AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sejarah Pembuatan Mesbah Atau (Do. Di Kelurahan Moru Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor Silas ManiataA. Jefri MobanA. Petrus Mau Tellu DonyA. Vebrianus Petrus Barai4. Riflyisrianly Beri Ledang5 Universitas Tribuana Kalabahi Email: silasmaniata20@gmail. com1 jefrimoban@gmail. com,2 petrusdony2@gmail. vebrianusb@gmail. com,4 rianberi3@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali sejarah pembuatan mesbah di kecamatan alor barat daya, kelurahan moru, kabupaten alor. awal mula pembuatan mesbah secara umum, tujuan adalah karena ada kesatuan. Dan supaya dikampung tersebut juga ada orang. Kampong moeng sudah ada sejak purba ke-3, dahulu masyarakat tersebut hidup mengembara mereka berpindah tempat ke tempat yang lain, tempat yang pertama berada di ton dam tempat yang ke dua berada di molmoi dan kembali lagi ke ton dan karena di tempat itu ada satu jenis tanaman tebu, karna sudah meluas di tempat itu maka mereka bergeser untuk mencari tempat lain yaitu di moeng. Karena di ton kampong pertama tersebut sudah menjadi tempat Karena terdapat hewan seperti babi dan rusa ditempat itu. Di kampong moeng terdapat 12 suku, ada 6 suku besar dan 6 suku besar itu melahirkan 5 suku kecil dan ada 1 suku pendatang. Dari ke-12 suku itu datang membawa satu batu alam yang ditaru diatas batubatu lainnya, nantu setelah ditaru batu dari ke-12 suku itu. Maka istilahnya tuan atau datoh . membuat sebuah ritual artinya berdoa kepada tuhan atau dewa,setelah membaca ritual maka moyang menentukan suku apa yang ditunjuk untuk membacakan mantrah dan moyang akan memberikan masing-masing fungsi kepada ke-12 suku tersebut ada suku yang bertugas menjaga keamanan, keseimbangan, menggerakan pembacaan mantrah dan ada beberapa yang tdk disebutkan. Jadi tujuan mesbah ini dibuat adalah sebagai tanda bahwa ada kampong ditempat. Kata Kunci : pembuatan Mesbah atau Dor. Kelurahan Moru Kecamatan Alor Barat Daya PENDAHULUAN. William G. Dever,. seorang arkeolog, dalam karyanya What Did the Biblical Writers Know and When Did They Know It? menjelaskan bahwa mezbah ditemukan di banyak situs arkeologi kuno, terutama di wilayah Timur Tengah, sebagai bukti praktik yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 keagamaan kuno. Mezbah yang ditemukan sering kali berupa tumpukan batu atau altar yang digunakan untuk mempersembahkan korban atau persembahan lainnya. Sejarah desa masih menarik sejarawan untuk ditelusuri karena hampir semua peristiwa sejarah berawal atau terjadi didaerah pedesaan. Desa sebagai kesatuan terkecil di Indonesia, memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan karena masing-masing wilayah diindonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang dan berbeda-beda. Petrus Dony . Demikian juga dengan Kelurahan Moru Kecamatan Alor Barat Daya Kabupaten Alor Mesbah atau Dor di suku hamap memiliki struktur sosial yang kuat berdasarkan sukusuku atau kelompok- kelompok kekerabatan dalam 12 suku tersebut dan mereka menjadi dasar bagi kebudayaan di masah dulu dan sempe sekarang masyarakat suku hamap mempertahankan budaya tersebut dan setiap suku memilki peran, tannggung jawap, sertah carah Ae carah tertentu dalam menjalankan kehidupan adat dan sosial mereka. Mesbah/Dor dibuat dari batu yang harus di kumpulkan oleh 12 suku dan harus batu alam yang padat bukan batu karang. Lokasi Mesbah harus berada di depan, tepatnya di antara Rumah Adat/Vet suku besar dan suku sedang/kecil (Lelang Mate dan Lelang Atinan. Letak mesbah harus dibawah pohon beringin yang ada di depan Rumah adat/vet. Bentuk mesbah bulat dan susunan batu harus 6 susun sampai 12 susun/ sesuai 12 suku yang telah dibentuk oleh Moyang/ Datoh. Di atas mesbah diletakkan batu pelat sebanyak 12 batu pelat yang mana masing-masing suku membawa satu batu pelat untuk ditaruh diatas mesbah/dor. Batu pelat dalam bahasa Hamap adalah Foi halal. Ditanam pula ditengah mesba1 batu panjang berukuran 1 meter, 50 cm ditanam dalam tanah, dan 50 cm tetap ada dipermukaan Mesbah. Batu panjang yang ditanam di tengah mesbah itu sebagai lidah Mesbah yang dalam bahasa Hamap disebut Dor Arebung. METODE PENGAPDIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ialah data kualitatif. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Teknik pengumpulan data digunakan dengan satu cara yaitu wawancara. Wawancara dilakukan dengan beberapa Tokoh masyarakat yaitu: Bapa Anen zetmi. yusup Benyamin Erteus. oilah 18 Desamber 2024 HASIL PENGAPDIAN DAN PEMBAHASAN Mesbah atau Dor bagi orang Hamap adalah suatu bukti sejarah tentang keberadaan Hamap sebagai sebuah suku bangsa yang berdiri kokoh, utuh, dan rukun. Mesbah atau Dor juga merupakan simbol persatuan orang Hamap. Ada 12 suku yang membuat mesbah dalam komunitas orang Hamap. Dalam konteks 12 suku Hamap yang dimaksud merujuk pada suku-suku asli yang ada di wilayah tersebut, masing-masing memiliki fungsi dan peran yang penting dalam masyarakat Kelurahan Moru baik dalam hal sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Namun, untuk lebih spesifiknya, dari ke 12 suku-suku ini mereka membntuk faktor yang besar dalam menjaga tradisi dan keberagaman budaya. Secara umum, beberapa fungsi dan peran suku-suku ini dalam kehidupan masyarakat suku hamap adalah: Pemelihara Tradisi dan Budaya Setiap suku memiliki adat istiadat, bahasa, dan tradisi yang sama. Mereka berperan dalam melestarikan budaya lokal, seperti tarian, musik, serta upacara adat yang merupakan identitas dari masing-masing suku. dan mereka melakukang kegiatan musahwarah mufakat dalam pembuatan Mesbah atau Dor tersebut. Struktur Sosial dan Kepemimpinan Masing-masing suku memiliki sistem kepemimpinan tradisional, seperti kepala adat atau tokoh masyarakat yang berperan dalam menyelesaikan masalah sosial dan adat. Kepemimpinan ini juga berfungsi untuk menjaga keharmonisan sosial antar suku. Pendidikan dan Pengetahuan Lokal Suku hamap memiliki cara-cara tradisional dalam mentransfer pengetahuan, baik mengenai pertanian, berburu, maupun pengetahuan tentang alam. Mereka memainkan peran yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 penting dalam pendidikan informal dan pelestarian pengetahuan simbol Mesbah atau dor yang di buat. Ekonomi dan Kerja Sama Suku Hamap ini juga berperan dalam sektor ekonomi lokal, baik itu dalam bertani, kerajinan tangan. Mereka sering kali melakukan kerja sama antara suku untuk memenuhi kebutuhan ekonomi atau dalam acara pembuatan Mesbah dan lain sebagainya Pembangunan dan Kemajuan Wilayah Dalam konteks pemerintahan dan pembangunan, suku-suku ini memainkan peran penting dalam mendukung program pembangunan, baik dari pemerintah wilaya atau tamukung, dengan menggunakan cara memberikan masukan dan partisipasi aktif dalam pembangunan Mesbah atau Dor di wilayah mereka tersebut. Pertahanan dan Keamanan Dalam suku- Hamap setiap suku menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah mereka, terutama dalam bentuk kewaspadaan terhadap ancaman luar atau perselisihan internal. Setiap suku ini, meskipun berbeda, tetap saling berinteraksi dan berperan dalam menjaga kedamaian serta kelangsungan hidup bersama dalam kerangka pluralitas yang ada di Kabupaten Alor, khususnya di Kecamatan Abad. Mesbah atau Dor baru dibuat pada purba ke 3 dan tata cara pembuatan harus sesuai dengan petunjuk Bap atau yang disebut Tuan/pemilik. Dalam bahasa Hamap pemilik adalah Aneng Tata Cara Pembuatan Mesbah/Dor Mesbah/Dor dibuat dari batu yang harus di kumpulkan oleh 12 suku dan harus batu alam yang padat bukan batu karang. Lokasi Mesbah harus