungkinan individu tersebut akan mengalami gejala neurotic yang kuat seperti ketakutan, fobia, compulsif, obsesi, dan lain sebagainya. Individu seperti ini akan menderita disorder tipe 1, seperti anxiety neurotic . ecemasan neuroti. (Hall & Lindzey, 1. Individu yang memiliki kereaktifan emosi yang tinggi tetapi memiliki level cortical excitation yang rendah . kstravert pada dimensi introversionAe extraversio. menderita disorder tipe ke-2, seperti psikopat atau kepribadian antisosial (Hall & Lindzey, 1. Individu yang menunjukkan tingkah laku antisosial, seperti kenakalan atau kriminalitas, tidak memperoleh reaksi ketakutan yang kuat . tau rasa bersala. terhadap impuls yang merusak mereka. Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 1 berikut. Tabel 1. Introversion-Extraversion. Neuroticism & Physiological Arousal Cortical Level of Excitation Automatic Level Nervous System Reactivity INTROVERT Normal Neurotic . EXTRAVERT High High Low High Normal Neurotic . Low Low Low High Identifikasi fisiologis dimensi psychoticism (P) menjadi lebih spekulatif. Eysenck genetik tingkah laku dari heritabilitas psychoticism, dimensi ini memiliki dasar biologis yang kuat sebagaimana kedua dimensi lainnya, pandangan Eysenck didasarkan pada hubungan fisiologis berdasarkan fakta bahwa pria memiliki skor psychoticism (P) yang lebih tinggi dari wanita, hal ini mungkin terjadi karena hormon seks pria mempengaruhi dalam beberapa bagian, mesipun tidak sepenuhnya terhadap dasar psychoticism (Hall & Lindzey, 1. Neuroticism dan psychoticism tidak hanya terbatas pada individu yang mengalami patologis, meskipun orang yang terganggu cenderung untuk dibanding orang normal dalam skala pengukuran kedua faktor ini (Feist & Feist, 2. Pernyataan ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Hall & Lindzey . bahwa psychoticism (P) tidaklah sama dengan psychosis seperti contohnya schizophrenia, meskipun orang yang schizophrenic akan memiliki skor yang tinggi dalam Cloninger . pun sependapat bahwa meskipun istilah psychoticism terkesan melebih-lebihkan image patologi, pada kenyataannya orang-orang yang kreatif cenderung memiliki skor pyshoticism yang tinggi, meski pasien psychotic memiliki skor yang tinggi dalam faktor ini, tapi begitu juga halnya dengan orang-orang kreatif yang tidak menderita kelainan ini. Eysenck menerima model diathesisstress bagi orang yang memiliki skala neuroticism tinggi, yaitu bahwa stress dan skor N . yang tinggi kerentanan seseorang terhadap kelainan Model ini juga mengusulkan bahwa orang yang memiliki skor psychoticism tinggi dan mengalami stress memiliki kesempatan tinggi dalam membentuk kelainan psychotic. Model diathesis-stress ini mengusulkan bahwa orang-orang dengan skor P tinggi secara genetik lebih rentan terhadap stress dibanding dengan yang memiliki skor P rendah. Selama masamasa stress yang rendah, orang-orang dengan skor P tinggi mungkin dapat berfungsi secara normal, akan tetapi ketika psychoticism tinggi mengalami level stress tinggi, orang tersebut menjadi rentan terhadap psychotic disorders, sedangkan orang dengan skor P rendah tidak rentan terhadap stress dan akan melawan psychotic meskipun mengalami stress yang berat (Feist & Feist, 2. Berdasarkan sudut pandang teori kepribadian analisis faktor. Eysenck tindak kejahatan berdasarkan kaca mata kerpibadian, bahwa faktor kepribadian merupakan penyebab utama perilaku kejahatan dan hanya metode sistematis menginvestigasinya (Eysenck, 1996. Eysenck & Gudjonsson, 1991. Levine & Jackson, 2. Kepribadian memiliki proximal . eperti kognis. dan kemudian distal consequences . eperti perilaku sosial, salah satunya yaitu kejahata. (Levine & Jackson, 2. Hal ini berdasarkan pada Eysenck . bahwa perilaku kejahatan dijelaskan dalam paradigma kepribadian secara umum, paradigma ini mengusulkan bahwa distal antecedents . enetic personality determinants atau faktor penentu kepribadian berdasarkan ge. , dan proximal antecedents . aktor biologi. penyebab dari psychometric trait constellations . eperti Psychoticism. Extraversion, dan Neuroticis. Dasar