GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Peran Productive Engagement terhadap Kepuasan Hidup pada Lansia yang Tinggal Bersama Anak Mutia Aulia Dewi1*. Sri Redatin Retno Pudjiati1 . Universitas Indonesia. Indonesia. Abstract The phenomenon of intergenerational co-residence, particularly between older adults and their adult children, is increasingly common in Indonesia. However, not all older adults living with their children report high levels of life satisfaction. One factor that may influence life satisfaction among older adults is engagement in productive activities that provide a sense of meaning. This study aims to analyze the role of productive engagement in predicting life satisfaction among older adults living with their children. The study involved 239 older adults aged 60 and above who reside with their adult children. Life satisfaction was measured using the Satisfaction with Life Scale, and productive engagement was assessed through participation in three types of productive activities: paid work, volunteering, and caregiving for grandchildren. The results showed that, after controlling sociodemographic characteristics, productive engagement positively predicted life satisfaction among older adults living with their children. Engagement in productive activities can enhance the life satisfaction of older adults. These findings highlight the importance of supporting older adultsAo participation in meaningful activities that align with their capacities, particularly within the context of intergenerational households. Keywords: Intergenerational Co-residence. Life Satisfaction. Older Adults. Productive Engagement Article Info Artikel History: Submitted: 2025-07-02 | Published: 2025-09-30 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 15. No 3 . Page: 611 - 620 (*) Corresponding Author: Mutia Aulia Dewi. Universitas Indonesia. Indonesia. Email: mddewi5@gmail. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Lanjut usia . merupakan tahapan akhir dalam perkembangan manusia yang dimulai ketika memasuki usia 60 tahun. Indonesia telah memasuki struktur penduduk tua sejak tahun 2021 berdasarkan persentase populasi lansia yang sudah melebihi 10 persen dari total populasi (Badan Pusat Statistik, 2. Penuaan populasi . opulation agin. Page | 611 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA merupakan tantangan bagi suatu negara karena berimplikasi terhadap aspek sosialbudaya, ekonomi, dan kebijakan publik. Meskipun demikian, penuaan populasi juga dapat memberikan peluang berupa bonus demografi kedua, apabila kelompok lansia tetap memiliki potensi dan kontribusi bagi pembangunan nasional (Heryanah, 2. Untuk mewujudkan hal tersebut, penting bagi lansia memperoleh dukungan guna mengoptimalkan kapasitas intrinsik dan meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan adanya fenomena ini, perhatian dan upaya yang lebih besar sangat dibutuhkan untuk menunjang kesejahteraan lansia, khususnya di Indonesia, mengingat lansia juga kerap dihadapkan pada berbagai tantangan selama proses penuaan (Beard et al. , 2. Memasuki usia lanjut, lansia dihadapkan pada berbagai perubahan yang terus dialami, baik dari penurunan kesehatan fisik dan mental, serta kemampuan kognitif, sosial, maupun ekonomi yang dapat menurunkan kepuasan hidupnya (Khodabakhsh, 2. Sementara itu, tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi pada lansia dianggap sebagai salah satu indikator dalam mencapai penuaan yang berhasil atau successful aging (Wiest et al. , 2. Kepuasan hidup pada lansia juga dapat dipahami dalam teori perkembangan psikososial Erikson, yakni individu akan menghadapi krisis antara integritas dan keputusasaan (Santrock, 2. Individu menilai kembali kehidupan yang telah dijalani untuk mencapai penerimaan yang utuh terhadap dirinya dan masa lalunya. Ketika individu mampu menerima hidupnya dengan penuh makna dan sedikit penyesalan, maka akan tercapai integritas, yang secara psikologis dapat tercermin dalam tingginya kepuasan Diener et al. mendefinisikan kepuasan hidup sebagai komponen penting dalam subjective well-beingI, yang merujuk pada penilaian individu terhadap