JURNAL AWILARAS ISSN: 2407-6627 E-ISSN 2988-4098 Beranda Jurnal: https://jurnal. id/index. php/awilaras/index Desember 2023 Volume 10 Nomor 2 Anggana: Komposisi Solo Kacapi Karya Deddy Satya Hadianda (Sebuah Analisis Teknik. Struktur dan Harmon. Ricky Subagja. Wahyu Winata Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Litbang Artvel Email: subagjaricky@gmail. ABSTRAK Anggana merupakan karya Dedy Satya Hadianda seorang komponis asal Bandung yang dibuat sekitar tahun 1987-an. Karya ini diciptakan untuk format solo kacapi pertama dalam dunia karawitan Sunda. Tidak berlebihan disematkan demikian lantaran dalam dunia karawitan tradisional, setiap komposisi selalu syarat akan element vokal, berlirik dan atau berformat ensembel. Tidak mengurangi nilai musikal yang tradisional yang memiliki bahasa dan karakteristiknya sendiri. Anggana disusun sedemikian pelik mempertimbangkan struktur maupun tekniktekniknya, diracik sedemikain dramatik dalam setiap bagiannya, dan disajikan secara ekspresif sebagai daya magisnya dengan satu buah kacapi konvensional. Dedy sang komposer seolah ingin mengungkapkan kepiawaiannya dalam mengeksplorasi, mengolah dan menciptakan susunan-susunan motif yang beragam pada setiap bagian karya Anggana. Melalui penjelajahan dinamika yang ekspresif dan kontur melodi yang kompleks menunjukan kedalaman pemahaman akan musikalitas dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anggana seolah ingin menunjukan bahwa satu buah instrumen konvensional dengan memiliki banyak keterbatasan pun bisa dieksplorasi sedemikian rupa yang tak kalah menarik dengan sajian bentuk-bentuk sonata ataupun fuga. Anggana tak ayal menjadi sumbangsih penting untuk menambah kekayaan dunia karawitan Sunda, sekaligus memberikan penawaran estetika serta logika baru dalam berkarya. Kata Kunci: Dedy Satya Hadianda. Anggana. Karawitan Sunda. ABSTRACT Anggana is a composition by Dedy Satya Hadianda, a composer from Bandung, created around the 1980s. This piece is specifically crafted for the solo kacapi, a traditional Sundanese musical instrument. The significance lies in the fact that, in the realm of traditional Sundanese music . , compositions typically involve vocal elements, lyrics, and ensemble formats. Without diminishing the value of traditional musicality, which has its own language and characteristics. Jurnal Awilaras | 98 Anggana is intricately composed, considering both its structure and techniques. is woven with dramatic intricacy in each section and presented expressively, utilizing a conventional kacapi. Dedy as the composer, seems to aim at showcasing his skill in exploring, manipulating, and creating diverse motifs throughout Anggana. Through expressive dynamic explorations and complex melodic contours, the composition demonstrates a profound understanding of musicality and the breadth of the composer's experience. Anggana appears to assert that even with the inherent limitations of a conventional instrument, such as the kacapi, it can be explored in a manner that is equally captivating as more familiar forms like sonatas or fugues. Undoubtedly. Anggana contributes significantly to enriching the world of Sundanese karawitan, offering new aesthetic and logical perspectives in musical creation. Keywords: Dedy Satya Hadianda. Anggana. Sundanese Karawitan. PENDAHULUAN Di dunia karawitan Sunda keberadaan komposisi musik utuh untuk solo instrumen dapat dikatakan hampir tidak ada. Sejauh pengamatan beberapa jenis kesenian yang masuk dalam ranah kajian Karawitan, seperti Tembang Sunda Cianjuran. Pantun. Tarawangsa atau Kacapi Kawih Mang koko-an, memang tidak ada satu karya pun yang diperuntukan sebagai komposisi solo secara utuh. Hal ini kentara berbeda jika kita komparasikan dengan sejarah musik Barat. Dari mulai zaman Barok . 