Jurnal Magistra Vol. 2 No. 1 Maret 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 59-66 DOI : https://doi. org/10. 62200/magistra. Moralitas Berpacaran Di Kalangan Remaja: Studi Penelitian Di SMA 1 Mandrehe Paulinus Kanisius Ndoa STP Dian Mandala Gunungsitoli E-mail: nus. ndoa@stpdianmandala. Elisabeth Cahaya Ceria Hia STP Dian Mandala Gunungsitoli E-mail: hiaceriacahaya@gmail. Abstract. Adolescence is the period of puberty. Children experience growth and development especially in This friendship leads to feelings of liking for the opposite sex which is called courtship. Dating in the sense of special friendship between young men and women in principle has a good purpose to get to know each other's personalities. But this good intention is sometimes tainted by the irregularities that occur in the courtship This deviation occurs because of the wrong concept of dating as well as the moral decline among This study uses a qualitative approach with the aim of knowing the morality of dating among adolescents at SMA Negeri I Mandrehe. The research findings are as follows: In general, respondents have received education and assistance from teachers and parents about how to interpret courtship. Even so, some of them have not interpreted courtship precisely. In fact, some of them had bad experiences in dating. Some of them openly share their dating experiences with their parents. Keywords:Education. Liberation. People Abstrak. Masa remaja sering dikaitkan dengan masa pubertas. Pada masa ini remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis. Salah satu hal yang menonjol pada masa ini yakni adanya keinginan untuk menjalin pertemanan secara ekslusif. Pertemanan ini berujung pada rasa suka kepada sesama lawan jenis yang disebut pacaran. Pacaran dalam artian pertemanan khusus antara semaja laki-laki dan perempuan pada prinsipnya bertujuan baik untuk saling mengenal kepribadian satu sama lain. Tetapi tujuan baik ini kadangkadang dinodai oleh penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam proses pacaran itu. Penyimpangan itu terjadi lantaran disebabkan karena konsep yang keliru tentang pacaran juga karena kemerosotan moral di kalangan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk mengetahui moralitas pacaran di kalangan remaja di SMA Negeri I Mandrehe. Adapun temuan penelitian sebagai berikut: Secara umum, responden telah menerima edukasi dan pendampingan dari guru maupun orang tua tentang bagaimana memaknai pacaran. Sekalipun demikian sebagian dari mereka belum memaknai pacaran secara tepat. Bahkan, sebagian dari mereka mengalami pengalaman buruk dalam berpacaran. Sebagian dari mereka terbuka menceritakan pengalaman pacaran kepada orangtua. Kata Kunci:Pacaran. Remaja. Moral PENDAHULUAN Masa Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah masa pubertas atau masa untuk membangun relasi sosial yang lebih luas dibandingkan dengan pelajar Sekolah Dasar (SD). Pada tahap ini, seroang remaja lebih senang bergaul atau membentuk kelompok dengan teman sejenis, lama kelamaan akan mulai merasa perlu juga untuk menjalin relasi dengan lawan jenis. Bahkan untuk menarik perhatian lawan jenisnya, remaja mencoba untuk menampilkan diri sebaik mungkin, misalnya bertutur kata dengan baik, berusaha tampil dengan baik, dan juga mencoba untuk mempercantik diri agar lawan jenisnya tertarik. Pertemanan yang khusus dengan lawan jenis, pada akhirnya disebut dengan pacaran. Received: November 21, 2023. Accepted: Desember 23, 2023. Published: Maret 31, 2024 * Paulinus Kanisius Ndoa, nus. ndoa@stpdianmandala. Moralitas Berpacaran Di Kalangan Remaja: Studi Penelitian Di SMA 1 