Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTS untuk Mencegah Cyberbullying Nina Permata Sari1*. Muhammad Andri Setiawan2. Eklys Cheseda Makaria3. Hendro Yulius Suryo Putro4. Hana Qatrun Nada5. Nailah Arridho6 1-6Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Histori Artikel: Submit: 20 Oktober 2025 Revisi: 29 November 2025 Diterima: 15 Desember 2025 Publikasi: 24 Desember 2025 Periode Terbit: Desember 2025 Cyberbullying merupakan salah satu permasalahan serius dalam ekosistem pendidikan modern yang berdampak pada kesehatan mental, interaksi sosial, dan iklim belajar siswa, khususnya di kalangan remaja pengguna aktif media sosial. Permasalahan ini menjadi semakin kompleks di lingkungan sekolah kawasan lahan basah, di mana peningkatan penggunaan teknologi digital belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi digital dan penguatan karakter sosial-emosional siswa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, empati, serta keterampilan sosial siswa SMK Negeri 2 Pelaihari dalam mencegah dan menghadapi cyberbullying melalui penerapan Program ROOTS (Respect. Observance. Outreach. Toget herness, and Suppor. berbasis partisipatif. Metode pelaksanaan meliputi pendidikan masyarakat melalui sosialisasi dan penyuluhan, pelatihan penguatan karakter dan komunikasi asertif berbasis Program ROOTS, produksi konten kampanye digital anticyberbullying oleh siswa agen perubahan, serta pendampingan dan advokasi berkelanjutan bersama pihak sekolah. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test sebagai alat refleksi untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa, didukung oleh observasi dan dokumentasi kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh indikator, baik aspek kognitif, afektif, maupun keterampilan sosial, dengan peningkatan paling signifikan pada empati terhadap korban dan strategi menghadapi perundungan digital. Selain itu, terjadi perubahan perilaku sosial yang positif, meningkatnya kepercayaan diri siswa sebagai agen perubahan, serta terbentuknya budaya sekolah yang lebih suportif dan responsif terhadap isu Kegiatan ini menunjukkan bahwa Program ROOTS efektif sebagai model intervensi preventif berbasis pengabdian kepada masyarakat dan layak direplikasi di sekolah lain dengan pendekatan kontekstual dan kolaboratif. Kata Kunci: karakter siswa, literasi digital, pembelajaran sosio-emosional, program ROOTS Correspondent Author: Nina Permata Sari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. Indonesia Email: nina. bk@ulm. Pendahuluan Cyberbullying atau perundungan berbasis digital merupakan salah satu pendidikan modern, khususnya di kalangan remaja yang memiliki intensitas tinggi Perkembangan teknologi informasi yang Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. 111 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. pesat telah membuka ruang interaksi yang luas bagi siswa, namun pada saat yang sama juga menghadirkan risiko baru berupa kekerasan verbal, pelecehan, intimidasi, dan pengucilan yang terjadi di ruang digital. Berbagai studi menunjukkan bahwa cyberbullying tidak hanya berdampak pada meningkatnya kecemasan, stres, dan depresi, tetapi juga berimplikasi pada menurunnya motivasi belajar, prestasi akademik, serta terganggunya iklim belajar yang aman dan kondusif di sekolah (Fahy et , 2016. Sari & Setiawan, 2023. Sulaiman & Mahfar, 2. Permasalahan cyberbullying menjadi semakin kompleks ketika terjadi pada konteks wilayah tertentu yang memiliki karakteristik sosial dan geografis khas, seperti lingkungan lahan basah. SMK Negeri 2 Pelaihari, sebagai salah satu sekolah yang berada di kawasan tersebut, menghadapi tantangan ganda: di satu sisi terjadi peningkatan akses dan penggunaan teknologi digital di kalangan siswa, sementara di sisi lain penguatan literasi digital, karakter sosial, dan kesadaran etis (Prihastuty et al. , 2. Kondisi ini perundungan siber tidak terdeteksi secara dini, bahkan kerap dianggap sebagai hal yang wajar atau sekadar candaan