Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia The Effectiveness of the Constraint-Induced Language Therapy Method on the Verbal Expression Ability of Aphasia Vinca Augidea Putri1. Hafidz Triantoro Aji Pratomo2. Dodiet Aditya Setyawan3 1,2,3 Politeknik Kementrian Kesehatan Surakarta augideaputri011001@gmail. com, pratomo. hafidz@gmail. com, aditya. 12st@gmail. Diterima : 13 Sept 2025 Ditinjau:18 Sept 2025 Disetujui: 10 Okt 2025 Publikasi Online: 31 Okt 2025 ABSTRAK Afasia merupakan gengguan komunikasi dapatan yang mempengaruhi 30%-40% penyintas Stroke. Pemulihan penderita afasia menurun drastis setelah enam bulan dan kemmapuan komunikasi relative tidak meningkat dalam waktu satu tahun hingga diperkirakan sekitar 50%-60% penderita Afasia bertahap hidup dengan gangguan komunikasi kronis yang terus menerus. Terapi wicara menjadi intervensi utama untuk meningkatkan kemampuan verbal. Salah satunya metode yang dapat digunakan adalah metode Constraint Induced Language Therapy (CILT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode Constraint Induced Language Therapy terhadap peningkatan kemampuan ekspresi verbal pada pasien afasia. Desain penelitian ini adalah preexperimental, rancangan one-group pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan kepada enam pasien afasia menggunakan teknik purpose sampling. Instrumen yang digunakan adalah metode Constraint Induced Language Therapy. Tes Token, dan TADIR. Intervensi metode Constraint Induced Language Therapy menggunakan Go fish, meniru kata, meniru kalimat dengan durasi intervensi 120 menit per sesi selama 10 pertemuan. Uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon dan analisis data deskriptif. Hasil analisis data deskriptif setelah dilakukan intervensi responden mengalami perbaikan pada kemampuan menyebutkan kata, menamai, dan meniru ucapan. Berdasarkan hasil Uji Wilcoxon nilai Asymp. Sig. - taile. 034, lebih kecil dari taraf signifikasi 0. 034<0. sehingga didapatkan hasil bahwa metode Constraint Induced Language Therapy efektif terhadap meningkatkan ekspresi verbal pasien afasia. Kata kunci : afasia. Constraint Induced Language Therapy, ekspresi verbal ABSTRACT Aphasia is an acquired communication disorder that affects 30%-40% of stroke survivors. Recovery in aphasia sufferers declines drastically after six months and communication abilities do not improve relatively within one year, so it is estimated that around 50%-60% of aphasia sufferers gradually live with chronic communication disorders. Speech therapy is the main intervention to improve verbal One method that can be used is the Constraint Induced Language Therapy (CILT) method. This study aims to determine the effectiveness of the Constraint Induced Language Therapy method on improving verbal expression abilities in aphasia patients. The design of this study was preexperimental, one-group pretest- posttest design. This study was conducted on six aphasia patients using a purposeful sampling technique. The instruments used were the Constraint Induced Language Therapy method, the Token Test, and TADIR. The Constraint Induced Language Therapy method intervention used Go fish, imitating words, imitating sentences with an intervention duration of 120 minutes per session for 10 meetings. The statistical test used was the Wilcoxon test and descriptive data The results of descriptive data analysis after the intervention showed that respondents experienced improvements in their ability to say words, name them, and imitate speech. Based on the results of the Wilcoxon Test, the Asymp. Sig. -taile. value was 0. 034, which was smaller than the significance level of 0. 034<0. Thus, the results showed that the Constraint Induced Language Therapy method was effective in improving the verbal expression of aphasic patients. Keyword : aphasia. Constraint Induced Language Therapy, verbal expression PENDAHULUAN Afasia adalah gangguan komunikasi dapatan yang mempengaruhi 30%-40% penyintas Stroke. Prevalensi afasia di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 100. 