0-a. hingga Romantik . 0-a. Aidengan nama-nama besar misal Johann Sebastian Bach. Mozart. Beethoven. List. Brahm. Chopin. TarregaAi misal, bahkan sampai musik-musik populer seperti sekarangAimempertimbangkan karya-karya solo Yiruma atau Armin MetzAikita akan menjumpai banyak karyakarya yang dikhususkan untuk solo instrumen. Walaupun hal tersebut di dunia karawitan Sunda ada, kebanyakan hanya sesederhana kalangenan yang tanpa pertimbangan lebih jauh tentang teknik, struktur, atau kekayaan element dan keunikan musikal yang lainnya. Dengan mengamati sekilas beberapa instrumen karawitan seperti kendang, rebab, gambang, suling, kacapi, tarawangsa, calung, angklung atau bagian-bagian dari kesatuan instrumen gamelan, kebanyakan karya-karya musikal yang Jurnal Awilaras | 99 diproduksi dengan instrumen tersebut selalu berformat ensembel. Sebaliknya berbeda dengan instrumen-instrumen musik Barat, dari satu buah violin atau seperangkat Timpani yang berjumlah lima membran perkusif pun sudah tersedia komposisi untuk solo instrumennya secara utuh. Kendati demikian, jika hanya semata-mata membandingkan ketradisian Barat dan Timur secara serampangan seperti di atas tentu dinilai naif dan tidak etis. Hal ini lantaran akar keberangkatan sosio-ekologis, sosio-ekonomi, sosio-historis dan sosio-kultural dari keduanya cukup berbeda, yang memungkinkan konsep berpikir masyarakat dan ketradisian tentang musik pun berbeda. Akan tetapi, dalam konteks tertentu keberadaan sebuah komposisi untuk solo instrumen mengimplikasikan akan tumbuhnya banyak kesadaran baruAitentang teknik, tentang gramatik, tentang dramatik, bahkan tentang kualitas suara dan estetika. Maka keserampangan yang naif dan tidak seimbang seperti membandingkan musik dari kedua blok (Barat dan Timu. sedikit banyak bisa menjadi hal positif yang menginspirasi ataupun memberi perspektif baru dalam melihat dunia Karawitan, khususnya lagi bisa memperkaya horizon musik-musik Karawitan Sunda itu sendiri. Dari keabsenan bentuk-bentuk komposisi khusus solo instrumen dalam tradisi karawitan Sunda, pada sekitar tahun 1987-an seorang komponis asal Bandung bernama Dedy Satya Hadianda, membuat sebuah komposisi khusus solo kacapi berjudul AoAngganaAo. Sebuah komposisi tanpa vokal ataupun tambahan instrumen yang lainnya. sebuah komposisi kacapi siter 20 senar yang disusun kurang lebih sebanyak 187 bar. Menurut beberapa sumber dan dari pengamatan beberapa hasil karyanya. Dedy Satya Hadianda pada dasarnya . an pada zamanny. merupakan seorang pemain kacapi dengan virtuosity tinggi. Dengan virtuositasnya tersebut pun memungkinkan Dedy melahirkan banyak karya musik untuk Solo. Duo maupun ansambel kecil lainnya, yang menjadikannya kawakan dalam ranah komposisi neo-karawitan. Ketika Dedy Jurnal Awilaras | 100 mengungkapkan skill bermain kacapinya didapatkan dari kakaknya Dody Satya Eka Gustdiman dan Gurunya Koko Koswara, yang kemudian dia kembangkan sendiri dari hasil apresiasi berbagai teknik-teknik instrumen musik Barat yang memungkinkan untuk di adaptasi. Dari latar pemain kacapi pulalah salah satu karya berjudul Anggana dibuat pada tahun 1987. Karya Anggana sendiri seingatnya diciptakan untuk ujian akhir program D3nya di jurusan Karawitan. ASTI Bandung. Pada tahun tersebut karya tidak ditulis atau didokumentasikan sama sekali. Karya Anggana hanya di ingat dan tidak pernah ditranskrip kedalam tulisan maupun dimainkan ulang. Baru pada tahun 2016 karya Anggana diajarkan