Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading Jannatul Virdausiyah*. Babul Bahrudin. Fatih Holis Ahnaf Universitas Islam Zainul Hasan Genggong. Probolinggo. Indonesia *Coresponding Author: virdausiyahjannatul@gmail. Dikirim: 25-05-2025. Direvisi: 12-06-2025. Diterima: 14-06-2025 Abstrak: Transformasi sistem pendidikan melalui Kurikulum Merdeka menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan zaman dan menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif serta berorientasi pada siswa. Namun, implementasi kurikulum ini tentunya tidak terlepas dari dinamika dan hambatan, terutama dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, serta persepsi siswa terhadap penerapan Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading. Pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini. Pemilihan subjek menggunakan teknik Purposive Sampling dan telah melibatkan 10 Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui proses observasi, wawancara, serta dokumentasi. Sedangkan analisis data ditempuh melalui empat tahap, yaitu pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau Kemudian, untuk menjamin validitas data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber dan teori, serta Member Checking. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa: . Implementasi Kurikulum Merdeka di SMPN 2 Gading telah memberikan ruang bagi guru untuk merancang strategi pembelajaran yang kreatif, . Mampu meningkatkan partisipasi serta kemandirian siswa dalam proses belajar. Meskipun masih ditemukan beberapa kendala baik dari segi siswa maupun guru, serta pendampingan dan evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan agar proses implementasi berjalan optimal, secara umum penerapan Kurikulum Merdeka telah memberikan dampak yang positif terhadap proses belajar-mengajar. Kata Kunci: Dinamika. Kurikulum Merdeka. Bahasa Indonesia Abstract: The transformation of the education system through an independent curriculum is a strategic step in responding to the challenges of the Times and creating more adaptive and student-oriented learning. However, the implementation of this curriculum is certainly inseparable from the dynamics and obstacles, especially in the context of Indonesian language learning. This study aims to analyze the dynamics of the implementation of The Independent curriculum in Indonesian language learning, as well as the perception of students towards the implementation of The Independent curriculum in the Indonesian language learning process in SMPN 2 Gading. Qualitative approach with descriptive type is used as a reference in this study. Selection of subjects using Purposive Sampling technique and has involved 10 informants. The technique of data collection is done through the process of observation, interviews, and documentation. While data analysis is taken through four stages, namely data collection, data condensation, data presentation, and conclusion or Then, to ensure the validity of the data, this study applies triangulation techniques and theory sources, as well as Member Checking. The findings of the study revealed that: . the implementation of The Independent curriculum in SMPN 2 Gading has provided space for teachers to design creative learning strategies, . able to increase student participation and independence in the learning process. Although there are still some obstacles in terms of both students and teachers, as well as ongoing assistance and evaluation @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. is still needed for the implementation process to run optimally, in general, the implementation of The Independent curriculum has had a positive impact on the teaching and learning process. Keywords: Dynamics. Independent Curriculum. Indonesian Language PENDAHULUAN Pendidikan memegang peranan krusial dalam mengembangkan mutu sumber daya manusia agar siap bersaing di tengah arus globalisasi. Melalui pendidikan, individu bukan hanya dibekali dengan pengetahuan akademik, akan tetapi juga dengan keterampilan, karakter, dan kompetensi hidup yang relevan dengan perkembangan zaman. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Djumaransjah yang menyebutkan bahwa pendidikan merupakan langkah yang dilakukan manusia agar seluruh potensi diri bisa berkembang sesuai norma dan nilai yang dianut masyarakat (Apriyanti & Hindun, 2. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus senantiasa menyesuaikan diri dengan dinamika sosial, budaya, dan teknologi agar mampu mencetak generasi yang lebih tangguh, kreatif, dan kompetitif. Sebab, pendidikan dan teknologi merupakan komponen yang saling terkait (Ahnaf & Setiadi, 2. Pendidikan di Indonesia pun terus mengalami dinamika atau perubahan sebagai bentuk repons terhadap tantangan zaman modern, terutama dalam menciptakan generasi yang berpikir kritis, kreatif, dan adaptif. Salah satu wujud transformasinya yakni melalui pengembangan kurikulum yang berfungsi sebagai acuan utama dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, kurikulum diartikan sebagai suatu susunan program dan pengaturan yang mencakup tujuan, isi materi, serta metode pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Damayanti et al. , 2. Perjalanan sejarah mencatat bahwa kurikulum di Indonesia kerap mengalami perubahan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh pergantian menteri, serta belum adanya standar mutu yang jelas (Tiara et al. , 2. Acuan dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa juga disebut dengan kurikulum. Kurikulum pada dasarnya memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan peserta didik (Sulangasih