Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi https://journal. id/index. php/psikosains PERAN TRAIT KEPRIBADIAN CONSCIENTIOUSNESS DAN IKLIM SEKOLAH DENGAN STUDENT ENGAGEMENT SMA Ridha Syafiqah Zahra1*. Mustamira Shofa Salsabila2. Citra Wahyuni3 1,2,3 Ushuluddin dan Studi Agama. UIN Raden Intan Lampung Intan Lampung Article Info Article History Submitted: 11 March Final Revised: 12th August 2025 Accepted: August 2025 Abstract Background: Student engagement in learning is influenced by various factors, including the personality trait of conscientiousness and school climate. Objective: This study aims to analyze the influence of these two factors on student engagement in high schools in Bandar Lampung. Method: This research uses a quantitative approach involving 394 students with Accidental Sampling as the sampling Data collection is done using a student engagement scale (Y), conscientiousness personality trait scale (X. , and school climate scale (X. Data analysis in this study uses multiple regression with the assistance of JASP software. Results: The study shows that the conscientiousness personality trait has a significant influence on student engagement, while the school climate contributes to increasing motivation and student engagement. The regression analysis shows an RA value of 0. 724, meaning that 72. 4% of the variation in student engagement can be explained by conscientiousness and school climate, while 27. 6% is influenced by other factors not examined in this study. Conclusion: The development of character and a positive school environment can improve student engagement. The results are expected to serve as recommendations for educators and policymakers in designing more effective learning strategies. Keywords: Conscientiousness, school climate, student engagement This is an open access article under the CC-BY-SA license Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Muhammadiyah Gresik Abstrak Latar Belakang: Student engagement dalam pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kedua faktor tersebut terhadap student engagement SMA di Bandar Lampung. Metode: Penelitian ini Menggunakan pendekatan kuantitatif yang melibatkan 394 siswa dengan Accidental Sampling sebagai teknik pengambilan sampling. Pengumpulan Data menggunakan skala student engagement (Y), skala trait kepribadian conscientiousness (X. , dan skala iklim sekolah (X. Analisis data pada penelitian ini menggunakan regresi berganda dengan bantuan software JASP. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa trait kepribadian conscientiousness memiliki pengaruh signifikan terhadap student engagement, sedangkan iklim sekolah berkontribusi dalam meningkatkan motivasi dan student engagement. Analisis regresi menunjukkan nilai RA sebesar 0,724, yang berarti 72,4% variasi student engagement dapat dijelaskan oleh trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah, sementara 27,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kesimpulan: Pengembangan karakter dan lingkungan sekolah yang positif dapat meningkatkan student engagement. Hasil ini diharapkan menjadi rekomendasi bagi pendidik dan pembuat kebijakan dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif. Kata kunci: Trait Kepribadian Conscientiousness. Iklim Sekolah, student Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 175-188 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 *email : ridhasyafiqahh@gmail. Ushuluddin dan Studi Agama. UIN Raden Intan Lampung JL. Letkol. Endro Suratmin PENDAHULUAN Dinamika pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) mengalami perubahan yang signifikan, seiring dengan pergeseran paradigma pendidikan yang semakin menekankan pada penguasaan keterampilan teknis dan praktis dibandingkan dengan pengetahuan teoritis. Perubahan ini didorong oleh tuntutan pasar kerja yang semakin memprioritaskan keterampilan teknis dan keahlian kerja yang lebih spesifik. Selain itu, perubahan kebijakan pendidikan, seperti yang tercermin dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, turut berperan dalam mempengaruhi dinamika pendidikan di SMA dengan meningkatkan penekanan pada pengembangan keterampilan praktis dan mengurangi fokus pada penguasaan pengetahuan teoritis (Wang & Degol 2. Pendidikan memiliki peran yang sangat