Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. VISUAL AND PHILOSOPHICAL STUDY OF WARUGA BODAS IN THE SOCIO-CULTURAL CONTEXT OF PUSAKANAGARA VILLAGE. CIAMIS REGENCY Kajian Visual Dan Filosofis Waruga Bodas Dalam Konteks Sosio-Kultural Desa Pusakanagara. Baregbeg Ciamis Edi Setiadi Putra Institut Teknologi Nasional Bandung edsetia@itenas. [Article Histor. Submitted: October 28, 2025. Revised: November 14, 2025. Accepted: December 31, 2025 ABSTRACT The Waruga Bodas parade is a cultural expression of the people of Pusakanagara Village. Baregbeg District. Ciamis Regency, depicting the spiritual journey of legendary figures from the Galuh Kingdom, such as King Ciung Wanara and King Hariang Banga. This parade not only emphasizes visual beauty but also emphasizes the philosophy of life regarding purity, resilience, and human identity. However, the design of the figures and attributes of Waruga Bodas are not yet fully aligned with the underlying philosophical This study aims to examine the relationship between the visual form and philosophical meaning of Waruga Bodas through a Sundanese aesthetic approach and the socio-historical context of the Galuh community. The methods used include visual analysis of visual elements and symbolism based on social media documentation and local publications. The results demonstrate the importance of updating the design to better reflect Sundanese philosophical values and aesthetics that are contextual to the culture of Pusakanagara Village. Keywords: Galuh culture. Ciung Wanara. Sundanese aesthetics. Helaran. Waruga Bodas ABSTRAK Seni helaran Waruga Bodas merupakan ekspresi budaya masyarakat Desa Pusakanagara. Kecamatan Baregbeg. Kabupaten Ciamis, yang menggambarkan perjalanan spiritual tokoh legendaris Kerajaan Galuh seperti Prabu Ciung Wanara dan Prabu Hariang Banga. Helaran ini tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga filosofi kehidupan tentang kesucian, ketahanan, dan jati diri manusia. Namun, desain figur dan atribut Waruga Bodas belum sepenuhnya selaras dengan makna filosofis yang menjadi dasarnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji keterkaitan antara bentuk visual dan makna filosofis Waruga Bodas melalui pendekatan estetika Sunda dan konteks sosiohistoris masyarakat Galuh. Metode yang digunakan mencakup analisis visual terhadap Vol. No. Desember 2025 Edi Setiadi Putra Kajian Visual Dan Filosofis Waruga Bodas Dalam Konteks Sosio-Kultural Desa Pusakanagara. Baregbeg Ciamis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. unsur rupa dan simbolisme berdasarkan dokumentasi media sosial dan publikasi lokal. Hasilnya menunjukkan pentingnya pembaruan desain agar lebih merefleksikan nilai-nilai filosofis Sunda serta estetika yang kontekstual dengan budaya Desa Pusakanagara. Kata kunci: Budaya Galuh. Ciung Wanara. Estetika Sunda. Helaran. Waruga Bodas PENDAHULUAN Waruga Bodas merupakan bentuk seni helaran yang unik dari Desa Pusakanagara. Kecamatan Baregbeg. Kabupaten Ciamis. Seni ini diciptakan oleh kelompok seni lokal di bawah binaan Dinas Kebudayaan. Pemuda, dan Olahraga (Disbudpor. Ciamis. Berbeda dengan helaran konvensional. Waruga Bodas menggunakan material alami berupa samak bodasan atau tikar putih dari daun pandan, bambu, dan kulit jagung yang diolah menjadi dekorasi dan kostum bernilai estetika tinggi. (Hermansyah, 2. Istilah AuwarugaAy dalam bahasa Sunda adalah raga, dan AubodasAy berarti putih, maka waruga bodas . aga puti. ini melambangkan kesucian dan