et al. , 2. Namun, implementasi kurikulum baru sering kali menjadi tantangan besar, mengingat kondisi sosial, ekonomi, dan geografis yang beragam di Indonesia. Oleh sebab itu, dibutuhkan usaha yang konsisten agar kurikulum dapat diadaptasi dengan baik di berbagai satuan pendidikan. Salah satunya yakni melalui kesiapan guru dalam memahami dan menjalankan kebijakan kurikulum. Pemerintah juga perlu memastikan tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang layak demi mendukung kelancaran proses pembelajaran. Sebab, keberhasilan implementasi kurikulum tidak dapat dicapai secara instan, melainkan membutuhkan proses yang konsisten dan Pada tanggal 11 Februari 2022, pendidikan Indonesia resmi melakukan pergantian kurikulum dari Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka. Perkembangan kurikulum dari waktu ke waktu ini mencerminkan dedikasi para pendidik dalam mengoptimalkan proses pembelajaran, dengan harapan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa (Susetya, 2. Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Mendikbud Riste. menyebutkan bahwa penerapan kurikulum 2013 pada tahun ajaran 2021 @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. dianggap terlalu kaku dan kurang fleksibel, karena guru tidak dapat memilih bagianbagian yang akan difokuskan terlebih dahulu (Melani & Gani, 2. Sebagai respon terhadap hal tersebut. Kurikulum Merdeka dirancang dengan fleksibel yang lebih tinggi bagi guru dan sekolah serta berpusat pada kebutuhan peserta didik (Mulyasa. Kurikulum ini mendorong siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya tanpa terlalu merasa tertekan oleh berbagai beban akademik yang beragam. Melalui konteks ini. Kurikulum Merdeka menjadi salah satu inovasi terbaru yang menawarkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek, pengembangan karakter melalui nilai-nilai profil pelajar pancasila, serta peningkatan kemampuan dasar seperti literasi dan numerasi. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran yang strategis. Menurut Kemendikbud, karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan dunia kerja, karena menitikberatkan pada aspek literasi, yaitu keterampilan berbahasa dan berpikir (Tiara et al. , 2. Kemampuan berbahasa Indonesia secara baik dan benar semakin penting mengingat fungsinya sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa resmi suatu negara (Susetya et al. , 2. Selain itu, pendekatan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Indonesia ini juga relevan dengan teori belajar konstruktivisme, yang menitikberatkan pada keterlibatan aktif peserta didik dalam membentuk pengetahuan berdasarkan pengalaman dan lingkungan sekitar. Namun demikian, penerapan pendekatan-pendekatan baru pada proses belajar dalam Kurikulum Merdeka, seperti pengajaran berbasis proyek dan integrasi nilai-nilai karakter, tampaknya menimbulkan tantangan tersendiri bagi sebagian guru dan siswa. Salah satu contoh nyata dari tantangan tersebut terjadi di SMPN 2 Gading. SMPN 2 Gading adalah salah satu institusi pendidikan jenjang menengah pertama berstatus sekolah Negeri yang terletak di Jl. Raya Kertosono. Kecamatan Gading. Kabupaten Probolinggo. Sekolah tersebut telah menerapkan Kurikulum Merdeka sejak pertama kali kebijakan ini diberlakukan yakni pada periode akademik 2022/2023. Namun, penerapannya masih terbatas pada kelas VII dan Vi karena adanya beberapa kendala. Berdasarkan hasil observasi, penerapan kurikulum ini direncanakan akan mencakup ke seluruh jenjang pada tahun ajaran 2025/2026. Oleh karena itu, pelaksanaan Kurikulum Merdeka di sekolah ini masih perlu dievaluasi dan disempurnakan seiring munculnya berbagai perubahan dalam sistem Salah satu aspek penting dalam implementasi kurikulum adalah persepsi siswa. Persepsi adalah hasil pengalaman seseorang terhadap objek, peristiwa, atau relasi tertentu yang terbentuk melalui proses pengolahan dan penafsiran informasi yang diterima dalam bentuk sebuah pesan (Rohmah & Hamdiah, 2. Persepsi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat pemahaman terhadap kurikulum, kesiapan dalam mengikuti perubahan, dukungan yang diterima, serta pengalaman belajar yang dirasakan (Rahayuningsih & Hanif, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi persepsi siswa guna memahami dinamika sosial yang terjadi dalam penerapan suatu kurikulum. Berdasarkan hasil observasi, siswa SMPN 2 Gading menunjukkan beragam respons terhadap penerapan Kurikulum Merdeka, mulai dari antusiasme terhadap kebebasan belajar hingga kesulitan dalam menghadapi tugas yang menuntut kreativitas dan tanggung jawab lebih besar. Penelitian terdahulu mengenai dinamika implemenetasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran bahasa Indonesia sebelumnya telah dikaji oleh (Melani & Gani, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. dengan judul penelitiannya AuImplementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 16 PadangAy. Temuan dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa guru Bahasa Indonesia menghadapi kendala dalam penerapan Kurikulum Merdeka karena sulitnya mengubah mindset dan kebiasaan lama dalam metode pengajaran. Relevansi penelitian ini dan penelitian sebelumnya terletak pada kesamaan topik yang dibahas, yakni implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Sementara itu, perbedaannya yakni pada lokasi sekolah atau tempat pengambilan data yang digunakan. Penelitian selanjutnya yaitu AuIndependent Curriculum in High School: ItAos Implementation and TeachersAo Challenges in English Language Learning ClassroomAy yang dilakukan oleh (Ulfa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru bahasa Inggris mengalami kesulitan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka karena kurangnya waktu untuk persiapan materi dan pemahaman konsep. Relevansinya dengan penelitian saat ini terletak pada topik yang diangkat mengenai implementasi Kurikulum Merdeka, sedangkan perbedaannya yakni objek mata pelajaran yang diteliti. Seiring dengan munculnya berbagai dinamika, seperti hambatan dan peluang yang dihadapi oleh guru dan beragam persepsi siswa terhadap penerapan Kurikulum Merdeka, mendorong peneliti untuk tertarik menganalisis fenomena ini. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan saat observasi dilakukan, bahwa SMPN 2 Gading juga menghadapi tantangan atau dinamika khusus dalam proses implementasi Kurikulum Merdeka, terutama pada konteks pembelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini menjadi alasan penting dilakukannya penelitian ini guna mengevaluasi implementasi Kurikulum di sekolah tersebut. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai dinamika implementasi Kurikulum Merdeka khususnya pada pembelajaran Bahasa Indonesia, serta mengkaji persepsi atau tanggapan siswa-siswi SMPN 2 Gading terhadap penerapannya pada pelajaran KAJIAN TEORI Hakikat Dinamika Istilah dinamika sering digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi yang tidak statis, melainkan terus bergerak, berubah, dan berkembang sesuai dengan situasi yang dihadapi. Secara etimologi, istilah dinamika berasal dari bahasa Yunani, yakni "dynamics" yang berarti kekuatan (Hikmah, 2. Istilah ini sering digunakan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, musik, hingga sosial. Selain itu, terdapat pula sejumlah pendapat dari para ahli yang menjelaskan pengertian dinamika lebih mendalam, yakni: . Menurut Kartono, dinamika diartikan sebagai suatu perubahan, baik yang terjadi secara perlahan maupun cepat, dalam skala kecil maupun besar, yang tetap memiliki keterkaitan dengan realitas kehidupan yang dijalani (Sitoresmi, 2. Menurut Zulkarnain, dinamika adalah sesuatu yang memiliki energi atau kekuatan, senantiasa bergerak, berkembang, dan mampu beradaptasi dengan kondisi tertentu (Aris, 2. Menurut Munir, dinamika adalah sebuah sistem yang terdiri atas unsur-unsur yang saling terhubung dan saling memengaruhi satu sama lain (Hikmah, 2. Berdasarkan penjelasan para ahli tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan jika pengertian dinamika adalah konsep perubahan dan perkembangan yang terus berlangsung, didukung oleh energi atau @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. kekuatan yang mendorong adaptasi, serta melibatkan sistem unsur-unsur yang saling terhubung dan saling memengaruhi. Kurikulum Merdeka Belajar Transformasi pendidikan di Indonesia memerlukan pembaruan kurikulum yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta kebutuhan peserta didik Sebagai penyempurnaan dari Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka awalnya dikenal dengan nama Kurikulum Prototipe dan merupakan bagian dari upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta peserta didik di era pasca pandemi (Mulyasa, 2. Kurikulum Merdeka Belajar menekankan fleksibilitas dalam pembelajaran, dengan memberikan sekolah wewenang lebih besar untuk menentukan materi dan metode pengajaran berdasarkan karakteristik serta kebutuhan peserta didik. Pendekatan ini dirancang untuk mendorong siswa mengeksplorasi minat dan potensi mereka, tanpa terlalu terbebani oleh berbagai tekanan akademik. Salah satu ciri khas Kurikulum Merdeka adalah pengurangan jumlah kompetensi dasar yang harus dicapai (Syam et al. , 2. Fokusnya dialihkan pada pengembangan kompetensi esensial, yaitu literasi, numerasi, dan pembentukan karakter, agar peserta didik mampu memahami konsep dasar secara lebih mendalam dan mengaplikasikannya dalam aktivitas sehari-hari. Pada dasarnya, setiap kebijakan kurikulum bertujuan untuk memperbaiki mutu, proses, serta capaian pembelajaran. Tujuan utama Kurikulum Merdeka Belajar yakni untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang dinamis, adaptif, serta responsif terhadap kebutuhan serta potensi individu (Rosa et al. , 2. Kurikulum ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembelajaran yang berorientasi pada konteks nyata, relevan dengan kehidupan siswa, dan berfokus pada peran aktif peserta didik. Lebih lanjut, pendekatan ini juga dimaksudkan untuk mendorong keterlibatan dan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran sehingga dapat memotivasi mereka, meningkatkan pencapaian akademis, mendukung perkembangan pribadi yang menyeluruh, serta mampu mendorong siswa untuk menjadi pelajar mandiri yang mampu menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di berbagai situasi. Pembelajaran Bahasa Indonesia Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk membina siswa agar mampu menggunakan bahasa secara tepat, sesuai dengan konteks dan maksud Atmazaki dalam Ali . menyatakan, bahwa mata pelajaran ini mendorong siswa untuk berkomunikasi secara tepat, efisien, dan beretika, baik dalam bentuk verbal maupun tertulis. Pembelajaran bahasa mencakup dua komponen utama, yakni makna dan bentuk yang harus dipelajari secara bersamaan. Meskipun kedua komponen ini sama penting, makna memiliki peran utama dalam pembentukan bahasa dan menjadi alat untuk mengembangkan pemikiran manusia. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menekankan pembentukan keterampilan berpikir yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis melalui pembelajaran bahasa. Kemampuan ini disebut berpikir metodologis, karena hanya bisa dikembangkan melalui penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran teks. Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget Konsep AuMerdeka BelajarAy pada Kurikulum Merdeka mempunyai relevansi dengan teori belajar konstruktivisme milik Jean Piaget. Teori ini menjelaskan bahwa @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. proses belajar terjadi ketika siswa mengalami dan berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran di lingkungan mereka. Jean Piaget meyakini bahwa proses belajar akan berlangsung lebih optimal jika diselaraskan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa (Hakiky et al. , 2. Pada prosesnya, siswa diberi kebebasan untuk bereksperimen dengan objek di sekitarnya, dengan dukungan interaksi bersama teman sebaya serta pertanyaan-pertanyan dari guru yang dapat mendorong daya pikir mereka. Melalui cara ini, peserta didik dapat berperan aktif dalam berinteraksi dengan lingkungan guna menggali dan membangun pengetahuannya sendiri. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk belajar secara lebih leluasa, disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif mereka, berpusat pada pengalaman langsung, mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan secara mandiri. Teori konstruktivisme menekankan interaksi langsung antara individu dan lingkungannya dalam proses pembentukan pengetahuan serta pengembangan Beberapa asumsi utama dalam teori konstruktivisme adalah: Pertama, siswa berperan aktif dalam membangun pemahaman mereka sendiri. Mereka dapat memperdalam ilmu melalui latihan, eksperimen, dan diskusi dengan teman sebaya, sehingga pemahaman mereka semakin berkembang. Kedua, peran guru bukan hanya sekadar menyampaikan materi secara konvensional, akan tetapi menciptakan situasi pembelajaran yang memungkinkan siswa terlibat aktif dengan materi melalui interaksi dan eksplorasi (Suparlan, 2. Guru sebaiknya menggunakan metode atau strategi yang menarik dan inovatif serta mampu menghidupkan suasana di dalam kelas (Bahrudin, 2. , kemudian hindari penggunaan metode-metode yang sudah lama, seperti ceramah atau pencatatan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Menurut (Wijayati et al. , 2. , penelitian kualitatif berfokus pada eksplorasi konteks, makna, persepsi, serta pengalaman individu atau kelompok yang terlibat dalam situasi tertentu. Pendekatan ini digunakan karena dianggap relevan dengan tujuan penelitian yang berfokus pada pemahaman secara mendalam terhadap dinamika implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Gading. Data yang dikumpulkan berupa informasi mengenai dinamika implementasi Kurikulum Merdeka serta persepsi siswa terhadap Informan dalam penelitian ini ditentukan melalui teknik Purposive Sampling, yang melibatkan kepala sekolah, guru bahasa Indonesia, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta tujuh siswa-siswi SMP Negeri 2 Gading. Jumlah siswa tersebut digunakan karena sudah mencapai titik jenuh serta memenuhi kriteria dalam penelitian kualitatif. Pemilihan objek serta lokasi penelitian ini didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa SMP Negeri 2 Gading tengah menghadapi tantangan dan dinamika khusus dalam penerapan Kurikulum Merdeka, terutama pada pembelajaran bahasa Indonesia. Fokus kajian dalam penelitian ini mencakup: . Dinamika implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Gading, . Persepsi siswa terhadap penerapan Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data mencakup kegiatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi ini mencakup kondisi lingkungan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. belajar, penerapan strategi mengajar yang selaras dengan kurikulum, adaptasi guru dalam mengajar, serta tanggapan siswa terhadap metode pembelajaran yang lebih Wawancara ditujukan kepada beberapa pihak yang berkaitan langsung dengan penerapan Kurikulum Merdeka. Sementara itu, data hasil dokumentasi mencakup berbagai arsip, seperti foto kegiatan pembelajaran, laporan sekolah mengenai perkembangan kurikulum, dokumen profil sekolah, serta data siswa yang Proses analisis data mengikuti 4 tahapan model oleh Miles. Huberman, dan Saldana yang berupa pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan (Fiantika et al. , 2. Temuan hasil analisis dipaparkan dalam bentuk uraian naratif dan penggunaan tabel untuk mempermudah memahami hasil Selanjutnya, guna memastikan keabsahan data, diterapkan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teori, serta Member Checking. HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat beberapa temuan mengenai dinamika implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading, yakni: . Guru bahasa Indonesia dituntut untuk mengembangkan pembelajaran berbasis proyek, . Memberikan kebebasan bagi guru bahasa Indonesia untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif, . Minimnya sosialisasi dari pemerintah terhadap kebijakan Kurikulum Merdeka menjadi kendala bagi guru bahasa Indonesia dalam penyusunan modul ajar, . Adanya perbedaan pemahaman tentang pembelajaran berdiferensiasi antar guru, . Meningkatnya budaya literasi siswa pasca penerapan pembelajaran berbasis proyek, . Minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih meningkat, . Keterbatasan akses internet menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek dan pencarian sumber belajar, serta . Adanya pergeseran peran guru setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka. Tabel 1. Temuan dinamika implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Indonesia No. Dinamika Guru Bahasa Indonesia dituntut untuk mengembangkan pemebelajaran berbasis proyek Memberikan kebebasan bagi