Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. September 2025 MOZAIK NILAI SEBAGAI FONDASI PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DIGITAL Tresna Ridwan Firmansyah1. Djodi Amala2. Sobariah3. Dadi Supriadi4. Muchamad Rifki5 1,2,3 STAI Bhakti Persada Bandung. Indonesia 4,5 Institut Miftahul Huda Subang. Indonesia Email: tresna0305@gmail. com1, djodiamala@gmail. com2, mardhotilah. umiiya83@gmail. dadisupriadi72Agmail. com4, rifki. muchamad@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received: 2025-09-08 Revised : 2025-09-15 Accepted: 2025-09-23 KEYWORD Mosaic of Values. Character Education. Digital Age KATA KUNCI Mozaik Nilai. Pendidikan Karakter. Era Digital ABSTRACT The digital era presents both opportunities and challenges for the world of education, particularly in shaping the character of students. Advances in information technology often give rise to moral crises, ethical degradation, and weak self-control among the younger generation. Therefore, an approach is needed that can bridge the gap between digital development and the instillation of noble values. The concept of a mosaic of values is seen as a relevant strategy, as it brings together various moral, spiritual, social, and cultural values into a unified whole that can shape the character of students. This study aims to examine the urgency of the value mosaic as the foundation of character education in the digital age, emphasizing the importance of integrating religious, ethical, and humanitarian values into the education system. The study method used is qualitative with a literature review approach to education literature, value philosophy, and Islamic perspectives. The results of the study show that the mosaic of values is not just a collection of norms, but a system that complements and strengthens each other, so that it can become a solid foundation in facing the challenges of digital globalization. Thus, character education based on a mosaic of values is expected to produce a generation that is intellectually intelligent, emotionally mature, and has high integrity in social ABSTRAK Satu Era digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembentukan karakter peserta didik. Kemajuan teknologi informasi seringkali memunculkan krisis moral, degradasi etika, serta lemahnya kontrol diri generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan yang mampu menjembatani antara perkembangan digital dengan penanaman nilai-nilai luhur. Konsep mozaik nilai dipandang sebagai strategi yang relevan, karena menyatukan berbagai nilai moral, spiritual, sosial, dan budaya menjadi satu kesatuan utuh yang dapat membentuk karakter peserta Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji urgensi mozaik nilai sebagai fondasi pendidikan karakter di era digital, dengan menekankan pentingnya integrasi nilai religius, etis, dan kemanusiaan dalam sistem pendidikan. Metode kajian yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan studi pustaka terhadap literatur pendidikan, filsafat nilai, dan perspektif Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa mozaik nilai bukan hanya sekadar kumpulan norma, melainkan sebuah sistem yang saling melengkapi dan memperkuat, sehingga mampu menjadi landasan kokoh dalam menghadapi tantangan globalisasi Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis mozaik nilai 81 | JPI. Vol. No. September 2025 diharapkan dapat melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, serta berintegritas tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Pendahuluan Pendahuluan Perubahan yang terjadi di era digital sudah terasa sampai ke ranah paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara kita berkomunikasi, mengakses hiburan, sampai cara belajar di ruang kelas. Semua serba cepat, praktis, dan instan. Di satu sisi, kondisi ini memberikan banyak kemudahan, tapi di sisi lain juga melahirkan tantangan baru, khususnya dalam pembentukan karakter generasi muda. Teknologi membuat generasi sekarang tumbuh dengan akses informasi yang luar biasa luas. Mereka bisa tahu apa saja hanya dengan satu klik. Namun, derasnya arus informasi itu juga membawa dampak Tidak jarang, anak