Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 Konstruksi Komunitas Rusunawa X Tentang Pendidikan Seks Sebagai Upaya Mencegah Kehamilan Remaja Putri Di Luar Nikah Shafa Rahma Putri1. Fransiscus Xaverius Sri Sadewo2 A,2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Shafa. Abstract Social construction in communities influences views and norms about sexual education, impacting adolescent sexual behavior and out-of-wedlock pregnancies. The stigma and taboo surrounding sexual education can hinder open communication, affect adolescents' decisions about sexual relationships, and contribute to the psychological and social impacts of teenage pregnancy. This study aims to understand the influence of sex education provided by families on the knowledge and understanding of reproductive health among female adolescents in Rusun A, while exploring the effects of social constructions accompanying the taboo stigma towards sexual education, thus affecting adolescent dating behaviors. The research methodology is grounded theory with subjects being the residents of Rusun A (Rumah Susun A) located at Jl. Tanah Merah V. Tanah Kali Kedinding. Kec. Kenjeran. Kota Surabaya. Data collection techniques include interviews, with stages of analysis including coding, concept formation, categorization, and theory development. Overall, the community construction in Rusunawa Tanah Merah has shown great potential in integrating sexual education as a preventive effort against teenage out-of-wedlock pregnancies. Through various social, religious, and educational activities held at Rusunawa, this approach can create an environment that supports better understanding of reproductive health and healthy behavior among its residents. Konstruksi sosial di masyarakat memengaruhi pandangan dan norma tentang Pendidikan seksual yang berdampak pada perilaku seksual remaja dan kehamilan di luar nikah. Stigma dan tabunya pendidikan seksual dapat menghambat komunikasi terbuka, memengaruhi keputusan remaja mengenai hubungan seksual, dan berkontribusi pada dampak psikologis dan sosial dari kehamilan remaja. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk memahami pengaruh pendidikan seks yang diberikan oleh keluarga pada remaja putri Rusun A tentang pengetahuan dan pemahaman kesehatan repoduksi, sambil menggali dampak yang timbul dari konstruksi sosial yang menyertai stigma tabu terhadap pendidikan seksual sehingga berdampak pada gaya berpacaran remaja. Metode penelitian ini dengan metodologi grounded research dengan subjek Masyarakat penghuni Rusun A (Rumah Susun A) yang beralamat di Jl. Tanah Merah V. Tanah Kali Kedinding. Kec. Kenjeran. Kota Surabaya. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan Teknik wawancara dengan tahap analisis diantaranya tahap pengkodean, tahap pembentukan konsep, tahap kategorisasi dan tahap pembentukan teori. Secara keseluruhan, konstruksi komunitas di Rusunawa Tanah Merah telah menunjukkan potensi besar dalam mengintegrasikan pendidikan seks sebagai upaya preventif terhadap kehamilan remaja di luar nikah. Melalui berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan yang diselenggarakan di Rusunawa, pendekatan ini dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan reproduksi dan perilaku yang sehat di antara para penghuninya. Kata kunci: Kehamilan. Konstruksi Social. Remaja. Pendidikan Seksual Pendahuluan Adolescence atau remaja adalah masa transisi yang penting dalam perkembangan seorang individu, di mana mereka mulai mengeksplorasi identitas, hubungan sosial, dan kehidupan seksual. Pada periode remaja, individu berada dalam fase transisi kehidupan yang menghubungkan masa kanakkanak dan masa dewasa. Tahap ini melibatkan pergeseran dari pola pikir kanak-kanak menuju ciri-ciri Selama masa pubertas