Mandrehe Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (Endarmoko, 2. kata pacar berarti belahan diri/belahan jiwa. biji/cahaya mata. buah/bunga hati. emas tempawan. serta gacoan. Makna dari berpacaran adalah bercintaan, bercumbuan, berduaan, berkasih-kasih, bersuka-sukaan. Berdasarkan pengertian tersebut pacar adalah belahan hati, belahan jiwa. 1 Pacaran merupakan satu fase pernikahan, dengan tujuan untuk mencari kecocokan, dan belajar lebih mengenal pasangannya, baik sifat, hobi, perasaan, pandangan hidup, dan sebagainya. Pacaran juga merupakan saat mempersiapkan diri menuju perkawinan yang membahagiakan, sehingga masa pacaran menjadi kesempatan untuk saling belajar mengenai watak dan pribadi masing-masing untuk menemukan keserasian menuju perkawinan. Menurut Ahmad Masrul, pacaran dipahami dalam dua konteks yakni sebagai warisan nenek moyang dan tradisi. Konteks Warisan Nenek Moyang Dalam konteks warisan nenek moyang pacaran sudah ada sejak awal mula adanya Adam. 2 Adam dan Hawa merupakan pasangan yang berusaha mengembangkan keturunannya, dan mereka adalah dua insani pertama yang menjadi satu tubuh (Kej 2:23-. Setelah Adam dan Hawa memiliki keturunan, lalu mereka dewasa dan Adam menikahkan mereka supaya mendapat keturunan yang lebih banyak. Dari sinilah timbul perasaan suka atas dasar kasih maupun nafsu. Konteks Tradisi Dalam konteks tradisi mendefinisikan pacaran sebagai suatu tradisi atau kebiasaan yang dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Menurut persepsi yang salah, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan. Tradisi seperti ini dipraktikkan oleh orang-orang yang tidak memahami makna kehormatan diri perempuan, konteks tradisi ini dapat dipengaruhi oleh media massa yang menyebarkan kebiasaan yang tidak memuliakan kaum perempuan. Pacaran dapat juga diartikan sebagai perwujudan cinta kasih. Cintakasih dalam konteks ini merupakan suatu sikap riil dalam batin manusia yang bisa dialami dan dirasakan sebagai dorongan kuat dalam diri manusia yang memampukan seseorang untuk selalu memberi perhatian pada kebaikan yang lain, mendekati diri pada kebaikan yang lain dan 1 Y. Bagus Wismanto. AuPacaran dan Hidup BerkeluargaAy: dalam hidup, 7 November 2010, hlm. 2 Ahmad Masrul. Pacaran NO Way! Why? (Jakarta: Pt Elex Media Kompuntindo, 2. , hlm. 3 Scott Hahn dan Regis J. Flaherty. Catholic For A Reason IV Scripture and the Mystery of Marriage and Family Life (Malang: Dioma, 2. , hlm. 4 Ahmad Masrul. Pacaran No WayA, hlm. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 59-66 mempersembahkan/memberi diri pada kebaikan yang lain. Cintakasih tidak dapat dialami dan dirasakan secara konkrit tanpa perhatian, kedekatan, dan pemberian diri pada kebaikan yang Oleh karena itu, cinta kasih dari kodratnya selalu menuntut perwujudan secara konkrit dari manusia dalam bentuk perbuatan-perbuatan kasih. Dari ketiga rumusan ini dapat kita simpulkan bahwa pacaran merupakan masa yang memberi kita kesempatan untuk mengerti arti cinta, mengenal sesama lebih dalam, mendewasakan diri dan pikiran untuk mampu bertanggungjawab dengan tetap menjunjung tinggi norma-norma agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Berdasarkan pengamatan penulis dalam studi awal, kebanyakan remaja tidak paham apa arti dan makna pacaran sebenarnya, serta apa dampaknya terhadap moralitas pelajar. Moral yang dimaksud ialah baik buruknya perbuatan. Artinya bahwa, perbuatan yang dapat dilakukan dan tidak dapat dilakukan dalam menjalin satu hubungan. Pacaran membawa dampak, baik positif maupun dampak negatif. Remaja yang sudah berkembang, merasa belum menemukan identitasnya jika masih belum