spiritualitas manusia dalam perjalanan menuju keseimbangan rohani dan jasmani. Helaran ini juga berakar secara simbolik dari naskah Sunda kuno Carita Waruga Guru (Abad . , yang mengisahkan silsilah dan perjuangan tokoh Ciung Wanara serta Hariang Banga, dua tokoh penting dari kerajaan Galuh. (Ayu, 2. Kajian tentang Waruga Bodas belum tersedia dalam format jurnal ilmiah, namun cukup banyak ditulis dalam narasi berita yang terbatas, dan video singkat di beberapa situs media sosial. Pertunjukan seni helaran ini sangat langka, karena hanya terlihat pada HUT Proklamasi Kemerdekaan RI dan Galuh Ethnic Carnival yang diselenggarakan setiap tahun. Kajian ini merupakan upaya perdana untuk mengenalkan seni helaran Waruga Bodas lebih mendalam, terutama dari sudut pandang seni rupa dan Pemahaman atas estetika visual dan makna filosofis Waruga Bodas, dapat membantu peningkatan pemahaman masyarakat dan generasi mudanya dalam melestarikan seni helaran ini. Secara khusus kajian membahas interpretasi hubungan antara desain figur Waruga Bodas dengan nilai-nilai filosofis dalam estetika dan budaya Sunda. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Gambar 1. Tim Seni Helaran Waruga Bodas Desa Pusakanagara Fenomena Waruga Bodas, amat menarik untuk dikaji, karena desain figurnya tidak hanya menyangkut estetika visual, tetapi juga merupakan representasi dari nilai-nilai sosio-kultural dan sosio-historis masyarakat Desa Pusakanagara yang melestarikan dan mengembangkannya. Hal ini pun terkait adanya desain figur Waruga Bodas yang memerlukan klarifikasi dan penjelasan yang lengkap tentang estetika visual dan makna filosofis, terutama yang terkandung dalam figur Ciung Wanara dan Hariang Banga. Waruga Bodas merupakan salah satu seni helaran yang berkembang di Kabupaten Ciamis. Pada Galuh Ethnic Carnival 2025 yang diselenggarakan pada 11 Juni 2025 yang bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Ciamis ke 383, kegiatan budaya ini menghadirkan sebanyak 31 seni helaran, antara lain: Bebegig Sukamantri. Wayang Landung. Buta Kararas Tilas. Mabokuy. Nyerere. Mengmleng. Pontrangan. Kuda Bajir. Singa Lugai. Munding Ki Bowang. Raja Bele. Si Gawir. Bebegig Sawah. Barongan. Dogyun Apunpager. Waliwi. Ririwa Sawah Lega. Gajah Barong. Congcorang Sembah. Buta Batok. Waruga Bodas. Cosplay Garuda, dan Cosplay Ciung Wanara. (Mamay, 2. Galuh Ethnic Carnival memiliki kesamaan dengan JFC (Jember Fashion Carniva. , keduanya termasuk festival berkelanjutan yang berusaha mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam berbagai aspeknya, termasuk pengelolaan limbah, penggunaan sumber daya alam yang bijak, inklusi sosial, serta pendukungan terhadap ekonomi lokal. (Moh Ali, 2. Dalam event Galuh Ethnic Carnival, hampir setiap desa di Kabupaten Ciamis, bergotong-royong membangun figur-figur seni helaran, yang dikelola dengan swadaya, swadana, dan swadarma. Setiap figur helaran yang tampil merupakan kreasi kreativitas lokal yang dilandasi potensi sumber daya alam setempat, kearifan lokal, dan warisan adat budaya leluhur yang dipegang teguh. Seni helaran adalah bentuk pertunjukan kesenian berupa arak-arakan atau pawai rakyat yang menggabungkan berbagai unsur seni, seperti seni tari, seni musik, seni rupa, seni drama dan atraksi lainnya untuk kegiatan hiburan dan Vol. No. Desember 2025 Edi Setiadi Putra Kajian Visual Dan Filosofis Waruga Bodas Dalam Konteks Sosio-Kultural Desa Pusakanagara. Baregbeg Ciamis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Tujuan Seni Helaran