Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 2 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Jejak Historis Tantrayana di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengastulan Kabupaten Buleleng Ni Made Evi Kurnia Dewi Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia nimdevikurniadewi@gmail. Abstrac The statue of Goddess Durga and the childbirth statue are examples of sexual sculptures in Pura Dalem Dasar Purwa. Pengastulan Village, which reflect the teachings of Tantrayana. Their existence is believed to symbolize safety and fertility, influencing religious ritual activities. This research aims to examine the influence of Tantrayana on the sexual statues at Pura Dalem Dasar Purwa and its impact on the Hindu community in Pengstulan Village. This study employs a qualitative method with a theological Data collection methods include observation, interviews, and literature study. The results of this study show that the statue of Goddess Durga is one form of yantra application in worshiping Sakti, believed to be a symbol of protection and serves as the foundation for the implementation of the mapinunasan gegemet . ritual to Ida Bhatari Dalem. This practice is a significant feature of tantric belief, an esoteric practice of power and Sakti's expression. Another statue reflecting the influence of tantra is the childbirth statue or brayut statue, believed to symbolize fertility. This statue serves as the basis for the ritual activity of mapinunasan sentana . by the local Hindu The presence of these sexual statues has impacted the social and religious life of Hindus in Pengstulan Village, especially for those who have succeeded and benefited from the practice of mapinunasan. It has strengthened solidarity bonds, manifested through communal activities. The conclusion of this study is that the statue of Goddess Durga and the childbirth statue reflect the teachings of Tantrayana, believed to be symbols of safety and fertility. Their existence influences religious rituals in Pura Dalem Dasar Purwa, which in turn affects the social and religious life of the Hindu community in Pengstulan Village. Keywords: Tantrayana. Statue. Durga. Brayut Abstrak Arca Dewi Durga dan arca bersalin merupakan salah satu arca seksual di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengastulan yang mencerminkan ajaran tantrayana. Keberadaannya diyakini sebagai simbol keselamatan dan simbol kesuburan yang mampu membawa pengaruh pada aktivitas ritual keagamaa. Penelitian ini bertujuan, mengkaji pengaruh tantrayana pada arca seks di Pura Dalem Dasar Purwa yang berpengaruh pada kehidupan mayarakat Hindu Desa Pengstulan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis. Metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa arca Dewi Durga merupakan salah satu bentuk aplikasi penggunaan yantra dalam memuja Sakti, diyakini sebagai simbol perlindungan dan menjadi dasar pelaksanaan ritual mapinunasan gegemet . kepada Ida Bhatari Dalem. Praktik ini menjadi ciri penting dari kepercayaan tantra yang merupakan praktik esoteris dari kekuatan dan ekspresi Sakti. Arca lainnya yang merujuk adanya pengaruh tantra adalah arca bersalin atau arca brayut yang diyakini sebagai lambang kesuburan, arca ini menjadi dasar aktivitas ritual mapinunasan sentana . oleh umat Hindu setempat. Keberadaan arca seksual ini telah mempengaruhi kehidupan sosial religious bagi umat Hindu di Desa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pengstulan, terutama bagi masyarakat yang berhasil dan telah memperoleh hasil dari pelaksanaan mapinunasan, telah mampu memperkuat ikatan solidaritas yang diwujudkan melalui kegiatan gotong royong. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, arca Dewi Durga dan arca bersalin merupakan arca yang mencerminkan ajaran tantrayana yang diyakini sebagai simbol keselamatan dan simbol kesuburan, keberadaannya membawa pengaruh terhadap aktivitas ritual keagamaan di Pura Dalem Dasar Purwa yang berimplikasi terhadap kehidupan sosial religius umat Hindu Desa Pengstulan. Kata Kunci: Tantrayana. Arca. Durga. Brayut Pendahuluan Agama Hindu merupakan agama tertua yang masih bertahan hingga saat ini. Penyebaran agama Hindu begitu luas hingga ke Nusantara. Masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia menyebabkan terjadinya proses kontestasi antara bentuk-bentuk kepercayaan di nusantara dengan agama Hindu yang datang dari India. Proses interaksi terjadi secara akulturatif, dimana unsur-unsur asing diolah ke dalam kebudayaan lokal tanpa hilangnya kepribadian dasar kebudayaan lokal. Oleh karena itu, masuknya unsur India sebaiknya dianggap sebagai zat penyubur yang menumbuhkan agama Hindu Indonesia yang tetap memperlihatkan kekhasannya (Utama, 2. Proses interaksi yang terjadi saling mengalami persentuhan kebudayaan antara India dan kebudayaan asli di Nusantara bahkan kebudayaan lokal di Balipun telah mengalami persentuhan, hal ini telah terjadi berabad-abad yang lalu sehingga melalui persentuhan itupula terbagun sebuah kebudayaan baru. Masuknya pengaruh Hindu ke Bali tidak terjadi dalam kurun waktu tertentu, orang-orang India datang ke Nusantara secara bertahap. Kedatangan mereka ke Nusantara, termasuk ke Pulau Bali, membawa kebudayan India baik dalam bentuk filsafat kesenian dan agama (Hindu dan Buddh. Kedua agama tersebut tampaknya juga memiliki banyak paham yang dikembangkan para penganutnya, antara lain yakni paham tantrayana. Paham tantra ini sempat berkembang subur di Nusantara dalam beberapa abad antara lain di Jawa Timur. Sumatra dan Bali. Pahan tantrayana telah mencapai masa pelenyapan yang hampir tanpa jejak pada daerah Jawa Timur dan Sumatra terkecuali terdapat beberapa tinggalan arkeologi yang masih harus diintrepetasikan secara ilmiah. Namun, tidak demikian dengan perkembangannya di Bali yang jejaknya masih tampak jelas dalam praktik-praktik kepercayaan agama Hindu. Perkembangan tantrayana di Bali mulai berkembang pada tahun 1284 Masehi. Penyebaran ajaran tantrayana pertama kali ke wilayah Bali adalah raja singasari terakhir yaitu raja kertanegara. Surasmi . menjelaskan bahwa raja kertanegara merupakan raja terakhir yang telah memerintah Singasari. Dalam politiknya, kertanegara ingin memperluas wilayah kerajaannya ke daerah barat sampai Sumatera dan ke arah timur termasuk daerah Bali. Menurut buku negarakertagama pada tahun 1284 masehi beliau telah menyerang Bali dan melawan raja Bali hingga rajanya berhasil ditawan, kemudian raja kertanegara menugaskan Patih Kebo Parud untuk menjaga Bali yang menjadi daerah kekuasaan Utama juga menambahkan bahwa perkembangan aliran tantrayana di Bali kemungkinan setelah Bali berhasil ditundukkan oleh raja Kertanegara dalam upayanya mempertahankan Indonesia dari serangan raja kubilai khan. Tantrayana atau yang dikenal dengan sebutan tantra merupakan sebuah mazab dalam agama Hindu yang pernah berkembang di Indonesia pada masa lalu. Tokoh-tokoh yang begitu fenomenal dan sangat terkenal sebagai penganut ajaran tantra ini yakni Adityawarman di Sumatra. Kertanegara di Jawa Timur, dan Kebo Parud atau Kebo Edan di Bali. Tantrayana sangatlah berpengaruh di Bali, sehingga dengan demikian aspek- https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH aspek ajarannya yang sangat signifikan dalam mewarnai ajaran agama Hindu di Bali seperti penggunaan candi sebagai tempat pemujaan Durga, pemujaan terhadap unsur