memiliki kekasih hati dan belum mnegikuti perkembangan 7 Remaja yang sudah menemukan pasangan, sering sekali menganggap bahwa pacarannya tersebut sudah menjadi milik seutuhnya. Dengan demikian, ia berhak menyentuh bagian tubuh yang dilarang pada masa pacaran dengan tidak menghargai pasangannya, serta tidak mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang membawa dosa dan merusak jati diri sebagai AuImago DeiAy. Pacaran remaja saat ini lebih bersifat untuk kepuasan nafsu tanpa berpikir panjang, apa dampak dari perbuatan mereka dan tindakan tersebut melanggar tata susila. Dalam suatu perbincangan yang penulis lakukan kepada seorang pelajar di suatu Sekolah Menengah Atas di kabupaten Nias Barat penulis menemukan adanya persepsi yang lahir tentang Selain itu juga, terhadap batas-batas pergaulan dan relasi pacaran yang melampaui batas-batas etika dan moral. Di mana, pelajar yang sudah memiliki kekasih, tidak mampu lagi membedakan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan pada masa pacaran. Mereka dengan sembarangan menyentuh bagian terlarang tubuh pasangannya, dan tidak takut lagi terhadap larangan orangtua, guru, dan juga dalam ajara-ajaran agama. Dominikus Nong. Moral Keutamaan (Jakarta: Direktoral Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, 2. , hlm. Komisi Kateketik KWI. Membangun Komunitas MuridA, hlm. Hamzah Ahmad dan Nanda Santoso. Kamus Pintar Bahasa Indonesia (Surabaya: Fajar Mulya, 1. , hlm. Komisi Kateketik KWI. Membangun Komunitas Murid Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 2. , hlm. Ibid. , hlm. Moralitas Berpacaran Di Kalangan Remaja: Studi Penelitian Di SMA 1 Mandrehe METODE Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi. Responden yang dilibatkan sebagai sumber data yakni: para guru, siswa/i dan orangtua siswa/i. Hasil penelitian dilaporkan secara HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari hasil wawancara dengan para responden ditemukan beberapa data sebagai berikut: pada umumnya para responden mengetahui tentang pacaran tetapi pemahaman dan pemaknaan pacaran berbeda-beda diantara mereka. Ada yang memahami pacaran sebagai masa dimana mereka bisa saling mengenal dan menyalurkan energi cinta kepada sesama lawan jenis. Adapula yang memaknai pacaran sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri untuk jenjang Sebagian memaknai pacaran sebagai proses perkenalan antara dua insani manusia yang biasanya berada pada rangkaian pencarian kecocokan, hingga menuju pada pembentukan Beberapa responden juga memaknai pacaran sebagai momentum untuk mendewasakan pemikiran, dengan tujuan untuk berbagi kebahagiaan, saling memahami serta saling menerima kekurangan. Pacaran selalu membawa serta dampak, baik positif maupun negatif. Beberapa responden menilai bahwa pacaran bisa berdampak negatif yang tampak dalam: menurunnya konsetrasi belajar, penurunan prestasi belajar, berpotensi melakukan perzinahan. Beberapa responden menilai bahwa pacaran berkontribusi positif bagi mereka yakni: dapat meningkatkan prestasi belajar, adanya teman curhat dan merasa terlindungi. Mereka mengakui bahwa jika relasi pacaran tidak dikontrol dengan baik, maka akan terjadi relasi pacaran yang tidak sehat yang menuju pada dosa. Pacaran jika dimaknai dengan tepat akan mendatangkan hal positif bagi remaja. sebagian dari mereka mengakui bahwa dengan menjalin pacaran mereka semakin semangat dalam belajar, saling mengingatkan dalam belajar, saling mengingatkan untuk disiplin waktu. Adapun sikap dasar yang diharapkan dalam berpacaran ialah sikap menghargai, percaya dan selalu mengandalkan Tuhan. Pacaran yang baik selalu memberikan