yaitu untuk menghibur masyarakat serta mengembalikan nilai kearifan lokal dan kebudayaan yang sekarang ini semakin (Dewi, 2. Seni Helaran adalah ekspresi budaya yang melibatkan masyarakat dalam mempertunjukkan identitas budaya lokal, sehingga seni helaran Waruga Bodas merupakan ekspresi kolektif dari masyarakat Desa Pusakanagara, yang dengan bangga mempertunjukkan keunikan dan keaslian kreativitas seni yang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Latar belakang lahirnya seni helaran Waruga Bodas di desa Pusakanagara cukup bervariasi. Berdasarkan makna Waruga Bodas yang artinya raga putih, divisualisasikan oleh masyarakat Desa Pusakanagara dalam bentuk boneka besar berwarna putih, bentuknya seperti ondel-ondel Betawi, tetapi terbuat dari material samak bodasan atau tikar putih dari bahan daun pandan . andanus Dari sudut pandang sosio-kultural. Waruga Bodas merupakan ungkapan dari rasa syukur masyarakat Desa Pusakanagara, yang merupakan produsen terampil dari aneka produk anyaman pandan, seperti tikar, topi dan tas yang berkualitas tinggi. Sosok Waruga Bodas terbuat dari struktur rangka bambu, yang ditutupi anyaman pandan dan kulit jagung. Penggunaan material alam juga merupakan simbol dari penghargaan masyarakat kepada sumber daya alam dan ketahanan pangan yang tersedia melimpah di ekosistem desa Pusakanagara, yang juga dikenal sebagai petani budidaya palawija, padi dan bambu. Berdasarkan makna filosofis terkait kisah perjalanan spiritual seorang tokoh masyarakat bernama Ki Waruga, yang digambarkan sebagai seorang yang gagah perkasa, bertubuh tinggi besar, yang berjuang keras melewati proses yang sangat panjang dalam pencarian jati diri, ketahanan hidup, dan pemberdayaan diri untuk mencapai kebajikan. Sosok tubuh yang serba putih merupakan simbol perjalanan menuju kebaikan, kesucian dan kemurnian hidup. (Daerah, 2. Berdasarkan sudut pandang sosio-historis, nama Waruga Bodas terkait dengan naskah Sunda Klasik bertajuk AuCarita Waruga GuruAy yang ditulis pada abad 17 M dengan aksara Sunda Kuno pada kertas daluang. Naskah ini berisi cerita tentang legenda pendiri Kerajaan Galuh, seperti Prabu Ciung Wanara dan Prabu Hariang Banga. Seni helaran Waruga Bodas merujuk pada naskah Carita Waruga Guru ini. (Ramdani, 2. Dalam praktik helaran. Waruga Bodas hadir dalam beberapa bentuk tampilan karakter yang berbeda, namun memiliki kesamaan dalam penggunaan material anyaman pandan dan daun jagung. Dalam satu pertunjukan, tidak diketahui secara pasti, yang mana tokoh Ki Waruga. Ciung Wanara. Hariang Banga, dan tokoh lainnya. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Gambar 2. Beberapa tampilan figur Waruga Bodas Semua situs media sosial yang mempublikasikan Waruga Bodas, memberikan narasi singkat tentang keterkaitan Waruga Bodas dengan legenda rakyat tentang AuKi WarugaAy sebagai pendekar pejuang yang meraih kesempurnaan hidup, namun keterangan lengkap tentang tokoh ini tidak memiliki rujukan yang jelas. Seni helaran Waruga Bodas juga selalu dikaitkan dengan naskah Sunda kuno AuCarita Waruga GuruAy yang mengusung nama Ciung Wanara dan Hariang Banga. Kisah perjuangan Ciung Wanara ini terdapat beberapa versi, namun semuanya tidak ada yang menghubungkan nama Ciung Wanara ataupun Hariang Banga dengan Waruga Bodas . ubuh puti. Apakah waruga bodas adalah orang berkulit putih, berbaju putih, atau seseorang yang memiliki hati yang putih bersih. Permasalahan ini muncul dalam visualisasi Waruga Bodas yang cenderung tidak menghadirkan kejelasan