kualitas hidupnya secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan hidup memegang peran penting dalam mendukung perkembangan positif pada tahap akhir kehidupan, sehingga mengkaji faktor-faktor yang dapat memengaruhi kepuasan hidup lansia menjadi sebuah kebutuhan yang relevan dalam konteks penuaan penduduk. Mengacu pada data BPS . , sekitar 70 persen lansia di Indonesia tinggal dalam rumah tangga antargenerasi, termasuk tinggal bersama anak. Intergenerational coresidence merupakan istilah yang merujuk pada pengaturan tempat tinggal ketika lansia dan anak dewasa tinggal bersama dalam satu rumah (Ruggles & Heggeness, 2. Pengaturan tempat tinggal ini cukup umum dalam masyarakat Indonesia dan mencerminkan dinamika sosial yang khas dalam sistem kekeluargaan. Selain berpotensi menjadi sumber dukungan emosional dan instrumental bagi lansia (Wu, 2022. Zhu, 2. , tinggal bersama anak juga dapat memengaruhi peran, otonomi, dan kesejahteraan psikologis ke arah penurunan, yang dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari lansia (Lee & Yeung, 2022. von Humboldt et al. , 2021. Xu et al. , 2. Oleh karena itu, konteks tinggal bersama anak juga perlu dipertimbangkan dalam mengkaji faktor-faktor yang berkaitan dengan kepuasan hidup lansia. Salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi kepuasan hidup lansia adalah keterlibatan lansia dalam kegiatan produktif atau dikenal dengan istilah productive engagement (Thanakwang & Isaramalai, 2. Mengacu pada konsep successful aging, menjaga keterlibatan dalam kegiatan produktif juga menjadi komponen utama dalam mencapai penuaan yang berhasil (Rowe & Kahn, 1. Morrow-Howell dan Wang . mendefinisikan productive engagement pada lansia sebagai keterlibatan individu dalam kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa . aik dibayar maupun tida. , yang mencakup keterlibatan dalam bekerja, kegiatan sukarela, atau mengasuh. Cho dan Cheon . menemukan bahwa PE memiliki peran dalam meningkatkan kepuasan hidup lansia. Sejumlah penelitian juga telah menganalisis hubungan masing-masing aspek PE dengan Page | 612 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA kepuasan hidup lansia, dan melaporkan bahwa bekerja (Tang et al. , 2. menjadi sukarelawan (Russell et al. , 2. , serta mengasuh (Cheng & Ariyo, 2. berhubungan positif dengan kepuasan hidup lansia. Penelitian terbaru oleh Xie dan Han . juga menemukan hubungan positif antara ketiga aspek PE dengan kepuasan hidup lansia, terutama di wilayah perkotaan. Selama periode 2015 hingga 2024, persentase lansia yang bekerja mengalami peningkatan mencapai 55. 32 persen, dengan proporsi lansia laki-laki yang bekerja lebih tinggi dibandingkan perempuan (Badan Pusat Statistik, 2. Banyak lansia yang memutuskan untuk lanjut bekerja karena berbagai alasan. Lansia dengan kondisi finansial yang kurang memadai dan tidak memiliki tunjangan pensiun cenderung memilih untuk tetap bekerja (Jamalludin, 2020. Sia et al. , 2. Penelitian oleh Rahayuwati et al. yang melibatkan 15 juta lansia di Indonesia, menunjukkan bahwa mayoritas lansia merupakan pekerja informal, yaitu jenis pekerjaan yang tidak diatur secara resmi, seperti pemilik usaha kecil tanpa karyawan, wiraswasta, pekerja lepas, atau pekerja tanpa upah. Berbeda dengan keterlibatan dalam bekerja yang motif utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, menjadi sukarelawan . dilakukan atas keinginan untuk membantu orang lain, organisasi, atau komunitas tanpa adanya bayaran (Morrow-Howell, 2. Aspek PE selanjutnya, yakni mengasuh . didefinisikan sebagai keterlibatan dalam memberikan bantuan, dukungan, dan perawatan kepada orang lain yang membutuhkan, seperti cucu, pasangan, atau anggota keluarga lainnya yang sedang sakit atau memiliki disabilitas (Morrow-Howell & Wang, 2. Penelitian di Indonesia oleh Utomo et al. menemukan bahwa peran pengasuhan yang paling umum lansia lakukan adalah mengasuh cucu, baik pada lansia laki-laki maupun Dengan demikian, aspek PE yang akan diteliti dalam penelitian ini mencakup bekerja, kegiatan sukarela, dan mengasuh cucu untuk mengukur tingkat keterlibatan produktif pada lansia. Mengingat pentingnya kepuasan