ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 2 (Desember, 2. : 180-201 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare,1* Agustinus M. L Batlajery,2 Johni. Chr. Ruhulessin. Program Studi Doktor Agama dan Kebangsaan. Pascasarjana UKIM *Corresponding Author Email: jerrytakdare25@gmail. Submitted: 31-07-2024 Accepted: 13-11-2024 Published: 23-12-2024 Abstract This article proposes the communion, sharing, together, and gandong models as a new approach that the church can use for interacting in the public spaces of the national and religious in Indonesia. This model is an implication of three important concepts: participational, incarnational, and relational, as such, it becomes an alternative to the unity-equality model as proposed by John Titaley and the exemplary model as proposed in the thought of Eka Darmaputera. By discussing with Titaley and Darmaputera, the author demonstrates that participational, incarnational, and relational must be formulated and constructioned in the ecclesiological . of the churches in Indonesia to show the essence and mission of the Trinity God in their ecclesial-social life. This research indicates that communion, sharing, together, and gandong models provide a wide space to show the church's identity as belonging to the Trinity God and, simultaneously, with the others to enrich life together as a nation of Indonesia. Keywords: Ecclesiology. Participational. Incarnational. Relational. Interacting. Abstrak Artikel ini menawarkan model bersekutu, berbagi, bersama, dan bergandong sebagai sebuah pendekatan baru yang dapat digunakan gereja dalam berinteraksi di ruang publik kebangsaan dan keagamaan di Indonesia. Model ini merupakan implikasi dari tiga konsep penting yakni partisipasional, inkarnasional, dan relasional sehingga menjadi alternatif bagi model kesatuankesetaraan yang diusulkan John Titaley, dan model keteladanan yang diajukan Eka Darmaputera. Dengan melakukan diskusi dengan Titaley dan Darmaputera, penulis memperlihatkan bahwa partisipasional, inkarnasional, dan relasional mesti dirumuskan dalam teologi eklesiologi gerejagereja di Indonesia untuk menunjukkan hakikat dan misi dari Allah Trinitas dalam kehidupan eklesial-sosialnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa model bersekutu, berbagi, bersama, dan bergandong memberi ruang luas untuk memperlihatkan identitas diri gereja sebagai milik Allah Trinitas dan sekaligus mengadegankan karya kasih Allah yang menyelamatkan sehingga bersama sang liyan memperkaya kehidupan bersama sebagai bangsa Indonesia. Kata-kata Kunci: Eklesiologi. Partisipasional. Inkarnational. Relational. Model. Interaksi. @ Copyright: Authors 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Melalui karyanya yang berjudul Church World and the Christian Life: PracticalProphetic Ecclesiology. Nicholas Healy menguraikan bahwa eklesiologi bukanlah sekadar teori doktrinal yang dibangun tanpa memerhatikan kehidupan gereja secara konkret. Menurut Healy, dengan melakukan proses teologis yang kritis serta mengkaji kompleksitas aktivitas manusia melalui analisis sosiologis, kultural, dan historis, gereja dapat menjawab tantangan yang dihadapinya dengan tepat dan sesuai dengan konteksnya. Oleh karena itu, eklesiologi senantiasa membutuhkan alternatif-alternatif yang lebih mencerminkan identitas unik gereja, otentik dan bermakna dalam memraktikkan iman, serta menjadi teladan yang baik bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, perumusan eklesiologi menjadi penting bagi gereja agar semakin relevan dan signifikan, sebagai salah satu tanda dari Kerajaan Allah dalam kehidupan sosial masyarakat maupun anggota gerejanya. Jika perumusan eklesiologi menjadi penting bagi gereja agar semakin relevan dan signifikan, sebagai salah satu tanda dari Kerajaan Allah dalam kehidupan sosial masyarakat maupun anggota gerejanya, lantas bagaimana cara merumuskannya? Menanggapi pertanyaan ini, kami merujuk kepada Joas Adiprasetya dalam karyanya. The Good yet Missing Innkeeper and the Christianity menjelaskan. Athree equally important criteria must be met. First, the ecclesiological concept must be rooted in the Christian tradition centred on the Triune God. second, it must be familiar to the people in their own cultural contexts. three, it must disturb Christians from passively enjoying their own community, so that they will work for love, justice, and reconciliation outside the walls of the church. In other words, the ecclesiological idea should be traditional, contextual, and missional. Adiprasetya menandaskan, eklesiologi mesti berakar pada tradisi gereja yang berpusat pada Allah Tritunggal, serta muncul dari konteks budayanya sendiri, untuk menunjukkan cinta kasih, keadilan, dan perdamaian di dunia. Singkatnya, gagasan-gagasan eklesiologi harus diformulasikan dari tradisi gereja, kontekstual, dan misional. 3 Oleh karena itu, perubahan zaman saat ini menuntut gereja sebagai komunitas iman untuk menggali identitas eklesialnya dimulai dari tradisi gereja yang berpusat pada Allah Trinitas, yang lahir dan bertumbuh dalam kultur-sosialnya, sehingga dapat mengerjakan dengan tepat karya Nicholas M. Healy. Church. World, and the Christian Life: Practical-Prophetic Ecclesiology, (Cambridge: Cambridge University, 2. , 50. Joas Adiprasetya. AuThe Good yet Missing Innkeeper and the Possibility of Open Ecclesiology,Ay Ecclesiology, 2018. Ibid. , 185-202. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin misionalnya dalam konteks Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah kontruksi . eklesiologi telah memperlihatkan identitas gereja sebagai milik Allah Trinitas dalam mengerjakan karya misionalnya bagi Indonesia? Untuk itu, melalui artikel ini, penulis mengajukan sebuah tesis bahwa model bersekutu, berbagi, bersama dan bergandong dapat menjadi alternatif bagi gereja untuk berinteraksi dan terlibat bersama yang lain demi menghadirkan cinta kasih, kebenaran, dan keadilan dalam konteks kebangsaan dan keagamaan di Indonesia yang majemuk. Dengan begitu, gereja dapat memperlihatkan wajah Allah Trinitas dan menghadirkan karya misionalnya dengan tepat. Artikel ini merupakan sebuah usaha untuk menawarkan konsep teologi-eklesiologi yakni partisipasional, inkarnasional, dan relasional sebagai dasar berinteraksi dalam konteks keaagamaan dan kebangsaan Indonesia yang pluralistic, atau yang kami sebut eklesiologi Apalagi. Indonesia bukanlah sebuah komunitas imajinasi . magined communitie. sebagaimana yang dikemukakan Benedict Anderson. 