e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 5. No 2. Oktober 2024 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah Kontribusi Kepemimpinan Pimpinan Sidang Terhadap Pertumbuhan Gereja Pentakosta Indonesia Se-Jabodetabek Joyanda Sianturi Institut Agama Kristen Renatus sn@altrak1978. Abstract. This study was designed to measure the level of contribution of leadership of the pastor on the growth of the Gereja Pentakosta Indonesia in Jabodetabek. Against the background of the reality that the church today is experiencing a severe challenge, namely how to grow in the rapid development of the times. Not only is the church not growing, the church is declining. Christian missions have always been concerned with church growth, so research on the topic of church growth remains popular. Church growth occurs in history and among human communities, can be measured from various dimensions and influenced by various factors. The formulation of the problem raised is: is there a contribution of leadership of the pastor on the growth of the Gereja Pentakosta Indonesia in JABODETABEK in 2022? The research method used in this study is a quantitative, the type of research chosen is cause-and-effect correlation survey research. The study population was leaders of the Gereja Pentakosta Indonesia congregation in Jabodetabek, which was selected as a sample of 135 people. The data collection technique through questionnaires contains a list of 60 statements with Likert scales. At the end of the study it was found that there was a contribution of leadership of the pastor on church growth of Keywords: Leadership, communication skills, counseling services, church growth Abstraksi: Penelitian ini dirancang untuk mengukur tingkat kontribusi kepemimpinan pimpinan sidang terhadap pertumbuhan Gereja Pentakosta Indonesia se-JABODETABEK. Dilatarbelakangi kenyataan gereja pada masa kini mengalami tantangan yang berat yakni bagaimana bertumbuh dalam perkembangan zaman yang cepat. Gereja bukan saja tidak bertumbuh, parahnya gereja semakin mengalami kemunduran. Misi-misi Kristen selalu memperhatikan pertumbuhan gereja, sehingga penelitian mengenai topik pertumbuhan gereja tetap populer. Pertumbuhan gereja terjadi dalam sejarah dan di antara komunitas manusia, dapat diukur dari berbagai dimensi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Rumusan masalah yang diangkat adalah: apakah terdapat kontribusi kepemimpinan pimpinan sidang terhadap pertumbuhan Gereja Pentakosta Indonesia Se-JABODETABEK tahun 2022? Metode penelitian yang digunakan dalam riset ini adalah kuantitatif, jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian survey korelasi sebab-akibat. Populasi penelitian adalah para pimpinan sidang Gereja Pentakosta Indonesia se-Jabodetabek, yang terpilih menjadi sampel ada 135 orang. Teknik pengumpulan data melalui angket berisi daftar 60 pernyataan dengan skala likert. Di akhir penelitian ditemukan bahwa terdapat kontribusi kepemimpinan pimpinan sidang terhadap pertumbuhan gereja sebesar 47. Kata Kunci: Kepemimpinan, pertumbuhan gereja. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 104 PENDAHULUAN Gereja yang sehat adalah gereja yang bertumbuh, baik secara jumlah keanggotaan . dan secara rohani . Tetapi fakta menyatakan fenomena gereja yang tidak bertumbuh bahkan sekarat sedang terjadi di banyak tempat. Gereja harus segera bersikap, mengantisipasi dan bertindak untuk menghentikan fenomena yang tidak baik 1 Gereja pada masa kini mengalami tantangan yang berat yakni bagaimana bertumbuh dalam perkembangan zaman yang cepat. Ezra Tari bahkan mengatakan banyak anggota jemaat yang hilang karena kurang pendalaman Alkitab. 2 Gereja bukan saja tidak bertumbuh, parahnya gereja semakin mengalami kemunduran. Nazara dan Panjaitan mengatakan, sepanjang kitab Kisah Para Rasul Alkitab berbicara tentang gereja sebagai persekutuan yang keberadaannya telah direncanakan oleh Tuhan Yesus sendiri yang kemudian bertindak sebagai Kepala atas gereja-Nya. 3 Sejarah pun menunjukkan bahwa keberadaan gereja sejak zaman Perjanjian Baru hingga masa kini adalah bukti bahwa Allah bekerja menyertai perjalanan dan perkembangan gereja di seluruh dunia. Di Indonesia gereja tersebar di seluruh kepulauan, provinsi, perkotaan dan Namun fakta lain yang patut diperhatikan adalah tingkat pertumbuhan gereja di tiap wilayah berbeda-beda, bahkan ada gereja yang tutup karena kekurangan jemaat maupun alasan-alasan lain. 4 Ada gereja yang mengalami pasang-surut dalam perkembangan pelayanannya, ada gereja yang bertumbuh dengan pesat, ada juga gereja yang terhambat pertumbuhannya. Tidak ada asap jika tidak ada api. Terhambatnya pertumbuhan gereja pastilah dipengaruhi oleh berbagai hal. Nazara dan Panjaitan mengatakan, kurangnya kecakapan atau kompetensi sebagai pemimpin, minimnya dasar teologi, rapuhnya dasar bangunan rohani, hingga ketidakmampuan menjalin hubungan dapat menjadi penyebab yang utama. Faktanya seseorang menjadi pemimpin gereja bukan karena kecakapan akademis, bukan karena pemahaman teologinya sudah mumpuni, melainkan karena meyakini akan panggilan Tuhan kepadanya. Itu sebabnya sering terjadi seseorang menjadi Gembala Sidang, menjadi Pendeta atau Pejabat Gerejawi tanpa harus memiliki pemahaman kepemimpinan yang alkitabiah. Semua praktek iman Kristen haruslah didasarkan pada kebenaran dalam Alkitab, termasuk tentang pelayanan. Bagaimana seseorang dapat melayani dengan benar apabila tidak disertai dengan pemahaman dasar-dasar pelayanan yang benar? Seorang pelayan meja di sebuah rumah makan, haruslah mendapat pelatihan awal sebelum dia diberikan tugas melayani tamu. Dia harus dinyatakan lulus pelatihan oleh kepala pelayan, lalu dia mendapat jadwal jam kerja. Pelayanan gerejawi menurut asal muasal bahasa Yunani adalah diambil dari latar belakang pelayanan meja, yakni hamba yang menyiapkan santapan terbaik untuk tamu yang akan makan. Karena itu dia harus bersedia menerima pelatihan terbaik, agar dapat menyiapkan hidangan yang terbaik. Demikianlah pemimpin gereja perlu mendapat pelatihan sebelum terjun dalam tugas pelayanannya. Idealnya setiap pimpinan sidang menjalankan kepemimpinan berdasarkan kebenaran Alkitab untuk dapat menunjang pertumbuhan gereja. Misi-misi Kristen selalu memperhatikan pertumbuhan gereja, sehingga penelitian mengenai topik pertumbuhan gereja tetap populer. Secara etimologis, jemaat adalah gereja yang dalam istilah Yunani ekklesia berarti pertemuan atau sidang jemaat. 