hidup sebagai indikator penuaan yang berhasil, serta potensi peran productive engagement dalam meningkatkan kesejahteraan lansia, khususnya yang tinggal bersama anak, maka penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh productive engagement terhadap kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai peran keterlibatan lansia dalam kegiatan produktif untuk mendukung kesejahteraan lansia dalam konteks sosial yang khas di Indonesia. METODE Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe korelasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Desain yang digunakan adalah cross-sectional karena pengumpulan data hanya dilakukan sekali pada satu waktu (Gravetter & Forzano, 2. Partisipan Partisipan penelitian ini merupakan Warga Negara Indonesia yang berusia 60 tahun ke atas dan tinggal serumah dengan anak dewasa (Ou 21 tahu. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode convenience sampling, yaitu partisipan dipilih berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan sesuai dengan ketersediaan di lapangan (Gravetter & Page | 613 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Forzano, 2. Jumlah sampel ditentukan melalui analisis a priori menggunakan perangkat lunak G*Power 3. 1 (Faul et al. , 2. dan diperoleh sebanyak 239 partisipan. Instrumen Penelitian Kepuasan hidup diukur menggunakan Satisfaction with Life Scale (SWLS) yang dikembangkan oleh Diener et al. dan telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Harlianty et al. SWLS terdiri dari 5 item dengan 7 poin skala Likert . = sangat tidak setuju, 7 = sangat setuj. Skoring dilakukan dengan menjumlahkan seluruh skor item, sehingga total skor berkisar antara 5 hingga 35. Semakin tinggi skor menunjukkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. SWLS versi bahasa Indonesia yang telah diuji coba pada populasi lansia memiliki reliabilitas dan validitas internal yang baik dengan nilai koefisien CronbachAos alpha sebesar 0. 92 dan nilai corrected item antara 0. 74 hingga 0. Productive engagement diukur melalui keterlibatan lansia selama 12 bulan terakhir dalam tiga jenis kegiatan produktif, yaitu bekerja, kegiatan sukarela . eperti komunitas sosial atau organisas. , dan mengasuh cucu. Dalam masing-masing jenis kegiatan, lansia yang menjawab AuTidakAy diberi kode 0 dan yang menjawab AuYaAy diberi kode 1. Skor total productive engagement diperoleh dengan menjumlahkan ketiga jenis kegiatan, sehingga total skor berkisar antara 0 hingga 3. Semakin tinggi skor menunjukkan bahwa lansia terlibat dalam lebih banyak jenis kegiatan produktif (Hinterlong, 2007. Xie & Han, 2. Peneliti menggunakan kuesioner yang tersedia dalam dua format, yaitu melalui Google Form untuk pengambilan data daring dan dalam bentuk kuesioner cetak untuk pengambilan data luring. Seluruh instrumen penelitian digabung ke dalam satu set kuesioner yang sama secara isi maupun urutan, yang terdiri dari informed consent, data sosiodemografis, alat ukur productive engagement dan kepuasan hidup, serta bagian Teknik Analisis Data Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics Analisis data dalam penelitian ini mencakup analisis deskriptif untuk menggambarkan distribusi partisipan dan variabel penelitian serta uji regresi bertigkat untuk menguji hipotesis penelitian, setelah memastikan bahwa data memenuhi prasyarat analisis regresi. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Partisipan Penelitian Jumlah partisipan yang dianalisis sebanyak 239 lansia. Partisipan pada penelitian ini berada pada rentang usia 60Ae92 tahun (M = 66. SD = 5. yang didominasi oleh lansia perempuan . 60%), menempuh pendidikan hingga jenjang SMA . 10%) dan D4 atau S1 . 52%), serta berstatus menikah dan tinggal dengan pasangan . 