dan kepastian dari tokoh yang dimaksud. Masyarakat Desa Pusakanagara berupaya untuk menghadirkan keagungan tokoh legendaris Galuh yang bernama Ciung Wanara, dengan mengambil simbolsimbol yang terkait dengan cerita Ciung Wanara, yaitu pertarungan seimbang antara Ciung Wanara vs Hariang Banga, pertarungan ayam jago . abung aya. serta figur ayam jantan yang dinamai si Jalak Harupat. Pendekatan simbolik yang digunakan dalam helaran Waruga Bodas, tidak sepenuhnya dapat dipahami masyarakat, karena beberapa simbol yang diterapkan menjadi sangat tidak logis, seperti penggunaan karakter bulu ayam pada bagian lengan dan tubuh bagian bawah, adalah tidak terkait dengan ciri atau gambaran Ciung Wanara sama sekali. Persepsi yang muncul dari gambaran tersebut adalah Ciung Wanara seperti berperan sebagai manusia berpakaian bulu Dalam pandangan interaksionisme simbolik, pemakaian simbol lebih jelas jika difokuskan pada aspek subjektif kehidupan tokohnya, daripada aspek objektif yang bersifat makro. (Zanki, 2. Dengan demikian jika Ausi Jalak HarupatAy. yam milik Ciung Wanar. dijadikan simbol yang melekat pada diri Ciung Wanara, maka Vol. No. Desember 2025 Edi Setiadi Putra Kajian Visual Dan Filosofis Waruga Bodas Dalam Konteks Sosio-Kultural Desa Pusakanagara. Baregbeg Ciamis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. aspek keberanian bertarung sang ayam lah yang bersinergi dengan tokoh tersebut, bukan ciri fisik ayam. Dalam hal ini Ausabung ayamAy dalam kisah Carita Waruga Bodas, tidak dapat dijadikan simbol Ciung Wanara. Ilustrasi mengenai sosok Ciung Wanara selalu digambarkan sebagai sosok manusia yang tangguh dan berbudi luhur, dan menyandang sifat dan sikap sebagai bangsawan atau ksatria, sehingga visualisasinya mempergunakan aksesoris dan atribut seperti raja. Dalam memahami karakter dan identitas suatu figur, diperlukan pengamatan yang spesifik dari gerak perilaku, ekspresi wajah, serta atribut yang disandangnya. Hiasan tubuh dan jenis ragam hias dalam desain perhiasan yang dikenakan seseorang, dapat memberikan pemahaman persepsi tentang karakternya. Oleh karena itu dalam menemukan identitas diri figur Ciung Wanara atau Hariang Banga, diperlukan pemahaman tentang fenomena situasi dan kondisi di masanya, pendekatan kualitatif fenomenologis digunakan untuk memahami proses tersebut secara retrospektif. (Handoko, 2. Kajian terhadap seni helaran Waruga Bodas, dapat dihubungkan dengan seni helaran lain yang berasal dari Kabupaten Ciamis, karena memiliki akar yang sama, nilai kearifan lokal budayanya dalam seni helaran dapat dipersandingkan dan dikomparasikan. Misalnya: Dalam Waruga Bodas terdapat setidaknya tiga katagori karakter figur, yaitu figur pandita . , figur bangsawan atau ratu (Ciung Wanara dan Hariang Bang. serta figur rakyat atau masyarakat Galuh. Tiga katagori ini memiliki kesamaan dengan tiga ketentuan dalam seni helaran Bebegig Sukamantri dari Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis, dimana terdapat tiga jenis mahluk bebegig yang disebut Dytya. Dynawa dan Raksasa, ketiganya disebutkan dalam naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kanda ing Karesian . Keduanya terkait dengan prinsip tritangtu Sunda di bidang kehidupan masyarakat yaitu Rama . akyat, dyty. Resi . andita, rohaniwan, dynaw. Ratu . aja, bangsawan, raksas. (Putra & Karnita, 2. Beberapa ciri khas lokal seni helaran dari Kabupaten Ciamis adalah berukuran besar, sehingga disebut raksasa atau buta. Dibuat dengan material alam dengan bentuk