harapa-harapan dan mampu menumbuhkan rasa suka atas dasar cinta kasi Allah atau cinta agape, serta mampu menumbuhkan komitmen agar dapat mengontrol diri. Beberapa responden berpendapat bahwa pacaran di kalangan remaja bukan suatu hal yang wajib. Artinya, para remaja memiliki kebebeasan untuk menentukan sikap apakah berpacaran atau tidak. Dalam menjalin pacaran sebagian responden mengaharapkan sikap MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 59-66 saling menerima dari pasangannya, sehingga mereka mampu mengetahui apa saja yang boleh dilakukan dalam menjalin hubungan, seperti menjaga perasaan satu sama lain. Relasi pacaran dapat menyebabkan perubahan sikap karena adanya dorongan atau nasehat dari pasangan. Responden menginginkan sikap saling percaya dari pasangannya, dan mampu menumbuhkan cinta sejati dari Allah atau cinta Agape serta adanya komitmen agar mereka mampu mencapai harapan-harapan baik. Namun, relasi pacaran bukanlah suatu hal yang wajib dijalankan oleh remaja karena dapat mengganggu konsentrasi belajar. Pasangan yang sedang menjalani proses pencarian ini harus mampu mengetahui apa saja yang pantas dilakukan selama menjalani status Hal yang dapat dilakukan pasagan responden ialah bekomunikasi sewajarnya. Adapun kesimpulan dari hasil wawancara dan observasi sebagai berikut: Secara umum, siswa/siswi SMA N. 1 Mandrehe memahami arti pacaran. Namun, sebagian dari mereka masih belum bisa memperhatikan dimensi kewajaran dalam berpacaran. Sebagian kecil siswa/siswi telah menjalani relasi pacaran. Relasi ini umumnya dijalani tanpa ada pemberitahuan kepada orangtua. Relasi pacaran yang sedang dijalani oleh sebagian siswa/siswi SMA N. 1 Mandrehe tidak selamanya membawa dampak positif bagi mereka Siswa/siswi SMA N. 1 Mandrehe sebagian besar telah menerima ajaran mengenai arti Akan tetapi, belum bisa memaknai relasi pacaran sebagai suatu motavasi dalam Sebagai kecil dari siswa/siswi terbuka dan mau menceritakan relasi pacarannya kepada Umumnya oragtua memberikan perhatian dan pendampingan kepada anaknya, agar pergaulan anaknya tidak membawa dampak buruk. Pembahasan Pacaran merupakan suatu proses yang dijalani antara laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal pribadi satu sama lain, sebagai tahap awal dalam membentuk keluarga. Tujuannya ialah untuk mencari kecocokan dan juga untuk mendewasakan pasangan. Pacaran dalam artian pertemanan khusus antara semaja laki-laki dan perempuan pada prinsipnya bertujuan baik untuk saling mengenal kepribadian satu sama lain. Tetapi tujuan baik ini kadangkadang dinodai oleh penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam proses pacaran itu. Penyimpangan itu terjadi lantaran disebabkan karena konsep yang keliru tentang pacaran juga karena kemerosotan moral di kalangan remaja . Dari hasil penelitian yang peneliti laksanakan di SMA N. 1 Mandrehe dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari mereka yang menjalani relasi pacaran mengalami krisis Moralitas Berpacaran Di Kalangan Remaja: Studi Penelitian Di SMA 1 Mandrehe moral dalam berpacaran. Mereka lebih senang menjalani hubungan dengan membangun keromantisan layaknya sebagai seorang suami istri, ingin bebas dan bahagia. Sebagian dari mereka tidak mampu membedakan mana yag layak dan tidak layak untuk dilakukan selama proses perkenalan ini. Perilaku-perilaku demikian bisa saja dilatarbelakangi oleh konsep dan pemahaman yang keliru tentang pacaran dan bisa juga mengindikasikan kemerosotan moralitas di kalangan remaja. Perilaku-perilaku pacaran yang menyimpang dari nilai-nilai moral-etika pada umumnya didasari oleh konsep yang belum sepenuhnya tepat tentang