muda terjebak pada perilaku konsumtif, hedonis, bahkan mulai kehilangan pegangan pada nilai-nilai yang selama ini menjadi landasan hidup masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah pendidikan sudah cukup kuat untuk menjawab tantangan zaman digital? Sekadar menguasai pengetahuan dan teknologi jelas tidak Pendidikan seharusnya juga menjadi sarana membentuk pribadi yang berkarakter, yang mampu membedakan mana yang benar dan salah, serta bisa bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Konsep mozaik nilai menjadi tawaran menarik untuk menjawab persoalan tersebut. Mozaik nilai dapat dipahami sebagai kumpulan nilai moral, spiritual, sosial, dan budaya yang saling melengkapi. Ibarat potongan-potongan kecil dalam sebuah gambar besar, setiap nilai memiliki peran penting untuk membentuk keutuhan karakter seseorang. Tanpa satu bagian pun, gambaran itu terasa kurang Ketika diterapkan dalam pendidikan, mozaik menyeimbangkan kemampuan akademik dengan sikap hidup yang baik. Generasi muda bukan hanya diarahkan untuk mahir dalam teknologi, tetapi juga diajak memahami pentingnya kejujuran, tanggung jawab, empati, dan spiritualitas. Dengan begitu, perkembangan digital tidak membuat mereka tercerabut dari akar nilai yang seharusnya mereka Nilai-nilai yang ada dalam mozaik bukanlah sesuatu yang statis, melainkan bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan Etika dalam berkomunikasi, misalnya, dulu lebih banyak dipraktikkan secara tatap muka, kini harus diterapkan juga dalam ruang digital. Hal ini menunjukkan bahwa mozaik nilai bersifat dinamis, fleksibel, dan tetap relevan untuk menghadapi berbagai perubahan sosial yang muncul akibat kemajuan teknologi. Di sinilah pendidik memiliki peran penting sebagai teladan sekaligus fasilitator, yang tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga menunjukkan praktik nyata dari nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Pendidikan karakter juga tidak bisa berdiri sendiri di sekolah. Keluarga dan masyarakat memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kepribadian anak. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial akan menciptakan ruang belajar yang lebih menyeluruh. Jika setiap pihak mampu mengambil perannya, mozaik nilai akan hidup secara konsisten dalam keseharian peserta didik, bukan sekadar menjadi konsep yang diajarkan di ruang kelas. Perhatian terhadap pendidikan karakter berbasis nilai juga semakin penting karena dunia digital cenderung menciptakan budaya baru yang belum tentu selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa. Fenomena seperti cyberbullying, hoaks, ujaran kebencian, dan kecanduan media sosial adalah contoh nyata yang menunjukkan lemahnya kontrol Dengan menguatkan fondasi nilai sejak dini, generasi muda dapat memiliki filter moral yang membuat mereka lebih bijak dalam menggunakan Jurnal ini mencoba mengkaji urgensi mozaik nilai sebagai fondasi pendidikan karakter di era Pembahasan akan diarahkan pada bagaimana integrasi nilai religius, etis, dan kemanusiaan bisa ditanamkan dalam sistem pendidikan, sehingga generasi muda tidak hanya unggul secara intelektual tetapi juga matang secara moral dan emosional. Harapannya, pendidikan karakter berbasis mozaik nilai mampu melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. Pemilihan metode ini didasarkan pada tujuan penelitian yang lebih menekankan pada analisis konsep dan gagasan daripada pengumpulan data Kajian difokuskan pada berbagai sumber literatur, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, serta Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 82 karya ilmiah lain yang relevan dengan topik pendidikan, filsafat nilai, dan perspektif Islam. Dalam proses penelitian, data dikumpulkan melalui telaah literatur yang berkaitan dengan konsep mozaik nilai, pendidikan karakter, dan tantangan era digital. Sumber-sumber tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis untuk menemukan keterkaitan antara nilai moral, spiritual, sosial, dan budaya dengan urgensi pembentukan karakter peserta didik di era digital. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengintegrasikan pandangan para ahli sekaligus menggali landasan teoritis yang kuat mengenai konsep mozaik nilai. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan pijakan mengembangkan pendidikan karakter yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Hasil dan Pembahasan Teori Klasifikasi Nilai (Milton Rokeac. Milton Rokeach membagi nilai ke dalam dua kategori utama, yaitu nilai terminal dan nilai Nilai terminal adalah tujuan akhir yang ingin dicapai dalam kehidupan, seperti kebahagiaan, kedamaian batin, atau kehidupan yang bermakna. Sementara itu, nilai instrumental adalah cara atau alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, misalnya melalui sikap jujur, kerja keras, kedisiplinan, atau tanggung jawab. Dengan demikian, hubungan antara keduanya sangat erat, karena nilai terminal tidak akan tercapai tanpa adanya praktik nilai Dalam konteks pendidikan karakter di era digital, klasifikasi nilai Rokeach menjadi sangat relevan. Banyak generasi muda terjebak dalam nilai terminal semu, seperti popularitas di media sosial atau kepuasan instan dari hiburan digital. Padahal, tujuan hidup yang lebih mendalam seharusnya diarahkan pada nilai terminal yang bersifat hakiki, seperti kebermaknaan hidup, kontribusi sosial, dan penguatan spiritual. Untuk mencapai itu, nilai instrumental seperti etika berkomunikasi digital, kedisiplinan dalam belajar, dan tanggung jawab terhadap penggunaan teknologi perlu ditanamkan sejak dini. Konsep mozaik nilai dapat menjadi jembatan antara klasifikasi nilai Rokeach dengan tantangan pendidikan karakter di era digital. Dengan mengintegrasikan nilai terminal dan instrumental secara seimbang, pendidikan tidak hanya membentuk generasi yang cerdas dalam menguasai teknologi, tetapi juga memiliki arah hidup yang jelas dan Nilai instrumental menjadi praktik nyata dalam keseharian, sedangkan nilai terminal menjadi visi yang dituju. Kombinasi keduanya akan melahirkan generasi yang tidak sekadar melek digital, tetapi juga berkarakter kuat dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. Teori Nilai Intrinsik dan Ekstrinsik (Schwartz. Schwartz . menjelaskan bahwa nilai intrinsik adalah nilai yang dihargai karena dirinya sendiri, bukan karena ada keuntungan lain yang Contohnya adalah kejujuran, kebaikan, dan kasih sayang. Nilai-nilai ini dipandang penting karena memberi makna langsung bagi kehidupan manusia, baik dalam hubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Sebaliknya, nilai ekstrinsik lebih banyak dihargai karena manfaat luarnya, seperti uang, jabatan, atau status sosial. Nilai ini berperan sebagai alat untuk mencapai sesuatu, tetapi tidak selalu mencerminkan kedalaman moralitas seseorang. Dalam konteks pendidikan karakter di era digital, perbedaan antara nilai intrinsik dan ekstrinsik menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Banyak generasi muda yang terjebak pada nilai ekstrinsik, seperti mengejar popularitas di media sosial atau mengukur harga diri berdasarkan jumlah pengikut dan AulikesAy. Padahal, nilai intrinsik seperti kejujuran, integritas, dan empati justru lebih menentukan kualitas pribadi dan arah hidup yang sehat. Tanpa landasan nilai intrinsik, pencapaian ekstrinsik bisa kehilangan makna dan bahkan menimbulkan masalah etika. Mozaik nilai dalam pendidikan karakter berfungsi untuk menyatukan nilai intrinsik dan ekstrinsik agar tidak saling bertentangan, melainkan saling Nilai ekstrinsik tetap diperlukan sebagai bagian dari realitas hidup, misalnya pencapaian akademik atau keberhasilan karier, tetapi harus diarahkan dan dibatasi oleh nilai intrinsik yang lebih Dengan menanamkan keseimbangan ini, pendidikan karakter dapat melahirkan generasi digital yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga memiliki kompas moral yang kuat dalam menghadapi dinamika global. Teori Nilai Personal vs Sosial (Kluckhoh. Kluckhohn membedakan nilai ke dalam dua kategori besar, yaitu nilai personal dan nilai sosial. Nilai personal berkaitan dengan orientasi individu, seperti cita-cita, keyakinan, dan prinsip hidup yang membentuk identitas seseorang. Nilai ini sering kali menjadi dasar seseorang dalam mengambil keputusan dan menentukan arah hidup. Sementara