krusial dalam gerakan perubahan dan menjadi prasyarat utama untuk mencapai kemajuan. Menurut Tilaar . , pendidikan berfungsi sebagai penggerak utama dalam perubahan global yang radikal. Dalam masyarakat yang mengalami kegelapan, keterbelakangan, dan kekacauan, pendidikan menjadi tumpuan utama (Thapa dkk, 2. Oleh karena itu, pendidikan bertujuan untuk membekali generasi penerus dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah, melangsungkan kehidupan, serta mempertahankan dan mengembangkan keberadaan mereka di masa mendatang. Sekolah sebagai lembaga pendidikan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan tersebut, diharapkan dapat menghasilkan siswa yang berhasil dan berkualitas tinggi (Fikrie, 2. Keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, yang dikenal sebagai student engagement, menjadi fokus utama dalam meningkatkan hasil belajar dan mengatasi tantangan yang dihadapi siswa, seperti prestasi rendah, rasa bosan, dan tingginya angka putus sekolah. Menurut Barkley . , student engagement merujuk pada tingkat keaktifan dan frekuensi student engagement dalam berbagai kegiatan yang mendukung proses pembelajaran, konsep ini mencakup pola student engagement dalam berbagai aktivitas serta interaksi, baik di lingkungan kelas maupun di luar kelas. Peneliti, pendidik, dan pembuat kebijakan pendidikan saat ini semakin mengarahkan perhatian pada student engagement sebagai solusi untuk mengatasi tantangan tersebut (Fredricks dkk, 2. Student engagement terdiri dari tiga dimensi keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif Fredricks dkk . Keterlibatan perilaku mencakup perilaku positif siswa, seperti mematuhi aturan, berkonsentrasi dalam pembelajaran, dan aktif berpartisipasi dalam diskusi. Keterlibatan emosional melibatkan emosi siswa terhadap guru, teman, dan aktivitas akademik, sedangkan keterlibatan kognitif mencakup perhatian dan usaha siswa untuk memahami materi pembelajaran berdasarkan referensi dari (Fredricks dkk, 2. Keterlibatan aktif siswa tercermin dalam upaya mereka menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan terstruktur, serta berpartisipasi dalam berbagai aktivitas, seperti memberikan tanggapan terhadap tugas dan mengajukan pertanyaan (Hamalik, 2. Sebaliknya, siswa yang tidak terlibat cenderung bersikap pasif dan menunjukkan reaksi emosional negatif. Amirah dkk . menekankan bahwa student engagement harus dilakukan secara efisien dan efektif untuk mendukung proses pembelajaran. Sementara itu. Eccles dan Wang . mendefinisikan student engagement sebagai partisipasi aktif siswa dalam kegiatan sekolah serta komitmen mereka terhadap tujuan Peran Trait Kepribadian Conscientiousness dan Iklim Sekolah dengan Student Engagement SMA Ridha Syafiqah Zahra. Mustamira Shofa Salsabila. Citra Wahyuni Salah satu faktor yang mempengaruhi student engagement adalah trait Kepribadian conscientiousness, yang mencakup sifat-sifat seperti keteraturan, tanggung jawab, dan keuletan. Individu dengan trait Kepribadian conscientiousness yang tinggi cenderung menunjukkan persepsi diri yang positif dan memiliki harapan yang tinggi dalam mencapai tujuan (Rahmadini & Indrawati. Sebaliknya, iklim sekolah juga berperan penting dalam mempengaruhi student engagement. Iklim sekolah yang baik, yang mencakup hubungan positif antara siswa dan guru serta suasana belajar yang mendukung, dapat meningkatkan student engagement (Bradshaw dkk, 2. Penelitian ini berfokus pada trait Kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah dengan student engagement di kalangan siswa SMA di Bandar Lampung. Penelitian ini dilakukan di Bandar Lampung berdasarkan data pra-riset yang dilakukan di MAN 1 Bandar Lampung. SMA Negri 12 Bandar Lampung, dan SMA Gajah Mada. Hasil pra-riset yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner menunjukkan adanya permasalahan dalam student engagement di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil data sementara sebagian siswa aktif berdiskusi di kelas tetapi mengalami tekanan, minder, dan stres akibat beban tugas yang berat, sedangkan siswa lainnya cenderung pasif dan sering Hasil data pra-riset sementara menunjukkan variasi iklim sekolah di Bandar Lampung, yang dipengaruhi oleh budaya, kebijakan, serta hubungan sosial antara guru dan siswa, juga dapat memengaruhi tingkat student engagement. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami peran trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah dalam meningkatkan student Pemahaman ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif. Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam membangun iklim sekolah yang positif. Iklim sekolah yang kondusif tidak hanya berkontribusi pada peningkatan student engagement, tetapi juga mendukung pencapaian akademik yang lebih optimal serta pengembangan karakter siswa secara holistik (Epstein & Sheldon, 2. Student engagement dalam proses pembelajaran merupakan indikator utama keberhasilan pendidikan, karena memiliki keterkaitan yang erat dengan pencapaian akademik, pengembangan pribadi, serta kesiapan siswa dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia nyata (Gladisia dkk. Beberapa siswa menunjukkan partisipasi yang minim, baik secara kognitif, emosional, maupun perilaku, yang berpotensi menghambat proses pembelajaran dan hasil akhir yang optimal. Pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Salah satu tantangan utama yang dihadapi siswa dalam transisi ini adalah meningkatnya tuntutan akademik dan tanggung jawab pribadi. Studi kasus yang dapat menggambarkan perubahan ini adalah Penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani . mengungkapkan bahwa sebanyak 40% siswa mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan pola pembelajaran di tingkat SMA, khususnya dalam aspek manajemen waktu dan keterlibatan Selain itu, survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan . melaporkan bahwa 27% siswa SMA mengalami tingkat stres akademik yang lebih tinggi dibandingkan saat mereka masih di jenjang SMP. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah tugas serta kompleksitas evaluasi yang lebih tinggi. Kasus lainnya adalah di SMA Negeri 13 Bandar Lampung, di mana ditemukan bahwa sebagian siswa aktif dalam diskusi kelas tetapi mengalami tekanan akibat beban tugas yang berat, sedangkan siswa lainnya cenderung pasif dan sering absen. Hal ini menunjukkan bahwa ada faktor-faktor yang memengaruhi student engagement dalam proses belajar di SMA, seperti trait kepribadian Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 175-188 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 conscientiousness dan iklim sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami peran kedua faktor tersebut dalam meningkatkan student engagement dan merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif. Salah satu faktor individu yang dianggap berkontribusi besar dalam mendorong student engagement adalah trait kepribadian conscientiousness (Mirna dkk, 2. Trait kepribadian conscientiousness ini mencakup sifat-sifat seperti tanggung jawab, kedisiplinan, keteraturan, dan komitmen terhadap tugas, yang dapat mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dengan trait kepribadian conscientiousness yang tinggi cenderung lebih mampu mengatur waktu, menyelesaikan tugas tepat waktu, dan menunjukkan perilaku yang mendukung keberhasilan akademik (Mirna dkk, 2. Selain faktor individu, aspek lingkungan seperti iklim sekolah juga memainkan peran yang tidak kalah penting (Sari dkk, 2. Iklim sekolah yang positif, yang ditandai dengan hubungan suportif antara guru dan siswa, lingkungan belajar yang nyaman, dan adanya penghargaan terhadap partisipasi siswa, dapat meningkatkan rasa nyaman siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan belajar (Luluk dkk, 2. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi antara faktor individu dan lingkungan ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap student engagement (Luluk dkk. Kedua faktor tersebut berperan dalam memengaruhi student engagement. Pemahaman terhadap hubungan ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang berharga dalam pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif serta selaras dengan kebutuhan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi peran trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah dalam mendorong student engagement SMA di Bandar Lampung, sekaligus memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pendekatan yang holistik dan berbasis bukti. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian asosiatif kausal dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena data yang akan digunakan untuk menganalisis pengaruh antar variabel dinyatakan dengan angka atau skala numeric (Kuncoro, 2. Sedangkan menurut Sugiyono . , penelitian asosiatif kausal merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui ada dan tidaknya pengaruh atau hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol suatu gejala. Hubungan kausal merupakan hubungan yang sifatnya sebab-akibat, salah satu variabel independen mempengaruhi variabel yang lain yaitu dependen. Dalam penelitian ini, student engagement (Y) berperan sebagai variabel dependen, sedangkan trait kepribadian conscientiousness (X. dan iklim sekolah (X. bertindak sebagai variabel independen. Sampel atau Populasi Populasi dalam penelitian ini mencakup siswa SMA di Bandar Lampung yang terdaftar dan aktif pada tahun ajaran 2023/2024, mulai dari kelas X hingga XII. Sampel penelitian berjumlah 394 siswa, yang dipilih menggunakan teknik Accidental Sampling, yaitu metode pemilihan sampel berdasarkan kemudahan akses dalam proses pengumpulan data. Peran Trait Kepribadian Conscientiousness dan Iklim Sekolah dengan Student Engagement SMA Ridha Syafiqah Zahra. Mustamira Shofa Salsabila. Citra Wahyuni Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga skala pengukuran. Skala Student Engagement (Y) Skala ini diadopsi dari penelitian Andamari & Savitri . dan terdiri dari 25 aitem dengan nilai reliabilitas 0,875. Pengukuran ini didasarkan pada teori Fredricks dkk . , yang mengidentifikasi tiga dimensi utama, yaitu behavioral engagement, emotional engagement, dan cognitive engagement. Skala Trait Kepribadian Conscientiousness (X. Pengukuran variabel ini menggunakan skala yang diadaptasi dari penelitian Setiyaningrum & Setiowati . , yang terdiri dari 16 aitem dengan nilai reliabilitas 0,868. Skala ini merujuk pada teori Costa dkk . , yang mencakup enam aspek utama, yaitu competence, order, dutifulness, self-discipline, deliberation, dan achievement striving. Skala Iklim Sekolah (X. Pengukuran variabel iklim sekolah mengacu pada skala yang diadopsi dari Annisa dkk . , yang terdiri dari 21 aitem dengan nilai reliabilitas 0,889. Skala ini didasarkan pada teori Cohen dkk . dan mencakup empat dimensi utama, yaitu safety, teaching and learning, relationship, dan institutional environment. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis Google Form yang disebarkan melalui platform WhatsApp dan Instagram ke berbagai SMA di Bandar Lampung. Waktu pengerjaan kuesioner diperkirakan sekitar 20 menit. Sebagai bentuk apresiasi, diberikan insentif sebesar Rp 60. 000,00 kepada tiga responden terpilih. Jenis kuesioner yang digunakan adalah skala Likert, di mana responden diminta memilih jawaban yang paling sesuai dengan kondisi mereka berdasarkan empat pilihan, yaitu Sangat Setuju. Setuju. Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Skala ini terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu favorable dan Tabel 1. Skoring Skala Likert Pilihan Jawaban Skor Item Favorable Skor Item Unfavorable Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Teknik Analisis Data Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji regresi berganda dengan bantuan software JASP. HASIL Statistik Deskriptif Subjek penelitian sejumlah 394 siswa SMA di wilayah Bandar Lampung, terdiri dari 218 perempuan . ,3%) dan 176 laki-laki . ,7%). Sebanyak 100 siswa . ,4%) berusia 15 tahun. sebanyak 123 siswa . ,2%) berusia 16 tahun. sebanyak 110 siswa . %) berusia 17 tahun. sebanyak 61 siswa . ,4%) berusia 18 tahu. Terdapat 154 siswa . yang berasa di kelas X. sebanyak 121 siswa . ,7%) berada di kelas XI. dan sebanyak 119 siswa . ,2%) berada di kelas XII). Dengan demikian dapat diketahui bahwa dominasi subjek berusia 16 tahun, dengan dominasi jenis kelamin perempuan dan mayoritas duduk di kelas X. Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 175-188 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Tabel 2. Uji Deskriptif Statistik Variabel Student engagement Trait Kepribadian Conscientiousness Iklim Sekolah Mean Std. Dev Min Max Hasil statistik deskriptif memberikan gambaran umum tentang karakteristik data yang Untuk variabel student engagement (Y). Trait Kepribadian Conscientiousness (X. , dan Iklim Sekolah (X. , jumlah sampel valid adalah 394, tanpa adanya data yang hilang. Rata-rata (Mea. dari masing-masing variabel adalah 4. 