ini, remaja mulai menjelajahi opsi-opsi baru dan menguji berbagai alternatif sebagai bagian dari proses pengembangan identitas pribadi. Mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang kuat terhadap berbagai aspek kehidupan. Namun, potensi ini memiliki risiko, karena jika Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 rasa ingin tahu ini tidak diarahkan dengan baik, bisa menyebabkan tindakan yang tidak Salah satunya adalah sex bebas yang dapat mengakibatkan kehamilan remaja. Kehamilan remaja, terutama di luar pernikahan, menjadi salah satu isu yang mempengaruhi remaja secara Kehamilan di usia muda dapat menimbulkan risiko komplikasi kehamilan, serta dampak jangka panjang pada tumbuh kembang anak. Selain masalah kesehatan, kehamilan remaja putri juga menghadapi stigmatisasi sosial dan tekanan psikologis yang dapat berdampak pada kesejahteraan emosional dan mental remaja tersebut. Masyarakat sering kali menilai secara negatif dan mengucilkan remaja yang hamil di luar nikah, yang dapat mengakibatkan isolasi sosial dan sulitnya akses ke dukungan sosial yang diperlukan. Mengingat akibat dari kehamilan anak. Kurniasih . , seorang anggota anggota DPR RI, sangat mengkuatirkan hal tersebut. Berdasarkan data yang disampaikan, kehamilan remaja di luar nikah merupakan isu sosial yang mendalam dan mendesak di Indonesia. Data dari beberapa sumber menunjukkan bahwa fenomena ini telah mencapai tingkat darurat, terutama dalam konteks permohonan dispensasi pernikahan. Di beberapa kasus, remaja yang menghadapi kehamilan diluar nikah mencoba untuk menormalisasi status pernikahan mereka dengan meminta dispensasi Data dari BKKBN Jawa Timur dan Pengadilan Tinggi Agama Semarang Jawa Tengah mengindikasikan adanya ribuan permohonan dispensasi pernikahan akibat dari kehamilan diluar Terjadinya kehamilan diluar pernikahan disebabkan oleh beberapa faktor yang mencakup kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual, sikap permisif dalam lingkungan sosial, dampak negatif dari perkembangan teknologi, kawan sebaya, dan pola asuh yang diterima dari lingkungan keluarga. Namun, di antara faktor-faktor tersebut, dua faktor yang dianggap dominan yaitu kurangnya pendidikan seksual dan pengaruh dari kawan sebaya. Beberapa hal yang mempengaruhi perilaku seksual antar remaja meliputi berbagai elemen, termasuk kawan sebaya, lingkungan sekitar, dan unsur sosial budaya. Kehadiran kawan sebaya berdampak cukup signifikan dalam kehidupan sosial dan pertumbuhan remaja. Beberapa studi mengindikasikan lingkungan pergaulan yang tidak positif cenderung memberikan dampak yang tidak menguntungkan bagi remaja. Data yang sudah dipaparkan memberikan bukti konkret mengenai dampak dari gaya berpacaran remaja dengan hubungan seksual pra-nikah. Konstruksi sosial yang ada dalam masyarakat memiliki dampak yang signifikan terhadap gaya berpacaran remaja. Pandangan masyarakat tentang pendidikan seksual dan kehamilan di luar nikah secara langsung memengaruhi bagaimana remaja memandang hubungan percintaan dan seksualitas dalam konteks berpacaran. Konstruksi sosial yang menempatkan stigma atau tabu pada pendidikan seksual dapat membuat remaja merasa enggan untuk membahas topik tersebut dengan pasangan Hal ini bisa mengakibatkan kurangnya pemahaman tentang aspek-aspek penting dalam hubungan intim, seperti komunikasi terbuka dan penggunaan metode kontrasepsi. Stigma ini juga dapat mempengaruhi rasa malu atau canggung dalam berbicara mengenai batasan-batasan dalam hubungan berpacaran, seperti tidak memahami bahwa alangkah baiknya tidak melakukan hubungan seksual pra-nikah, mengingat lebih banyak kerugian daripada kelebihannya. Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 Kajian Pustaka Penelitihan Terdahulu Setidak-tidaknya ada tiga penelitian yang menarik tentang pendidikan seksualitas. Pertama, penelitian Ana Farida . di SMK Negeri 1 Sewon. Ia menggunakan metode eksperimen dengan one-group pretest-postest. Jumlah sampel adalah 105 siswa. Hasilnya menunjukkan dengan nilai signifikansi <0,05 dan Dapat diartikan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Penelitian kedua dilakukan oleh Anisa Rusdianari dan Refti Handini Listyani . Di Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo yang merupakan penelitian kualitatif dengan perspektif konstruksi sosial. Hasilnya menunjukkan adanya konstruksi yang berbeda antara setiap orang tua yang dipengaruhi oleh pengalaman dan informasi yang diterima. Orang tua mendapatkan anggapan baru tentang konstruksi pendidikan seksual pada anak perempuan, namun pada tahap internalasasi orang tua laki-laki kurang mengaktualisasi pengetahuannya. Penelitian ketiga dilakukan oleh Ines Dentiana . Studi Kasus Di Kelurahan Kebun Geran Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu. Dengan metode kualitatif dan Pengumpulan beraneka sumber informasi. hasilnya menunjukkan pelaksanaan pemberian Pendidikan seks pada anak remaja di kelurahan kebun geran belum berjalan Dengan semestinya karena orang tua yang terlalu abai mengenai pendidikan seks Mengagap hal tersebut bisa diketahui anak hanya dengan belajar disekolah, dan Juga kurangnya komunikasi orang tua dengan anak karena orang tua yang sibuk Bekerja dan orang tua juga menganggap hal itu masih tabu untuk dibahas. Dari tiga kajian pustaka di atas, perbedaan ketiganya terhadap penulisan skripsi ini ialah ketiga kajian pustaka diatas menggunakan dengan metode Pre-Experimental Design dengan One-Group Pretest-Posttest Design, penelitian kualitatif dengan perspektif konstruksi sosial, dan penelitian studi Adapun penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dan konstruksi sosial untuk mengkaji penelitian ini. Dan pengambilan datanya dengan cara wawancara. Ana Farida, mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Aisyiyah Yogyakarta tahun 2018 yang berjudul Au Pengaruh Pemberian Pendidikan Seks Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Dalam Mencegah Perilaku Seks Diluar Nikah Di SMK Negeri 1 SewonAy. Teori Konstruksi Peter L. Berger Teori Konstruksi Sosial, dikembangkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam karya mereka yang berpengaruh, "The Social Construction of Reality" . , mengemukakan bahwa realitas sosial dibangun melalui interaksi manusia dan tidak merupakan entitas yang objektif atau given. Menurut teori ini, kenyataan sosial adalah hasil konstruksi bersama yang berkembang dari praktik dan pemahaman sehari-hari. Konsep ini memiliki implikasi penting dalam memahami bagaimana individu dan kelompok membentuk, memelihara, dan merubah pemahaman mereka tentang dunia sosial. Berger dan Luckmann menjelaskan bahwa konstruksi sosial terdiri dari beberapa tahapan A Eksternalisasi: Proses ini melibatkan individu yang mengungkapkan dan berbagi ide serta pengetahuan mereka kepada orang lain. Dalam konteks sosial, ini bisa berupa tindakan, bahasa, atau simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dan menyampaikan makna. Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 Eksternalisasi adalah langkah awal di mana konsep-konsep dan nilai-nilai diperkenalkan ke dalam lingkungan sosial. Objektivasi: Setelah ide atau makna dikomunikasikan dan diterima oleh anggota masyarakat, mereka menjadi bagian dari struktur sosial yang lebih besar. Objektivasi adalah proses di mana ide-ide ini diterima sebagai bagian dari kenyataan sosial yang objektif dan tidak lagi dianggap sebagai produk dari individu tertentu. Misalnya, normanorma sosial dan institusi seperti hukum atau kebiasaan menjadi terlihat sebagai bagian dari "realitas" yang objektif dan tidak dipertanyakan. Internalisasi: Tahap terakhir adalah internalisasi, di mana individu menginternalisasi norma-norma, nilai-nilai, dan pengetahuan yang telah dibentuk dan dipertahankan oleh Proses ini melibatkan penerimaan dan integrasi ide-ide tersebut ke dalam pemikiran dan perilaku individu. Internaliasi mengarahkan individu untuk memahami dan bertindak sesuai dengan norma dan nilai yang telah diterima sebagai bagian dari realitas sosial mereka. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metodologi Grounded Research yang merupakan pendekatan umum dalam pengembangan teori, terutama dalam konteks penelitian kualitatif yang berfokus pada konstruksi sosial. Penggunaan teori konstruksi social Berger dalam penelitian ini berfokus pada Pendidikan seks sebagai upaya mencegah kehamilan remaja putri di luar nikah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada informan untuk mendapatkan pemahaman tentang konstruksi sosial, interaksi sosial, serta pandangan dan pengalaman individu terkait pendidikan seksual dan kehamilan di luar nikah, serta pengambilan dokumentasi. Analisis data dalam teknik ini dilakukan dalam bentuk pengkodean atau proses penguraian data data, pembuatan konsep serta penyusunan kembali. Lokasi penelitian ini berada di rusunawa yang berada di kota Surabaya dengan melibatkan informan yang merupakan remaja dilingkungan rusunawa. Hasil dan Pembahasan Realitas Obyektif tentang Pendidikan Seksualitas sebagai Pencegahan Hamil di Luar Nikah Hamil di luar nikah sering kali dianggap sebagai aib yang berat bagi keluarga dalam banyak budaya dan masyarakat. Dalam konteks sosial yang kuat dengan nilai-nilai tradisional, kehamilan di luar nikah dilihat sebagai pelanggaran norma moral dan agama yang serius. Keluarga yang menghadapi situasi ini sering kali mengalami tekanan sosial yang luar biasa, karena masyarakat sekitar mungkin memberikan stigma negatif dan cemoohan. Di banyak komunitas, pelaku yang mengalami kehamilan di luar nikah dianggap telah melakukan dosa besar, tidak hanya dari perspektif agama tetapi juga dari sudut pandang sosial. Hal ini dapat mengakibatkan isolasi sosial, penurunan status sosial, dan berbagai konsekuensi psikologis negatif bagi individu yang terlibat. Dalam konteks ini, pendidikan seksualitas menjadi sangat penting untuk mengurangi kejadian Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 kehamilan di luar nikah dengan memberikan pengetahuan yang benar dan mendalam tentang kesehatan reproduksi dan konsekuensi dari aktivitas seksual yang tidak aman. Di Rusunawa X, kehamilan di luar nikah sering kali dianggap sebagai aib yang berat, mencerminkan pandangan tradisional yang kuat dalam masyarakat. Dalam lingkungan sosial yang kental dengan nilai-nilai konservatif, kehamilan di luar nikah sering dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap norma moral dan agama. Keluarga yang menghadapi situasi ini biasanya menghadapi tekanan sosial yang berat, termasuk stigma negatif dan cemoohan dari masyarakat Ini dapat menyebabkan isolasi sosial, penurunan status sosial, dan dampak psikologis yang negatif bagi individu yang terlibat. Pendidikan seksualitas sering kali berada di tengah-tengah dilema yang kompleks antara nilainilai tradisional dan kebutuhan akan informasi yang akurat dan mendidik. Banyak masyarakat masih enggan membicarakan isu seksualitas secara terbuka, melihatnya sebagai topik yang tabu dan tidak layak dibahas, terutama di depan anak-anak dan remaja. Ini menciptakan tantangan besar dalam menyosialisasikan pendidikan seks yang komprehensif. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk mendidik remaja tentang kesehatan reproduksi, kontrasepsi, dan risiko kehamilan di luar nikah. sisi lain, orang tua dan pendidik sering kali khawatir bahwa pendidikan seks dapat mendorong aktivitas seksual prematur atau bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama yang dianut. Ketidakseimbangan ini dapat menghambat komunikasi yang terbuka dan jujur antara orang tua, pendidik, dan remaja, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kehamilan di luar nikah dan perilaku seksual yang tidak aman. Ketidakseimbangan antara kebutuhan informasi dan nilai-nilai tradisional ini dapat menghambat komunikasi yang terbuka dan jujur antara orang tua, pendidik, dan remaja. Kurangnya dialog yang konstruktif mengenai seksualitas dapat meningkatkan risiko kehamilan di luar nikah dan perilaku seksual yang tidak aman di kalangan remaja. Tanpa informasi yang memadai dan diskusi yang terbuka, remaja mungkin tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membuat keputusan yang bijaksana mengenai kesehatan reproduksi mereka. Realitas Subyektif tentang Pendidikan Seksualitas sebagai Pencegahan Hamil di Luar Nikah Dalam pandangan subyektif, banyak individu menganggap bahwa dorongan seksual adalah sesuatu yang alami dan tidak dapat dihindari. Perspektif ini menekankan bahwa seks adalah bagian intrinsik dari pengalaman manusia, yang muncul seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik serta emosional. Bagi banyak remaja, perasaan dan dorongan seksual yang muncul pada masa pubertas adalah bagian dari penemuan diri dan eksplorasi identitas mereka. Namun, tanpa pendidikan seks yang memadai, pemahaman mengenai bagaimana mengelola naluri ini dengan cara yang sehat dan bertanggung jawab bisa terbatas. Pendidikan seks yang baik harus dapat menjelaskan bahwa meskipun seks adalah naluri, ada cara-cara yang aman dan etis untuk mengekspresikannya, serta konsekuensi yang perlu dipertimbangkan, seperti risiko kehamilan di luar nikah dan penyakit menular seksual. Bagi remaja di Rusunawa X, realitas subyektif mereka mengenai pendidikan seksualitas berkisar pada kekurangan informasi yang tepat dan mendalam. Banyak remaja yang merasa bingung dan kurang mendapatkan pengetahuan yang memadai tentang kesehatan reproduksi dan Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 pencegahan kehamilan di luar nikah. Mereka sering kali mendapatkan informasi dari sumber yang tidak selalu akurat, seperti teman sebaya atau media sosial, yang dapat memperburuk kebingungan dan kesalahpahaman tentang seksualitas. Beberapa kalangan remaja dan orang dewasa mungkin memandang bahwa pacaran tanpa seks adalah bentuk kemunafikan atau menunjukkan kurangnya keintiman emosional. Perspektif ini mengasumsikan bahwa hubungan romantis yang sejati harus mencakup aspek fisik dan seksual sebagai bukti kasih sayang dan kedekatan. Namun, pandangan ini seringkali diwarnai oleh pengaruh media, peer pressure, dan persepsi sosial yang sempit mengenai hubungan yang sehat. Pendidikan seks perlu memperkenalkan konsep bahwa keintiman emosional dan fisik bisa dicapai tanpa harus melibatkan hubungan seksual. Mengajarkan remaja tentang batasan pribadi, pentingnya konsensus, dan berbagai bentuk keintiman lainnya bisa membantu mereka memahami bahwa hubungan yang baik tidak harus selalu didasarkan pada aktivitas seksual. Realitas subyektif ini juga mencakup pengalaman emosional dan sosial yang dihadapi oleh remaja dan keluarga. Bagi remaja yang mengalami kehamilan di luar nikah, terdapat beban emosional dan stigma sosial yang signifikan. Mereka mungkin merasa terisolasi, malu, atau tidak didukung oleh komunitas mereka. Hal ini semakin diperburuk oleh kurangnya dukungan dan pengetahuan yang tepat mengenai kesehatan reproduksi yang seharusnya diberikan melalui penidikan seksualitas. Terdapat persepsi di antara sebagian orang bahwa pendidikan seks hanya bertujuan menakutnakuti remaja dengan menekankan pada konsekuensi negatif dari