tubuh berongga dan memiliki struktur konstruksi didalamnya yang memungkinkan pemain memasuki rongga tubuh dan menggerakkanya. Ukuran Waruga Bodas memiliki kesamaan dengan ukuran Bebegig Sukamantri. Mabokuy. Buta kararas Tilas, dan yang lainnya. Penelitian ini belum tuntas, karena dimungkinkan memiliki gap yang besar, terutama karena belum adanya penelitian khusus pada Waruga Bodas, dan penelitian tentang seni helaran lain pun masih sangat langka dan terbatas. Semoga para peneliti lain yang tertarik dengan seni helaran Ciamis, dapat turut mengkaji warisan budaya yang spektakuler dan kolosal ini. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Kajian ini diharapkan bermanfaat secara akademis dengan memberikan kontribusi terhadap prinsip desain berbasis budaya vernakular. Manfaat secara praktis adalah menjadi acuan dalam penataan ulang aspek rupa Waruga Bodas agar lebih representatif. Secara kultural, kajian ini turut mendukung pelestarian identitas budaya Galuh dalam konteks kekinian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis visual yang dipadukan dengan interpretasi data publikasi media sosial. Pendekatan ini dipilih untuk memahami bagaimana visual seni helaran AuWaruga BodasAy dalam bentuk gambar, foto, video membentuk makna, narasi, serta persepsi publik dalam konteks promosi tentang Waruga Bodas. Berdasarkan keterbatasan literatur tentang Waruga Bodas, serta tema yang terkait dengan filosofi estetika bentuk dan visualisasi rupa, maka untuk memperoleh data yang memiliki validitas yang cukup baik, dilakukan pengumpulan data berupa hasil dokumentasi dan literasi dari beberapa media sosial yang dipublikasikan pada tahun 2025. Data yang diperoleh pada publikasi media sosial ini, merupakan fakta sosio-historis tentang Waruga Bodas, yang dapat dijadikan data primer terutama yang memuat nilai-nilai filosofis, pemaknaan, kesejarahan dan perkembangan budaya dan menyajikan suatu sintesis. (Abdurrohman, 2. PEMBAHASAN Pakaian adat Dayak Ngaju Tokoh bernama Waruga merupakan salah satu nama yang sering dikaitkan dengan latar belakang lahirnya Waruga Bodas. Pada tampilan helaran terdapat beberapa figur Waruga Bodas yang dapat diidentifikasi sebagai tokoh Waruga tersebut. Dalam hikayat lokal Desa Pusakanagara. Ki Waruga adalah tokoh pejuang perkasa yang mencapai kebajikan atau kesempurnaan hidup. Tanda atau simbol-simbol Ki Waruga tampak berbeda dengan figur Waruga Bodas yang lainnya, yaitu sebagai berikut: Figur Waruga Bodas ini mengenakan jubah panjang berwarna putih, rambutnya tertutup ikat kepala, peci atau sorban berwarna putih, dan memiliki janggut putih panjang. Jika dilihat dari ciri dan tanda atribut itu, figur waruga ini adalah seorang ulama, reshi atau pandita, yang dalam Carita Waruga Guru, dia adalah Raja Galuh bernama Prabu Permana Dikusumah yang menjadi pandita dengan nama Ajar Sukaresi. Tokoh rohaniwan bernama Ajar Sukaresi sebagai Waruga, terbentuk berdasarkan dasar pemikiran, nilai-nilai, dan prinsip yang menjadi landasan sistem nilai masyarakat Desa Pusakanagara. Landasan ini bersumber dari filosofi atau pandangan hidup dari leluhur dan sesepuh warga desa, sehingga dapat menjelaskan hakikat dan makna dari tokoh Waruga Bodas ini, yang meliputi tujuan hidup dan cara mencapainya. Teori tentang makna filosofis ini dapat dikaji lebih Vol. No. Desember 2025 Edi Setiadi Putra Kajian Visual Dan Filosofis Waruga Bodas Dalam Konteks Sosio-Kultural Desa Pusakanagara. Baregbeg Ciamis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. mendalam