Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE JURKAMI Volume 10, Nomor 2, 2025 PENGARUH KURS RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP NERACA PERDAGANGAN INDONESIA 2014-2024 Fitriyah Ulfah, Suchaina 2 Program Magister Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Wiranegara, Indonesia 12  Corresponding Author Email: fitriyahulfah96@gmail.com Author Email: Suchaina.qadir@gmail.com Abstract: Article History: The phenomenon of exchange rate fluctuations and inflation that have continued Received: May 2025 to occur in the last decade has affected Indonesia's economic stability, Revision: June 2025 especially in the foreign trade sector. This problem is important to study in Accepted: June 2025 order to find out how these two variables affect Indonesia's trade balance. This Published: August study aims to determine the effect of the rupiah exchange rate and inflation on 2025 Indonesia's trade balance for the period 2014–2024. The research method used is quantitative with multiple regression analysis, and hypothesis testing using the t-test and F-test. Secondary data were obtained from the Central Statistics Keywords: Agency (BPS), Bank Indonesia, and the Ministry of Trade. The results of the Rupiah Exchange Rate, analysis show that partially the rupiah exchange rate has a positive and Inflation, Trade significant effect on the trade balance, which means that the higher the Balance, exchange rate leads to a trade surplus. Meanwhile, inflation does not have a Indonesian Economy. significant effect on the trade balance partially. Simultaneously, the rupiah exchange rate and inflation have a significant effect on the trade balance, which shows that both variables are together relevant in influencing prices and competitiveness in international trade. Therefore, simultaneous analysis of both is very important to understand the economic health of a country. Abstrak: Sejarah Artikel: Diterima: Mei 2025 Direvisi: Juni 2025 Disetujui: Juni 2025 Diterbitkan: Agustus 2025 Kata kunci: Kurs Rupiah, Inflasi, Necara Perdagangan, ekonomi Indonesia. Fenomena fluktuasi nilai tukar dan inflasi yang terus terjadi dalam satu dekade terakhir telah memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia, khususnya dalam sektor perdagangan luar negeri. Permasalahan ini penting untuk dikaji guna mengetahui bagaimana kedua variabel tersebut berdampak terhadap neraca perdagangan Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kurs rupiah dan inflasi terhadap neraca perdagangan Indonesia periode 2014–2024. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan analisis regresi berganda, serta pengujian hipotesis menggunakan uji t dan uji F. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, dan Kementerian Perdagangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara parsial kurs rupiah berpengaruh positif dan signifikan terhadap neraca perdagangan, yang berarti semakin tinggi nilai tukar mengarah pada surplus perdagangan. Sementara itu, inflasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap neraca perdagangan secara parsial. Secara simultan, kurs rupiah dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap neraca perdagangan, yang menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut secara bersama-sama relevan How to Cite: Fitriyah Ulfah, Suchaina. 2025. PENGARUH KURS RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP NERACA PERDAGANGAN INDONESIA 2014-2024. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 10 (2) DOI : 10.31932/jpe.v10i2.4721 This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright ©2025, The Author(s) Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 484 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10, Nomor 2, 2025 http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE PENDAHULUAN Perkembangan ekonomi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika global karena Indonesia telah mengadopsi sistem ekonomi terbuka. Negara dengan ekonomi terbuka seperti Indonesia mungkin harus menghadapi konsekuensi dari masalah ekonomi, tetapi jika situasinya memburuk, misalnya, hal itu dapat membahayakan stabilitas keuangan semua orang. Perekonomian suatu negara sangat dipengaruhi oleh neraca perdagangannya. Hal ini karena situasi ekonomi suatu negara tercermin dalam neraca perdagangannya. Salah satu indikator bahwa perekonomian suatu negara berjalan dengan baik adalah apakah neraca perdagangannya berada dalam situasi surplus atau optimis. Kegiatan ekonomi nasional saat ini sangat bergantung pada hubungan internasional yang semakin erat (Faudzi & Asmara, 2023). Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam ekonomi global karena mencakup pertukaran barang dan jasa antarnegara. Perdagangan ini memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, termasuk Indonesia (Anggrasari dkk., 2021). Selain itu, daya saing global ditentukan oleh beberapa faktor seperti keunggulan kompetitif, keamanan, dan kebijakan regulasi pemerintah yang mendukung efisiensi perdagangan internasional (Budiman dkk., 2022). Kegiatan perdagangan internasional juga dapat membantu dalam meningkatkan jumlah cadangan devisa negara yang didapat dari kegiatan ekspor komoditi ke negara lain (Rahmawati & Soesilowati, 2022). Selain itu, impor dan ekspor biasanya berdampak pada indikator neraca perdagangan itu sendiri (Abasimi & Salim, 2022). Neraca perdagangan dapat mendorong ekonomi Indonesia apabila peningkatan jumlah ekspor lebih besar dibandingkan jumlah impor. Tindakan perdagangan itu sendiri dapat dipahami sebagai proses pertukaran yang didasarkan pada persetujuan bersama dan kehendak bebas. Perdagangan internasional mendorong kemitraan yang saling menguntungkan antara negaranegara yang berpartisipasi. Di sini, ketersediaan produk dan layanan yang relatif murah dibandingkan dengan yang diproduksi di dalam negeri atau, dengan kata lain, ketersediaan barang dan layanan yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri mencerminkan bentuk keuntungan. Indonesia berupaya menstabilkan ekonomi dengan cara mencegah posisi neraca perdagangan agar tetap stabil dan tidak mengalami defisit. This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright ©2025, The Author(s) Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 485 | Fitriyah Ulfah, Suchaina. PENGARUH KURS RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP NERACA PERDAGANGAN INDONESIA 2014-2024. NERACA PERDAGANGAN 2014 - 2024 Neraca perdagangan 60000 40000 20000 0 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 -20000 Gambar 1 Neraca Perdagangan 2014 – 2024 Sumber: Kementerian Perdagangan, (2024) Berdasarkan Gambar 1, neraca perdagangan mengalami surplus pada tahun 2014 hingga 2017, namun mengalami defisit pada tahun pada tahun 2018 ini kemerosotan bukan karena kemerosotan harga ekspor maupun melonjaknya impor tetapi lebih karena pada saat itu terjadi defisit migas dan nonmigas. Selain itu juga, pada tahun 2020 sempat mengalami penurunan di angka 869 juta US$ yang dari tahun sebelumnya di angka 3,5 miliar US$, sebagai dampak dari pandemi COVID-19 yang mewabah di seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia Meskipun sempat mengalami fluktuasi penurunan dan kembali menanjak pada tahun 2020-2022 ini disebabkan oleh Surplus ini dimulai sejak Mei 2020 dan berlanjut hingga Januari 2022. Surplus neraca perdagangan ini didorong oleh peningkatan ekspor dan impor, terutama ekspor non-migas. Lebih detail, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus USD 2,6 miliar pada tahun 2020 dan meningkat menjadi USD 13,5 miliar pada tahun 2021. Pada tahun 2022, surplus neraca perdagangan mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yaitu USD 54,46 miliar. Surplus