4 Indonesia itu, menurut kami, seperti yang ditandaskan Emile Durkheim, yaitu masyarakatnya berada dalam komposisi yang beragam dalam hal keyakinan, nilai-nilai, ide-ide, bersatu dalam komunitas moral yang tunggal, dan saling setia, sehingga selama ada orang yang hidup bersama-sama, akan ada semacam keyakinan bersama di antara mereka. Dengan demikian, kami berpendapat bahwa gereja-gereja di Indonesia mesti mewujudkan kesadaran eklesial-sosial dari setiap anggota gerejanya bahwa mereka merupakan bagian penting dari bangsa dan masyarakat Indonesia. Kehadiran nyata mereka sebagai gereja dan sebagai bangsa yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 memerlukan pemahaman teologis-eklesiologis yang tepat dan kontekstual. Untuk itu, penulis akan menganalisa pemikiran John Titaley yang mengusung model kesatuan Ae kesetaraan, dan Eka Darmaputera dengan gagasan model keteladanannya. Apakah gagasan kedua pemikir tersebut masih relevan dan signifikan dalam memperkaya kehidupan gereja sekaligus memperkaya kehidupan bersama dengan sesama manusia dan seluruh ciptaan dalam konteks Indonesia. Melalui diskusi dengan Titaley dan Darmaputera, kami mengusulkan konsepkonsep penting dan fundamental yang dapat digunakan gereja dalam merumuskan dan mengontruksi teologi-eklesiologinya. Implikasi dari konsep-konsep tersebut melahirkan prinsip-prinsip eklesia Aubersekutu, berbagi, bersama, dan bergandong sebagai model Benedict Anderson. Imagined Communities. Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (London: Verso. Emile Durkheim. The Elementary Forms of Religious Life. Trans. Keren E. Fields (New York: Colier BookFree Press . , 92 Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. berinteraksi gereja dengan sang liyan dalam ruang publik keagamaan dan kebangsaan yang majemuk di Indonesia. METODE PENELITIAN Artikel ini secara kualitatif menggunakan metode analitis- argumentatif. Secara analitis dibahas pemikiran John Titaley mengenai model kesatuan-kesetaraan dan model keteladanan yang diajukan oleh Eka Darmaputera. Selanjutnya, kami menunjukkan secara argumentatif tiga konsep fundamental yakni partisipasional, inkarnasional, dan relasional yang dapat digunakan gereja-gereja di Indonesia dalam merumuskan dan mengonstruksi . Kedua metode berpikir ini dikerjakan melalui kajian atas literatur yang tersedia dan memanfaatkan literatur tersebut untuk mengonstruksi model bersekutu, berbagi, bersama, dan bergandong untuk berinteraksi di ruang publik kebangsaan dan keagamaan di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN John Titaley. Traps of the Jews John Titaley, seorang teolog Protestan Indonesia, dalam karyanya berjudul "Religiositas di Alinea Ketiga: Pluralisme. Nasionalisme, dan Transformasi AgamaAgama", menyajikan narasi yang kuat agar kekristenan dapat membebaskan diri dari belenggu pemikiran Yahudi. 6 Titaley memunculkan narasi tersebut untuk menarik dan menangkap perangkap pemikiran Yahudi yang membuat kekristenan di Indonesia terpasung dalam eksklusivisme. Titaley menegaskan bahwa ada pintu yang terbuka untuk mengembangkan pemahaman tentang keberadaan kita secara bebas. Kalau Tuhan oleh orang-orang Yahudi dianggap bisa berbuat seperti itu bagi mereka, mengapa kita tidak bisa juga beranggapan bahwa Tuhan bisa berbuat demikian juga bagi kita bangsa Indonesia? Kita sendiri sajalah yang memenjarakan diri kita ke dalam ideal orang Yahudi itu, sehingga tidak bebas untuk berteologi secara mandiri. Padahal, melihat bagaimana Tuhan itu juga telah berkarya dan menyatakan kehendak-Nya kepada kita sebagai bangsa. Belenggu pemikiran Yahudi, the traps of Jews, merupakan penamaan ulang terhadap apa yang ditulisi Thomas Cahill tentang the gift of Jews dalam karya akademiknya The Gifts of the Jews: How a Tribe of Desert Nomads Changed the Way Everyone Thinks and Feels, (Oxford: Lion Publishing, 1. , 250/51 John Titaley. Religiositas di Alinea Ketiga: Pluralisme. Nasionalisme, dan Transformasi AgamaAgama (Salatiga: Satyawacana Pres. , 29. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin Gambaran yang diperlihatkan tersebut mengharuskan gereja-gereja di Indonesia mengambil peran secara dinamis, kritis, dan kreatif untuk mengerjakan karya kasih Allah. Memang, kita tidak dapat menafikan bahwa gereja-gereja di Indonesia tidak lagi memasungkan dirinya pada identitas diri yang eksklusif serta merasa diri lebih benar dan Akan tetapi, kita juga tidak dapat memungkiri bahwa praktik-praktik eksklusif, misalnya, menyendiri, tidak mau membaur dan berbaur dalam masyarakat luas, serta mengklaim kebenaran sendiri masih cenderung dipertahankan. 8 Di dalam salah satu dokumen gerejawinya. Geraja Protestan Maluku (GPM), misalnya, menegaskan untuk menghindari sikap saling menyalahkan dan berusaha untuk pro-aktif mengupayakan dialog dalam semangat persaudaraan dan perdamaian dalam konteks masyarakat Indonesia yang 9 Singkatnya, gereja-gereja di Indonesia mesti terlibat dan berelasi dengan siapa saja dalam ruang publik keindonesian untuk menghadirkan kebaikan dan kehidupan yang bersejahtera bagi semua orang dan seluruh ciptaan. Dalam konteks itu. Titaley tiba pada pernyataan mendasarnya bahwa gereja-gereja di Indonesia dapat menjadi Gereja yang benar-benar tumbuh di tanah Indonesia, jika terus belajar dari pengalaman berteologinya di Indonesia. 10 Dan bagi Titaley, itu sungguhsungguh teologi, sehingga ia menegaskan bahwa teologi itu tidak bisa dilepaskan dari kenyataan Indonesia sebagai suatu negara bangsa baru yang di dalamnya kita semua terlibat, termasuk gereja-gereja. Karena itu, tidak ada cara lain daripada memahami Indonesia yang kita proklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945 dan rumuskan konstitusinya tanggal 18 Agustus 1945 itu secara teologi. Pada titik ini, gereja-gereja di Indonesia dapat berperan sebagai komunitas iman yang menjiwai religiusitasnya sebagai orang Indonesia yang inklusif dan transformatif. Mereka dapat memberikan nilai-nilai Injili bagi kehidupan bersama yang beragam di bumi Pancasila. Hal tersebut selaras dengan apa yang ditandaskan P. Mandagi dengan mengutip kalimat Paus Fransiskan dalam Anjuran Apostoliknya. Evangelii Guadium. Mandagi Eka Darmaputera. Iman dan Tantangan Zaman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 29. Lihat Keputusan Sidang ke-34 Sinode GPM tahun 2001. Salah satu poin penting yang disoroti Titaley adalah pengalaman teologi bergereja yang hilang dari pemikiran para teolog di Indonesia. Di Maluku, misalnya, sudah ada tiga peristiwa penting dalam sejarah Maluku yang terabaikan oleh GPM. Tiga tonggak sejarah itu: Proklamasi Kemerdekaan RI, pergolakan RMS, dan konflik Maluku. Ketiga peristiwa itu seharusnya menjadi pintu masuk bagi GPM berteologi di Indonesia. John Titaley. AuTantangan Berteologi bagi GPM di Indonesia,Ay dalam Delapan Dekade GPM: Menanam. Menyiram. Bertumbuh, dan Berbuah: Teologi GPM dalam Praksis Berbangsa dan Bernegara. Editor. Elizabeth Marantika, dkk. (Salatiga: Satyawacana Press, 2. , 55-63. Titaley. Religiositas di Alinea Ketiga, 4. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. menyatakan bahwa setiap umat Kristen dan setiap komunitas harus mencari dan menemukan jalan yang ditunjukkan Tuhan. Kita semua diminta untuk mematuhi panggilan Tuhan untuk keluar dari zona kenyamanan yang dimiliki serta memiliki keberanian menjangkau batasbatas sejauh yang memerlukan Cahaya Injil. Dengan demikian, jalan terbaik yang patut dilakukan adalah adanya kesediaan untuk saling terbuka dan memperlengkapi. Tidak ada hal penting yang dilayankan oleh gerejagereja di Indonesia untuk mengembangkan persahabatan dan persaudaraan antar-iman selain saling berpartisipasi dan berelasi untuk membangun kemaslahatan dan kesejahteraan Lebih lanjut. Titaley menerangkan hal tersebut dalam makalah AuDiskusi Tokoh KeumatanAy di gedung Lembaga Alkitab Indonesia, di Jakarta. Menurut Titaley, akibat dari perubahan-perubahan yang terjadi tanggal 18 Agustus 1945 itu adalah bahwa semua manusia Indonesia diperlakukan sama di hadapan hukum Indonesia karena berhak menjadi Selain itu, semua orang Indonesia diperlakukan sama di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa. Di hadapan Allah SWT, atau Tritunggal mungkin sekali mereka tidak bisa dianggap sama. Menurut hemat saya, ini religiositas Indonesia yang inklusif transformatif. Inklusif karena dapat menerima keberadaan warga negara Indonesia dengan beragam agama mereka masing-masing secara setara. Transformatif karena dalam hubungan kebersamaan mereka sebagai warga negara, mereka terbuka untuk mengalami transformasi akibat perjumpaan itu. Terlepas dari pemikiran Titaley mengenai religiositas Indonesia yang inklusif dan transformatif, ia belum memberi tempat yang cukup untuk memperlihatkan wajah etis, sosial, dan . eklesial dari gereja-gereja di Indonesia dalam mengadegankan religiositas yang inklusif dan transformatif. Jika tanggal 17/18 Agustus 1945 menjadi momentum yang membuat gereja-gereja di Indonesia berteologi . oing teolog. berakar kepada kenyataan Indonesia sebagai negara, maka hal tersebut bukanlah sekadar perpanjangan realitas masa silam. sebab gereja sesungguhnya memiliki akar ke masa depan yang mengeluarkan ranting-rantingnya di masa kini dan menghasilkan buah bagi kehidupan Mandagi. AuGereja Merawat Kehidupan,Ay dalam Spiritualitas Pro-Hidup. Editor. Rahabeat Rudolf. Saimima John (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 11-17. John Titaley. AuKemerdekaan Indonesia bagi Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia. Ay Makalah Diskusi Tokoh Keumatan (LAI Jakarta, 4 Oktober 2. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin bersama dengan yang lain. 14 Dengan begitu, gereja-gereja di Indonesia mesti menghayati bahwa religiositas Indonesia yang inklusif dan transformatif tersebut dijalani lewat titik-titik sejarah ke-Indonesia-an yang majemuk dan beragam, yang semuanya dijalani sebagai anugerah Allah yang bersinar di masa kini. Ia menjadi wajah etis, sosial, dan sekaligus wajah eklesial bagi persekutuan dengan sesama dan seluruh ciptaan. Dengan demikian, menjadi terang benderang bahwa gereja-gereja di Indonesia, meminjam kalimat Agustinus dari Hippo, seorang Bapa Gereja, menjadi tanda yang kelihatan dari suatu hal yang suci, atau bentuk yang kelihatan dari anugerah Allah yang tidak 15 Untuk itu, kami menelisik lebih dalam konstruksi . eklesiologi kesatuan Indonesia yang setara yang diajukan Titaley. John Titaley. Kesatuan yang Setara Realitas proklamasi kemerdekaan Indonesia 1945 sepatutnya dipandang sebagai kenyataan teologis agar gereja-gereja di Indonesia tidak mengabaikan anugerah Yesus Kristus yang memanggilnya untuk berkarya dalam realitas Indonesia yang merdeka. Gerejagereja di Indonesia, secara pribadi dan persekutuan, wajib menjadi teladan dalam menjalani kehidupan bersama yang berkualitas, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Menurut Titaley, semua itu perlu kita lakukan agar kita dapat menjadi teladan dan karenanya bisa berbicara kepada sesama kita di luar diri kita pada tataran etnik untuk mengajak mereka hidup pada tataran bangsa sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini dan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa itu. Itulah pekabaran Injil kita di Indonesia, memberi contoh menghargai sesama secara setara, termasuk di dalam panggilan ini adalah memberi teguran dan kritik yang tegas terhadap siapa saja para pelanggar hak-hak asasi manusia. Tentu hal ini harus dirumuskan secara hati-hati dan cermat agar tatanan yang diciptakan Tuhan itu bisa berlanjut terus dalam kehidupan kita sebagai Titaley benar ketika menandaskan bahwa gereja-gereja di Indonesia mesti menjadi teladan bagi bangsa Indonesia dengan cara menghargai sesama secara setara dan memberi teguran dan kritik tegas terhadap siapa saja yang melanggar hak-hak asasi manusia. Pula, penulis sepakat dengan Titaley bahwa proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi pintu masuk Jyrgen Moltmann. The Church in the Power of the Spirit: A Contribution to Messianic Ecclesiology (SCM Press, 1. , 205. William A,Van Roo. The Christian Sacrament (Editrice Pontificia University gregoriana, 1. , 39. Titaley. Implikasi Kemerdekaan Indonesia, 14. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. untuk merumuskan dan mengonstruksikan teologi misiologi dan kemudian eklesiologi dari gereja-gereja di Indonesia. Akan tetapi, yang harus disadari dengan sepenuh-sepenuhnya bahwa gereja-gereja di Indonesia mesti menemukan, merumuskan, dan mengonstruksikan identitasnya di dalam anugerah persekutuan Allah Trinitaris. Sebab, hanya melalui anugerah Allah Trinitas, bangsa ini memroklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan begitu, gereja-gereja di Indonesia wajib memperjumpakan dan membawa misi keselamatan Allah itu untuk dialami, dijumpai, dan dirayakan. sehingga menjadi teladan di dalam kehidupan Allah Trinitas untuk mewartakan kabar baik kepada semua manusia, melalui perkataan dan perbuatan. Atau dengan lain perkataan, gereja-gereja di Indonesia merefleksikan dan meneladankan tindakan penyelamatan Allah bagi dunia melalui pengajaran, perbuatan, doktrin, dan teologinya. Hal penting lainnya yang diusulkan Titaley adalah model kesetaraan yang menempatkan segenap warga negara Indonesia melalui peristiwa Proklamasi dan UUD 1945 sebagai religiositas Indonesia. Titaley menjelaskan bahwa akibat dari religiositas Indonesia itu adalah semua manusia Indonesia sama dan sederajat di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa, dan hukum Indonesia. Hal ini merupakan suatu peradaban yang luhur dibandingkan peradaban-peradaban bangsa-bangsa lainnya, termasuk bangsa-bangsa asal agama-agama dunia itu. Hakikat Indonesia dengan demikian, yang fenomena baru itu, adalah suatu kenyataan yang menghargai semua manusia Indonesia secara setara tidak diskriminatif. Inilah Indonesia setara. Titaley dengan tepat mendemonstrasikan bahwa dalam melayankan karya berteologi dan bermisiologi yang keindonesiaan, gereja mesti memandang bahwa setiap suku, agama, ras, dan lain sebagainya dianggap setara di hadapan Tuhan serta berkontribusi bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Melalui kesetaraan tersebut yang memungkinkan seorang Leimena, yang merupakan seorang Kristen, untuk menjabat sebagai Presiden beberapa kali. Dengan demikian. Indonesia yang eklesia . dan eklesia yang Indonesia menjadi sungguh injili. sebab dengan menjadikan dirinya sebagai bangsa Indonesia, gerejagereja mengakui adanya anugerah ilahi untuk menjaga dan meneruskan karya Tuhan Dengan kata lain, teologi misiologi Kristen tidak lain adalah menjaga agar kesetaraan teologis dari Indonesia tidak hilang. Itu sebabnya. Titaley menandaskan. Gereja terpanggil untuk mendidik warga bangsa untuk memahami Pancasila dan UUD 1945 dengan baik supaya tidak memperlakukan sesamanya secara diskrimintif . idak Ibid. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin Gereja terpanggil secara riel terlibat secara politis, sosial dan budaya, dan berbagi segi sosial lainnya dengan mendidik warganya untuk melakukan panggilan ini dalam segala bidang kehidupan di Indonesia. Kita juga terpanggil untuk memberi teladan tentang kesetaraan itu dalam segala keragaman kita sebagai gereja-gereja di Indonesia. Dengan demikian, tugas gereja-gereja di Indonesia saat ini adalah bukan lagi untuk mengkristenkan Indonesia, tetapi untuk menjaga dan mempromosikan nilai-nilai luhur Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, di mana semua warga negara dan masyarakat dianggap setara. Gereja-gereja dan penganut agama lain di Indonesia juga memiliki tanggung jawab yang sama: menghormati nilai-nilai kemanusiaan yang setara. Dengan memegang teguh komitmen ini, gereja-gereja di Indonesia dapat memberikan kritik yang membangun terhadap pemerintah jika terjadi pelanggaran terhadap kehendak umum yang tercermin dan terwujud dalam filosofi kehidupan bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Dengan cara ini juga, gereja-gereja di Indonesia dapat mewujudkan Kerajaan Allah yang membawa transformasi etis moral demi mewujudkan kehidupan yang harmonis di Indonesia. Selanjutnya. Titaley menawarkan proposal mengenai eklesiologi gereja-gereja di Indonesia yang harus mencerminkan identitas kesatuan sebagai satu bangsa. Eklesiologi tersebut harus bersifat nasionalis, merah-putih. Di satu sisi, gereja-gereja tidak melepaskan identitas primordialnya, namun di sisi lain, mereka juga harus mengafirmasi identitas kesatuan yang terjalin dalam realitas Indonesia yang tunggal. Singkatnya. Titaley mendorong gereja-gereja di Indonesia untuk memroklamasikan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia. Titaley menyatakan bahwa Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) harus diubah menjadi Gereja Kristen yang Esa di Indonesia (GKEI). GKEI ini secara organisatoris berfungsi lewat sinode-sinode gereja anggota yang ada. GKEI disusul dengan nama sinode gerejanya masing-masing. Kalau saat ini gereja-gereja anggota PGI sudah bisa mencantumkan dalam nama resminya rumusan anggota PGI di baris kedua setelah nama gerejanya, maka rumusaan yang dibalik itu akan bisa diterima pula. Dengan demikian, misalnya, rumusan itu menjadi Gereja Kristen yang Esa di Indonesia Sinode Gereja Protestan Maluku. Ibid. Walter Rauschenbusch memandang secara apatis bahwa gereja telah gagal untuk membawa Kerajaan Allah di bumi. jauhnya sikap kritis terhadap pemerintah telah menjadikan gereja gagal mempersembahkan keadilan, anti kekerasan, dan perdamaian. Walter Rauschenbuch. Christianity and the Social Crisis in 21st Century: The Clasic That Woke Up the Church (New York: Harper Collins Publishers, 2. , 54. Titaley. Implikasi Kemerdekaan Indonesia, 14. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Kami sependapat dengan gagasan Titaley, bahwa sudah saatnya gereja-gereja di Indonesia mewujudkan kesatuan sebagai satu tubuh Kristus. Akan tetapi, tawaran mengenai kesatuan tersebut mesti dipahami dengan tidak menafikan pentingnya menekankan perbedaan sebab di dalam perbedaan tersebut masing-masing gereja tetap menampilkan Dengan begitu, kesatuan yang dimaksudkan bukanlah usaha mencari kesamaan an sich, melainkan kesatuan dalam kepelbagaian yang saling memperkaya dan saling Sebab, ketika menekankan kesatuan Aedalam bahasa Laurel Schneider sebagai logika satu . he logic of on. tanpa merengkuh perbedaan, justru akan mudah tergelincir ke dalam imperialisme teologis. 21 Imaji sederhananya adalah. Indonesia mesti menjadi satu "tubuh dalam keperbedaan" di mana dalam kesatuan, perbedaan itu dihidupi dan dirayakan sehingga setiap pribadi . ermasuk sebagai gerej. yang terhubung dan saling berelasi menampilkan ciri khas dan keunikan masing-masing yang memperkaya persekutuan hidup Dengan demikian, ziarah iman dan sosial yang tengah dilakoni gereja di saat ini, sembari memandang ke masa depan, seharusnya mendorong gereja-gereja di Indonesia untuk melakukan reformulasi menyeluruh terhadap bangunan teologi, misiologi, dan eklesiologi, sehingga memperlihatkan dialektika antara kesatuan dan perbedaan secara dinamis dan seimbang. Kami cukupkan dialog panjang lebar dengan Titaley, dan selanjutnya mengelaborasi pemikiran Eka Darmaputera. Eka Darmaputera. Pancasila sebagai Identitas Eka Darmaputera adalah seorang teolog Protestan Indonesia yang memiliki analisis mendalam mengenai potret kekristenan di Indonesia. Dalam artikel ini, kami tidak memaparkan seluruh pemikiran teologis Eka Darmaputera. bukan hanya karena luasnya minat dan cakupan teologis seorang Darmaputera, namun terutama karena kami lebih tertarik untuk mengkaji pemikiran Darmaputera dalam kaitannya dengan hubungan gereja dan masyarakat, sebagaimana tertuang dalam bukunya Pancasila dan Identitas Modernitas: Tinjauan Etis dan Budaya. Keprihatinan Darmaputera terhadap situasi bangsa dan gereja yang menyertai perjalanan Indonesia memasuki modernitas ini mencapai puncaknya melalui sebuah seruan yang tajam, bahwa bangsa Indonesia itu berarti: Masalah bagaimana mempertahankan identitas tanpa menghambat kemajuan, dan bagaimana kemajuan tanpa mengorbankan identitas. Masalah AuidentitasAy dan Aumodernitas. Ay Tapi identitas bukanlah Laurel C. Schneider. Beyond Monotheism: A Theology of Multiplicity (Routledge, 2. , 1-7. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin sesuatu yang sekadar dipertahankan. Sesungguhnya, ia masih merupakan sesuatu yang mesti Kedua kata, identitas dan modernitas, merupakan fokus utama kegelisahan Darmaputera. Darmaputera mengamati bahwa di balik keragaman luar biasa pada tataran sosial, terdapat orientasi kultural dan nilai bersama yang dapat menjadi landasan bagi kesepakatan nilai-nilai keindonesiaan. Ia harus "menjadi" . dan ontologi relasional berteologi secara kontekstual untuk memaknai Pancasila dalam konteks kesatuan dan keragaman tersebut. Darmaputera menandaskan, "Ketika berbicara mengenai Indonesia, terdapat asumsi umum bahwa baik upaya mencari identitas baru maupun mencapai kesepakatan nilai telah terwujud melalui Pancasila. "23 Kami berpendapat bahwa gereja-gereja di Indonesia mesti merumuskan dan mencapai kesepakatan bersama guna menjadi komunitas iman yang terbuka dan berpijak pada esensi hidup bersama, yang dianalogikan Eka sebagai taman yang berwarna-warni. Atau dengan kata lain, bagaimana wajah partisipasional gereja yang memperlihatkan dirinya sebagai milik Allah Trinitas sekaligus yang diutus untuk menghadirkan kasih Allah bagi semua Menurut Darmaputera, keberagaman tersebut diharapkan diwujud-nyatakan melalui keterlibatan dalam upaya pengisian dan pengalaman terhadap Pancasila. Caranya adalah dengan menghidupkan kembali integritas dan identitas di dalam dan melalui Pancasila sebagai fondasi kebangsaan dalam demokrasi liberal dan moralitas publik. Dengan begitu. Pancasila menjadi "ruang perjumpaan" dan "tempat pesemaian" dalam terang orientasi nilai dan budaya Indonesia yang saling menggerakkan dan menghidupkan. Bagi Darmaputera, gagasan tentang Indonesia yang adalah Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman dan kesatuannya, pada dasarnya merupakan identitas relasional. 24 Darmaputera kemudian memperluas bangunan . teologisnya dengan menegaskan bahwa realitas menjadi Ae sebagai Ae orang Indonesia dapat terjadi apabila ada interaksi dan interrelasi yang seimbang antara kebudayaan dan lingkungannya. 25 Menurutnya, cara terbaik untuk memahami realitas keindonesiaan adalah melalui jalur sosial-kultural. Hal ini membuatnya kemudian mengelompokkan masyarakat Indonesia ke dalam dua tipologi: masyarakat pesisir, dan Eka Darmaputera. Pancasila. Identitas dan Modernitas: Tinjauan Etis dan Budaya (Jakarta. BPK Gunung Mulia. , 5. Ibid. , 11. Ibid. , 21. Ibid. , 20. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. masyarakat pedalaman. Masyarakat pesisir hidup dari perdagangan dan pelayaran. masyarakat pedalaman hidup dari pertanian dan kekuatan militer. Darmaputera menegaskan bahwa gereja-gereja di Indonesia dalam hubungannya Kami mengasumsikan bahwa dengan memahami konteks kewilayahan suatu masyarakat secara tepat dan proper membuat gereja benar-benar menggali dan . merumuskan esensi dan wujud dirinya secara aktual dan proper. Oleh sebab itu, partisipasi . gereja gereja di Indonesia bukan berada di realitas yang lain, melainkan memasuki ke dalam sejarah budaya dan lingkungan di mana masing-masing gereja berkembang. Hal ini yang membuat gereja relevan dan kontekstual. Lantas, apakah gereja-gereja Indonesia telah menunjukkan relevansi dan signifikansi dalam kehidupan berbangsa? Darmaputera menjawab dengan tegas: belum! Pemberian sumbangan dua kilogram emas kepada pemerintah27 menunjukkan bahwa gereja hanya . berpartisipasi dan belum menunjukkan jati dirinya sebagai komunitas teladan. Dari sinilah. Eka mengubah watak berteologinya: dari partisipasi menuju keteladanan. Eka Darmaputera. Model Keteladan Dalam buku Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia. Darmaputera menyerukan transformasi total atas kiprah gereja-gereja di Indonesia. Dengan sangat tajam. Darmaputera menjelaskan bahwa gereja-gereja kita sedang menuju kepada irelevansi total padahal sesuatu yang tidak relevan, tidak mungkin berfungsi, dan sesuatu yang tidak berfungsi? Mati! Gereja-gereja kita mengalami insignifikansi total. Sesuatu yang dianggap tidak berarti, sulit sekali berfungsi. Dan sesuatu yang tidak berfungsi? Mati!28 Dari lengkingan tajam itu, kita melihat bahwa Darmaputera telah mengubah total kosakata teologinya untuk menyebut bahwa praktik berteologi . oing teolog. gereja-gereja di Indonesia harus direkonstruksi, sebab sudah tidak relevan dan tidak signifikan. Darmaputera bahkan lebih jauh mengamati bahwa gereja-gereja di Indonesia telah kehilangan panggilan sebagai garam dan terang, dan karena itu pula, melemahkan jati diri misionernya ketika berhadapan dengan otorianisme kekuasaan Orde Baru. 29 Singkatnya, gereja harus lebih memusatkan perhatian pada panggilannya untuk menegaskan identitasnya Ibid. , 19. Eka Darmaputera. Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Ibid. , 470. Ibid. , 472. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin sebagai milik Allah Trinitas guna mengadegankan karya penyelamatan Allah bagi bangsa dan negara. Dengan begitu, perhatian gereja tidak diarahkan pada relasi gereja dan negara an sich lantas mengabaikan perhatiannya pada hak-hak masyarakat sipil. Itu pula sebabnya. Darmaputera mengubah haluan Aumodel partisipasiAy dengan doktrin positif, kreatif, kritis, dan realistis yang telah membuat kekristenan terlalu bertumpu pada pembangunan gereja yang institusional, formal, dan struktural, lalu mengusulkan model keteladanan. Kami berpendapat bahwa Aumodel partisipasiAy mesti diberikan alternatif baru yang memperlihatkan wajah spiritual dan etis-sosial gereja. Artinya, partisipasi tersebut mesti dipahami sebagai rahmat ilahi yang memungkinkan gereja memasuki persekutuan Allah Trinitas, lantas membawakannya ke dalam persekutuan bersesama dan seluruh ciptaan lainnya di tempat di mana gereja ada. Jika tidak demikian, gereja justru melebur dalam kekuasaan dan menyibukkan diri dengan konflik, semakin tidak relevan dan tidak signifikan, termasuk konflik seputar institusi, formalitas, dan struktur. serta soal uang, prestise, dan jabatan. Terhadap hal ini, penulis mengasumsikan bahwa bahwa gereja-gereja akhir-akhir ini lebih sering memunculkan konflik yang melibatkan para pemimpin gereja, pendeta, penatua, dan diaken, yang menjadi salah satu penyebab ketidaksignifikan dan ketidakrelevanan gereja dewasa ini. Hal ini menjadi penanda bahwa gereja-gereja memang semakin tidak relevan dan kehilangan watak "kritik dan realistis" sehingga gereja harus kembali ke jati diri misionernya yang asli: sebagai kekuatan moral, sebagai sebuah umat, dan sebagai komunitas eksemplaris yang memberi contoh dan teladan bagi bangsa Indonesia. Menariknya. Darmaputera menegaskan bahwa doktrin positif, kreatif, kritis, dan realistis tidak dapat dilanjutkan, sebab ia muncul pada konteks 1970-an dan hanya diarahkan pada penguasa, bukan pada "dinamika yang ada di arus bawah". 32 Dalam kaitan ini, pandangan Darmaputera benar, sebab gereja harus secara terbuka dan terus-menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan. Pada satu sisi, gereja mesti memberikan perhatian yang besar terhadap realitas masyarakat supaya hak-haknya sebagai warga negara mendapat porsi yang tepat. namun pada sisi lainnya, gereja harus tetap mengkritisi pemerintah jika kebijakan-kebijakan tidak berpihak pada kesejahteraan dan kebaikan hidup Dengan demikian, perubahan masyarakat yang terus bergerak dengan cepat dan Ibid. , 471. Ibid. , 472. Ibid. , 474. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. dinamis harus menjadi proses mendasar kritikan gereja secara konstruktif terhadap negara, agar berguna bagi kemanusiaan. Selanjutnya. Darmaputera memutuskan untuk beranjak dari relasi gereja-penguasa menuju relasi gereja dengan dinamika arus bawah. Model ini, demikian ditandaskan Joas Adiprasetya, sebagai model partisipatif yang . mendominasi pemikiran Darmaputera sebelum tahun 1998. 33 Apa maknanya? Persoalannya jelas. Pertama, model ini berorientasi pada relasi gereja dan negara, sementara masyarakat sipil tidak mendapatkan perhatian yang lebih besar. Kedua, model partisipasi ini dengan mudah mengarahkan kepada upaya menyamakan partisipasi gereja dalam misi Allah dengan partisipasi gereja dalam proyek pemerintah. Padahal, dalam banyak kasus sebagaimana seharusnya ditegaskan melalui watak "kritis", partisipasi gereja dalam misi Tuhan seharusnya justru diekspresikan melalui penolakan gereja untuk berpartisipasi . tau de-partisipas. terhadap proyek pemerintah, yaitu ketika proyek pemerintah atau pemerintah itu sendiri bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Pada akhirnya. Darmaputera lebih memilih untuk mengusulkan model yang sama sekali berbeda, yakni apa yang penulis sebut sebagai model keteladanan, atau dalam istilah Darmaputera sendiri percontohan . 34 Gereja, dengan mengusung model keteladanan, akan benar-benar disegani dan dihormati meskipun tidak ditakuti, bahkan mungkin dibenci, sebagaimana ditandaskan Adiprasetya. 35 Akan tetapi, justru kehadiran gereja akan benar-benar didengarkan sehingga tugas misioner gereja untuk menghadirkan karya keselamatan Allah di bumi Indonesia sungguh-sungguh relevan dan signifikan. Gereja-gereja di Indonesia, dengan demikian, memperkenalkan keteladanan Yesus Kristus dalam ruang publik Indonesia, sehingga menjadi teladan bagi bangsa ini dalam memproklamasikan keadilan, kebenaran, dan kemaslahatan bersama. Konsep Fundamental: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Dialog dengan Titaley dan Darmaputera mengungkapkan adanya sesuatu yang keliru dan masih belum lengkap dalam konstruk . eklesiologi yang belum memperlihatkan identitas diri gereja sebagai milik Allah Trinitas, sekligus belum menunjukkan relasi eklesial-sosialnya dalam konteks Indonesia. Oleh sebab itu, penulis mengajukan tiga konsep Joas Adiprasetya. AuEka Darmaputera: Sang Teolog di Rute Penghubung Gereja dan Masyarakat. Ay Makalah Kuliah Umum STFT Jakarta. Februari 2020, 1-12. Darmaputera. Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, 474. Adiprasetya. AuEka DarmaputeraA,Ay 10-11 Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin fundamental yang dapat digunakan untuk mengonstruksi . eklesiologi, yakni, partisipasional, inkarnasional, dan relasional. Konsep tersebut pertama-tama hendak menunjukkan tentang kehadiran gereja di Indonesia sebagai rahmat Allah Trinitas demi mengerjakan cinta kasih, keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera. Atau dengan lain perkataan gereja menjadi wajah Allah Trinitas bagi semua orang lalu memandang semua orang juga sebagai wajah Allah. Dengan begitu, konsep tersebut merupakan perluasan dari konsep kesetaraan dan keteladanan yang diusulkan oleh Titaley dan Darmaputera. Konsep pertama, partisipasional. Partisipasional menjadi kata kunci yang penting untuk memperlihatkan gerak rahmat Ilahi yang memasuki kehidupan manusia dan seluruh ciptaan, lalu mengundang manusia dan ciptaan lainnya memasuki persekutuan Allah Trinitas. Jadi, partisipasional gereja di dalam konteks kehidupan sehari-hari, pertama-tama dan setepatnya, menunjukkan partisipasional dari kehidupan persekutuan Allah Trinitas: Bapa bersama Anak dan di dalam kuasa Roh Kudus. Oleh sebab itu, partisipasional gereja mesti dipahami sebagai undangan untuk memasuki rahmat ilahi dari persekutuan Trinitas Atau dengan perkataan lain, meminjam kalimat Pete Ward, gereja diundang memasuki rahmat ilahi dari persekutuan Allah Trinitas lantas mengaliri rahmat Ilahi ke dalam kehidupan manusia. Gerak rahmat Ilahi menubuh bagi dunia bersumber dan datang dari Bapa di dalam Anak dan Roh Kudus . Patre per Filum in Spirit. , dan kembali kepada Bapa melalui Sang Anak di dalam cinta kasih Roh Kudus . d Patre per Filum in Spirit. Melalui rahmat Ilahi dari persekutuan Allah Tritunggal, manusia dan seluruh ciptaan dimungkinkan untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah Trinitas. Oleh karena itu, partisipasi gereja di dalam dunia merupakan gambaran . dari partisipasi di dalam kehidupan persekutuan Allah Trinitas itu sendiri. Singkatnya, partisipasi gereja di dalam dunia untuk memperlihatkan hakikat dan misi Allah yang mengarahkan cinta kasih-Nya kepada seluruh ciptaan. Oleh karena itu, ketika partisipasi dirumuskan dalam eklesiologi gereja, maka hendak memperlihatkan bahwa gereja-gereja di Indonesia memahami dirinya sebagai persekutuan milik Allah Trinitas, diundang memasuki kehidupan Misteri Allah Tritunggal di dalam rahmat Ilahi. Lalu, melalui rahmat Ilahi gereja menjadi wajah/gambar Allah Trinitas yang mengonkretkan partisipasinya di dalam kehidupan Allah Trinitas guna mengerjakan Ward. Participation and mediation, 7. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan bagi persekutuan sesama dan seluruh ciptaan di bumi Indonesia. Konsep kedua, inkarnasional. Gagasan inkarnasional menjadi konsep penting yang didasarkan kepada Allah yang mengarahkan diri-Nya bagi dunia melalui karya inkarnasi Kristus dalam Roh Kudus. Inkarnasi merefleksikan keterbukaan Allah Trinitas yang mengarahkan diri-Nya bagi dunia melalui Kristus dan Roh Kudus. Di dalam inkarnasilah. Allah Trinitas mengomunikasikan kasih-Nya, sehingga dunia berada dalam rengkuhan kasih Sang Trinitas Kudus. Oleh karena itu, ketika gereja-gereja di Indonesia memasukkan inkarnasional dalam eklesiologinya, maka gereja menunjukkan hakikat dirinya sebagai milik Allah Trinitas yang mengalami rengkuhan Allah Trinitas di dalam kematian dan kebangkitan Kristus melalui Roh Kudus. Oleh karena itu, gereja diutus untuk menyelami konteks di mana gereja itu ada demi mengerjakan misi Allah, lantas membawa rengkuhan Allah Trinitas yang menubuhkan diri-Nya bagi dunia melalui Anak dan Roh untuk diperjumpakan bagi semua ciptaan. Gereja meng-inkarnasi-kan dirinya bersama dengan masyarakat serta terlibat bersama untuk memperjuangkan kebaikan dan keadilan. Gereja harus senantiasa peka terhadap suara-suara yang terpinggirkan dan suara para korban ketidakadilan yang mengalami perampasan hak-hak hidup. Kehadiran gereja menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara, terutama bersikap kritis terhadap pemerintah ketika ia tidak berupaya menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bagi masyarakat. 