Jurnal Riset Media Keperawatan ISSN: 2527-368X (Prin. 2621-4385 (Onlin. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Perilaku Bullying Di MTS Al-Amin Jayanti Siti Kholipah1. Eva Marseva2. Meynur Rohmah3 1Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Yatsi Madani 2Dosen Universitas Yatsi Madani, 3Dosen Universitas Yatsi Madani *kholipah1703@gmail. com, evaion289@gmail. com, meynurrohmah@gmail. *corresponding author Abstrak Pendidikan kesehatan berarti mengubah cara perilaku seseorang atau masyarakat dari yang sakit menjadi sehat atau proses untuk meningkatkan pengetahuan dan mempengaruhi kemampuan dalam memelihara kesehatan. Pengetahuan memiliki kaitan yang erat dengan pendidikan, dan diharapkan dengan tingginya tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin luas juga pengetahuannya. Bullying didefinisikan sebagai tindakan agresif atau menyerang yang dilakukan sengaja dengan menggunakan ketidakseimbangan kekuasaan dan kekuatan dengan melakukan hal-hal seperti memukul, menendang, mendorong, meludahi, mengejek, menggoda, menghina, dan mengancam orang lain. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan serta untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying di MTS Al-Amin Jayanti. Metode penelitian yang digunakan yaitu merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pre-experimen atau eksperimental. Pada penelitian ini teknik sampel yang digunakan adalah menggunakan metode sampel jenuh. Metode pengambilan sampel ini di mana setiap anggota populasi diambil sebagai sampel. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden yaitu siswa dan siswi kelas 8 MTS di Al-Amin Jayanti. Analisis data ini menggunakan Uji Wilcoxon. Uji wilcoxon, ini bertujuan untuk membandingkan nilai tengah satu variabel dari dua sampel berpasangan antara dua kelompok yang berhubungan atau terkait satu sama lain. Berdasarkan hasil uji wilcoxon didapatkan hasil signifikan 0. 000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha terdapat pengaruh sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying di MTS Al-Amin Jayanti. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan. Tingkat Pengetahuan. Perilaku Bullying The Influence of Health Education on the Level of Knowledge About Bullying Behavior at MTS Al-Amin Jayanti Abstract Health education means changing the way a person or society behaves from being sick to being healthy or a process to increase knowledge and influence the ability to maintain health. Knowledge is closely related to education, and it is hoped that the higher a person's level of education, the wider their knowledge will be. Bullying is defined as aggressive or attacking actions carried out intentionally using an imbalance of power and strength by doing things such as hitting, kicking, pushing, spitting on, mocking, teasing, insulting and threatening other people. Objective: To determine the level of knowledge about bullying behavior before and after being given health education and to determine the effect before and after being given health education on the level of knowledge about bullying behavior at MTS Al-Amin Jayanti. The research method used is quantitative research with pre-experimental or experimental methods. In this research the sample technique used was the saturated sample method. This sampling method is where every member of the population is taken as a sample. The number of samples in this study was 100 respondents, namely students and students of class 8 MTS at Al-Amin Jayanti. This data analysis uses the Wilcoxon Test. Wilcoxon test, this aims to compare the mean value of one variable from two paired samples between two groups that are connected or related to each Based on the results of the Wilcoxon test, significant results were obtained at 0. 000 < 0. 