Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 7 Nomor 7, Juli 2024 ISSN: 27342488 PROBLEMATIKA MINAT LITERASI MEMBACA SISWA MI MUHAMMADIYAH KARANGANYAR Vitri Astuti1, Murfiah Dewi Wulandari2, Darsinah,3 Email: vitriastutipipit@gmail.com1, mdw278@ums.ac.id2, ums@ums.ac.id3 Universitas Muhammadiyah Surakarta ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis problematika minat literasi membaca siswa serta cara meningkatkan minat literasi membaca khususnya di sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif berdasarkan data kualitatif melalui hasil angket, wawancara, dan observasi, dilaksanakan di MI Muhammadiyah Karanganyar. Sedangkan subjek penelitiannya adalah siswa kelas V dan orang tua. Hasil penelitian menemukan bahwa problematika minat literasi membaca siswa adalah: (1) rendahnya kemauan atau antusias membaca siswa, (2) kerjasama antara keluarga dan sekolah dalam menerapkan literasi membaca pada anak, (3) bimbingan kegiatan literasi membaca di sekolah, (4) penggunaan strategi dalam pembelajaran membaca. Berdasarkan hasil temuan tersebut dapat direkomendasikan: (1) penambahan koleksi buku bacaan sebagai sarana prasarana penunjang literasi di kelas, (2) pembimbingan intensif terutama dalam kegiatan membaca di rumah oleh orang tua, (3) peningkatan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS ), dan (4) penggunaan strategi pembelajaran membaca dalam proses pembelajaran di sekolah. Kata Kunci: minat, literasi, membaca. ABSTRACT This research aims to analyze the problems of students' interest in reading literacy and how to increase their interest in reading literacy, especially in elementary schools. This research uses a descriptive analysis method based on qualitative data through the results of questionnaires, interviews and observations, carried out at MI Muhammadiyah Karanganyar. Meanwhile, the research subjects were fifth grade students and their parents. The results of the research found that the problems with students' interest in reading literacy were: (1) low willingness or enthusiasm for students to read, (2) cooperation between families and schools in implementing reading literacy in children, (3) guidance on reading literacy activities in schools, (4) use of strategies in learning to read. Based on these findings, it can be recommended: (1) increasing the collection of reading books as a means of supporting literacy in the classroom, (2) intensive guidance especially in reading activities at home by parents, (3) increasing activities of the School Literacy Movement (GLS), and (4) use of reading learning strategies in the learning process at school. Keywords: interest, literacy, reading 293 PENDAHULUAN Literasi membaca menjadi salah satu hal yang penting dalam pendidikan (Robinson & Mckenna, 2012). Literasi perlu diterapkan dan diajarkan kepada pelajar karena literasi merupakan kunci kejayaan dalam proses pembelajaran. Literasi juga merupakan kemahiran yang perlu dimiliki oleh setiap kanak-kanak karena melalui literasi, kanak-kanak dapat belajar tentang berbagai bidang kajian studi. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa peserta didik mempunyai kemahiran dan minat membaca yang baik sejak awal mereka bersekolah. Ada beberapa jenis literasi dasar menurut Direktorat Sekolah Dasar (2021) yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya dan kewarganegaraan. Literasi baca tulis adalah kecakapan untuk memahami isi teks tertulis, baik yang tersirat maupun tersurat, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri. Literasi numerasi merupakan kecakapan untuk menggunakan berbagai macam angka dan simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan. Literasi sains adalah kecakapan untuk memahami fenomena alam dan sosial di sekitar serta mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah. Literasi digital adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperolah informasi dan komunikasi. Literasi finansial adalah kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep, resiko, ketrampilan, dan motivasi dalam konteks finansial. Literasi budaya dan kewargaan adalah kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan indonesia sebagai identitas bangsa serta memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Pada penelitian ini peneliti akan meneliti terkait literasi baca tulis siswa. Menurut Alexander dan Fox (2013) adapun keterampilan-keterampilan literasi yang diharuskan dimiliki oleh setiap individu antara lain: 1) mengenal macam bentuk tulisan yang diaplikasikan; 2) memahami kosakata; 3) memastikan kata kunci yang identifikasi topik dan gagasan utama; 4) mengenal bentuk-bentuk sintaksis; 5) memisahkan ide utama dari perincian yang telah disajikan. Selain keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap individu harus ada keterlibatan orang tua yang memfasilitatorkan anak untuk belajar seperti dengan memberikan bahan bacaan dan alat tulis, sehingga anak dapat mengenal huruf, cara mengeja, dan orang tua membacakan buku cerita untuk menarik perhatiannya (baker & Moland, 2020). Peran dan fungsi orang tua juga penting dalam membiasakan anak agar melakukan kegiatan literasi dan bertanggung jawab dengan apa yang akan mereka lakukan. Hal tersebut diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan Ketut Budi Dharma (2020) terkait gerakan literasi sekolah menunjukan bahwa implementasi gerakan ini dapat signifikan dalam meningkatkan minat baca siswa sekolah dasar. Penelitian tersebut menyoroti pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan guru, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung literasi di sekolah. Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya materi bacaan yang relevan dan menarik bagi siswa untuk mempertahankan minat baca mereka. Dalam hal ini guru juga memiliki peranan penting dalam penberdayaan literasi baca pada siswa. Menurut Rusman (2014) menyatakan bahwa peran guru mencakup banyak aspek termasuk sebagai koordinator kelas, pengajar, pengolah, evaluartor, perencana pembelajaran, motivator, dan pengelola lingkungan belajar. Guru berfungsi sebagai teladan yang penting bagi siswa. Guru harus siap mengawasi dan mengontrol siswa. Ketika minat siswa terhadap budaya literasi rendah, peran guru menjadi sangat penting. Guru perluu mendorong peningkatan vudaya literasi dengan meminta siswa membaca guuru di rumah dan menciptakan program atau kegiatan di sekolah yang mendukung gerakan literasi. Contohnya dengan pengadaan kunjungan perpustakaan yang bertujuan menumbuhkan minta membaca dan meningkatkan kemampuan membaca, sehingga siswa dapat menambah pengetahuan. 294 Menurut Dewi, Fajriyah, & DS (2021) menyatakan "kecenderungan membaca di Indonesia sangat minim disebabkan oleh preferensi masyarakat Indonesia yang lebih memilih menonton televisi, mendengarkan music video, dan terlibat dalam aktivitas online daripada membaca buku." Fakta ini kembali terkonfirmasi melalui hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2021, yang menunjukkan bahwa tingkat literasi di masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen (UNESCO). Dengan demikian peneliti melakukan penelitian terkait problematika dan pembudayaan literasi membaca di MI Muhammadiyah Karanganyar serta peranan guru dan orang tua dalam peningkatan pemberdayaan literasi membaca di MI Muhammadiyah Karanganyar. ME TODE PE NE LITIA N Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif (Qualitative research). Menurut Nana (2012) penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama yaitu, yang pertama menggambarkan dan mengungkapkan (to describe and explore), dan yang kedua menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). Mc Millan and Schumacker dalam (Syaodih, 2012), “Reality is multilayer, interactive and a shared social experience interpretation by individuals”. Penelitian kualitatif memandang kenyataan sebagai konstruksi sosial, individu, atau kelompok menarik atau memberi makna kepada suatu kenyataan dengan mengkonstruksinya. Data dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan pihak sekolah dalam hal ini adalah kemampuan literasi kelas V di MI Muhammadiyah Karanganyar dan dokumentasi terkait hal tersebut. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik yang akan digunakan untuk memeriksa validitas data yaitu menggunakan teknik triangulasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber datadan triangulasi metode. Menurut Sugiyono (2014) teknik analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menyusun data secara sistematis dan memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Data atau informasi yang diperoleh dari lokasi penelitian dianalisis secara kontinu setelah dibuat catatan lapangan untuk menemukan problematika minat literasi membaca siswa kelas V di MI Muhammadiyah Karanganyar. Dalam penelitian ini digunakan analisis interaktif. Data yang dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dilakukan dalam bentuk interaktif dengan pengumpulan data sebagai suatu proses. i i i i i HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa problematika minat literasi siswa kelas V di MI Muhammadiyah Karanganyar. Hal ini terbukti banyak ditemukan kasus yang di alami siswa kelas V di MI Muhammadiyah Karanganyar antara lain: 1. Membaca siswa kurang baik, siswa salah mengucapkan kata dalam satu kalimat, siswa sulit memahami arti dari apa yang dibacanya. 2. Kurangnya kebiasaan membaca siswa dalam memanfaatkan waktu istirahat dan waktu luang untuk membaca, siswa hanya membaca sesuai perintah guru. 3. Media literasi mading kelas yang jarang diperbaharui sehingga nak-anak kurang berekpresi dengan karya yang bisa ditempelkan. 4. Rendahnya minat siswa dalam mengunjungi perpustakaan atau membaca di pojok baca kelas yang menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya literasi siswa. 295 Berdasarkan berbagai uraian di atas dari paparan hasil wawancara serta observasi dapat disimpulkan bahwa problematika literasi membaca siswa kelas 5 di MI Muhammadiyah Karanganyar perlu ditingkatkan. Untuk itu pihak sekolah berupaya untuk menumbuhkan minat literasi membaca tersebut dengan beberapa strategi yaitu; (1) Melakukan kegiatan literasi membaca di Sekolah setiap hari senin sampai hari sabtu, dimulai dari pukul 06:4507:00 WIB. (2) Melakukan beberapa kegiatan tambahan seperti kegiatan literasi terkhususnya literasi membaca setiap jam pelajaran. (3) Guru menyiapkan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan literasi membaca siswa di kelas melalui pojok baca. (4) Guru meminta setiap siswa membawa satu buku fiksi atau nonfiksi untuk mengisi koleksi buku bacaan di pojok baca kelas (5) Bekerjasama dengan perpustakaan sekolah untuk melakukan kunjungan wajib kelas ke perpustakaan sekolah. Kegiatan literasi sesuai dengan pembelajaran abad 21 yang mewajibkan setiap sekolah untuk mengembangkan kemampuan siswa, hal itu dikarenakan juga tujuan utama dari Pendidikan ialah mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga dengan adanya kegiatan literasi kemampuan siswa akan semakin meningkat. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, guru telah melakukan aktivitas prabaca yaitu dengan cara guru selalu menanyakan kesiapan siswa, guru juga telah melakukan aktivitas membaca saat pembelajaran, dan guru juga telah melakukan kegiatan pasca baca yang dapat terlihat pada akhir pembelajaran yaitu guru selalu mewajibkan siswa mengulangi bacaan yang telah dibaca pada akhir kegiatan literasi membaca. Berdasarkan hasil istrumen wawancara mengenai strategi meningkatkan literasi membaca siswa kelas V MI Muhammadiyah Karanganyar penelitian menunjukkan: a. Faktor penghambat dan faktor pendukung kegiatan literasi membaca. Adanya kegiatan literasi membaca di MI Muhammadiyah Karanganyar tentu ada faktor penghambat dan fakotr pendukung yaitu, faktor penghambat; kurangnya minat atau kemauan siswa untuk membaca, anak-anak lebih sennag bermain bola atau berlari-lari saat jam istirahat, pihak wali murid belum sepenuhnya membersamai siswa agar membiasakan siswa membaca buku di rumah. Faktor Pendukung yang sudah tersedia di sekolah berupa sarana dan prasarana yang sudah memadai sehingga mendukung kegiatan literasi membaca, kerja sama yang baik antara guru dan pihak sekolah untuk meningkat literasi membaca seperti adanya fasilitas perpustakaan, kerjasama yang baik anara pihak sekolah dan wali siswa dalam meningkatkan literasi membaca siswa meskipun tidak semua wali siswa. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat dan faktor pendukung kegiatan literasi membaca yaitu faktor penhambat kurangnya minat baca atau kemauan siswa untuk membaca dan faktor pendukungnya sarana dan prasarana sekolah yang memadai sehingga mendukung kegiatan literasi dan antusisme siswa dalam mengikuti kegiatan literasi membaca yang ada di MI Muhammadiyah Karanganyar b. Upaya peningkatan faktor penghambat dalam strategi Upaya peningkatan literasi membaca siswa kelas V dan orang tua siswa menjadi faktor penting dalam pelaksanaan literasi membaca, dengan orang tua mewajibkan anak untuk membaca buku menjadi faktor pendukung dan membantu guru agar lebih cepat meningkatkan literasi membaca siswa, orang tua sangat mendukung diadakannya kegiatan literasi membaca setiap harinya tetapi ada orang tua yang tidak sejalan dengan strategi sekolah untuk meningkatkan literasi membaca hanya menyerahkan sepenuhnya anak kepada sekolah. Sehingga dirumah anaknya hanya bisa bermain dan tidak melihat buku setelah pulang sekolah. Upaya peningkatan faktor penghambat dalam strategi meningkatkan literasi membaca dapat disimpulkan bahwa orang tua siswa sangat mendukung diadakan kegiatan literasi membaca tetapi orang tua siswa juga sangat berpengaruh agar siswa tidak malas untuk membiasakan membaca buku setiap hari dan memahami makna dan manfaat dari kegiatan literasi membaca. Berdasarkan hasil analisis data strategi meningkatkan literasi membaca di guru kelas V 296 dalam meningkatkan literasi membaca ialah dengan memberikan masukan tentang makna dan manfaat dari kegiatan literasi yang dilakukan setiap hari, membiasakan siswa membaca selama 15 menit setiap hari sebelum memulai pembelajaran, menambah buku-buku bacaan, membaca diperpustakaan, membuat pojok baca dan gerobak literasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di yang melibatkan beberapa sumber diantaranya kepala sekolah, guru kelas V, akan dibahas mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam kegiatan literasi membaca. Dalam meningkatkan literasi membaca yang utama dilakukan yaitu membiasakan siswa dan memberitau tentang makna dan manfaat literasi secara berulang-ulang agar siswa tidak lupa dan selalui mengiatnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Fadhil (2020) literasi membaca yang dimiliki pelajar di Indonesia tergolong rendah, terlebih membaca dan memahami teks maka dari itu memberi gambaran guna meningkatkan literasi membaca. Berdasarkan analisis peneliti, dapat disimpulkan bahwa salah satu strategi meningkatkan minat baca siswa dengan cara memberitahu atau menggambarkan makna dan manfaat literasi membaca secara beulang-ulang. Strategi belajar merupakan suatu kegiatan yang memelihara konsistensi dan kekompakkan setiap komponen pengajaran yang tidak hanya terjadi pada tahap perencanaan saja, tetapi juga terjadi pada tahap implementasi atau pelaksanaan, bahkan pada tahap pelaksanaan evaluasi. Strategi belajar mengajar pada dasarnya mencakup beberapa hal utama, yaitu; pertama, penetapan tujuan pengajaran khusus. Kedua, gambaran dari perubahan tingkah laju dan kepribadian peserta didik yang diharapkan. Ketiga, pemilihan sistem pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling efektif untuk mencapai tujuan. Keempat, pemilihan dan penetapan prosedur, metode, tekhnik belajar mengajar yang tepat dan dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan kegiatan pengajaran. Kelima, penetapan kriteria keberhasilan proses belajar mengajar sebagai pegangan dalam mengadakan evaluasi belajar mengajar (Selegi & dkk, 2023). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa guru telah menggunakan beberapa strategi untuk meningkatkan literasi membaca yakni, (1) Membaca 15 menit adalah melakukan kegiatan membaca sebelum pembalajaran dimulai, kegiatan-kegiatan yang menyenangkan sebagai upaya penerapan gerakan literasi membaca, para siswa lebih antusias dan termotivasi untuk lebih meningkatkan minat dalam membaca (Wulanjani & Anggraeni, 2019). (2) Sekolah menyedikan berbagai macam buku dan bahan bacaan yang dapat menarik minat siswa dan melaksanakan kegiatan yang meningkatkan minat baca siswa. sekolah menyelenggaran berbagai kegiatan yang betujuan mempertahankan minat baca dan meningkatkan kecakapan literasi siswa melalui buku-buku pengayaan dan buku teks pelajaran (Widodo, 2020). (3) Pengembangan kemampuan literasi juga dilakukan melalui kegiatan diperpustakaan sekolah dan menyediakan sudut baca kelas, pojok baca, gerobak baca, dan menonton film