Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Peningkatan Pemahaman Iman Kepada Allah melalui Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) di SDN 03 Kampung Nan 6 Suci Ramadhani1. Musdalipah2 1 SDN 03 Kampung Nan 6 2 SDIT Darul Azzam Rao Correspondence: suciiramadhanni6@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Iman Kepada Allah. ProblemBased Learning. Religious Education. Elementary School. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve students' understanding of "Iman Kepada Allah" (Faith in Alla. at SDN 03 Kampung Nan 6 by implementing the Problem-Based Learning (PBL) The primary issue identified was the lack of deep understanding and the practical application of religious concepts, particularly the concept of faith in Allah, in students' everyday lives. The research was conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. The PBL model was chosen as it encourages students to actively engage with real-world problems, fostering critical thinking and collaboration while allowing them to connect their religious learning with real-life Data was collected through observations, quizzes, and reflective journals to assess the students' comprehension and changes in behavior. The findings suggest that PBL significantly enhances students' understanding of the concept of faith in Allah and strengthens their ability to apply this knowledge in their actions and decisions. This research highlights the effectiveness of using PBL in religious education to create a more meaningful and engaging learning experience for students. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pembelajaran iman kepada Allah di SDN 03 Kampung Nan 6 merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter siswa, namun sering kali mengalami tantangan dalam hal pemahaman mendalam dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Masalah utama yang ditemukan adalah siswa masih kesulitan dalam menghubungkan konsep iman dengan tindakan nyata dalam kehidupan mereka. Penelitian oleh Hidayati . menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang iman cenderung masih sebatas teori, dan mereka kesulitan untuk mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam interaksi sosial dan kehidupan sehari-hari (Hidayati, 2. Oleh karena itu, sangat penting untuk merancang pembelajaran yang dapat membuat siswa tidak hanya memahami konsep iman kepada Allah, tetapi juga dapat mengamalkannya dengan baik dalam kehidupan mereka. Selain itu, model pembelajaran yang selama ini digunakan di SDN 03 Kampung Nan 6 sering kali bersifat konvensional, dengan metode ceramah yang kurang melibatkan siswa secara aktif. Berdasarkan penelitian oleh Agung . , metode ceramah yang dominan dalam pembelajaran agama di sekolah dasar membuat siswa lebih pasif dan kurang dapat meresapi materi ajaran agama secara mendalam (Agung, 2. Model pembelajaran yang lebih aktif dan berbasis pada masalah yang nyata, seperti yang diterapkan dalam pembelajaran berbasis masalah (PBL), dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang iman kepada Allah dan aplikasinya dalam kehidupan mereka. Pembelajaran berbasis masalah (PBL) telah terbukti efektif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah siswa. Penelitian oleh Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Wahyuni dan Rahmadani . menunjukkan bahwa PBL mendorong siswa untuk lebih aktif berpikir dan menemukan solusi terhadap masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan nyata (Wahyuni & Rahmadani, 2. Dalam konteks pembelajaran iman kepada Allah, model ini dapat membantu siswa untuk memahami dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti dalam menghadapi tantangan moral atau sosial. Dengan demikian. PBL dapat menghubungkan antara materi agama yang diajarkan di kelas dengan pengalaman dan masalah nyata yang dihadapi siswa. Meskipun demikian, penerapan PBL tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang dihadapi adalah kesiapan guru dalam merancang dan mengelola pembelajaran yang berbasis masalah. Penelitian oleh Nuryana dan Rahayu . menemukan bahwa guru yang belum terlatih dalam mengelola PBL cenderung mengalami kesulitan dalam mengatur dinamika kelas dan memastikan setiap siswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok (Nuryana & Rahayu, 2. Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan yang memadai bagi guru agar mereka dapat menerapkan PBL dengan efektif dalam mengajarkan materi iman kepada Allah. Selain itu, hasil observasi di SDN 03 Kampung Nan 6 menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam pembelajaran agama, khususnya dalam memahami iman kepada Allah, sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga dan lingkungan sosial mereka. Penelitian oleh Azizah dan Hidayat . mengungkapkan bahwa siswa yang mendapatkan dukungan dari keluarga dalam belajar agama lebih mudah memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah (Azizah & Hidayat, 2. Oleh karena itu, sekolah perlu bekerja sama dengan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran iman kepada Allah, baik di sekolah maupun di rumah. Salah satu tantangan lain dalam pembelajaran iman kepada Allah adalah perbedaan tingkat pemahaman di antara siswa. Beberapa siswa mungkin sudah memiliki pemahaman yang baik tentang iman dan aplikasinya, sementara yang lain masih membutuhkan bimbingan lebih Penelitian oleh Sania . menunjukkan bahwa perbedaan kemampuan siswa dalam memahami materi agama sering kali menjadi hambatan dalam pembelajaran agama di sekolah dasar (Sania, 2. Dalam penerapan PBL, penting untuk membentuk kelompok yang heterogen, agar siswa dengan kemampuan lebih tinggi dapat membantu teman-teman mereka yang membutuhkan pemahaman lebih dalam. Penggunaan media pembelajaran yang relevan juga memainkan peran penting dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap iman kepada Allah. Penelitian oleh Fadhilah et al. menunjukkan bahwa media pembelajaran yang berbasis teknologi, seperti video atau aplikasi interaktif, dapat membantu siswa memahami materi agama dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami (Fadhilah et al. , 2. Di SDN 03 Kampung Nan 6, penggunaan media seperti video tentang kisah-kisah nabi atau tentang penerapan nilai iman dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan memperkuat pemahaman siswa. Selain media, pendekatan pembelajaran yang melibatkan pengalaman nyata juga dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang iman kepada Allah. Penelitian oleh Salim dan Widodo . menyebutkan bahwa pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan dapat memperkuat pemahaman mereka tentang nilai-nilai agama, seperti saling tolong-menolong dan menghormati sesama (Salim & Widodo, 2. Di SDN 03 Kampung Nan 6, kegiatan seperti penggalangan dana untuk kebutuhan sosial atau kegiatan amal dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan siswa tentang iman kepada Allah secara langsung. Melalui PBL, siswa tidak hanya akan belajar teori, tetapi juga dilibatkan dalam pengalaman langsung yang memungkinkan mereka mengaitkan nilai iman dengan kehidupan sehari-hari. Penelitian oleh Wulandari dan Rahmadani . menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengaitkan pengetahuan yang mereka Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pelajari dengan situasi nyata yang mereka hadapi (Wulandari & Rahmadani, 2. Dalam konteks iman kepada Allah. PBL dapat membuat siswa lebih memahami bagaimana mereka dapat menunjukkan keimanan mereka dalam interaksi sehari-hari, seperti dengan menghormati orang tua, membantu teman, dan berperilaku jujur. Penerapan PBL juga dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan kreatif. Siswa didorong untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi, baik itu masalah sosial, moral, atau pribadi. Penelitian oleh Fitrotul Hasanah . menunjukkan bahwa PBL dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam konteks pembelajaran agama (Hasanah, 2. Dalam hal ini, siswa tidak hanya diajarkan tentang iman kepada Allah, tetapi juga dilatih untuk berpikir lebih reflektif mengenai bagaimana mereka dapat memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik berdasarkan ajaran agama. Salah satu hal yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pentingnya evaluasi yang holistik dalam menilai pemahaman siswa terhadap iman kepada Allah. Penelitian oleh Sulaiman dan Lestari . menunjukkan bahwa penilaian yang hanya mengandalkan tes tertulis tidak cukup untuk mengukur pemahaman siswa dalam pembelajaran agama (Sulaiman & Lestari. Oleh karena itu, evaluasi dalam pembelajaran iman kepada Allah perlu melibatkan penilaian sikap, perilaku, dan aplikasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini akan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai pemahaman dan pengamalan iman mereka. Refleksi yang dilakukan oleh guru setelah setiap siklus PBL menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya terletak pada metode yang digunakan, tetapi juga pada keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian oleh Nuryana dan Rahayu . menyebutkan bahwa pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam diskusi, kegiatan praktik, dan refleksi dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai agama (Nuryana & Rahayu, 2. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk terus mengembangkan metode pembelajaran yang memfasilitasi keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Secara keseluruhan, penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dalam pembelajaran iman kepada Allah di SDN 03 Kampung Nan 6 terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai agama oleh siswa. Meskipun ada beberapa tantangan, seperti pengelolaan dinamika kelas dan perbedaan kemampuan siswa. PBL memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang iman dan aplikasinya dalam kehidupan mereka. Pembelajaran yang berbasis pengalaman nyata dan relevansi dengan kehidupan siswa akan lebih mudah dipahami dan diinternalisasi dalam diri RESEARCH METHODS Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa SDN 03 Kampung Nan 6 terhadap materi Iman kepada Allah dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL). PTK dipilih karena pendekatannya yang memungkinkan peneliti untuk melakukan perubahan langsung pada praktik pembelajaran di kelas melalui siklus yang terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus dilakukan untuk mengidentifikasi masalah, melaksanakan intervensi, mengamati hasil, dan merencanakan perbaikan yang diperlukan di siklus berikutnya. Dengan menggunakan PTK, proses pembelajaran dapat dievaluasi secara terus-menerus untuk memastikan bahwa pemahaman siswa terhadap Iman kepada Allah dapat meningkat dengan optimal. Pada tahap perencanaan, peneliti bekerja sama dengan guru untuk merancang rencana pembelajaran yang melibatkan model PBL. Dalam perencanaan ini, peneliti menyusun tujuan pembelajaran yang jelas, menetapkan topik yang akan dibahas, dan merancang aktivitas yang memungkinkan siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah nyata yang terkait dengan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 konsep iman kepada Allah. Rencana ini juga mencakup strategi pengelolaan kelas, penentuan kelompok siswa, serta alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur peningkatan pemahaman dan penerapan nilai iman dalam kehidupan sehari-hari siswa. Model PBL dipilih karena mendorong siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama dalam kelompok, dan mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam situasi yang lebih relevan dengan kehidupan mereka. Pelaksanaan tindakan merupakan tahap kedua, di mana rencana pembelajaran yang telah disusun dilaksanakan di dalam kelas. Pada tahap ini, guru dan peneliti bersama-sama memfasilitasi diskusi kelompok dan kegiatan yang mendorong siswa untuk menemukan solusi terhadap masalah yang berkaitan dengan iman kepada Allah. Siswa diberikan tugas yang memungkinkan mereka untuk berdiskusi dalam kelompok kecil, mencari jawaban bersama, dan menerapkan konsep-konsep iman yang telah mereka pelajari. Guru bertindak sebagai fasilitator yang memantau proses pembelajaran, memberikan arahan, dan memberikan umpan balik terhadap hasil diskusi kelompok. Peneliti juga mengamati interaksi siswa dalam kelompok dan sejauh mana mereka dapat menerapkan nilai iman dalam tindakan nyata mereka. Pada tahap observasi, peneliti mengamati jalannya pembelajaran dan mencatat data tentang keterlibatan siswa, perkembangan pemahaman, serta perubahan sikap dan perilaku mereka terhadap nilai iman kepada Allah. Observasi dilakukan untuk mengukur sejauh mana siswa terlibat dalam diskusi kelompok, serta bagaimana mereka mampu menghubungkan pengetahuan agama dengan kehidupan sehari-hari mereka. Data yang diperoleh dari observasi ini akan digunakan untuk mengevaluasi apakah tujuan pembelajaran tercapai dan seberapa efektif model PBL dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang iman kepada Allah. Peneliti juga mencatat dinamika kelompok, seperti bagaimana siswa yang lebih aktif dapat membantu teman mereka yang lebih pendiam dalam memahami materi, yang merupakan bagian dari kolaborasi yang mendalam dalam pembelajaran berbasis masalah. Tahap terakhir adalah refleksi, yang dilakukan setelah pengamatan dan evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini, peneliti dan guru bersama-sama menganalisis data yang telah dikumpulkan dari observasi, tes, dan umpan balik siswa untuk menilai efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan. Berdasarkan analisis ini, peneliti dan guru merencanakan perbaikan yang diperlukan untuk siklus berikutnya, seperti memperbaiki pengelolaan kelompok, meningkatkan kualitas tugas yang diberikan, atau memperkaya materi dengan media pembelajaran yang lebih variatif. Refleksi ini penting untuk memastikan bahwa setiap siklus membawa peningkatan dalam pemahaman dan penerapan iman kepada Allah oleh Dengan demikian. PTK memberikan kesempatan untuk perbaikan berkelanjutan dalam pembelajaran agama yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian menunjukkan bahwa penerapan model PBL pada materi Pendidikan Agama Islam khususnya topik AuIman Kepada AllahAy di SDN 03 Kampung Nan 6 berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sebelum intervensi, banyak siswa yang hanya pasif menerima materi, melakukan hafalan semata tanpa mampu mengaitkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran PAI yang dominan ceramah membuat siswa kurang aktif (Aziz et al. , 2. Setelah penggunaan PBL, siswa mulai aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi dalam kelompok, dan mencari solusi atas masalah terkait iman mereka Ae misalnya Aubagaimana saya bisa yakin kepada Allah ketika mendapatkan ujianAy. Hal ini menunjukkan bahwa PBL mampu mengubah pola belajar dari penerimaan pasif menjadi pencarian aktif. Kemudian, temuan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep iman kepada Allah. Siswa sebelumnya hanya mengenal secara teks bahwa Aupercaya kepada AllahAy, tetapi setelah intervensi mereka mampu menjelaskan alasan, makna, dan implikasi dari iman tersebut Ae misalnya, bagaimana iman mempengaruhi sikap dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 dengan penelitian mengenai internalisasi iman dan taqwa melalui model pembelajaran yang relevan pada usia SD (Supriyadi, 2. Di SDN 03 Kampung Nan 6, siswa mampu mengaitkan materi iman dengan contoh konkret Ae seperti bersyukur ketika mendapat hasil belajar, atau meminta pertolongan kepada Allah ketika menghadapi kesulitan. Dengan demikian, tidak hanya aspek kognitif terangkat, tetapi juga aplikasi nilai. Motivasi belajar siswa terhadap materi iman kepada Allah juga meningkat secara signifikan. Sebelum penerapan PBL, siswa menganggap materi agama sebagai tugas tambahan yang kurang menarik. Namun setelah kegiatan PBLAiyang melibatkan skenario kehidupan nyata, diskusi kelompok, dan refleksi pribadiAisiswa menunjukkan antusiasme yang lebih tinggi. Penelitian oleh Wahyuni & Rahmadani . menemukan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PBL) mampu meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa dalam mata pelajaran Di lapangan, guru melaporkan bahwa kelas menjadi lebih hidup. siswa aktif menyelesaikan tugas, berkontribusi dalam diskusi, dan merasa materi iman menjadi AuberartiAy dalam hidup mereka. Dalam aspek afektif, hasil penelitian mengungkap bahwa siswa menunjukkan perubahan sikap terhadap keyakinan mereka. Beberapa siswa melaporkan bahwa mereka lebih cepat meminta pertolongan kepada Allah saat menghadapi kesulitan, meningkatkan rasa syukur, dan lebih sikap rendah hati. Hasil ini mirip dengan studi pembentukan keimanan berbasis prophetic learning yang menunjukkan bahwa pembelajaran iman secara kontekstual mempengaruhi perilaku siswa (Hamidah, 2. Meski pengukuran sikap lebih kompleks, pengamatan guru dan catatan refleksi menunjuk arah positif: siswa tidak hanya tahu tentang iman tetapi mulai hidup dalam iman tersebut. Namun terdapat hambatan dalam pelaksanaan. Beberapa siswa tampak kesulitan ketika harus memecahkan masalah yang bersifat abstrak seperti Aubagaimana saya yakin Allah selalu melihat sayaAy. Penelitian oleh Nuryana & Rahayu . menegaskan bahwa siswa yang kurang terbiasa dengan pembelajaran aktif membutuhkan scaffolding lebih banyak dari guru. SDN 03 Kampung Nan 6, guru harus memberi panduan yang lebih intensif bagi siswa yang dominan pasif agar mereka memperoleh kepercayaan diri dalam berdiskusi dan memecahkan Ini menunjukkan bahwa penerapan PBL bukan tanpa tantangan: kesiapan siswa, ekosistem pembelajaran, dan bimbingan guru sangat penting. Analisis kelompok menunjukkan bahwa pembagian kelompok yang heterogen . emampuan berbed. memberikan keuntungan. Kelompok dengan siswa yang lebih mahir bersama siswa yang masih lemah memungkinkan peerAateaching dan saling bantu, mempercepat pemahaman. Hal ini didukung oleh temuan bahwa kelompok heterogen dalam model kolaboratif memperkuat hasil belajar (Lastia, 2. Di lapangan, guru SDN 03 melakukan rotasi peran dan memastikan setiap siswa mendapat kesempatan berbicara, menyampaikan solusi, dan bertanggung jawab. Praktik ini terbukti meningkatkan partisipasi kelompok secara Media pembelajaran juga terbukti sebagai faktor penting dalam efektivitas PBL. Siswa yang bekerja dengan skenario video, studi kasus nyata, dan lembar kerja kontekstual lebih cepat mengaitkan materi iman kepada Allah dengan pengalaman mereka. Hal ini sesuai dengan hasil studi AuIntegrasi Iman dan IlmuAy yang menyebut bahwa pembelajaran kontekstual dan media inovatif membantu siswa memahami iman (Pratiwi, 2. Guru di SDN 03 menggunakan video pendek kisah nabi, refleksi pengalaman, dan diskusi kelompok Ae yang membuat materi menjadi hidup dan bukan sekadar teks. Penilaian hasil belajar menunjukkan kenaikan positif. Nilai rata-rata tes awal dan tes pasca-intervensi meningkat signifikan. Contohnya, sekelompok siswa yang awalnya rata-rata 65 naik menjadi 82 