21 untuk student engagement, 4. 50 untuk Trait Kepribadian Conscientiousness, dan 4. 40 untuk Iklim Sekolah. Standar deviasi (Std. De. menunjukkan tingkat variasi data dengan nilai 0. 57, 0. 45, dan 0. 50 secara berurutan. Rentang data menunjukkan bahwa nilai minimum untuk masing-masing variabel adalah 2. tudent engagemen. , 2. 90 (Trait Kepribadian Conscientiousnes. , dan 3. 10 (Iklim Sekola. , sedangkan nilai maksimum mencapai 60, 4. 90, dan 4. Uji Asumsi Langkah yang dilakukan sebelum melakukan pengolahan data dengan analisis regresi berganda yaitu uji asumsi. salah satu syarat sebuah data untuk menguji kelayakan dan agar data diolah pada tahap analisis selanjutnya. Adapun uji asumsi yang digunakan pada penelitian ini adalah uji normalitas, uji linieritas, uji multikolinieritas, dan uji heterokedastisitas. Analisis uji asumsi dilakukan dengan bantuan software JASP. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk memastikan apakah terdapat data yang tersebar berdistribusi secara normal atau tidak. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 3 berikut: Tabel 3. Uji Normalitas Variabel Student Engagement Trait Kepribadian Conscientiousness Iklim Sekolah Valid Missing Shapiro-Wilk p-value Uji normalitas dilakukan untuk menilai apakah data berdistribusi normal menggunakan uji Shapiro-Wilk. Syarat dalam analisis Shapiro-Wilk adalah jika p > 0,05 maka data yang diperoleh berdistribusi secara normal. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai p untuk ketiga variabel, yaitu student engagement (Y), trait kepribadian conscientiousness (XCA) dan iklim sekolah (XCC) semuanya lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi Temuan ini menunjukkan bahwa distribusi data memenuhi salah satu asumsi utama dalam analisis regresi, sehingga memastikan bahwa model yang digunakan mampu menghasilkan estimasi parameter yang valid, reliabel, dan efisien. Peran Trait Kepribadian Conscientiousness dan Iklim Sekolah dengan Student Engagement SMA Ridha Syafiqah Zahra. Mustamira Shofa Salsabila. Citra Wahyuni Uji Linieritas Uji linieritas dilakukan agar dapat melihat apakah ada hubungan yang linier atau tidak antara variabel independent dengan variabel dependen. Hasil uji linieritas dapat dilihat pada tabel 4 Tabel 4. Hasil Uji Linieritas Model MCA Adjusted RA RMSE Hasil analisis regresi linear pada model MCA menunjukkan hubungan positif signifikan antara variabel trait kepribadian Conscientiousness (X. dan iklim sekolah (X. dengan variabel student engagement (Y), dengan nilai R sebesar 0,851. Kombinasi kedua faktor tersebut dapat menjelaskan 72,4% variasi dalam student engagement, berdasarkan nilai RA sebesar 0,724. Nilai Adjusted RA sebesar 0,722 menunjukkan model ini tetap baik meskipun mempertimbangkan kemungkinan overfitting, dan nilai RMSE sebesar 4,315 menunjukkan kesalahan prediksi yang rendah, menandakan akurasi yang baik. Uji Multikolinieritas Pada uji multikolinieritas ini akan mengetahui ada atau tidak hubungan antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak ditemukan multikolinieritas antar variabel bebas. Model regresi akan dikatakan aman dari multikolinier apabila nilai VIF (Variance Inflation Facto. < 10,00 dan nilai T (Toleranc. > 0,10. Berikut merupakan ringkasan hasil perhitungan uji multikolinieritas dengan bantuan software JASP. Tabel 5. Uji Multikolinearitas Model HCA HCA Standardized Unstandardized Standard Coefficients t Tolerance VIF Coefficients (B) Error Intercept 867 <. 001 Intercept 211 <. 001 Trait Kepribadian 980 <. Conscientiousness Iklim Sekolah Dari hasil analisis regresi berganda, dapat disimpulkan bahwa variabel trait kepribadian conscientiousness memiliki pengaruh yang signifikan terhadap student engagement ( = 0. 792, t = 23. 980, p < 0. Sedangkan, variabel iklim sekolah tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap student engagement ( = 0. 045, t = 1. 364, p = 0. Nilai Tolerance sebesar 794 dan VIF sebesar 1. 