rasional mengenai pengaruh kepribadian terhadap perilaku kejahatan diperkuat dengan pernyataan berikut. Extraversion disebabkan oleh tingkat paling bawah dari cortical arousal, dimana menghasilkan kebutuhan untuk pengkondisian . lassical conditionin. yang lemah, kemudian Eysenck . menegaskan bahwa introvert lebih . , dimana penghargaan . lebih berpengaruh terhadap extravert (Levine & Jackson, 2. Fakta-fakta bahwa tingkat tinggi kemampuan sosial kepekaan penghargaan dimana ini ciri-ciri extraversion (Lucas et al. , 2. Berdasarkan Eysenck, neuroticism memiliki dasar biologis di dalam autonomic nervous system, meskipun fakta-fakta terbaru membantah pandangan ini . eperti Fahrenberg, 1. Secara ilmu perilaku, tindakan neuroticism sebagai arahan alami yang memperkuat Dalam istilah kejahatan, neuroticism yang tinggi membuat individu lebih keras hati dan gigih sehingga kejahatan diperkuat menjadi sebuah rutinitas. Sebaliknya, melihat pada aturan sosial seperti kemampuan belajar di sekolah, neuroticism yang tinggi mengganggu keefisiensian proses Pasangan antara extraversion yang tinggi dan neuroticism yang tinggi meningkatkan kemungkinan perilaku kejahatan (Levine & Jackson, 2. Psychoticism bisa saja berhubungan dengan perilaku kejahatan yang membuat individu keras kepala . dan mengurangi kepekaan untuk merasa bersalah (Levine & Jackson, 2. Berdasarkan alasan ini. Eysenck . mengemukakan bahwa psychoticism yang tinggi kemungkinan besar menyebabkan kejahatan dan aktivitas kriminal. Tinjauan empiris mengenai status dari teori kejahatan atau kriminalitas yang dikemukakan oleh Eysenck . (Blackburn, 1999. Farrington et al. Furnham & Thompson, 1. Para tokoh di atas menyetujui bahwa psychoticism yang tinggi hampir selalu neuroticism lebih tinggi dalam kelompok kriminal daripada populasi normal. dan extraversion secara umum lebih tinggi ketika metode self-report digunakan pada populasi umum, tetapi tidak dalam sampel Pekerjaan Eysenck mengungkap skala utama dari faktorfaktor kepribadian yang lebih berkaitan sebagai peramal . dari perilaku kejahatan (Eysenck & Eysenck, 1. Extraversion, skala utamanya adalah kemampuan sosial menjadi bagian unsur utama dari faktor E, tetapi bisa saja sedikit kurang berkaitan daripada impulsiveness, atau resiko yang di ambil dari perilaku kejahatan atau sensasi kejahatan yang dicari (Eysenck & Eysenck, 1. Inventori kepribadian yang dirancang oleh Eysenck & Eysenck . untuk menggambarkan P (Psychoticis. E (Extraversio. , dan N (Neuroticis. , telah menuntuk pada kesimpulan bahwa impulsiveness bertanggung terhadap korelasi antara kejahatan . etapi kemampuan sosialny. (Levine & Jackson, 2. Psychoticism merupakan faktor sumber penjelasan, ciri-ciri . dari psychoticism cukup menyerupai apa yang sering ditunjukan dalam perilaku Eysenck menyimpulkan item-item berhadapan dengan perilaku melukai orang lain dan binatang. Neuroticism, mengungkap analisis bahwa kejahatan merupakan Auautonomic typeAy, hal ini merujuk pada manifestasi langsung dari sympathetic arousal atau interpretasi mawas diri dari arousal dalam bentuk perasaan khawatir, perasaan tegang, cemas, dan lain sebagainya (Eysenck & Eysenck, 1. KESIMPULAN Eysenck dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor hereditas . , sehingga perbedaan kepribadian individu bisa dipengaruhi oleh faktor belajar dari lingkungan ataupun berasal dari faktor keturunan . yang diwariskan. Selain itu. Eysenck dikenal sebagai pakar yang menekankan kepribadian kepribadian tidak hanya pada perilaku yang nampak yang dapat dimanipulasi, tetapi juga merupakan refleksi dari perilaku dasar otak. Seperti yang dikemukakan oleh Eysenck bahwa tidak ada hal yang mutlak yang dapat berdiri sendiri, seperti halnya dalam dimensi kepribadian Eysenck dimana satu dimensi kepribadian saling terhubung membentuk sifat-sifat seorang individu. Konsep mengenai korelasi antara tiga dimensi kepribadian Eysenck, yaitu Psychoticism. ExtraversionIntroversion, dan Neuroticism terhadap perilaku kejahatan atau kriminalitas memiliki korelasi yang signifikan. REFERENSI