itu, nilai Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 83 | JPI. Vol. No. September 2025 sosial merujuk pada norma dan aturan kolektif yang berlaku dalam masyarakat. Nilai ini bersifat mengikat karena berfungsi menjaga keteraturan sosial serta membangun keharmonisan antarindividu. Dalam era digital, hubungan antara nilai personal dan sosial menjadi semakin kompleks. Banyak individu yang ingin mengekspresikan dirinya secara bebas melalui media sosial, namun kebebasan itu sering kali berbenturan dengan nilai sosial yang berlaku, seperti etika komunikasi atau norma budaya. Fenomena ujaran kebencian, perundungan daring, dan penyebaran hoaks adalah contoh nyata ketika nilai personal tidak diimbangi dengan kesadaran akan nilai Oleh karena itu, pendidikan karakter harus mampu menjembatani kedua aspek ini agar generasi muda mampu mengekspresikan diri tanpa merusak tatanan sosial. Mozaik nilai dapat menjadi kerangka integratif antara nilai personal dan nilai sosial. Pendidikan karakter berbasis mozaik nilai tidak hanya pentingnya nilai personal seperti tanggung jawab dan integritas, tetapi juga menekankan peran nilai sosial seperti solidaritas, kepedulian, dan rasa hormat terhadap perbedaan. Dengan demikian, generasi digital dapat tumbuh sebagai pribadi yang bebas, kreatif, dan mandiri, sekaligus tetap berakar pada norma sosial yang menjaga keseimbangan hidup Teori Enam Klasifikasi Nilai Spranger Spranger membagi nilai manusia ke dalam enam orientasi besar: teoritik, ekonomis, estetik, sosial, politis, dan religius. Nilai teoritik berorientasi pada kebenaran dan pengetahuan, sedangkan nilai ekonomis menekankan pada kegunaan dan manfaat Nilai estetik lebih mengutamakan keindahan dan harmoni, sementara nilai sosial menekankan kasih sayang, kepedulian, dan hubungan antar Nilai politis berkaitan dengan kekuasaan dan pengaruh, sedangkan nilai religius menekankan makna hidup yang lebih tinggi serta hubungan dengan Tuhan. Dalam era digital, keenam nilai ini saling berinteraksi dan membentuk pola yang unik pada setiap individu maupun kelompok. Misalnya, nilai teoritik tampak dalam budaya literasi digital dan pencarian informasi ilmiah, sedangkan nilai ekonomis terlihat dari berkembangnya e-commerce dan industri Nilai estetik dapat diamati dari tren visual di media sosial, nilai sosial hadir dalam gerakan solidaritas daring, nilai politis muncul dalam wacana digital tentang kebijakan publik, dan nilai religius tampak dari dakwah serta diskusi keagamaan berbasis Hal ini menunjukkan bahwa era digital tidak meniadakan nilai, melainkan memberi ruang baru bagi nilai-nilai tersebut untuk diekspresikan. Mozaik nilai dalam pendidikan karakter dapat menggunakan kerangka Spranger sebagai landasan agar pengembangan diri peserta didik lebih seimbang. Pendidikan karakter yang hanya menekankan satu aspek, misalnya ekonomi atau politik, berisiko melahirkan generasi yang materialistis atau Sebaliknya, dengan menanamkan kesadaran pada keenam orientasi nilai, peserta didik dapat belajar memandang kehidupan dari berbagai Inilah yang membuat pendidikan karakter di era digital lebih kokoh, karena membekali generasi muda dengan pemahaman nilai yang menyeluruh dan aplikatif dalam kehidupan nyata maupun dunia maya. Pendekatan Nilai dalam Perspektif Pendidikan Islam Dalam khazanah pendidikan Islam, konsep adab yang dikemukakan oleh tokoh seperti Al-Ghazali dan Ibn Miskawaih menempati posisi penting. Adab bukan sekadar perilaku sopan, tetapi mencakup nilai moral dan spiritual yang menjadi fondasi Kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab merupakan bagian dari adab yang membentuk pribadi berakhlak Nilai ini bersifat intrinsik dan membentuk orientasi hidup seseorang, sehingga sangat relevan dengan upaya membangun pendidikan karakter yang kuat di tengah tantangan era digital. Selain itu, kerangka maqAid al-syarAoah memberikan orientasi nilai yang lebih luas, yaitu menjaga agama . ife al-d. , menjaga jiwa . ife alnaf. , menjaga akal . ife al-Aoaq. , menjaga keturunan . ife al-nas. , dan menjaga harta . ife al-mA. Kelima tujuan ini merupakan nilai fundamental dalam Islam yang berfungsi melindungi kemaslahatan hidup Dalam