DIMENSI KEBERMAKNAAN DAN KEAKTIFAN DALAM PROSES RECEPTIONLEARNING DAN LEARNING BY DISCOVERY (Oleh: Drs. Sugeng Sugiyono. PENDAHULUAN Pembaharuan dalam dunia pendidikan pada dewasa ini mencakup berbagai bidang aktivitas, rencana, metode serta merintis cara-cara baru sebagai langkah optimalisasi sistem non-verbal dan cara memanipulasi pengalaman belajar-mengajar di dalam maupun di luar kelas. Penekanan bidang pendidikan selanjutnya diletakkan pada metode belajar self discovery . enemukan secara mandir. maupun belajar untuk problem solving . emecahkan masala. di samping itu berkembang pula ketidakpuasan terhadap tehnik-tehnik belajar-mengajar yang hanya mengandalkan instruksi verbal Teori dalam bidang pendidikan dewasa ini semakin cenderung untuk menerima asumsi-asumsi sebagai berikut: Berbagai generalisasi yang disajikan kepada para siswa/mahasiswa tidak lain merupakan suatu bentuk produk dari suatu aktivitas problem-solving, dan . Semua usaha untuk menguasai konsep-konsep dan proposisi-proposisi verbal tidak lain hanyalah merupakan belajar yang tak bermakna, kecuali bila siswa/mahasiswa telah memiliki pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh konstruksi verbal tersebut. Satu alasan yang dirasa cukup logis bagi sebab kegagalan dalam sistem expository-teaching . engajaran terbuk. dalam bentuk verbal adalah kenyataan masih banyaknya materi pokok bermakna yang disampaikan dengan menggunakan bentuk rote-learning . Adapun alasan bahwa generalisasi konsep verbal diamati sebagai produk problem-solving maupun tehnik belajar menemukan sebelumnya adalah timbul dari teori belajar modern sebagai berikut: Adanya kecenderungan para ahli psikologi pendidikan untuk menyamaratakan berbagai jenis dan kualitas proses belajar dalam satu model pengajaran sehingga semakin mengkaburkan perbedaan yang mendasar antara reception-learning . elajar secara resepti. dengan learning by discovery . elajar menemuka. maupun antara belajar hapalan dengan belajar bermakna. Belum terdapatnya teori yang mapan tentang belajar verbal yang bermakna dan kecenderungan para ahli psikologi untuk menginterpretasikan belajar terhadap suatu materi, memerlukan waktu yang lama dan berdasar pada konsep yang sama. O!eh karena itu perlu digaris bawahi perbedaan antara belajar reseptif dengan belajar menemukan dan antara belajar dengan hapalan dan belajar bermakna. Membedakan antara "reception" dan "discovery" dalam belajar itu penting, oleh karena pada umumnya pemahaman yang diperoleh siswa/mahasiswa di dalam maupun di luar kelas adalah dari "penyampaian" dan bukan dari yang "ditemukan". Karena materi/bahan pelajaran itu kebanyakan disampaikan secara verbal, maka semakin penting artinya untuk menilai peran belajar reseptif sebagai yang kita sebut dengan istilah "reception-learning" yang pada dasarnya tidaklah mesti dengan ciri hapalan, namun dapat juga dalam bentuk belajar bermakna . tanpa harus didahului oleh pengalaman non-verbal dan problem solving. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan infonnasi serta input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam meluruskan persepsi kita terhadap peran dan fungsi belajar reseptif melalui sistem pengajaran verbal dan langsung . irect[). RASIONIL "Reception-learning" baik dalam bentuk hapalan maupun kebermaknaan adalah bahwa seluruh kandungan atau isi bahan pelajaran, disajikan dalam bentuk atau formatnya yang final. Tugas belajar di sini tidaklah mencakup tugas menemukan maupun memecahkan masalah secara mandiri, siswa/mahasiswa hanya diharapkan untuk mampu mengintemalisasikan bahan atau konsep yang disajikan supaya bahan tersebut dapat dimanfaatkan atau diproduksi kembali pada kesempatan mendatang. Istilah "discovery"! itu sendiri dalam bidang belajar adalah sulit untuk didefinisikan dengan jelas. Namun berbagai literatur menjelaskan bahwa "discovery" seringkali menggambarkan sikap, tabiat atau tingkah laku yang diperoleh siswa/mahasiswa pada saat dipacu untuk menyelesaikan tugas belajamya dengan atau tanpa bantuan pengajar. "Learning by discovery" pada prinsipnya adalah bahwa isi bahan yang