6 Istilah Ibrani Stimson Hutagalung dkk. Pertumbuhan Gereja (Medan: Yayasan Kita Menulis, 2. , 1. https://w. edu/38708261/PERTUMBUHAN_GEREJA, diakses 01 September 2022, pukul 10:00 WIB. Febriman Nazara dan Tutur PT Panjaitan. AuPengaruh Kompetensi dan Interelasi Pemimpin Rohani Terhadap Pertumbuhan GerejaAy Jurnal Salvation 2, no. : 81. Simon Simon. AuPandemi Covid-19 dalam Perspektif Teologi Pentakosta,Ay Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 1, no. : 65-77. Nazara dan Panjaitan, op. , 82. Douglas. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I A-L (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2. , 332. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 105 yang dipakai untuk jemaat atau gereja adalah qahal yang berarti memanggil. 7 Jemaat atau gereja adalah buatan Allah (Ef. Baik asal, bentuk, susunan, misi, maksud, daya hidup dan tujuan jemaat adalah menyatakan kasih, hikmat, anugerah dan kehendak Allah (Ef. 1:3-. Gereja bukan suatu lembaga atau organisasi buatan manusia. Pada hakekatnya, gereja adalah organisme yang dilahirkan Roh Allah pada hari Pentakosta (Kis. Harus disadari bahwa pengertian tentang gereja merupakan sebuah konsep dengan banyak sisi, sehingga penggunaan kata jemaat tidak selalu memiliki konotasi yang sama. Misalnya secara semantis. Yohanes Blaw menyebutkan bahwa gereja adalah sekelompok umat di sekeliling Kristus, dan dihimpun oleh Kristus, dan oleh para rasul yang menjadi wakil-Nya. 8 Gereja dibangun di atas dasar rasul-rasul dan para nabi, dan Yesus Kristus menjadi batu penjuru utama. Gereja berasal dari Allah, jelas ditunjukkan oleh beberapa istilah dalam Alkitab seperti: bait Allah, rumah tangga Allah, bangunan Allah, kawanan domba Allah, umat Allah, mempelai Kristus, jemaat Kristus, tubuh Kristus, umat kepunyaan Allah, manusia baru, jemaat orang-orang kudus, imamat yang rajani dan jemaat anak-anak sulung. Tidak ada cara alamiah yang dapat menjelaskan kehadiran gereja di dunia ini. Dari perspektif teologi. Peters menyimpulkan bahwa gereja lahir pada hari Pentakosta. Dalam perkembangannya, penggunaan istilah gereja dipakai dalam lingkup yang lebih luas. Gedung gereja-gereja lokal didirikan dimana-mana dan itupun disebut ekklesia . , sebab mereka memanifestasikan tubuh Kristus yang universal. Di banyak tempat, rumah-rumah pribadi orang Kristen sering dipakai untuk tempat berkumpulnya umat Kristen beribadah, itupun dapat disebut gereja. Sampai saat inipun, adalah normal beberapa gereja lokal berkumpul membentuk suatu organisasi, itu biasa disebut denominasi gereja. Lalu arti universal gereja yang menunjuk pada keseluruhan tubuh Kristus di dunia, yaitu kesatuan dari orang-orang yang beribadah kepada Kristus dan terkumpul di bawah pimpinan pejabat-pejabat yang dipilih. Gereja yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini adalah gereja dalam pengertian organisasi atau denominasi Gereja Pentakosta Indonesia (GPI). Istilah yang digunakan sebagai variabel terikat (Y) dalam riset ini adalah pertumbuhan jemaat. Selain istilah tersebut, kadang digunakan istilah pertumbuhan atau pelipatgandaan jemaat, misalnya George Patterson dan Richard Scoggins melalui buku Pedoman Pelipatgandaan Jemaat dengan judul asli Church Multiplication Guide, lebih menyukai istilah pelipatgandaan Patterson dan Scoggins adalah praktisi lapangan yang berpengalaman dalam gerakan-gerakan kelompok sel dan pelipatgandaan gereja. Bagi banyak orang, pertumbuhan jemaat sinonim dengan pertambahan secara numerik . eningkatan jumla. dan ekspansi geografis. 11 Hal ini memang dapat dijelaskan lewat kitab Kisah Para Rasul, misalnya disebutkan bahwa orang percaya berjumlah 120 orang (Kis. , kemudian bertambah lagi 3. 000 orang (Kis. , dan menjadi 5. orang laki-laki (Kis. , dan terus dilipatgandakan baik laki-laki maupun perempuan (Kis. Seiring dengan peningkatan jumlah, gereja menguatkan momentum dari gerakangerakan besar, dan benar-benar membawa umat ke dalam hidup yang benar dalam Kristus, inilah pertumbuhan secara kualitatif. Gereja bertanggung jawab menggerakkan orang banyak bagi Kerajaan Allah melalui cara-cara yang bisa menciptakan gereja yang besar dan sehat. Baik penginjilan, berdirinya gereja dan pertumbuhan gereja harus berorientasi pada Alkitab. Karena gereja adalah jemaat Allah, maka pertumbuhan gereja baik kualitatif maupun kuantitatif adalah karya Allah. Maka pertumbuhan gereja yang dimaksud peneliti Louis Berkhof. Teologi Sistematika 5: Doktrin Gereja (Surabaya: Momentum, 2. , 5. Yohannes Blaw. The Missionary Nature of the Church (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 79. George W Peters. Teologi Pertumbuhan Gereja (Malang: Gandum Mas, 2. , 62. George Patterson dan Richard Scoggins. Pedoman Pelipatgandaan Jemaat (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2. ,19. Peters, op. , 26. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 106 dalam riset ini adalah pertumbuhan Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) seJabodetabek baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pertumbuhan gereja adalah kehendak Allah. Maka para pemimpin gereja seharusnya tidak takut menyusun program pertumbuhan jemaat. George W. Peters dalam bukunya Teologi Pertumbuhan Gereja menyebutkan ada tiga prinsip pertumbuhan gereja, yaitu: pertumbuhan gereja dan alat Allah yang terutama. pertumbuhan gereja dan berita dari Allah. pertumbuhan gereja dan hamba Allah. 12 Ketiga prinsip itu yang digunakan peneliti sebagai dasar teori dalam penelitian ini. Firman Allah sebagaimana tertulis dalam Alkitab adalah kenyataan obyektif, yang tidak mungkin keliru. Firman Allah itu bersifat mutlak, final, memiliki otoritas, dan tidak mungkin keliru. Setiap pemimpin jemaat harus menyadari bahwa bukan berarti setelah gereja berdiri, jemaat terkumpul, beberapa orang menjadi Kristen lantas tugas selesai. Para pemimpin rohani bertugas untuk membangun kerajaan Allah di bumi, membawa jiwa terus untuk dimuridkan, yang dengan kata lain mengusahakan pertumbuhan jemaat. 13 Banyak metode pertumbuhan jemaat yang telah diperkenalkan beberapa ahli dan hal itu seharusnya diperkenalkan kepada pihak pengelola gereja, itu adalah salah satu unsur yang menyehatkan gereja. Akan tetapi harus selalu diingat, janganlah membicarakan tentang pertumbuhan jemaat tanpa membicarakan firman Allah sebagai berita dari Allah. Secara etimologis Aupemimpin dan kepemimpinanAy berasal dari kata Aupimpin,Ay dalam bahasa Inggris to lead dan dengan konjugasi berubah menjadi AupemimpinAy atau leader dan AukepemimpinanAy atau leadership. Kepemimpinan menurut Agus Lay merupakan keseluruhan tindakan, sikap dan tingkah laku seseorang . dalam mempengaruhi, menggerakkan dan mengarahkan orang-orang lain untuk melaksanakan seperangkat kegiatan secara efektif, demi mencapai tujuan yang ditetapkan. 14 Yakob Tomatala menulis bahwa kepemimpinan adalah suatu seni yang usianya setua umur manusia di bumi. 15 Dalam bukunya yang lain. Tomatala mengatakan bahwa kepemimpinan adalah gejala universal yang dapat ditemukan di segala tempat, dan semua waktu, dalam semua bentuk masyarakat dan kebudayaan. Dalam kaitan ini, pemimpin memiliki tempat yang utama dalam kepemimpinan, dengan tugas dan peran yang menentukan keberhasilan atau kegagalan organisasi yang dipimpinnya. Sementara itu Riberu menyebut bahwa kepemimpinan atau leading merupakan proses yang meliputi pemberian motivasi, pengaturan orang, pemilihan saluran komunikasi, dan penyelesaian konflik. 17 Charles Swindol mengatakan kepemimpinan adalah pengaruh. 18 Keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi tidak terlepas dari kemampuan seorang pemimpin. Pemimpin memegang peranan besar dalam mencapai tujuan organisasi. Gereja Perjanjian Baru mengenal pemimpin dengan jabatan-jabatan gerejawi sebagai berikut: Rasul. Penatua . Diaken. Nabi. Guru. Guru Injil. Kepemimpinan yang dimaksudkan peneliti di sini adalah kepemimpinan alkitabiah dalam rangka menjalankan tugas penggembalaan yang dituangkan Rasul Paulus dalam suratnya yaitu 1 Timotius 3. Isinya memang tentang Rasul Paulus mengajar Timotius bagaimana menjalankan kepemimpinan dalam pelayanan penggembalaan. Surat ini diterima masih relevan untuk pelayanan penggembalaan hingga masa kini. Dalam riset ini, peneliti mengangkat variabel kepemimpinan dalam konteks pimpinan sidang di gereja lokal wilayah jabodetabek. Adapun dasar teori kepemimpinan dirangkumkan peneliti dari teologi surat 1 Timotius 3. Ibid. , 112. James Chang-Huaha. Seri Buku Pembinaan: Strategi Penanaman Gereja (Singapore: SIM EAST ASIA, 2. , 231-233. Agus Lay. Manajemen Explo Ao85 (Jakarta: LPMI, 1. , 3. Yakob Tomatala. Kepemimpinan yang Dinamis (Jakarta: YT Leadership Foundation, 1. , 1. Yakob Tomatala. AuPemimpin Human Capital 4. 0 dan Kepemimpinan Global di Era MilenialAy Jurnal Christian Humaniora 4, 1 . :18. Riberu. Dasar-Dasar Kepemimpinan (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1. , 50. Charles Swindol. Tumbuh Semakin Kuat Dalam Musim Kehidupan (Jakarta: Profesional Books, 1. , 563. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 107 Penulis surat 1 Timotius adalah Paulus sendiri, dengan tema doktrin yang benar dan kesalehan. Tanggal penulisan diperkirakan sekitar tahun 65 M. Beberapa pengkritik modern telah mempersoalkan kepenulisan Paulus atas surat ini, namun gereja mula-mula dengan tegas menempatkannya sebagai surat-surat Paulus yang asli. 19 Walaupun ada perbedaan gaya penulisan dan kosakata dalam surat-surat penggembalaan dibanding dengan surat kiriman lain dari Paulus, usia lanjut dan perhatian pribadi Paulus terhadap pelayanan Timotius dan Titus dapat menerangkan perbedaan ini dengan cukup Surat ini memberikan kesan bahwa Rasul Paulus sedang menyiapkan Timotius untuk mengambil alih tugas dari padanya sebagai generasi penerus tradisi dan kekayaan 20 Pengutusan Timotius untuk menjaga iman jemaat di Efesus merupakan usaha agar para pengajar lain berhenti menyebarkan ajaran-ajaran yang sesat. 21 Dari Makedonia. Paulus menulis surat yang pertama kepada Timotius, dan beberapa waktu kemudian dia menulis kepada Titus. Setelah itu. Paulus kembali ditawan di Roma, ketika dia menulis surat yang kedua kepada Timotius, tidak lama sebelum dia mati syahid pada tahun 67/68 M (II Tim. 4:6-. Paulus mempunyai tiga maksud ketika menulis surat ini: . menasihati Timotius sendiri mengenai kehidupan pribadi dan pelayanannya. mendorong Timotius untuk mempertahankan kemurnian Injil dan standarnya yang kudus dari pencemaran oleh guru dan . memberikan pengarahan kepada Timotius mengenai berbagai urusan dan persoalan gereja di Efesus. Salah satu hal utama yang disampaikan Paulus kepada pembantu mudanya ialah supaya Timotius tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang sejati dan membuktikan kesalahan ajaran palsu yang melemahkan kuasa Injil yang menyelamatkan . Tim. 1:3-7. 