guru bahasa Indonesia untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif Minimnya sosialisasi dari pemerintah terhadap kebijakan Kurikulum Merdeka menjadi kendala bagi guru bahasa Indonesia dalam penyusunan modul ajar Adanya perbedaan pemahaman tentang Hasil Temuan Setelah adanya Kurikulum Merdeka, guru dituntut untuk mengembangkan pembelajaran berbasis proyek dan hal ini sudah mulai berjalan di SMPN 2 Gading Penggunaan metode pembelajaran kini sudah dibebaskan dan sudah tidak terpaut pada aturan pemerintah seperti kurikulum sebelumnya. Guru bebas berkreasi, mencari metode, dan media yang cocok dengan materi dan karakteristik siswa Guru bahasa Indonesia mengalami kesulitan dalam penyusunan modul ajar akibat kurangnya sosialisasi dari Namun, pihak sekolah tetap melakukan berbagai upaya untuk menghadapi fenomena tersebut Guru mengalami kesulitan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi karena kelas yang beragam @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. pembelajaran berdiferensiasi antar guru Meningkatnya budaya literasi siswa pasca penerapan pembelajaran berbasis proyek Minat siswa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih meningkat Keterbatasan akses internet menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek dan pencarian sumber belajar Adanya pergeseran peran guru setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka dan waktu perencanaan yang terbatas. Ada pula yang masih menyamakan pembelajaran berdiferensiasi dengan pengelompokan siswa berdasarkan nilai Setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka, minat siswa untuk membaca dan menulis lebih meningkat. Hal ini diakibatkan karena setiap tugas proyek menuntut mereka untuk mencari referensi dan menyusun laporan Sejak diimplementasikannya Kurikulum Merdeka, siswa-siswi di SMPN 2 Gading kini menunjukkan perubahan minat yang positif terhadap pelajaran bahasa Indonesia. Mereka menjadi lebih aktif, percaya diri, dan terlibat dalam proses belajar karena pendekatannya yang lebih fleksibel dan sesuai dengan minat mereka SMPN 2 Gading kini mengalami keterbatasan akses internet, sehingga peserta didik terpaksa harus meggunakan biaya pribadi. Tentunya hal ini juga menjadi kendala dalam pencarian sumber belajar digital maupun penyelesaian proyek saat mereka tidak memiliki akses internet Setelah adanya Kurikulum Merdeka, guru tidak lagi menjadi sumber belajar melainkan memberi metode kepada siswa agar lebih mandiri dalam mengembangkan dan mencari materi, sehingga peran guru menjadi fasilitator saja Berdasarkan temuan penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading menunjukkan pengaruh yang cukup besar terhadap jalannya proses Temuan pertama mengindikasikan bahwa guru dituntut untuk mengembangkan pembelajaran berbasis proyek. Hal ini merupakan perwujudan dari prinsip pembelajaran kontekstual yang menekankan pada keterlibatan langsung Melalui metode tersebut, peserta didik bukan hanya menjadi penerima informasi secara pasif, melainkan turut aktif dalam proses kegiatan eksploratif dan kolaboratif untuk menyelesaikan proyek nyata. Hal ini selaras dengan prinsip teori konstruktivisme Jean Piaget, yang menjelaskan bahwa setiap anak membentuk pengetahuannya secara mandiri melalui interaksi dengan lingkungan sekitar (Abdiyah, 2. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis proyek bukan hanya melatih siswa dari sisi akademik, tetapi juga mendukung perkembangan kognitif mereka secara alami. Kebebasan guru dalam memilih dan menyesuaikan metode pengajaran menjadi faktor pendukung penting dalam implementasi kurikulum ini. Guru bahasa Indonesia SMPN 2 Gading saat ini diberi keleluasaan untuk menyesuaikan metode dan media ajar sesuai dengan karakteristik siswa, serta menciptakan pembelajaran yang lebih personal dan relevan. Berdasarkan teori Piaget, hal ini mencerminkan pentingnya penyesuaian terhadap tahap perkembangan kognitif siswa (Hakiky et al. , 2. sehingga anak-anak dapat belajar secara optimal ketika pengalaman belajar disesuaikan dengan kemampuan berpikir mereka yang sedang berkembang. Fleksibilitas metode ini memberi ruang bagi pendidik untuk berinovasi dan mengatur pendekatan pembelajaran agar lebih selaras dengan kebutuhan individu setiap siswa. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka tentunya akan menemui sejumlah kendala. Salah satunya adalah minimnya sosialisasi dari pemerintah, khususnya terkait penyusunan modul ajar. Guru bahasa Indonesia merasa kesulitan karena kurangnya @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. pemahaman dan pelatihan yang memadai. Meskipun begitu, pihak sekolah tetap mengambil peran aktif dalam mengatasi hambatan ini melalui pelatihan internal, monitoring, dan pembentukan komunitas belajar. Situasi ini memperlihatkan bahwa perubahan sistem pendidikan memerlukan dukungan struktural yang kuat agar implementasi kurikulum dapat berjalan secara efektif. Tanpa adanya pendampingan yang konsisten, guru akan kesulitan mentransformasikan prinsip kurikulum ke dalam praktik kelas yang nyata. Penelitian yang serupa sebelumnya juga dilakukan oleh (Rahman & Putikadyanto, 2. hasil penelitiannya memaparkan bahwa pasca penerapan Kurikulum Merdeka, setiap sekolah tentunya akan mengalami beberapa hambatan yang beragam. Namun, pihak sekolah harus tetap melakukan penanganan sampai kendala tersebut terealisasikan. Dinamika selanjutnya berupa adanya perbedaan pemahaman di kalangan guru mengenai pembelajaran berdiferensiasi. Beberapa guru masih belum memahami secara utuh makna diferensiasi pembelajaran, dan refleksi pembelajaran yang seharusnya mendalam sering kali tidak