mengenai aspek-aspek ontologi . akikat keberadaa. , epistemologi . eori pengetahua. dan aksiologi . ilai dan etik. Gambar 3. Simbolis ulama pada figur Waruga Bodas Berdasarkan kajian sosio-historis yang merupakan metode untuk memahami suatu fenomena sosial dengan melihatnya sebagai suatu kesatuan yang mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan dan lingkungan, maka Waruga Bodas, sebagai suatu seni helaran tradisional tidak terlepas dari keterkaitan dengan aspek sejarah yang melegenda di wilayah Kerajan Galuh, seperti yang tertuang dalam naskah AuCarita Waruga BodasAy. Tokoh helaran Waruga Bodas yang terkait dengan ini adalah sosok bernama Ciung Wanara dan Hariang Banga, keduanya adalah ksatria, ahli perang, para pangeran yang kelak menjadi raja. Dalam budaya Desa Pusakanagara, seorang bangsawan yang memiliki kekuasaan yang besar, digambarkan sebagai pemuda yang perkasa, cerdas, berwajah tampan, dan mengenakan pakaian yang mewah, atau baju zirah yang Sebagai seorang raja, ia pantas mengenakan makuta . ahkota raj. dan perhiasan lainnya. Dalam helaran Waruga Bodas, terdapat sosok pria tampan berkulit putih, berambut putih panjang, hidung mancung, bertubuh jangkung, mengenakan baju mantel atau rompi berlapis. Visualisasi ini mengandung makna yang terkait dengan karakter penguasa, hidung mancung dan tubuh jangkung, berkulit putih mendekati karakter Ras Kaukasoid, sedangkan baju mantel atau rompi berlapis menandakan baju yang mahal dan mewah. Simbol-simbol ini mengarah pada karakter Hariang Banga. Perajin Waruga Bodas Desa Pusakanagara, menjadikan Hariang Banga sebagai tokoh utama yang berpihak pada musuh, sehingga menjadi sasaran penting yang diperangi Ciung Wanara. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Gambar 4. Karakter Ciung Wanara dan Hariang Banga Karakter figur Ciung Wanara, terlihat dari posisinya yang bersebelahan dengan figur Hariang Banga, ia tidak mengenakan mantel tetapi baju zirah yang melindungi bahu. Pada bagian lengannya tergambar bagian baju zirah yang berupa sisik logam, namun lebih mirip bulu ayam karena terbuat dari daun jagung. Baju zirah ini merupakan simbol ksatria dan dunia militer, yang dikenakan pejuang dalam pertarungannya. Visualisasi tokoh ksatria utama dalam bentuk figur kaukasoid atau bule, dimungkinkan sebagai pengaruh globalisasi. Seperti diungkapkan oleh Cerly . , bahwa globalisasi membawa pengaruh terhadap seni tradisional, termasuk dalam hal teknik pembuatan dan estetika visual. Pengaruh globalisasi terlihat dalam transformasi visual topeng, yang mengintegrasikan elemen-elemen modern tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya. Pengaruh ini terlihat dalam penggunaan material yang lebih modern dan penyesuaian desain untuk menarik perhatian audiens global. Upaya pelestarian dilakukan melalui dokumentasi dan pengajaran tentang pembuatan dan penggunaan topeng dalam komunitas lokal. Revitalisasi ini penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya. (Martsidaun. Karakter Ciung Wanara dalam parade Waruga Bodas, cenderung lebih mudah dikenali, karena beberapa simbol historik yang terhubung dengan kehidupan Ciung Wanara terlihat jelas, yaitu dari raut wajah yang jenaka, tubuhnya tegap dan kokoh, geraknya lincah dan mendominasi, yang diperjelas dengan sikapnya sebagai ksatria pejuang, yang sedang melakukan penghormatan Pada helaran Waruga Bodas, terdapat figur-figur pengiring yang berbeda dengan karakter rohaniwan (Ki Warug. Hariang Banga. Ciung Wanara