setelah dua siklus PBL. Kajian terdahulu mengenai materi iman kepada rasul di SD menyebut peningkatan serupa setelah intervensi pembelajaran aktif Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 (Fatonah, 2. Data ini memperkuat bahwa metode PBL dapat meningkatkan hasil belajar dalam konteks PAI khususnya iman kepada Allah. Sisi evaluasi afektif juga menunjukkan perkembangan. Guru menggunakan rubrik perilaku dan refleksi siswa tentang iman Ae misalnya Aukemudian saya membantu orang tua saya sebagai bentuk keimanan kepada AllahAy. Siswa yang semula pasif kini aktif melaporkan tindakan mereka dalam jurnal refleksi, lalu berbagi dengan teman kelompok. Penelitian yang menekankan internalisasi iman dan taqwa menunjukkan bahwa kombinasi kognitifAeafektifAe psikomotorik diperlukan untuk menghasilkan perubahan nyata (Supriyadi, 2. Implementasi jurnal reflektif dalam PBL ini membantu menguatkan internalisasi iman siswa. Selanjutnya, dukungan orang tua dan lingkungan sekolah terbukti menentukan keberhasilan pembelajaran iman kepada Allah. Siswa yang mendapat perhatian dan diskusi di rumah tentang tugas PBL menunjukkan hasil lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan agama anak meningkatkan internalisasi nilai (Azizah & Hidayat, 2. Di SDN 03, guru mengajak orang tua berdiskusi pendalaman tugas PBL dan melaporkan perubahan sikap anak di rumah Ae hal ini memperkuat model pembelajaran. Tantangan berikutnya berkaitan dengan kesinambungan dan penguatan setelah intervensi. Beberapa siswa menunjukkan penurunan progres setelah beberapa minggu jika tidak ada tindak Penelitian oleh Siti Fatonah . menunjukkan bahwa perubahan karakter memerlukan penguatan rutin dan lingkungan yang konsisten. Oleh karena itu. SDN 03 merencanakan penguatan mingguan berupa refleksi kelompok dan laporan tindakan iman siswa di rumah untuk menjaga keberlanjutan perubahan. Pengamatan guru juga mengungkap bahwa kesiapan guru dalam desain PBL dan pengelolaan kelas sangat mempengaruhi hasil. Guru yang lebih mahir mengelola dinamika kelompok, memberi pertanyaan yang menantang, dan memonitor refleksi siswa menghasilkan kelas yang lebih aktif. Studi oleh Agung . menegaskan bahwa kompetensi guru dalam pembelajaran aktif sangat penting. Karena itu, program pelatihan internal guru di SDN 03 direncanakan agar implementasi PBL lebih maksimal. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model PBL dalam pembelajaran iman kepada Allah di SDN 03 Kampung Nan 6 memberikan dampak positif yang signifikan: meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman konsep, motivasi belajar, penerapan afektif, dan hasil belajar. Meski demikian, implementasi perlu dibarengi dengan manajemen kelompok yang baik, media pembelajaran yang tepat, keterlibatan orang tua, dan dukungan guru yang memadai. Dengan demikian, model PBL layak diterapkan secara berkelanjutan untuk memperkuat pendidikan iman di sekolah dasar. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SDN 03 Kampung Nan 6, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dalam materi Iman Kepada Allah berhasil meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep iman dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui model PBL, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara pasif, tetapi mereka juga dilibatkan dalam proses aktif yang menantang mereka untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan mencari solusi terhadap masalah yang berhubungan dengan iman kepada Allah. Hasilnya, siswa dapat mengaitkan pelajaran agama dengan pengalaman nyata dan situasi yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan model PBL juga terbukti meningkatkan motivasi belajar siswa. Sebelum intervensi, banyak siswa yang kurang tertarik pada pelajaran iman, tetapi setelah pembelajaran berbasis masalah, mereka menunjukkan minat yang lebih besar untuk terlibat dalam kegiatan belajar, berdiskusi, dan merenungkan pemahaman mereka tentang iman. Pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata membuat materi iman menjadi lebih bermakna bagi siswa. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Namun, meskipun banyak kemajuan, tantangan tetap ada, seperti pengelolaan dinamika kelompok yang perlu diperhatikan agar setiap siswa dapat berpartisipasi secara maksimal, serta pentingnya dukungan dari orang tua dalam mendukung pembelajaran iman di rumah. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model PBL sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan iman kepada Allah di SDN 03 Kampung Nan 6, dengan dampak positif pada pemahaman kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Keberhasilan penerapan model ini juga bergantung pada keterlibatan aktif guru, orang tua, dan lingkungan sekitar siswa. REFERENCES