05 so it can be concluded that Ha has an influence before and after education. health on the level of knowledge about bullying behavior at MTS Al-Amin Jayanti. Keywords: Health Education. Level of Knowledge. Bullying Behavior. PENDAHULUAN Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pendidikan kesehatan berarti mengubah cara perilaku seseorang atau masyarakat dari yang sakit menjadi sehat. Menurut Natoadmodjo, pendidikan kesehatan adalah upaya persuasi atau pembelajaran masyarakat untuk melakukan sesuatu untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan Pendidikan kesehatan adalah tindakan mandiri keperawatan yang bertujuan untuk membantu klien baik individu, kelompok, maupun kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran. Dalam pendidikan kesehatan, perawat dilibatkan sebagai pendidik sesuai dengan tanggung jawab mereka sebagai perawat (Dr. Ishak Kenre. SKM. Menurut World Health Organization . , mendefinisikan remaja pada rentang usia 10 hingga 19 tahun. Namun. Peraturan Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2014 mendefinisikan remaja sebagai orang yang berusia antara 10 hingga 18 tahun. Sebaliknya, usia remaja didefinisikan oleh BBKBN adalah sebagai orang yang belum menikah dan berusia antara 10 dan 24 tahun (Hapsari 2. Remaja saat ini rentan terhadap konflik, baik sesama remaja maupun (Karisma et al. Remaja mengalami berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial selama periode ini, yang membuat mereka rentan terhadap masalah kesehatan mental. Sangat penting bagi kesehatan fisik dan mental remaja untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka dan melindungi mereka dari pengalaman buruk dan faktor risiko yang dapat memengaruhi potensi mereka untuk berkembang (Florensa et al. Menurut Kementrian Kesehatan RI . , perundungan, juga dikenal sebagai "bullying", adalah jenis perilaku kekerasan yang dengan disengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa kuat atau berkuasa dengan tujuan menyakiti atau merugikan seseorang atau sekelompok orang yang merasa tidak berdaya. Perilaku merupakan permasalahan sosial yaitu berupa perilaku negatif yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan yaitu untuk tidak nyaman, dan terluka (Pipih Muhopilah and Fatwa Tentama 2. Bullying didefinisikan sebagai tindakan agresif atau menyerang yang dilakukan sengaja dengan menggunakan ketidakseimbangan kekuasaan dan kekuatan dengan melakukan hal-hal seperti memukul, mengejek, menggoda, menghina, dan mengancam orang lain (Maria Natalia Bete Masalah bullying atau perundungan di sekolah adalah masalah yang berdampak kesejahteraan korban. Sangat penting bagi individu dan masyarakat untuk mencegah dan menangani kasus tersebut. Sekolah adalah salah satu peran yang harus menciptakan budaya anti-bullying melalui kurikulum terkait dan orang tua yang memberi dukungan moral kepada anak-anak mereka yang menjadi korban bullying (Sofyan. Wulandari. Liza 2. Pengetahuan memiliki kaitan yang erat dengan pendidikan, dan diharapkan seseorang, maka akan semakin luas juga Proses belajar tidak hanya terjadi lewat pendidikan formal mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas bahkan perguruan tinggi (Noviana. Pranata, and Fari 2. Pengetahuan didefinisikan sebagai segala sesuatu yang diketahui memandu perkembangan tindakan manusia, pengetahuan juga dapat didefinisikan sebagai hasil dari segala sesuatu yang telah terjadi dan tidak dapat diprediksi berdasarkan pengalaman sebelumnya (Prasetya 2. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2020, 37% anak perempuan dan 42% anak laki-laki yang telah menjadi korban pelecehan, kekerasan seksual, dan pertengkaran fisik. Prevelensi bullying terjadi antara 8 dan 50% dibeberapa negara asia, amerika, dan eropa. Sebuah penelitian yang dirilis pada awal maret 2018 oleh Plan International dan International Center for Reseach on Women (ICRW) melibatkan 9 ribu siswa, guru, orang tua, kepala sekolah, dan perwakilan LSM dilima negara asia yaitu vietnam, kamboja, nepal, pakistan, dan indonesia. Hasilnya tersebut menunjukkan bahwa 70% siswa di asia mengalami perundungan di sekolah. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, perlindungan anak yang masuk ke KPAI Vol. 8 No. 2 December 2025 | 133 hingga tahun 2023, dari jumlah tersebut adalah anak-anak, data menunjukkan bahwa bullying masih sering terjadi di sekolah, termasuk kasus anak yang menjadi korban perlindungan atau pelecehan 87 kasus, pemenuhan fasilitas pendidikan 27 kasus, kebijakan pendidikan 24 kasus, kekerasan fisik dan/atau psikis 236 kasus, kekerasan seksual 487 kasus, dan banyak kasus lainnya yang tidak teradukan ke KPAI. Menurut penelitian yang dilakukan ditiga kota besar di indonesia, yogyakarta, surabaya, dan jakarta, 67,9% siswa SLTA dan 66,1% siswa SLTP mengalami perilaku perundungan. psikologis, yang juga dikenal sebagai pengucilan, berada diperingkat tertinggi, sementara kekerasan fisik dan verbal berada diperingkat kedua (Suib and Safitri 2. Kota Tangerang menempati posisi pertama dengan 11 kasus ditahun 2024. Selama tahun 2023, sebanyak 93 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kota Tangerang, sebagian besar di antaranya adalah kekerasan seksual yang dialami oleh anakanak yang tinggal di kota tersebut. Angka ini diperoleh dari laporan tahun 2023 Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Dari 93 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kota Tangerang, 2 anak menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), 67 anak menjadi korban kekerasan seksual, 5 anak menjadi korban tawuran, 5 anak kabur dari rumah, 3 anak terlibat pornografi, dan 1 anak terlibat pencurian (Simorangkir 2. Berdasarkan data dari data basis waktu kejadian periode 2024 dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), sebanyak 67 kasus kekerasan dialami oleh perempuan dan anak di Banten selama enam bulan terakhir. Dari 67 kasus yang ditangani oleh Simfoni, 39 di antaranya adalah anak-anak. Secara keseluruhan, ada 13 anak lakilaki dan 29 anak perempuan. Dari 39 kasus kekerasan anak, kasus kekerasan seksual adalah yang paling umum. Diikuti oleh 18 kasus kekerasan mental, satu kasus penelantaran, dan dua kasus lainnya. Pada tahun 2023 terdapat 30 kasus perundungan, sebanyak 50% terjadi di jenjang SMP atau sederajat, 30% di jenjang SD atau sederajat, 10% di jenjang SMA atau sederajat, dan 10% di jenjang SMK atau sederajat . Maka dari itu dibutuhkan pendidikan atau edukasi mengenai kekerasan karena jumlah kasus kekerasan anak yang tinggi di Provinsi Banten, dengan korban rata-rata remaja di tingkat SMP atau sederajat (Permana 2. Berdasarkan studi pendahuluan yang 134 | Pages 132-142 dilakukan oleh penulis pada bulan Mei 2024 bertempat di sekolah MTS AL-AMIN Jayanti Kabupaten Tangerang. Sekolah ini belum pernah dilakukan penyuluhan mengenai pendidikan kesehatan tentang perilaku Dan banyaknya kasus perundungan di tingkat SMP atau sederajat di Provinsi Banten. Maka dari itu, untuk mengurangi tingkat perundungan di tingkat SMP atau Siswa perlu diberikan edukasi atau penyuluhan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying. Penulis melakukan observasi kepada siswa-siswi kelas 8 diantaranya 12 perempuan dan 9 laki-laki. Melalui survei terhadap 21 siswa tersebut menunjukan bahwa 10 siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki yang belum mengetahui dampak kesehatan dari perilaku bullying, dan dari 21 siswa yang saya tanya 8 siswa pernah mendapat perilaku bullying verbal yang berhubungan dengan fisik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan kesehatan tentang perilaku bullying terhadap siswa kelas 8 masih belum memadai. Berdasarkan peristiwa terkait pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying diatas, telah mengunggah minat penulis untuk melakukan penelitian tentang AuPengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Perilaku Bullying di MTS Al-Amin JayantiAy. BAHAN DAN METODE Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pre-experimen atau Penelitian ini dilaksanakan di MTS Al-Amin Jayanti. Teknik penganbilan sampel penelitian ini penulis menggunakan metode sampel jenuh. Menurut Sugiyono . , sampling jenuh adalah metode pengambilan sampel di mana setiap anggota Berdasarkan penelitian ini penulis mengambil 100% jumlah populasi yang ada sebanyak 100 orang Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar kuesioner. HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 1. 