berjalan optimal. Hal ini menunjukkan perlunya dukungan berkelanjutan agar pendidik mampu merancang proses belajar yang selaras dengan karakter dan kebutuhan masing-masing siswa. Selain itu, hasil penelitian relevan sebelumnya oleh (Melani & Gani, 2. turut menjelaskan bahwa guru perlu memperluas pengetahuan dan mencoba hal-hal baru untuk membuat variasi dalam metode pembelajaran. Sebagaimana yang ditemukan dalam teori konstruktivisme Piaget, bahwa setiap anak memiliki irama perkembangan kognitif yang berbeda. Melalui penguatan kompetensi guru dalam aspek ini, diharapkan pembelajaran benar-benar mampu menjangkau setiap karakteristik unik siswa. Penerapan pembelajaran berbasis proyek juga terbukti meningkatkan budaya literasi siswa-siswi SMPN 2 Gading. Hal ini selaras dengan konsep dari Kurikulum Merdeka yang memang mengalihkan pengembangan kompetensi siswa pada literasi, numerasi dan pembentukan karakter. Saat ini mereka menjadi terbiasa melakukan pencarian informasi, membaca sumber referensi, dan menyusun laporan tertulis. Aktivitas tersebut secara tidak langsung membiasakan siswa untuk lebih sering membaca dan menulis sebagai bagian dari pembiasaan dalam proses pembelajaran, serta mendukung terbentuknya skema berpikir yang lebih kompleks dan terstruktur. Literasi yang tumbuh dari proses aktif ini menjadikan siswa bukan hanya cakap membaca dan menulis, akan tetapi juga mampu mengolah informasi secara kritis. Selain itu. Budaya literasi juga menjadi wadah untuk meningkatkan kemampuan berpikir siswa secara bertahap (Arfiani et al. , 2. Menariknya, perubahan kurikulum ini juga memicu peningkatan minat dan kesiapan belajar siswa SMPN 2 Gading terhadap pelajaran bahasa Indonesia. Peserta didik menunjukkan peningkatan partisipasi, kepercayaan diri, dan terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis minat, terutama pada tugas-tugas berbasis proyek. Hal ini mencerminkan perkembangan berpikir dalam teori konstruktivisme Jean Piaget, yang menyatakan bahwa siswa bukan hanya dapat menerima informasi baru, akan tetapi juga mampu menyesuaikan dan membentuk cara cara berpikir yang baru berdasarkan pengalaman belajar yang mereka alami. Selain itu, temuan ini juga selaras dengan penelitian milik (Apriyanti & Hindun, 2. yang mengemukakan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka dianggap berhasil jika sudah mendapatkan respon positif dari siswa. Timbulnya dorongan untuk berpikir mandiri dan bertanggung jawab atas proses belajar mereka, menjadi indikator bahwa siswa sedang mengalami perkembangan kognitif yang sehat. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. Faktanya, hambatan teknis seperti keterbatasan akses internet turut menjadi tantangan nyata dalam penerapan Kurikulum Merdeka di SMPN 2 Gading. Kondisi tersebut menyebabkan adanya kendala terutama dalam pencarian sumber belajar maupun penyelesaian proyek yang berbasis digital. Situasi ini mencerminkan pentingnya dukungan infrastruktur dalam menunjang proses pembelajaran yang modern dan mandiri. Sebab. Ketimpangan dalam akses digital ini turut berisiko menciptakan kesenjangan pengalaman belajar antar siswa yang berbeda latar Selaras dengan teori Piaget yang menjelaskan, bahwa keberhasilan proses belajar bukan hanya ditentukan oleh faktor individu, melainkan pada lingkungan yang menyediakan stimulasi dan sumber belajar yang memadai (Nirmala, 2. Perubahan paling menonjol pasca penerapan Kurikulum Merdeka di SMPN 2 Gading selanjutnya adalah pergeseran peran guru yang beralih dari penyampai materi utama menjadi pembimbing dalam proses belajar. Peran guru kini lebih menekankan pada pemberian metode yang mendorong kemandirian siswa dalam mencari dan mengembangkan materi pembelajaran. Prinsip tersebut selaras dengan teori belajar konstruktivisme Piaget, yang berasumsi bahwa setiap individu akan membangun pengetahuannya secara aktif melalui interaksi dengan lingkungan dan bukan sematamata hasil transfer informasi dari guru (Mandar, 2. Oleh karena itu, proses belajar menjadi lebih bermakna karena siswa dapat membangun pemahamannya sendiri melalui pengalaman belajar langsung. Persepsi Siswa Terhadap Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan beberapa hal terkait persepsi siswa terhadap penerapan Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading, yakni: . Implementasi Kurikulum Merdeka membuat beberapa siswa merasa kesulitan, . Siswa memiliki cara berpikir yang kreatif, kritis, dan mandiri setelah mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka, . Siswa merasa bahwa implementasi Kurikulum Merdeka membuat mereka lebih tertarik dalam pembelajaran bahasa Indonesia, . Penerapan Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat bakat masing-masing, . Pasca Kurikulum Merdeka diterapkan, cara mengajar guru bahasa Indonesia menimbulkan respon yang positif bagi siswa, . Pembelajaran berdiferensiasi dianggap lebih fleksibel oleh beberapa siswa, serta . Siswa menganggap pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka lebih banyak diskusi dan tugas proyek. Tabel 2. Temuan persepsi siswa terhadap penerapan Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia No. Persepsi Siswa Implementasi Kurikulum Merdeka membuat beberapa siswa merasa Siswa memiliki cara berpikir yang kreatif, kritis, dan mandiri setelah Hasil Temuan Siswa mengalami kesulitan dalam belajar mandiri, gugup saat presentasi, dan menghadapi hambatan ketika kerja Banyaknya tugas proyek, keterbatasan waktu, dan metode pembelajaran yang belum terbiasa seperti diskusi dan presentasi membuat siswa kewalahan. Selain itu, topik pembelajaran tidak selalu sesuai dengan minat Implementasi