Dedy pada salah satu mahasiswanya. Sofyan Triyana. Karya Anggana pada waktu dibawakan Sofyan Triyana pemaparan Dedy relatif berbeda secara struktur, teknik dan detail-detail lain dengan versi pertama yang ia buat dan mainkan. Pada versi selanjutnya karya Anggana kembali disesuaikan untuk keperluan recording album yang dibawakan oleh musisi yang sama. Dan pada versi ini penulis sempat melakukan transkripsinya ke dalam not balok. Berdasarkan pengakuannya sendiri, karya Anggana terinspirasi dari sebuah repertoar lagu karawitan berjudul Salaka Domas. Lagu ini (Salaka Doma. , memiliki melodi pokok sederhana seperti pada gambar 1. 1, yang menggunakan laras AudegungAy. Gambar 1. Notasi Salaka Domas Jurnal Awilaras | 101 Dari melodi tersebut karya Anggana disusun dan diperlebar oleh Dedy menjadi sebuah komposisi utuh untuk solo kacapi dengan judul Anggana. Menyinggung persoalan judul, sampai tulisan ini dibuat, kata Anggana pada kenyataannya termasuk kata yang jarang digunakan dalam keseharian masyarakat Jawa Barat. Jika dilihat dari sisi leksikalnya, dalam Kamus Bahasa Sunda yang disusun Maman Sumantri dkk. tahun 1985, kata AuAngganaAy diartikan sepadan dengan kata AusendiriAy. Makna ini disadari ataupun tidak, merepresentasikan peruntukan yang sama dari judul komposisi solo kacapi karya Dedy Satya Hadianda. Anggana berarti sendiri, atau komposisi satu kacapi khusus untuk dimainkan seorang diri. METODE Untuk mendapat hasil yang sedikit objektif dari mengkaji musik sebagai benda atau bahasa, metode yang digunakan umumnya berbentuk deskriptifkualitatif. Akan tetapi persoalan muncul setelah mengamati komposisi Anggana dengan sedikit intensif. Salah satunya yakni efisiensi transkrip dan tidak tersediaan simbol-simbol yang merepresentasikan beberapa ekspresi dan juga fenomena musikal lainnya yang ada dalam komposisi Anggana jika dideskripsikan ke dalam notasi DaMiNa . otasi angk. Maka alternatifnya mentranskrip karya Anggana menggunakan not balok dengan meminjam beberapa logika dan term dari disiplin Ilmu Analisis Bentuk Musik (Bara. untuk menjelaskan fenomena musikal secara Persoalan lainnya pemanfaatan not balok sering dianggap representasi dari konstanta nada atau interval yang sering digunakan di dunia barat. Sedangkan karya Anggana menggunakan instrumen karawitan dengan interval AodegungAo yang secara matematis berbeda dengan konstanta atau interval pentatonik barat. Menurut Machjar rakitan interval degung memiliki jarak antar nada sebagai Jurnal Awilaras | 102 LaAiTiAiNaAiRiAiMiAiDaAiSuAiLa 70 Ae212 Ae 212 Ae 212 Ae 70 Ae 212 Ae 212 sedangkan interval mayor memiliki jarak antar nada sebagai berikut. CAiDAiEAiFAiGAiAAiBAiC 200-200-100-200-200-200-100 Menurut pandangan Machjar pengandaian interval Mi - 100 - Fa - 200 - Sol - 200 La - 200 - Si - 100 - Do - 200 - Re - 200 - Mi, bukanlah laras Degung atau juga Pelog. Aumelainkan Pelog sumbang atau Degung sumbangAy. Tapi secara citra auditif Aohampir samaAo untuk telinga masyarakat pada umumnya. Maka untuk memediasi dan memudahkan representasi, diperlukan simplifikasi bahwa Laras Degung=Pentatonik Major. Kejelasan tentang signifikansi dari karya Anggana, secara metodik digunakan beberapa pendekatan: komparatif dan analitik dengan mengkaji beberapa sumbersumber pustaka, melakukan transkripsi musik, ataupun wawancara secara langsung dengan sang komposer. Lebih spesifik lagi, objek utama yang akan dianalisa dan dikomparasikan adalah Anggana versi audio yang sudah di record di STUDIO Prodi Karawitan. ISBI Bandung pada tahun 2018 silam. HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Anggana pada dasarnya merupakan