Sakti dari Dewa seperti Uma. Laksmi. Sri dan sebagainya (Utama, 2. Perkembangan ajaran tantrayana ke Bali telah membawa banyak pengaruh terhadap kebudayaan lokal di Bali terutama ajarannya yang banyak mempengaruhi aspek keagamaan di Bali. Tantrayana merupakan suatu ajaran yang bertujuan untuk mempersatukan diri individu dengan Tuhan. Dalam ajaran tantra percakapan antar dewa dengan saktinya (Dewa Siwa dan Dewi Durg. tidak hanya diwujudkan di dalam sebuah relief, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk lingga . dan yoni . ahim ib. (Surasmi, 2. Tantrayana merupakan ilmu praktis yang membantu umatnya untuk mencapai kebahagiaan spiritual dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. Pada zaman ini manusia tidak sempat memikirkan untuk melakukan atau menerapkan ritual suci dalam kesehariannya untuk menunjang spiritualitas dalam dirinya, namun ajaran tantrayana membantu manusia untuk membuat setiap kegiatan dalam kesehariannya seperti makan, tidur, berjalan, bekerja, bernafas, dan melakukan kegiatan lain dalam kesehariannya menjadi sebuah ritual suci. Inilah yang membuat ajaran tantrayana dianggap sesuai dengan keadaan pada kali yuga (Budiasih, 2. Pandangan tersebut menjelaskan bahwa tantrayana merupakan salah satu mazab atau aliran yang berkembang di India dengan penyebarannya yang begitu pesatnya sampai ke Nusantara dan hingga ke Bali, ajaran tantrayana merupakan ajaran yang mengajarkan pencapaian tujuan utama yakni menyatukan diri individu dengan Tuhan, dimana setiap aktivitas keseharian yang dilakukan dilaksanakan sebagai bentuk ritual suci yang penting untuk dilakukan guna mencapai tujuan utama menyatu dengan Tuhan, mencapai suatu pencerahan diri. Mazab ini telah berkembang subur di Bali. Bali menjadi salah satu tempat sejarah berkembangnya ajaran tantrayana di Nusantara. Banyak ajaran tantrayana mempengaruhi segala aspek kehidupan di Bali baik dari segi ritual, kesenian bahkan adatistiadat yang dilaksanakan di Bali. Salah satu tempat yang begitu kentalnya dengan nuansa tantrayana di Bali selain Pura Kebo Edan. Pejeng Gianyar, yang dapat diinterpretasikan sebagai ikon tantarayana. Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan juga menjadi salah satu pura tua yang mana beberapa peninggalan kebudayaannya baik berupa palinggih maupun arca banyak merujuk pada kepercayan-kepercayaan lokal Nusantara yakni kepercayaan tantrayana. Berdasarkan studi awal bahwa Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan merupakan pura tua yang keberadaannya diperkirakan telah dibangun sebelum adanya pengaruh Kerajaan Majapahit datang ke Bali. Berdasarkan catatan sejarah. Desa Pengastulan sebagai lokasi keberadan Pura Dalem Dasar Purwa sebelumnya dikenal sebagai Desa Muntis. Nama tersebut diambil karena di daerah ini banyak tumbuh pohon jeruk Bali, yang juga dikenal dengan sebutan muntis, karena banyak ditemukannya pohon jeruk Bali sehingga Desa Pengastulan ini dulunya disebut Desa Muntis. Desa ini sangat luas dan menjadi cikal bakal tiga desa yang sekarang berkembang, yaitu Pengastulan. Bubunan, dan Sulanyah. Keberadaan desa ini sudah ada sejak abad XIV, pada masa pemerintahan Dinasti Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan. Pura Dalem Purwa Pengastulan dibangun jauh sebelum Kerajaan Majapahit datang ke Bali, sekitar tahun caka 1381 atau 1459 masehi. Pura ini belum terkena pengaruh dari kosep padmasana yang dibawa oleh Dang Hyang Nirarta, sehingga keberadaan pura ini tidak memiliki bangunan suci padmasana dan masih mempertahankan konsep kepercayaan lokal yang merujuk pada kepercayaan tantra, hal ini terlihat dari adanya konsep lingga yoni . urusa dan pradhan. yang diabstraksikan kedalam bentuk bangunan suci yang masih dipertahankan sampai saat ini berupa palinggih Dewa Ayu Peteng lemah sebagai konsep pertiwi . , sebagai konsep https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pradhana dimana langit sebagai akasa atau bapa akasa sebagai konsep purusa. Konsep ini kemudian diperjelas dengan bangunan palinggih gedong dalem dan gedong prajapati terletak dalam satu area pura sebagai konsep penyatuan Siwa dan Saktinya. Letak pura ini berada di bagian hulu desa, sehingga sering disebut nyuwun setra. Jika suatu pura yang dibangun setelah pengaruh Majapahit masuk ke Bali, biasanya keberadaan palinggih dan lokasi puranya terpisah, yang secara umum seharusnya keberadaan gedong dalem dan gedong prajapati berada pada area pura yang berbeda, palinggih gedong dalem berada di Pura Dalem sedangkan palinggih gedong prajapati biasanya terdapat di Pura Prajapati. Pura ini memiliki peranan yang cukup penting dalam setiap pelaksanaan aktivitas keagamaan yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Pengsatulan yang berhubungan dengan tradisi dan kepercayaan lokal di Desa Pengstulan yang pengaruhnya banyak dirasakan dalam aspek ritual keagamaan. Salah satu ritual yang terlihat menonjol yakni penggunaan yantra. Yantra merupakan salah satu bentuk simbol atau media yang digunakan dalam prosesi pemujaan umat Hindu (Jaya & Kusuma, 2. Penggunaan yantra terlihat menonjol pada Pelaksanaan pemujaan terhadap Sakti di Pura Dalem Dasar Purwa ketika pujawali pura, pada rahina anggarkasih wuku tambir yakni nedunang petapakan Ida Dalem dalam wujud Rangda Ratu Gede Sakti Sapuh Jagat dan Ratu Ayu Mas yang memiliki makna religius sebagai bentuk material dari perwujudan Dewi Durga sebagai Sakti Siwa, perwujudan ganas dan menyeramkan dari pasangan Siwa, sebagai penghancur, disamping juga memiliki makna pelindung, diyakini sebagai pelindung desa, sehingga disungsung dan dihormati sebagai benda suci oleh seluruh masyarakat umat Hindu di Desa Pengstulan. Ritual ini menjadi salah satu bentuk ritual dalam memuja kekuatan Sakti yang identik dengan kepercayaan tantra. Pelaksanaan ritual keagamaan menjadi hal yang sangat penting di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan, begitu pula keberadaan beberapa arca-arca seks yang berjejer di utama mandala pura sebagai salah satu bentuk yantra juga memiliki makna yang sama penting yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dalam konteks tantrayana, seperti halnya arca bersenggama sebagai bentuk hubungan maithuna yang menyimbolkan penyatuan Siwa dan Saktinya. Arca Dewi Durga sebagai salah satu bentuk pemujaan terhadap Sakti dan arca bersalin yang mencerminkan karakter brayut sebagai salah satu tokoh penganut kepercayaan tantra yang memiliki simbol kesuburan. Arca-arca seks ini merupakan bentuk penggambaran dari praktik-praktik kehidupan umat manusia seharihari, sehingga keberadaan arca-arca ini menjadi sebuah pedoman penting bagi masyarakat yang perlu diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu arca yang merujuk pada kepercayaan lokal Nusantara dan mencerminkan nilai-nilai tantrayana yakni Arca Dewi Durga dan arca bersalin menjadi salah satu arca yang mendasari kedatangan umat Hindu untuk melakukan pinunasan untuk memohon keselamatan terhadap Ida Bhatari Dalem dan memohon keturunan atau Keyakinan ini tentunya berkaitan dengan keberadaan patung atau arca, arca Dewi Durga sebagai simbol keselamatan dan arca bersalin atau arca brayut sebagai simbol kesuburan. Melihat fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan yang memiliki keunikan dalam wujud arca-arca yang erat kaitannya dengan tantrayana, dengan mengambil judul jejak historis tantrayana