konteks pendidikan karakter, maqAid al-syarAoah dapat dijadikan pedoman agar proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mengarahkan peserta didik untuk menjaga integritas moral, kesehatan jiwa, daya pikir kritis, keluhuran keluarga, dan etika dalam mengelola harta. Menghubungkan konsep adab dan maqAid alsyarAoah dengan teori klasifikasi nilai modern menjadikan mozaik nilai lebih kaya dan kontekstual. Pendidikan karakter di era digital tidak cukup hanya mengandalkan nilai-nilai universal seperti kejujuran atau tanggung jawab, tetapi juga perlu ditopang oleh kerangka spiritual yang memberikan makna Dengan begitu, peserta didik tidak hanya mampu menavigasi kompleksitas dunia digital Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 84 dengan cerdas, tetapi juga dengan etika dan orientasi hidup yang selaras dengan nilai Islam. Kesimpulan dan Saran Berisi Pembahasan tentang mozaik nilai menunjukkan bahwa nilai bukanlah sesuatu yang tunggal atau statis. Ada beragam klasifikasi dan kerangka yang menjelaskan bagaimana nilai bekerja dalam diri manusia dan masyarakat. Mulai dari teori Rokeach tentang nilai terminal dan instrumental. Schwartz tentang nilai intrinsik dan ekstrinsik. Kluckhohn tentang nilai personal dan sosial, hingga Spranger dengan enam orientasi nilai, semuanya memperlihatkan betapa kaya dan luasnya cakupan nilai dalam kehidupan. Di sisi lain, perspektif Islam melalui konsep adab serta maqAid al-syarAoah memberikan dasar spiritual yang kuat untuk membingkai nilai-nilai tersebut. Adab menekankan pada pembentukan moral individu, sedangkan maqAid al-syarAoah memberikan arah bagaimana nilai dijalankan demi kemaslahatan Jika dipadukan dengan teori modern, maka terbentuklah mozaik nilai yang utuh: kombinasi antara fondasi moral, spiritual, sosial, dan intelektual. Dalam konteks pendidikan karakter, mozaik nilai ini sangat relevan terutama di era digital. Peserta didik bukan hanya dihadapkan pada pilihan-pilihan akademik, tetapi juga pada kompleksitas budaya digital seperti media sosial, arus informasi yang cepat, dan perubahan gaya hidup. Tanpa fondasi nilai yang kokoh, generasi muda mudah terjebak pada orientasi ekstrinsik semata seperti popularitas atau materi. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus diarahkan untuk menyeimbangkan nilai-nilai yang Nilai personal harus berjalan seiring dengan nilai sosial, nilai teoritik tidak bisa dilepaskan dari nilai moral dan religius, sementara nilai ekonomi dan politik harus dipandu oleh nilai etik. Pendidikan yang mampu mengintegrasikan semua ini akan melahirkan generasi yang bukan hanya pintar secara intelektual, tetapi juga bijak secara moral dan spiritual. Mozaik nilai menjadi cara untuk meramu berbagai perspektif agar saling melengkapi, bukan saling Pendidikan Islam dengan konsep adab dan maqAid al-syarAoah bisa bersinergi dengan teori nilai modern untuk membentuk kerangka pendidikan karakter yang kontekstual dengan zaman. Hal ini membuka peluang untuk mencetak generasi digital yang adaptif terhadap perubahan, tetapi tetap teguh memegang nilai-nilai yang hakiki. Akhirnya, mozaik nilai dapat dipandang sebagai fondasi yang tidak hanya menopang pendidikan karakter, tetapi juga memberi arah dalam kehidupan sosial dan spiritual generasi masa depan. Era digital memang membawa tantangan baru, tetapi juga kesempatan untuk menanamkan nilai dengan cara yang lebih kreatif. Selama nilai-nilai tersebut dirawat dan dijalankan, pendidikan karakter akan tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan zaman. Ucapan Terima Kasih Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga jurnal ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada para dosen, khususnya pembimbing mata kuliah, yang telah memberikan arahan, bimbingan, serta motivasi selama proses penyusunan jurnal ini. Tidak lupa, penulis juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga, sahabat, dan rekan-rekan mahasiswa yang senantiasa memberikan dukungan moral maupun materiil sehingga penulisan ini dapat Semoga segala bantuan dan kebaikan yang diberikan menjadi amal jariyah dan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah Swt. Referensi