83%). Tabel 1. Gambaran Partisipan Berdasarkan Karakteristik Sosiodemografis (N = . Data sosiodemografis Usia Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tingkat pendidikan Tidak tamat SD SD/sederajat M (SD) 64 . Page | 614 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. Data sosiodemografis SMP/sederajat SMA/sederajat D4/S1 Status pernikahan Cerai mati Cerai hidup Menikah dan tinggal dengan pasangan Menikah dan tidak tinggal dengan pasangan Provinsi domisili DKI Jakarta Sulawesi Selatan Jawa Barat Banten Lainnya M (SD) GUIDENA Gambaran Variabel Penelitian Terdapat dua variabel utama yang menjadi fokus penelitian, yaitu kepuasan hidup dan productive engagement. Berdasarkan skor total SWLS (Tabel . , rata-rata kepuasan hidup partisipan berada pada kategori agak puas (M = 25. SD = 6. Meskipun demikian, sebagian besar partisipan berada dalam kategori puas . 26%), dan jika digabungkan dengan kategori sangat puas, total partisipan yang menunjukkan tingkat kepuasan hidup tinggi mencapai 55. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas partisipan merasa cukup puas hingga sangat puas terhadap kehidupannya. Pada variabel productive engagement (Tabel . , mayoritas partisipan . terlibat dalam kegiatan produktif, dengan rincian sebanyak 40. 59% terlibat dalam satu jenis kegiatan, 33. 05% dalam dua jenis kegiatan, dan 6. 69% dalam tiga jenis kegiatan. Jika ditinjau dari jenis kegiatannya, sebagian besar lansia . 44%) terlibat dalam kegiatan Tabel 2. Gambaran Tingkat Kepuasan Hidup dan Producttive Engagement (N = . Variabel Kepuasan hidup Sangat tidak puas . Ae. Tidak puas . Ae. Agak tidak puas . Ae. Netral . Agak puas . Ae. Puas . Ae. Sangat puas . Ae. Productive engagement . erdasarkan jumlah keterlibata. Tidak terlibat dalam kegiatan apapun Satu jenis kegiatan Dua jenis kegiatan Tiga jenis kegiatan Productive engagement . erdasarkan jenis kegiata. Bekerja Tidak Kegiatan sukarela Tidak Page | 615 M (SD) GUIDENA GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. Variabel M (SD) Mengasuh cucu Tidak *p < 0. 05, **p < 0. Peran Productive Engagement terhadap Kepuasan Hidup Uji regresi bertingkat dilakukan untuk menganalisis hubungan antara productive engagement dan kepuasan hidup setelah mengontrol karakteristik sosiodemografis. Pada Model 1 (Tabel . , usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, serta status pernikahan dianalisis ke dalam model dan menjelaskan 4. 9% variansi kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama anak (R2 = 0. , . = 3. 027, p < 0. Pada model ini, jenis kelamin (B = 2. 314, p < 0. dan tingkat pendidikan (B = 0. 675, p < 0. merupakan prediktor yang signifikan. Penambahan variabel productive engagement pada Model 2 meningkatkan kontribusi model menjadi 6. 8% (OIR2 = 0. 019, p < 0. Productive engagement berkontribusi secara positif dan signifikan terhadap kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama anak (B = 1. 080, p < 0. setelah mengontrol kovariat, yang menunjukkan bahwa semakin banyak bentuk keterlibatan produktif yang dilakukan lansia, semakin tinggi kepuasan hidup yang dirasakan. Sementara itu, jenis kelamin (B = 2. 205, p < 0. dan tingkat pendidikan (B = 0. 534, p < 0. tetap menjadi prediktor signifikan terhadap kepuasan hidup pada model ini. Tabel 3. Hasil Uji Regresi Bertingkat Variabel Model 1 Constant Usia Jenis kelamin Tingkat pendidikan Status pernikahan Model 2 Constant Usia Jenis kelamin Tingkat pendidikan Status pernikahan Productive engagament SE B OIR2 *p < 0. 05, **p < 0. Hasil regresi menunjukkan bahwa productive engagement merupakan prediktor signifikan terhadap kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama anak, bahkan setelah memperhitungkan variabel kontrol. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam konteks tinggal bersama anak, lansia yang tetap aktif dalam kegiatan produktif, seperti bekerja, kegiatan sukarela, dan mengasuh cucu, cenderung melaporkan kepuasan hidup yang lebih tinggi. Sesuai dengan hasil penelitian Fujii et al. bahwa lansia yang terlibat dalam berbagai jenis kegiatan produktif memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi. Temuan ini konsisten dengan konsep successful aging yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif dan bermakna sebagai salah satu komponen penting dalam menjaga kesejahteraan lansia (Rowe & Kahn, 1. Konsep role enhancement juga menjelaskan bahwa keterlibatan dalam berbagai peran dapat meningkatkan kesejahteraan lansia Page | 616 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA melalui akumulasi manfaat, seperti