di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologis yang berfokus pada kajian pengaruh tantrayana pada arca seks di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan. Pendekatan teologis dipilih karena kemampuannya untuk menggungkap arca-arca yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH merupakan wujud empirik dari suatu keagamaan yang berkaitan dengan ajaran tantra. Pengumpulan data dilakukan dengan dua sumber primer dan sekunder, data primer diperoleh langsung dari lapangan melalui observasi maupun wawancara dilapangan dengan informan kunci yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Informan kunci penelitian ini meliputi I Made Pariasa (Pemangku Pura Dalem Dasar Purw. I Nyoman Suarjana (Ketua PHDI Desa Pengstula. I Nyoman Ngurah (Bendesa Ada. , dan beberapa krama desa terpilih. Data sekunder penelitian ini digunakan sebagai data tambahan untuk memperkuat penelitian, data ini diperoleh melalui studi kepustakaan berupa buku, artikel ilmiah dan penelitian terdahulu yang relevan. Intrumen penelitian yang digunakan mencangkup pedoman wawancara yang berfungsi untuk membantu memandu pertanyaan kepada informan terkait objek penelitian yang dikaji dan beberapa perlengkapan dokumentasi untuk membantu pengumpulan data yang koprehensif dan Analisis data mengadopsi analisis semiotika yang bertujuan untuk dapat menemukan makna dari tanda atau simbol yang ada pada arca-arca yang bernuansa tantra di Pura Dalem Dasar Purwa dan memahami bagaimana masyarakat umat Hindu setempat memaknai simbol tersebut melalui interpretasinya masing-masing. Hasil dan Pembahasan Struktur Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan Struktur Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan ini yang terdiri dari tiga mandala yakni nista mandala, madya mandala, dan utama mandala dengan beberapa bangunan suci yang terdapat didalamnya. Pada utama mandala terdapat beberapa bangunan khas yang dimiliki Pura Dalem Dasar Purwa seperti gedong dalem dan gedong prajapati yang berada pada satu area pura yang sama terlihat berbeda dari umumnya yang menstanakan bangunan gedong dalem dan gedong prajapati pada pura yang berlainan. Pura Dalem menstanakan palinggih Dewi Durga dalam bentuk gedong dalem, sedangkan Pura Prajapati menstanakan palinggih Dewa Siwa dalam bentuk gedong Prajapati. Justru hal ini menjadi sebuah keunikan yang dimiliki Pura Dalem Dasar Purwa. Keberadaan palinggih gedong dalem dan gedong prajapati menjadi wujud penyatuan secara simbolis antara Siwa dan Saktinya, wujud penyatuan antara kama petak dan kama Bangunan suci lainnya yang terdapat di utama mandala pura yakni Palinggih Dewa Ayu Peteng Lemah sebagai simbol pertiwi atau bumi, fungsinya untuk memuja aspek feminim Tuhan dalam wujud ibu pertiwi. Palinggih Dewa Bagus Bukit Gunung Agung, sebagai salah satu palinggih pengayatan untuk memuja manifestasi Tuhan yang berstana di Gunung Agung, sebagai salah satu gunung yang dimuliakan dalam Hindu. Palinggih Taksu sebagai tempat memuja Ida Bhatara Taksu, diperuntukkan untuk memohon kekutan yang berkaitan dengan profesi Masyarakat di Desa pengstulan. Palinggih Jero Patih Agung sebagai simbol perlindungan terutama berfungsi sebagai patih dari Dewa Gede Dalem dan sekaligus sebagai penjaga di Pura Dalem Dasar Purwa. Gedong Petapakan merupakan bangunan suci linggih petapakan Ratu Gede Sakti Sapuh Jagat dan Ratu Ayu Mas, dalam wujud Belaiu sebagai rangda. Palinggih Ratu Niang merupakan salah satu banguanan suci yang diperuntukkan untuk memuja manifestasi Tuhan sebagai Ida Ratu Niang Sakti. Beberapa banguanan yang disakralkan dalam bentuk arca atau patung-patung seks yang berjejer juga menghiasi area pura di utama manadala seperti arca senggama sebagai simbol penyatuan Siwa dan Saktinya, arca bersalin sebagai simbol kesuburan, arca durga telanjang dada sebagai simbol perlindungan dan kesuburan dan arca laki-laki dengan kemaluan ereksi sebagai simbol perlindungan dan kesuburan. Pada area bagian tengah atau madya mandala tidak terdapat bangunan suci namun pada area ini terdapat dua bangunan wantilan sebagai tempat paruman ataupun sebagai tempat pembuatan sarana persembahyangan atau ritual untuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH piodalan Pura Dalem Dasar Purwa oleh masyarakat Hindu Desa Pengstulan, disamping juga terdapat bangunan balai kukul, sebagia tempat penyimpanan kukul sebagai sarana komunikasi tradisional umat Hindu. Area paling luar dari Pura Dalem Dasar Purwa ini hanya terdapat satu bangunan suci yakni palinggih Lebuh yang diperuntukkan untuk memuja Ida Bhatara Lebuh Agung. Melihat struktur bangunan suci dari Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan tersebut, maka secara umum pura ini juga memiliki fungsi sebagai tempat ritual untuk memuja Dewa Siwa (Ida Bhatara Siw. dan Saktinya Dewi Durga (Ida Bhatari Dale. Pelaksanaan pemujaan yang dilaksanakan umat Hindu di pura ini tentunya mencermikan nilai-nilai religiusitas yang tinggi yang terlihat dari aktivitas religi yang dilakukan oleh umat Hindu yang melaksanakan persembahyangan di pura ini. Seperti yang dijelaskan oleh I Made Pariasa tanggal 28 maret 2024 bahwa ritual atau upacara yang dilakukan oleh masyarakat umat Hindu di Pura dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan menjadi salah satu gambaran sikap religi masyarakat setempat dengan menggunakan sarana ritual berupa banten yang dipersembahkan di pura ini, disamping arca Ide Dalem dan arca Siwa sebagai arca utama yang dapat dijadikan sebagai media pemusatan pikiran untuk mencapai Tuhan yang tidak terlihat. Pemujaan terhadap Ida Dalem dan Ida Bhatara Siwa di Pura Dalem Dasar Purwa oleh umat Hindu Desa Pengstulan menjadi cerminan nilai religius yang dimiliki masyarakat setempat dengan menggunakan sarana ritul banten dan untuk mencapai Tuhan dalam wujudnya yang nirguna atau abstrak yang tidak terpikirkan, jauh dari pemikiran manusia maka arca Ida Dalem dan arca Siwa yang dapat digunakan sebagai media pemusatan pikiran untuk dapat menghubungan diri antara manusia dengan Sang Pencipta. Pengaruh Tantrayana Pada Arca Seks di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan Gambaran akan ajaran tantrayana banyak mempengaruhi kebudayaan Hindu di nusantara termasuk pengaruh ajarannya sangat kental dirasakan di wilayah Bali salah satunya di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan. Kecamatan Seririt. Kabupaten Buleleng. Arca-arca seks yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa tersebut banyak menonjolkan bentuk-bentuk genital sebagai simbol kesuburan yang merujuk pada kepercayaan tantra. Seperti yang dijelaskan Atmaja bahwa simbol-simbol genitalia dihubungkan dengan ritus-ritus tantrayana (Atmaja, 2. Keyakinan tantra diyakini memiliki pengaruh terhadap beberapa arca di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan yang memperlihatkan genitalnya sebagai simbol kesuburan yang divisualisasikan kedalam bentuk patung arca bersalin dan arca durga telanjang dada seperti yang disampaikan oleh Ketua PHDI Desa Pengastulan I Nyoman Suarjana pada wawancara tanggal 1 april 2024 dengan petikan hasil wawancara sebagai Menurut pitutur bapak Minaka . salah satu tokoh agama di Desa pengstulan bawaha dulu memang pernah ada seorang peneliti yang meneliti perkembangan tantra, berdasarkan penelitiannya itu bahwa di Desa Pengstulan ini dulunya pernah berkembang ajaran-ajaran dan kebudayaan tantrayana. Ajaran dan kebudayananya tersebut dapat terlihat dari keberadaan beragam arca seksual yang terletak di jeroan Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan. Arca-arca tersebut sangat identik dengan kepercayaan-kepercayaan tantra, seperti adanya arca Durga yang menonjolkan payudaranya yang begitu besar sebagai salah satu arca pemujaan kepada Sakti, dan adanya arca bersalin yang diyakini sebagai visualisasi bentuk arca brayut, dimana secara umum kita ketahui dan berpedoman pada geguritan brayut, tokoh brayut merupakan salah satu tokoh yang begitu terkenal sebagai penganut Arca Dewi Durga dan Arca bersalin menjadi salah satu wujud arca yang telah mendapat pengaruh dari ajaran tantrayana yang dulu pernah berkembang di Desa Pengstulan. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Seperti yang dijelaskan dalam hasil wawancara tanggal 1 april 2024 dengan pemangku Pura Gede Desa Pengstulan Made Sweca Arya yang menjelaskan bahwa, kemungkinan di zaman dulu kepercayaan atau aliran tantrayana pernah berkembang di Desa pengstulan ini, hal ini dapat dilihat dari beberapa pura yang berada di sekitaran Desa pengstulan terdapat beberapa arca-arca yang identik dengan bentuk-bentuk menyeramkan seperti pada Pura Gede sebelum pembugaran pura dulunya terdapat arca seorang dewi mirib wujud rangda, kemudian di Pura Dalem juga sama terdapat peninggalan arca Dewi Durga yang bertahan sampai saat ini, hal ini tentunya identik dengan konsep kepercayaan tantra sebagai pemujaan sakti. Petikan hasil wawancara tersebut diatas menegaskan bahwa ajaran dan kebudayaan tantrayana memang pernah berkembang di Desa Pengastulan, dan bukti perkembangannya dapat dibuktikan dengan adanya beberapa arcaarca seksual sebagai bentuk yantra yang disakralkan di utama mandala Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan yang mencerminkan nilai-nilai spiritual tantrayana. Ajaran Tantrayana diintegrasikan dalam kebudayaan Desa Pengastulan dalam bentuk kesenian yang kemudian diwujudkan kedalam arca Dewi Durga dan arca bersalin atau arca brayut, selain itu juga, pelaksanaan ritual dan upacara ajaran tantra juga di integrasikan secara personal oleh umat Hindu yang datang untuk melakukan persembahyangan terutama yang berkaitan dengan permohonan atau praktik-praktik tertentu yakni untuk memohon keselamatan dan memohon sentana. Sarana ritual dalam bentuk banten sebagai wujud persembahan tidak ditentukan secara khusus melainkan berdasarkan keiklasan tiap indivitu yang melakukan permohonan. Adapun pengaruh tantra dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: Pengaruh Tantrayana Dalam Arca Dewi Durga Dewi Durga dalam kepercayaan Hindu merupakan manifestasi Tuhan dalam aspek feminis sebagai sakti dari Dewa Siwa. Penggambaran tentang Durga oleh Rsi Vyasa yang terdapat dalam markandeya puraIa adalah bentuk dari Durga Saptari. Durga merupakan simbol dari kekuatan yang merupakan kekuasaan tertinggi. Durga menginspirasi manusia dalam tugas, pekerjaan, usaha, petualangan dan industri (Wibawa. Nama Durga muncul setelah Dewi (Parwat. berhasil membunuh seorang raksasa bernama Durgama, anak Ruru. Durga juga dianggap sebagai penjelmaan Uma-Parwati dalam bentuk krodha. Ketika Durga mengenakan bentuk-Nya yang menyeramkan dan berwarna gelap, la dimasukkan ke dalam kelompok Kali-kula. Sebaliknya, ketika Beliau mengubah wujud-Nya menjadi wanita cantik berkulit putih, la adalah Gauri (Uma-Parwat. Beliau juga dimuliakan sebagai Ibu Illahi (Sri M. dengan nama Amba atau Ambika (Yudhiantara & Devi, 2. Dewi Durga merupakan aspek feminis dari kekutan Tuhan yang disimbolkan sebagai kekuatan tertinggi dalam bentuk krodha yang banyak dipuja dalam keyakinan umat Hindu. Di Nusantara pemujaan terhadap sakti banyak dijumpai di berbagai daerah dengan peninggalan-peninggalanya yang fenomenal banyak berupa arca-arca Durga yang tersebar luas di berbagai daerah di Nusantara termasuk salah satunya terdapat di Bali. Alasan ditemukannya banyak peninggalan-peninggalan kebudayaan Hindu dalam bentuk arca Durga tidak terlepas dari kepercayaan dan sekte siwasiddhanta khususnya tantrayana dengan para pemujanya yang disebut sebagai sakta, seperti yang ditegaskan Suwantana bahwa tanpa Sakti. Brahman tidak dapat menciptakan alam semesta beserta Benih menjadi tumbuh subur ketika tersedia ladang yang subur pula. Brahman dalam keberadaannya selalu pasif, sedangkan Prakrti/Sakti tentu bersifat aktif. Tuhan dalam wujud aktif inilah yang dipuja oleh para penganut Sakta . enganut tantr. Perwujudan dari Sakti adalah dewi atau feminim, perempuan (Suwantana, 2. Pemujaan terhadap wujud sakti yang merujuk pada keyakinan tantra juga disebutkan pada mahanirvana tantra bab 4. 9-14 sebagai berikut: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dengarkan, wahai yang memiliki keberuntungan dan takdir yang tinggi, alasan mengapa Engkau harus disembah, dan bagaimana dengan demikian individu menjadi satu dengan Brahman. Engkau adalah satu-satunya Para Prakriti dari Jiwa Tertinggi Brahman, dan dari-Mu telah muncul seluruh Alam Semesta O Siva Engkau Ibunya. Wahai Yang Maha pemurah apa pun yang ada di dunia ini, dari benda-benda yang memiliki dan tidak bergerak, dari mahat hingga atom, berasal dari dan bergantung pada-Mu. Engkau adalah asli dari semua manifestasi. Engkau adalah tempat kelahiran bahkan kami. Engkau mengetahui seluruh dunia, namun tidak ada yang mengenal-Mu. Engkau adalah Kali. Tarini. Durga. Shodashi. Bhuvaneshvari. Dhumavati. Engkau adalah Bagala. Bhairavi, dan Chhinna-mastaka. Engkau adalah Annapurna. Vagdevi. Kama-lalaya. Engkau adalah gambar atau perwujudan dari semua sakti dan semua dewa (Avalon, 2. Aspek pemujaan terhadap sakti menjadi ciri khas dari kepercayaan tantra (Dewi, 2. Sakti dipuja karena diyakini sebagai bentuk perwujudan dari semua sakti dan semua dewa. Pemujaan terhadap unsur feminis dari Tuhan dalam wujud sakti atau dewi yang sebagai fenomena spiritual tidak terlepas dari dua kategori eksklusif yakni keindahan atau kecantikan . disatu sisi dan kemurkaan atau ketakutan . pada sisi yang lainnya. Kecantikan ataupun keindahan spiritual menjadi sebuah pesona yang begitu menarik bagi umat untuk Pesona ini telah menjadi daya tarik spiritual bagi pemujanya. Sedangkan disatu sisi kemurkaan ataupun ketakutan telah menjadi peringatan bagi umat untuk segera dapat menyingkir dan menjauh untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, dan yang tidak benar yang bertentangan ataupun yang menjadi larangan dengan ajaran spiritual, dengan tujuan agar yang dipuja tidak murka, marah dan menebarkan ketakutan kepada kita, sehingga menjadi hal yang menakutkan untuk ingin melakukan ajaran yang bersifat buruk yang bertentangan dengan ajaran spiritual. Pemujaan terhadap sakti dalam wujud Dewi Durga atau yang dikenal dengan nama Dewi Kali menurut Yudhiantara dan Devi juga memiliki sisi baik dibalik wujudnya yang mengerikan sebagai penguasa kegelapan dan peleburan dengan kesan wujud mengerikan dan tidak terukur. Ia identik dengan kematian dan performance-Nya jauh dari preferensi estetika yang lazim. Gambar perwujudan-Nya tidaklah anggun sebagaimana pesona seorang Dewi umumnya, melainkan lebih mengekspresikan wajah yang sedang mengancam atau bahkan mengutuk. Namun demikian, kesan yang kurang bersahabat itu adalah cerminan transformasi pada jalan spiritual. Sebab, kengerian, ketakutan dan bentuk-bentuk kecemasan lainnya harus dilewati . epatnya disingkirka. sebelum kemuliaan-Nya Pengungkapan wajah asli ini berarti sirnanya ketakutan dan kecemasan dan itulah rupanya makna pesan dibalik seremnya wajah Dewi Durga (Yudhiantara & Devi. Durga menolong para penyembahnya untuk mencapai alam kebebasan. Kengerian, rasa ketakutan dan bentuk-bentuk kecemasan lainnya yang harus dilewati . epatnya disingkirka. meninggalkan kefanaan tersebut sebagai korban suci untuk dapat mencapai suatu pencerahan diri. Makna yang sama juga tersirat pada salah satu arca Dewi Durga yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan yang menjadi salah satu bukti pernah berkembangnya paham tantrayana di Desa pengstulan. Keberadaan arca ini diyakini sebagai simbol perlindungan, menghilangkan rasa takut, kecemasan dan sekaligus sebagai simbol kesuburan, seperti yang terlihat pada gambar berikut. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 1. Arca Dewi Durga Dengan Pinggang Ramping Dan Payudara Penuh (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan I Nyoman Suarjana selaku ketua PHDI Desa Pengstulan pada tanggal 1 april 2024 dengan petikan hasil wawancara sebagai berikut. Arca Durga yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan merupakan salah satu perwujudan dari adanya pemujaan terhadap Sakti sebagai pasangan dari Bhatara Siwa. Pemujaan terhadap sakti menjadi salah satu bentuk implementasi dari salah satu kepercayaan yang merujuk pada tantra yang dulu diyakini pernah berkembang di Indonesia dan di Desa Pengastulan. Arca Dewi Durga merupakan arca yang diyakini sebagai salah satu simbol perlindungan, maka dari itu banyak masyarakat Hindu (Pemede. yang datang melaksanakan persembahyangan di Pura Dalem Dasar Purwa ini menghaturkan beragam sarana ritual pada arca ini. Dengan didasari oleh keberadaan arca inilah masyarakat Hindu . banyak mapinunasan . keselamatan, perlindungan . di Pura Dalem Dasar Purwa ini. Posisi tangan pada arca Dewi Durga merupaan posisi tangan yang disebut sebagai abhaya mudra yang melambangkan sebuah perlindungan menghilangkan rasa takut, menghilangkan rasa kecemasan, hal inilah yang mendasari masayarakat Hindu . datang mapinunasan gegemet . kepada sakti dalam wujud beliau sebagai Ida Dalem (Dewi Durg. Ditegaskan kembali oleh I Made Pariasa dalam wawancara tanggal 28 maret 2024, yang menyatakan bahwa, untuk sarana ritual yang dibawa masyarakat saat mepinunasan tidak di tentukan secara khusus, namun sarana ritual yang dipergunakan saat mepinunasan sesuai keiklasan masing-masing individu, berbeda ketika pelaksanaan piodalan yang dilakukan di Pura Dalem ini baru menggunakan sarana ritual mededari. Pernyataan yang berbeda juga disebutkan oleh salah satu tokoh agama I Nyoman Ngurah selaku Bendesa Adat Pengstulan pada tanggal 1 april 2024 dalam wawancara sebagai berikut, banyak pengalaman yang dirasakan oleh masyarakat yang memohon keselamatan secara niskala di Pura ini, salah satu pengalaman tersebut juga dirasakan oleh salah satu anak saya yang kebetulan bekerja di luar negeri. Rasa aman dan segala bentuk kecemasan yang biasa ia rasakan tidak menjadi hambatan lagi setelah kami memohon atau mepinunasan gegemet di Pura Dalem Dasar Purwa ini. Gegemet yang kami mohonkan dalam bentuk batu mentik yang kita tunas . di Pura sebagai paice . dari Ida Dalem (Dewi Durg. yang nantinya kami gunakan paice tersebut sebagai permata cincin ataupun kalung yang bisa dikenakan sehari-hari, tujuannya agar terlindungi dari segala marabahaya yang disebabkan secara gaib. Petikan hasil wawancara tersebut menjelaskan bahwa keberadaan arca Dewi Durga di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan telah menegaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Hindu Desa Pengstulan telah mengaplikasikan pemujaan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH terhadap sakti aspek feminis dari kekuatan Tuhan, hal ini ternyata identik dengan kepercayaan yang bersumber dari ajaran tantrayana. Ciri penting dalam praktik-praktik tantra terlihat dari adanya penggunaan gerak tubuh yang divisualisasikan dengan bentuk tangan arca tersebut membentuk abhaya mudra sebagi simbol perlindungan. Melalui bentuk mudra ini, maka pemujaan dilakukan dengan tujuan untuk mapinunasan . guna membantu menghilangkan rasa takut ataupun kecemasan yang dimiliki oleh mereka yang mapinunasan kepada sakti dalam wujud beliau sebagai Dewi Durga atau Ida Bhatari Dalem. Hal ini juga sitegaskan oleh Yudhiantara & Devi . yang menyatakan bahwa konsep Pemujaan kepada Durga (Durgapuj. umumnya dilakukan dalam rangka memperoleh sebuah kemenangan dan keselamatan. Memohon perlindungan atau gegemet dilakukan dengan menggunakan beragam sarana ritual oleh masing-masing individu. Bentuk sarana ritual yang dipersembahkan tidak di tentukan secara khusus, melainkan disesuaikan dengan keiklasan masing-masing individu, permohonan ini dilakukan selain untuk dapat menghilangkan rasa kecemasan didalam diri, permohonan gegemet ini juga dapat dilakukan dengan memohonkan paice dalam bentuk batu mentik yang ada di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan, dengan harapan paice yang telah dianugrahkan dan telah dipasupati . emiliki kekuatan spiritua. oleh Ida Bhatari Dalem (Dewi Durg. mampu melindungi diri dari segala bentuk halangan dan marabahaya secara gaib. Pinunasan gegemet . dengan nunas paice dalam bentuk media batu mentik telah merujuk pada ciri penting kepercayaan tantrayana sebagai salah satu wujud ekspresi Sakti secara niskala yang diperdayagunakan dalam aktifitas sakala, seperti yang dijelaskan Yudiantara . Semua yang ada adalah ekspresi Sakti. Semua suci. Karenanya tidak ada yang dianggap kotor atau dosa. Dalam mengoptimalkan peran kemanusiaannya, manusia Bali tidak jarang menyertakan berbagai elemen esoterik menjurus pada sihir. Misalkan saja seorang pedagang yang memakai panglaris untuk membuat dagangannya lebih laris. Pemimpin memakai jejimatan untuk meningkatkan wibawa dan pengaruhnya. Pangraksa jiwa untuk menjaga diri dari berbagai kemalangan dan lain Semua praktek esoteris yang sangat banyak catatannya dalam lontar-lontar bergenre kawisesan ini, tidak lebih merupakan ekspresi dari pendayagunaan aspek niskala dalam aktifitas sakala. Mapinunasan gegemet dilakukan dengan jutuan untuk mengindari segala bentuk kemalangan atau marabahaya yang dapat membahayakan diri sendiri. Banyak manfaat yang dirasakan setelah mepinunasan gegemet perasaan aman sering dirasakan oleh individu yang mepinunasan dan segala bentuk kecemasan yang dialami lambat laun semakin menghilang, sehingga aktifitas dalam hidup dapat dilaksanakan dengan baik tanpa ada rasa kecemasan akan adanya gangguan yang mengganggu secara Praktik yang dilakukan tersebut jelas menunjukan ciri penting dari kepercayaan tantra yang merupakan praktek esoteris dari kekuatan dan ekspresi Sakti yang didayagunakan dalam aktifitas sekala dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan arca Dewi Durga yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengastulan selain memiliki makna perlindungan juga memiliki makna yang berbeda sebagai lambang kesuburan, hal ini ditegaskan oleh pemangku Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan I Made Pariasa dalam wawancara tanggal 28 maret 2024 dengan petikan hasil wawancara sebagai berikut. Arca Durga yang ada di Pura Dalem Dasar Purwa ini sedikit berbeda pada arca Durga pada umumnya, pada arca ini lebih menonjolkan bentuk tubuh yang