4:1-8. 6:3-5, 20-. 22 Paulus juga menginstruksikan Timotius mengenai syarat-syarat kerohanian dan sifat bagi para pemimpin gereja dan memberikan gambaran tersusun dari macam orang yang diizinkan menjadi pemimpin rohani gereja. Dalam surat 1 Timotius 3. Paulus selalu menasihati Timotius untuk meningkatkan kualitas jemaat melalui ajaran-ajaran yang sehat, dan memperingatkan jemaat bahayabahaya atau ancaman-ancaman terhadap pertumbuhan kerohanian mereka. Senduk mengatakan dalam surat-surat pastoral. Tuhan mengajar kepada setiap gembala sidang beberapa pokok penting di antaranya memelihara pengajaran yang sehat, memelihara kehidupan doa, memelihara kehidupan yang baik, menjalankan kewajiban sebaik-baiknya, setia dalam pelayanan, harus teratur dalam pelayanan, menyatakan kasih yang berkelimpahan kepada sesama. 23 Kepemimpinan dalam surat 1 Timotius 3 dapat diringkaskan menjadi sepuluh topik, yakni: mengajarkan firman Tuhan, memimpin dengan teladan, memberi nasihat, mengajar, mengangkat para pelayan, menghayati iman, menghadapi pengajar sesat, memberitakan Injil, menjadi Kristen, menjadi warga negara yang baik. Seperti Paulus menasehatkan Timotius untuk mengajarkan ajaran-ajaran yang sehat . bukan mengajarkan ajaran lain atau dongeng-dongeng, melawan guru-guru palsu dan pengajar sesat, memahami Perjanjian Lama dengan benar, memahami hukum Taurat dengan benar, mengajarkan Yesus adalah Tuhan. Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, mengajar dengan tidak berdusta . Tim. 2:6-. , mewaspadai ajaran sesat . Tim. , mewaspadai sinkretisme, mewaspadai berbagai larangan dan pantangan yang muncul dari salah tafsir tentang Injil . Tim. Maka pengajar harus terdidik dengan benar . Tim. dalam konteks kekinian mereka seharusnya belajar ilmu teologi, mereka harus kuat dalam pokok-pokok iman maupun dalam mengikuti ajaran sehat dari pemimpin. Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Yogyakarta: Kanisius, 2. Budiman. Surat 1 & 2 Timotius dan Titus: Surat-Surat Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet- 14, 2. , 1. Bergant dan Karris, op. , 388. Donald C. Stamps. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 2. , 2018. Senduk. Pedoman Pelayanan Pendeta 1 (Jakarta: Yayasan Bethel, 2. , 117. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 108 Mereka yang sombong . erlagak tah. , mencari-cari soal dan bersilat kata . Tim. 1:4-. tidak layak menjadi pengajar. Paulus memerintahkan kepada Timotius. AuUsahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran ituAy . Tim. Seorang pekerja akan merasa malu jika pekerjaannya ditemukan tidak memenuhi kompetensi atau bermutu rendah. Paulus memberitahu Timotius bahwa cara agar ia bisa berdiri tanpa malu dan berkenan di hadapan Allah adalah dengan berterus terang . engan bena. menyampaikan firman Maka dari ayat di atas paling tidak telah disebutkan dua tugas pendeta, yakni: memberitakan firman Allah dan menafsirkannya dengan akurat. Syarat untuk menjadi pelayan Tuhan adalah mereka harus setia . Tim. 1:12-17. Tit. 1:5-. , yang dapat dipercaya, penuh iman, penuh kasih. Karena jabatan pelayanan adalah sesuatu yang berharga, para pelayan Tuhan itu dihormati oleh jemaat. Maka para pelayan Tuhan pun harus memenuhi syarat yang sepadan dengan kehormatan yang diterimanya . Tim. 3:2-. Tugas para pelayan Tuhan adalah mengurus jemaat Allah . Tim. , para pelayan Tuhan itu adalah tiang penopang dan dasar kebenaran di dunia . Tim. Mereka harus bijaksana, setia pada keluarga, cakap mengajar, suka menolong, cakap membangun komunikasi, ramah, bukan pemarah, pendamai, tidak tamak, disegani keluarga dan lingkungannya . ama bai. dan terhormat. Maka penting sekali mereka diuji lebih dahulu, janganlah kiranya yang baru bertobat. Maka perlu berhati-hati dalam merekrut hamba Tuhan . Tim. 5:24-. , mereka haruslah yang cakap mengajar orang lain . Tim. dan dilantik dengan penumpangan tangan hamba Tuhan . Tim. Penetapan pemimpin rohani adalah oleh Allah . Tim. 1:1-2, 12. 3:1-7, 8-. Pernyataan Paulus dalam pasal 1:1. Aumenurut perintah AllahAy menunjukkan bahwa Paulus tidak mengangkat dirinya sendiri sebagai rasul, melainkan diangkat oleh Allah (Kis. Hal itu juga yang ditekankan dalam pengangkatan para pelayan gerejawi, bahwasanya penumpangan tangan para rasul atas mereka adalah seturut dengan kehendak Allah. Sebagaimana Timotius mendapat tugas dari Paulus untuk menasehatkan orang-orang tertentu, maka dia pun perlu mengangkat para pelayan untuk tugas-tugas tertentu. Salah satu fakta yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya menurut iman Kristen yaitu tergenapinya janji keselamatan bagi orang-orang yang mau percaya dan beriman sepenuhnya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Firman Tuhan sendiri dengan jelas dan berulang kali mengatakan tentang adanya keselamatan bagi yang mau percaya kepada Yesus. Di dalam Roma 5:1-2 dan 10:9 dengan jelas Paulus mengatakan bahwa janji keselamatan itu tergenapi oleh karena iman kepada Yesus Kristus. Stamps memaparkan bahwa. AuIman kepada Yesus Kristus adalah satu-satunya syarat yang diminta Allah untuk keselamatan. Ay25 Dengan kata lain, hanya dengan iman sajalah manusia dapat dibenarkan di hadapan Allah. Brill mengatakan. AuIman kepada Yesus Kristus berarti bersandar kepada Dia, dan mendapat sokongan daripada-Nya. Ay26 Mendapat sokongan artinya Ia sendiri yang akan melakukan segala hal di dalam kehidupan orang yang bersandar kepada-Nya. Iman yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu pengharapan dan kepercayaan kepada Yesus dengan sungguh-sungguh bahwa hanya Dialah yang sanggup menebus dosa-dosa manusia melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Setiap orang yang percaya akan hal ini, secara tidak langsung ia pasti juga akan berusaha untuk berbalik dari kehidupan lamanya dan mengikuti jalan kebenaran yang sejati, yang sudah Yesus ajarkan (Yoh. Berawal dari iman inilah janji Allah itu akan tergenapi di dalam kehidupan manusia. Manusia diselamatkan dan dosa-dosanya diampuni oleh sebab iman kepada Yesus (Ef. Dalam menghadapi pengajar sesat, seorang Kristen harus menghindari perdebatan yang tak tentu . Tim. harus menjaga kemurnian Injil, tidak boleh bersilat lidah. Budiman, op. , 2. Stamps, op. , 1848. Wesley Brill. Dasar yang Teguh (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2. , 215. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 109 tetapi harus berterus terang dalam kebenaran, menghindari soal-soal yang dicari-cari, menghindari pertengkaran . Tim. , sabar dan lemah lembut menghadapi lawan . Tim. 2:25-. , berdoa buat mereka agar menyadari dosanya, sambil menyadari kondisi manusia pada zaman akhir . Tim. 3:1-. yang lebih menuruti hawa nafsu daripada Tuhan. Firman Tuhan berkata, dalam waktu dekat kebobrokan mereka akan ketahuan . Tim. Injil adalah kabar baik mengenai karya keselamatan Kristus, keilahian Yesus, kemuliaan Kristus. Maka seorang Kristen yang memiliki iman sejati harus memberitakan Injil dengan berani, jangan takut, jangan malu, jangan mau direndahkan sekalipun masih Memberitakan Injil harus dengan sikap hidup yang menjadi teladan: dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Injil adalah berita tentang kehidupan kekal yang dijanjikan Allah bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tugas penggembalaan itu ialah menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situsinya sendiri. Faber mengatakan: AuPenggembalaan itu ialah tiap-tiap pekerjaan, yang di dalamnya si pelayan sadar akan akibat yang ditimbulkan oleh percakapannya atau khotbahnya, atas kepribadian orang yang pada saat itu dihubunginya. Ay Dalam hal ini Faber pertama-tama tidak menekankan apa yang diucapkan oleh pelayan itu . endeta, penatua, ), tetapi bagaimana perkataannya itu mempengaruhi kepribadian, yaitu pikiran, perasaan, dan pengakuan mereka. 27 Tugas pelayan pengembalaan yang terpenting adalah membimbing jemaat ke arah pertobatan, sehingga menjadi semakin serupa seperti Kristus. Adalah percuma memberitakan firman, menafsir teks Alkitab dengan akurat tetapi tidak sampai membawa umat ke arah pertobatan yang sungguh-sungguh. Sekadar membicarakan teks asli hanya sebagai show off. Pelayanan pastoral yang sebenarnya adalah harus sampai pada tahap membimbing jemaat ke arah pertobatan. Selanjutnya. Martin Bucer melihat bahwa tugas-tugas penggembalaan adalah: Pertama, membawa orang-orang yang terasing kepada Kristus. Kedua, mengembalikan mereka yang telah tersesat. Ketiga, memperoleh perbaikan kehidupan bagi mereka yang jatuh ke dalam dosa. Keempat, menguatkan orang Kristen yang lemah dan pander. Kelima, memelihara orang Kristen yang sehat dan kuat dan mendorong mereka untuk maju ke arah kebaikan. 28 Dari hal di atas dapat dilihat bahwa tugas dari pada penggembalaan itu adalah menguatkan dalam arti menopang, mendukung klien yang sedang mengalami pergumulan hidup agar klien dapat menjalani kembali kehidupannya secara normal. Maria Dandung. Andiny dan Sulistyowati pada tahun 2022 dalam penelitian di GKB El-Shaddai Palangka Raya menemukan bahwa, kepemimpinan gembala berdampak pada pertumbuhan dari segi kualitas . dan kuantitas . Peneliti dapat menyusun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu apakah terdapat kontribusi kepemimpinan pimpinan sidang terhadap pertumbuhan Gereja Pentakosta Indonesia Se-JABODETABEK tahun 2022? Penelitian ini dikerjakan untuk mengetahui terdapat tidaknya kontribusi kepemimpinan pimpinan sidang terhadap pertumbuhan Gereja Pentakosta Indonesia Se-JABODETABEK tahun 2022. Di tahun yang sama Darren Kristandi menemukan bahwa kualitas pemimpin Kristen dapat diketahui dari apakah pemimpin sudah dijadikan panutan oleh mereka yang dipimpin karena mutu/kualitas, potensi, loyalitas dan kejujurannya teruji dan terbukti. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) se-Jabodetabek. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Menurut Sugiyono, penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan filsafat Bons-Strom. Apakah Penggembalaan Itu? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 1. Bucer. Martini Bucer Opera Omnia Series I. Deutsche Schriften, vol. 7, 67. Maria Dandung. Andiny dan Sulistiyowati. AuGaya Kepempimpinan Gembala dalam Meningkatkan Pertumbuhan Gereja di GKB El-Shaddai Palangka RayaAy Danum Pambelum 2, no. :220. Darren Kristandi. AuKeberhasilan Seorang Pemimpin Gereja Sebagai Seorang Panutan dan Dampaknya dalam Pertumbuhan GerejaAy Sola Gratia 2, no. :171. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 110 positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. 31 Metode kuantitatif adalah strategi penelitian dengan menekankan pada usaha memanfaatkan dan mengumpulkan informasi mengenai suatu fenomena secara statistik. 32 Metode kuantitatif merupakan metode yang digunakan untuk memperoleh data tertulis dalam bentuk angkaangka. Teknik pengambilan sampel pada umumnya random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis bersifat statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang ditetapkan. Jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian survey korelasi sebab-akibat. Penelitian survey merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan informasi guna penyusunan daftar pertanyaan yang diajukan pada responden. Penggalian data dapat melalui kuisioner, dibuat sejumlah pertanyaan atau pernyataan untuk diisi/ditanggapi oleh 33 Disebut korelasi sebab-akibat karena penelitian ini mencoba menemukan pengaruh dari variabel tertentu terhadap variabel lain. 34 Sifat penelitian ini adalah klausal. Menurut Sugiyono, penelitian kuantitatif dalam melihat hubungan variabel terdapat obyek yang teliti lebih bersifat sebab dan akibat . sehingga dalam penelitiannya ada variabel indenpenden dan dependen. 