aktivitas seksual, seperti kehamilan di luar nikah dan penyakit menular seksual. Mereka mungkin merasa bahwa pendekatan ini tidak efektif dan justru menimbulkan rasa takut dan malu yang tidak konstruktif. Untuk mengatasi pandangan ini, pendidikan seks harus dirancang secara komprehensif, tidak hanya fokus pada risiko dan konsekuensi, tetapi juga memberikan informasi positif mengenai seksualitas yang Ini termasuk pemahaman tentang consent, hubungan yang saling menghormati, kesehatan reproduksi, serta aspek emosional dan psikologis dari seksualitas. Dengan pendekatan yang lebih holistik, pendidikan seks dapat membantu remaja membuat keputusan yang lebih bijak dan bertanggung jawab mengenai kehidupan seksual mereka, sehingga pencegahan kehamilan di luar nikah dapat dicapai dengan lebih efektif. Di Rusunawa X, realitas subyektif mengenai pendidikan seksualitas sangat dipengaruhi oleh pandangan dan keyakinan masyarakat. Bagi banyak individu di komunitas ini, topik pendidikan seksualitas sering dianggap sebagai hal yang sensitif dan tabu. Banyak orang tua dan anggota masyarakat yang merasa tidak nyaman membahas masalah kesehatan reproduksi secara terbuka, terutama di depan anak-anak dan remaja. Persepsi ini berakar dari nilai-nilai tradisional yang kuat dan norma sosial yang menilai bahwa diskusi tentang seksualitas adalah sesuatu yang tidak layak atau tidak pantas. Analisis Konstruksi Komunitas Rusunawa X pada Fenomena Pendidikan Seks sebagai Upaya Mencegah Kehamilan Remaja Putri di Luar Nikah Penelitian ini memfokuskan untuk mengetahui serta menjelaskan bagaimana konstruksi komunitas rusunawa X tentang Pendidikan seks sebagai upaya mencegah kehamilan remaja putri di luar nikah. Penelitian yang dilakukan di lapangan, temuan data menunjukkan bahwa pengalaman dan pemahaman para penghuni rumah susun sederhana sewa . terkait dengan pendidikan Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 seks dapat dianalisis melalui teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Menurut teori ini, realitas sosial bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak atau diberikan, melainkan sesuatu yang dikonstruksi melalui interaksi sosial individu dengan Setiap penghuni rusunawa, dalam konteks pendidikan seks, membangun penafsirannya sendiri berdasarkan pengalaman hidup mereka, nilai-nilai budaya, dan norma-norma sosial yang ada di sekitarnya. Proses konstruksi ini menciptakan realitas yang unik bagi setiap individu, di mana mereka menilai dan memaknai pendidikan seks berdasarkan konteks sosial dan pribadi yang berbeda-beda. Dengan demikian, pemberian makna terhadap pendidikan seks di antara penghuni rusunawa menjadi bervariasi, dipengaruhi oleh latar belakang, pemahaman, dan interaksi sosial mereka sehari-hari. Lebih lanjut, teori Berger dan Luckmann menjelaskan bahwa proses konstruksi realitas ini melibatkan tiga tahap utama: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Eksternalisasi merujuk pada proses di mana individu mengekspresikan pemahaman mereka tentang pendidikan seks dalam bentuk perilaku atau pandangan yang dapat diamati oleh orang lain. Objektivasi terjadi ketika pandangan atau norma yang diekspresikan oleh individu mulai dianggap sebagai sesuatu yang 'nyata' dan diterima oleh masyarakat atau kelompok secara umum, seperti halnya ketika pendidikan seks mulai dipahami sebagai bagian penting dalam kehidupan di rusunawa. Akhirnya, internalisasi adalah tahap di mana individu menerima dan mengintegrasikan pandangan-pandangan tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan mereka sendiri, sehingga pandangan tentang pendidikan seks menjadi bagian dari cara pandang mereka terhadap dunia. Dalam konteks ini, penghuni rusunawa membentuk dan menerima realitas sosial yang diwarnai oleh pengalaman mereka