Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 DOI http://dx. org/10. 36722/sh. Denah Rumah sebagai Simbol Konflik dan Relasi Kuasa dalam Novel Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. Alamanda Hesarianti1. Nina Alia Ariefa1* Bahasa dan Kebudayaan Jepang. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Universitas Al-azhar Indonesia. Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru. Jakarta Selatan, 12110. Penulis untuk Korespondensi/E-mail: nina4ariefa@gmail. Abstract Ae This study examines the representation of family conflict in Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. by Uketsu. Unlike previous studies that emphasize psychological conflict, this research focuses on how conflict is constructed as a generational power relation and materialized through domestic spatial The study aims to analyze how power operates within parentAechild relations by integrating the sociology of literature, symbol theory and spatial studies. This research employs a Qualitative Textual Analysis of Narrative Descriptions, spatial configurations, and genealogical discourse in the novel. The findings reveal that family conflict is not primarily expressed through explicit dialogue, but through structural mechanisms such as spatial isolation, control of visibility, genealogical exclusion, and succession pressure. The house plan functions as an ideological device that regulates mobility, determines visibility, and reproduces generational hierarchy. Elements such as windowless rooms, concealed spaces, and inherited architectural design demonstrate how domestic space operates as a medium of control and The novelty of this study lies in conceptualizing domestic space as a narrative mechanism that materializes structural family conflict. Theoretically, this study proposes the notion of Auspatialized generational power relations,Ay highlighting how architecture in contemporary Japanese literature serves as a site where traditional genealogical norms and individual autonomy are continuously negotiated. Abstrak - Penelitian ini mengkaji representasi konflik keluarga dalam Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. karya Uketsu. Berbeda dari kajian sebelumnya yang cenderung menekankan konflik psikologis, penelitian ini memfokuskan pada konflik sebagai relasi kuasa generasional yang dimaterialkan melalui konfigurasi ruang domestik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana relasi kuasa dalam hubungan orang tuaAeanak bekerja melalui integrasi pendekatan sosiologi sastra, teori simbol dan kajian Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Tekstual Kualitatif terhadap deskripsi naratif, konfigurasi ruang, dan wacana genealogis dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik keluarga tidak terutama diekspresikan melalui pertentangan dialogis yang eksplisit, melainkan melalui mekanisme struktural seperti isolasi ruang, pengendalian visibilitas, eksklusi genealogis, serta tekanan Denah rumah berfungsi sebagai perangkat ideologis yang mengatur mobilitas, menentukan visibilitas, dan mereproduksi hierarki generasional. Elemen seperti kamar tanpa jendela, ruang tersembunyi, serta desain arsitektur yang diwariskan memperlihatkan bagaimana ruang domestik beroperasi sebagai medium kontrol dan eksklusi. Kebaruan penelitian ini terletak pada konseptualisasi ruang domestik sebagai mekanisme naratif yang mematerialkan konflik struktural keluarga. Secara teoretis, penelitian ini mengajukan konsep Aurelasi kuasa generasional yang terspasialisasi,Ay yang menegaskan bahwa arsitektur dalam sastra Jepang kontemporer menjadi arena negosiasi antara norma genealogis tradisional dan otonomi individu. Keywords - Domestic Space. Family Conflict. Generational Power Relations. Ie System. Spatial Narrative. PENDAHULUAN astra pada hakikatnya tidak hanya berfungsi sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai medium refleksi realitas sosial yang memuat kritik budaya serta memetakan relasi kekuasaan dalam Dalam konteks keluarga, karya sastra kerap menghadirkan dinamika emosional sekaligus Received: 28 February 2026. Accepted: 06 April 2026. Published: 31 March 2026 Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 struktur otoritas yang berdampak pada kondisi psikologis para tokohnya. Sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan bahwa novel fiksi memanfaatkan rumah atau ruang domestik sebagai metafora konflik emosional dan kompleksitas relasi Dalam novel AuRumah untuk AlieAy misalnya, konflik keluarga dan tekanan sosial dieksplorasi melalui representasi pengalaman internal tokoh dalam lingkungan rumah. Konflik batin tokoh berkembang sebagai konsekuensi dari relasi keluarga yang problematis, sehingga rumah tidak sekadar menjadi latar peristiwa, melainkan ruang yang memediasi tekanan sosial dan psikologis (Zahrah. Kasmantoni, & Friantary, 2. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa struktur dan makna rumah dapat berfungsi sebagai medium untuk memahami konflik interpersonal dalam narasi fiksi modern Indonesia. Dalam kajian sastra Indonesia, konflik rumah tangga umumnya dianalisis melalui hubungan antar tokoh, terutama dalam bentuk konflik internal atau pertentangan batin, namun perhatian terhadap rumah sebagai simbol struktural relasi keluarga masih relatif terbatas. Alfadila & Purnomo . , misalnya mendeskripsikan konflik rumah tangga dalam novel lokal sebagai manifestasi sifat antagonis antartokoh, tetapi kajiannya berhenti pada dinamika personal tanpa mengaitkan ruang rumah sebagai representasi simbolik konflik. Penelitian lain juga cenderung menggunakan pendekatan psikologi sastra untuk mendalami konflik batin tokoh, tanpa memperluas analisis ke dimensi spasial dalam karya sastra kontemporer. Dengan demikian, ruang domestik lebih sering diperlakukan sebagai latar netral daripada sebagai struktur yang memproduksi makna. Di sisi lain, terdapat sejumlah kajian yang menyoroti simbolisme rumah dalam konteks budaya tertentu, misalnya penelitian mengenai makna arsitektur rumah adat sebagai representasi nilai filosofis dan struktur sosial masyarakat (Rapoport, 1969. Oliver. Samanani & Lenhard, 2019. Mora, 2. Kajian semacam ini umumnya menggunakan pendekatan semiotik atau antropologis untuk menafsirkan simbol-simbol ruang dalam tradisi arsitektur, namun demikian, penelitian tersebut pada umumnya berada di luar ranah sastra naratif modern dan belum secara spesifik mengaitkan struktur ruang rumah dengan dinamika konflik keluarga dalam teks Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian . esearch ga. yaitu masih terbatasnya kajian yang mengintegrasikan analisis ruang domestik, termasuk denah dan konfigurasi strukturalnya, sebagai simbol konflik keluarga dalam karya sastra modern. Kesenjangan tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan karya penulis Jepang kontemporer seperti Uketsu, yang secara intens memanfaatkan elemen arsitektural dalam konstruksi narasinya. Dalam konteks sastra Jepang kontemporer, karyakarya misteri dan thriller psikologis semakin sering memanfaatkan ruang domestik sebagai perangkat naratif untuk merepresentasikan konflik sosial yang lebih luas. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Henna Ie karya Uketsu, sebuah novel misteri yang menempatkan denah rumah sebagai pusat pengungkapan konflik keluarga. Berbeda dari narasi misteri konvensional yang menitikberatkan pada logika detektif atau penyelidikan kriminal, novel ini membangun ketegangan melalui analisis arsitektur rumah yang tidak lazim. Keanehan tata letak ruang dalam novel tersebut secara bertahap mengungkap praktik pengurungan, relasi genealogis yang tersembunyi, serta mekanisme kontrol dalam Dengan demikian, rumah dalam narasi ini tidak hanya berfungsi sebagai latar cerita, tetapi sebagai struktur naratif yang memproduksi konflik. Pemilihan novel ini juga berkaitan dengan meningkatnya perhatian terhadap representasi keluarga dalam masyarakat Jepang kontemporer. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa perubahan sosial Jepang pasca-2000 ditandai oleh ketegangan antara modernitas, meningkatnya individualisme dan nilai keluarga tradisional yang masih dipengaruhi oleh warisan sistem ie. Meskipun sistem keluarga ie secara formal telah dihapus dalam kerangka hukum modern Jepang, nilai-nilai genealogis dan hierarki generasionalnya masih terus memengaruhi praktik sosial keluarga hingga masa kini (Sugimoto, 2. Pada saat yang sama, sejumlah studi menunjukkan bahwa masyarakat Jepang mengalami peningkatan individualisme dan perubahan pola hidup keluarga, seperti meningkatnya usia pernikahan, perubahan struktur rumah tangga, serta kecenderungan hidup yang lebih independen dari keluarga besar (Ogihara. Kajian memperlihatkan bahwa transformasi sosial dan ekonomi sejak akhir abad ke-20 hingga awal abad ke-21 telah mengubah relasi kerja, pernikahan dan kehidupan domestik di Jepang, sehingga menciptakan dinamika baru dalam hubungan antar generasi dalam keluarga (Rindfuss et al. , 2. Dalam konteks tersebut, konflik keluarga tidak selalu dimunculkan melalui pertentangan emosional Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 yang eksplisit, tetapi sering dimediasi melalui struktur sosial, tradisi genealogis, maupun pengaturan ruang domestik. Novel Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. menjadi menarik untuk dikaji karena menampilkan bagaimana relasi kuasa dalam keluarga dimaterialisasikan melalui arsitektur rumah dan tata ruang domestik. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus pada analisis konflik keluarga dalam novel Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. karya Uketsu dengan menempatkan denah rumah sebagai elemen simbolik dalam struktur narasi. Permasalahan penelitian dirumuskan dalam dua pertanyaan utama, . Bagaimana direpresentasikan dalam novel tersebut dan . Bagaimana denah rumah berfungsi sebagai simbol konflik keluarga dalam narasi. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk konflik keluarga yang direpresentasikan dalam novel serta menganalisis fungsi denah rumah sebagai simbol relasi kuasa generasional dalam keluarga. Melalui pendekatan tersebut, penelitian ini berupaya memperluas kajian konflik keluarga dalam sastra dengan menempatkan ruang domestik sebagai struktur simbolik yang tidak hanya berfungsi sebagai latar cerita, tetapi juga sebagai medium naratif yang memproduksi dan merepresentasikan relasi kuasa dalam keluarga. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual dengan memperlihatkan bahwa konflik keluarga dalam sastra misteri Jepang tidak hanya direpresentasikan melalui interaksi antar tokoh, tetapi juga dimaterialisasikan melalui konfigurasi ruang domestik sebagai mekanisme naratif yang membentuk dan mengungkap dinamika kekuasaan dalam keluarga. konteks sosial yang melingkupinya. Damono . menegaskan bahwa karya sastra tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan selalu berhubungan dengan sistem nilai, norma dan struktur sosial masyarakat. Sejalan dengan itu. Laurenson & Swingewood merefleksikan sekaligus mengkritik institusi sosial, termasuk keluarga sebagai unit dasar masyarakat. Dalam perspektif ini, relasi antartokoh dalam teks sastra dapat dibaca sebagai representasi struktur kekuasaan, legitimasi sosial, serta ketegangan nilai yang berkembang dalam masyarakat. Dengan demikian, konflik keluarga dalam novel tidak semata-mata dipahami sebagai persoalan personal atau psikologis, tetapi manifestasi dari relasi kuasa yang dilembagakan dalam struktur Contoh konflik antara orang tua dan anak yang mencerminkan dominasi generasional, tekanan normatif, serta mekanisme kontrol dalam keluarga. Melalui pendekatan ini, analisis tidak berhenti pada interaksi antar tokoh, tetapi bergerak menuju pembacaan struktural yang mengaitkan konflik dengan dinamika sosial budaya yang lebih luas. Selain kerangka sosiologis, penelitian ini memanfaatkan teori simbol untuk memahami bagaimana makna konflik direpresentasikan secara tidak langsung melalui elemen naratif. Mengacu pada Wellek & Warren . serta Abrams . , simbol dalam sastra dipahami sebagai objek, ruang, atau peristiwa yang memiliki makna yang melampaui arti literalnya dan memperoleh signifikansi melalui konteks naratif. Simbol memungkinkan teks menyampaikan gagasan ideologis, kondisi psikologis, maupun struktur sosial tanpa harus mengungkapkannya secara eksplisit. Penelitian ini berpijak pada tiga landasan teoretis yang saling berkaitan yaitu sosiologi sastra, teori simbol dan kajian ruang dalam sastra. Ketiga pendekatan ini digunakan secara komplementer untuk menganalisis konflik keluarga dalam novel Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. Sosiologi sastra digunakan untuk menelaah konflik sebagai representasi relasi sosial dan struktur kekuasaan dalam keluarga, sementara teori simbol dan kajian ruang digunakan untuk menafsirkan denah rumah sebagai representasi ideologis yang mematerialkan konflik tersebut dalam bentuk spasial. Dalam konteks ini, ruang domestik, terutama rumah sering kali berfungsi sebagai simbol yang merepresentasikan relasi sosial dan kondisi batin Perspektif ini diperkuat oleh Bachelard . yang menekankan bahwa rumah dalam sastra bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang pengalaman yang memuat memori, emosi dan relasi antar individu. Struktur ruang dalam rumah dapat mencerminkan rasa aman, keterasingan, maupun relasi kuasa yang berlangsung dalam kehidupan Oleh karena itu, konfigurasi ruang yang tidak lazim, seperti ruang tersembunyi atau tata letak yang ganjil, dapat ditafsirkan sebagai simbol dari ketegangan sosial dan psikologis dalam keluarga. Pendekatan sosiologi sastra memandang karya sastra sebagai produk budaya yang tidak terlepas dari Penguatan atas pembacaan simbolik tersebut diperoleh melalui kajian ruang dalam sastra modern. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 khususnya dalam perspektif geokritik. Tally Jr. menyatakan bahwa ruang dalam karya naratif ideologis, karena mampu memetakan relasi sosial dan distribusi kuasa dalam teks. Ruang tidak bersifat netral, melainkan mengandung nilai dan struktur yang membentuk pengalaman tokoh. Westphal . juga menegaskan bahwa ruang dalam sastra memiliki dimensi simbolik yang dapat mengungkap ketegangan sosial maupun psikologis, terutama dalam konteks ruang domestik yang berkaitan erat dengan struktur keluarga. Dalam penelitian ini, denah rumah tidak dipahami sekadar sebagai latar atau perangkat dalam genre melainkan sebagai merepresentasikan relasi kuasa dalam keluarga. Struktur ruang yang tidak wajar, keberadaan ruang tersembunyi, serta tata letak yang ganjil ditafsirkan sebagai bentuk materialisasi konflik, tekanan dan ketimpangan relasi dalam keluarga. Dengan demikian, konflik tidak hanya hadir dalam dialog atau tindakan tokoh, tetapi juga dimediasi melalui struktur ruang yang membentuk dan mengarahkan interaksi tersebut. Berdasarkan integrasi ketiga pendekatan tersebut, penelitian ini membangun kerangka analisis yang saling terhubung. Sosiologi sastra digunakan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan konflik keluarga sebagai relasi kuasa dalam konteks sosial. Teori simbol digunakan untuk mengungkap makna laten yang terkandung dalam elemen ruang, khususnya denah rumah. Sementara itu, kajian ruang menempatkan struktur domestik sebagai medium naratif yang tidak hanya merepresentasikan, tetapi juga memproduksi konflik. Dengan kerangka ini, penelitian tidak hanya mendeskripsikan konflik keluarga dalam novel, tetapi juga menjelaskan bagaimana struktur ruang berfungsi sebagai simbol sekaligus mekanisme ideologis yang membentuk konflik tersebut dalam narasi. METODE Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif Deskriptif dengan desain analisis teks untuk mengkaji representasi konflik keluarga dan simbolisasi