Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. DOI: https://doi. org/10. 55606/jurrikes. Available Online at: https://prin. id/index. php/JURRIKES Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur Jihan Zahira Nurista1*. Zulmi Yusra2 Universitas Negeri Padang,Indonesia Alamat: Jln. Prof. Dr. Hamka. Air Tawar. Kota Padang. Sumatera Barat. Korespondensi penulis: jzahiranurista@gmail. Abstract. Education in the modern era requires teachers to develop their competencies in mastering science and technology to be applied in the learning process. One of the challenges faced by teachers in this era of educational digitalization is technostress. Technostress is the stress experienced by individuals as a result of the use of technology, especially when there is a mismatch between the demands faced and the resources possessed by the user (Ragu-Nathan et al. , 2. One of the factors that can affect technostress is the Technology Acceptance Model (TAM). The purpose of this study is to determine the contribution of Technology Acceptance Model (TAM) to technostress in 70 public elementary school teachers in the Panti Timur area. This study is a quantitative research using total sampling. Technostress was measured using a technostress scale adapted by Subchi et al. and the Technology Acceptance Model (TAM) was measured using the TAM scale compiled by researchers with reference to the TAM dimension of Davis et al. The results of the multiple linear regression test showed that the five dimensions in TAM, namely Perceived Usefulness (PU). Perceived Ease of Use (PEOU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), and Actual System Use (AU), were simultaneously able to explain 59. 9% of technostress variations to State Elementary School teachers in the East Panti area. However, based on the partial test, only two dimensions had a significant effect on technostress, namely Perceived Ease of Use (PEOU) . = 0. = -1. and Attitude Toward Using (ATU) . = 0. = -1. Keywords: Elementary School Teacher,Technology Acceptance Model (TAM). Technostress Abstrak. Pendidikan di era modern ini mengharuskan guru untuk mengembangkan kompetensinya dalam menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) untuk diterapkan dalam prosses pembelajaran. Salah satu tantangan yang dihadapi guru di era digitalisasi pendidikan ini adalah technostress. Technostress adalah tekanan yang dialami individu akibat penggunaan teknologi, terutama ketika ada ketidaksesuaian antara tuntutan yang dihadapi dan sumber daya yang dimiliki oleh pengguna (Ragu-Nathan et al. , 2. Salah satu faktor yang dapat meepengaruhi technostress yaitu Technology Acceptance Model (TAM). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap technostress pada 70 orang guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan total Technostress diukur menggunakan technostress scale yang diadaptasi oleh Subchi et al. dan Technology Acceptance Model (TAM) diukur menggunakan skala TAM yang disusun peneliti dengan mengacu pada dimensi TAM dari Davis et al. Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan bahwa kelima dimensi dalam TAM, yaitu Perceived Usefulness (PU). Perceived Ease of Use (PEOU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU), secara simultan mampu menjelaskan 59,9% variasi technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Namun, berdasarkan uji parsial, hanya dua dimensi yang berpengaruh signifikan terhadap technostress, yaitu Perceived Ease of Use (PEOU) . = 0,002. -1,. dan Attitude Toward Using (ATU) . = 0,005. = -1,. Kata kunci: Guru Sekolah Dasar. Technology Acceptance Model (TAM). Technostress LATAR BELAKANG Guru merupakan tenaga profesional yang memegang peranan penting dalam mendidik dan membentuk karakter siswa. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 menyatakan bahwa guru bertanggung jawab dalam merancang, membimbing, serta mengevaluasi proses belajar Di era Revolusi Industri 4. 0, peran guru tidak hanya terbatas pada mengajar, tetapi juga Received: Juli 17, 2025. Revised: Juli 31, 2025. Accepted: Agustus 03, 2025. Online Available: August 05, 2025. Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur menjadi fasilitator pembelajaran yang harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman (Adrian & Agustina, 2. Kemampuan adaptif dalam mengintegrasikan pendekatan teknologi ke dalam pembelajaran menjadi penting, mengingat pendidikan modern menuntut pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam proses belajar-mengajar (Mutia et al. Penguasaan teknologi oleh guru tidak hanya mencakup kemampuan teknis menggunakan perangkat keras dan lunak, tetapi juga mencakup pemahaman bagaimana teknologi dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan partisipatif (Zebua, 2. Keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya teknologi, tetapi juga oleh kesiapan dan kemampuan guru dalam mengoptimalkan penggunaannya (Zewude et al. , 2. Meskipun teknologi menjanjikan efisiensi dan peningkatan kualitas pembelajaran, tidak semua guru siap untuk mengadopsinya. Mereka dihadapkan pada perubahan metode pembelajaran, kecepatan perkembangan teknologi, keterbatasan pelatihan, serta tekanan untuk menguasai perangkat digital, yang dapat memicu technostress yakni stres yang timbul karena kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan teknologi informasi dan komunikasi (Ragu-Nathan et al. , 2. Kondisi ini dapat berdampak pada kesejahteraan guru, menurunkan efektivitas mengajar, dan memengaruhi kualitas pembelajaran secara Hasil survei awal terhadap 20 guru di Sekolah Dasar Negeri wilayah Panti Timur menunjukkan bahwa mayoritas guru mengalami beban kerja tambahan akibat keharusan menyelesaikan administrasi digital seperti jurnal harian dan laporan aksi nyata. Sebanyak 15 guru merasakan peningkatan beban kerja, yang mencerminkan techno-overload. Selain itu, 12 guru mengaku kesulitan dalam mengoperasikan aplikasi dan perangkat digital seperti laptop dan proyektor karena kurangnya pelatihan dan keterbatasan fasilitas, yang menggambarkan techno-complexity. Ketidakpercayaan diri dalam penggunaan teknologi juga muncul, dengan 10 guru merasa tertinggal dari rekan yang lebih terbiasa menggunakan perangkat digital, mencerminkan techno-insecurity. Perubahan sistem teknologi yang cepat dan kurangnya sosialisasi menimbulkan techno-uncertainty pada 13 guru. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan infrastruktur, terutama akses internet yang hanya mencapai kecepatan 5 Mbps atau kurang. Sebagai perbandingan, sekolah di pusat kecamatan memiliki kecepatan hingga 50 Mbps atau lebih, sementara di kabupaten dapat mencapai 500 Mbps (Pusdatin, 2. Ketimpangan ini menghambat pemanfaatan platform pembelajaran daring dan pelatihan guru, sehingga memperbesar kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah terpencil dan perkotaan (Rahayu et al. , 2. Selain itu, keterbatasan akses tersebut juga menjadi hambatan besar dalam pemerataan kualitas pembelajaran, terutama Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. di wilayah 3T . ertinggal, terpencil, dan terdepa. yang masih tertinggal secara digital (Ulfa. Dalam konteks ini, penting untuk memahami faktor-faktor psikologis yang memengaruhi penerimaan guru terhadap teknologi. Salah satu model yang dapat menjelaskan hal ini adalah Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis, . Model ini menekankan dua faktor utama, yaitu perceived usefulness (PU) dan perceived ease of use (PEOU), yang menentukan sejauh mana seseorang menerima dan menggunakan Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang merasa teknologi tersebut bermanfaat (PU), maka tingkat technostress yang mereka alami cenderung lebih rendah (Sahrizal et al. , 2. Demikian pula, persepsi bahwa teknologi mudah digunakan (PEOU) juga berkorelasi negatif dengan tingkat technostress yang dirasakan pengguna (Sobandi et al. Persepsi terhadap kemudahan dan kegunaan teknologi berkontribusi besar terhadap kesiapan guru dalam mengimplementasikan teknologi dalam pembelajaran (Anindita et al. Bahkan, dimensi dalam TAM ditemukan menyumbang hingga 83% terhadap technostress, baik secara langsung maupun tidak langsung (Effiyanti et al. , 2. Namun, hingga kini belum banyak penelitian yang secara spesifik mengkaji keterkaitan antara TAM dan technostress pada guru di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur seperti Panti Timur. Berdasarkan fenomena tersebut dan penelitian terdahulu, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai tingkat technostress dan Technology Acceptance Model (TAM) pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Kemudian, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis kontribusi Technology Acceptance Model (TAM), yang terdiri dari lima dimensi utama yaitu Perceived Usefulness (PU). Perceived Ease of Use (PEOU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU), terhadap tingkat technostress yang dialami oleh para guru, baik secara simultan maupun parsial. KAJIAN TEORITIS Technostress Technostress didefinisikan oleh Brod . , sebagai penyakit adaptasi modern yang timbul akibat ketidakmampuan individu untuk beradaptasi dengan teknologi baru secara Stres ini muncul ketika perkembangan teknologi mengharuskan penyesuaian fisik, sosial, dan kognitif yang berkelanjutan, yang dapat menyebakan kelelahan dan frustrasi (Wang et al. , 2. Ragu-Nathan et al. , mendefinisikan technostress sebagai tekanan yang dialami individu karena ketidakmampuan untuk beradaptasi atau menggunakan Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur teknologi