antar siswa, sehingga pen terlihat lemah (Deol & Lashai, 2. Hasil kegiatan awal berupa pre-test yang dilakukan terhadap 31 siswa pemahaman yang cukup signifikan terkait isu cyberbullying. Data menunjukkan bahwa Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 hanya 29,03% siswa yang mampu memahami konsep perundungan secara tepat dan hanya 19,35% yang memahami jenis-jenis cyberbullying dengan benar. Temuan ini mengindikasikan rendahnya literasi sosial-emosional siswa, khususnya dalam mengenali bentuk, dampak, dan konsekuensi perilaku perundungan di ruang digital (Schoeps et al. , 2. Rendahnya literasi tersebut berpotensi meningkatkan kerentanan siswa, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku cyberbullying, sebagaimana ditegaskan oleh Garnefski dan Kraaij . yang menyatakan bahwa lemahnya regulasi emosi pada remaja berkorelasi erat dengan meningkatnya perilaku agresif dan risiko menjadi korban perundungan (Amin et al. , 2025. Agustiningsih et al. , 2. Berangkat dari kondisi tersebut, berbagai kajian menekankan pentingnya intervensi berbasis sekolah yang bersifat preventif dan edukatif, bukan semata-mata Intervensi yang efektif perlu diarahkan pada pembangunan kesadaran, empati, kemampuan komunikasi asertif, serta penguatan nilai-nilai sosial yang positif di kalangan siswa (Yang et al. , 2. Salah satu pendekatan yang relevan adalah Program ROOTS (Respect. Observance. Outreach. Togetherness, and Suppor. yang UNICEF, perubahan . gents of chang. dalam upaya pencegahan perundungan. Program ini telah terbukti mampu meningkatkan kepedulian sosial, memperkuat solidaritas antarsiswa, serta menumbuhkan budaya sekolah yang lebih inklusif dan aman (Indonesia & Kementerian Pendidikan Riset 112 Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Teknologi, 2021. Rose et al. , 2022. Thornberg et al. , 2023. Sari et al. , 2. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, pendekatan Program ROOTS dinilai sejalan dengan prinsip partisipatif dan pemberdayaan komunitas sekolah. Pendekatan ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kapasitas siswa melalui pelibatan aktif dalam diskusi, refleksi, dan aksi nyata yang kontekstual dengan lingkungan sosial mereka, termasuk di wilayah lahan basah yang memiliki dinamika sosial tersendiri (White et al. , 2. Sejumlah kegiatan pengabdian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan penguatan relasi sosial yang sehat efektif dalam mendukung rehabilitasi sosial remaja serta pencegahan perilaku menyimpang (Wanglar, 2. Selain itu, penerapan praktik restoratif di sekolah terbukti mampu meningkatkan persepsi dukungan sosial dan struktur yang positif, yang pada akhirnya berkontribusi pada penurunan kasus perundungan (Supe & Martinsone. Gregory et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa SMK di lingkungan lahan basah terhadap cyberbullying melalui Program ROOTS terintegrasi dengan pelatihan penguatan Menurut Chang et al. program ini dirancang untuk membekali siswa dengan pengetahuan, sikap, dan sosial-emosional diperlukan agar mampu menjadi agen Diharapkan, melalui kegiatan ini dapat e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. terbentuk budaya sekolah yang lebih positif, empatik, dan aman, serta terjadi penurunan berkelanjutan (Przybylski & Bowes, 2. Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan dalam kegiatan dirancang untuk menjawab permasalahan rendahnya pemahaman siswa SMK terhadap isu cyberbullying di lingkungan lahan basah melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan pendidikan masyarakat, pelatihan karakter, produksi media kampanye, serta pendampingan dan advokasi sekolah, dengan mengacu pada Panduan Pelaksanaan Program ROOTS Indonesia: Pencegahan Perundungan di Sekolah (Indonesia Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi, 2. Pertama, kegiatan diawali dengan pendidikan masyarakat berupa sosialisasi dan penyuluhan kepada seluruh siswa kelas XI Jurusan Asisten Keperawatan dan Caregiver SMK Negeri 2 Pelaihari. Kegiatan ini bertujuan menunjukkan pemahaman dasar siswa mengenai definisi, jenis. Penyuluhan dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dengan kelompok, dan tanya jawab, sehingga siswa dapat terlibat aktif dalam proses Materi penyuluhan disusun secara kontekstual, komunikatif, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan remaja, agar mudah dipahami dan relevan dengan pengalaman keseharian siswa di ruang digital (White et al. , 2019. Longobardi et al. Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. 113 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Pendekatan ini menekankan penguatan literasi digital dan literasi emosional, yang terbukti berperan penting dalam meningkatkan kesadaran dan kemampuan siswa mengenali serta merespons perundungan daring secara tepat (Schoeps et al. , 2. Tahap kedua adalah pelatihan penguatan karakter dan komunikasi asertif berbasis Program ROOTS. Pelatihan ini ditujukan kepada 31 siswa yang dipilih sebagai calon agen perubahan . gents of chang. di lingkungan sekolah. Kegiatan pelatihan dilakukan melalui metode demonstrasi, simulasi kasus, diskusi reflektif, dan permainan peran . ole pla. yang menggambarkan situasi nyata Tujuan pelatihan ini adalah membekali siswa dengan keterampilan sosial, empati, regulasi emosi, serta strategi menghadapi dan mencegah perundungan digital secara konstruktif (Thornberg et al. Kahi et al. , 2. Program ROOTS difokuskan pada penguatan peran siswa membangun budaya sekolah yang aman, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai saling menghargai (Yang et al. , 2020. Sasson et al. , 2. Tahap ketiga adalah produksi dan diseminasi konten edukatif sebagai luaran kegiatan pengabdian. Para agen perubahan difasilitasi untuk menghasilkan produk berupa video edukatif dan konten digital anti-cyberbullying. Konten tersebut disusun berdasarkan hasil pelatihan dan pengalaman siswa selama mencerminkan perspektif remaja secara Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Produk yang dihasilkan kemudian disebarluaskan melalui media sosial sekolah dan lingkungan sekitar sebagai bentuk diseminasi pengetahuan dan kampanye pencegahan perundungan siber. Strategi kampanye berbasis media sosial dipilih karena terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan remaja serta memperluas jangkauan pesan edukatif di kalangan sebaya (Sari & Arsyad, 2. Tahap keempat adalah pendampingan dan advokasi berkelanjutan yang dilakukan oleh tim pengabdian bersama pihak sekolah. Kegiatan pelaksanaan aksi para agen perubahan, kampanye digital, serta konsultasi dan koordinasi dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK). Selain itu, tim pengabdian memberikan umpan balik secara berkala untuk memperkuat peran siswa dan pencegahan perundungan di lingkungan Pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan antara siswa, guru, dan tim meningkatkan daya tahan dan dampak jangka panjang program anti-cyberbullying (Supe & Martinsone, 2020. Fahy et al. , 2. Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan didokumentasikan melalui pengumpulan data pre-test dan post-test menggunakan instrumen skala Likert untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa terhadap isu cyberbullying. Penggunaan pre-test dan post-test dalam konteks ini dimaksudkan sebagai alat refleksi dan evaluasi keberhasilan program, bukan sebagai desain penelitian eksperimental (Patchin & 114 Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Hinduja, 2. Selain itu, dokumentasi visual berupa foto dan video kegiatan disusun sebagai luaran pengabdian dan bahan pelaporan. Keberhasilan kegiatan ini sangat bergantung pada pendekatan kolaboratif antara tim pengabdian, pihak sekolah, dan siswa sebagai subjek sekaligus mitra utama dalam pelaksanaan program (Agustiningsih et al. , 2024. Przybylski & Bowes, 2. Hasil Pelaksanaan dan Pembahasan Kegiatan masyarakat ini diawali dengan pelaksanaan pre-test kepada 31 siswa Jurusan Asisten Keperawatan dan Caregiver