1 diatas menunjukan bahwa distribusi frekuensi jenis kelamin laki-laki sebanyak 56 orang dengan persentase . %) dan perempuan sebanyak 44 orang dengan persentase . %). Berdasarkan data hasil distribusi di atas, diketahui bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari pada Karena di setiap kelasnya sesuai dengan usianya lebih banyak laki-laki dibanding perempuan. Berdasarkan Usia Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Persentase . (%) 14 Tahun 15 Tahun Total Berdasarkan tabel 1. 2 di atas menunjukan bahwa distribusi frekuensi usia 14 tahun sebanyak 73 orang dengan persentase . %) dan 15 tahun sebanyak 27 orang dengan persentase . %). Berdasarkan distribusi frekuensi usia di atas usia 14 tahun lebih banyak dari pada usia 15 tahun. Karena pada saat penerimaan pendafaran siwa baru adalah lebih banyak usia 14 tahun sesuai dengan kelas 8. Berdasarkan Mengetahui Tentang Perilaku Bullying Informasi Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Mengetahui Informasi Tentang Perilaku Bullying Mengetahui Frekuensi Persenta Perilaku Bullying (%) Orang Tua Teman Saudara Media Formal (Pelajaran Media Elektronik (Televisi. Radio. Interne. Total Berdasarkan tabel 1. 3 diatas menunjukan bahwa distribusi frekuensi mengetahui informasi tentang perilaku bullying dari media intrernet lebih banyak adalah berjumlah 79 orang dengan persentase . %), orang tua berjumlah 13 orang dengan persentase . %), teman berjumlah 3 orang dengan persentase . %), dan media formal berjumlah 5 orang dengan persentase . %). Berdasarkan data hasil distribusi diatas, diketahui bahwa informasi media internet lebih banyak. Karena generasi jaman Z mayoritas anak remaja sudah menggunakan internet untuk mendapatkan informasi yang lebih cepat dan mudah. Berdasarkan Pernah Mengikuti Penyuluhan atau Seminar Tentang Perilaku Bullying Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pernah Mengikuti Penyuluhan Atau Seminar Tentang Perilaku Bullying Pernah Frekuensi Persentase Mengikuti (%) Penyuluhan Atau Seminar Tentang Perilaku Bullying Pernah Tidak Pernah Total Berdasarkan tabel 1. 4 diatas menunjukan bahwa distribusi frekuensi pernah mengikuti kegiatan penyuluhan atau seminar tentang perilaku bullying yaitu pernah mengikuti kegiatan penyuluhan 8 orang dengan persentase . %) dan yang tidak pernah mengikuti penyuluhan atau seminar mencapai 92 orang dengan persentase . %). Karena responden mengatakan di sekolah belum ada penyuluhan atau seminar terkait tentang bullying. Berdasarkan Pernah Melakukan Perilaku Bullying Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pernah Melakukan Perilaku Bullying Pernah Frekuensi Persentase Melakukan (%) Vol. 8 No. 2 December 2025 | 135 Perilaku Bullying Pernah Tidak Pernah Total Berdasarkan menunjukan bahwa distribusi frekuensi didapatkan hasil pernah melakukan 47 orang dengan persentase . %) dan yang tidak pernah melakukan 53 orang dengan persentase . %). Berdasarkan hasil data distribusi frekuensi diatas, lebih banyak yang tidak pernah melakukan perilaku bullying, karena pihak sekolah melarang siswa melakukan bullying di sekolah. Responden yang pernah melakukan perilaku bullying mengatakan pernah melakukan perilaku bullying dengan cara mengolok-ngolok atau body shaming. Berdasarkan Pernah Menjadi Korban Bullying Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Pernah Menjadi Korban Bullying Pernah Frekuensi Persentase Menjadi (%) Korban Bullying Pernah Tidak Pernah Total Berdasarkan tabel 1. 