komposisi yang dibuat menggunakan kacapi siter yang umumnya berjumlah 20 dawai. Jika dikonversi ke dalam tonalitas Barat misal Da=A, maka nada terendah berada di kisaran C#2 sedangkan nada tertingginya kisaran A5. Satu kacapi siter umumnya sering di-tunning menjadi skala pentatonik . mumnya salendro, madenda, pelog, degun. Maka, dalam satu kacapi siter secara register biasanya mencakup empat oktaf. Dengan jenis kacapi inilah Jurnal Awilaras | 103 komposisi Anggana diperuntukan. Nada dasar komposisi Anggana sendiriAiyang diidentifikasi dari audio recordingAimenggunakan nada Da=A. Sedangkan tangga nada atau interval yang digunakan dalam keseluruhan komposisi Anggana biasanya disebut dengan istilah laras degung. Jika dikonversi ke dalam tangga nada Barat maka nada yang digunakan mendekati A-C#-D-E-G#-A. Tempo yang digunakan Anggana menggunakan 80 bpm s/d 150 bpm. Akan tetapi dalam beberapa bagian komposisi justru banyak menggunakan AoaccelerandoAo dan AoritardandoAo yang cukup ekspresif . alam notasi diidentifikasi dengan tanda Aoaccel, rit, fermataA. Not yang digunakan dalam komposisinya cukup variatif, dimulai dari not Dari deskripsi tekstual ini komposisi Anggana terlihat lumrah dan biasa saja. Untuk memperlihatkan perbedaannya dengan komposisi-komposisi karawitan tradisional, melihat kerumitan, atau melihat seberapa otentiknya diperlukan analisis musik dan komparasi lebih lanjut. Tujuan dari analisis musik sendiri pada dasarnya. Au. to perceive the underlying musical structure of a piece of music, to understand its thrust and shape, and to grasp the manner in which the composer has endowed a period of time with esthetic meaning. Ay Artinya, secara sederhana hanya untuk memahami: struktur, bentuk, dan makna atau bahasa estetiknya. Akan tetapi dalam tulisan ini analisis dan komparasi yang dilakukan hanya akan membahas secara AosekilasAo mengenai persoalan Struktur. Teknik, dan Harmoni, yang digunakan. Sedangkan persoalan makna dan estetika hanya akan disinggung sebagai penegasan fenomena musikal Struktur Struktur dalam musik dibangun dari beberapa bagian mulai dari yang terkecil seperti motif, phrase, dan periode. Di dalam komposisi Anggana sederhananya terdapat empat bagian dengan beberapa bagian yang berisi Jurnal Awilaras | 104 development dan movement. Terkait episode, sebagaimana dijelaskan Glenn Spring dan Hutcheson. Au. The characteristics of the episode cannot be summarized as neatly as can those of the principal theme. Whereas the principal theme is by definition thematic in nature, episodes may be either thematic or Karena dari setiap bagian itulah yang menjadi koneksi atau menghubungkan antara bagian satu dengan bagian yang lainnya. Bagian-bagian dari komposisi Anggana bisa dilihat dalam gambar di bawah: a Bagian Pembuka Gambar 1. 2 notasi episode 1 dan episode 2 . (Gambar Pribad. Jurnal Awilaras | 105 a Bagian Tema Gambar 1. 3 Notasi episode 3 dan 4 . evelopment dan movemen. (Gambar pribad. a a a Bagian Improvisasi Bagian Development Tema Inti Bagian Penutup Dari setiap bagian atau episode dalam seluruh karya Anggana kebanyakan terdapat kalimat sambung atau bridging yang disimpan pada birama akhir. Seperti misal perpindahan Episode 1 menuju Episode 2, atau Bagian Tema menuju Development, terdapat motif berbeda yang seolah mengajak berpindah bagian atau episode. Jurnal Awilaras | 106 Notasi 1. 4 Bagian development tema inti (Gambar pribad. Notasi 1. 