ramping dengan payudaranya yang terlihat begitu penuh. Hal ini menyimbolkan seorang wanita yang subur, maka dari itu tidak heran banyak dari masyarakat Hindu Desa Pengstulan maupun dari luar desa datang untuk https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH memohon petunjuk agara dapat dikaruniaai keturunan atau sentana bagi mereka yang memang tidak memiliki keturunan ataupun sentana, bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang berhasil dalam permohonannya kembali ke pura ini untuk membayar kaul . dengan beragam persembahan yang mereka bawa dan di persembahkan di pura ini. Petikan hasil wawancara tersebut diatas menegaskan bahwa selain memiliki sisi yang menyeramkan, arca Dewi Durga yang menyimbolkan perlindungan juga memiliki sisi yang berbeda sebagai perlambang kesuburan, dengan ciri-ciri yang ditonjolkan yakni menggambarkan tubuh wanita dengan bentuk pinggang yang ramping dan buah dada atau payudara yang terlihat penuh sebagai bentuk penggambaran wanita yang subur. Hal ini telah menunjukkan penekanan pada Sakti dengan kelebihan yang dimiliki sebagai simbol kesuburan yang mengarah pada kepercayaan tantra, hal ini ditegaskan dalam Utama. Yasa & Utama . yang menyatakan bahwa dasar-dasar ajaran Tantrayana, yang menempatkan pemujaan terhadap perempuan (Sakt. sebagai hal yang sangat penting, telah ada jauh sebelum pengaruh agama Hindu berkembang di India. Temuan dari penggalian di daerah Mohenjo-Daro dan Harappa, seperti arca terracotta yang menggambarkan tubuh wanita dengan pinggang ramping dan payudara yang penuh, menunjukkan gambaran wanita subur. Ini mengarah pada asumsi bahwa masyarakat Dravida yang mendukung kebudayaan ini lebih mengutamakan pemujaan terhadap Dewi (Sakt. Catatan utama dalam ajaran Tantrayana adalah penekanan pada Sakti (Parvat. sebagai aspek pradhana dari Siwa. Kelebihan arca Durga dengan bentuk pinggang yang ramping dan buah dada terlihat penuh menjadi kelebihan mengantarkan masyarakat Hindu yang tidak memiliki keturunan atau anak berasumsi untuk memohon atau mapinunasan sentana berdasarkan pada arca Dewi Durga tersebut, hal ini banyak dibuktikan dengan adanya masyarakat yang berdatangan untuk memohon keturunan ataupun sentana, selain itu juga banyak masyarakat setempat maupun dari luar desa berdatangan untuk membayar janji mereka dengan beragam sarana ritual seiklasnya yang akan dipersembahkan di pura tersebut ketika permohonan mereka berhasil terwujud dan berhasil mendapatkan sentana atau Keberhasilan dalam upaya yang dilakukan oleh umat Hindu baik dari luar desa ataupun umat Hindu dari Desa Pengstulan sendiri yang melakukan permohonan atau mepinunasan gegemet ataupun sentana yang didasari pada arca Dewi Durga ini telah membentuk interaksi yang kuat dan membentuk solidaritas yang diwujudkan dalam ikatan kepedulian untuk turut serta dalam membatu melestarikan Pura Dalem Dasar Purwa sebagai warisan dari leluhur dan warisan budaya yang memiliki nilai-nilai spiritual tantrayana, dengan memberikan bentuk punia maupun ikut serta melakukan persembahyang setiap kali piodalan berlangsung. Pengaruh Tantrayana Dalam Arca Bersalin Bersalin merupakan suatu kondisi dimana seorang wanita sedang dalam proses Persalinan adalah sebuah proses pengeluaran hasil konsepsi . anin dan ur. yang telah cukup bulan dan dapat hidup di luar uterus melalui vagina secara spontan (Yulizawati. Insani & Andriani, 2. Persalinan menjadi suatu proses fisiologis yang secara umum dapat dirasakan oleh seorang ibu hamil ketika memasuki kehamilan yang cukup bulan. Proses persalinan oleh seorang wanita menjadi hal yang fenomenal dan menjadi moment yang paling ditung-tunggu setiap keluarga di dunia karena akan ada sebuah penerus keluarga yang lahir dalam proses persalinan tersebut. Kelahiran seorang anak menjadi sebuah hal yang ditunggu-tunggu karena kelahiran seorang anak menjadi sebuah sumber kebahagian seperti yang dijelaskan dalam Budiana . yang menjelaskan bahwa dalam hal ini anak merupakan sumber kebahagiaan, menjadi matahari baru bagi kebanyakan orang, ada harapan dan impian baru https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dari tubuh anak. Itulah sebabnya mengapa di banyak kebudayaan kelahiran anak dirayakan secara istimewa dan penuh kebahagiaan dengan berbagai ritual. Kelahiran anak dalam suatu keluarga merupakan rejeki yang sangat besar dan luar biasa. Dalam keyakinan Hindu seorang anak dianggap penting karena dianggap memiliki suatu makna yang begitu besar dalam suatu keuarga seperti yang dijelaskan dalam Budiana . bahwa seorang anak bermakna . meneruskan warisan, warisan merupakan segala kewajiban dan hak baik dalam hubungan parahyangan, pawongan dan pelemahan. kewajiban untuk menyelamatkan roh leluhur. Di dalam Adiparwa disebutkan tentang pentingnya keturunan dan dapat menyelamatkan roh leluhur dari neraka. Dalam Manawadharma Sastra IX. 138 disebutkan anak laki laki dapat mengantarkan pitra dari neraka yang disebut put. Karena itu dia disebut putra. Dalam Adiparwa 74. 38 disebutkan seseorang dapat menundukan dunia dengan kelahirannya anak dia memperoleh kesenangan abadi. kelahiran seorang anak dalam keluarga dapat mengikat tali kasih dalam keluarga. Dalam Adiparwa disebutkan seorang anak dapat mengikat tali kasih yang sangat kuat dalam keluarga, ia merupakan pusat cinta kasih orang tua dan menciptakan Menjadi hal yang sangat berbeda dan menjadi tidak adil ketika pasangan suamiistri dalam sebuah keluaraga tidak memiliki keturuanan, harapan dan impian seakan menjadi sirnah karena sumber kebahagian yang menjadi sinar matahari baru bagi keluarga, pelanjut keturunan dan kehidupan tidak mampu terlahir ataupun hadir didalam kehidupan keluarga. Tokoh keluarga brayut dalam kepercayaan Hindu Bali telah hadir sebagai lambang kesuburan, memberikan harapan bagi mereka yang tidak memiliki seorang keturunan atau sentana. Brayut merupakan salah satu tokoh yang begitu fenomenal sebagai salah satu penganut tantrayana, menjadi seorang rohaniawan . yang belajar pada seorang guru spiritual dalam upayanya mencapai kesempurnaan hidup dimana proses guna pencapaian kesempurnaan hidup brayut lakukan disebuah kuburan yang mana pada kuburan tersebut terdapat yang namnya pohon kepuh yang berongga. Belajar spiritual dengan seorang guru menjadi penciri dari ajaran tantra, bahwa untuk dapat belajar tantra sebaiknya dapat belajar dengan seorang guru, karena ajan-ajaran tantra merupakan ajaran yang sangat rahasia. Maka dari itu seorang muridnya perlu untuk diinisisai sebelum siap menerima ajaran-ajaran yang akan di berikan oleh sang guru. Guru adalah unsur yang sangat penting dalam ajaran Tantrayana yang bertanggung jawab membimbing murid-murid Tantra dalam melakukan sadhana . Brayut juga melakukan pertapaan di kuburan guna mendapatkan ilmu kelepasan. Kuburan adalah unsur penting dalam ajaran Tantra sebab kuburan di pandang sebagai sthana dari Sakti Siwa yaitu Durgha. Praktik- praktik keagamaan untuk mendapatkan Sakti di Bali seperti proses pasupati rangda hingga saat ini masih berlangsung di Bali (Utama, 2. Singer juga menjelaskan bahwa cara belajar tantra juga diutamakan dengan menerima pelajaran dari seorang guru, yang disampaikan dengan cara-cara Sehingga demikian pengetahuan tantra tersebut akan terjamin keasliannya pula (Singer, 2. Tokoh brayut yang begitu fenomenal telah hadir yang di visualisasikan kedalam bentuk arca brayut yang banyak dipuja oleh masyarakat untuk memohon petunjuk guna dapat memperoleh keturunan. Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan menjadi salah satu Pura yang menghadirkan salah satu arca sebagai perlambang kesuburan, arca tersebut yakni arca bersalin atau yang dikenal dengan arca brayut bersalin. Arca bersalin yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan merupakan salah satu arca brayut yang sedang melahirkan, melihat bentuk arsitektur arca brayut yang pada umumnya identik dengan banyak anak, justru arca brayut yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Desa pengstulan ini merupakan arca keluarga brayut yang dibentuk dalam kondisi bersalin, arca bersalin ini diyakini masyarakat Desa Pengstulan sebagai simbol Adapun bentuk arsitektur arca ini berbentuk seorang wanita yang sedang dalam proses bersalin dengan didampingi oleh arca laki-laki sebagai pasangannya, kemudian pada bagian samping patung bersalin terdapat patung yang sedang melakukan hubungan seksual yang mana salah satu pasangannya identik dengan bentuk wajah raksasa, seperti yang terlihat pada gambar berikut. Gambar 2. Arca Brayut Bersalin (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2. Kepercayaan masyarakat secara umum terhadap arca brayut beserta dengan beragam mitologi yang mewarnai kehadirannya tidak hanya sebatas keyakinan yang berkaitan dengan ajaran tantrayana melainkan lebih dari itu arca brayut banyak diyakini oleh masyarakat sebagai perlambang kesuburan, masyarakat Hindu meyakini arca brayut sebagai jalan atau media dalam membantu memperoleh sebuah keturunan atau sentana, maka dari itu tidaklah heran brayut dalam wujudnya sebagai arca banyak dipuja sebagai perlambang kesuburan, arca brayut menjadi pusat utama pemujaan oleh masyarakat umat Hindu yang ingin memiliki keturunan atau sentana, hal yang sama juga terjadi pada arca brayut yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan. Berdasarkan hasil wawancara pada 28 maret 2024 dengan Pemangku Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan I Made Pariasa dengan petikan hasil wawancara sebagai berikut. Arca bersalin atau arca brayut ini diyakini sebagai simbol kesuburan, karena bentuknya yang terlihat sedang melahirkan, menunjukkan bentuk kesuburan seorang wanita, namun terdapat makna lain yang tersirat didalamnya yang divisualisasikan pada salah satu bentuk arca atau patung yang berada tepat disebelahnya dalam bentuk berhubungan seksual yang tidak lain merupakan bentuk penyatuan, sebagai bentuk praktik maithuna, namun praktik maithuna ini merupakan praktik yang tidak sebaiknya dilakukan, sebuah gambaran akan peringatan yang diberikan kepada umat agar tidak melakukan hubungan badan yang berlandaskan dengan nafsu birahi yang bagaikan sifatsifat raksasa, sehingga nantinya sifat-sifat itu tidak menurun kepada sang bayi yang Pernyataan tersebut diatas bahwa hubungan seksual merupakan hubungan yang suci, karena hubungan seksual tidak hanya sebatas untuk pemenuhan nafsu seksual semata (Donder, 2. Hubungan yang seharusnya dapat dilakukan setelah melalui proses ritual perkawinan secara sakral, sehingga hubungan seksual dalam perkawinan tersebut dapat dikatakan sebagai yadnya. Seperti yang dijelaskan Atmaja bahwa dalam melakukan hubungan seks yang sah dan sakral itu, ajaran Hindu menganjurkan hubungan yang melampaui badan. Artinya, hubungan badan menjalankan tugas . melanjutkan keturunan yang berkualitas, dan . mencapai kenikmatan yang magis (Atmaja, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hubungan seksual selain menjadi kebutuhan pokok, seksual juga merupakan bagian dari kebutuhan insani manusia (Gunawijaya, 2. Hubungan seksual dilakukan untuk mencapai kenikmatan yang magis, maka hubungan seksual dijadikan sebuah sadhana, yang dalam tantra dikenal sebagai latasadhana atau maituna, hubungan seksual dilakukan untuk mencapai pencerahan menyatu dengan siwa yang disimbolkan dalam bentuk penyatuan Sakti dalam bentuk kundalini yang berada pada muladhara cakra menyatu dengan Siwa yang bersthana di sahasrara cakra yang disimbolkan dalam bentuk persetubuhan Ilahi, hal ini telah dijelaskan dalam Yuniarthi dan Suta yang menjelaskan bahwa istilah seksual dalam Tantra disebut dengan maithuna . anyak dibahas dalam Wrihannila Tantra dan Uttara Tantr. , yang berarti persetubuhan. Istilah ini menggambarkan persatuan antara Sakti (Kundalin. dan Siwa dalam pelukan anandam yang tak terlukiskan. Contohnya adalah performa Dewi Chhinnamasta yang berdiri di atas KAma dan Ratih yang sedang bersenggama. Inilah persetubuhan SiwaSakti, di mana entitas yang sebelumnya terpisah akhirnya bersatu. Sakti, yang berada di muladhara cakra, ditarik mendekati Siwa yang bersthana di sahasrara cakra melalui kekuatan cinta . asih-bhakti kepada Tuha. Ketika kekuatan kosmik feminin (Sakt. dan kekuatan kosmik maskulin (Siw. bersatu dalam persetubuhan Ilahi, puncaknya adalah tetesan amrta yang membawa jiwa menuju kebahagiaan tanpa batas . (Yuniarthi & Suta, 2. Maithuna, atau seksualitas dalam ajaran Tantra, memiliki makna filosofis yang mendalam dan tidak sekadar dipandang sebagai hubungan fisik. Lebih dari itu, maithuna dipandang sebagai elemen penting dalam meningkatkan spiritualitas setiap individu. Segala sesuatu yang tampak adalah manifestasi dari persatuan Siwa dan Sakti (Suda. Donder & Widiana, 2. Hubungan seksual yang merupakan hubungan suci dan sakral jika dikaitkan dengan arca hubungan seksual yang melengkapi arca bersalin yang terdapat di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan tersebut merupakan hubungan seksual yang tidak seharusnya dapat dilakukan, karena hubungan seks yang cukup penting salah satunya sebagai penerus keturunan yang suputra, maka sebaiknya hubungan seksual dapat dilakukan bukan dilandasi dengan nafsu birahi maupun dengan sifat-sifat raksasa, sehingga sifat-sifat negatif tersebut tidak menurun kepada sang anak yang nantinya Kehadiran patung ini sebagai simbol penyatuan dan kesuburan dianggap penting dalam kehidupan masyarakat Hindu Desa Pengstulan, banyak umat Hindu yang datang melakukan persembahyangan karena didasari oleh keberadaan patung ini, hal ini disampaikan oleh I Made Pariasa dalam wawancara tanggal 28 maret 2024 dengan petikan hasil wawancara sebagai berikut. Berkaca dari sebuah pengalaman, tidak sedikit dari masyarakat Desa Pengstulan bahkan dari luar desapun banyak yang berdatangan memohon anugrah, memohon sentana di pura ini, hal ini didasari dengan adanya arca brayut bersalin yang ada di utama mandala Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan. Banyak sarana persembahan secara iklas yang dipersembahkan masyarakat yang datang mepinunasan sentana di pura ini, bahkan tidak sedikit juga masyarakat Hindu yang datang menghaturkan dewa suksema ataupun membayar kaul . ketika permohonan atau pinunasannya berhasil, hal ini sudah membuktikan bahwa tidak sedikit masyarakat yang datang mepinunasan . bagi pasangan suami istri yang tidak memiliki keturunan telah berhasil dalam doa mereka. Pernyataan yang berbeda juga diampaikan oleh salah satu tokoh agama dan sekaligus sebagai ketua PHDI di Desa Pengstulan I Nyoman Suarjana pada tanggal 1 april 2024 dengan petikan hasil wawancara sebagai berikut. Pemangku Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan merupakan kerabat dekat saya yang telah menjadi bukti nyata, bahwa orang tuanya yang lama tidak memiliki https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH keturunan atau sentana telah berhasil mepinunasan di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan yang tentunya mepinunasan didasari dengan keyakinan terhadap keberadaan arca brayut bersalin yang terdapat di utama mandala. Pemangku Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan tersebut adalah satu-satunya sentana yang kini beliau ketunjuk dados pemangku . ipilih menjadi pemangk. di Pura Dalem Dasar Purwa tersebut. Petikan hasil wawancara tersebut diatas jelas menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat umat Hindu di Desa Pengstulan terhadap arca brayut yang begitu fenomenal tidak hanya diyakini sebagai salah satu penganut ajaran tantrayana melainkan lebih jauh dari itu arca brayut bersalin yang ada di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan banyak diyakini masyarakat umat Hindu setempat bahkan masyarakat dari luar desa meyakini sebagai salah satu lambang kesuburan, sebagai media untuk dapat membantu pasangan suami istri dalam memperoleh keturunan atau sentana. Banyaknya masyarakat umat Hindu yang berdatangan ke Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan dengan tujuan yang sama yakni sama-sama datang melakukan persembahyangan untuk mepinunasan sentana oleh pasangan suami istri yang tidak memiliki keturunan, menjadi bukti bahwa arca brayut bersalin tersebut sangat diyakini sebagai media untuk memohon keturunan. Bentuk keyakinan masyarakat umat Hindu setempat terhadap arca brayut bersalin ini semakin meningkat ketika adanya masyarakat Hindu yang mepinunasan . terwujud atau berhasil, dari keberhasilan tersebut pula banyak masyarakat berdatangan untuk membayar kaul . ataupun menghaturkan . dewa suksema ke Pura Dalem Dasar Purwa dengan beragam sarana ritual dalam bentuk banten yang dipersembahkan secara iklas. I Nyoman Suarjana kembali menegaskan pada wawancara tanggal 1 april 2024 yang menyatakan bahwa melalui keberhasilan masyarakat yang mepinunasan sentana, tentunya mereka akan memperoleh kebahagiaan, ada kesejahteraan yang dirasakan oleh masyarakat yang berhasil dalam mepinunasan sentana sehingga ada timbal balik yang diberikan oleh mereka yang berhasil mepinunasan selain memberikan punia secara material yang nantinya digunakan untuk pembangunan, pemeliharaan dan pelestarian Mereka yang berhasil memperoleh sentana melalui pinunasan di pura ini rasa solidaritasnya semakin tinggi untuk dapat membantu . ketika pelaksanaan piodalan di Pura ini. Hal senada juga dijetegaskan oleh I Nyoman Ngurah pada tanggal 1 april 2024 bahwa selain mereka yang berhasil mepinunasan di pura ini masyarakat Desa Pengstulan yang terdiri dari terdiri dari tiga banjar adat baik itu Banjar Adat Sari. Banjar Adat Pala dan Banjar Adat Purwa sebagai pengempon pura antusias melakukan gotong royong dalam membantu pelaksanaan piodalan di pura ini dari tahap persiapan, pembuatan banten sebagai sarana ritual hingga pada tahap akhir atau penyineban karya. Wawancara diatas jelas menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat Desa Pengastulan terkait dengan keberadaan arca atau patung bersalin ini telah membawa pengaruh dalam kehidupan sosial religius masyarakat setempat. Mampu mewujudkan soliditas sosial yang tinggi di kalangan masyarakat umat Hindu di Desa Pengastulan bahkan masyarakat umat Hindu dari luar Desa Pengastulan, telah disatukan melalui ikatan emosional yang sama, yakni kepentingan dalam melakukan pinunasan dalam memohon petunjuk guna dapat memproleh keturunan atau sentana, bahkan secara tidak langsung kesadaran masyarakat umat Hindu semakin tumbuh dalam membantu ngayah, saling bergotong royong dalam membantu pelaksanaan piodalan atau pujawali di Pura Dalem Dasar Purwa ini. Istilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa, di mana gotong berarti angkat dan royong berarti bersama-sama. Secara harfiah, gotong royong berarti mengangkat bersama-sama. Konsep ini juga mencerminkan partisipasi aktif setiap individu dalam memberikan nilai positif https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH terhadap objek, permasalahan, atau kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Partisipasi ini dapat berupa bantuan dalam bentuk materi, keuangan, tenaga fisik, dukungan mental, spiritual, keterampilan, sumbangan pemikiran, nasihat konstruktif, hingga berdoa kepada Tuhan (Budiasih, 2. Konsep gotong royong juga dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Pura Dalem Dasar Purwa Desa pengstulan, seluruh masyarakat Desa pengstulan ikut berkontribusi dalam gotong royong yang terdiri dari tiga banjar adat yakni Banjar Adat Sari. Banjar Adat Pala dan Banjar Adat Purwa yang sekaligus sebagai pengempon pura, namun umat Hindu yang berhasil melakukan pinunasan di pura ini juga ikut serta dalam membantu bergotong royong melakukan pekerjaan baik pekerjaan kecil ataupun besar yang berkaitan dengan keagamana ataupun sosial secara bersama-sama, mulai dari awal persiapan hingga akhir pelaksanaan piodalan. Hal tersebut telah membuktikan rasa solidaritas sosial yang terbangun sangat tinggi dan melakukan semangat gotong royong dengan tulus iklas. Konsep gotong royong yang dilaksakan ini sebagai bukti kuatnya solidaritas yang terbangun dalam masyarakat dalam membantu pemeliharaan dan pelestarian pura sebagai warisan budaya. Kesimpulan Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan adalah salah satu pura tua yang memiliki keunikan yang merujuk pada keyakinan tantrayana salah satunya adalah penggunaan yantra dalam bentuk arca Dewi Durga dan arca bersalin sebagai simbol keagamaan di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan. Arca Dewi Durga di Pura Dalem Dasar Purwa Desa Pengstulan menjadi salah satu bentuk aplikasi pemujaan terhadap sakti aspek feminis dari kekuatan Tuhan, disamping arca ini diyakini sebagai simbol perlindungan dan kesuburan. Sebagai simbol perlindungan Ida Dalem dipuja melaui media arca Dewi Durga dengan memohonkan batu mentik sebagai media perlindungan, praktik ini menjadi ciri penting dari kepercayaan tantra yang merupakan praktek esoteris dari kekuatan dan ekspresi Sakti, begitu pula kelebihan lain dari Sakti sebagai simbol kesuburan dapat terlihat dari bentuk arca yang menonjolkan bentuk tubuh ramping dengan payudara penuh sebagai gambaran wanita yang subur yang banyak dipuja untuk mapinunasan sentana. Arca lainnya yang merujuk adanya pengaruh tantra adalah Arca Bersalin yang terdapat di Pura Dalem dasar Purwa Desa Pengstulan merupakan salah satu arca brayut yang dibentuk sedang melakukan persalinan. Arca Brayut bersalin diyakini sebagai salah satu tokoh penganut ajaran tantrayana, kemudian lebih dari itu arca brayut banyak diyakini oleh masyarakat sebagai perlambang kesuburan, sebagai jalan atau media dalam membantu memperoleh sebuah keturunan atau sentana. Keberadaan arca-arca ini berimplikasi terhadap kehidupan sosial religius umat Hindu di Desa pengstulan, keberhasilan masyarakat yang melakukan pinunasan di Pura Dalem Dasar Purwa ini telah memperkuat ikatan solidaritas umat Hindu di Desa pengstulan yang di aplikasikan melalui aktifitas gotong royong secara bersama-sama yang melibatkan seluruh lapisan umat Hidu Desa Pengastulan baik dari Banjar Adat Sari. Banjar Adat Pala dan Banjar Adat Purwa yang sekaligus sebagai pengempon pura, hal ini dilakukan tentunya akan berdampak pada pemeliharaan dan pelestarian pura sebagai warisan budaya. Daftar Pustaka