harus dipelajari tidak dalam bentuk sajian, namun harus berdasar kepada penemuan yang tidak mengikat, baru kemudian menginternalisasi isi bahan tersebut. Deng an kata lain, tug as belajar ini adalah dalam rangka menemukan jawaban dari suatu masalah, mencari hubungan yang tepat antar beberapa variabel, mencari hubungan yang tepat antar beberapa variabel, mencari atribut umum dari sejumlah contoh yang berbeda jenis dan waktunya. Langkah pertama "learning by discovery" adalah mencakup satu proses yang jelas berbeda dari "reception learning". Siswa/mahasiswa menyusun kembali sejumlah informasi, mengintegrasikannya ke dalam struktur kognitif yang ada,2 kemudian mengorganisir kembali bahan yang diintegrasikan terse but dengan mencari relasi antar makna yang belum jelas sebelumnya dalam bentuk produk akhir semisal proposisi, generalisasi maupun konsep. Sun . menyatakan bahwa "discovery" adalah proses mental di mana individu mengasimilasi prinsip dan Dengan kata lain, proses "discovery" terjadi apabila siswa/mahasiswa terlibat dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa prinsip atau konsep. Jerome Bruner, profesor Psikologi Harvard University juga menyatakan bahwa di dalam "learning by discovery", siswa/mahasiswa memiliki keterlibatan yang lebih besar dalam mengembangkan self-concept yang lebih baik. PERBEDAAN PROSES ANT ARA RECEPTION LEARNING DAN LEARNING BY DISCOVERY Dari uraian di atas diperoleh penjelasan bahwa "reception learning" dan "learning by discovery" adalah dua sisi yang perlu dibedakan terutama bila ditinjau dari segi Pengertian "discovery" di sini hanya menunjukkan kepada sikap atau peri!aku yang tidak nampak dan sekaligus merupakan tipe sikap yang terjadi sebelum respon pertama diterima o!eh siswa/mahasiswa. Atau dengan kata lain sikap tersebut muncul kapan saja selama proses be!ajar terjadi. Sistem pemikiran yang dimiliki seseorang dalam disiplin ilmunya. prosesnya masing-masing. Dilihat dari segi hasilnya pun terdapat perbedaan, sejalan dengan perbedaan proses yang dilaluinya. Diagram proses belajar berikut akan lebih memperjelas perbedaan proses dua jenis belajar tersebut. Langkah-langkah formal dalam proses belajar post discovery . aya inga. elajar forma. Diagram di atas menunjukkan proses belajar, dari mana dimulai dan kapan Point A. D menunjukkan langkah formal belajar secara berurutan. Antara Adan B pada umumnya disebut sebagai langkah "discovery", sedang point B menandakan awal dimulainya siswa/mahasiswa mengadakan respon dengan atau tanpa bantuan pengajar. Dalam proses belajar yang dimulai dari point B, siswa/mahasiswa sedang mencoba mengingat dan menerima perkembangan kecakapan dalam rangka menerapkan apa yang telah ditetapkan pada point B. Dia mulai belajar untuk mentransfer situasi-situasi baru, membuat deskriminasi atau menumbuhkan taraf Point C menandakan akhir dari kegiatan belajar formal, di mana guru/dosen tidak lagi terlibat di dalamnya. Test secara formal sudah ,dapat dimulai dari point C sebagai test langsung atau Test Hasil Belajar (Learning-fes. Apabila test tersebut diberikan sesudah melalui rentang waktu tertentu, maka test dilaksanakan pada point D yang masih dalam satuan proses belajar. Tidak semua sistem belajar mencakup keseluruhan proses dari A sampai C terutama jika siswa/mahasiswa diasumsikan telah memiliki dasar-dasar konsep atau keahlian tertentu. Dikehendakinya siswa/mahasiswa belajar dari A adalah digambarkan sebagai "learning by discovery", sedangkan jika mulai dari B maka disebut belajar langsung atau "reception-learning". Ada lagi tipe belajar dimulai dari point A tetapi di bawah bimbingan . guru/dosen yang disebut dengan "guided Discovery". Untuk memperjelas perbedaan hasil berdasar perbedaan proses belajar tersebut maka dapat dilihat dari eksperimen-eksperimen . Eksperimen Kersh . Discovery : ,A__B_ belajar C D test untuk Guided A . B belajar C D test untuk Directed B_. __CD test untuk Pengalaman "discovery" secara intensif terjadi pada A - B tanpa ada keharusan untuk belajar fonual pada B - C, namun pada umumnya siswa/mahasiswa cenderung untuk terns belajar