5 Notasi bagian penutup (Gambar pribad. Jurnal Awilaras | 107 Teknik Seperti apa yang telah disinggung sebelumnya, hasil dari mengapresiasi berbagai teknik-teknik instrumen musik Barat yang kemudian diadaptasi pada instrumen kacapi, dari sanalah beberapa teknik yang memungkinkan untuk diaplikasikan pada Anggana, diantaranya: glissando, bending, arpeggio, palm mute, tremolo, dan staccato. Berdasarkan pengaplikasianya bisa dilihat gambar di 1 Gambar glissando 2 Gambar bending 3 Gambar arpeggio Jurnal Awilaras | 108 4 Gambar palm mute 5 Gambar tremolo 6 Gambar staccato Harmoni AuHarmony is the sound that results when two or more pitches are performed simutaneously. It is the vertical aspect of music, produced by the combination of the components of the horizontal aspectAy. Artinya secara sederhana harmoni adalah suara dua atau lebih nada dengan frekuensi berbeda yang tersusun secara vertikal dan dibunyikan secara bersamaan. Dalam beberapa disiplin harmoni, secara teoritis dikenal beberapa istilah umum seperti dwisuara, trisuara dsb. Yang berarti banyaknya nada berbeda yang dibunyikan bersamaan. Dalam komposisi Anggana secara keseluruhan pada dasarnya tidak menggunakan prinsip harmoni yang rumit dan hanya menggunakan sistem harmony dwi suara atau dua suara. Meskipun yang dibunyikan 3 atau 4 dawai Jurnal Awilaras | 109 secara bersamaan, akan tetapi terdapat nada yang sama dengan register yang Hal ini secara prinsip tidak bisa dianggap triad atau add, karena merupakan bentuk lain dari oktaf yang memiliki pembagian frekuensi yang sama. 1 Gambar harmoni Pada gambar di atas terlihat setiap harmony yang dibuat selalu terbatas pada Perfect Fifth atau Kwint. Penggunaan harmoni pada karya Anggana seperti merupakan penyesuaian dari contour melodi yang bergerak dengan tujuan yang sudah terpola . eperti Balunganing Gending dalam disiplin karawitan Sund. KESIMPULAN Melalui pengamatan terhadap berbagai jenis Kesenian karawitan Sunda seperti Kacapi Kawih Mang Kokoan. Tembang Sunda Cianjuran. Pantun. Tarawangsa, dan kesenian yang menggunakan idiom kacapi, sangat jarang dan memang hampir tidak ada karya yang dikhususkan sebagai komposisi solo kacapi. Hal ini berbeda dengan sejarah musik Barat, di mana terdapat banyak karya solo dari era Barok . 0-a. hingga Romantik . 0-a. , dan bahkan hingga musik populer saat ini, seperti karya solo Yiruma atau Armin Metz. Jika pun ada di Sunda, mempertimbangkan teknik, struktur, atau keunikan elemen musikal lainnya. Meskipun perbandingan antara tradisi Barat dan Timur dinilai naif dan tidak etis karena perbedaan akar keberangkatan sosio-ekologis, sosio-ekonomi, sosiohistoris, dan sosio-kultural, keberadaan komposisi solo mencerminkan tumbuhnya kesadaran baru tentang teknik, gramatika, dramatika, kualitas suara, dan estetika. Kendati demikian, keserampangan dalam perbandingan antara musik Barat dan Jurnal Awilaras | 110 Sunda dapat memberikan inspirasi dan perspektif baru dalam melihat dunia karawitan, serta memperkaya horizon musik karawitan Sunda. Dalam konteks kekosongan komposisi khusus untuk instrumen solo dalam tradisi karawitan Sunda. Anggana merupakan menjadi jawaban atas kekosongan tadi, pada sekitar tahun 1987, seorang komponis asal Bandung. Dedy Satya Hadianda, menciptakan sebuah komposisi solo untuk kacapi berjudul 'Anggana. Komposisi ini tidak melibatkan vokal atau instrumen tambahan lainnya. kacapi siter 20 senar yang membentuk kurang lebih 187 bar. Anggana mengungkapkan kepiawaian komposer dalam mengeksplorasi, mengolah dan menciptakan susunan-susunan motif yang beragam pada setiap bagian karya Anggana. Melalui penjelajahan dinamika yang ekspresif, kontur melodi yang kompleks, kerumitan Teknik yang dimainkan dan harmoni yang digunakan menunjukan kedalaman pemahaman akan musikalitas yang dimiliki komposer. DAFTAR PUSTAKA