SMK Negeri 2 Pelaihari. Pre-test dilakukan sebagai langkah awal untuk memetakan tingkat pemahaman siswa sebelum intervensi, khususnya terkait konsep cyberbullying, bentuk-bentuk perundungan siber, empati sosial terhadap korban, keterampilan komunikasi asertif, serta pemanfaatan media sosial secara bijak. Hasil pre-test menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap aspek-aspek tersebut masih berada pada kategori sedang hingga rendah, terutama pada dimensi empati dan perundungan digital secara tepat. Kondisi ini mengindikasikan perlunya intervensi edukatif yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga berorientasi pada penguatan karakter dan literasi sosialemosional siswa. Setelah pengabdian melalui penerapan Program ROOTS dan pelatihan penguatan karakter dilaksanakan, evaluasi lanjutan dilakukan melalui post-test dengan menggunakan e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Penggunaan instrumen yang konsisten dimaksudkan untuk melihat perubahan pemahaman siswa sebagai dampak dari kegiatan yang telah Hasil post-test menunjukkan adanya peningkatan skor pada hampir seluruh aspek yang diukur, dengan peningkatan paling signifikan terjadi pada perundungan dan strategi menghadapi Rerata skor empati terhadap korban meningkat dari 2,57 pada pre-test menjadi 2,75 pada post-test. Sementara itu, aspek strategi menghadapi bullying mengalami peningkatan dari rerata 3,58 menjadi 3,74. Peningkatan tersebut menunjukkan kesadaran emosional siswa, khususnya dalam memahami perasaan dan kondisi korban perundungan siber. Selain itu, menghadapi bullying mengindikasikan bahwa siswa menjadi lebih siap dan percaya diri dalam merespons situasi perundungan digital secara konstruktif, baik sebagai korban, saksi, maupun agen perubahan. Hasil ini sejalan dengan tujuan Program ROOTS yang menekankan peran aktif siswa dalam membangun budaya sekolah yang empatik, aman, dan bebas perundungan. Dengan demikian, rangkaian kegiatan pengabdian ini tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif siswa, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan kesiapan perilaku yang menjadi fondasi penting dalam upaya pencegahan cyberbullying secara berkelanjutan di lingkungan sekolah. Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. 115 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Tabel 1. Perbandingan Skor Rata-rata Pre-test dan Post-test Siswa Indikator Skor Pre-test Skor Post-test Pemahaman Cyberbullying 3,35 29,03 3,76 Jenis Cyberbullying 3,19 19,35 3,65 Empati terhadap Korban 2,57 64,25 2,75 Komunikasi Asertif 3,40 85,00 3,46 Penggunaan Media Sosial secara Bijak 3,46 86,50 3,42 Strategi Menghadapi Bullying 3,58 89,50 3,74 Rata-rata Keseluruhan 3,26 3,46 Hasil evaluasi kegiatan pengabdian menunjukkan bahwa seluruh indikator yang diukur mengalami peningkatan skor setelah pelaksanaan Program ROOTS. Peningkatan tersebut mencakup tiga ranah utama, yaitu aspek kognitif . emahaman konsep cyberbullyin. , aspek afektif . mpati sosial terhadap korba. , dan aspek keterampilan sosial . omunikasi asertif serta penggunaan media sosial secara bija. Temuan ini mengindikasikan bahwa rangkaian kegiatan pengabdian yang dilaksanakan tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan siswa, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan sikap dan perilaku sosial yang lebih positif di lingkungan sekolah. Secara umum, peningkatan skor pada seluruh indikator sejalan dengan temuan berbagai studi yang menegaskan bahwa intervensi berbasis partisipatif, seperti Program ROOTS, meningkatkan kesadaran siswa terhadap isu perundungan serta memperkuat kapasitas sosial-emosional mereka (Rose et al. , 2022. Thornberg et al. , 2. Peningkatan ratarata keseluruhan sebesar 0,20 poin menunjukkan bahwa Program ROOTS memberikan kontribusi yang bermakna dalam membentuk karakter digital siswa SMK di lingkungan lahan basah. Meskipun 94,00 91,25 68,75 86,50 85,50 93,50 peningkatan ini tidak dimaksudkan sebagai bukti statistik dalam