informasi dan komunikasi secara efektif. Hal ini terjadi ketika teknologi menjadi terlalu menuntut, memaksa individu untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan Technostress muncul ketika individu merasa terbebani oleh perubahan teknologi yang cepat, yang memerlukan usaha ekstra untuk belajar dan mengikuti perkembangan teknologi tersebut (Ragu-Nathan et al. , 2008. Ayyagari . , menekankan bahwa technostress terjadi ketika individu merasa tertekan oleh beban kerja tambahan yang disebabkan oleh teknologi dan kesulitan dalam menjaga work-life balance. Mereka mengidentifikasi sumber utama technostress sebagai sifat teknologi yang invasif, yang mengharuskan keterlibatan konstan dari pengguna, yang pada gilirannya meningkatkan stres, kelelahan, dan potensi burnout. Ketidakpastian mengenai perkembangan teknologi juga menjadi faktor yang memperburuk tingkat stres yang dialami individu (Ayyagari, 2. Secara keseluruhan, technostress adalah tekanan psikologis dan fisik yang dialami individu karena ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan teknologi baru secara efektif. Hal ini timbul akibat tuntutan perubahan teknologi yang cepat dan terus-menerus, yang mengharuskan individu untuk melakukan penyesuaian yang mempengaruhi keseimbangan fisik, sosial, dan kognitif mereka. Technology Acceptance Model (TAM) Technology Acceptance Model (TAM) merupakan model yang digunakan untuk memahami penerimaan teknologi informasi oleh penggunanya. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Davis . , merupakan adaptasi dari Theory of Reasoned Action (TRA) yang diperkenalkan oleh Fishbein & Ajzen . , kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam Theory of Planned Behavior (TPB) oleh Ajzen . TAM bertujuan untuk menjelaskan faktor- faktor yang memengaruhi seseorang dalam menerima dan menggunakan sistem teknologi informasi. Model ini fokus pada hubungan antara kepercayaan, sikap, niat, dan perilaku pengguna dalam adopsi teknologi (Nasri & Charfeddine, 2. Dua konstruk utama dalam TAM yang menjadi faktor penentu penerimaan teknologi adalah persepsi kegunaan . erceived usefulnes. dan persepsi kemudahan penggunaan . erceived ease of us. Persepsi kegunaan mengacu pada sejauh mana seseorang percaya bahwa penggunaan teknologi dapat meningkatkan kinerja atau produktivitasnya, sementara persepsi kemudahan penggunaan mengacu pada keyakinan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan tanpa usaha yang besar (Davis,1. Kemudian Davis Bagozzi, & Warshaw . , mengembangkan lagi teori TAM menjadi lima dimensi, meliputi Perceived Usefulness Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. (PU). Perceived Ease of Use (PEOU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU), yang bersama-sama membentuk kerangka konseptual dalam memahami keputusan individu dalam menerima dan menggunakan TAM mengasumsikan bahwa keyakinan terhadap kegunaan dan kemudahan penggunaan merupakan faktor utama dalam mengadopsi teknologi. Model ini tidak hanya menjelaskan penerimaan teknologi secara umum, tetapi juga bagaimana faktor eksternal dapat memengaruhi keyakinan, sikap, dan niat pengguna dalam menggunakan teknologi baru (Purwanto & Budiman, 2. Oleh karena itu. TAM menjadi model yang banyak digunakan dalam literatur terkait adopsi teknologi informasi dan komunikasi (Nasri & Charfeddine. Hipotesis Berdasarkan pemaparan kajian teori diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini, yaitu: : Tidak terdapat kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Ha : Terdapat kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. H0 : Tidak terdapat kontribusi Perceived Usefulness (PU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Ha : Terdapat kontribusi Perceived Usefulness (PU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. H0 : Tidak terdapat kontribusi Perceived Ease of Use (PEU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Ha : Terdapat kontribusi Perceived Ease of Use (PEU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. H0 : Tidak terdapat kontribusi Attitude Toward Using (ATU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Ha : Terdapat kontribusi Attitude Toward Using (ATU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. H0 : Tidak terdapat kontribusi Behavioral Intention to Use (BI) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Ha : Terdapat kontribusi Behavioral Intention to Use (BI) terhadap technostress pada Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. H0 : Tidak terdapat kontribusi Actual System Use (AU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Ha : Terdapat kontribusi Actual System Use (AU) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Technology Acceptance Model (TAM) dan technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SDN di wilayah Panti Timur yang berjumlah 70 orang, berdasarkan data dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) tahun 2024. Karena jumlah populasi kurang dari 100, teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan sampel (Sugiyono, 2. Penelitian ini memiliki dua variabel utama, yaitu Technology Acceptance Model sebagai variabel bebas, terdiri dari lima dimensi yakni Perceived Usefulness (PU). Perceived Ease of Use (PEOU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU). Technostress sebagai variabel terikat, terdiri lima aspek yaitu Technooverload. Techno-invasion. Techno-complexity. Techno-insecurity, dan Techno-uncertainty (Ragu-Nathan et al. , 2. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisioner. Skala technostress yang digunakan merupakan versi Bahasa Indonesia yang telah diadaptasi oleh Subchi et al. terdiri dari 20 aitem. Sementara itu, skala TAM disusun oleh peneliti berdasarkan lima dimensi utama, dan terdiri dari 25 aitem. Validitas isi untuk kedua instrumen diperoleh melalui evaluasi ahli, sedangkan validitas konstruk technostress diuji dengan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA). Untuk skala TAM, validitas diuji menggunakan analisis korelasi Pearson. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa sebagian besar aitem pada kedua instrumen memenuhi kriteria validitas. Reliabilitas instrumen diuji dengan menghitung koefisien CronbachAos Alpha, dengan hasil sebesar 0,920 untuk technostress dan 0,888 untuk TAM, yang menunjukkan bahwa kedua instrumen memiliki reliabilitas tinggi. Uji daya diskriminasi dilakukan melalui korelasi item-total, dengan acuan nilai r Ou 0,30 sebagai indikator aitem yang memiliki daya diskriminasi memadai (Azwar, 2. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Teknik analisis data dengan menggunakan regresi linear berganda, sebelum itu dilakukan uji asumsi klasik, yaitu uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov, uji linearitas untuk memastikan hubungan antara TAM dan technostress bersifat linier, uji multikolinearitas dengan indikator VIF < 10 dan Tolerance > 0,10, serta uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser. Setelah semua asumsi terpenuhi, dilakukan uji hipotesis menggunakan regresi linear berganda untuk melihat kontribusi TAM terhadap technostress, dengan signifikansi . < 0,. sebagai dasar pengambilan keputusan. Selain itu, nilai koefisien determinasi (RA) dihitung untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti melakukan pengambilan data pada 26Ae29 April 2025 di delapan Sekolah Dasar Negeri yang berada di wilayah Panti Timur, yaitu SDN 03 Kuamang. SDN 04 Lundar. SDN 08 Kuamang. SDN 10 Lundar. SDN 12 Kuamang. SDN 16 Kuamang. SDN 19 Kuamang, dan SDN 23 Kuamang. Proses pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner secara langsung ke sekolah-sekolah tersebut, setelah meminta izin kepada kepala sekolah masingmasing. Setelah mendapatkan izin, kuesioner kemudian dibagikan kepada para guru. Tabel 1. Demografi Responden Keterangan Jumlah Persentase 20 Ae 29 30 Ae 39 40 Ae 49 50 Ae 59 11,43% 41,43% 28,57% 18,5sc7% Pria Wanita 21,43% 78,57% Usia Jenis Kelamin Pendidikan 1,43% 95,71% 2,86% Berdasarkan Tabel 1. Demografi Responden menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan . ,57%) dan berusia 30Ae39 tahun . ,43%), dengan tingkat pendidikan terakhir S1 . ,71%). Komposisi ini mencerminkan dominasi guru usia produktif dengan latar belakang pendidikan sarjana. Variasi usia menunjukkan perbedaan kesiapan dalam menerima Guru muda cenderung lebih adaptif terhadap teknologi, sementara guru senior menghadapi lebih banyak tantangan. Hal ini sejalan dengan Rahmawati . , yang menemukan bahwa technostress lebih tinggi pada guru berusia 49Ae59 tahun karena Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur keterbatasan adaptasi digital dan kurangnya pelatihan. Tingkat pendidikan S1 memberi dasar pemahaman teknologi, namun tidak otomatis menurunkan technostress. Menurut Effiyanti et . , penerimaan teknologi juga dipengaruhi oleh pengalaman, pelatihan, dan dukungan Hal ini menegaskan bahwa technostress tidak hanya disebabkan oleh rendahnya TAM, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor demografi yang tidak bisa diubah secara instan. Tabel 2. Rerata Hipotetik dan Rerata Empirik Variabel Hipotetik Technology Acceptance Model Technostress Empirik Min Max Mean Min Max Mean 7,83 41,74 7,26 Penilaian skala Technology Acceptance Model (TAM) terdiri dari 20 butir dengan rentang skor 20Ae80, mean hipotetik 50, dan SD 10. Hasil menunjukkan mean empirik sebesar 64,9 dan SD 7,83. Artinya, tingkat penerimaan teknologi guru di lapangan lebih tinggi dari asumsi awal, dengan variasi skor yang rendah dan cenderung seragam. Sementara itu, skala