dengan pendidikan seks, yang kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan seharihari. Internalisasi dalam konteks ini menjadi bagian penting dari realitas sosial yang dikonstruksi oleh penghuni Rusunawa X, di mana pengalaman pribadi mereka berinteraksi dengan nilai-nilai yang tampak objektif di masyarakat. Hal ini merubah struktur kesadaran dari realitas sosial yang terlihat umum menjadi lebih subjektif, sesuai dengan pengalaman dan penafsiran masing-masing Pemahaman tentang pendidikan seks dan pentingnya pencegahan kehamilan remaja yang diperoleh melalui interaksi dengan institusi, seperti program sosialisasi oleh pemerintah atau sekolah, membantu para penghuni memodifikasi pengetahuan mereka. Para orang tua di Rusunawa X, misalnya, memodifikasi pengertian mereka mengenai pentingnya pendidikan seks berdasarkan informasi yang mereka terima serta pengalaman mereka sendiri, menjadikan mereka agen aktif dalam membentuk kesadaran kolektif di komunitas tersebut. Proses internalisasi merupakan cara individu memberikan arti yang berbeda terhadap pendidikan seks, bergantung pada latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing. Beberapa warga Rusunawa X memandang pendidikan seks sangat penting dalam menghindari risiko kehamilan remaja di luar nikah, sementara yang lainnya mungkin melihatnya dengan perspektif yang berbeda, tergantung pada relevansi isu ini dalam kehidupan mereka. Berdasarkan wawancara dengan beberapa informan, terdapat berbagai interpretasi, di mana sebagian komunitas menilai pendidikan seks sebagai langkah penting untuk melindungi remaja, sedangkan sebagian lainnya merasa topik tersebut belum menjadi fokus utama. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan terhadap kebijakan pendidikan seks berbeda-beda di kalangan warga, dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan pemahaman masing-masing individu. Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 Pendidikan jasmani dan biologi berperan penting dalam eksternalisasi dan objektivasi pengetahuan tentang seksualitas. Melalui kurikulum pendidikan jasmani dan biologi, siswa diajarkan tentang aspek fisiologis dan biologis dari seksualitas, termasuk pemahaman tentang organ reproduksi, perubahan hormonal, dan kesehatan seksual. Materi yang diajarkan ini kemudian diinternalisasi oleh siswa sebagai bagian dari pengetahuan mereka. Proses internalisasi ini melibatkan pemahaman mendalam dan penerimaan terhadap informasi yang diberikan, yang pada gilirannya mempengaruhi sikap dan perilaku mereka terkait seksualitas. Pendidikan ini membantu individu membangun dasar pengetahuan yang solid dan mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam pandangan dan tindakan mereka sehari-hari. Dalam konteks penelitian ini, eksternalisasi terlihat dalam cara pendidikan seks diterapkan sebagai upaya untuk mencegah kehamilan remaja putri di luar nikah. Proses eksternalisasi menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang pendidikan seks disebarluaskan dan diterima dalam Pengetahuan ini menjadi alat yang penting untuk membantu individu, terutama remaja putri, dalam menghadapi tantangan dan membuat keputusan yang lebih baik terkait kesehatan reproduksi mereka. Setelah memahami tujuan dan persyaratan pendidikan seks, langkah berikutnya adalah menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik nyata. Proses ini melibatkan penyebaran informasi dan pelaksanaan program pendidikan seks yang dirancang untuk mencegah kehamilan remaja putri di luar nikah. Melalui komunikasi dan pelatihan, individu dan komunitas mulai mengintegrasikan informasi tentang kesehatan reproduksi ke dalam tindakan mereka. Eksternalisasi terjadi ketika pengetahuan mengenai pendidikan seks diterapkan secara konkret dalam upaya untuk mengurangi