35 Dalam penelitian ini ada variabel independen yaitu kepemimpinan (X) dan ada variabel dependen yaitu pertumbuhan gereja (Y). Populasi merujuk pada sekumpulan orang atau obyek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Dengan kata lain, populasi adalah semua individu yang hendak digeneralisasikan. Populasi dalam penelitian ini adalah para pimpinan sidang . ejabat gerejawi seperti Pendeta. Guru Injil. Sintua. Evangeli. maupun para pelayan gereja . emimpin pujian, singer, pemusik, guru sekolah mingg. di Sinode Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) tahun Saat ini pelayan gereja yang tersebar di seluruh GPI se-Jabodetabek berjumlah 450 Sampel merupakan bagian dan jumlah cuplikan yang dapat diambil dari suatu populasi dan diteliti secara rinci, atau dapat dikatakan bahwa sampel adalah sebuah miniatur dari populasi. Nawawi menjelaskan pengertian sampel sebagian dari populasi yang mewakili seluruh populasi. 37 Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi 38 Dalam menentukan ukuran sampel yang mengisi instrumen angket final, peneliti menggunakan teori yang dikembangkan Arikunto, yaitu sampel diambil 10-30% dari populasi tergantung kemampuan peneliti dari segi waktu, tenaga dan dana. juga sempit luasnya wilayah pengamatan. 39 Maka sampel ditentukan sejumlah 30% dari 450 yaitu sejumlah 135 orang hamba Tuhan se-Jabodetabek. Dalam bagian ini akan dijelaskan definisi operasional dan pengukuran dari masingmasing variabel yang ada dalam penelitian ini, baik variabel independen, yaitu kepemimpinan (X) dan variabel dependen yaitu pertumbuhan gereja (Y) dalam tabel Tabel 1. Variabel Kepemimpinan (X) Indikator Mengajarkan firman Tuhan Memimpin dengan teladan No. Skala Ukur Likert Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: ALFABETA, 2. , 13. Aslam Sumhudi. Komposisi Desain Riset (Solo: Ramadhani, 1. , 40. Sugiyono, op. , 8. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian (Solo: Rineka Cipta, 2. , 32. Sugiyono, op. , 18. Sutrisno Hadi. Statistik jilid 2 (Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada, 1. , 220. Hadari Nawawi. Metode Penelitian Bidang Studi Sosial (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1. , 144. Sugiyono. Statistika untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2. , 118. Arikunto, op. , 112. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 111 Memberi nasihat Mengangkat para pelayan Menghadapi pengajar sesat Tabel 2. Variabel Pertumbuhan Gereja (Y) Indikator Skala Ukur Ibadah Pelayanan persekutuan Pendalaman Alkitab Pertobatan jiwa-jiwa Pelipatgandaan jemaat Likert Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui angket atau Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan dan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. 40 Kuesioner yang akan dibagi berisi daftar pernyataan yang jawabannya dinyatakan dengan menggunakan Likert Scale dengan skala 1 sampai 5. Karena instrumen adalah alat untuk mendapatkan data, maka diperlukan syaratsyarat tertentu agar data yang diperoleh dari pengukuran tersebut sahih . dan terandalkan . 41 Instrumen penelitian yang digunakan peneliti adalah instrumen angket, yakni daftar pertanyaan yang disusun sedemikian rupa oleh peneliti untuk dijawab oleh responden. Sugiyono mengatakan bahwa instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data . itu valid. 42 Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang dipakai adalah angket atau questioner. Angket atau questioner berbentuk sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. 43 Pada dasarnya jawaban ini bukan untuk menentukan benar atau salah. Secara teknis pengujian validitas dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi Sugiyono mengatakan bahwa dalam kisi-kisi terdapat variabel yang diteliti, indikator sebagai tolok ukur dan nomor butir . pertanyaan atau pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator. 44 Kisi-kisi membantu pengujian validitas menjadi lebih mudah dan sistematis. Berikut tabel kisi-kisi pernyataan dalam angket. Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Uji Coba Variabel Indikator Pertumbuh an gereja Ibadah Pelayanan persekutuan Pendalaman Alkitab Pertobatan jiwa-jiwa Pelipatgandaan jemaat Nomor Kisi-kisi Ibid. , 199. Sasmoko. Metode Penelitian Pengukuran dan Analisa Data (Tangerang: HITS, 2. , 74. Sugiyono, op. , 348. Arikunto, op. , 129. Sugiyono, op. , 353. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 112 Kepemimp Mengajarkan firman Tuhan Memimpin dengan teladan Memberi nasihat Mengangkat para pelayan Menghadapi pengajar sesat Dalam penelitian kuantitatif, uji validitas dilakukan untuk melihat sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur . dalam melakukan fungsi ukurnya. Maka peneliti akan mengadakan uji coba instrumen untuk melihat ketepatan instrumen. Uji validitas untuk tiap variabel dilakukan dengan metode korelasi Pearson, yang penghitungannya menggunakan alat bantu Statistical Product Service Solution (SPSS). Dari sana diperoleh rhitung untuk dibandingkan dengan rkriteria yang nilainya diperoleh dari AuSemakin besar nilai rhitung terhadap rkriteria, semakin tinggi pula ketepatan ramalan tes tersebut. Ay46 Uji validitas instrumen dilakukan kepada empat puluh orang . = . responden dengan butir instrumen sebanyak 30 butir . ariabel pertumbuhan jemaat 15 butir. kepemimpinan 15 buti. Berdasarkan tabel nilai-nilai r-Product Momen pada taraf signifikansi 5%, dengan n = 40, ditetapkan rkriteria sebesar 0. Jika r hitung > r kriteria, maka soal valid. Jika r hitung < r kriteria, maka soal tidak valid. Setelah dilakukan uji validitas untuk instrumen variabel pertumbuhan jemaat (Y) dan kepemimpinan (X), diperoleh seluruh butir instrumen valid, sehingga semua butir mewakili seluruh indikator yang ada. Adapun koefisien reliabilitas instrumen setiap variabel akan dianalisa dengan menggunakan koefisien Alpha Cronbrach: . reliabilitas kurang dari 0. 