maupun para pasukan militer. Wajahnya sederhana dengan hiasan topeng di wajahnya. Para pengguna topeng adalah gambaran rakyat Galuh. Manusia mengenakan "topeng" secara kiasan adalah untuk menyembunyikan perasaan atau diri aslinya, terutama dalam interaksi sosial untuk beradaptasi dengan ekspektasi orang lain, menghindari konflik, atau mencari validasi dan penerimaan. Topeng ini bisa Vol. No. Desember 2025 Edi Setiadi Putra Kajian Visual Dan Filosofis Waruga Bodas Dalam Konteks Sosio-Kultural Desa Pusakanagara. Baregbeg Ciamis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. berupa perilaku yang tidak sesuai dengan perasaan sebenarnya untuk menjaga citra diri yang positif. Kondisi ini merupakan visualisasi konkret dari situasi perang saudara antara Hariang Banga vs Ciung Wanara. Gambar 5. Waruga Bodas dari figur rahayat Penggunaan topeng menandakan figur ini bukan tokoh dengan identitas yang jelas. Dalam suatu helaran, karakter ini perlu hadir di setiap helaran Waruga Bodas, agar karakter tokoh utama dapat dikenali dan dirasakan masyarakat. Waruga Bodas ditampilkan dalam sosok raksasa, bertubuh tinggi besar mencapai 3 meter, namun masyarakat Desa Pusakanagara tidak menyebut mereka dengan istilah Buta Waruga Bodas. Figur ini adalah sama sekali bukan buta . , siluman atau mahluk astral, tetapi manusia yang memiliki nama besar dan legendaris, sehingga perwujudan ukuran raksasa dimaksudkan sebagai simbol keagungan dan penghormatan bagi leluhur. Dalam helaran Galuh Ethnic Carnival. Waruga Bodas tampil bersama seni helaran lain yang berukuran raksasa, seperti: Buta Kararas Tilas. Buta Batok. Bebegig Sukamantri. Mabokuy. Wayang landung, dan sebagainya. Gambar 6. Dimensi figur Waruga Bodas Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Figur raksasa Waruga Bodas ini berfungsi seakan kendaraan yang dikendalikan oleh manusia di dalamnya. Gerak dan tingkah laku dari Waruga Bodas merupakan cerminan dari pemain yang ada di dalamnya. Struktur berongga dalam sosok Waruga Bodas, terbuat dari anyaman bambu, yang menampung pemain di dalam rongga dengan keterbatasan penglihatan dan respirasi. Pemain mengalami kesulitan untuk mengatur gerak dan langkah, karena keterbatasan penglihatan yang hanya mengandalkan celah kecil di bagian dada atau perut Adanya keterbatasan respirasi menyebabkan suplai oksigen berkurang, hal ini berpotensi membahayakan pemain. Pendekatan semiotika visual diperlukan dalam menganalisis elemenelemen visual pada figur Waruga Bodas. (Berger, 1. pendekatan semiotika memungkinkan kita untuk membongkar kode-kode visual yang terkandung dalam artefak budaya, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara lebih mendalam. Dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, kajian ini ini membedah elemen-elemen visual seperti warna, bentuk, dan ornamen, serta mengaitkannya dengan konteks mitologi dan budaya masyarakat Desa Pusakanagara. (Barthes, 1. Fokus analisi visual dilakukan pada bentuk wajah waruga dan atribut busana, karena figur ini tidak menggunakan warna dan ornamen yang jelas. Berdasarkan pengelompokan karakter sosok kreasi Waruga Bodas, setidaknya terdapat tiga katagori, yaitu: . Waruga Bodas berkarakter ulama, resi, pandita, atau seseorang yang religius . Waruga Bodas berkarakter petani, pedagang atau perajin, . Waruga Bodas yang memiliki karakter ksatria, bangsawan atau penguasa. Ketiga karakter ini belum terungkap ciri dan fungsinya dalam kelompok parade Waruga Bodas, karena unsur gerak, perilaku dan penokohan