6 diatas menunjukan bahwa distribusi frekuensi pernah menjadi korban bullying 74 orang dengan persentase . %) dan tidak pernah menjadi korban bullying 26 orang dengan persentase . %). Berdasarkan data hasil distribusi frekuensi diatas, diketahui bahwa pernah menjadi korban bullying lebih banyak dari pada yang tidak pernah. Karena responden yang pernah menjadi korban mengatakan mendapat perilaku bullying seperti mengolok-olok, memanggil dengan sebutan yang tidak pantas, dan body shaming. Analisa Univariat Analisis analisis untuk menganalisis deskriptif terhadap variabel-variabel yang ada dengan membuat tabel distribusi frekuensi. Hasil analisis univariat ditunjukkan pada tabel di bawah ini: 136 | Pages 132-142 Tabel 1. Statistik Deskriptif Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Pendidikan Kesehatan Statisitik Output t Data Sebelum Sesudah Valid Mean 11,33 17,49 Median 11,00 18,00 Modus Std. 1,564 0,703 Deviation Range Minimum Maximum Berdasarkan tabel 1. 7 diatas didapatkan hasil sebelum pendidikan kesehatan nilai Mean 11,33. Median 11,00. Std. Deviation 1,564. Minimum 8. Maximum 16 dan sesudah pendidikan kesehatan didapatkan Mean 17,49. Median 18,00. Std. Deviation sebelum pendidikan kesehatan 1,564 dan sesudah pendidikan 0,703 Minimum. Maximum 18 ada perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden Sebelum Pendidikan Kesehatan Tingkat Persentase Pengetahuan (%) Sebelum Kurang Cukup Baik Total Berdasarkan tabel 1. 8 di atas menunjukan bahwa distribusi frekuensi sebelum dilakukan pendidikan kesehatan 6 responden baik dengan persentase . %), 65 responden cukup dengan persentase . %), dan 29 responden kurang dengan persentase . %). Berdasarkan data hasil distribusi di atas, diketahui bahwae tingkat pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan dengan kategori cukup. Karena responden sudah mengatahui informasi tentang bullying dari internet, orang tua, dan sekolah. Tetapi belum mengetahui bentuk bentuk bullying, dampak bullying bagi kesehatan, dan dampak bullying bisa terjadi kepada Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan siswa dan siswi masih kurang terkait tentang bullying. kesehatan, yaitu responden sudah mengetahui terkait tentang bullying, seperti definisi bullying, faktor-faktor yang menyebabkan perilaku bullying, dampak perilaku bullying, ciri-ciri pelaku dan korban bullying, bentukbentuk perilaku bullying, dampak perilaku bullying bagi kesehatan, cara penanganan bullying, cara mengatasi masalah bullying. Sehingga tingkat pengetahuan responden semua baik sebanyak 100 responden dengan persentase . %) karena siswa dan siswi sudah diberikan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying dan sudah mengetahui tentang perilaku Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Responden Sesudah Pendidikan Kesehatan Tingkat Persentase (%) Pengetahuan Sesudah Kurang Cukup Baik Total Berdasarkan tabel 4. 9 di atas menunjukan bahwa distribusi frekuensi tingkat pengetahuan responden sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tidak ada dalam kategori pengetahuan kurang dan cukup, karena ada peningkatan pada responden sesudah dilakukan pendidikan Analisis Bivariat Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui penyebaran berdasarkan distribusi data, apakah data tersebut menyebar secara normal atau tidak. Sebelum Sesudah Tabel 1. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Pendidikan kesehatan Mean Std. Deviation Absoluten Positiven Negative P-Value Berdasarkan pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasarkan probabilitas . symtotic significanc. , yaitu: Jika probabilitas (Sig. ) > 0,05 maka distribusi adalah normal Jika probabilitas(Sig. ) < 0,05 maka distribusi adalah tidak normal Berdasarkan hasil di atas dapat diketahui bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan hasil p value 0. 000 dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan p value 0. Berdasarkan hasil kesimpulan didapatkan bahwa uji normalitas tidak berdistribusi normal karena hasil p value < 0,05. Uji Wilcoxon Tabel 1. Hasil Uji Wilcoxon Tingkat Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Pendidikan Kesehatan Penyuluhan Kesehatan Tentang Perilaku Bullying Pre-Test Tingkat Pengetahaun Sebelum Post-Test Tingkat Pengetahuan Sesudah Tingkat Pengetahuan Kurang Cukup Baik Mean Ranks TOTAL Negatif Ranks Positif Ranks Pvalue Vol. 8 No. 2 December 2025 | 137 Berdasarkan tabel 1. 