technostress terdiri dari 19 butir dengan rentang skor 19Ae76, mean hipotetik 47,5, dan SD 9,5. Mean empirik sebesar 41,74 dan SD 7,26 menunjukkan bahwa technostress guru lebih rendah dari asumsi awal, dengan tingkat keragaman skor yang juga rendah. Selanjutnya hasil ini dapat mengkategorikan tingkat technostress dan Technology Acceptance Model (TAM) pada subjek. Tabel 3. Kategorisasi Data Variabel Technology Acceptance Model Dimensi Skor Kategorisasi Jumlah Persentase Perceived Usefulness 15 < X 10 < X < 15 X < 10 6 0,05, yang menunjukkan bahwa data penelitian ini berdistribusi normal. Uji Linearitas Tabel 5. Hasil Uji Linearitas Perceived Usefulness* Technostress Perceived Ease of Use* Technostress Attitude Toward Using* Technostress Behavioral Intention Use* Linearity Deviation from Linearity Linearity Deviation from Linearity Linearity Deviation from Linearity Linearity Sig 41,708 2,195 76,481 4,060 70,986 1,426 51,064 0,000 0,055 0,000 0,211 0,000 0,121 0,000 Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Technostress Actual System Use*Technostress Deviation from Linearity Linearity Deviation from Linearity 70,968 1,426 0,105 0,000 0,211 Data penelitian dapat dikatakan linear jika kedua variabel memiliki nilai signifikansi < 0,05. Uji linearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 25 dengan melihat nilai linearity. Dapat dilihat bahwa nilai signifikansi Perceived Usefulness (PU). Perceived Ease of Use (PEU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU) sebesar 0,000 < 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang linear antara dimensi Technology Acceptance Model (TAM) dan technostress. Uji Multikolinearitas Tabel 6. Hasil Uji Multikolinearitas Aspek X Tolerance VIF Perceived Usefulness 0,423 2,361 Perceived Ease of Use 0,455 2,199 Attitude Toward Using 0,300 3,329 Behavioral Intention to Use 0,328 3,050 Actual System Use 0,327 3,057 Data yang tidak mempunyai multikolinearitas merupakan suatu data regresi yang Untuk menguji multikolinearitas dilihat dari nilai VIF. Jika nilai VIF < 10 atau tolerance > 0,100 maka tidak terjadi multikolinearitas. Nilai tolerance pada dimensi perceived usefulness 0,423 > 0,100 dan VIF 2,361 < 10. Pada dimensi perceived ease of use nilai tolerance 0,455 > 0,100 dan VIF 2,199 < 10. Pada dimensi attitude toward using nilai tolerance 0,300 > 0,100 dan VIF 3,329 < 10. Pada dimensi behavioral intention to use nilai tolerance 0,328 > 0,100 dan VIF 3,050 < 10. Pada dimensi actual system use nilai tolerance 0,327 > 0,100 dan VIF 3,057 < 10. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, tidak adanya multikolinearitas pada kelima dimensi dari variabel Technology Acceptance Model (TAM). Uji Heterokedastisitas Tabel 7. Hasil Uji Heterokedastisitas Dimensi X Sig Perceived Usefulness 0,268 Perceived Ease of Use 0,227 Attitude Toward Using 0,115 Behavioral Intention to Use 0,164 Actual System Use 0,564 Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur Uji heterokedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser. Jika nilai signifikansi > 0,05 berarti tidak terdapat masalah heterokedastisitas dalam penelitian Berdasarkan hasil pada tabel diatas, diperoleh nilai signifikansi untuk mesingmasing dimensi sebagai berikut. Dimensi Perceived Usefulness (PU) sebesar 0,268. Perceived Ease of Use (PEU) sebesar 0,227. Attitude Toward Using (ATU) sebesar 0,115. Behavioral Intention to Use (BI) sebesar 0,164, dan Actual System Use (AU) sebesar 0,564. Seluruh nilai tersebut > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa, tidak terdapat gejala heterokedastisitas pada kelima dimensi dalam variabel Technology Acceptance Model (TAM). Uji Hipotesis . Uji Determinasi (R-Squar. Tabel 8. Hasil Uji Regresi Linear Berganda Model Summary R Square 0,774 0,599 Adjust R Square 0,568 Hipotesis dalam penelitian ini diuji menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui kontribusi masing-masing dimensi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap tingkat technostress, dengan bantuan program SPSS versi 25. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda, diperoleh nilai koefisien determinasi (R Squar. sebesar 0,599 yang menunjukkan bahwa kelima dimensi dalam Technology Acceptance Model (TAM), yaitu Perceived Usefulness (PU). Perceived Ease of Use (PEOU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU), secara bersama-sama memberikan pengaruh terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur sebesar 59,9%. Adapun sisanya sebesar 40,1%, dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar dari model penelitian ini. Uji F (Simulta. Tabel 9. Hasil Uji F Simultan ANOVA Model Regression 19,123 Sig 0,000 Berdasarkan tabel 9, diperoleh nilai F hitung sebesar 19,123 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (P< 