pada B - C. "Guided discovery" pada A . B mendapat bimbingan, sedangkan "directed group" menerima penjelasan langsung atas prinsip-prinsip, contoh dan penerapan. Sesudah kurang lebih 1 bulan, diadakan test pada point D. "Discovery Group" yang diprediksikan memperoleh prestasi tinggi, malah terjadi sebaliknya atau gagal. Sesudah 1 bulan berikutnya diadakan test kembali, "discovery group" ini menunjukkan keunggulannya. Eksperimen J. Kittel . Discovery : A_ _ _B D test untuk B belajar formal A . B _ _ _ _ _C D test untuk B Guided belajar formal D test untuk B B . Directed Diagram Kittel ini menunjukkan bahwa pada B . C, "discovery group" tidak sepenuhnya mengikuti pelajaran formal, sedangkan "guided group" memperoleh kesempatan lebih banyak dalam belajar formal yang menjadikan prestasinya lebih Sedangkan "directed group" sama sekali kurang memperoleh kesempatan belajar sehingga prestasinyapun menjadi paling rendah. Eksperimen Gagne dan Brown . Dalam penelitian ini Gagne dan Brown melaksanakan test langsung sesudah periode belajar formal, bertujuan untuk mengukur kecakapan siswa/mahasiswa dalam menemukan kaedah-kaedah dan prinsip-prinsip baru dari berbagai masalah yang Discovery : A_ _ _B. C test belajar formal A . C test Guided belajar formal B_________C test Directed belajar formal Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa "guided group" prestasinya sedikit berada di bawah "discovery group", sedangkan "directed group" masih berada di bawah dua kelompok di atas. Jadi jelaslah bahwa proses "reception learning" dan ''learning by discovery" itu merupakan dua jenis proses belajar yang berbeda. Dua metode belajar ini bukan saja berbeda secara mendasar baik . ari segi esensi maupun prosesnya, namun jug a berbeda dari segi peranannya dalam pengembangan intelektual dan pemfungsian kognitif. Selain hal tersebut, perlu dicatat bahwa seluruh atau sebagian besar bahan studi itu diperoleh melalui belajar secara reseptif sedangkan berbagai problem kehidupan sehari-hari itu dipecahkan melalui "discovery". Namun demikian, tidak jarang terjadi kekeliruan di dalam menerapkan dua jenis metode belajar ini, yaitu pengetahuan yang diperoleh secara reseptif seringkali dimanfaatkan untuk pemecahan masalah kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, tidak jarang pula metode belajar "discovery" dipakai hanya untuk meningkatkan, memperluas, menerapkan, mengintegrasi serta menguji pengetahuan dan pemahaman bahan pelajaran. "Leaming by discovery" secara psikologis lebih merupakan proses awal dari belajar reseptif, dikarenakan "discovery" ini memberikan dugaan pemecahan masalah yang mendahului munculnya pengertian dan inti informasi. Tidak demikian halnya "reception learning" yang secara keseluruhan nampak berkembang kemudian dan pada umumnya mengimplisitkan suatu tingkat kematangan kognitif. 3 Anak-anak kebanyakan mempelajari konsep dan proposisi baru Horwiz . menjclaskan bahwa efclc pada domein kognitif seseorang tergantung pada tipe kecakapan kognitifnya, sehingga pengajaran verbal . yang pada umumnya diterima secara reseptif akan lebih baik hasilnya untuk tipe kognitif tingkat rendah. Sedangkan untuk tipe kognitif tingkat tinggi, maka pengajaran yang sifat. nya lebih terbuka semacam "discovery" akan lebih baik. secara induktif melalui penemuan mandiri meskipun penemuan mandiri tersebut tidak lagi merupakan hal yang esensial manakala sarana empiris yang konkrit memang telah 4 Meskipun "reception" ini nampaknya terjadi lebih dahulu, namun hal itu bukanlah sesuatu yang menonjol di kalangan anak-anak sampai mereka benar-bep. mampu melibatkan diri dalam proses mental dan mampu memahami proposisi-proposisi yang disuguhkan dalam bentuknya yang verbal tanpa bantuan pengalaman empiris sebelumnya. KEBERMAKNAAN RECEPTION LEARNING Teori belajar pada umumnya mengakui dan menerima asumsi yang menyatakan bahwa hubungan antara konsep baru dengan konsep lama tidak akan dapat difahami bila cara mempelajarinya dilakukan dengan menghafalkan kata-kata belaka. Cara tepat untuk mempelajarinya ialah menangkap makna hubungan antara konsep baru dengan