Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Indonesian Journal of Health and Medical ISSN: 2774-5244 (Onlin. Journal Homepage: http://ijohm. org/index. php/ijohm PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PENCABUTAN GIGI DI POLI GIGI RSAU dr. EFRAM HARSANA LANUD ISWAHJUDI MAGETAN TAHUN 2022 Siska Amira Rahma1. A Kusuma Astuti N. P2. Siti Fitria Ulfah3 1,2,3 Jurusan Kesehatan Gigi. Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya e-mail co Author: *1siskaamira12@gmail. ABSTRAK Masalah dalam penelitian ini ialah tingginya persentase pencabutan gigi yang tidak sesuai indikasi di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan tahun 2021. Tujuan Penelitian: Diketahuinya pengetahuan pasien mengenai pencabutan gigi di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan. Metode penelitian: Jenis penelitian yang dipakai ialah penelitian deskriptif. Sasaran penelitian yaitu pasien dengan pencabutan gigi di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan mulai bulan Januari 2022 sampai dengan Maret 2022. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui pembagian lembar kuisioner. Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini ialah perhitungan rata-rata jawaban benar berdasarkan skoring setiap jawaban dari Jumlah jawaban benar yang diperoleh dihitung rata-ratanya . kemudian dipresentase dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian: Hasil yang diperoleh ialah pengetahuan pasien mengenai indikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang, pengetahuan pasien tentang kontraindikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang serta pengetahuan pasien tentang akibat pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pasien di poli gigi RSAU Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan tentang pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Kata Kunci : Pengetahuan. Pasien. Pencabutan Gigi PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia merupakan hal yang perlu mendapat perhatian serius, bahkan sampai saat ini karies masih menjadi masalah utama dalam rongga mulut anak. Hal ini memerlukan penanganan segera sebelum terlambat karena dapat mempengaruhi kondisi seseorang (Astuti dan Mokhtar. Menurut data riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia dalam kategori tinggi yaitu sebesar 57,6%. Sementara yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi hanya 10,2%. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevelensi masalah kesehatan gigi dan mulut di Jawa Timur Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 menunjukkan masalah kesehatan gigi dan mulut yaitu sebesar 54,22%, sementara yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi hanya 9,76% (Kemenkes, 2. Menurut Erwana . , fungsi gigi adalah pengunyahan, berbicara dan estetik. Pada awal sebelum terkena penyakit masyarakat mengabaikan kesehatan gigi dan Padahal apabila terjadi gangguan daerah yang rusak tersebut menjadi tidak dapat disembuhkan sehingga mengganggu penampilan dan kesehatan, dan pada akhirnya harus dilakukan tindakan pencabutan gigi. Persepsi yang buruk tentang pencabutan gigi dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang tujuan pencabutan gigi ,bahwa pencabutan gigi adalah tindakan yang aman dilakukan. Gigi yang rusak dan tidak dapat dipertahankan lagi harus dicabut untuk menghindari terjadinya fokal infeksi. Pencabutan gigi atau dalam istilah kedokteran gigi dikenal sebagai ekstraksi gigi merupakan tindakan yang paling sering dilakukan oleh dokter gigi di klinik. Pencabutan gigi adalah suatu tindakan yang mengeluarkan gigi dari soket tulang Tindakan pencabutan menjadi pilihan terakhir pada pasien dengan keadaan gigi yang sudah rusak dan tidak dapat dirawat lagi. Sebagian dari kalangan masyarakat ada yang sudah mengerti akan pentingnya mempertahankan gigi di dalam rongga mulut, namun ada juga yang masih belum mengerti dan cenderung untuk mencabut gigi yang sudah rusak daripada merawat gigi (Wiantari dkk. , 2. Berdasarkan laporan tahunan poli gigi RSAU Efram Harsana bulan Januari sampai Desember tahun 2020 didapatkan data diagnosa masalah kesehatan gigi paling banyak yaitu karies dan dilaporkan jumlah kasus tindakan pencabutan gigi tetap sebanyak 535 pasien. Sebanyak 238 pasien atau 44% yang melakukan pencabutan gigi sesuai indikasi pencabutan gigi sedangkan 297 pasien atau 56% melakukan pencabutan tidak sesuai indikasi. Dari data tersebut menujukkan kesenjangan dimana pasien yang melakukan pencabutan tidak sesuai indikasi lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang melakukan pencabutan gigi sesuai indikasi. Hal ini tidak sesuai dimana seharusnya gigi yang dilakukan pencabutan tidak sesuai indikasi sejumlah 0% yang berarti pencabutan diharuskan pada gigi yang diindikasikan untuk dilakukan tindakan tersebut atau pencabutan gigi tidak seharusnya dilakukan pada gigi yang tidak sesuai indikasi . METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Sasaran penelitian adalah pasien dengan pencabutan gigi di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan mulai bulan Januari 2022 sampai dengan Maret 2022. Prosedur pengumpulan data dengan membagikan lembar kuisioner. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menghitung rata-rata jawaban benar berdasarkan skoring setiap jawaban dari responden. Jumlah jawaban benar yang diperoleh dihitung rata-ratanya . kemudian dipresentase dan disajikan dalam bentuk tabel. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengetahuan pasien tentang pencabutan gigi di RSAU dr Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022, dengan responden mulai bulan Januari 2022 sampai dengan Maret 2022 didapatkan hasil dan distribusi dalam bentuk tabel yang dibagi menjadi 4 tabel. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pasien Tentang Indikasi encabutan Gigi di Poli Gigi RSAU dr Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022 Pernyataan Benar Oc (%) Salah Oc (%) Tindakan yang dilakukan saat gigi bagian belakang posisi tumbuhnya miring serta sakit saat mengunyah dan menggigit Keadaan gigi yang perlu dilakukan pencabutan Perawatan bila gigi berlubang besar dan Perawatan saat gigi patah dan tersisa akar gigi saja Alasan gigi perlu dilakukan pencabutan Tindakan apabila terdapat celah antar gigi, gusi bengkak dan gigi goyang Jumlah Rata-rata Kategori Pengetahuan 76%-100% 56%-75% O 56% kurang (Nursalam. Kurang Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa tingkat pengetahuan pasien tentang pengertian indikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang dengan ratarata persentase jawaban benar sebesar 55%. Terutama pengetahuan keadaan gigi yang perlu dilakukan pencabutan gigi memiliki presentase jawaban benar paling rendah yaitu 43,1% sedangkan jawaban benar yang paling tinggi pada pernyataan perawatan saat gigi patah dan tersisa akar gigi saja yaitu sebesar 72,5%. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pasien Tentang Kontraindikasi Pencabutan Gigi di Poli Gigi RSAU dr Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022 Benar Pernyataan Salah Oc (%) (%) Keadaan gigi yang tidak bisa dilakukan pencabutan gigi Tindakan yang dilakukan saat gigi lubang terasa linu apabila makan dan minum dingin Pencabutan gigi tidak boleh bagi penderita diabetes tidak terkontrol Tindakan yang dilakukan jika gigi baru berlubang Pencabutan gigi Tidak boleh bagi Penderita darah Pencabutan gigi tidak boleh pada wanita hamil Jumlah Rata-rata Kategori Pengetahua 76%-100% 56%-75% O 56% (Nursalam. Kurang Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa tingkat pengetahuan pasien tentang kontraindikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang dengan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 54,2%. Terutama pengetahuan tentang pencabutan gigi tidak boleh bagi penderita diabetes tidak terkontrol memiliki presentase jawaban benar paling rendah yaitu 41,2% sedangkan jawaban benar yang paling tinggi pada pernyataan tindakan yang dilakukan jika gigi baru berlubang yaitu sebesar 72,5%. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pasien Tentang Akibat Pencabutan Gigi di Poli Gigi RSAU dr Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022 Benar Pernyataan Oc (%) Salah Oc (%) Akibat setelah pencabutan gigi Akibat yang dirasakan apabila gigi depan dicabut Dampak yang dirasakan apabila gigi belakang dicabut Tindakan yang dilakukan apabila gigi terasa nyeri setelah Akibat pencabutan gigi rahang bawah terhadap gigi rahang atas . igi lawanny. Akibat yang terjadi pada gigi belakang bagian atas menggigit apabila gigi belakang bawah telah dicabut Akibat jika gigi sehat disebelah gigi yang sudah dicabut posisinya miring Tindakan apabila gigi ompong setelah Jumlah Rata-rata Kategori Pengetahuan 76%-100% 56%-75% O 56% kurang (Nursalam. Kurang Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa tingkat pengetahuan pasien tentang akibat pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang dengan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 54,9%. Terutama pengetahuan tentang akibat jika gigi sehat disebelah gigi yang sudah dicabut posisinya miring memiliki presentase jawaban benar paling rendah yaitu 15,7% sedangkan jawaban benar yang paling tinggi pada pernyataan akibat yang dirasakan apabila gigi depan dicabut yaitu sebesar 80,4%. Tabel 4. Rekapitulasi Frekuensi Pengetahuan Pasien Tentang Akibat Pencabutan Gigi di Poli Gigi RSAU dr Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022 No. Pengetahuan Pengetahuan tentang indikasi pencabutan gigi Pengetahuan tentang kontraindikasi pencabutan gigi Pengetahuan tentang akibat pencabutan gigi Rata-rata Jawaban Benar (%) Kategori 55,0% Kurang 54,2% Kurang 54,9% Kurang 54,7 % Kurang Berdasarkan tabel 4 dan data yang diperoleh dari pengumpulan lembar kuisioner reponden dapat diketahui bahwa pengetahuan reponden tentang pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang dengan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 54,7%. Pengetahuan Pasien Tentang Indikasi Pencabutan Gigi di Poli Gigi RSAU dr Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022 Berdasarkan hasil pengumpulan data diketahui bahwa pengetahuan pasien di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana tentang indikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Sebagian responden tidak mengetahui tentang kondisi yang menandakan perlu dilakukan tindakan pencabutan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi yang didapatkan tentang pencabutan gigi. Hal ini berdampak responden cenderung mengabaikan perawatan gigi berlubang yang tepat serta lebih memilih pencabutan gigi daripada melakukan penambalan. Menurut Budiman dan Riyanto . , pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi pula pengetahuan seseorang. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan penelitian Restudiva dkk. , yang menyatakan bahwa Individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi umumnya cenderung untuk lebih sadar akan Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 pelayanan kesehatan yang ada, sehingga lebih sering untuk mengakses informasi tentang perawatan gigi. Pengetahuan Pasien Tentang Kontraindikasi Pencabutan Gigi di Poli Gigi RSAU Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022 Berdasarkan hasil pengumpulan data diketahui bahwa pengetahuan pasien di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana tentang kontraindikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Sebagian responden tidak mengetahui kondisi yang menandakan seseorang tidak boleh dilakukan tindakan pencabutan. Hal tersebut disebabkan kurangnya wawasan responden serta kurangnya penyuluhan mengenai pencabutan gigi. Hal ini berdampak bahwa responden tidak memiliki pengetahuan yang luas sehingga masih belum mengetahui penyakit apa saja yang tidak boleh dilakukan pada saat pencabutan gigi serta tindakan apabila gigi berlubang terasa linu sehingga masih banyak anggapan bahwa gigi yang masih linu perlu dilakukan pencabutan untuk menghentikan rasa sakitnya. Menurut Notoatmodjo . , pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yakni tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku seseorang, sehingga apabila pengetahuan terhambat maka akan mengganggu proses terjadinya perilaku. Pengetahuan pasien tentang kontraindikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang, hal ini dikarenakan pengetahuan pasien hanya sampai pada tahap tahu saja, sehingga pasien belum memahami dan mengaplikasikan dalam bentuk perilaku yang benar. Semakin rendah pengetahuan seseorang tentang pencabutan gigi, maka akan semakin rendah pula tingkat kesadarannya untuk mempertahankan giginya. Hal ini sejalan dengan penelitian Siregar dkk. , menyatakan bahwa persepsi masyarakat bila seseorang sakit gigi lebih baik dicabut daripada ditambal, karena setelah ditambal pun masih bisa sakit lagi, faktanya pencabutan gigi adalah alternatif terakhir, bila perawatan lain sudah tidak mungkin dilakukan. Gigi sebisa mungkin dipertahankan dalam mulut, karena kehilangan satu gigi saja sudah dapat mengurangi efektivitas dalam pengunyahan. Hal lain yang menyebabkan seseorang lebih memilih tindakan pencabutan gigi yaitu karena beranggapan jika gigi yang ditambal akan kembali sakit lagi. Indonesian Journal Of Health and Medical Volume 2 No 4 Oktober 2022. E-ISSN: 2774-5244 Pengetahuan Pasien Tentang Akibat Pencabutan Gigi di Poli Gigi RSAU dr. Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan Tahun 2022 Berdasarkan hasil pengumpulan data diketahui bahwa pengetahuan pasien di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana tentang akibat pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Sebagian responden tidak mengetahui akibat yang dirasakan setelah dilakukan pencabutan gigi. Hal ini, disebabkan karena kurangnya penyuluhan kesehatan gigi khususnya pencabutan gigi sehingga reponden kurang mendapatkan informasi tentang akibat pencabutan gigi. Hal ini berdampak pada pengetahuan responden. Responden hanya sebatas mengetahui apabila gigi sudah rusak dan terasa sakit harus segera dicabut agar rasa sakitnya segera hilang, tanpa mengetahui akibat yang dirasakan baik dalam jangka pendek maupun jangka Akibat dari gigi dicabut adalah hilangnya gigi. Hal ini sejalan dengan penelitian Rizkillah dkk. yaitu akibat dari gigi dicabut yaitu kualitas hidup seseorang dapat terpengaruh akibat adanya gangguan pada kesehatan rongga mulut seseorang. Gigi sangat berperan dalam proses pencernaan manusia. Kehilangan gigi tentu akan sangat mempengaruhi seseorang baik dari segi fungsional, estetika, dan sosial. Keterbatasan fungsi akan menyebabkan penurunan secara fungsional dari rongga mulut seperti kesulitan berbicara, kesulitan mengunyah makanan, dan kesulitan dalam mengecap makanan dengan baik. Pengetahuan yang kurang bisa disebabkan karena kurangnya informasi tentang akibat jangka panjang pencabutan gigi. Hal ini bisa diperoleh dari pendidikan. Semakin tinggi pendidikan maka tingkat pengetahuannya akan semakin banyak, dengan demikian daya serap terhadap informasi juga akan semakin tinggi. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang pengetahuan pasien tentang pencabutan gigi di poli gigi RSAU dr. Efram Harsana Lanud Iswahjudi Magetan tahun 2022, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa pengetahuan pasien tentang indikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Pengetahuan pasien tentang kontraindikasi pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Pengetahuan pasien tentang akibat pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. Pengetahuan pasien tentang pencabutan gigi termasuk dalam kategori kurang. DAFTAR PUSTAKA