denah rumah dalam novel Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. karya Uketsu. Pendekatan Kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada pemaknaan dan interpretasi fenomena dalam teks Creswell & Creswell . menyatakan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami makna suatu fenomena melalui analisis mendalam terhadap data tekstual dalam konteks Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan sumber data utama berupa novel Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. edisi terjemahan bahasa Indonesia. Data penelitian berupa kutipan narasi, dialog, serta deskripsi struktur ruang yang merepresentasikan konflik keluarga, khususnya relasi orang tuaAeanak dan konfigurasi denah rumah. Data sekunder diperoleh dari buku dan artikel ilmiah yang relevan dengan sosiologi sastra, teori simbol dan kajian Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode baca dan catat, dengan pembacaan intensif dan berulang . lose readin. untuk mengidentifikasi data yang sesuai dengan fokus penelitian. Analisis data menggunakan teknik analisis isi kualitatif . ualitative content analysi. sebagaimana dikemukakan oleh Krippendorff . Proses analisis dilakukan melalui beberapa tahap yaitu: . Seleksi dan pengkodean data berdasarkan relevansi dengan konflik keluarga dan struktur ruang. Pengelompokan data ke dalam kategori tematik, seperti bentuk konflik keluarga dan representasi ruang domestik. Interpretasi data dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra, teori simbol, dan kajian ruang. Penarikan Seluruh proses analisis mengikuti model interaktif Miles. Huberman & Saldaya . yang meliputi kondensasi data, penyajian data dan verifikasi temuan. Dalam konteks objek kajian, novel Henna Ie dianalisis berdasarkan pembagian sekuen naratif yaitu unit peristiwa yang membentuk alur pengungkapan konflik, namun analisis tidak mencakup seluruh sekuen dalam novel, melainkan difokuskan pada sekuen-sekuen yang secara eksplisit memperlihatkan keterkaitan antara struktur ruang domestik dan konflik keluarga. Sekuen yang dipilih meliputi bagian yang menggambarkan kejanggalan denah rumah, keberadaan ruang pengurungan yang berkaitan dengan relasi genealogis keluarga. Pemilihan ini didasarkan pada relevansinya terhadap tujuan penelitian yaitu mengkaji fungsi denah rumah sebagai simbol Dalam menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi teori dan pembacaan berulang guna memastikan konsistensi interpretasi (Creswell & Creswell, 2. Dengan Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 prosedur tersebut, analisis yang dihasilkan tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga memiliki validitas konseptual dalam menjelaskan hubungan antara konflik keluarga dan struktur ruang dalam teks sastra. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik keluarga dalam Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. karya Uketsu tidak direpresentasikan terutama melalui pertentangan dialogis yang eksplisit, melainkan melalui mekanisme struktural yang dilembagakan dalam relasi orang tuaAeanak dan dimaterialkan melalui konfigurasi ruang domestik. Konflik muncul sebagai ketimpangan relasi kuasa generasional yang berdampak pada isolasi, delegitimasi dan tekanan dalam struktur keluarga. Pada saat yang sama, denah rumah yang tidak lazim melalui keberadaan ruang tersembunyi, kamar tanpa jendela, serta desain yang diwariskan lintas generasi berfungsi sebagai struktur simbolik yang memetakan distribusi otoritas dan kontrol dalam Dengan demikian, temuan penelitian ini bergerak pada dua lapis analisis yang saling terkait yaitu . Konflik keluarga sebagai representasi relasi kuasa dalam institusi domestik dan . Denah rumah sebagai medium naratif yang mematerialkan sekaligus mereproduksi konflik tersebut dalam bentuk spasial. Kedua aspek ini dibahas secara terintegrasi untuk menunjukkan keterkaitan antara struktur sosial keluarga dan struktur ruang yang Konflik Keluarga dalam Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. Temuan menunjukkan bahwa konflik keluarga dalam novel ini beroperasi pada level relasi generasional yang tidak selalu diwujudkan melalui pertentangan terbuka. Ketegangan antara orang tua dan anak dibangun melalui pengaturan posisi, akses dan kontrol dalam ruang domestik, sehingga hubungan keluarga tampil dalam konfigurasi yang tidak setara. Konflik tidak hadir sebagai ledakan emosional di permukaan narasi, melainkan sebagai mekanisme laten yang mengatur keberadaan dan peran setiap anggota keluarga. Dengan demikian, konflik dalam novel ini lebih tepat dipahami sebagai struktur relasional yang dilembagakan dan dipelihara melalui tatanan domestik itu sendiri. Dalam konteks ini, ruang domestik tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi sebagai medium simbolik yang merepresentasikan relasi kuasa dalam Sejalan dengan pandangan Abrams . , elemen naratif seperti ruang dan objek dapat berfungsi sebagai simbol yang memuat makna sosial yang melampaui arti literalnya. Oleh karena itu, struktur ruang rumah dalam novel ini dapat dibaca sebagai representasi simbolik dari ketimpangan relasi generasional yang membentuk dinamika konflik keluarga. Salah satu elemen ruang yang paling signifikan dalam mengungkap konflik tersebut adalah