konsep lama tersebut. Asumsi lain yang sering dipertahankan adalah bahwa konsep-konsep abstrak dan generalisasi hanyalah merupakan bentuk-bentuk kosong, bentuk-bentuk verbal yang tidak bermakna kecuali seseorang telah memahaminya atas dasar pengalaman empiris dan pemecahan masalah sebelumnya. Proposisi-proposisi semacam di atas apabila dianaljsis secara cermat sebagaimana pengamatan Ausubel, muncul akibat kekeliruan penalatan sebagai berikut: Pengajaran verbal dapat disampaikan melalui orang lain atau menggunakan alat . Kekeliruan dalam menafsirkan dimensi "reception" dan "discovery" dalam proses belajar sebagai dirnensi hafalan dan kebermaknaan. Adanya generalisasi yang tak berdasar terhadap kondisi perkembangan yang berbeda-beda dalam belajar dan berfikir pada anak-anak, remaja dan orang dewasa. Apabila diamati secara seksama, belajar reseptif secara verbal tidaklah mesti dengan ciri-ciri hafalan belaka, akan tetapi pengerti'an-pengertian ideal . konsep-konsep dan generalisasi-generalisas. dapat pula diintemalisasikan melalui cara reseptif ini dengan tanpa harus didahului pengalaman "discovery"sebelurnnya. Tidak pula diperlukan suatu taraf di mana siswa/mahasiswa harus menemukan prinsip-prinsip secara mandiri sebelumnya untuk dapat memahami bahan sajian secara bermakna. Metode reseptif ini nampaknya akan lebih bermakna apabila diterapkan pada anak-anak yang kemampuan kognitifnya belum matang. Adapun faktor-faktor yang mengesampingkan peran dan mengurangi nilai kebermaknaan "reception learning" adalah penggunaan alat bantu dan metode penyampaian yang tidak ajeg. Di samping itu terdapat keyakinan yang oleh Ausubel dianggap kurang benar yaitu bahwa belajar reseptif hanya mencerminkan hafalan belaka tanpa memiliki variasi, sementara belajar dengan cara "discovery" cukup memiliki makna yang John Dewey juga membenarkan bahwa pemahaman terhadap prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang abstrak pada anak-anak harus dibangun atas dasar pengalaman empiris secara langsung. Syamsu Mappa dkk. Teori Be/ajar dan Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi PPLPfK, 1984, hal. Stones. Readings in Educa1ional Psychology. Leaming and Teaching. London: Methuen & Co Ltd, 1970, hal. Ausubel. The Psychology of Meaningful Verbal Learning. Grune and Stratton, 1963, hal. Asumsi tersebut ada hubungannya dengan doktrin lama yang mengatakan bahwa pengetahuan yang sungguh-sungguh dimiliki dan difahami seseorang adalah pengetahuan yang ditemukannya sendiri sebagaimana disebut di muka. Maka satu proposisi yang dapat dipegangi adalah bahwa sistem of delivery . ehnik penyampaia. dalam bentuk verbal atau melalui problem-solving dapat saja berupa hafalan . atau secara bermakna . , tergantung dari berbagai kondisi di mana proses belajar-mengajar itu terjadi. Adapun sebab berkurang dan bahkan hilangnya kebermaknaan studi dalam hal belajar reseptif ini seringkali dikembalikan kepada penggunaan cara-cara belajar verbal itu sendiri oleh sebagian kalangan pendidik. Jadi jelas sekali bahwa belajar reseptif melalui penyampaian verbal dapat menjadi bermakna tanpa diawali pengalaman penemuan maupun pemecahan masalah. Adapun kelemahan yang sering ditimpakan kepada metode penyampaian semacam ini bukan berasal dari metode itu sendiri, melaink:an berdasarkan kepada berbagai kesalah-penerapan. DIMENSI KEAKTIFAN DALAM PROSES "RECEPTION-LEARNING" Kebermaknaan dalam belajar reseptif mencakup lebih dari sekedar menyusun konsep-konsep jadi dalam suatu susunan kognitif tertentu, namun membutuhkan kemampuan untuk menginrnalisasi melalui langkah-langkah sebagai berikut: Diperlukannya pertimbangan yang mencerminkan kebijaksanaan dalam menemukan relevansi antar prinsip atau konsep dalam menentukan cara penyusunan proposisi untuk memperoleh pengetahuan baru. Perlu adanya taraf kecakapan dalam memadukan pengetahuan terutama apabila terdapat ketidak sesuaian maupun konflik masalah. Proposisi yang baru diperoleh tersebut biasanya akan diterjemahkan ke dalam suatu kerangka pemikiran sendiri selaras dengan latar belakang pengalaman dan struktur kognitif yang