pacaran. Pacaran kadang dimaknai sebagai kesempatan untuk mendapatkan kenikmatan-kenikamatan fisiologis yang diperoleh dari lawan jenis. Pacaran juga kadang dimaknai hanya sebatas sebagai bentuk ekspresi dan pembuktian gender baik dari sisi maskulinitas dari pihak laki-laki juga femininitas Konsep-konsep menggambarakan kedalaman makna dari pacaran yang sejalan dengan nilai-nilai kultural, religi maupun moral-etik. Dari hasil penelitian ditemukan data bahwa ternyata dalam pelajaran agama mereka telah menerima ajaran tentang pacaran yang baik dan benar. Namun sebagai mereka tidak mengindahkan ajaran tersebut, sehingga membawa dampak pada pergaulan yang lebih pada keinginan nafsu. Kondisi ini menggambarkan bahwa edukasi tentang pacaran tampaknya tidak akan efektif jika hanya dilakukan di lembaga pendidikan formal. Keluarga dan lingkungan sosial yang juga semestinya harus ikut ambil peran untuk mendampingi dan mengedukasi para remaja tentang bagaimana sesungguhnya pacaran yang sehat dan benar. Kesungguhan dalam mendampingi remaja akan sangat berkontribusi dalam menciptakan generasi muda yang beretika dan bermoral yang pada akhirnya bisa berkontribusi bagi kebaikan masyarakat dan Berikut ini saran bagi remaja dalam membangun hubungan pacaran yang sehat dan beretika yakni: Saling memotivasi dalam hal yang baik Saling memperbaiki kesalahan satu sama lain. Saling percaya, setia, memahami, menghargai dan saling menjaga. Mematuhi aturan adat dan membangun nilai-nilai agama. Bersikap dewasa dan bertanggung jawab. Saling berkomitmen. Selalu di bawah kendali orangtua. Menjauhi keinginan nafsu yang mengarah pada seks. MAGISTRA Ae VOL. 2 NO. 1 MARET 2024 e-ISSN : 3026-6572, p-ISSN : 3026-6580. Hal 59-66 SIMPULAN Remaja yang sedang mengalami pubertas, akan mengalami ketertarikan kepada lawan Hal ini merupakan proses yang mampu membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, sebab mampu memperluas cara bergaul dan adaptasi anak. Rasa tertarik kepada lawan jenisnya tidak boleh dikekang oleh siapapun, karena dapat mengganggu mental dan perasaan. Orangtua harus mampu mengenali perasaan anak, dan memberi kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya kepada orang yang dia sukai. Dengan ini, orangtua tidak boleh lepas kendali dalam mengawasi relasi pacaran anak, agar mengarah pada hal yang baik dan positif. Relasi pacaran anak akan mengarah ke hal positif, apabila orangtua mampu mendukung dan mengawasi anaknya dengan baik serta memberikan nasehat akan batas-batas dalam berpacaran. Moralitas berpacaran anak akan terganggu jika terlalu dikekang dan juga terlalu dibebaskan. Anak yang terlalu dikurung oleh orangtua akan selalu merasa ingin mencoba sesuatu hal yang menyimpang dan anak yang terlalu dibiarkan akan selalu membuat sesuatu sesuka hatinya. Maka dalam hal ini, orangtua harus bersikap bijaksana dalam membina dan mendampingi pertumbuhan dan perkembagan diri anak. Relasi pacaran dimulai dari kasih sayang yang tulus dan mampu menjaga jarak dengan Hindari sikap dan perilaku tertentu yang membangkitkan hawa nafsu. Terkait dengan ini Rasul Petrus dalam suratnya menegaskan bahwa: AuKeinginan daging yang dibangkitkan sebelum waktunya akan membawa pada kebodohan, penyesalan diri, dan dosa Allah menasehati kita supaya Auhiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmuAy . Petrus 1:. Dengan ini, hal yang pantas dilakukan selama menjalani proses pra-nikah ini ialah: saling membagun komunikasi yang baik, diskusi dalam belajar, menjaga pasangan dari ketidaknyaman, saling memperkenalkan kepada keluarga satu sama lain, dan saling memotivasi dalam hal yang baik. DAFTAR PUSTAKA