11 di atas didapatkan nilai sesudah diberikan pendidikan kesehatan dengan hasil Negative Ranks 1. yang artinya terdapat penurunan dari nilai sebelum diberikan pendidikan kesehatan. Nilai Positive Ranks sesudah diberikan pendidikan kesehatan lebih tinggi sebanyak 99 dan tidak terdapat nilai Ties pada seseorang yang memiliki pengetahuan baik dari sebelum dan sesudah dilakukan Hasil uji Test Statistics di atas didapatkan nilai Asymp. Sig. - taile. atau pvalue bernilai 0. 000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha terdapat pengaruh sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying di MTS Al-Amin Jayanti. PEMBAHASAN Tingkat Pengetahuan Tentang Perilaku Bullying Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan Hasil penelitian didapat bahwa pengetahuan responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang perilaku pengetahuan kurang sebanyak 29 responden . %), cukup sebanyak 65 responden . %), dan baik sebanyak 6 responden . %). Siswasiswi yang memiliki tingkat pengetahuan Karena mengatahui informasi tentang perilaku bullying lebih banyak dari internet yaitu sebanyak 79 responden . %), orang tua sebanyak 13 responden . %), teman sebanyak 3 responden . %), dan media formal sebanyak 5 responden . %). Siswasiswi hanya mengetahui tentang definisi perilaku bullying, dan dampak perilaku Sementara yang belum mereka ketahui yaitu tentang faktor-faktor yang menyebabkan perilaku bullying, ciri-ciri pelaku dan korban bullying, bentuk-bentuk perilaku bullying, dampak perilaku bullying bagi kesehatan, cara penanganan bullying, dan cara mengatasi masalah bullying. Berdasarkan distribusi frekuensi responden yang pernah melakukan perilaku bullying yaitu lebih banyak pernah sebanyak 47 responden . %) dan yang tidak pernah sebanyak 53 responden . %), sedangkan yang pernah menjadi korban bullying 138 | Pages 132-142 berdasarkan distribusi frekuensi yang pernah sebanyak 74 responden . %) dan yang tidak pernah sebanyak 26 . %). Bentuk-bentuk bullying yang dilakukan disekolah MTS Al-Amin jayanti menurut pelaku dan korban yaitu bullying verbal seperti mengolok-ngolok, memanggil dengan sebutan yang tidak pantas dan body Perilaku bullying tidak hanya dilakukan oleh laki-laki tetapi juga Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan siswa-siswi masih kurang tentang bullying. Penulis perilaku bullying sebelum dilakukan pendidikan kesehatan masih terbatas karena di sekolah jarang sekali ada kegiatan penyuluhan atau seminar. Meskipun sebagian besar responden sudah memiliki pengetahuan yang cukup, mayoritas dari mereka hanya memahami definisi dan dampak umum dari bullying. Maka dari itu untuk meningkatkan pengetahuan siswa-siswi secara efektif, penting juga untuk melibatkan orang tua dan media massa dalam program pendidikan untuk membantu siswa-siswi memahami dan menangani bullying. Dengan pendekatan yang komprehensif dan dukungan dari semua pihak terkait, pengetahuan tentang bullying dapat meningkat, dan diharapkan akan mengurangi kejadian bullying terutama bullying verbal di lingkungan sekolah MTS Al-Amin Jayanti. Tingkat Pengetahuan Tentang Perilaku Bullying Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Hasil penelitian didapat bahwa dilakukan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying tidak ada yang memiliki tingkat pengetahuan kurang dan cukup, semua responden memiliki tingkat pengetahuan baik dengan persentase . %). Adanya peningkatan terhadap siswa dan siswi karena sudah diberikan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying, sehingga sudah memahami dan mengetahui tentang faktor-faktor yang menyebabkan perilaku bullying, ciri-ciri pelaku dan korban bullying, bentuk-bentuk perilaku bullying, dampak perilaku bullying bagi kesehatan, cara penanganan bullying, dan cara mengatasi masalah