37 Di dalam gerak inkarnasional, gereja dengan setepat-tepatnya menjadi teladan bagi masyarakat, bangsa, dan negara, sebagaimana usulan Darmaputera. Konsep ketiga, relasional. Relasi menjadi konsep penting untuk menunjukkan bahawa keberelasian gereja dengan sang liyan sebagai representasi dari persekutuan relasional Sang Trinitas. Relasi yang terjadi dalam Trinitas menunjukkan sebuah persekutuan yang relasional, di mana satu Pribadi menemukan hakikat dirinya dalam relasi dengan PribadiPribadi Trinitas yang lain. Keberelasian Pribadi-Pribadi Trinitas inilah yang membentuk persekutuan . sebab itu koinonia bukanlah persekutuan manusia, tetapi pertamatama . an satu-satuny. menunjuk kepada persekutuan Allah Tritunggal . oinonia tou the. Di dalam relasi Trinitas itulah, gereja diundang pula untuk mewujudkan relasi dari Allah Trinitas bagi dunia. Relasionalitas merupakan karakter yang kuat dari Allah Trinitas yang Rauschenbuch. Christianity and the Social Crisis in 21st Century, 55. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin terjadi karena kasih, maka gereja pun mengundang setiap orang untuk berelasi di dalam kasih Ilahi. Ketika gereja-gereja di Indonesia memasukkan relasionalitas dalam rumusan eklesiologinya, maka gereja telah menunjukkan bahwa dirinya adalah gereja yang hidup di dalam relasi persekutuan Allah Tritunggal dan mengalirkan relasi Cinta dari Trinitas itu dalam komunitas gerejawinya maupun di luar komunitas. Relasi antar-Pribadi Trinitas adalah relasi yang mutual dan setara, dan karena itu, mengingatkan gereja untuk membangun relasi yang mutual dan setara di dalam komunitasnya maupun dengan orang lain di luar komunitas gerejawi. Ia menjadi perpaduan yang menarik dari apa yang diusulkan Titaley mengenai kesetaraan, dan usulan Darmaputera perihal keteladanan. Dengan begitu, menjadi gereja yang relasional berarti mengonkretkan relasi intim yang dinamis, inklusif, dan setara dalam menggaungkan kehidupan Allah Tritunggal ke dalam persekutuan dengan sesama ciptaan lainnya. Dengan demikian, benarlah apa yang dikatakan Leonard Sweet. Au The Chruch is a network of relationship. with God, with the Scriptures, with each other, with creation,. All space is God space. Church is GodAos space. Ay 39 Demikianlah partisipasional, inkarnasional, dan relasional mengonkretkan identitas gereja-gereja di Indonesia sebagai milik Allah Trinitas dalam pergumulan dan pergulatan eklesial-sosialnya dalam konteks Indonesia. Wujud konkret dari gereja yang partisipasional, inkarnasional, dan relasional akan diperlihatkan melalu model bersekutu, berbagi, bersama, dan bergandong Ae yang akan penulis bahas selanjutnyaAe sebagai prinsip-prinsip penting untuk berinteraksi di dalam komunitas gereja maupun dengan komunitas lainnya di luar gereja. Model Interaksi Gereja di ruang publik Keagamaan dan Kebangsaan John D. Zizioulas, seorang teolog Ortodoks, menandaskan bahwa gagasan misteri keselamatan Allah yang dirayakan gereja as not the end of church pilgrimage melainkan the beginning of the churchAos life, the arche. 40 Hal ini menunjukkan bahwa gereja hadir karena karunia-Nya, dan kehadirannya bukanlah sekadar merayakan masa lalu, tidak juga berorientasi hanya ke masa depan, melainkan berkarya di masa kini sebagai manifestasi kasih Allah bagi dunia. Pada level tersebut, gereja sungguh-sungguh dan sepat-tepatnya menjadi gereja yang partisipasional, inkarnasional, dan suasana relasional sebagaimana telah Moltmann. God in Creation, 16 Sweet. So Beautiful, 30, 43, 140 John D. Zizioulas. Being as Communion: Studies in Personhood and the Church (Crestwood. NY: ST VladimirAos Seminary Press. , 96. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. saya ulas sebelumnya. Lantas, apa model yang relevan untuk memperlihatkan wajah gereja yang partisipasional, inkarnasional, dan relasional dalam berinteraksi di tengah konteks keagaman dan kebangsaan di Indonesia yang majemuk? Howard A. Snyder, dalam bukunya Decoding the Church: Mapping DNA of Christ's Body, memperlihatkan bahwa prinsip eklesial yang majemuk, karismatik, lokal, dan profetis menjadi model yang relevan bagi gereja dalam mengemban misi Allah secara utuh sesuai kesaksian Alkitab. 41 Snyder menandaskan bahwa Notae Ecclesiae: Una Sancta Catholica et Apostolitica hanya membentuk satu untaian DNA saja, dan ini tidak lengkap. Oleh karena itu. Snyder berpendapat bahwa perlunya menemukan untaian DNA yang kedua agar Gereja dapat dipahami secara utuh dan saling melengkapi. 42 Dengan memiliki dua untaian . ouble heli. yang lengkap. Snyder ingin menerangkan usulannya bahwa gereja itu esa sekaligus kudus sekaligus kharismatis. universal/am sekaligus lokal-kontekstual. dan rasuli sekaligus profetis. 43 Dengan memerhatikan empat ciri lain selain Una Sancta Catholica et Apostolica, yakni kemajemukan . elain kesatua. , karismatik . elain kesucia. , lokalitas . elain kekatolika. , dan sifat profetis . elain kerasulia. , gereja dapat sepenuhnya mencerminkan gerakan misionaris profetis dalam melaksanakan misi Allah yang tertuju pada dunia. Melalui pendekatan DNA pula. Joas Adiprasetya mengusulkan empat notae lainnya, yakni majemuk, rapuh, mengembara, dan bersahabat . iverse, vulnerable, pilgriming, and friendl. sebagai model operatif bagi gereja empiris. 44 Adiprasetya menguraikan bahwa model satu-majemuk menempatkan dimensi gereja universal dan gereja lokal dalam ketegangan dinamis. Kesatuan dan keberagaman gereja perlu dihargai karena bersumber dari persekutuan Trinitas sendiri, yang mencerminkan kesatuan esensial sekaligus keberagaman hipostasi. Model kedua, sebagaimana ditekankan oleh Adiprasetya, mengafirmasi identitas gereja yang kudus namun rapuh sekaligus terbuka terhadap dunia. Pada satu sisi, menurut Adiprasetya, penekanan semata-mata pada aspek kekudusan tanpa memerhatikan kerapuhan gereja dapat mengakibatkan sikap eskapisme-eklesial yang akan membuat gereja tampak Howard Snyder. Decoding the Church: Mapping the DNA of ChristAos Body (Eugene. Oregon: WIPF&Stock 2. , 76-77. Ibid. , 43. Ibid. , 23. Joas Adiprasetya. Berteologi Dalam Iman: Dasar-Dasar Teologi Sistematika-Konstruktif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 286. Ibid. , 287. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin terkontaminasi dosa. Di sisi lain, penekanan berlebih pada kerapuhan juga dapat memicu keputusasaan jika tidak diimbangi dengan kesadaran untuk menjalani kehidupan yang kudus di tengah dunia. Dengan demikian, diperlukan keseimbangan yang saling melengkapi antara kedua aspek tersebut. Model ketiga adalah katolik-mengembara. Adiprasetya menjelaskan bahwa model ini menggambarkan bagaimana gereja menghargai sifat inklusinya. Aspek universalitas yang merujuk pada ekumenisme . inggal di dalam dunia sebagai rumah bersam. dipadukan dengan pengembaraan gereja yang memandang bahwa di dalam dunia terdapat jalan yang berliku dan sunyi yang harus ditempuh gereja demi memperjuangkan keadilan dan 47 Pada akhirnya, model keempat yang diuraikan ialah kerasulan dan Adiprasetya menandaskan bahwa dimensi persahabatan eklesial dapat mengubah hierarki gereja yang kaku akibat penekanan berlebihan pada jabatan-jabatan Namun demikian, perlu ditekankan pula bahwa penekanan yang berlebihan pada persahabatan harus dihindari, agar tidak menolak kepemimpinan struktural yang sehat, yang dapat memicu timbulnya anarki dalam lingkungan gereja. Dari sudut pandang Adiprasetya dan Snyder yang menggagas tanda gereja yang disandingkan dengan empat tanda . klasik gereja yakni. Una Sancta Catholica et Apostolica, maka apa yang kami usulkan hanyalah catatan kaki yang bersifat komplementer dan secara operatif untuk mengonkretkan gagasan partisipasional, inkarnasional, dan relasional sebagai model bagi gereja berinteraksi dalam ruang publik keagamaan dan kebangsaan di Indonesia. Model pertama, bersekutu. Gereja-gereja di Indonesia menunjukkan hakikat dirinya sebagai milik dari persekutuan Trinitas, bersekutu bersama Allah di dalam Sang Anak melalui cinta kasih Roh Kudus. Dokumen The Church menerangkan dengan indahnya. Di dalam gereja, melalui Roh Kudus, orang-orang percaya dipersatukan dengan Yesus Kristus dan dengan demikian menjalin hubungan yang hidup dengan Sang Bapa, yang berfirman kepada mereka dan mengundang mereka untuk memberikan tanggapan sejati. persekutuan yang didirikan secara ilahi. Gereja adalah milik Allah dan tidak hadir untuk dirinya sendiri. Secara hakiki ia bersifat misional, dipanggil dan diutus untuk mempersaksikan di dalam kehidupannya sendiri persekutuan yang Allah kehendaki bagi seluruh umat manusia dan bagi seluruh ciptaan di dalam kerajaan Allah. Ibid. , 288. Ibid. , 288/289. Ibid. , 289. World Council of Churches The Church: Towards a Common Vision (Geneva: World Council of Churches Publications, 2. , . Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Gereja diundang untuk bersekutu dalam persekutuan Trinitaris, sekaligus menampakkan kebersekutuannya di dalam kehidupan Ilahi kepada dunia. Singkatnya, gereja merelasikan persekutuannya dengan Allah Tritunggal dengan mengarahkan persekutuan Allah Trinitaris ke dalam dunia. Jadi, bersekutu dalam Allah Trinitas sekaligus bersatu dengan sesama dan seluruh ciptaan, melampaui batas-batas kultural maupun keagamaan. Model kedua, berbagi. Gereja meneladani karya keselamatan Allah Trinitas bagi dunia melalui Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus. Sebagaimana Anak berbagi . hidup bersama Bapa melalui kuasa Roh Kudus. Oleh karena itu, keterlibatan gereja dalam hal berbagi merupakan cerminan kasih Allah Trinitas yang menubuhkan diri-nya melalui karya inkarnasi Kristus dan Roh Kudus bagi dunia. Dokumen The Church menulisi: Ay Dengan meniru teladan Yesus. Gereja dipanggil dan diberdayakan dengan secara khusus untuk berbagi dengan mereka yang menderita dan peduli dengan mereka yang membutuhkan dan yang terpinggirkan. Ay50 Konsep berbagi ini, misalnya, telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Maluku, seperti yang terkandung dalam adagium Ausagu salempeng dipata dua, ale rasa beta rasaAy. Ungkapan lokal ala Maluku tersebut merujuk pada suatu krisis kehidupan yang . apat saj. terjadi dalam perjalanan hidup seseorang. Namun, krisis tersebut kemudian mendorong tindakan berbagi agar orang lain juga dapat menikmati keindahan hidup secara bersama-sama. Model ketiga, bersama. Gereja-gereja di Indonesia melakukan embaranya tidak sendiri melainkan dalam kebersamaan dengan sang liyan. Sebagai milik dari Allah Trinitas, gereja terlibat untuk bergerak bersama dalam mewujudkan misi Allah di dunia yaitu keadilan, kasih perdamaian dan damai sejahtera. Dokumen The Church menegaskan. Ay. bertindak bersama untuk menghadirkan bantuan bagi manusia yang menderita dan menolong menciptakan sebauh masyarakat yang menumbuhkan martabat manusia. Orangorang Kristen akan berusaha memperjuangkan nilai-nilai kerajaan Allah dengan cara bekerja sama dengan para oengikut agama-agama lain dan bahkan dengan mereka yang tidak memiliki keyakinan religius apa pun. Demikian pula dengan panggilan untuk hidup bersama di bumi Indonesia yang dianugerahi Allah, di mana gereja mesti memperlihatkan dirinya sebagai gerak embara Ilahi yang dilakukan Allah melalui Anak dan Roh Kudus. Dengan memahami dirinya sebagai gambar Allah . mitatio De. , gereja lebih terbuka dan inklusif. Gereja-gereja di Indonesia tidak lagi memandang dirinya sebagai entitas yang eksklusif, melainkan sebagai bagian dari Ibid. , 66. Ibid. , 65. Eklesiologi Keindonesiaan: Partisipasional. Inkarnasional. Relasional Jerry Paulus Takdare. Agustinus M. L Batlajery. Johni Chr. Ruhulessin komunitas yang lebih luas di bumi Indonesia. Sebab itu, dengan memperluas jangkauan dalam embara bersama, gereja dapat dengan tepat mewujudkan misi Allah. Pada akhirnya, model keempat: bergandong. Ber-gandong muncul sebagai hasil dari perayaan atas keberagaman dalam suatu persekutuan, serta merayakan hidup yang saling berbagi saat menjalani perjalanan bersama. Model ini menjadi sangat relevan dalam konteks keagamaan dan kebangsaan Indonesia yang pluralistik, di mana seluruh masyarakat terikat dalam ikatan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, dan rasa kebersamaan. Di dalam ber-gandong pula, kita saling membuka tangan, menunggu, menutup tangan lalu kembali membuka tangan, sehingga bergandong menampakan AuruangAy untuk saling merembesi dalam relasi yang mutual sekaligus tetap berada pada pihak masing-masing demi mengerjakan kasih dan kebaikan yang telah dialami bersama Allah. KESIMPULAN Artikel ini telah berusaha untuk menunjukkan bahwa . eklesiologi mesti dirumuskan dan dikonstruksikan untuk memperlihatkan identitas gereja sebagai milik Allah Trinitas dalam mengerjakan karya misionalnya di bumi Indonesia. Melalui analis terhadap pemikiran Titaley dan Darmaputera memperlihatkan bahwa kontruksi . eklesiologi gereja masih belum lengkap, dan karena itu, gereja . gagal memperlihatkan hakikat dan esensi dirinya dalam mengerjakan misi Allah. Oleh karena itu, konsep partisipasional, inkarnasional, dan relasional dapat menjadi alternatif baru bagi gereja dalam merumuskan dan mengonstruksi . Demikianlah gereja pun dapat secara tepat merumuskan model interaksi dengan semua orang dan seluruh ciptaan, sebagaimana yang diusulkan penulis melalui model bersekutu, berbagi, bersama, dan bergandong. Model ini memberi kesempatan yang luas bagi gereja untuk saling bersekutu, berbagi, bersama, dan bergandong dengan siapa saja. Dengan demikian, gereja sungguh-sungguh menjadi wajah Allah Trinitas bagi siapa saja di bumi Indonesia yang sangat dikasihi dan dirahmati Allah. DAFTAR PUSTAKA