Jurnal Reformasi Administrasi Vol. No. Maret 2020, pp. P- ISSN 2355-309X . E-ISSN 2622-8696 Sampah Padat. Emisi Gas Karbondioksida, dan Produk Domestik Bruto Akhmad Khabibi, 2Dhian Adhetiya Safitra Politeknik Keuangan Negara STAN Email : 1akhabibi@kemenkeu. id, 2dhian. safitra@pknstan. ARTICLE INFO solid waste, carbondioxide emission, gross domestic product. Fixed Effect Model ABSTRACT Solid waste and carbondioxide emission gradually become a threat to the sustainability of humanity. Negative externalities from the existence of solid waste and air pollution can threaten the environmental sustainability. Does the threat to environmental sustainability affect economic growth in a country? With panel data obtained from the OECD and the World Bank, researchers then analyzed using the Fixed Effect Model (FEM) to identify the impact of solid waste and air pollution on Gross Domestik Product (GDP) in countries in Europe and Asia Pacific. The results of this study indicate that there is a significant and positive relationship between GDP and solid waste and carbon dioxide emissions. PENDAHULUAN Perubahan iklim, kerusakan alam, dan menurunan kualitas lingkungan telah menarik perhatian yang serius dari masyarakat, pemerintah, dan korporasi. Bagi masyarakat dunia, ternyata banyaknya tanda-tanda kasat mata akibat pemanasan global telah meningkatkan kesadaran mereka akan kerusakan alam (Ballew, et , 2. Akibatnya, fenomena perubahan iklim tersebut telah meningkatkan kehawatiran masyarakat dunia akan risiko yang akan timbul akibat perubahan iklim tersebut (Deeg. Leiserowitz. Maibach. Kotcher, & Marlon, 2. Dua hal utama yang menjadi penyebab fenomena perubahan iklim dan kerusakan alam adalah polusi yang diakibatkan oleh sampah padat serta polusi yang disebabkan oleh emisi gas karbondioksida (CO. atau yang dikenal sebagai gas rumah kaca. Sampah padat merupakan produk sampingan dari aktivitas domestik masyarakat dan pabrik yang biasanya dikaitkan dengan dari negara manakah pendapatan tersebut dihasilkan (Loureiro. Rovere, & Mahler, 2. Menurut World Bank, negara dengan pendapatan per kapita terbesar, juga menjadi negara yang menghasilkan sampah padat per kapita terbesar. Sebaliknya, negara dengan pendapatan per kapita lebih kecil akan menghasilkan sampah padat per kapita lebih kecil pula. Beberapa peneliti telah menganalisis hubungan antara sampah dengan PDB. Misalnya pada Tiongkok, selama beberapa dekade ini, ekonomi Tiongkok telah tumbuh pesat menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dilihat dari PDB-nya. Namun di sisi lain. Tiongkok juga menjadi negara terbesar yang menghasilkan sampah padat (Chen. Pang. Zhang, & Li, 2. Dampak buruk sampah padat ternyata tidak sebatas pada menurunnya kualitas tanah dan air saja, tetapi sampah padat juga dapat menghasilkan emisi gas karbondioksida yang akan semakin memperburuk kualitas udara (Talaiekhozani. Bagheri. Najafabadi, & Borna, 2. Di sisi lain, kerusakan alam dan perubahan iklim juga disebabkan karena polusi udara yang disebabkan karena emisi gas rumah kaca atau karbondioksida (CO. itu sendiri. Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), emisi gas rumah kaca pada tahun 2010 telah meningkat hingga 330% di Asia, 70% di Timur Tengah dan Afrika, 57% di Amerika Latin, 22% di negara anggota Economic Co-operation and Development (OECD), dan 4% negara transisi (IPCC, 2. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya polusi gas rumah kaca diantaranya produksi per kapita, pertumbuhan konsumsi, pertumbuhan populasi, teknologi, keusangan inovasi, perilaku dan pemilihan infrastruktur (Sarkodie & Strezov, 2. Emisi karbondioksida pada rentang tahun 2000-2010 mayoritas berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu sebesar 78% dari total emisi gas rumah kaca (Blanco, et al. , 2. Emisi gas rumah kaca yang berasal dari bahan bakar fosil selalu meningkat selama 40 tahun terakhir. http://ojs. reformasijournal@gmail. com / reformasijournal@stiami. P- ISSN 2355-309X . E-ISSN 2622-8696 Jurnal Reformasi Administrasi Vol. No. Maret 2020, pp. Walaupun hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi sangat kompleks, akan tetapi, penyediaan energi dan layanan terkaitnya sangat penting untuk pembangunan ekonomi (Sarkodie & Strezov. Sebagaimana telah disebutkan di atas, fenomena perubahan iklim dan kerusakan alam yang disebabkan karena sampah padat dan emisi gas rumah kaca tersebut ternyata menarik perhatian para peneliti di bidang ekonomi. Terkait hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan produksi sampah padat, metode yang sering digunakan oleh peneliti adalah analisis rentang waktu . ime serie. , model data panel, dan model dinamis gray fuzzy yang dikembangkan oleh Chen & Chang . Pada tahun 2016. Lee. Kim, & Chong . menggunakan Granger Causality test untuk menganalisis hubungan antara sampah padat dengan dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Hasilnya, tidak ada bukti empiris bahwa kedua variabel tadi memiliki hubungan sebab akibat. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Jaligot & Chenal . yang menggunakan data panel untuk mengukur berbagai macam variabel lingkungan dan PNB, dan hasilnya, tidak ada bukti yang cukup bahwa ada hubungan sebab akibat antara variabel-variabel yang ada pada model tersebut. Sebaliknya. Inglezakis, et al. , . menemukan bukti adanya keterlepasan . antara produksi limbah padat dan PDB pada negara Uni Eropa. Pada data yang dianalisis, produksi limbah pada negara-negara Uni Eropa stagnan, tetapi PDB mengalami pertumbuhan sebesar 17%. Hal yang sama juga ditemukan oleh Zhang, et al. , . yang membuktikan bahwa variabel kerusakan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok tidak saling mempengaruhi. Sementara itu, kebanyakan studi yang meneliti hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan polusi udara berfokus pada polusi oleh gas karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (Salahuddin. Gow, & Ozturk, . Wang et al. , . Penelitian-penelitian berikut dilakukan dengan menggunakan analisis data panel dan rentang waktu dengan variabel polusi, konsumsi energi, dan variabel ekonomi makro. Remuzgo & Sarabia . mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah menurunkan tingkat polusi gas rumah kaca sebesar 22%. Sementara itu. Wang, et al. , . menemukan bahwa peningkatan emisi karbondioksida berpengaruh kecil terhadap PDB dan konsumsi energi. Pada Amerika Serikat. Tiongkok. Jepang, dan India. Azam, et al. , . menemukan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara polusi karbondioksida dan pertumbuhan ekonomi. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan variasi hubungan antara variabel ekonomi makro, yaitu PDB, dan variabel kerusakan alam, yaitu produksi sampah padat dan polusi karbondioksida. Dapat memahami hubungan dan proses yang dinamis antara aktivitas ekonomi, produksi sampah padat, dan polusi udara adalah hal yang sangat penting bagi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah agar mereka dapat mengambil kebijakan yang holistik untuk menentukan kebijakan yang secara bersamaan memiliki dimensi ekonomi dan kelestarian lingkungan. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu ekonomi dan kaitannya dengan kelestarian alam. Pada bab selanjutnya pada penelitian ini, peneliti akan membahas hal sebagai berikut. Pada bagian 2, peneliti akan menjelaskan model ekonometri dan spesifikasi yang digunakan pada penelitian ini METODOLOGI Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data panel 34 negara OECD dari rentang tahun 1995 Pemilihan rentang waktu mempertimbangkan ketersediaan data. Data PDB dan produksi karbondioksida didapat pada bank data situs World Bank, dan produksi sampah padat diperoleh dari bank data situs OECD. Model yang digunakan adalah Fixed Effect Model (FEM). Dalam model ini. PDB adalah fungsi dari produksi sampah padat dan CO2. Model ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian. Model dari penelitian ini adalah sebagai berikut: lnPDBit = 0i 1lnWAS it 2lnCO it A it . di mana lnPDB adalah logaritma natural dari PDB, ln WAS adalah logaritma natural dari waste atau sampah padat yang dihasilkan rumah tangga, dan lnCO adalah logaritma natural dari jumlah gas buang CO2 yang dihasilkan oleh industri Penelitian ini menggunakan regresi data panel untuk mengetahui hubungan produksi sampah padat dengan gas CO2 terhadap PDB. Setelah melakukan uji Hausman. FIx Effect Model (FEM) digunakan untuk menginterpretasikan model. Karena yang terpilih adalah FEM, maka dilakukan uji asumsi klasik. Variabel menggunakan log transformation doble log, memperhatikan satuan hitung tiap variabel yang berbeda dan memudahkan dalam menginterpretasikannya dalam bentuk elastisitas (Benoit, 2. Akhmad Khabibi. Dhian Adhetiya Safitra (Sampah Padat. Emisi Gas Karbondioksida, dan Produk A) Jurnal Reformasi Administrasi Vol. No. Maret 2020, pp. P- ISSN 2355-309X . E-ISSN 2622-8696 Setelah masalah heteroskedastisitas dan autokorelasi ditangani, uji selanjutnya adalah . uji F untuk melihat signifikansi model, . uji t untuk melihat signifikansi tiap variabel independen mempengaruhi variabel dependen, dan . uji koefisien determinasi, untuk melihat seberapa besar variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen (Ekananda, 2. PEMBAHASAN Dari hasil regresi data panel, model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: lnPDB = 17,25 0. 