6 adalah buruk. reliabilitas antara 0. 6 Ae 0. 8 adalah dapat diterima. reliabilitas lebih dari 0. 8 adalah 47 Koefisien reliabilitas instrumen setiap variabel dengan jumlah butir yang valid sejumlah sekian butir maka diperoleh indeks reliabilitas sebesar seperti pada tabel SPSS yang digunakan. Jika nilai Cronbach's Alpha lebih dari 0. 6 maka dapat dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian dari setiap variabel terbukti reliable. Tabel output SPSS memberikan gambaran tentang nilai statistik untuk semua butir soal dalam angket. Diketahui bahwa nilai Cronbach's Alpha lebih dari 0. 6 sehingga dapat diterima. Dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian dari variabel Y dan X terbukti reliable. Maka dari hasil uji validitas dan reliabilitas dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian valid dan reliabel, sehingga layak untuk disebarkan untuk pengumpulan data HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah uji validitas dan uji reliabilitas atas instrumen variabel pertumbuhan gereja (Y) dan kepemimpinan (X) dikerjakan, maka diperoleh butir-butir yang sahih sebanyak 15 Y dan 15 X, sehingga total 30 butir untuk instrumen final. Angket yang berisi 30 butir pernyataan sahih didistribusikan kepada para responden dan telah kembali sebanyak 135 tanggapan, sesuai jumlah sampel 135 orang. Setelah jawaban angket dari responden Skor dari tiap jawaban dimasukkan ke dalam lembar kerja di aplikasi Statistical Product Service Solution (SPSS) versi 22. Output SPSS menunjukkan tanggapan tentang pertumbuhan gereja (Y) oleh 135 responden yang telah mengisi angket Tabel 4. Deskripsi Data Variabel Y Descriptive Statistics Deviation Saifuddin Azwar. Reliabilitas dan Validitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 5. Sasmoko, op. , 120. Dwi Prayitno. Paham Analisa Statistik Data dengan SPSS (Jakarta: Media Kom, 2. , 66. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 113 Pertum buhan Gereja Valid N . Tampilan tabel SPSS menunjukkan jumlah responden . sebanyak 135 orang. Dari 135 responden, skor pertumbuhan gereja paling rendah adalah 36 . , skor pertumbuhan gereja paling tinggi adalah 75 . selisih antara nilai tertinggi dengan yang terendah adalah 39 . Rata-rata nilai pertumbuhan gereja dari 135 responden adalah 66. dengan standar deviasi 7. 023, dan ragam statistik 49. Tabel output SPSS berikut menunjukkan tanggapan tentang kepemimpinan (X) oleh 135 responden yang telah mengisi angket penelitian. Tabel 5. Deskripsi Data Variabel X Descriptive Statistics Rinimu Kepe Vali . Deviation Tampilan tabel SPSS di atas menunjukkan jumlah responden . sebanyak 135 Dari 135 responden, skor kepemimpinan paling rendah adalah 33 . , skor kepemimpinan paling tinggi adalah 75 . selisih antara nilai tertinggi dengan yang terendah adalah 42 . Rata-rata nilai kepemimpinan dari 135 responden adalah 90 . dengan standar deviasi 6. 287, dan ragam statistik 39. Untuk melihat gambaran tanggapan responden atas keempat variabel penelitian, peneliti menganalisis hasil pengisian setiap angket dengan menghitung jumlah skor masing-masing item . Selanjutnya dilakukan tabulating yakni mentabulasi data jawaban yang telah diberikan ke dalam bentuk tabel, untuk memudahkan menganalisis hasil jawaban responden. Untuk mengetahui kriteria tanggapan responden diperoleh melalui:48 Skor tertinggi = Jumlah butir soal x Skor tertinggi tiap butir soal Skor terendah = Jumlah butir soal x Skor terendah tiap butir soal Selisih skor = skor tertinggi Ae skor terendah Kisaran nilai untuk setiap kriteria = selisih skor jumlah kriteria penilaian Berdasarkan lembar angket dengan 15 item soal, peneliti menggambarkan penilaian dengan kategori sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat kurang dengan ketentuan berikut: Skor tertinggi = 15 x 5 = 75 Skor terendah = 15 x 1 = 15 Selisih skor = 75 Ae 15 = 60 Kisaran nilai untuk setiap kriteria = 60 = 12 Sudjana. Metode Statistik (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , 27. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 114 Tabel 6. Kriteria Jawaban Responden Y Kelas Interval Kriteria 15 Ae 27 28 Ae 39 40 Ae 51 52 Ae 63 64 Ae 75 Sangat kurang Kurang Cukup Baik Sangat baik Tabel 7. Distribusi Frekuensi Variabel Pertumbuhan Gereja Kelas Krite Frekuensi Interval Abso 15 Ae 27 Sang at kurang 28 Ae 39 Kura 40 Ae 51 Cuku 52 Ae 63 Baik 64 Ae 75 Sang at baik JUMLAH Relat Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 107 orang responden . %) menilai pertumbuhan gereja sangat baik, 23 orang responden . %) menilai pertumbuhan gereja baik, 3 orang responden . 5%) menilai pertumbuhan gereja cukup, dan 2 orang responden . 5%) menilai pertumbuhan gereja kurang. Tabel 8. Distribusi Frekuensi Variabel Kepemimpinan Kelas Krite Frekuensi Interval Abso 15 Ae 27 Sang at kurang 28 Ae 39 Kura 40 Ae 51 Cuku 52 Ae 63 Baik 64 Ae 75 Sang at baik JUMLAH Relat Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa sebanyak 113 orang responden . menilai kepemimpinan pimpinan gereja sangat baik, 20 orang responden . 