ini terutama didorong oleh peningkatan surplus neraca perdagangan non-migas, dengan surplus sebesar USD 78,85 miliar pada tahun 2022. Sementara itu, neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar USD 24,39 miliar. Pada tahun 2023 Indonesia mengalami penurunan sebesar 36.888,2 hingga di tahun 2024 sebesar 31.044,7. Penurunan ini mengakibatkan jumlah cadangan devisa Indonesia menjadi rendah sehingga menyebabkan banyak aliran modal yang keluar dari Indonesia dan menekan nilai Rupiah terhadap mata uang luar negeri terutama terhadap Dollar Amerika (Bank Indonesia, 2020) Nilai tukar adalah salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dari perdagangan internasional. Salah satu indikator terpenting dari kondisi pasar dan ekspor suatu negara adalah nilai tukarnya (Ginting, 2021). Sejumlah kondisi, baik kelebihan maupun kekurangan dapat digunakan untuk melihat nilai tukar. Bila jumlah total perdagangan melebihi jumlah total impor, negara tersebut mengalami kelebihan nilai tukar. Di sisi lain, negara tersebut menghadapi kekurangan nilai tukar bila seluruh jumlah impor melebihi jumlah total perdagangan tentu saja, ekspor 486 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10, Nomor 2, 2025 http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE dipengaruhi oleh nilai tukar yang terdepresiasi. Ekspor yang menggunakan bahan baku impor dipengaruhi oleh penurunan nilai tukar karena depresiasi rupiah meningkatkan biaya barang impor(Ayuningsih, 2025). Meskipun demikian, neraca perdagangan menunjukkan surplus yang lebih besar. Hal ini terjadi karena impor lebih banyak menurun daripada ekspor, bukan karena ekonomi membaik. Penurunan impor yang disebabkan oleh tingginya biaya barang impor akan menurunkan output produksi, yang akan berdampak pada penurunan output nasional. Penelitian yang sama mendukung bahwa rupiah yang terapresiasi (peningkatan nilai mata uang) akan berdampak pada daya saing barang domestik di pasar internasional sehingga neraca telah membaik (Puri & Amaliah, 2021). Nilai tukar rupiah dapat memengaruhi neraca perdagangan (Fakhruddin & Rahmawati, 2021). namun penelitian ini tidak konsisten menurut Hamimah karena kenaikan nilai tukar (apresiasi) akan mengakibatkan penurunan neraca perdagangan, dan sebaliknya. Keuntungan neraca perdagangan akan meningkat jika terjadi devaluasi (Hamimah, 2021). Selain kurs Rupiah yang mempengaruhi neraca perdagangan Inflasi, juga dapat mempengaruhi tingkat neraca perdagangan hal ini ketika inflasi akan meningkat ketika biaya barang impor dalam negeri meningkat, yang menyebabkan fluktuasi inflasi. Ini berarti bahwa ketidakpastian pelaku usaha dipengaruhi oleh inflasi yang berfluktuasi, yang menurunkan produktivitas. Neraca perdagangan akan terpengaruh oleh penurunan produksi ini. jika ada peningkatan tingkat inflasi, itu menunjukkan nilai harga komoditas domestik dan minat eksportir terhadap barang-barang domestik akan menurun, sehingga ini akan menyebabkan ekspor turun dan nantinya akan berdampak pada surplus (Sitompul & Siahaan, 2020). Namun penelitian lain membantah bahwa inflasi tidak memiliki pengaruh terhadap neraca perdagangan (Permana dkk., 2023). Oleh karena itu berdasarkan pemaparan diats maka terbentuk rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengaruh kurs rupiah dan inflasi terhadap neraca perdagangan periode 20142024? METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif deskriptif yang memaparkan data berupa angka. Tujuan penggunaan metode kuantitatif yaitu untuk menghitung mengenai pengaruh kurs rupiah dan inflasi terhadap neraca perdagangan periode 2014-2024. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Priadana & Sunarsi, 2021). Populasi penelitian ini Populasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu seluruh data time series dari variabel kurs rupiah, inflasi terhadap neraca perdagangan. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu purposive sampling. Sampel yang digunakan yaitu data kurs rupiah, inflasi terhadap neraca perdagangan periode 20142024. Jenis data pada penelitian ini yaitu data sekunder yang didapat dari website resmi Bank Indonesia dan publikasi dari This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright ©2025, The Author(s) Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 487 | Fitriyah Ulfah, Suchaina. PENGARUH KURS RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP NERACA PERDAGANGAN INDONESIA 2014-2024. Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) dan harus terlebih dahulu di uji kelayakan yaitu website kementerian perdagangan. Data dengan uji asumsi klasik. Uji asumsi yang yang diambil dari Bank Indonesia yaitu dilakukan yaitu uji normalitas, uji data kurs rupiah, data inflasi diambil dari hesteroskedastisitas, uji multikolinearitas, BPS sedangkan neraca perdagangan uji autokorelasi. Hasil uji perhitungan Indonesia diambil dari dan website fungsi regresi akan di ukur dari nilai kementerian perdagangan. koefisien determinan (R2), nilai statistik uji Teknik analisis data menggunakan T dan nilai uji F. sehingga model statistik deskriptif dan model regresi linear persamaan regresi untuk dua variabel berganda bertujuan untuk menunjukkan independen pada penelitian ini adalah seberapa besar koefisien parameter pada setiap variabel independen dan variabel Y = β0 + β1X1 + β2X2 + ε……. (1) dependen. Variabel dependen yang dipakai Dimana Y merupakan neraca perdagangan, yaitu neraca perdagangan sedangkan β0 adalah konstanta, β1 dan β2 adalah variabel independen yaitu kurs rupiah dan koefisien regresi, X1 adalah kurs rupiah, X2 inflasi. Analisiss data menggunakan adalah inflasi dan ε adalah error term. aplikasi bantuan berupa SPSS 25. Sebelum HASIL DAN PEMBAHASAN data diuji kedalam model regresi maka data Tabel 1: Kurs Rupiah, Inflasi dan Neraca Perdagangan Indonesia tahun 2014-2024 Tahun Kurs Rp Inflasi NPI 2014 11884,5 8,36 -2198,8 2015 13457,58 3,35 7671,8 2016 13329,83 3,02 9481,2 2017 13398,17 3,61 11842,7 2018 14267,33 3,13 -8698,5 2019 12975,58 2,72 -3044,4 2020 14625,25 1,68 21623 2021 14344,92 1,87 35419,5 2022 14916,75 5,51 54457,2 2023 15218,75 2,61 36888,2 2024 15905,83 1,57 31044,7 Sumber : Data diolah, 2025 Gambar 2 Hasil Analisis Deskriptif Sumber: Data diolah, (2025) 488 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10, Nomor 2, 2025 http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE Pada tabel 1 merupakan data mentah yang di input untuk di olah di SPSS yang menghasilkan data deskriptif pada gambar 2. Pada gambar 2 di hasilkan terdapat 11 banyaknya data dengan variabel neraca perdagangan memiliki nilai mean 17680,6000 dan nilai standart deviasi sebesar 19880,44483. Nilai mean variabel kurs rupiah sebesar 14029,4991 dan nilai standart deviasi 1147,17452. Variabel X2 yaitu inflasi nilai mean sebesar 3,4027 dengan standart deviasi 1,97616. Gambar 3 Hasil Uji Normalitas Sumber: Data diolah, (2025) Berdasarkan output di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian yang diketahui bahwa nilai signifikan sebesar telah di uji berdistribusi normal. 0,200. Maka nilai 0,186 > 0,05 sehingga Tabel 2: Hasil Uji Hesteroskedastisitas Variabel Sig X1 0,334 X2 0,637 Sumber: Data diolah, (2025) Hasil pengolahan data heteroskedastisitas diperoleh dari uji glejser dengan pengambilan keputusan dengan Keterangan Tidak terjadi gejala heteroskedastisitas Tidak terjadi gejala heteroskedastisitas melihat nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Tabel 3: Hasil Uji Multikolinearitas Collinearity Statistic Variabel Tolerance VIF X1 0,628 1,593 X2 0,628 1,593 Sumber: Data diolah, (2025) This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright ©2025, The Author(s) Keterangan Bebas dari multikolinearitas Bebas dari multikolinearitas Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 489 | Fitriyah Ulfah, Suchaina. PENGARUH KURS RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP NERACA PERDAGANGAN INDONESIA 2014-2024. Berdasarkan output coefficients pada tabel di atas, dapat dilhat pada kolom VIF dapat diketahui bahwa nilai VIF 1,593 < 10 dan nilai Tolerance 0,628 > 0,1 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas dari multikolinearitas atau tidak adanya masalah multikolinearitas. Syarat tidak terjadi gejala autokorelasi yaitu DU < DW < 4 -DU. Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa nilai 1,604 < 1,656 < 2,395 maka hasil ini memenuhi syarat dengan hasil tidak terjadi gejala autokorelasi. Tabel 4: Hasil Uji Regresi Berganda Variabel Coefficient Std.Error t-statistic Prob X1 16,552 4,860 3,406 0,009 X2 4046,200 2821,030 1,434 0,189 C -228298,447 74543,860 -3,063 0,016 R-squared 0,605 F-statistic 6,131 Prob (F-statistic) 0,024 Sumber: Data diolah, (2025) Nilai R-squared pada hasil uji tingkat signifikansi sebesar 5%, variabel regresi linear berganda sebesar 0.605. bebas (kurs rupiah dan inflasi) secara Sehingga dapat diketahui jika semua simultan memiliki pengaruh terhadap variabel bebas yaitu kurs rupiah dan inflasi variabel terikat (neraca perdagangan). terhadap variabel terikat yaitu neraca Berdasarkan pada tabel 3. Mengenai perdagangan periode 2014-2024 sebesar hasil uji t menunjukkan variabel X1 yaitu 60,5%. Sementara sisanya yaitu sebesar kurs rupiah mempengaruhi neraca 39,5% dipengaruhi oleh variabel atau faktor perdagangan dan signifikan. Hasil ini lain yang ada di luar penelitian. diketahui berdasarkan nilai probabilitas t Hasil pengujian regresi berganda hitung kurang dari nilai signifikan (0,009 < yang diperoleh dari pengolahan data neraca 0,05). Dan perbandingan nilai t-tabel perdagangan (Y), kurs rupiah (X1), inflasi dengan rumus nilai t-tabel dengan rumus (X2), dapat ditemukan model persamaan a/2 (0,05/2 = 0,025) dk = n-k-1 (11-2-1=8) regresi penelitian sebagai berikut: jadi nilai t-tabel didapatkan 2,306 dan nilai Y= -228298,447 + 16,552 + 4046,200 + t-hitung 3,406. Variabel X2 yaitu inflasi e……. (2) tidak berpengaruh dengan neraca Uji F dilakukan guna melihat perdagangan. Hasil ini diketahui apakah secara simultan terdapat pengaruh berdasarkan nilai probabilitas t hitung lebih antara variabel bebas terhadap variabel besar dari nilai signifikan (0,189 > 0,05). terikat. Berdasarkan hasil Uji F yang telah Dan perbandingan nilai t-tabel dengan dilakukan diperoleh nilai F statistic sebesar rumus nilai t-tabel dengan rumus a/2 6,131 dan probabilitas F statistic sebesar (0,05/2 = 0,025) dk = n-k-1 (11-2-1=8) jadi 0.024. Hal tersebut berarti nilai F hitung nilai t-tabel didapatkan 2,306 dan nilai tlebih besar daripada F tabel atau 6,131 > hitung 1,434. 4,46 yang berarti hipotesis menolak H0 dan Berdasarkan pada hasil dari Uji t terima H1. Sehingga, dengan menggunakan dan Uji F, maka di tarik kesimpulan 490 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10, Nomor 2, 2025 http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE dibawah ini: Pengaruh Kurs Rupiah Terhadap Neraca Perdagangan. Menurut hasil olah data penelitian menunjukkan bahwa kurs rupiah berpengaruh positif dan signifikansi terhadap neraca perdagangan di Indonesia pada tahun 2014-2024. Pengaruh tersebut diketahui dari nilai probabilitas senilai 0,009 yang artinya lebih kecil dibanding alpha atau 0,009 < 0,05 dan hasil SPSS bahwa nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel yaitu 3,406 > 2,306. Selanjutnya, nilai koefisien dari variabel kurs rupiah sebesar 16,552 yang memiliki arti bahwa ketika nilai kurs rupiah terhadap neraca perdagangan menunjukkan kenaikan 1 Rupiah maka berdampak pada menaiknya jumlah neraca perdagangan Indonesia sebesar 16,552. Pengaruh nilai kurs Rupiah atas