keberadaan kamar tanpa jendela. Secara fisik, ruang ini berfungsi sebagai tempat pengurungan anggota keluarga yang disembunyikan dari dunia luar, namun dalam perspektif simbolik, ruang tertutup tersebut merepresentasikan proses penghapusan visibilitas sosial terhadap individu yang dianggap menyimpang dari norma genealogis keluarga. Abrams . menjelaskan bahwa simbol bekerja melalui objek atau elemen naratif yang mengandung makna yang melampaui fungsi literalnya, sehingga memungkinkan pembacaan terhadap dimensi ideologis yang tersembunyi dalam teks. Perspektif ini diperkuat oleh pemikiran Bachelard . , yang menekankan bahwa ruang domestik dalam sastra memuat dimensi psikologis dan Ruang tertutup tanpa akses terhadap dunia luar dapat dipahami sebagai representasi keterasingan, kontrol dan subordinasi dalam struktur Dengan demikian, kamar tanpa jendela dalam novel tidak hanya sebagai detail arsitektural, tetapi sebagai simbol konkret dari relasi kuasa yang menekan dan mengisolasi anggota keluarga tertentu. Representasi tersebut tampak sejak awal ketika tokoh Kurihara mengamati denah kamar anak. AuTerlebih lagi tidak ada satupun jendela di kamar Ay (Uketsu, 2024, hal. Kutipan ini menjadi titik awal pengungkapan bahwa kejanggalan arsitektural dalam rumah bukan sekadar elemen misteri, melainkan indikasi adanya mekanisme kontrol yang bekerja secara tersembunyi dalam struktur keluarga. Ketiadaan jendela tidak hanya menandakan keterbatasan fisik ruang, tetapi juga mengisyaratkan terputusnya hubungan antara individu dengan dunia luar yang pada akhirnya memperkuat kondisi isolasi dan subordinasi dalam relasi keluarga. Pengamatan terhadap fungsi ruang sebagai medium konflik diperjelas melalui deskripsi naratif berikut. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 AuLagi pula sejak awal kamar anak tidak diberi jendela sehingga dari luar tidak seorangpun tahu bahwa ada anak tinggal di rumah ini. Aku merasa si orang tua berusaha menyembunyikan keberadaan anaknya dengan memasungnya di kamar. Ay (Uketsu, 2024, hal. Frasa Ausejak awalAy menegaskan bahwa ketiadaan jendela merupakan keputusan yang dirancang secara sadar, bukan kesalahan teknis. Sementara itu, diksi AumemasungnyaAy memperluas makna pengurungan dari sekadar pembatasan fisik menjadi bentuk pengekangan psikologis dan simbolik. Anak tidak hanya ditempatkan dalam ruang tertutup, tetapi juga disingkirkan dari kemungkinan untuk terlihat dan diakui keberadaannya dalam struktur keluarga. Secara simbolik, jendela dalam ruang domestik lazim diasosiasikan dengan keterbukaan, visibilitas dan hubungan dengan dunia luar. Oleh karena itu, keterbatasan arsitektural, tetapi juga menandai terputusnya relasi antara ruang privat dan ruang Dalam kerangka ini, ruang domestik berfungsi sebagai medium yang memproduksi keterasingan sekaligus membatasi legitimasi sosial Dengan demikian, konflik keluarga tidak hanya hadir sebagai relasi interpersonal, tetapi dimaterialkan melalui struktur ruang yang mengatur visibilitas dan eksistensi anggota keluarga. Dalam perspektif sosiologi sastra, konfigurasi ruang semacam ini mengomunikasikan relasi kuasa yang tidak selalu dinyatakan secara eksplisit. Rumah sebagai ruang domestik berfungsi sebagai artefak sosial yang merefleksikan struktur hierarkis, distribusi otoritas dan nilai-nilai yang mengatur kehidupan keluarga (Holloway, 2. Hal ini sejalan dengan kajian ruang dalam sastra Jepang yang menunjukkan bahwa ruang domestik kerap digunakan sebagai medium naratif untuk menandai hierarki sosial dan pengalaman subordinasi, khususnya dalam relasi keluarga (Devi, 2. Dalam kajian ruang naratif modern, isolasi spasial dapat dipahami sebagai mekanisme sosial untuk menghapus visibilitas subjek yang tidak sesuai dengan norma dominan. Ruang dalam teks tidak bersifat netral, melainkan memetakan relasi sosial dan ideologi yang bekerja di dalamnya (Vogel. Dalam konteks novel ini, pengurungan anak dalam ruang tanpa jendela tidak hanya merepresentasikan ketersembunyian secara fisik, tetapi juga delegitimasi simbolik dalam struktur Dengan demikian, konflik keluarga tampil sebagai struktur yang terinstitusionalisasi melalui pengaturan ruang yang secara sistematis membatasi eksistensi individu. Ketimpangan relasi tersebut semakin ditegaskan melalui kontras naratif berikut. AuSuami istri Aosuper mesraAo dan Aoanak yang dikurungAo, entah mengapa ketimpangan besar di antara keduanya terasa menyeramkan. Ay (Uketsu, 2024, hal. Kontras antara pasangan yang digambarkan Ausuper mesraAy dan figur Auanak yang dikurungAy menunjukkan distribusi afeksi dan kuasa yang timpang dalam keluarga. Harmoni pada level pasangan dewasa diproyeksikan secara mencolok, sementara anak justru ditempatkan sebagai subjek yang dikecualikan. Konfigurasi ini memperlihatkan bahwa keharmonisan keluarga yang tampak di permukaan dapat berfungsi sebagai konstruksi ideologis yang menutupi praktik eksklusi internal. Dalam konteks ini, keluarga tampil sebagai ruang yang simultan stabil dan represif. Dimensi struktural konflik semakin jelas ketika pengurungan tersebut diungkap sebagai tindakan yang memiliki tujuan AuSi anak dikurung di kamar untuk suatu tujuan. Ay (Uketsu, 2024, hal. Kata AutujuanAy menandakan adanya intensionalitas, sehingga pengurungan tidak dapat dipahami