pendek. Pengembangan kemampuan literasi melalui kegiatan kegiatan perpustakaan dan dengan berbagai kegiatan lainnya (Sadli, 2019). KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan kurang maksimalnya kegiatan literasi pada siswa yaitu, membaca siswa kurang baik, siswa salah mengucapkan kata dalam satu kalimat, siswa sulit memahami arti dari apa yang dibacanya, kurangnya kebiasaan membaca siswa dalam memanfaatkan waktu istirahat dan waktu luang untuk membaca, siswa hanya membaca sesuai perintah guru, media literasi mading kelas yang jarang diperbaharui sehingga anak-anak kurang 297 berekpresi dengan karya yang bisa ditempelkan, rendahnya minat siswa dalam mengunjungi perpustakaan atau membaca di pojok baca kelas yang menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya literasi siswa. Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat dari kegiatan literasi disekolah , kurangnya minat atau kemauan siswa untuk membaca, anak-anak lebih sennag bermain bola atau berlari-lari saat jam istirahat, pihak wali murid belum sepenuhnya membersamai siswa agar membiasakan siswa membaca buku di rumah. Selain faktor penghambat ada juga faktor pendukung, sarana dan prasarana yang sudah memadai sehingga mendukung kegiatan literasi membaca, kerja sama yang baik antara guru dan pihak sekolah untuk meningkat literasi membaca seperti adanya fasilitas perpustakaan, kerjasama yang baik anara pihak sekolah dan wali siswa dalam meningkatkan literasi membaca siswa meskipun tidak semua wali siswa. Tidak lepas dari peranan guru dalam kegiatan literasi, ada beberapa strategi yang ditemukan peneliti dalam penelitian ini yaitu, Membaca 15 menit, sekolah menyedikan berbagai macam buku dan bahan bacaan yang dapat menarik minat siswa dan melaksanakan kegiatan yang meningkatkan minat baca siswa. sekolah menyelenggaran berbagai kegiatan yang betujuan mempertahankan minat baca dan meningkatkan kecakapan literasi siswa melalui buku-buku pengayaan dan buku teks pelajaran serta pengembangan kemampuan literasi melalui kegiatan diperpustakaan sekolah dan menyediakan sudut baca kelas, pojok baca, gerobak baca, dan menonton film pendek. Pengembangan kemampuan literasi melalui kegiatan kegiatan perpustakaan dan dengan berbagai kegiatan lainnya DAFTAR PUSTAKA Alexander, P., & Fox, E. (2013). The Handbook of Research on Reading Comprehension. Routledge. baker, C. E., & Moland, N. (2020). Family literacy Practices and Parental Involvement in Early Literacy Skills Development. Early Chilhood Research Quarterly, 342-345. Darma, K. B. (2020). Implementasi Gerakan Literasi Sekolah dalam Menumbuhkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Edukasi Nonformal, 1(2), 70-76. Dasar, D. S. (2021, April 14). Enam Literasi Dasar yang harus di ketahui dan dimiliki. Retrieved from Galeri Informasi, Aktifitas, dan Transformasi Sekolah Dasar: https://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail/yuk-mengenal-6-literasi-dasar-yang-haruskita-ketahui-dan-miliki Dewi, F., Fajriyah, U., & DS, N. (2021). Peran Orang Tua dalam Literasi Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 12-24. Fadhil, M. (2020). Penerapan Strategi Literature Circle secara Daring dalam Meningkatkan Literasi Membaca Peserta Didik. Jurnal Uniba, 106-118. Robinson, R., & Mckenna, M. (2012). Issues and Trends in Literacy Education . Pearson. Rusman. (2014). Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers. Sadli, M. (2019). Analisis Pengembangan Budaya Literasi dalam Meningkatkan Minat Membaca Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar. Selegi, F. S., & dkk. (2023). Strategi Pembelajaran. Sumatra Barat: CV Azka Pustaka. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitataif, dan 298 R&D. Bandung: Alfabeta. Syaodih, N. (2012). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. UNESCO. (n.d.). Disruptions of Literacy Learning in Indonesia and Colombia due to Covid19. Unesco.org. Retrieved from unesco.org Widodo, A. (2020). Implementasi Program Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jurnal Ilmu Pendidikan. Wulanjani, N. A., & Anggraeni, W. C. (2019). Meningkatkan Minat Membaca melalui Gerakan Literasi Membaca bagi Siswa sekolah dasar. Jurnal Proceeding of Biology Education, 26-31. 299