neraca perdagangan menunjukkan pengaruh positif. Hal ini disebabkan ketika kurs rupiah 'melemah' (depresiasi), artinya rupiah kurang 'berharga' dibandingkan mata uang asing. Barang impor jadi lebih mahal, mengakibatkan konsumen membeli lebih sedikit. Tapi, barang ekspor jadi lebih murah bagi pembeli luar negeri, sehingga ekspor bisa meningkat. Jadi, jika kurs melemah, impor cenderung turun dan ekspor cenderung naik. Akibatnya, neraca perdagangan bisa jadi meningkat, bahkan surplus (nilai ekspor lebih besar dari impor). Selanjutnya, dengan meningkatnya nilai ekspor perekenomian Indonesia akan menguat dan banyak permintaan akan rupiah sehingga ini akan mendorong nilai mata uang Rupiah menjadi stabil. Kurs rupiah merupakan komponen penting dalam proses pembayaran internasional antarnegara karena memengaruhi harga relatif barang ekspor dan impor. Dengan demikian pelemahan kurs rupiah dalam kadar yang wajar memiliki efek stimulus terhadap ekspor dan menekan impor, sehingga berdampak positif terhadap neraca perdagangan. Namun, perlu diingat bahwa depresiasi kurs yang terlalu ekstrem atau tidak terkendali justru bisa menimbulkan gejolak inflasi dan ketidakstabilan ekonomi. Oleh karena itu, pengelolaan nilai tukar yang seimbang menjadi kunci untuk mempertahankan kinerja perdagangan yang sehat dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil yang telah ditemukan pada pada perhitungan regresi mengenai pengaruh kurs Rupiah pada neraca perdagangan menunjukkan pengaruh yang positif signifikan. Hasill tersebut konsisten pada penelitian yang di lakukan oleh Fakhruddin & Rahmawati (2021), juga menunjukkan kurs Rupiah pengaruh positif dan signifikan dengan nilai koefisien 148.2001 dan nilai probabilitas sebesar 0,000. Penelitian yang relevan yaitu Putri & Amalia (2021) menunjukkan bahwa semakin tingi nilai tukar maka akan mengakibatkan neraca perdagangan surplus. Ini dibuktikan dari hasil probabilitas nya sebesar 0,007. Namun penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian Hamimah, (2021) yang menunjukan kurs Rupiah tidak pengaruh signifikan dengan nilai koefisien -0.002635 dan nilai probabilitas sebesar 0,3499. Inflasi Terhadap Neraca Perdagangan. Menurut hasil olah data penelitian menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh dan signifikansi terhadap neraca perdagangan di Indonesia pada tahun 2014-2024 dengan nilai signifikan lebih dari 0,05 dan hasil SPSS bahwa nilai t-hitung lebih kecil dari t-tabel yaitu 1,434 < 2,306. Hasil ini diketahui dari nilai probabilitas senilai 0,1899 yang artinya lebih besar dibanding alpha atau 0,189 > 0,05. Selanjutnya, nilai koefisien dari This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright ©2025, The Author(s) Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 491 | Fitriyah Ulfah, Suchaina. PENGARUH KURS RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP NERACA PERDAGANGAN INDONESIA 2014-2024. variabel inflasi sebesar 4046,200 yang memiliki arti bahwa ketika nilai inflasi terhadap neraca perdagangan menunjukkan kenaikan 1 inflasi maka berdampak pada menaiknya jumlah neraca perdagangan Indonesia sebesar 4046,200. Inflasi adalah kecenderungan hargaharga naik. Apabila inflasi terjadi di suatu negara dan tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan yang signifikan, maka daya beli, konsumsi masyarakat, dan permintaan akan menurun, yang berarti jumlah barang dan jasa yang dibeli di pasar akan menurun. Apabila hal ini terus berlanjut, maka produsen akan mengurangi produksinya, yang berarti jumlah barang dan jasa yang tersedia di pasar akan menurun, yang berarti pula dampak terhadap ekspor akan menurun, dan apabila asumsi impor tetap dipertahankan, maka akan menyebabkan neraca perdagangan akan menurun bahkan bisa jadi defisit. Meskipun inflasi adalah fenomena ekonomi yang penting, dampaknya terhadap neraca perdagangan tidak selalu signifikan secara langsung dan parsial. Oleh berbagai faktor seperti kontrak harga yang stabil, permintaan yang inelastis, dampak yang saling menyeimbangkan, atau dominasi faktor-faktor global lainnya diluar penelitian ini. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kompleksitas hubungan ekonomi dan interaksi berbagai faktor mungkin membuat dampak inflasi tidak selalu terlihat secara langsung dan dominan pada catatan perdagangan suatu negara. Berdasarkan hasil yang telah ditemukan pada pada perhitungan regresi mengenai pengaruh inflasi pada neraca perdagangan menunjukkan tidak memiliki pengaruh. Hal ini sejalan dengan penelitian Permana, dkk (2023) yang menunjukkan bahwa Inflasi tidak berpengaruh terhadap neraca perdagangan. Hasil ini diketahui dari nilai t hitung -1,641 dan nilai siginikan 0,10. Namun hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Sitompul & Siahaan (2020) bahwa inflasi berpengaruh terhadap neraca perdagangan. Hasil ini menunujkkan nilai koefisien -0,065 Sehingga kalau produksi melambat dikarenakan bahan baku yang diimpor mengalami inflasi sehingga harga dalam negeri akan menaik juga dan diikuti dengan melemahnya daya beli masyarakat. Sementara kalau kita ingin meningkatkan ekspor maka kita harus meningkatkan produksi. Hal ini akan mengurangi produksi yang akan berlanjut pada berkurangnya ekspor. Kurs Rupiah dan Inflasi Terhadap Neraca Perdagangan. Menurut hasil olah data penelitian menunjukkan bahwa inflasi tidak berpengaruh dan signifikansi terhadap neraca perdagangan di Indonesia pada tahun 2014-2024 dengan nilai signifikan kurang dari 0,05 (0,024 < 0,05) dan hasil SPSS bahwa nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel yaitu 6,131 > 4,46. Pelemahan rupiah yang signifikan namun diiringi inflasi yang terkendali akan memberikan dorongan positif yang lebih kuat pada neraca perdagangan dibandingkan dengan pelemahan rupiah yang sama besarnya namun disertai inflasi yang sangat tinggi. Jika hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan statistik yang signifikan antara kedua variabel ini dengan neraca perdagangan, maka disiimpulkan bahwa kurs rupiah dan inflasi dalam kondisi tertentu akan menciptakan efek sinergis terhadap surplus neraca perdagangan. Hal ini membuktikan bahwa stabilitas makroekonomi secara keseluruhan sangat penting bagi keberhasilan strategi perdagangan luar negeri. Selain itu, inflasi juga bisa bertindak sebagai variabel moderasi yang berdampak tidak langsung terhadap 492 | Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) JURKAMI Volume 10, Nomor 2, 2025 http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE komposisi permintaan dan kebijakan fiskal/moneter, yang secara agregat dapat memengaruhi ekspor-impor. Oleh karena itu interaksi antarvariabel makro seperti kurs dan inflasi tidak bisa dianalisis secara terpisah. Keduanya saling terkait dan bersama-sama memengaruhi daya saing, harga relatif barang, serta stabilitas sektor perdagangan. PENUTUP Kesimpulan yang dapat dihasilkan penelitian ini yaitu: (1) secara simultan terdapat pengaruh antara variabel kurs rupiah dan inflasi terhadap neraca perdagangan, (2) secara parsial, variabel kurs rupiah berpengaruh signifikan yang bersifat positif terhadap neraca perdagangan, dan variabel inflasi tidak berpengaruh signfikan terhadap neraca perdagangan. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain hanya menggunakan dua variabel independen, yaitu kurs rupiah dan inflasi, tanpa mempertimbangkan variabel makro lain seperti suku bunga, PDB, harga komoditas global, dan neraca berjalan. Selain itu, data yang digunakan terbatas pada periode tahunan (2014–2024), sehingga tidak menangkap dinamika musiman atau peristiwa ekonomi jangka pendek. Ke depan, disarankan penelitian lanjutan menggunakan pendekatan time series dengan frekuensi data yang lebih tinggi (bulanan atau triwulanan) serta melibatkan variabel ekonomi lainnya agar hasilnya lebih komprehensif dan akurat dalam menjelaskan fluktuasi neraca perdagangan Indonesia. Bagi pemangku kebijakan harus tetap meningkatkan nilai ekspor agar banyak menarik investor dan hal ini akan mendorong nilai kurs rupiah dapat meningkat. Bagi otoriter keuangan dapat menstabilkan tingkat bunga agar dapat mengurangi tingginya inflasi sehingga akan mendorong nilai neraca perdagangan. Tingkat inflasi yang rendah dan nilai tukar yang konsisten dalam posisi ekonomi diperlukan untuk menjaga daya saing produk domestik di pasar global dan mempertahankan surplus neraca perdagangan. Stabilitas nilai tukar dan inflasi jangka pendek dan jangka panjang harus dipertahankan. Jika inflasi dan stabilitas nilai tukar berhasil dipertahankan, efisiensi produksi domestik akan meningkat dan barang domestik akan menjadi lebih kompetitif. DAFTAR PUSTAKA Abasimi, I., & Salim, A. (2022). A gravity model analysis of the influencing factors of Ghana-Nigeria bilateral trade in merchandize products. Optimum: Jurnal Ekonomi Dan Pembangunan, 12(1), 41–52. Anggrasari, H., Perdana, P., & Mulyo, J. H. (2021). Keunggulan komparatif dan kompetitif rempah-rempah Indonesia di pasar internasional. Jurnal Agrica, 14(1), 9–19. Ayuningsih, D. (2025). Analisis Dampak Perubahan Kurs terhadap Nilai Ekspor-Impor Indonesia. Circle Archive, 1(7). http://circlearchive.com/index.php/carc/article /view/375 Badan Pusat Statistik. (2024). Data Inflasi.www.bps.go.id Bank Indonesia. (2024). Kurs Rupiah.www.bi.go.id Budiman, J., Lestari, E., Darmawan, I. R., & Hardiyanto, S. (2022). Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kontribusi Nilai Perdagangan Indonesia-China (Catruwulan I This is an open-access article under the CC-BY-SA License Copyright ©2025, The Author(s) Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI) | e-ISSN 2541-0938 p-ISSN 2657-1528 493 | Fitriyah Ulfah, Suchaina. PENGARUH KURS RUPIAH DAN INFLASI TERHADAP NERACA PERDAGANGAN INDONESIA 2014-2024. Tahun 2020). Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 7(1), 1–11. Fakhruddin, F., & Rahmawati, S. (2021). Pengaruh Inflasi Dan Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Neraca Perdagangan Indonesia. Jurnal Ekonomi Dan Kebijakan Publik Indonesia, 8(1), 75–92. Faudzi, M., & Asmara, G. D. (2023). Analisis Neraca Perdagangan Indonesia: Pendekatan ARDL. Journal of Macroeconomics and Social Development, 1(1), 1–16. Ginting, A. M. (2021). Perkembangan neraca perdagangan dan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan. https://www.academia.edu/downloa d/82791831/51.pdf Hamimah, H. (2021). Dampak Perubahan Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar dan Inflasi terhadap Neraca Perdagangan di Negara-Negara Islam. Jurnal Muamalat IndonesiaJmi, 1(2). https://jurnal.untan.ac.id/index.php/ JVPEI/article/view/50642 Kementrian Perdagangan. (2024). Neraca Perdagangan.www.kemendag.go.id Permana, M. A., Sjahruddin, H., Satriani, R., Indrawati, I., & Caronge, M. A. A. (2023). Menelisik Neraca Perdagangan Indonesia Dari Faktor Inflasi Dan Kurs. Jurnal Bina Bangsa Ekonomika, 16(2), 710– 719. Priadana, M. S., & Sunarsi, D. (2021). Metode penelitian kuantitatif. Pascal Books. Puri, N. Y., & Amaliah, I. (2021). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, PDB, Nilai Tukar dan Krisis Ekonomi terhadap Neraca Perdagangan Indonesia Periode 1995-2017. Bandung Conference Series: Economics Studies, 1(1), 9–19. Rahmawati, I., & Soesilowati, E. (2022). Efek suku bunga, nilai tukar dan ekspor terhadap cadangan devisa indonesia pada masa pandemi covid-19. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 7(2), 29–39. Sitompul, N., & Siahaan, M. (2020). Analisis Pengaruh Nilai Tukar Dan Inflasi Terhadap Neraca Perdagangan Di Indonesia 2008– 2018. Visi Sosial Humaniora, 1(1), 65–72.