Kurikulum Merdeka mendorong siswa lebih kreatif, percaya diri, dan mandiri. Siswa menjadi berani berpendapat, terbiasa berpikir kritis, serta lebih @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka Siswa merasa bahwa implementasi Kurikulum Merdeka membuat mereka lebih tertarik dalam bahasa Indonesia Penerapan Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat bakat masing-masing Pasca Kurikulum Merdeka diterapkan, cara mengajar guru bahasa Indonesia menimbulkan respon yang positif bagi siswa Pembelajaran berdiferensiasi dianggap lebih fleksibel oleh beberapa siswa Siswa menganggap pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka lebih banyak diskusi dan tugas bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas. Pembelajaran yang lebih bebas juga mendorong mereka untuk mencoba hal baru dan mencari solusi sendiri saat menghadapi masalah Siswa tertarik dengan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis proyek karena mendorong inovasi, kreativitas, dan pemahaman melalui praktik. Mereka merasa kegiatan ini lebih menyenangkan dibanding membaca buku teks. Namun, sebagian siswa kurang nyaman saat presentasi dan mengalami kesulitan jika proyek memerlukan bahan yang sulit ditemukan Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan belajar sesuai dengan minat siswa, dengan pembelajaran yang lebih variatif melalui proyek dan diskusi. Siswa merasa pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan nyata. Namun, kurangnya kesiapan guru dan banyaknya tugas proyek terkadang membuat sebagian siswa kebingungan dan merasa terbebani Setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka, guru Bahasa Indonesia menjadi lebih terbuka, mendorong diskusi, dan memberi kebebasan bagi siswa untuk berpendapat serta Metode mengajar menjadi lebih variatif dan kontekstual, sehingga siswa merasa lebih paham dan Meskipun demikian, sebagian siswa merasa kurang jelas terhadap instruksi proyek, menunjukkan perlunya perbaikan dalam penyampaian tugas Pendekatan diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka membuat siswa merasa lebih percaya diri, terbantu, dan berkembang sesuai kemampuan masing-masing. Siswa merasa tidak tertinggal dan dapat belajar dengan cara yang sesuai kebutuhannya. Namun, beberapa merasa bingung karena tugas yang berbeda-beda dan kurang seru karena terbatasnya kerja sama dengan teman. Pembelajaran praktik juga dianggap dapat membantu pemahaman materi lebih cepat Kurikulum Merdeka membuat pembelajaran lebih bebas, aktif, dan menyenangkan. Siswa lebih sering berdiskusi, mengerjakan proyek, dan mendapat tugas yang kreatif serta sesuai minat. Pembelajaran tidak lagi terpaku pada hafalan atau buku teks, melainkan lebih fleksibel dan relevan dengan pengalaman pribadi Hasil penelitian mengenai persepsi siswa-siswi SMPN 2 Gading terhadap pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Indonesia, menunjukkan adanya dinamika positif sekaligus tantangan dalam proses Salah satunya yakni siswa mengakui bahwa mereka mengalami kesulitan ketika diminta untuk mencari materi sendiri, menghadapi tantangan saat presentasi, serta merasa kewalahan oleh banyaknya tugas proyek. Hambatanhambatan seperti ini menunjukkan bahwa siswa sedang dalam proses penyesuaian cara belajar, dari yang sebelumnya pasif menjadi lebih aktif dan mandiri. Menurut teori konstruktivisme Jean Piaget, situasi ini menjadi tanda bahwa siswa sedang mengalami perubahan cara berpikir, dari yang awalnya hanya menerima informasi . menuju penyesuaian pemahaman lama dengan hal-hal baru yang mereka pelajari . (Hendrowati, 2. Oleh karena itu, meskipun awalnya akan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. menimbulkan rasa ketidaknyamanan, pengalaman ini justru menjadi bagian penting dalam perkembangan kognitif siswa. Pada sisi lain, perubahan cara berpikir dan kreativitas siswa SMPN 2 Gading tampak meningkat seiring dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih terbuka dan proyek berbasis minat. Siswa menunjukkan peningkatan rasa percaya diri, mulai terbiasa mengemukakan pendapat, lebih kreatif, mandiri, serta mulai berpikir kritis. Fenomena ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi siswa untuk membangun pemahamannya sendiri secara aktif. Hal ini selaras dengan teori Piaget yang menekankan perlunya pasrtisipasi langsung dan refleksi dalam kegiatan belajar (Trimahmudi, 2. Ketika siswa diberi kebebasan untuk mengeksplorasi ide dan menemukan solusi sendiri, mereka sebenarnya sedang membangun struktur kognitif yang lebih kompleks dan Para siswa turut menyampaikan, bahwa metode pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka membuat mereka lebih tertarik untuk belajar Bahasa Indonesia. Kegiatan yang bersifat eksplorasi, kreativitas, serta kaitannya dengan kehidupan nyata membuat proses pembelajaran terasa lebih menyenangkan dan bermakna. Melalui keterlibatan langsung dalam tugas proyek, siswa merasa belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai, akan tetapi juga karena mereka tertarik dan merasa materi pelajaran dekat dengan kehidupan mereka. Hal ini menunjukkan adanya motivasi dari dalam diri siswa, yang merupakan ciri penting dalam pembelajaran Ketika siswa termotivasi secara alami, justru mereka akan lebih mampu untuk mengatur dan mengontrol proses belajarnya secara mandiri. Persepsi umum siswa SMPN 2 Gading terhadap Kurikulum Merdeka juga mengindikasikan adanya pergeseran signifikan dalam cara mereka memandang Peserta didik merasa lebih bebas, dapat belajar sesuai minat dan bakat masing-masing, serta menganggap pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan Namun, kebebasan