sebagai tindakan emosional semata, melainkan sebagai bagian dari mekanisme kontrol yang dirancang secara sadar. Ruang domestic berfungsi sebagai instrumen regulasi sosial yang mengatur posisi dan peran anggota keluarga. Konflik mencapai tingkat yang lebih mendalam ketika legitimasi genealogis dapat dicabut secara sepihak. AuMulai hari ini kakakmu bukan anak keluarga ini Ay (Uketsu, 2024, hal. Pernyataan ini menunjukkan bahwa identitas individu dalam keluarga ditentukan oleh pengakuan struktural, bukan semata relasi afektif. Status sebagai anggota keluarga dapat dihapus melalui keputusan otoritatif yang memperlihatkan dominasi sistem genealogis dalam menentukan eksistensi sosial individu. Fenomena ini sejalan dengan kajian tentang sistem ie yang menempatkan keluarga sebagai unit yang berorientasi pada kesinambungan garis keturunan sehingga individu diposisikan sebagai bagian fungsional dari struktur tersebut (Devi, 2023. Vogel, 2013. Lebra, 1. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Ketegangan antara struktur genealogis dan kesadaran moral individu tercermin dalam reaksi AuBagaimana mungkin Kakak saya tiba-tiba menjadi anak keluarga lain. ? Anak kecil sekalipun paham bahwa itu bukanlah sesuatu yang wajar. Ay (Uketsu, 2024, hal. Kutipan ini menandai benturan antara legitimasi struktural dan intuisi moral tentang keluarga. Konflik tidak lagi berada pada level interpersonal, melainkan pada pertentangan antara otonomi individu dan sistem yang menentukan identitas secara sepihak. Dalam kondisi ini, kehilangan status keluarga berarti kehilangan pijakan sosial dan eksistensial sekaligus. Dampak dari mekanisme tersebut berlanjut pada pengalaman psikologis Au. saya makin jarang ingat pada keluarga. terlalu banyak kenangan pahit. Ay (Uketsu, 2024, hal. Penghindaran ingatan menunjukkan bahwa konflik struktural dalam keluarga tidak berhenti pada level naratif, tetapi meninggalkan residu traumatis dalam subjektivitas individu. Dengan demikian, relasi kuasa yang dilembagakan melalui struktur ruang dan sistem genealogis tidak hanya membentuk interaksi sosial, tetapi juga pengalaman psikologis jangka Logika genealogis semakin ditegaskan melalui orientasi suksesi dalam keluarga. Au. salah satu di antaranya akan menjadi ahli waris Ay (Uketsu, 2024, hal. Pernyataan ini menunjukkan bahwa posisi anak ditentukan oleh fungsinya dalam kesinambungan garis keturunan. Identitas personal tidak berdiri sebagai entitas otonom, melainkan dilekatkan pada peran struktural sebagai penerus keluarga. Dalam kerangka ini, individu menjadi medium reproduksi sistem, yang menempatkan kepentingan genealogis di atas kehendak personal. Dominasi tersebut diperkuat oleh tradisi keluarga yang bersifat represif. AuIni tradisi yang terus membelenggu keluarga Katabuchi selama puluhan tahun seperti sebuah Ay (Uketsu, 2024, hal. Tradisi dalam konteks ini berfungsi sebagai legitimasi normatif bagi praktik kontrol dan Diksi AumembelengguAy dan AukutukanAy menandakan bahwa tradisi tidak dihadirkan sebagai nilai yang dirayakan, melainkan sebagai mekanisme yang mengikat dan sulit dipertanyakan. Hal ini menunjukkan bahwa konflik keluarga dalam novel tidak bersifat insidental, tetapi merupakan hasil reproduksi nilai yang diwariskan lintas generasi (Wedayanti & Dewi, 2. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa konflik keluarga dalam novel tidak dapat dipahami secara terpisah dari integrasi antara struktur ruang, sistem genealogis dan tradisi keluarga. Ketiganya membentuk jaringan kuasa yang saling menguatkan, ruang domestik berfungsi sebagai medium material yang merepresentasikan sekaligus mereproduksi relasi kuasa tersebut. Dalam perspektif kajian ruang, rumah tidak hanya menjadi latar, tetapi perangkat ideologis yang memetakan dan menormalisasi subordinasi dalam keluarga (Qiao, 2022. Tally Jr. Dengan demikian, konflik keluarga dalam Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. tidak semata-mata berupa pertentangan antar individu, melainkan merupakan produk dari struktur sosial yang dimaterialkan Novel generasional diproduksi, dipertahankan dan dinormalisasi melalui integrasi antara ruang, tradisi dan legitimasi genealogis dalam konteks masyarakat Jepang kontemporer. Denah Rumah sebagai Simbol Konflik dan Relasi Kuasa Jika pada bagian sebelumnya telah ditunjukkan bahwa konflik keluarga termanifestasi melalui subordinasi anak, baik dalam bentuk isolasi ruang maupun penghapusan legitimasi genealogis, maka bagian ini menegaskan bahwa praktik tersebut bukanlah peristiwa insidental. Subordinasi tersebut justru merupakan hasil dari desain struktural yang disengaja dan direproduksi secara sistematis melalui konfigurasi ruang. Dengan demikian, temuan kedua menunjukkan bahwa denah rumah dalam Teka-teki Rumah Aneh (Henna I. karya Uketsu berfungsi tidak hanya sebagai perangkat penggerak misteri, tetapi sebagai struktur simbolik yang mematerialkan relasi kuasa genealogis dalam keluarga. Keanehan tata letak, seperti ruang tersembunyi, kamar tanpa akses visual, serta desain yang diwariskan lintas generasi, merepresentasikan distribusi otoritas yang timpang sekaligus menjadikan arsitektur sebagai medium konkret reproduksi ideologi keluarga. Sejak awal, narasi menegaskan adanya ruang yang secara sengaja disamarkan dalam rancangan rumah. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 AuKupikir hal itu merupakan kamuflase untuk menyembunyikan kamar yang tidak boleh sampai terlihat oleh orang lain. Ay (Uketsu, 2024, hal. AuRumah baru saya dan Ayano san harus dibangun mengikuti desain tata letak yang ditentukan oleh keluarga Katabuchi. Ay (Uketsu, 2024, hal. Istilah kamuflase mengindikasikan bahwa desain ruang mengandung intensionalitas ideologis. Denah tidak lagi berfungsi sebagai representasi teknis bangunan, melainkan sebagai mekanisme yang mengatur visibilitas sosial. Ruang tersembunyi tersebut menegaskan bahwa arsitektur digunakan untuk menentukan siapa yang dapat dihadirkan dan siapa yang harus dihapus dari pandangan. Dalam kerangka ini, denah rumah berfungsi sebagai sistem seleksi eksistensial yang bekerja melalui pengaturan Dalam kerangka ini, temuan ini sejalan dengan pemikiran Michel Foucault yang menekankan bahwa ruang tidak netral, melainkan berfungsi sebagai instrumen disiplin dan kontrol sosial melalui pengaturan visibilitas dan pengawasan . isciplinary spac. (Foucault, 1. Dengan demikian, ruang tersembunyi dalam novel dapat dipahami sebagai bentuk arsitektur yang secara aktif memproduksi ketidakhadiran sosial. Kutipan ini menunjukkan bahwa denah rumah diwariskan sebagaimana nama keluarga diwariskan. Dengan demikian, arsitektur tidak sekadar menjadi ruang tinggal, tetapi menjadi medium reproduksi ideologi genealogis lintas generasi. Sejalan dengan berbagai kajian tentang keluarga Jepang kontemporer, meskipun sistem ie telah melemah secara legal, nilai kesinambungan keluarga tetap bertahan dalam praktik simbolik, termasuk dalam pengelolaan properti dan ruang domestik (Coates. Vogel, 2. Novel ini merepresentasikan fenomena tersebut dalam bentuk spasial, rumah generasi baru menjadi reproduksi struktur kuasa generasi sebelumnya. Dalam perspektif kajian ruang sastra, denah atau peta dalam teks fiksi dapat dipahami sebagai cartography of power, yakni pemetaan relasi sosial melalui konfigurasi spasial. Denah rumah dalam novel ini tidak netral. ia mengonstruksi struktur Jalur tersembunyi, ruang tanpa akses visual, serta distribusi ruang yang tidak proporsional menjadi bentuk konkret dari relasi kuasa yang tidak Kontrol terhadap ruang pada akhirnya berimplikasi pada kontrol terhadap tubuh dan mobilitas: subjek yang ditempatkan dalam ruang tertentu tidak hanya dibatasi secara fisik, tetapi juga secara sosial dan simbolik. Hal ini sejalan dengan pendekatan yang dikembangkan oleh Henri Lefebvre yang menyatakan bahwa ruang adalah produk sosial . he production of spac. , sehingga setiap konfigurasi spasial merefleksikan relasi kuasa yang melahirkannya (Lefebvre, 1. Denah rumah dalam novel ini tidak sekadar menggambarkan ruang, tetapi mengkonstruksi struktur eksklusi yang mengatur siapa yang memiliki akses, mobilitas dan Dimensi genealogis dari relasi kuasa tersebut semakin menguat ketika narasi mengaitkan struktur ruang dengan logika pewarisan keluarga: AuKeluarga Katabuchi memiliki 3 cucu. salah satu di antaranya akan menjadi ahli waris keluarga Katabuchi. Ay (Uketsu, 2024, hal. Tekanan suksesi ini kemudian dimaterialkan secara langsung dalam bentuk arsitektur: Fenomena ini dapat dibaca melalui konsep architecture as ideology, sebagaimana dibahas dalam kajian spatial humanities yaitu bangunan tidak hanya merepresentasikan nilai, tetapi juga mereproduksi struktur sosial yang diwariskan. Dalam konteks ini, gagasan Edward Soja tentang Thirdspace menegaskan bahwa ruang merupakan arena pertemuan antara praktik sosial, representasi dan pengalaman hidup, sehingga denah rumah dalam novel ini menjadi titik temu antara ideologi genealogis dan pengalaman subjektif anggota keluarga (Soja, 1. Konstruksi ruang ini tidak dapat dilepaskan dari legitimasi tradisi keluarga yang mengikat. AuIni tradisi yang terus membelenggu keluarga Katabuchi selama puluhan tahun seperti sebuah Ay (Uketsu, 2024, hal. Dalam kerangka ini, ruang domestik dapat dipahami sebagai bagian dari spatial narrative yaitu cara cerita dibangun melalui organisasi ruang. Konsep ini sejalan dengan pemikiran Gabriel Zoran yang melihat ruang dalam teks sastra sebagai struktur naratif yang membentuk makna, bukan sekadar latar (Zoran, 1. Dengan demikian, denah rumah dalam novel ini berfungsi sebagai perangkat naratif yang mengorganisasi konflik secara spasial. AoTradisi yang terus membelengguAo tersebut kemudian dilembagakan melalui praktik pedagogis. AuSoichiro merangkum 5 pokok ritual A kemudian mendidik keras anak-anaknya untuk mengikutinya sebagai ajaran turun temurun dalam keluarga Katabuchi. Ay (Uketsu, 2024, hal. Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 Formulasi Auturun-temurunAy menegaskan bahwa kontrol genealogis tidak hanya berlangsung secara ideologis, tetapi juga terstruktur dan berulang. Dalam konteks ini, denah rumah yang diwariskan menjadi bagian dari sistem nilai yang ditransmisikan secara sistematis. Arsitektur dengan demikian dapat dibaca sebagai arsitektur ideologis ruang yang dirancang untuk menjaga kesinambungan tradisi sekaligus mengatur subjek yang hidup di dalamnya. Lebih lanjut, ketidakwajaran tata letak rumah, seperti ruang tersembunyi dan jalur yang membingungkan, dapat dibaca sebagai bentuk architecture of control. Hal ini beririsan dengan konsep heterotopia dari Michel Foucault, yaitu ruang-ruang AulainAy yang berfungsi menyimpang dari norma umum sekaligus mengungkap struktur sosial yang tersembunyi (Foucault, 1. Ruang tersembunyi dalam Henna Ie tidak hanya berbeda secara fisik, tetapi juga berfungsi sebagai lokasi di mana norma keluarga diredefinisi melalui praktik Dalam hal ini, denah rumah beroperasi sebagai simbol dari distribusi kuasa yang tidak seimbang, yaitu ruang tertutup melambangkan eksklusi, jalur tersembunyi melambangkan rahasia genealogis, struktur tidak simetris mencerminkan ketimpangan relasi dan pewarisan desain menandakan reproduksi ideologi keluarga. Dalam perkembangan kajian mutakhir, pendekatan spatial narrative juga diperkuat oleh kajian literary geography yang melihat bahwa ruang dalam teks memetakan ideologi dan relasi kuasa secara Sejalan dengan hal tersebut. Tally Jr. menegaskan bahwa pemetaan dalam sastra . iterary cartograph. merupakan cara untuk membaca bagaimana teks mengorganisasi dunia sosial melalui ruang. Denah rumah dalam novel ini, dengan demikian, berfungsi sebagai peta ideologis yang memperlihatkan struktur dominasi dalam Dalam konteks Jepang kontemporer, yang ditandai oleh transformasi menuju keluarga nuklir dan meningkatnya individualisme, sistem ie memang mengalami perubahan formal, namun sejumlah studi mutakhir menunjukkan bahwa residu ideologisnya tetap bertahan dalam bentuk tekanan simbolik terhadap pewarisan nama, aset dan kehormatan keluarga (Holloway, 2. Novel ini merefleksikan ketegangan tersebut, di satu sisi keluarga tampak modern, di sisi lain desain rumah yang diwariskan menunjukkan keberlanjutan logika genealogis Rumah menjadi metafora material dari keberlangsungan sistem lama di tengah perubahan Melalui keseluruhan konstruksi tersebut, dapat ditegaskan bahwa denah rumah dalam novel ini berfungsi sebagai . Instrumen kontrol visibilitas dan mobilitas, . Medium reproduksi genealogis lintas generasi, . Legitimasi material tradisi keluarga dan . Representasi visual ketimpangan relasi kuasa. Dengan demikian, jika bagian sebelumnya menegaskan bahwa konflik keluarga bersifat struktural yaitu terbaca melalui narasi dan relasi antartokoh, maka bagian ini menunjukkan bahwa struktur tersebut dimaterialkan secara konkret, secara visual dan spasial, dalam bentuk arsitektur. Keduanya membentuk satu kesatuan argumentatif: rumah dalam Henna Ie bukan sekadar latar, melainkan mekanisme ideologis yang mengatur legitimasi, mobilitas dan keberadaan subjek. Melalui simbol denah yang AuanehAy. Uketsu memetakan ketegangan antara individu dan sistem keluarga dalam masyarakat Jepang kontemporer. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam Tekateki Rumah Aneh (Henna I. karya Uketsu, konflik keluarga tidak dikonstruksi melalui pertentangan dialogis yang eksplisit, melainkan melalui struktur relasi kuasa yang dilembagakan dalam institusi Konflik orang tua anak hadir sebagai ketegangan struktural yang dimaterialkan melalui isolasi ruang, pengendalian visibilitas, pencabutan legitimasi genealogis, serta tekanan suksesi yang menempatkan individu sebagai fungsi dalam kesinambungan garis keturunan. Temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa denah rumah berfungsi sebagai simbol ideologis sekaligus mekanisme reproduksi kuasa. Keberadaan ruang tanpa jendela, kamar yang disamarkan, tata letak yang diwariskan, serta kewajiban membangun rumah sesuai desain keluarga menegaskan bahwa arsitektur tidak netral, melainkan menjadi medium konkret yang mengatur mobilitas, menentukan visibilitas dan menegaskan hierarki generasional. Dengan direpresentasikan secara naratif, tetapi dipetakan dan dilembagakan dalam struktur ruang itu sendiri. Secara konseptual, penelitian ini menegaskan bahwa representasi konflik keluarga dalam sastra dapat Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA. Vol. No. March 2026 bekerja melalui strategi spasial yang mengontrol visibilitas, membatasi mobilitas dan mereproduksi relasi kuasa secara simbolik. Pendekatan kajian ruang memungkinkan pembacaan terhadap makna laten yang tidak selalu terartikulasikan melalui dialog atau dinamika psikologis tokoh, melainkan tersandi dalam konfigurasi arsitektural sebagai bentuk architecture of power. Dalam konteks keluarga Jepang kontemporer, novel ini memperlihatkan bahwa transformasi menuju masyarakat yang lebih individualistik tidak sepenuhnya menghapus logika sistem ie, melainkan mentransformasikannya ke dalam bentuk yang lebih Struktur genealogis tetap direproduksi melalui praktik simbolik, termasuk dalam pengaturan ruang domestik. Rumah yang secara ideal diasosiasikan dengan keamanan dan kehangatan, direpresentasikan secara ambivalen sebagai ruang kontrol, eksklusi, sekaligus arena negosiasi antara tradisi dan otonomi individu. Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendekatan sosiologi sastra, teori simbol dan kajian ruang efektif untuk mengungkap konflik struktural yang tersandi dalam teks sastra. Penelitian dapat dikembangkan dengan menelaah representasi arsitektur domestik sebagai perangkat ideologis dalam karya sastra Jepang kontemporer lainnya, guna memahami lebih jauh relasi antara ruang, genealogis dan reproduksi kuasa narasi populer. REFERENSI