risiko kehamilan yang tidak diinginkan. Eksternalisasi dalam konteks seksualitas sering melibatkan proses berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk menghindari penyesalan di kemudian hari. Dalam hal ini, individu atau kelompok mengkomunikasikan pengalaman pribadi, informasi, dan panduan tentang seksualitas kepada orang lain sebelum mereka menghadapi situasi yang mungkin mengakibatkan penyesalan. Pertukaran pengalaman ini bisa dilakukan melalui diskusi, workshop, atau sesi berbagi cerita. Dengan demikian, anggota komunitas, terutama remaja, mendapatkan wawasan yang lebih luas dan realistis tentang seksualitas, yang memungkinkan mereka membuat keputusan yang lebih baik. Proses ini mengedepankan pentingnya mendapatkan informasi yang benar sebelum mengalami situasi yang bisa berisiko. Objektivasi berfungsi untuk memahami bagaimana interaksi sosial terjadi dalam masyarakat. Proses ini menggambarkan bagaimana hubungan antara individu dan lingkungan mereka terbentuk. Interaksi sosial sering menghasilkan simbol atau tanda yang memberikan makna tambahan terhadap hubungan yang terjadi. Menurut Berger dan Luckman, tanda-tanda yang muncul dalam interaksi sosial ini mengandung makna yang lebih dalam dan subjektif. Objektivasi membantu kita memahami bahwa realitas sosial dapat dipahami secara bersamaan, dengan individu yang mengalami dan memproses realitas ini bersama-sama. Penelitian ini menerapkan konsep objektivasi dengan menekankan pandangan awal tentang bagaimana pendidikan seks dapat mempengaruhi pencegahan kehamilan remaja. Realitas seharihari dibentuk melalui berbagai aktivitas individu yang dilakukan secara konsisten, dan realitas sosial tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, realitas sosial dipahami sebagai hasil dari proses objektivasi yang melibatkan pemahaman dan interpretasi bersama dalam komunitas. Proses Paradigma. Volume 13. Number 3, 181-190, 2024 ini memungkinkan kita untuk memahami bagaimana pandangan individu berkorelasi dengan realitas sosial yang ada. Dalam konteks ini, proses objektivasi menunjukkan bagaimana pendidikan seks dapat membentuk persepsi tentang pencegahan kehamilan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman mengenai pendidikan seks dapat bervariasi di antara individu, dan perbedaan pandangan ini menunjukkan bagaimana realitas objektif mengenai pencegahan kehamilan mulai Individu yang menyadari dan memahami tujuan pendidikan seks akan mengikuti praktik dan informasi yang diberikan untuk menghindari kehamilan remaja. Pengajian rutin yang diadakan dalam komunitas, terutama dalam konteks agama, berfungsi sebagai wadah untuk objektivasi dan internalisasi nilai-nilai seksualitas. Dalam pengajian, nilai-nilai dan panduan terkait seksualitas disampaikan oleh pemimpin agama atau tokoh masyarakat dalam bentuk ceramah atau diskusi. Proses ini memungkinkan nilai-nilai tersebut diobjektifkan sebagai norma yang diakui dan diterima oleh komunitas. Melalui pengajian, anggota komunitas mendiskusikan dan memahami panduan keagamaan atau budaya tentang seksualitas, yang kemudian diinternalisasi sebagai bagian dari keyakinan dan perilaku mereka. Pengajian juga menyediakan ruang untuk mendiskusikan pengalaman dan mendapatkan bimbingan, yang mendukung pembentukan sikap dan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang. 5 Kesimpulan Secara keseluruhan, konstruksi komunitas di Rusunawa Tanah Merah telah menunjukkan potensi besar dalam mengintegrasikan pendidikan seks sebagai upaya preventif terhadap kehamilan remaja di luar nikah. Melalui berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan yang diselenggarakan di Rusunawa, pendekatan ini dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan reproduksi dan perilaku yang sehat di antara para Daftar Pustaka