berada di depan, tepatnya di antara Rumah Adat/Vet suku besar dan suku sedang/kecil (Lelang Mate dan Lelang Atinan. Letak mesbah harus dibawah pohon beringin yang ada di depan Rumah adat/vet. Bentuk mesbah bulat dan susunan batu harus 6 susun sampai 12 susun/ sesuai yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 12 suku yang telah dibentuk oleh Moyang/ Datoh. Di atas mesbah diletakkan batu pelat sebanyak 12 batu pelat yang mana masing-masing suku membawa satu batu pelat untuk ditaruh diatas mesbah/dor. Batu pelat dalam bahasa Hamap adalah Foi halal foto Pembuatan Mesbah Atau (Do. Di Kelurahan Moru Kecamatan Alor Barat Daya Ditanam pula ditengah mesba1 batu panjang berukuran 1 meter, 50 cm ditanam dalam tanah dan 50 cm tetap ada dipermukaan Mesbah. Batu panjang yang ditanam di tengah mesbah itu sebagai lidah Mesbah yang dalam bahasa Hamap disebut Dor Arebung. Setelah mesbah selesai dibuat maka dilakukan Diang Puin atau pesta yaitu makan adat dan diakhiri dengan Lego-lego. Fungsi Pembuatan Mesbah/Dor Batu adalah lambang kesatuan dan kesaktian. Susunan Batu: Strata atau kedudukan sukusuku yang telah menjadi satu kekuatan untuk saling menopang. Batu Pelat: Tumpuan kaki yang berdiri kuat dan tidak dapat dielahkan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Lidah Mesbah: Kefasihan dalam berbicara dan menyalurkan aspirasi lewat kata-kata Menyammpaikan permohonan doa kepada Tuhan yang Maha Tinggi. Menurut orang Hamap sarana penyembahan kepada Ur Ved Lahta yaitu Allah yang Maha Tinggi, lebih tinggi dari Dewa matahari dan Dewi bulan. Pohon Beringin: Merupakan Lambang persatuan dan tempat perteduhan atau bernaung dan tempat pertemuan serta tempat legolego. Dalam profesi Pembuatan Mesbah yang melibatkan 12 suka . elompok atau individ. mungkin merujuk pada suatu bentuk kegiatan budaya atau ritual yang dilakukan oleh masyarakat setempat, terutama di Alor Barat Daya, yang mengandung nilai-nilai adat, spiritual, dan sosial. Untuk menjawab pertanyaan tentang nilai-nilai leluhur di masa dahulu dan masa sekarang, kita perlu mengidentifikasi dan membandingkan aspek-aspek utama dalam pembuatan atau praktik Mesbah tersebut. Nilai-Nilai Leluhur di Masa Dulu Pada masa leluhur, nilai-nilai yang terkandung dalam pembuatan Mesbah sebagian besar berkaitan dengan spiritualitas, kekeluargaan, dan keharmonisan sosial, yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Beberapa nilai leluhur yang dapat diidentifikasi antara lain: Gotong Royong dan Kebersamaan: Kegiatan ini mungkin melibatkan kerjasama antara anggota masyarakat . dalam menyelesaikan sebuah tugas besar, yang menunjukkan nilai kebersamaan dan saling membantu dalam komunitas. Ritual dan Spiritualitas: Pembuatan Mesbah kemungkinan memiliki tujuan ritual atau keagamaan, yang memperlihatkan penghormatan terhadap kekuatan alam atau Tuhan. Nilai-nilai keagamaan dan spiritual sangat penting dalam kehidupan masyarakat leluhur. Penghargaan terhadap Tradisi dan Warisan Budaya: Proses pembuatan Mesbah mungkin melibatkan simbolisme dan aturan adat yang diwariskan turun-temurun, yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 yang mengajarkan generasi muda untuk menjaga dan menghargai warisan budaya Keterikatan dengan Alam dan Lingkungan: Leluhur biasanya sangat bergantung pada alam dan memiliki hubungan yang erat dengan sumber daya alam, sehingga pembuatan Mesbah bisa mencerminkan prinsip harmoni dengan alam. Nilai-Nilai Leluhur di Masa Sekarang Di masa kini, meskipun banyak nilai tersebut tetap ada, ada perubahan yang terjadi, baik dalam cara pandang maupun dalam penerapannya. Beberapa nilai yang masih relevan tetapi mungkin diterjemahkan dengan cara yang berbeda antara lain: Gotong Royong dalam Konteks Modern: Nilai kebersamaan masih sangat relevan, tetapi dalam konteks