57 * lnWAS 0. 38 * lnCO A . dengan signifikansi hubungan variabel independen sebagai berikut: Tabel 1 Variabel Independen Model Regresi Variabel Koefisien Variabel lnWAS *** *** Untuk menentukan metode estimasi mana yang digunakan, maka akan dilakukan serangkain uji. Yang pertama dilakukan adalah Uji Chow (Chow Tes. ini bertujuan untuk melihat apakah model yang digunakan sebaiknya diestimasi menggunakan Pooled Least Square atau Fixed. Dalam uji Chow H0 ditolak dimana model yang cocok adalah model FEM ditandai dengan nilai Prob > F lebih kecil dari alpha 0. 05 atau 0000, sehingga model yang dipilih adalah FEM. Output Uji Chow dapat di lihat pada Lampiran 3. Dikarenakan pada Uji Chow memilih model FEM ketimbang PLS, maka dilanjutkan Uji Hausman. Uji ini bertujuan untuk melihat apakah model yang digunakan sebaiknya diestimasi menggunakan FEM atau REM. Pengujian menggunakan STATA memberikan hasil dimana Prob>Chi2 bernilai 0. 000 atau bernilai dibawah alpha 0. 05 yang berarti H0 ditolak sehingga model yang cocok adalah model FEM sebagaimana dapat dilihat pada lampiran 5. Karena hasil Uji Hausman mengarahkan ke model FEM, maka Langrange Multiple Test atau Uji LM untuk menentukan antara model REM atau PLS yang digunakan tidak dilakukan pada penelitian ini. Dari hasil uji, penelitian ini menggunakan FEM, sehingga perlu dilakukan uji asumsi klasik antara lain Uji Multikolinieritas. Uji Heteroskedastisitas, dan Uji Autokorelasi. Dari hasil uji asumsi klasik, data yang digunakan mengalami masalah heteroskedastisitas dan autokorelasi. Untuk menangani masalah ini, metode yang dipakai adalah dengan menggunakan pendekatan rogers dan clustered standard errors (Hoechle, 2. Setelah masalah heteroskedastisitas dan autokorelasi dapat teratasi, maka dilakukan uji kelayakan model, baik Uji F. Uji t, dan Uji Goodness of Fit. Hasil Uji F menyatakan bahwa variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. Hasil Uji t pun memberikan hasil yang sama dengan penelitian-penelitian terdahulu, bahwa, variabel sampah padat dan emisi gas buang secara individu mempengaruhi signifikan PDB. Hasil uji goodnes of fit memberikan tambahan informasi, bahwa model yang digunakan, variabel independen hanya mampu menerangkan variabel dependen sebesar 18,14%. Hal ini menggambarkan bahwa ada sekitar 81,86% variabel lain yang tidak ada pada model yang mempengaruhi variabel dependen. Banyak penelitian yang meneliti hubungan sampah padat atau emisi gas buang dengan variabel ekonomi seperti konsumsi. GDP, konsumsi energi. Kebanyakan penelitian fokus dalam pembuktian kurva kuznet yang menggambarkan bahwa untuk negara-negara ber PDB kecil, peningkatan produksi sampah padat dan emisi gas buang CO2 berbanding lurus dengan besarnya PDB dan pada negara-negara maju, berlaku sebaliknya. Sayangnya, penelitian-penelitian tersebut dilakukan dengan skala lokal. Dengan menggunakan data dari World Bank dan OECD, dari 34 negara anggota OECD, dari tahun 1995 hingga 2014, kita dapat melihat hubungan yang signifikan dan positif antara produksi sampah padat dan emisi gas buang karbondioksida. Yang perlu menjadi perhatian adalah hasil dari analisis regresi yang menyatakan bahwa setiap kenaikan 1% produksi sampah padat. PDB hanya naik sebesar 0. 57%, sedangkan setiap kenaikan 1% produksi emisi gas buang karbondioksida. PDB hanya naik sebesar 0. Sampah dan gas buang yang dihasilkan dari produksi dan konsumsi negara-negara yang diteliti ternyata lebih laju bila dibandingkan dengan kenaikan PDB. Akhmad Khabibi. Dhian Adhetiya Safitra (Sampah Padat. Emisi Gas Karbondioksida, dan Produk A) P- ISSN 2355-309X . E-ISSN 2622-8696 Jurnal Reformasi Administrasi Vol. No. Maret 2020, pp. KESIMPULAN Penelitian ini betujuan untuk memeriksa hubungan antara PDB, produksi sampah padat, dan emisi gas karbondioksida pada 34 diantara negara anggota OECD dan Asia Pasifik. Untuk itu, peneliti menganalisis data tahunan pada periode 1995 sampai 2014 dengan menggunakan model FEM. Hasil dari penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan dan positif antara PDB dengan produksi sampah padat dan emisi gas buang karbondioksida. Di samping itu, penelitian ini juga menunjukkan laju sampah dan gas buang yang dihasilkan dari produksi dan konsumsi negara-negara yang diteliti ternyata lebih laju bila dibandingkan dengan kenaikan PDB-nya. DAFTAR PUSTAKA