000 orang memiliki afasia Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 Pemulihan afasia menurun drastic setelah enam bulan dan dilaporkan relative selesai dalm waktu satu tahun, hingga diperkirakan sekitar 50% - 60% penderita afasia bertahan hidup dengan gangguan komunikasi kronis yang terus-menerus 1. Penyandang Afasia akan mengalami kesulitan diberbagai hal seperti kesulitan melakukan percakapan, berbicara dalam grup, kesulitan membaca, kesulitan memahami akan lelucon atau menceritakan lelucon, menulis surat atau mengisi formulir, berhitung, mengingat angka, kesulitan menyebutkan namanya sendiri atau nama-nama anggota keluarga Kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa yang jelas, tata bahasa yang tepat dan kosakata yang sesuai sangat menentukan efektivitas komunikasi verbal 3. Ekspresi verbal adalah proses penggunaan Bahasa lisan untuk berbagi informasi, emosi dan ide 4. Media utama yang digunakan dalam proses ekspresi verbal adalah Bahasa itu sendiri, yang mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada oranglain dengan jelas dan efektif 5. Pemberian pelayanan terapi wicara, merupakan bentuk upaya penanganan pemulihan kemampuan penderita afasia. Dalam pemberian intervensi, terapi wicara akan menentukan metode yang sesuai dengan kondisi pasien, salah satu metode dapat diberikan untuk penderita afasia dengan permasalahan verbal adalah metode Constraint Induced Language Therapy (CILT). Constraint-Induced Language Therapy berbeda dengan bentuk metode Afasia multimodalitas yang lebih familiar digunakan, dimana keberhasilan dipupuk melalui berbagai modalitas ekspresif selain produksi kata-kata lisan 6. Penerapan metode Constraint-Induced Language Therapy berbeda dengan metode konvesional, pada metode Constraint- Induced Language Therapy intervensi harus diberikan dalam bentuk praktek massal yang terkonsentrasi sedangkan terapi konvensional diberikan dalam jangka waktu yang lama dan tersebar 7. Metode Constraint-Induced Language Therapy terkadang disebut juga dengan terapi Bahasa ekspresi intensif karena waktu pelaksanaan yang diberikan dengan intensitas tinggi 6. ConstraintInduced Language Therapy melakukan pembatasan pada komunikasi nonverbal sedangkan kemampuan verbal dan pemahaman bahasa di stimulus untuk dilakukan 8. Menurut penelitian yang telah dilakukan Mulianda et al. , . penerapan metode Constraint Induced Language Therapy dilakukan dengan terapi massal yang intensif dengan durasi 3 jam perhari selama 10 hari berturutturut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas metode Contraint-Induced Language Therapy terhadap kemampuan ekspresi verbal pasien afasia. Penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh Pulvermyller et al . , mengkaji terapi Contraint-Induced Language Therapy untuk afasia kronis pasca-stroke dengan menggunakan pembanding kelompok eksperimen dan kelompok pembanding. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Contraint-Induced Language Therapy efektif untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam waktu singkat dibandingkan dengan terapi Perbedaan masing- masing dalam penelitian ini adalah desain, sampel, dan metodologi penelitian yang digunakan. Metode Contraint-Induced Language Therapy merupakan metode baru yang belum familiar digunakan oleh para terapi wicara di Indonesia dan penelitian mengenai metode ini belum banyak dilakukan 10. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian pre-experimental, menggunakan rancangan one-group pretest-posttest design. Desain ini hanya menggunakan satu kelompok saja yaitu kelas eksperimen yang merupakan kelas yang menerima treatment menggunakan metode yang telah ditentukan 11. Populasi penelitian ini adalah pasien afasia di wilayah Bekasi. Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien yang terdiagnosa afasia dan bersedia menjadi responden penelitian, mengalami satu kali stroke di belahan otak kiri, serangan stroke kurang dari satu tahun sebelum mengikuti penelitian ini, dan berbahasa indonesia, sedangkan kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah pasien afasia dengan deficit persepsi dan kognitif berat, pasien afasia dengan riwayat gangguan emosi yang ekstrim atau permasalahan kejiwaan. Sampel merupakan bagian dari populasi atau wakil populasi yang diteliti dan diambil sebagai sumber data serta dapat mewakili seluruh populasi atau sampel adalah sebagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi 12. Sampel yang digunakan adalah purpose sampling, didapatkan sampel berjumlah enam responden. Sampel dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria tertentu yang dianggap relevan dengan tujuan sehingga informasi yang dikumpulkan menjadi lebih kaya dan spesifik 13. Penelitian ini