0,. Hal ini menunjukkan secara simultan, kelima dimensi dalam Technology Acceptance Model (TAM), yaitu Perceived Usefulness (PU). Perceived Ease of Use (PEOU). Attitude Toward Using (ATU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU) berpengaruh secara signifikan Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. terhadap technostress. Dengan demikian, hipotesis alternatif (Ha. diterima, yang menyatakan bahwa terdapat kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Dengan kata lain, dimensi dalam Technology Acceptance Model (TAM) bekerja secara bersama-sama dalam mempengaruhi technostress pada guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur. Sejalan dengan penelitian Effiyanti et al. , mengungkapkan bahwa TAM menjelaskan hingga 83% variasi tingkat technostress pada guru, yang menunjukkan bahwa cara guru memandang teknologi memiliki pengaruh besar terhadap tekanan yang mereka alami dalam penggunaannya. Uji t . Tabel 10. Hasil Uji T Parsial Coefficient Model Constant Perceived Usefulness Perceived Ease of Use Attitude Toward Using Behavioral Intention to Use Actual System Use 83,389 -0,473 -1,916 -1,252 0,020 0,197 16,655 -1,007 -3,200 0,039 0,264 Sig 0,000 0,318 0,002 0,005 0,969 0,793 Berdasarkan hasil uji parsial, ditemukan bahwa hanya dua dimensi TAM yang berpengaruh signifikan terhadap technostress, yaitu Perceived Ease of Use (PEOU) dan Attitude Toward Using (ATU). Dimensi Perceived Ease of Use (PEOU) memiliki nilai signifikansi sebesar 0,002 dengan koefisien regresi -1,916. Hubungan negatif ini menunjukkan bahwa semakin mudah teknologi digunakan, maka semakin rendah tingkat stres yang dirasakan oleh guru. Temuan ini mendukung kerangka teori TAM, di mana PEOU berperan penting dalam meningkatkan penerimaan individu terhadap teknologi serta mengurangi hambatan psikologis saat menggunakannya. Hasil penelitian ini juga konsisten dengan temuan Anindita et al. , yang menyatakan bahwa PEOU berpengaruh negatif dan signifikan terhadap technostress guru selama masa pandemi. Tiga dimensi TAM lainnya, yaitu Perceived Usefulness (PU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU), tidak berpengaruh signifikan terhadap technostress. Meskipun PU berada pada kategori tinggi, manfaat yang dirasakan belum cukup mereduksi tekanan yang muncul akibat kendala teknis atau beban kerja, sejalan dengan temuan Hartono & Wulandari . BI juga tinggi, namun niat untuk menggunakan teknologi tidak otomatis menurunkan technostress tanpa dukungan pelatihan dan infrastruktur memadai (Anindita et al. , 2. Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur Sementara itu. AU dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketersediaan sistem dan dukungan organisasi (Hartono, 2. Meskipun mayoritas guru telah aktif menggunakan teknologi, belum semua memperoleh pengalaman penggunaan yang . Persamaan Regresi Y = a bX1 cX2 dX3 eX4 fX5 Y = 83, 389 Ae 0,473X1 Ae 1,916X2 Ae 1,252X3 0,020X4 0,197X5 Koefisien regresi Perceived Ease of Use (PEOU) (X. sebesar -1,916 berarti bahwa setiap peningkatan PEOU sebesar 1 satuan akan menurunkan technostress sebesar 1,916 satuan. Koefisien ini signifikan secara statistik . =0,. , yang menunjukkan bahwa PEOU memiliki kontribusi nyata dalam menurunkan technostress pada guru, maka H02 ditolak dan Ha2 diterima. Selanjutnya Attitude Toward Using (ATU) (XCE) memiliki koefisien regresi sebesar -1,252, yang berarti peningkatan sikap positif terhadap ATU sebesar 1 satuan akan menurunkan technostress sebesar 1,252 satuan. Hubungan ini juga signifikan . =0,. , menandakan adanya pengaruh negatif yang signifikan dari sikap terhadap penggunaan terhadap technostress. Maka dapat ditarik kesimpulan H03 ditolak dan Ha3 diterima. Sementara itu. Behavioral Intention to Use (BI) (XCE) memiliki koefisien sebesar 0,020 dengan nilai signifikansi yang tinggi sebesar 0,969 (>0,. yang menunjukkan bahwa BI tidak memiliki kontribusi yang signifikan terhadap technostress. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H04 diterima dan Ha5 ditolak. Begitu juga dengan dimensi Actual System Use (AU) (XCI) memiliki koefisien sebesar 0,197 dan nilai signifikansi 0,793 . >0,. yang menunjukkan AU tidak memiliki kontribusi yang signifikan terhadap technostress. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa H05 diterima dan Ha0 . Sumbangan efektif dan Relatif Tabel 11. Sumbangan efektif dan Relatif Dimensi PEOU ATU SE (%) 25,74 29,41 SR (%) 42,98 49,08 Perceived Ease of Use (PEOU) memberikan kontribusi efektif sebesar 25,74 % terhadap technostress. Attitude Toward Using (ATU) memberikan kontribusi efektif sebesar 29,4% terhadap technostress. Sumbangan relatif Perceived Ease of Use Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. (PEOU) sebesar 42,98%, dan Attitude Toward Using (ATU) sebesar 49,08% terhadap Secara keseluruhan, dimensi Perceived Ease of Use (PEOU) dan Attitude Toward Using (ATU) berperan penting dalam menekan technostress. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Teo . , yang menyebutkan Attitude Toward Using yang positif terhadap teknologi merupakan prediktor kuat dalam keberhasilan integrasi teknologi di sekolah. Lebih jauh lagi. Sobandi et al. , menegaskan bahwa penerapan TAM di lingkungan pendidikan dapat meningkatkan kesiapan guru dalam menghadapi digitalisasi. Guru yang memiliki attitude toward using yang positif dan perceived ease of use terhadap teknologi cenderung lebih percaya diri, sehingga mampu menjalani transformasi digital tanpa technostress yang signifikan. Oleh karena itu, penguatan Perceived Ease of Use (PEOU) dan Attitude Toward Using (ATU) terhadap teknologi menjadi strategi utama dalam membantu guru mengatasi technostress. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa technostress yang dialami guru Sekolah Dasar Negeri di wilayah Panti Timur berada pada kategori sedang. Sementara itu, secara umum Technology Acceptance Model (TAM) dengan dimensi Perceived Usefulness. Perceived Ease of Use. Attitude Toward Using. Behavioral Intention to Use, dan Actual System Use berada pada kategori tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun para guru cukup terbuka terhadap penggunaan teknologi, mereka tetap mengalami tekanan tertentu dalam mengadaptasi teknologi dalam praktik mengajar. Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa secara simultan kelima dimensi dalam TAM memberikan kontribusi signifikan terhadap technostress. Namun, secara parsial hanya Perceived Ease of Use (PEOU) dan Attitude Toward Using (ATU) yang memberikan kontribusi negatif dan signifikan, artinya semakin tinggi kemudahan penggunaan teknologi dan sikap positif terhadap penggunaannya, maka semakin rendah tingkat technostress yang dirasakan. Di sisi lain, dimensi Perceived Usefulness (PU). Behavioral Intention to Use (BI), dan Actual System Use (AU) tidak menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap technostress. Hal ini mengindikasikan bahwa persepsi terhadap manfaat teknologi maupun niat dan frekuensi penggunaan teknologi belum cukup memengaruhi tingkat tekanan digital yang dirasakan Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan agar para guru terus meningkatkan keterampilan dan kenyamanan dalam menggunakan teknologi, khususnya dengan Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur menumbuhkan persepsi bahwa teknologi mudah digunakan dan membentuk sikap positif terhadap penggunaannya. Pelatihan teknis yang bersifat praktis, terbimbing, dan berkelanjutan sangat diperlukan, disertai dengan praktik langsung dalam konteks pengajaran sehari-hari. Guru juga diharapkan dapat membangun rasa percaya diri dengan mengapresiasi pencapaian kecil saat berhasil menggunakan fitur teknologi tertentu, serta berkolaborasi dan berbagi pengalaman antarguru sebagai budaya positif dalam lingkungan sekolah. Bagi kepala sekolah dan instansi pendidikan, penting untuk memastikan ketersediaan fasilitas pendukung seperti perangkat teknologi dan akses internet yang merata agar semua guru di mana pun berada punya kesempatan yang sama untuk berkembang, serta menciptakan iklim kerja yang suportif melalui pendampingan, pelatihan terstruktur, dan apresiasi bagi inovasi yang dilakukan guru dalam penggunaan teknologi. Pendekatan ini diyakini mampu menurunkan technostress sekaligus meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis digital. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal cakupan wilayah dan variabel yang Oleh karena itu, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk memperluas wilayah penelitian serta memasukkan variabel kontekstual lainnya, seperti dukungan organisasi, budaya kerja, dan infrastruktur teknologi, guna memperoleh gambaran yang lebih holistik terkait technostress di lingkungan pendidikan. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan pengelompokan berdasarkan generasi atau usia guru, karena faktor ini berpotensi memengaruhi penerimaan teknologi dan tingkat technostress yang dialami. Pengelompokan berdasarkan usia dinilai lebih relevan dibandingkan masa kerja, mengingat keduanya memiliki korelasi yang tinggi dan dapat menimbulkan tumpang tindih dalam analisis. Dengan demikian, penelitian mendatang diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam serta rekomendasi yang lebih tepat sasaran dalam upaya mengurangi technostress di kalangan DAFTAR REFERENSI Adrian. Kompetensi guru di era revolusi industri 4. [Nama Jurna. , 14. , 175Ae Ajzen. Understanding attitudes and predicting social behavior. Englewood Cliffs: Prentice Hall. Anindita. Lukito. , & Amalia. Teachers and technostress during COVID-19 pandemic: A modification of technology acceptance model. Atlantis Press SARL. https://doi. org/10. 