karakternya pun tidak ada perbedaan. Gambar 6. Tiga katagori karakter Waruga Bodas Dalam Naskah kuno AuSanghyang Siksa Kanda ng KaresianAy (Petunjuk menjadi Res. yang ditulis pada 1518 Masehi, mengungkapkan adanya tiga mahluk raksasa yang melindungi masyarakat Sunda, yang terbagi dalam tiga katagori yaitu: . Katagori wong tani . ahuma, panyawah dan pamayan. dilindungi oleh Dytya, . Para pandita . esi, bhiku, pandita, ulama atau kaum rohaniwa. dijaga oleh Dynawa, . para bangsawan, ksatria dan penguasa . ejabat pemerinta. yang dilindungi oleh Rakhasa. Vol. No. Desember 2025 Edi Setiadi Putra Kajian Visual Dan Filosofis Waruga Bodas Dalam Konteks Sosio-Kultural Desa Pusakanagara. Baregbeg Ciamis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Ketiga makhluk astral Sunda ini memliki ciri antara lain: Detya menggunakan atribut yang sederhana dan merakyat seperti iket dan totopong. Denawa menggunakan asesoris rohaniwan, seperti japamala, tasbih atau rosario. Rakshasa menggunakan asesoris bangsawan, seperti mahkota, helm perang dan baju zirah dan dilengkapi berbagai macam senjata. Prinsip tiga pelindung ini relevan dengan prinsip tritangtu masyarakat Sunda yaitu: Rama-Resi-Ratu atau Wong tani-Pandita-Ratu. Jika katagori Waruga Bodas relevan dengan katakter dan atribut tiga raksasa pelindung masyarakat Sunda Kuno, maka: . Waruga Bodas Detya memiliki karakter sederhana seperti rakyat pada umumnya dengan perkakas alat-alat pertanian, . Waruga Bodas Denawa menggunakan atribut rohaniwan, seperti sorban, jubah, tasbe, dan asesori lain yang relevan, bersenjata tongkat, sedangkan . Waruga Bodas Raksasa, mengenakan baju zirah, bermahkota atau helm tempur dengan berbagai alternatif senjata seperti: pedang, golok, gada, tombak dan sejenisnya. Solusi lain yang dapat dipergunakan untuk memberikan fasilitas melihat dan memahami sutuasi kondisi di luar rongga waruga, adalah dengan penggunaan ayakan carang . aringan bamb. yang diwarnai cat putih, atau dengan anyaman pandan yang agak terbuka. KESIMPULAN Kajian menunjukkan perlunya penataan kembali aspek visual Waruga Bodas agar lebih merefleksikan nilai-nilai filosofis, sekaligus selaras dengan konteks sosio-kultural dan sosio-historis masyarakat Desa Pusakanagara. Seni helaran Waruga Bodas memiliki keunikan yang berbeda dari seni helaran lain, jika yang lain berkecenderungan menyerap nilai-nilai mitologis dan mistis dalam budaya astral Sunda, maka Waruga Bodas memilih untuk mengetengahkan nilai-nilai spiritual keagungan leluhur Desa Pusakanagara dan masyarakat Galuh pada Simbolisme seni helaran ini lebih cenderung terkait aspek sosiokultural dan sosio-historis, yang menjadikan waruga Bodas menjadi figur yang sangat berharga. Kecerdasan masyarakat Desa Pusakanagara patut mendapatkan apesiasi yang tinggi, karena kemampuannya dalam memvisualisasikan nilai-nilai kebajikan dan perjuangan melalui figur legenda Ciung Wanara, hariang Banga dan tokoh leluhur lainnya. Untuk peningkatan kualitas dan kejelasan figur, para perajin dapat meningkatkan aspek estetika dengan menambahkan fitur dan atribut yang sesuai dengan katagori dari Waruga Bodas. Vol. No. Desember 2025 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Kajian ini memerlukan masukan dari berbagai pihak, terutama untuk memperkuat identifikasi Waruga Bodas, serta untuk memperkaya khazanah seni helaran dari Kabupaten Ciamis. Semoga melalui Waruga Bodas ini, keagungan budaya Sunda-Galuh dapat terus lestari dan berkembang dalam semangat DAFTAR PUSTAKA