menggunaka instrumen, yaitu metode Contraint-Induced Language Therapy. Tes Token. TADIR. Seluruh responden melakukan pre-test menggunakan Tes Token dan Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 TADIR untuk mengukur kemampuan awal responden. Setelah itu, dilakukan intervensi menggunakan metode Contraint-Induced Language Therapy sebanyak 10 sesi pertemuan dengan durasi 120 menit persesi, 5 sesi dilakukan berturut-turut lalu diberikan jeda dua hari, lalu dilanjutkan 5 sesi berturut-turut. Setelah dilakukan intervensi, responden melakukan post-test menggunakan Tes Token dan TADIR untuk mengukur perbedaan hasil sebelum dan sesudah intervensi menggunakan metode ContraintInduced Language Therapy. Data akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan bivariat. Uji statistik yang dilakukan dalam penelitian adalah uji statistik Wilcoxon. Analisis ini dilakukan untuk menyatakan analisis terhadap dua variabel yakni variabel bebas dan variabel terikat dengan uji statistik yang disesuaikan dengan skala data yang ada14 HASIL Pelaksanaan metode Contraint-Induced Language Therapy menggunakan beberapa materi yaitu, permaian Go Fish, meniru kata, meniru kalimat, dan bercerita. Intervensi dilakukan selama 10 pertemuan dengan 5 hari pertemuan berturut-turut dan jeda 2 hari, lama durasi yang diberikan adalah 120 menit persesi. Hasil intervensi menggunakan metode Contraint-Induced Language Therapy disajikan pada grafik berikut: Grafik 1. Intervensi Tn. PDT Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 Grafik 2. Intervensi Tn. Grafik 3. Intervensi Ny. Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 Grafik 4. 4 Intervensi Ny. Grafik 4. 5 Intervensi Ny. Grafik 4. 6 Intervensi Tn. Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 Berdasarkan hasil intervensi menggunakan metode Contraint-Induced Language Therapy dapat diketahui bahwa kemampuan responden mengalami peningkatan, meskipun tidak konsisten disetiap Kelelahan dan kondisi lingkungan responden menyebabkan penurunan sementara pada beberapa pertemuan. Secara keseluruhan, hasil dari pertemuan 1-10 meninjukkan peningkatan. Dalam penelitian ini, didapatkan beberapa karakteristik responden, dari jenis kelamin dan usia yang Tabel dibawah ini menyajikan hasil analisis deskriptif berdasarkan usia dan jenis kelamin dari responden, sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Analisis Deskriptif Usia Frekuensi Persentase (%) 30-50 tahun 51-70 tahun 71-90 tahun Total Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Responden penelitian ini masing-masing tiga laki-laki dan tiga perempuan. Jenis kelamin tampaknya tidak menjadi faktor resiko untuk penderita afasia. Hal ini sejalan dengan pernyataan 15. menyatakan bahwa tidak adanya perbedaan antar jenis kelamin dalam kejadian afasia. Hal ini dapat dipahami karena tidak terdapat perbedaan yang mendasar dalam patofisiologi afasia antara jenis kelamin Ditinjau dari usia, terdapat empat responden usia 51-70 tahun, satu responden usia 71-90 tahun, dan satu responden usia 30-50 tahun. Tabel dibawah ini menyajikan hasil analisis pretest dan posttest menggunakan Tes Token, sebagai Tabel 2. Hasil Analisis Pre-Post Tes Token Pre-Test Frekuensi Persentase % Sangat Berat Berat Total Post-Test Frekuensi Persentase % Sangat Berat Berat Sedang Total Sebelum dilakukan intervensi pretest, tiga responden mempunyai pemahaman bahasa sangat berat dan tiga responden mempunyai pemahaman berat. Setelah diberikan intervensi menggunakan metode Contraint- Induced Language Therapy hasil posttest menunjukkan peningkatan kemampuan pemahaman bahasa yaitu, empat responden meningkat menjadi berat, satu responden menjadi sedang, dan satu responden menetap sangat berat. Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 Tabel dibawah ini menyajikan gambaran pretest dan posttest menggunakan TADIR, sebagai Tabel 3. Gambaran Pre-Post TADIR Partisipan Subtes TADIR Pretest Posttest Gain Informasi Pribadi Menyebut Menamai Kata Menamai Kalimat Membaca Meniru Ucapan Informasi Pribadi Menyebut Menamai Kata Menamai Kalimat Membaca Meniru Ucapan Informasi Pribadi Menyebut Menamai Kata Menamai Kalimat Membaca Meniru Ucapan Informasi Pribadi Menyebut Menamai Kata Menamai Kalimat Membaca Meniru Ucapan Informasi Pribadi Menyebut Menamai Kata Menamai Kalimat Membaca Meniru Ucapan Informasi Pribadi Menyebut Menamai Kata Menamai Kalimat Membaca Meniru Ucapan