ini juga memunculkan kebingungan dalam menentukan fokus belajar, serta kesiapan guru yang yang masih kurang dalam membimbing proses pembelajaran dianggap kurang fleksibel. Hal ini selaras dengan hasil penelitian terdahulu milik (Ulfa, 2. yang memaparkan adanya kesulitan guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka disebabkan kurangnya waktu untuk persiapan materi dan pemahaman konsep. Berdasarkan konteks ini. Piaget menekankan pentingnya peran lingkungan sosial dan dukungan dari pendidik dalam membantu siswa untuk mengembangkan skema berpikir baru yang lebih adaptif. Artinya, meskipun siswa memiliki potensi untuk belajar mandiri, peran guru sebagai fasilitator tetap krusial untuk membimbing proses berpikir mereka agar tidak kehilangan arah. Respons positif juga terlihat dari cara siswa menilai perubahan metode mengajar guru dalam Kurikulum Merdeka. Mereka menyatakan bahwa guru menjadi lebih terbuka untuk diskusi, memberi ruang untuk berpendapat, dan menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata. Konsep ini dapat mendukung proses pembelajaran yang bermakna sebagaimana ditekankan dalam teori Piaget, bahwa pengetahuan harus dikonstruksi oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan interaksi yang bermakna. Perubahan peran guru ini turut memperkuat hubungan interpersonal dalam kelas, sehingga siswa merasa lebih aman secara psikologis untuk bereksplorasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Hasil dalam penelitian terdahulu (Rahayuningsih & Hanif, 2. turut memaparkan, bahwa sebagian guru dan peserta @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. didik telah memberikan tanggapan positif terhadap fleksibilitas Kurikulum Merdeka, yang dinilai mempermudah penyesuaian strategi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa dan memiliki relevansi dengan kehidupan nyata. Siswa juga memberikan pandangan mereka terhadap pembelajaran berdiferensiasi yang dianggap dapat membantu mereka belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sebagian siswa merasa terbantu karena tidak perlu belajar dengan cara yang sama seperti teman lainnya, sehingga merasa lebih percaya diri dan tidak tertinggal. Meskipun ada yang masih bingung karena tugas berbedabeda, secara umum siswa menyadari bahwa pendekatan ini mampu membuat mereka lebih berkembang secara personal. Temuan dalam penelitian (Ramadhan et al. , 2. juga menunjukkan fakta, bahwa pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka menjadikan kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa. Pernyataan ini selaras dengan teori konstruktivisme Piaget yang menegaskan, bahwa setiap anak memiliki ritme perkembangan kognitif yang Oleh karena itu, siswa yang memiliki keunikan masing-masing akan merasa dihargai dan dilayani secara optimal dalam proses pembelajaran berdiferensiasi. Temuan yang terakhir yakni persepsi siswa, mereka mengungkapkan bahwa pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka lebih banyak melibatkan diskusi dan proyek, dibandingkan metode hafalan pada kurikulum sebelumnya. Perubahan ini mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses berpikir serta membangun komunikasi, baik dengan guru maupun sesama teman belajar. Berdasarkan pandangan konstruktivisme dari teori Piaget, interaksi sosial turut menjadi kunci dalam proses pembentukan pengetahuan (Sugrah, 2. Melalui diskusi dan kolaborasi proyek, siswa akan belajar dari pengalaman bersama sehingga dapat memperluas perspektifnya. Pendekatan ini bukan hanya meningkatkan kemampuan akademik, akan tetapi juga membangun kemampuan sosial peserta didik, seperti kolaborasi dan komunikasi, yang menjadi kunci untuk menjawab tantangan pendidikan pada era abad 21. KESIMPULAN Pelaksanaan Kurikulum Merdeka utamanya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 2 Gading menunjukkan adanya dinamika yang cukup kompleks. Guru Bahasa Indonesia berperan aktif dalam mengimplementasikan kurikulum ini melalui penyusunan modul ajar, pemilihan metode yang fleksibel dan kontekstual, serta penerapan pembelajaran berbasis proyek yang mendorong keterlibatan langsung siswa. Meskipun demikian, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya sosialisasi dari pemerintah, keterbatasan akses teknologi, dan belum meratanya pemahaman guru terhadap konsep Kurikulum Merdeka. Hal ini menunjukkan, meskipun perubahan kurikulum memberikan ruang inovasi bagi guru, dukungan dan pendampingan teknis masih sangat dibutuhkan agar implementasinya berjalan optimal. Sementara itu, persepsi siswa terhadap penerapan Kurikulum Merdeka cenderung positif. Siswa merasa lebih tertarik, termotivasi, dan memiliki kebebasan dalam berpendapat serta berkreasi. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan mendorong mereka untuk berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama dalam kelompok. Namun, sebagian siswa juga mengalami tantangan dalam menyesuaikan diri, seperti beban tugas yang berat dan kesulitan dalam kerja @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Virdausiyah dkk. Dinamika Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa. kelompok akibat kurang terbiasa dengan pendekatan pembelajaran yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab. Secara keseluruhan. Kurikulum Merdeka berkontribusi positif terhadap keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia, meskipun masih memerlukan adaptasi secara bertahap. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Universitas Islam Zainul Hasan Genggong dukungan dalam pelaksanaan penelitian. Terima kasih kepada SMPN 2 Gading atas izin pelaksanaan penelitian yang diberikan. DAFTAR PUSTAKA