2991/978-2-38476-088-6_28 Ayyagari. Impact of information overload and task-technology fit on technostress. SAIS 2012 Proceedings, 18Ae22. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025 e-ISSN: 2828-9374. p-ISSN: 2828-9366. Hal. Azwar. Reliabilitas dan validitas. Pustaka Pelajar. Brod. Technostress: The human cost of the computer revolution. Addison-Wesley. Davis. Perceived usefulness, perceived ease of use, and user acceptance of information technology. MIS Quarterly, 13. , 319Ae340. Davis. Bagozzi. , & Warshaw. User acceptance of computer technology: A comparison of two theoretical models. Management Science, 35. , 982Ae1003. DeLone. , & McLean. The DeLone and McLean model of information systems success: A ten-year update. Journal of Management Information Systems, 19. , 9Ae30. Effiyanti. Stats. , & Sawiji. Pengaruh computer anxiety dan technology acceptance model (TAM) terhadap technostress pada guru SMK di Kabupaten Karanganyar. Jurnal Pendidikan Insan Mandiri, 1. , 13863. Fishbein. , & Ajzen. Belief, attitude, intention, and behavior: An introduction to theory and research. Addison-Wesley. Hartono. , & Wulandari. Pengaruh computer anxiety dan technology acceptance model (TAM) terhadap technostress pada karyawan koperasi di Kabupaten Ponorogo. Seminar Nasional dan Call for Paper i, 34Ae57. Mutia. Wosal. , & Monigir. Kesiapan guru dalam menghadapi tantangan pendidikan di bidang IPTEK. Jurnal Basicedu, 7. , 3571Ae3579. https://doi. org/10. 31004/basicedu. Nasri. , & Charfeddine. Factors affecting the adoption of internet banking in Tunisia: An integration theory of acceptance model and theory of planned behavior. Journal of High Technology Management Research, 23. , 1Ae14. https://doi. org/10. 1016/j. Purwanto. , & Budiman. Applying the technology acceptance model to investigate the intention to use e-health: A conceptual framework. Technology Reports of Kansai University, 62. , 2569Ae2580. Pusat Data dan Teknologi Informasi. Jumlah data satuan pendidikan (Dikda. per Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi. Retrieved November https://referensi. id/pendidikan/dikdas/080000/1 Ragu-Nathan. Tarafdar. Ragu-Nathan. , & Tu. The consequences of technostress for end users in organizations: Conceptual development and empirical Information Systems Research, 19. , 417Ae433. Rahmawati. Studi literatur review technostress (Doctoral dissertation. Universitas Jamb. Kontribusi Technology Acceptance Model (TAM) terhadap Technostress pada Guru Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Panti Timur Rahmawati. Pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap tingkat technostress: Studi empiris pada 40 responden. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 1. , 102Ae114. Sahrizal. Asmony. , & Wahyulina. The influence of perceived usefulness and perceived ease of use on technostress in court registrars at religious courts. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 10. , 171Ae180. Sobandi. Yuniarsih. Meilani. Supriyadi. Indriarti. , & Faldesiani. Penerapan model TAM dalam menganalisis kesiapan guru SMK untuk mengimplementasikan pendekatan micro-learning. Journal of Business Management Education, 6. , 32Ae40. Subchi. Muhammadiyah. Dewi. Nawar. Naim. , & Syukrilla. Technostress construct validity test with confirmatory factor analysis (CFA) Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia, 13. , 14Ae30. Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D . nd ed. Alfabeta. Teo. Factors influencing teachersAo intention to use technology: Model development Computers Education, 57. , 2432Ae2440. https://doi. org/10. 1016/j. Tria Rahayu. Pramuswari. Santya. Oktariani. , & Fatimah. Analisis hasil pengaruh perkembangan IPTEK terhadap hasil belajar siswa SD/MI. Hypothesis: Multidisciplinary Journal Social Sciences, 2. , 97Ae110. https://doi. org/10. 62668/hypothesis. Ulfa. Marginalisasi pendidikan siswa di daerah 3T: Studi kasus SMPN 3 Tempurejo Maria. Competitive: Journal of Education, 2. , 31Ae41. Wang. Zhang. Wang. Liu. , & Lv. Navigating technostress in primary schools: A study on teacher experiences, school support, and health. Frontiers in Psychology, 14, 1Ae16. Zebua. Analisis tantangan dan peluang guru di era digital. Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan, 3. , 21Ae28. Zewude. Mesfin. Sadouki. Ayele. Goraw. Segon. , & Hercz. A serial mediation model of Big 5 personality traits, emotional intelligence, and psychological capital as predictors of teachersAo professional well-being. Acta Psychologica, 250, 104046. https://doi. org/10. 1016/j. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan Ae VOLUME. NOMOR. 3 DESEMBER 2025