Keterangan skor dari TADIR yaitu skor 1 . idak mungki. , skor 2 . angat tergangg. , skor 3 . , skor 4 . edikit tergangg. , skor 5 . Hasil pretest dan posttest menggunakan TADIR menunjukan bahwa terdapat improvisasi kemampuan menjawab informasi pribadi, menyebutkan kata, menamai tahap kata, menamai tahap kalimat, membaca, dan meniru ucapan dari sebelum diberikan perlakukan dan setelah diberikan perlakuan intervensi dengan metode ConstraintInduced Language Therapy. Pada responden enam terlihat mengalami peningkatan yang minimal disebabkan beratnya permasalahan bahasa yang dimiliki. Tabel dibawah ini menyajikan hasil uji Wilcoxon untuk mengetahui efektivitas metode ConstraintInduced Language Therapy terhadap kemampuan ekspresi verbal pada pasien afasia, sebagai berikut: Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Output 1 Post-Test Ae Pre-Test Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Mean Rank Sum of Rank Berdasarkan analisis data menggunakan uji Wilcoxon , dapat diketahui bahwa tidak ada respon yang mengalami penurunan hasil, lima responden mengalami peningkatan sesudah intervensi , sementara satu responden lainnya memiliki hasil yang sama anatar pretest dan posttest. Selanjutnya, dilihat signifikansi peningkatan dari output test statistic uji wilcoxon sebagai berikut: Tabel 5. Hasil Uji Wilcoxon Output 2 Asymp. Sig. -taile. Post-Test Ae Pre-Test Berdasarkan hasil test statistic dapat diketahui bahwa nilai Asymp. Sig. -taile. nilai ini lebih kecil dari taraf 0. 034<0. maka hipotesis diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode Constraint-Induced Language Therapy efektif terhadap kemampuan ekspresi verbal pada pasien afasia. PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode Constraint-Induced Language Therapy efektif terhadap kemampuan ekspresi verbal pada pasien afasia. Pengambilan data dilakukan di Bekasi. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini Adalah TADIR. Tes Token, dan metode Constraint-Induced Language Therapy. Pengukuran kemampuan awal dilakukan memalui pretest menggunakan instrument TADIR dan Tes Token. Selanjutnya, intervensi diberikan dalam bentuk penerapan metode Constraint-Induced Language Therapy dengan materi bermain go fish, meniru, dan Permainan Go Fish menggunakan 16 gambar dengan 2 salinan sehingga totalnya 32 kartu bergambar yang akan dimainkan peneliti dan responden. responden diminta menemukan 4 pasang gambar kartu dengan percakapan yang bergantian dengan peneliti. Dalam permainan Go Fish hanya menggunakan respon verbal dan membatasi penggunaan respon non-verbal 16. Lalu materi, meniru 3 digit angka atau kata. Meniru kalimat deklaratif atau imparatif, dan bercerita dua kalimat. Setiap sesi intervensi berlangsung selama 120 menit, dengan total 10 kali pertemuan yang dilakukan selama 5 hari berturut-turut dan jeda 2 hari. Terdapat perbedaan yang signifikan pada sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Perubahan pemahaman bahasa dapat dilihat dari hasil Tes Token yang telah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, sebelum dilakukan intervensi menggunakan metode Constraint-Induced Language Therapy. Diketahui bahwa, 6 responden mendapatkan hasil 3 responden . %) mempunyai pemahaman bahasa sangat berat dan 3 responden . %) mempunyai pemahaman berat. Kondisi ini menegaskan bahwa baseline pemahaman bahasa berada pada tingkat yang minimal dan homogen. Setelah dilakukan intervensi menggunakan metode Constraint-Induced Language Therapy, terjadi perubahan yang teramati pada hasil posttest. Meskipun peningkatan belum signifikan yaitu, 1 responden . ,7%) mempunyai pemahaman bahasa yang sangat berat, 4 responden . ,7%) mempunyai pemahaman berat, dan 1 responden . ,7%) mempunyai pemahaman bahasa sedang. Lalu perubahan kemampuan ekspresi verbal terlihat pada hasil pretest-postest menggunakan TADIR menunjukkan menamai tingkat kata didapatkan hasil dari 6 responden bahwa 1 responden . 7%) mengalamai kemampuan menamai kata yang tidak mungkin, 3 responden . %) mengalamai kemampuan menamai kata yang terganggu, 1 responden . 7%) mengalamai kemampuan menamai kata yang sedikit terganggu, dan 1 responden . 