75%) menilai kepemimpinan pimpinan gereja baik, 1 orang responden . 75%) menilai kepemimpinan pimpinan gereja cukup, dan 1 orang responden . 75%) menilai kepemimpinan pimpinan gereja kurang. CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 115 Selanjutnya pengujian linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan linear atau tidak secara signifikan. Kaidah dalam mengambil keputusan adalah: Ha diterima jika nilai sig pada garis deviation from linierity Ou 0. maka ada hubungan yang linear antara variabel independen dengan variabel dependen. ditolak jika nilai sig pada garis deviation from linierity < 0. 05, maka tidak ada hubungan yang linear antara variabel independen dengan variabel dependen. Tabel 9. Uji Linearitas X ke Y ANOVA Table um of Square Pertumbu han Gereja * Kepemimpinan Groups (Co Square Lin Dev iation from Linearity Within Total F ig. Groups Dari tampilan output SPSS uji linearitas X ke Y, diketahui bahwa nilai Deviation from Linearity adalah Sig. Ha diterima karena nilai sig pada garis deviation from 161 > 0. 05, maka ada hubungan yang linear antara variabel kepemimpinan dengan variabel pertumbuhan gereja. Selanjutnya uji korelasi digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan variabel bebas dan variabel tidak bebas. Apabila variabel X naik, maka variabel Y juga naik, artinya sifat hubungannya positif. Apabila variabel X naik, maka variabel Y turun, artinya sifat hubungannya negatif. Jadi, kebalikannya atau memiliki arah yang berlawanan. Apabila kedua variabel tidak memiliki hubungan, maka nilainya akan menunjukkan angka 0 . Untuk menguji korelasi antar variabel, peneliti akan melihat dari nilai Apabila nilai signifikansi variabel < 0. 05 maka terdapat hubungan secara signifikan antara kedua variabel. Apabila > 0. 05 maka hubungan antara kedua variabel tidak signifikan. Tabel 10. Uji Korelasi Bivariate Correlations Kepe Pearson Correlation Sig. Pertumbuh an Gereja CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 116 Pearson Correlation Sig. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Pertu Gereja Dari tampilan output SPSS uji korelasi bivariate di atas, diketahui bahwa nilai signifikansi . -taile. antara variabel kepemimpinan (X) terhadap variabel pertumbuhan gereja (Y) sebesar 0. Karena nilai signifikansi 0. 000 < 0. 05 maka terdapat hubungan antara kedua variabel, yang signifikan. Berikutnya, pembuktian hipotesis dimaksudkan untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan dalam riset ini diterima atau ditolak. Dengan uji signifikansi ini dapat diketahui apakah variabel bebas/independen (X) berkontribusi secara signifikan terhadap variabel terikat/dependen (Y). Arti dari signifikan adalah bahwa kontribusi antar variabel berlaku bagi seluruh populasi. Hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu diduga terdapat kontribusi kepemimpinan pimpinan sidang terhadap pertumbuhan gereja. Dasar pengambilan keputusan dengan nilai signifikan adalah: jika nilai signifikansi . < 05, berarti ada kontribusi variabel X terhadap Y, yang artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Jika nilai signifikansi . > probabilitas 0. 05, berarti tidak ada kontribusi variabel X terhadap Y, yang artinya Ha ditolak dan Ho diterima. Tabel 11. Uji Hipotesis t Coefficientsa Model 1(Constan. Kepemimpina Kemampuan Berkomunikasi Pelayanan Konseling Unst ed Coefficie Coefficients nts Error Collinearity Statistics VIF Dependent Variable: Pertumbuhan Gereja Tabel di atas memberikan gambaran tentang ada tidaknya kontribusi variabel kepemimpinan terhadap variabel pertumbuhan gereja. Nilai signifikansi . untuk variabel kepemimpinan adalah 0. Karena nilai sig. 024 < probabilitas 0. 05, berarti ada kontribusi variabel X terhadap Y, yang artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Jadi ada CopyrightA2024. HAGGADAH (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. | 117 kontribusi signifikan kepemimpinan terhadap pertumbuhan gereja. Besarnya kontribusi kepemimpinan terhadap pertumbuhan gereja dijelaskan lewat tabel berikut: Tabel 12. Kontribusi X ke Y Measures of Association R Squared Pertumbuhan Gereja Kepemimpinan a Squared Tabel di atas memberikan informasi tentang kontribusi atau sumbangan kontribusi variabel kepemimpinan terhadap variabel pertumbuhan gereja, yakni nilai R squared Sebagai patokan untuk mengukur kuat lemahnya hubungan antar dua variabel, peneliti menggunakan patokan dari Arikunto. Interpretasinya sebagai berikut: antara 0. sampai dengan 1. 600 sampai dengan 0. sampai dengan 0. gak renda. 200 sampai dengan 0. 000 sampai dengan 0. angat rendah atau tak berkorelas. Karena nilai R squared 0. 476, berarti kontribusi variabel kepemimpinan terhadap variabel pertumbuhan gereja adalah Auagak rendahAy. Artinya 47. 6% variasi variabel terikat pertumbuhan gereja dapat dijelaskan oleh variabel bebas kepemimpinan, sisanya 52. dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Jadi hipotesis yang berbunyi Audiduga terdapat kontribusi kepemimpinan terhadap pertumbuhan gerejaAy terbukti benar. Besarnya kontribusi yang didapatkan adalah agak rendah. PENUTUP Setelah analisis data dikerjakan, peneliti menarik kesimpulan bahwa terdapat kontribusi kepemimpinan pimpinan sidang terhadap pertumbuhan gereja sebesar 47. Tingkat pertumbuhan gereja berdasarkan hasil penelitian adalah rata-rata sangat baik, hal ini patut diapresiasi. Namun tetap disarankan agar jemaat tidak berhenti bertumbuh kepada kedewasaan rohani dan jumlah sidang yang baru, tetap setia dalam gereja. Bagi para pimpinan sidang Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) se-Jabodetabek yang terlibat langsung dalam kepemimpinan, agar meningkatkan kecakapan dalam kepemimpinan. REFERENSI