kerangka penelitian eksperimental, temuan tersebut cukup merepresentasikan keberhasilan program sebagai bentuk intervensi edukatif dalam konteks pengabdian kepada masyarakat (Adhantoro et al. , 2. Hasil ini juga diperkuat oleh kajian sebelumnya yang menyatakan bahwa sosial-emosional terintegrasi dalam pelatihan berbasis digital mampu meningkatkan empati, kesadaran sosial, serta perilaku prososial siswa secara konsisten (White et al. , 2019. Yang et al. Dalam konteks lingkungan lahan basah, pendekatan ini menjadi semakin relevan karena siswa dihadapkan pada tantangan sosial dan budaya yang khas, sehingga diperlukan strategi yang adaptif dan kontekstual. Selain Program ROOTS tercermin dari tingkat keaktifan siswa selama kegiatan pengabdian. Hal ini tergambarkan pada Gambar 1, yang menunjukkan tingginya partisipasi siswa dalam sesi diskusi, simulasi kasus, dan Keaktifan ini mengindikasikan bahwa siswa tidak hanya berperan sebagai penerima 116 Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 materi, tetapi juga sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran dan perubahan sosial (Adhantoro et al. , 2. Keterlibatan aktif siswa sebagai agen perubahan menjadi salah satu faktor kunci yang memperkuat ditegaskan oleh White et al. Rose et . , dan Thornberg et al. yang pencegahan perundungan. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. sendiri, terbukti mampu menurunkan prevalensi perundungan dan memperkuat solidaritas antarsiswa (Sasson et al. , 2. Perbandingan capaian sebelum dan sesudah kegiatan pengabdian secara lebih rinci dapat dilihat pada Gambar 2, yang menggambarkan perbandingan skor ratarata pre-test dan post-test siswa. Visualisasi tersebut memperlihatkan adanya tren peningkatan pada seluruh aspek yang diukur, terutama pada dimensi empati dan Peningkatan ini menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih peka terhadap dampak emosional perundungan serta lebih siap menerapkan strategi yang konstruktif dalam menghadapi situasi perundungan digital. Gambar 1. Keaktifan Siswa dalam Kegiatan Pengabdian Efektivitas program juga diperkuat oleh dukungan komunitas sekolah, yang meliputi guru bidang studi, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta teman sebaya. Kolaborasi antara siswa dan pihak sekolah menciptakan iklim sosial yang lebih aman, terbuka, dan responsif terhadap isu Hal ini sejalan dengan temuan Yang et al. dan Supe dan Martinsone . yang menegaskan bahwa dukungan institusional sekolah berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dan Selain itu, keterlibatan siswa dalam kampanye peer-led, yaitu kampanye yang digagas dan dijalankan oleh siswa Gambar 2. Perbandingan Skor Rata-rata Pre-test dan Post-test Siswa Selain data kuantitatif, hasil observasi lapangan dan wawancara singkat dengan guru BK serta siswa memberikan gambaran dampak kualitatif yang signifikan setelah pelaksanaan Program ROOTS. Para siswa yang berperan sebagai agen perubahan menunjukkan peningkatan rasa percaya diri dalam menyuarakan isu perundungan, lebih aktif dalam membuat dan menyebarluaskan konten digital kampanye positif, serta menampilkan sikap empatik terhadap Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. 117 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. teman yang menjadi korban. Temuan ini sejalan dengan hasil studi sebelumnya yang menyatakan bahwa partisipasi aktif siswa dalam program pencegahan perundungan dapat meningkatkan keberdayaan, tanggung jawab sosial, dan kepemimpinan siswa di lingkungan sekolah (White et al. , 2019. Thornberg et al. , 2. Guru BK juga mengungkapkan adanya penurunan perilaku mengejek, menyindir, dan komentar negatif baik di ruang kelas maupun di media sosial sekolah. Perubahan lingkungan sosial yang lebih sehat dan Temuan tersebut konsisten dengan kajian yang menyatakan bahwa program peer-led yang mendorong keterlibatan emosional dan aksi nyata siswa mampu menurunkan perilaku agresif verbal dan digital secara berkelanjutan (Yang et al. Amin et al. , 2. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan Program ROOTS menunjukkan dampak yang positif terhadap peningkatan kesadaran, sikap, dan perilaku siswa dalam upaya pencegahan cyberbullying. Salah satu tahapan penting dalam kegiatan ini adalah proses pemberian materi yang dilakukan sebagaimana ditampilkan pada Gambar 3. Gambar keterlibatan aktif siswa selama sesi penyampaian materi, diskusi, dan refleksi bersama, yang menjadi fondasi penting dalam membangun pemahaman dan sikap anti-perundungan secara berkelanjutan. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Gambar 3. Proses Pemberian Materi Temuan ini sejalan dengan kajian Gregory et al. yang menegaskan bahwa keterlibatan siswa secara langsung dalam praktik pencegahan perundungan di menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan menekan perilaku bullying. Dukungan temuan tersebut juga diperkuat oleh Supe dan Martinsone . serta Yang et al. , yang menyatakan bahwa intervensi menciptakan perubahan perilaku yang lebih bertahan lama dibandingkan pendekatan yang bersifat instruktif semata. Dalam konteks kegiatan pengabdian ini, siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilibatkan sebagai subjek aktif yang merefleksikan pengalaman, berdiskusi, dan cyberbullying yang relevan dengan realitas Zych et al. menambahkan partisipasi efektif dalam meningkatkan regulasi emosi siswa dan memperkuat nilainilai anti-perundungan di kalangan remaja. Hal ini relevan dengan temuan kegiatan 118 Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 pengabdian ini, di mana siswa agen perubahan menunjukkan perubahan sikap yang lebih empatik, terbuka, dan berani menyuarakan penolakan terhadap perilaku Perubahan tersebut juga didukung oleh penelitian Amin et al. dan Agustiningsih et al. yang menekankan bahwa penguatan karakter dan regulasi emosi merupakan faktor kunci dalam pencegahan perundungan, baik secara langsung maupun daring. Perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh siswa agen perubahan dapat dipahami sebagai hasil dari berkembangnya regulasi emosi, efikasi diri, dan empati sosial yang diperkuat melalui pengalaman belajar berbasis partisipasi (Mayasari et al. , 2. Keterlibatan aktif siswa dalam kampanye anti-perundungan, diskusi kelompok, dan produksi konten digital memberikan pengalaman belajar yang bermakna . eaningful Proses mendukung penguatan pembelajaran sosialemosional . ocial emotional learnin. , di mana siswa belajar mengenali emosi diri dan orang lain, mengelola respons keterampilan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (Nurdiansyah et al. e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Pendekatan yang diterapkan dalam Program ROOTS selaras dengan teori pembelajaran sosial yang menekankan pentingnya interaksi sosial, keteladanan, dan refleksi dalam membentuk perilaku prososial dan menciptakan iklim sekolah yang positif (Prayitno et al. , 2. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, pendekatan ini menjadi sangat relevan karena mendorong perubahan dari dalam komunitas sekolah itu sendiri, bukan semata-mata melalui kontrol eksternal. Oleh karena itu. Program ROOTS tidak hanya berfungsi sebagai intervensi preventif terhadap cyberbullying, tetapi juga sebagai wahana penguatan aspek psikologis siswa yang berkontribusi pada kesejahteraan . tudent well-bein. pembentukan karakter jangka panjang (Rakhmah et al. , 2. Keberhasilan kegiatan pengabdian ini juga terlihat dari capaian pada berbagai aspek yang diamati selama pelaksanaan Untuk memperjelas dampak kegiatan. Tabel 2 berikut disajikan sebagai ilustrasi ringkasan perubahan yang diamati pada siswa sebelum dan sesudah pelaksanaan Program ROOTS. Tabel ini berfungsi sebagai pendukung menunjukkan capaian kegiatan secara deskriptif, bukan sebagai analisis statistik penelitian. Tabel 2. Perubahan Aspek Sikap dan Keterampilan Siswa Setelah Program ROOTS Indikasi Aspek yang Diamati Kondisi Awal Kondisi Setelah Program Perubahan Pemahaman Terbatas pada definisi Lebih komprehensif . enis, dampak. Meningkat Empati terhadap korban Relatif rendah Lebih peduli dan suportif Meningkat Komunikasi asertif Pasif dan ragu Lebih berani dan terarah Meningkat Partisipasi kampanye Rendah Aktif membuat dan menyebarkan konten Meningkat Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. 