bullying. Penelitian ini menggunakan metode ceramah untuk melakukan pendidikan Keuntungan dari metode ini adalah mudah disampaikan dan dipahami dengan baik, dan ada komunikasi dua arah, yang membuat responden lebih memahami apa yang disampaikan oleh peneliti. Informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk pendidikan kesehatan. Penulis pengetahuan responden mengenai perilaku bullying sesudah dilakukan pendidikan kesehatan meningkat dengan kategori baik Hal ini menunjukkan bahwa metode ceramah dan media persentasi yang digunakan efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa-siswi tentang bullying. Pendidikan kesehatan yang baik harus mempertimbangkan gaya belajar dan preferensi siswa, serta memastikan bahwa informasi yang disampaikan dengan cara yang menarik, mudah diakses, jelas dan dapat dipahami. Namun, penting untuk terus mengevaluasi dan beradaptasi dengan menambahkan metode lain seperti diskusi kelompok, simulasi, atau aktivitas interaktif untuk lebih meningkatkan keterlibatan dan Dengan pendekatan yang holistik, pendidikan kesehatan tentang bullying dapat lebih efektif dalam membekali siswa-siswi dengan pengetahuan dan mengidentifikasi dan menangani masalah bullying di sekolah MTS Al-Amin Jayanti. Pengaruh Sebelum Dan Sesudah Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Perilaku Bullying Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa pengetahuan responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying, responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 29 responden . %), cukup sebanyak 65 responden . %), dan baik sebanyak 6 responden . %) Hasil sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying tidak ada yang memiliki pengetahuan cukup dan semua responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 100 responden . %). Hasil uji Test Statisties di atas didapatkan nilai Asymp. Sig. -taile. bernilai 0,000 < 0. sehingga dapat disimpulkan bahwa Hipotesis alternatif (H. diterima artinya terdapat pengaruh sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying di MTS Al-Amin Jayanti. Dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan seseorang perlu dilakukan pendidikan kesehatan, yaitu upaya mempengaruhi seseorang maupun kelompok sesuai Dimana menggunakan metode ceramah dan media presentasi memiliki rata-rata nilai yang lebih baik sehingga dapat ceramah dan media presentasi sangat Dalam pendidikan kesehatan ini peneliti juga menggunakan media leaflet hanya saja kurang efektif dalam pemberian nya karena media ini diberikan setelah meningkatkan pengetahuan responden. Peneliti pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying perlu ditingkatkan lagi, dan diharapkan dapat mengurangi masalah bullying terutama bullying verbal di MTS AlAmin Jayanti. Mungkin tidak hanya pendidikan kesehatan tentang bullying saja, tetapi masih banyak lagi pendidikan kesehatan atau penyuluhan yang harus siswa-siswi ketahui, karena semakin banyak pengalaman siswasiswi pendidikan kesehatan atau penyuluhan maka pengetahuan mereka semakin SIMPULAN Vol. 8 No. 2 December 2025 | 139 Berdasarkan hasil dan pembahasan yang ada pada bab sebelumnya dengan analisis data maka dalam penelitian tentang AuPengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Perilaku Bullying di MTS Al-Amin JayantiAy, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Tingkat pengetahuan siswa-siswi sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying adalah cukup sebanyak 65 responden . %). Tingkat pengetahuan siswa-siswi sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang perilaku bullying adalah baik sebanyak 100 responden . %). Terdapat pengaruh sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying dengan hasil uji Test Statistics didapatkan nilai Asymp. Sig. -taile. bernilai 0,000 (<0,. sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima artinya terdapat pengaruh sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang perilaku bullying meningkat 100%. DAFTAR PUSTAKA