modern, kerjasama ini bisa tercermin dalam bentuk kolaborasi berbasis teknologi atau kegiatan sosial yang melibatkan lebih banyak orang dan sumber daya. Penyesuaian dengan Kepercayaan dan Agama Modern: Walaupun ritual spiritual dan keagamaan masih dilakukan, masyarakat kini mungkin menyesuaikan ritual tersebut dengan ajaran agama atau kepercayaan yang lebih luas, atau terkadang mengadopsi praktik baru sesuai dengan perkembangan zaman. Pelestarian Tradisi dalam Bentuk Baru: Saat ini, nilai-nilai leluhur sering dipertahankan melalui media, seni, atau bahkan pendidikan budaya. Pembuatan Mesbah bisa jadi lebih simbolis, dan tradisi bisa dijaga dalam bentuk festival atau acara budaya yang lebih terbuka dan inklusif. Kesadaran Lingkungan yang Lebih Tinggi: Di masa sekarang, nilai penghargaan terhadap alam berkembang menjadi lebih fokus pada keberlanjutan dan konservasi alam, dengan pengelolaan yang lebih baik terhadap sumber daya alam dan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Secara garis besar, nilai-nilai leluhur dalam pembuatan Mesbah dahulu dan sekarang dapat dibandingkan dengan melihat bagaimana aspek tradisi, kerjasama, spiritualitas, dan keterikatan dengan alam dipertahankan namun mengalami penyesuaian sesuai dengan perkembangan zaman. Di masa lalu, lebih banyak bersifat kolektif dan spiritual, sementara saat ini ada pengaruh modernisasi yang dapat memodernisasi bentuk dan cara pelaksanaan tetapi tetap menjaga nilai-nilai inti yang diwariskan oleh leluhur Tercerwabahnya atau terpecahnya 12 suku yang berpartisipasi dalam pembuatan Mesbah di Alor Barat Daya bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersifat sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Berikut beberapa penyebab yang mungkin menyebabkan terpecahnya atau tercerai-beraian suku-suku tersebut: Perubahan Sosial dan Globalisasi. Pengaruh globalisasi: Dengan masuknya teknologi, budaya asing, dan modernisasi, ada kecenderungan bagi masyarakat adat untuk terpengaruh dan mengadopsi nilai-nilai atau gaya hidup yang berbeda dari tradisi mereka. Hal ini bisa menyebabkan perpecahan dalam solidaritas antar suku yang sebelumnya memiliki kesatuan budaya. Migrasi dan urbanisasi: Banyak anggota suku mungkin pindah ke kota atau daerah lain untuk mencari pekerjaan atau kehidupan yang lebih baik. Proses ini mengakibatkan berkurangnya ikatan sosial dan budaya antara mereka yang tinggal di desa dan mereka yang bermigrasi. Perubahan Ekonomi. Perubahan sistem ekonomi: Jika ada perubahan dalam pola ekonomi, seperti beralih dari ekonomi berbasis pertanian dan perikanan ke sektor lain yang lebih modern atau berbasis industri, maka solidaritas antar suku bisa Kehidupan ekonomi yang lebih individualistik dan kompetitif dapat mengurangi kerjasama yang sebelumnya erat antar suku. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Distribusi sumber daya yang tidak merata: Ketimpangan dalam pembagian sumber daya alam atau akses terhadap kekayaan daerah bisa memicu persaingan antara suku-suku tersebut, yang akhirnya menyebabkan perpecahan atau konflik. Perubahan Politis dan Pemerintahan. Penyebaran pengaruh politik eksternal: Jika ada pengaruh dari luar, seperti kekuasaan kolonial atau pemerintahan pusat yang mencoba memecah belah suku-suku untuk mempermudah pengawasan dan kontrol, bisa menyebabkan perpecahan internal di dalam masyarakat tersebut. Persaingan politik lokal: Persaingan antar pemimpin suku atau kelompok dalam mencari kekuasaan atau pengaruh bisa memperburuk ketegangan antar suku, terutama jika ada perbedaan ideologi atau kepentingan politik yang mendalam. Konflik Internal Antar Suku. Pertentangan adat atau budaya: Meskipun suku-suku ini berpartisipasi dalam pembuatan Mesbah bersama, ada kemungkinan adanya perbedaan dalam interpretasi adat atau