status, power, keterhubungan sosial, atau penurunan stres (Hiinterlong, 2. Keterlibatan lansia dalam kegiatan produktif dapat meningkatkan perasaan berdaya dan otonomi diri yang mendukung penyesuaian psikologis yang lebih baik di usia lanjut (Wang et al. , 2019. Kusz & Ahmad, 2. Productive engagement juga dapat menurunkan gejala depresi serta meningkatkan resiliensi dan kesehatan mental (Kusz & Ahmad, 2020. Wang et al. , 2019. Yen & Lin, 2. Selain itu, productive engagamentf berpotensi membantu lansia untuk mengalihkan fokus dari potensi ketegangan relasional akibat tinggal bersama anak. Dengan demikian, manfaat dari productive engagement ini dapat berperan dalam meningkatkan kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama Dampak positif dari productive engagement ini juga dapat mengurangi pengaruh negatif dari tinggal bersama anak yang berpotensi menjadi sumber konflik antargenerasi. dan meningkatkan gejala depresi, yang pada akhirnya menurunkan kepuasan hidup lansia (Lee & Yeung, 2022. Tosi & Grundy, 2. Hasil lainnya menunjukkan bahwa lansia perempuan dan tingkat pendidikan yang semakin tinggi akan meningkatkan kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama Lansia perempuan cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih kuat dan menerima lebih banyak dukungan sosial dari keluarga dibandingkan dengan lansia laki-laki, yang selanjutnya dapat meningkatkan kepuasan hidup lansia . an Daalen et al. , 2005. Yang et , 2. Sementara itu. Papi dan Cheraghi . melaporkan bahwa hubungan positif antara tingkat pendidikan lansia dan kepuasan hidup. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dapat memudahkan lansia untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan, keterampilan koping yang lebih baik, serta meningkatkan kemandirian yang menjadi aspek penting dalam meningkatkan kepuasan hidup (Zhang et al. , 2. Penelitian ini memberikan pemahaman mengenai hubungan antara productive engagement dan kepuasan hidup pada lansia. Hasil penelitian ini juga menekankan pentingnya dukungan kepada lansia untuk tetap berpartisipasi dalam kegiatan produktif sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, terutama dalam konteks tinggal bersama Namun, penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, pengambilan data secara daring dan luring memungkinkan adanya perbedaan perlakuan pada partisipan penelitian. Kedua, pengambilan data dilakukan melalui kuesioner self-report, yang rentan terhadap bias persepsi atau kesalahan dalam pelaporan. Ketiga, penelitian pengukuran productive engagement hanya mencakup tiga jenis kegiatan produktif. Terakhir, hasil penelitian ini dibatasi pada konteks lansia yang tinggal bersama anak, sehingga generalisasinya mungkin tidak dapat diterapkan pada lansia dengan pengaturan tempat tinggal yang berbeda. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan penggunaan metode pengambilan data yang konsisten, baik secara daring maupun luring, atau memastikan bahwa perbedaan metode tidak memengaruhi cara partisipan memahami instrumen. Untuk mengurangi potensi bias dalam pelaporan, penggunaan metode pengumpulan data yang lebih objektif, seperti wawancara terstruktur atau observasi, juga dapat dipertimbangkan. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi jenis kegiatan yang lebih beragam untuk memperkaya pemahaman tentang kondisi yang dapat meningkatkan kepuasan hidup lansia. Penelitian selanjutnya juga perlu dilakukan pada lansia dengan pengaturan tempat tinggal yang berbeda, seperti lansia yang tinggal sendiri atau di panti, untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas dalam berbagai konteks tempat tinggal. Page | 617 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh productive engagement terhadap kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa productive engagement memprediksi secara positif kepuasan hidup lansia, setelah mengontrol usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan status pernikahan lansia. Temuan ini menunjukkan bahwa keterlibatan lansia dalam berbagai jenis kegiatan produktif akan meningkatkan kepuasan hidup pada lansia yang tinggal bersama anak. REFERENSI