7%) mengalami kemampuan menamai kata yang Setelah diberikan intervensi terjadi peningkatan menjadi, sebanyak 3 responden . telah Efektivitas Metode Constraint-Induced Language Therapy Terhadap Kemampuan Ekspresi Verbal Pasien Afasia | Vinca Augidea Putri dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 10 No. 01 Januari 2026 p-ISSN 2548-8716 Halaman 01 - 10 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/653 mengalami peningkatan dan berada pada kategori sedikit terganggu, sementara itu 1 responden . masih berada pada kategori tidak mungkin dan 2 responden . meningkat menjadi normal. Lalu, kemampuan menamai tingkat kalimat sebelum diberi intervensi didapatkan hasil dari 6 responden. Bahwa, 2 responden . 3%) mengalami kemampuan menamai kalimat yang tidak mungkin, 2 responden . 3%) mengalami kemampuan menamai kalimat yang sangat terganggu, dan 2 responden . 3%) mengalami kemampuan menamai kalimat yang terganggu. Setelah diberi intervensi menunjukkan perubahan, 3 responden . %) mengalami peningkatan menjadi sedikit terganggu, sementara itu 1 responden . 7%) menetap pada kategori tidak mungkin dan 2 responden . 3%) pada kategori terganggu dalam kemampuan menamai tingkat kalimat. Lalu, pada kemampuan membaca sebelum dilakukan intrvensi hasil pretest dari 6 responden menunjukkan 2 responden . mengalami kemampuan membaca yang tidak mungkin. 3 responden . %) mengalami kemampuan membaca yang sangat terganggu, dan 1 responden . 7%) mengalami kemampuan membaca yang Setelah diberikan intervensi menunjukkan perubahan, 3 responden . %) mengalami peningkatan menjadi kategori terganggu, 1 responden . 7%) menjadi kategori normal, dan 1 responden . 7%) menjadi kategori sedikit terganggu, sementara itu 1 responden . 7%) menetap pada kategori tidak mungkin. Lalu, kemampuan meniru ucapan sebelum diberikan intervensi dari 6 Bahwa, 1 responden . 7%) memiliki kemampuan meniru ucapan yang tidak mungkin, 1 responden . 7%) memiliki kemampuan meniru ucapan yang sangat terganggu, 4 responden . memiliki kemampuan meniru ucapan yang terganggu. Setelah diberikan intervensi menunjukkan perubahan, 5 responden . 3%) mengalami peningkatan menjadi sedikit terganggu sementara itu 1 responden . 7%) pada kategori sangat terganggu. Berdasarkan analisis data menggunakan uji Wilcoxon, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pada 5 responden, sementara 1 responden memiliki nilai yang sama antara pre-test dan post-test, dan tidak ada respon yang mengalami penurunan. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan Pulvermyller et al. , . Penggunaan metode Constraint-Induced Language Therapy secara massal efektif meningkatkan kemampuan berbahasa dalam jangka waktu 10 hari dan penggunaan regimen terapi afasia dengan metode Constraint-Induced Language Therapy yang terkonsentrasi dibandingkan dengan terapi konvensional yang jumlahnya sama namun dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama. Penelitian lain yang telah dilakukan Latihan menggunakan metode Constraint-Induced Language Therapy secara rutin dan teratur meningkatkan kemampaun pemahaman dan pengucapan pada pasien stroke dengan afasia dan menjadi bagian keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien afasia dengan diagnosa hambatan komunikasi KESIMPULAN DAN SARAN Setelah dilakukan intervensi menggunakan metode Constraint-Induced Language Therapy sebanyak 10 sesi pertemuan, didapatkan hasil lima responden mengalami peningkatan sesudah intervensi . , sementara satu responden memiliki hasil yang sama antara pretest dan posttest. Hasil uji wilcoxon menunjukkan nilai Asymp. Sig. -taile. Nilai ini lebih kecil dari taraf 05 . 034<0. sehingga dapat disimpulkan bahwa metode Constraint-Induced Language Therapy meningkatkan kemampuan ekspresi verbal pada pasien afasia. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah yang subtansial mengingat metode ini belum banyak dilakukan di indonesia, diharapkan hasil penelitian dapat memperkaya literatur dan menjadi referensi metode intervensi unruk pasien afasia. Meskipun demikian, perlu diakui bahwa penelitian ini memiliki batasan-batasan tertentu, sepetri jumlah sampel penelitian yang terbatas, dan keterbatasan waktu peneilitian. Saran untuk penelitian selanjutnya berdasarkan hasil limitasi dari penelitian ini adalah melakukan perluasan sampel dan variable dengan melibatkan jumlah responden yang lebih besar untuk meningkatkan generalisasi temuan statistic. Membuat penelitian lanjutan dengan memisahkan responden berdasarkan tingkat keparahan afasia untuk memahami efektivitas metode Constraint-Induced Language Therapy berbeda pada jenis-jenis afasia. DAFTAR PUSTAKA