praktik budaya mereka. Perselisihan mengenai cara-cara tradisional atau hak atas tanah dan sumber daya alam bisa menyebabkan perpecahan. Persaingan status sosial: Beberapa suku mungkin merasa lebih superior atau lebih dihormati dari yang lain, menciptakan ketegangan dan pembagian di antara mereka. Ketegangan ini bisa berkembang menjadi konflik terbuka jika tidak dikelola dengan bijaksana. Faktor Agama. Perbedaan agama atau kepercayaan: Jika ada perbedaan dalam agama atau keyakinan spiritual antara suku-suku tersebut, hal ini bisa memicu Masyarakat yang sebelumnya terikat dalam kegiatan ritual bersama, seperti pembuatan Mesbah, mungkin terpisah karena perbedaan dalam praktik agama atau kepercayaan. Pengaruh agama luar: Masuknya agama baru, seperti agama Islam. Kristen, atau agama lain yang menggantikan agama tradisional, juga bisa menyebabkan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 perpecahan dalam komunitas yang sebelumnya bersatu dalam keyakinan yang Ketidaksetaraan dan Diskriminasi. Ketidaksetaraan dalam hak dan akses: Jika ada ketidaksetaraan dalam pembagian kekayaan, akses ke pendidikan, atau kesempatan kerja, maka kelompok-kelompok tertentu dari 12 suku tersebut bisa merasa Ketidakadilan sosial ini bisa memicu perpecahan di dalam komunitas adat. Diskriminasi antar suku: Adanya diskriminasi berdasarkan status sosial, kasta, atau asal suku tertentu dapat memicu konflik dan memecah komunitas yang sebelumnya Perubahan Struktur Sosial. Perubahan sistem kepemimpinan: Dalam beberapa kasus, perubahan dalam sistem pemerintahan atau kepemimpinan suku dapat menyebabkan ketegangan dan perpecahan. Pergantian pemimpin yang tidak diterima oleh sebagian suku bisa menyebabkan perpecahan dalam hubungan antar Kehilangan peran adat: Jika sistem adat yang dulu sangat dihormati kini mulai terkikis atau digantikan oleh sistem hukum atau norma baru, ini bisa menyebabkan disintegrasi sosial. Perubahan dalam struktur sosial dapat mengarah pada terjadinya fragmentasi di dalam komunitas suku. Faktor Lingkungan Degradasi lingkungan dan sumber daya alam: Kerusakan lingkungan atau pengurangan sumber daya alam yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka bisa memicu persaingan antar suku untuk mengakses sumber daya tersebut. Konflik ini bisa menyebabkan pemecahan dalam solidaritas antar suku. Pecahnya 12 suku yang berpartisipasi dalam pembuatan Mesbah di Alor Barat Daya bisa disebabkan oleh banyak faktor yang saling berhubungan, baik itu faktor yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 eksternal seperti globalisasi dan perubahan ekonomi, maupun faktor internal seperti perbedaan agama, politik, dan adat. Semua faktor ini dapat mempengaruhi hubungan antar suku dan menyebabkan perpecahan dalam komunitas yang sebelumnya bersatu. KESIMPULAN Mesbah atau Dor diKampung hamap di Keluruhan moru. Kecamatan Alor barat daya. Kabupaten Alor . Cerita ini termasuk kepada legenda setempat karena terdapat keterkaitan dengan pembuatan Mesbah tempat dimana kampung hamap berada. sampai sekarang, mesbah mejadi sejarah alam cagar budaya yang dilindungi oleh masyarakat setempat. Cerita Rakyat yang mengisahkan asal-usul nama kampung hamap. Dalam kisah ini,biasanya terdapat unsur keragaman 12 suku dalam ,kehidupan masyarakat setempat, dan pelajaran Cerita dari legenda ini adalah pentingnya menjaga warisan budaya serta menghormati nilai-nilai kebersamaan dan kearifan local yang diwariskan dari generasi ke Cerita ini juga mengajarkan bahwa mesbah memiliki peran penting dalam kehidupan manusia dan harus dijaga dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk menceritakan sejarah cerita Mesbah yang tersebar dimasyarakat secara lisan menjadi bentuk tulis. sehinga generasi muda tidak lupa pada cerita daerah mereka sendiri. DAFTAR PUSTAKA