259 menunjukkan bahwa tidak terdapat masalah multikolinearitas dalam model regresi ini. Uji Heterokedastisitas Uji heteroskedatisitas dilakukan untuk mengetahui ketidaksamaan variasi dari nilai residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Uji heteroskedatisitas dilakukan dengan cara melihat grafik Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 175-188 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 plot antara nilai prediksi variabel . redicted valu. dengan nilai residual, dimana apabila titik-titik pada grafik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y dan tidak membentuk polapola tertentu. Berikut di bawah ini adalah hasil uji heteroskedatisitas menggunakan bantuan software JASP. Gambar. 1 Uji Heteroskedasitas Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengevaluasi apakah terdapat ketidaksamaan varian residual dalam model regresi. Pengujian ini menggunakan pendekatan visual dengan menganalisis pola penyebaran titik-titik residual terhadap garis lurus. Hasil analisis menunjukkan bahwa titiktitik data tersebar secara acak di sekitar garis tanpa membentuk pola tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa model regresi tidak mengalami masalah heteroskedastisitas, sehingga asumsi homoskedastisitas terpenuhi. Dengan demikian, estimasi parameter dalam model regresi dapat dianggap tidak bias dan efisien, memastikan validitas hasil analisis. Uji Hipotesis Setelah uji asumsi terpenuhi maka langkah berikutnya adalah melakukan analisis data dengan pendekatan kuantitatif menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil perhitungan regresi berganda dengan bantuan JASP, maka diperoleh hasil dan interpretasinya sebagai berikut: Tabel 6. Uji Anova Model Sum of Regression Residual Total Mean Square Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa model regresi signifikan secara statistik dengan nilai F . , . sebesar 511,671 dan p < 0,001. Variabel trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah secara bersama-sama memberikan kontribusi besar dalam memprediksi student engagement, dengan nilai Sum of Squares untuk regresi sebesar 19. 051,621, yang menunjukkan model ini menjelaskan sebagian besar variasi data dibandingkan dengan nilai residual sebesar 7. 279,275. Analisis regresi mengindikasikan hubungan signifikan antara variabel trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah dengan student engagement, dengan nilai p < 0,001 untuk Peran Trait Kepribadian Conscientiousness dan Iklim Sekolah dengan Student Engagement SMA Ridha Syafiqah Zahra. Mustamira Shofa Salsabila. Citra Wahyuni masing-masing variabel. Ini berarti peningkatan dalam trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah secara signifikan meningkatkan student engagement. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan positif dan signifikan dalam memengaruhi tingkat student engagement. Tabel 7. Uji Analisis Berganda Variabel (Intercep. Trait Kepribadian Conscientiousness Iklim Sekolah 360 < . 674 < . < . Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa nilai RA sebesar 0,724, yang mengindikasikan bahwa 72,4% variabilitas student engagement dapat dijelaskan oleh trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah. Sementara itu, 27,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model ini. Trait kepribadian conscientiousness memiliki pengaruh signifikan terhadap student engagement, dengan = 0,792. t = 23,980. p < 0,001. Iklim sekolah tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap student engagement, dengan = 0,045. t = 1,364. p = 0,173. Pada model MCA, persamaan regresi yang dihasilkan adalah Y = 23,303 0,606 (X. 0,413 (X. Persamaan ini menunjukkan bahwa ketika kedua variabel independen bernilai nol, maka rata-rata student engagement adalah 23,303. Setiap peningkatan satu unit pada trait kepribadian conscientiousness akan meningkatkan student engagement sebesar 0,606 unit ( = 0,. dengan pengaruh yang signifikan secara statistik . = 12,674. p < 0,. Setiap peningkatan satu unit pada iklim sekolah akan meningkatkan student engagement sebesar 0,413 unit ( = 0,. dengan pengaruh yang signifikan secara statistik . = 9,749. p < 0,. Temuan ini mengonfirmasi adanya hubungan positif antara trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah dengan student engagement. Dengan kata lain, semakin tinggi trait kepribadian conscientiousness dan semakin baik iklim sekolah, maka student engagement dalam pembelajaran juga cenderung meningkat. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap student engagement, sehingga memberikan wawasan lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pengalaman belajar siswa. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk menguji model regresi yang dikembangkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa model tersebut signifikan secara statistik . < 0,. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara variabel independen trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah yang diteliti dengan student engagement sebagai variabel dependen, yang berperan krusial dalam menentukan keberhasilan akademik serta perkembangan sosial-emosional siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi sebelumnya yang menyoroti peran penting faktor individu dan lingkungan dalam student engagement. Penelitian yang dilakukan oleh Tomaszewski et , . mengidentifikasi bahwa keterlibatan perilaku merupakan prediktor utama dalam Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 175-188 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 pencapaian akademik di berbagai institusi pendidikan di Australia. Temuan tersebut konsisten dengan hasil penelitian ini, yang menunjukkan bahwa siswa dengan trait kepribadian conscientiousness yang tinggi ditandai dengan kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketekunan cenderung memiliki keterlibatan perilaku yang lebih optimal dalam proses pembelajaran. Selain itu, penelitian Tomaszewski dkk . juga mengungkap bahwa iklim sekolah berperan krusial dalam membentuk student Lingkungan sekolah yang disiplin serta memiliki tingkat perundungan yang rendah terbukti memberikan dampak positif terhadap student engagement dalam pembelajaran. Penelitian yang dilakukan oleh Luluk dkk . mengungkapkan adanya hubungan positif yang signifikan antara iklim sekolah dan student engagement, dengan kontribusi sebesar 29,3%. Selaras dengan temuan tersebut, studi yang dilakukan oleh Putra . menunjukkan bahwa iklim sekolah berkontribusi sebesar 37% terhadap student engagement, mengindikasikan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran krusial dalam mendukung proses pembelajaran. Selain itu, hasil penelitian Han dkk . memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang kondusif memiliki dampak jangka panjang terhadap motivasi akademik serta pencapaian siswa, khususnya dalam meningkatkan ketahanan akademik saat menghadapi berbagai tantangan dalam Temuan dalam penelitian ini semakin diperkuat oleh hasil studi yang dilakukan oleh Aldridge & McChesney . , yang menunjukkan bahwa iklim sekolah memiliki pengaruh signifikan terhadap student engagement dalam berbagai aspek, termasuk afektif, perilaku, dan kognitif. Studi tersebut mengungkap bahwa lingkungan sekolah yang positif, ditandai dengan tingkat keamanan yang tinggi serta dukungan dari guru, berkontribusi terhadap peningkatan motivasi dan student engagement dalam proses pembelajaran. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Wang dkk . juga menegaskan bahwa program pengembangan karakter berbasis sekolah yang difokuskan pada peningkatan trait kepribadian conscientiousness dapat memberikan dampak positif terhadap keterlibatan akademik serta perilaku siswa di lingkungan sekolah. Dalam ranah pendidikan, trait kepribadian conscientiousness dapat memengaruhi student engagement melalui berbagai mekanisme. Pertama, siswa dengan tingkat trait kepribadian conscientiousness yang tinggi cenderung memiliki motivasi intrinsik yang lebih kuat dalam proses Mereka lebih cenderung menetapkan tujuan akademik yang tinggi serta berupaya secara konsisten untuk mencapainya. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Roberts dkk . , yang mengungkap bahwa siswa dengan tingkat trait kepribadian conscientiousness yang tinggi cenderung menunjukkan pencapaian akademik yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki tingkat trait kepribadian conscientiousness yang lebih Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi dan Supriyadi . menekankan bahwa dukungan sosial dari guru serta teman sebaya dalam lingkungan sekolah berperan penting dalam meningkatkan student engagement, khususnya bagi mereka yang memiliki trait kepribadian conscientiousness yang lebih terbuka dan bertanggung jawab. Temuan ini sejalan dengan studi terbaru dari Kim & Park . , yang menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat trait kepribadian conscientiousness yang tinggi lebih mampu beradaptasi dengan tantangan akademik apabila mereka berada dalam lingkungan yang mendukung, seperti adanya hubungan positif dengan guru serta sistem penghargaan akademik yang diterapkan di sekolah. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Brown dkk . menyoroti bahwa pencapaian akademik siswa tidak hanya dipengaruhi oleh motivasi intrinsik, tetapi juga oleh keterlibatan sosial Peran Trait Kepribadian Conscientiousness dan Iklim Sekolah dengan Student Engagement SMA Ridha Syafiqah Zahra. Mustamira Shofa Salsabila. Citra Wahyuni serta dukungan emosional yang diberikan oleh lingkungan sekolah. Selain itu, studi yang dilakukan oleh Smith dan Johnson . mengungkapkan bahwa siswa dengan tingkat trait kepribadian conscientiousness yang tinggi memiliki peluang lebih besar untuk mencapai keberhasilan akademik ketika didukung oleh strategi pembelajaran yang berorientasi pada refleksi serta pemecahan masalah. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa student engagement dalam pembelajaran dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, yaitu trait kepribadian conscientiousness, serta faktor lingkungan, yakni iklim sekolah. Oleh karena itu, pengembangan program intervensi berbasis sekolah yang berfokus pada peningkatan trait kepribadian conscientiousness serta pembentukan lingkungan sekolah yang mendukung menjadi rekomendasi utama dari penelitian ini. Studi lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi faktor tambahan, seperti peran dukungan orang tua serta metode pembelajaran adaptif, guna memperkaya pemahaman mengenai student engagement dalam konteks pendidikan. Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah memiliki pengaruh yang signifikan dalam meningkatkan student engagement, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pencapaian akademik serta perkembangan sosial-emosional mereka. Oleh sebab itu, upaya untuk mengoptimalkan kedua faktor ini melalui program pengembangan karakter serta penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif menjadi hal yang esensial. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara lebih mendalam dinamika serta mekanisme yang melatarbelakangi hubungan antara faktor individu dan lingkungan dalam meningkatkan student engagement dalam proses pembelajaran. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa trait kepribadian conscientiousness dan iklim sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap student engagement pada siswa SMA di Bandar Lampung. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat trait kepribadian conscientiousness yang tinggi cenderung lebih aktif dalam proses pembelajaran. Karakteristik seperti tanggung jawab, kedisiplinan, dan motivasi intrinsik yang kuat menjadi faktor utama yang mendorong keterlibatan mereka dalam aktivitas akademik secara konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian yang terstruktur dan lingkungan sekolah yang mendukung dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar. Selain itu, lingkungan sekolah yang kondusif, yang tercermin dari hubungan yang harmonis antara siswa dan guru serta suasana belajar yang mendukung, turut berkontribusi secara substansial terhadap peningkatan student engagement. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan student engagement perlu difokuskan pada penguatan karakter, khususnya dalam aspek trait kepribadian conscientiousness, serta pembentukan iklim sekolah yang positif. Oleh karena itu, pendidik dan pihak sekolah disarankan untuk mengimplementasikan program pengembangan karakter serta menyediakan pelatihan bagi guru guna memperkuat interaksi dan membangun hubungan yang lebih positif dengan siswa. Selain itu, penelitian ini membuka peluang bagi kajian lebih lanjut yang dapat mengeksplorasi interaksi antara trait kepribadian conscientiousness, iklim sekolah, dan student engagement dalam berbagai konteks pendidikan. Penelitian lanjutan juga diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai strategi efektif untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa secara holistik. Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 175-188 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 DAFTAR PUSTAKA