119 e-ISSN 2716-0327 doi: 10. 23917/bkkndik. Aspek yang Diamati Kesadaran etika digital Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 Kondisi Awal Kurang konsisten Kondisi Setelah Program Lebih reflektif dan bertanggung jawab Program ROOTS yang diterapkan dalam konteks lingkungan lahan basah terbukti efektif meningkatkan kesadaran, empati, dan keterampilan komunikasi siswa. Program ini tidak hanya berkontribusi pada pencegahan cyberbullying, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya sekolah yang lebih suportif, reflektif, dan adaptif terhadap tantangan digital, terutama di wilayah dengan karakteristik sosial yang unik seperti kawasan lahan basah (Rose et , 2022. Thornberg et al. , 2023. White et al. Dengan demikian, hasil kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa Program ROOTS layak untuk direplikasi di sekolah lain dengan pendekatan yang kontekstual dan partisipatif. Replikasi program perlu disertai dengan penguatan kolaborasi antara guru BK, siswa, dan komunitas sekolah agar tercipta ekosistem digital yang sehat, aman, dan resilien dalam menghadapi tantangan perundungan siber (Sasson et al. , 2. Simpulan Kegiatan masyarakat melalui penerapan Program ROOTS pada siswa SMK Negeri 2 Pelaihari di lingkungan lahan basah telah berhasil meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan keterampilan sosial-emosional siswa dalam mencegah dan menghadapi cyberbullying. Program ini terbukti efektif tidak hanya dalam meningkatkan aspek kognitif siswa terkait konsep dan bentuk perundungan Indikasi Perubahan Meningkat siber, tetapi juga dalam memperkuat aspek afektif berupa empati terhadap korban serta keterampilan sosial seperti komunikasi asertif dan penggunaan media sosial secara Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan skor pada seluruh indikator yang diukur melalui pre-test dan post-test sebagai instrumen refleksi dan evaluasi program. Peningkatan paling menonjol terjadi pada aspek empati dan strategi menghadapi perundungan digital, yang mengindikasikan bahwa pendekatan partisipatif dan berbasis karakter mampu mendorong perubahan sikap dan kesiapan perilaku siswa. Temuan ini diperkuat oleh hasil observasi dan wawancara singkat yang menunjukkan perubahan positif dalam interaksi sosial siswa, meningkatnya kepercayaan diri agen perubahan, serta menurunnya perilaku verbal negatif di lingkungan sekolah. Keberhasilan Program ROOTS dalam kegiatan pengabdian ini tidak terlepas dari keterlibatan aktif siswa sebagai agen perubahan, dukungan guru Bimbingan dan Konseling, komunitas sekolah. Pendekatan peer-led dan kampanye digital yang dijalankan oleh siswa memberikan pengalaman belajar yang penguatan pembelajaran sosial-emosional serta pembentukan karakter digital yang Dalam konteks lingkungan lahan basah yang memiliki karakteristik sosial 120 Penguatan Literasi Sosio-Emosional Siswa SMK melalui Implementasi Program ROOTSA. Buletin KKN Pendidikan. Vol. No. Desember 2025 tersendiri, pendekatan kontekstual dan partisipatif ini terbukti relevan dan adaptif. Secara pengabdian ini menunjukkan bahwa Program ROOTS merupakan model intervensi preventif yang efektif dan berkelanjutan dalam upaya pencegahan cyberbullying di sekolah. Program ini tidak hanya berorientasi pada penurunan perilaku perundungan, tetapi juga pada pembangunan budaya sekolah yang suportif, reflektif, dan berorientasi pada kesejahteraan siswa. Oleh karena itu. Program ROOTS direkomendasikan untuk direplikasi di sekolah lain dengan penyesuaian konteks lokal serta penguatan kolaborasi antara siswa, guru, dan komunitas sekolah guna mewujudkan ekosistem digital yang sehat, aman, dan Daftar Pustaka