n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 845-860 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan PENERAPAN BUDAYA POSITIF KESEPAKATAN KELAS DI SMP Fauziati1*. Isesma Zurita2. Kolis Maarif3. Lizarti4. Muetia Yetisya5. Syofyani6 1,2,3,4,5,6 Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Pasca Sarjana. Universitas Bung Hatta. Padang. Indonesia *Email korespondensi : fauziatii064@gmail. Diterima Januari 2025. Disetujui Juni 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: This research aims to optimize the learning environment in Indonesian language subjects at student through the implementation of a positive culture in the form of "Class Agreement". The problems faced during the previous learning process were low student participation, lack of positive interaction between students, and disorder in class which hampered the effectiveness of learning. To overcome this, teachers implement a class agreement approach by involving students in formulating mutually agreed class rules in order to create a more conducive and supportive learning atmosphere. The methods used in implementing class agreements include group discussions, drafting joint rules, and periodic evaluation of the implementation of the agreement. The results of implementing this positive culture show an increase in active student participation, the creation of more harmonious relationships between students, and the creation of a classroom environment that is more disciplined and conducive to learning. In addition. Indonesian language learning becomes more effective with increased student involvement in discussions, group assignments and other learning activities. The implementation of class agreements has proven successful in improving the quality of learning and creating a more positive learning environment. Keywords : learning environment. Indonesian, positive culture, class agreement, student participation Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan lingkungan belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui penerapan budaya positif berupa AuKesepakatan KelasAy. Masalah yang dihadapi sebelumnya meliputi rendahnya partisipasi siswa, kurangnya interaksi positif antar siswa, dan ketidaktertiban kelas yang menghambat efektivitas pembelajaran. Untuk mengatasi ini, guru menerapkan pendekatan kesepakatan kelas dengan melibatkan siswa dalam merumuskan aturan kelas yang disepakati bersama guna menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan mendukung. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif, melibatkan observasi partisipatif, wawancara, dan analisis dokumen. Metode yang digunakan dalam penerapan kesepakatan kelas mencakup diskusi kelompok, penyusunan aturan bersama, dan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan kesepakatan. Hasil penerapan budaya positif ini menunjukkan peningkatan partisipasi aktif siswa, terciptanya hubungan yang lebih harmonis di antara siswa, serta lingkungan kelas yang lebih disiplin dan kondusif untuk belajar. Selain itu, pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih efektif dengan meningkatnya keterlibatan siswa dalam diskusi, tugas kelompok, dan aktivitas pembelajaran lainnya. Penerapan kesepakatan kelas terbukti berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif. Kata kunci : lingkungan belajar. Bahasa Indonesia, budaya positif, kesepakatan kelas, partisipasi siswa. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu elemen penting dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi proses pembelajaran adalah lingkungan belajar yang Penerapan Budaya Positif Kesepakatan . (Fauziati. Zurita. Maarif. Lizarti. Yetisya, & Syofyani , 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 845-860 http://jurnal. id/index. php/dedikasi ada di sekitar peserta didik. Lingkungan belajar yang kondusif akan mendukung tercapainya tujuan pendidikan, seperti pengembangan karakter dan peningkatan kompetensi. Lingkungan belajar yang kondusif dapat diciptakan melalui penerapan budaya positif di sekolah. Budaya positif dalam pendidikan adalah suatu pendekatan yang menekankan pada pengembangan sikap positif, perilaku baik, serta interaksi yang harmonis antara siswa, guru, dan lingkungan sekolah. Budaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan belajar dan berdampak pada keberhasilan proses pendidikan. Salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif adalah dengan menerapkan budaya positif di kelas, salah satunya melalui penerapan konsep AuKesepakatan KelasAy. Lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung merupakan faktor penting dalam keberhasilan proses Tidak hanya fasilitas yang memadai, tetapi juga suasana sosial yang saling mendukung antara siswa, guru, dan orang tua menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kesepakatan kelas yang diterapkan mencakup serangkaian nilai, norma, dan kebiasaan yang mendorong terciptanya interaksi yang harmonis dan produktif antara semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan karakter, emosi, dan sosial siswa, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan membentuk siswa yang lebih matang baik secara akademik. KAJIAN PUSTAKA Pengertian Lingkungan Belajar Dewantoro . alam Watoyo, 2. mengatakan bahwa lingkungan belajar mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat ketiga lingkungan tersebut sebagai tripusat yang mempengaruhi manusia secara berfariasi. Slameto . alam Noviana, 2. Dalam proses pembelajaran, lingkungan belajar merupakan sumber belajar yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran. Sama halnya dengan vasilitas belajar, lingkungan belajar juga merupakan salah satu faktor yang juga tidak dapat di abaikan begitu saja meskipun kelihatannya sangatlah sepele. Sebab, lingkungan merupakan bagian dari manusia khususnya bagi siswa untuk hidup dan berinteraksi dengan sesamanya. Kondisi lingkungan belajar yang kondusif baik lingkungan rumah maupun akan menciptakan ketenangan dan kenyamanan siswa dalam belajar sehingga siswa lebih mudah memahami dan menguasai bahan atau materi belajar secara maksimal. Lingkungan yang baik perlu diusahakan agar dapat memberi dampak yang positif terhadap anak atau siswa sehingga dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Blocher . alam Noviana, 2. juga menjelaskan lingkungan belajar merupakan suatu konteks lingkungan fisik, sosial dan psikologi yang dalam konteks tersebut individu belajar dalam memperoleh perilaku baru. Lingkungan belajar menurut Slameto . alam Noviana, 2. lingkungan belajar yang baik perlu diusahakan agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap anak atau siswa sehingga dapat belajar dengan sebaikbaiknya. Suryabrata . alam Ariwibowo, 2. meyatakan bahwa lingkungan belajar adalah sesuatu yang berada di luar diri individu dimana dalam keseluruhan tingkah lakunya individu tersebut berinteraksi dengan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 845-860 lingkungannya, baik disadari maupun tidak disadari langsung maupun tidak langsung. Purwanto . alam Wulandari,2. mengatakan lingkungan belajar adalah semua kondisi dalam dunia dengan ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita,pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen. Barnadib . alam Wulandari, 2. mengatakan bahwa lingkungan belajar adalah sesuatu yang ada disekitar kita lingkungan sekolah adalah jumlah semua benda mati serta seluruh kondisi yang ada didalam lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program pendidikan dan membantu siswa mengembangkan potensinya. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar adalah salah satu sarana dan prasarana yang sangat penting dalam mengembangkan prestasi siswa baik secarapengetahuan . sikap relatif . dan keterampilan . Aspek-Aspek Lingkungan Belajar Aspek-aspek lingkungan belajar menurut Dewantoro . alam Watoyo, 2. , mengatakan bahwa aspekaspek lingkungan belajar terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ketiga lingkungan tersebut sebagai tripusat yang mempengaruhi manusia secara bervariasi. Penjelasan sebagai Lingkungan Keluarga Cara Mendidik Anak Cara orang tua mendidik anak sangat besar pengaruhnya terhadap proses pembelajaran anak tersebut. Orang tua yang kurang memperhatikan anaknya, acuh tak acuh dan tidak memperhatikan perkembangan anaknya akan menyebabkan kesulitan belajar bagi si anak. Sebaliknya orang tua yang memperhatikan perkembangan anaknya maka akan menjadi pendorong bagi anak untuk menjadi lebih giat dalam belajar. Orang tua yang kurang memperhatikan anaknya, acuh tak acuh dan tidak memperhatikan perkembangan anaknya akan menyebabkan kesulitan belajar bagi si anak. Sebali. Hubungan antara anggota keluarga Faktor hubungan antara keluarga ini penting sekali dalam menentuan kemajuan belajar anak. Hubungan ini yang penting adalah hubungan antara orang tua dan anak serta hubungan anak dengan saudara-saudaranya. Bimbingan dari orang tua Orang tua merupakan contoh bagi anak-anaknya, segala yang dilakukan oleh orang tua secara tidak sadar akan ditiru oleh anak-anaknya tersebut. Segala yang dilakukan oleh orang tua secara tidak sadar akan ditiru oleh anak-anaknya tersebut. Karenanya sikap orang tua yang salah perlu di hindari. Suasana rumah Suasana yang dimaksud dalam hal ini adalah suasana dalam belajar sang anak. Suasana yang sangat ramai atau gaduh maka anak tidak akan dapat belajar dengan baik. Keadaan ekonomi keluarga Keadaan ekonomi keluarga sangat erat kaitannya dengan belajar sang anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi kebutuhan pokoknya maka kebutuhan yang lain yang harus terpenuhi adalah fasilitas belajarnya. Penerapan Budaya Positif Kesepakatan . (Fauziati. Zurita. Maarif. Lizarti. Yetisya, & Syofyani , 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 845-860 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Lingkungan Sekolah Hubungan antar guru dengan siswa Proses belajar mengajar terjadi antara guru dengan siswa, jika hubungan ini dappat terjalin dengan baik maka siswa akan dapat memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru pada saat belajar. Hubungan antara siswa dengan siswa lain Hubungan antara siswa dengan siswa yang lain sangatlah penting karena siswa yang tidak mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya akan diasingkan oleh kelompok dalam belajar akibatnya akan dapat mempengaruhi nilai belajarnya. Alat belajar Alat merupakan sarana dalam belajar. Alat pelajaran yang kurang lengkap akan membuat materi kurang tersampaikan dengan baik dan akan menghasilkan gangguan dalam penerimaan materi yang disampaikan kepada siswa. Kurikulum Kurikulum merupakan sejumlah keguatan yang diberiakan kepada siswa, kegiatan itu menyajikan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran. Disiplin sekolah Kedisiplinan sangat erat kaitanya dengan ketertiban siswa dalam mengikuti kegiatan belajar dikelas. Kedisiplinan juga menyangkut akan kedisiplinan para guru yang berada pada lingkungan sekolah tersebut. Kondisi Gedung Kondisi gedung ini terutama di tunjukan pada lingkungan kelas atau ruangan tempat proses belajar Ruangan kelas harus memenuhi syarat-syarat kebersihan, cukup cahaya dan udara, keadaan gedung yang jauh dari keramaian. Lingkungan Masyarakat Teman bergaul Teman bergaul sangat besar pengaruhnya dan lebih cepat masuk ke dalam jiwa si anak. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik dan maka sebaliknya teman bergaul yang kurang baik akan memerikan dampak yang kurang baik juga. Lingkungan Tetangga Corak kehidupan tetangga akan mempengaruhi anak-anak yang akan bersekolah. Misalnya, tetangga yang suka berjudi, menganggur dan tidak memiliki kegiatan yang bemanfaat akan mempengaruhi motivasi belajar sang anak. Aktivitas dalam Masyarakat Kegiatan ini dapat menguntungkan dan merugikan bagi si anak serta bagi perkembangan pribadi anak. Siswa harus mampu memilih kegiatan yang benar-benar mampu mendukung kegiatan belajar sianak. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 845-860 Media Massa Media massa seperti radio, televisi, surat kabar, dan lain-lain. Jika media massa baik, akan menguntungkan bagi anak. Sebaliknya, jika media massa sering menayangkan hal-hal yang digunakan untuk konten-konten negatif, maka akan memberikan dampak negatif bagi anak. Permasalahan-Permasalahan Lingkungan Belajar Dan Solusi Tinjauan Teoritis Permasalahan-Permasalahan Lingkungan Belajar Beberapa permasalahan dilingkungan belajar adalah: Kondisi Fisik Ruang Kelas. Kondisi fisik ruang kelas yang tidak nyaman, seperti pencahayaan yang buruk, suhu yang tidak sesuai, atau kebisingan yang tinggi, dapat mengganggu konsentrasi siswa. Hal ini dapat mengurangi efektivitas pembelajaran. Kurangnya Sumber Daya. Banyak sekolah menghadapi kekurangan dalam hal buku, alat peraga, dan teknologi pendidikan. Akses yang terbatas terhadap sumber daya ini dapat menghambat proses belajar Rendahnya Motivasi Siswa. Motivasi merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran. Siswa yang kurang termotivasi cenderung tidak aktif dalam mengikuti pelajaran, yang berdampak pada hasil belajar Salah satu masalah yang paling sering dialami siswa adalah kurangnya motivasi diri. Motivasi siswa yang rendah ini dapat menyebabkan sulitnya untuk memperoleh hasil belajar maksimal karena tidak adanya dorongan internal untuk mencapai hal tersebut. Kurangnya motivasi bisa terjadi untuk mata pelajaran tertentu atau seluruh mata pelajaran yang disebabkan beragam faktor sehingga perlu dicari tahu penyebab yang melatarbelakanginya. Beberapa penyebab umum kurangnya motivasi siswa, yaitu karena lelah dan stres, adanya kegiatan lain yang lebih menarik perhatian, merasa bosan, tidak menyukai guru mata pelajaran tertentu, kondisi kesehatan yang tidak baik, kurang tidur dan selalu mengkhawatirkan kegagalan, hingga beban belajar di luar batas kemampuan siswa. Jika telah menemukan salah satu masalah di atas maka tindakan selanjutnya adalah mengambil langkah spesifik untuk mengatasi kemungkinan penyebab rendahnya motivasi diri seorang siswa. Motivasi diri dapat diketahui, salah satunya dengan mencari tahu hal yang dapat memotivasi diri, seperti: kepuasan saat menyelesaikan tugas. menerima komentar yang baik dari guru. dianggap sukses oleh rekan atau orang tua. memperoleh hadiah/reward setelah belajar. mendapat nilai terbaik. Apabila seseorang telah mengetahui faktor penyebab rendahnya motivasi sekaligus hal yang dapat membuat mereka termotivasi maka mengatasi permasalahan jadi lebih mudah. Di sisi lain, motivasi diri dapat ditingkatkan dengan menyimpan beberapa kutipan motivasi di meja belajar dari berbagai tokoh agar dapat menginspirasi diri untuk terus maju. Selain itu, memotivasi diri juga dapat dilakukan dengan makan makanan Penerapan Budaya Positif Kesepakatan . (Fauziati. Zurita. Maarif. Lizarti. Yetisya, & Syofyani , 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 845-860 http://jurnal. id/index. php/dedikasi manis dalam porsi yang tepat juga berguna untuk memperbaiki mood, menambah sumber energi agar tidak lesu, dan meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis dan logis. Lebih lanjut, menghargai diri sendiri, memahami gaya belajar dan mengomunikasikan kesulitan yang dialami juga bisa menjadi solusi untuk mengatasi kurangnya Peran orang tua dan guru juga berperan penting dalam memberikan motivasi terhadap siswa mengenai kesuksesan atau kegagalan yang pernah mereka alami. Sikap Negatif Terhadap Pembelajaran Sikap negatif siswa terhadap pembelajaran, sering kali disebabkan oleh pengalaman belajar yang tidak menyenangkan, dapat menciptakan suasana kelas yang tidak kondusif. Sikap negatif terhadap pembelajaran merujuk pada pandangan, perasaan, atau tindakan yang menunjukkan ketidakpuasan, ketidakminatan, atau penolakan terhadap proses belajar. Ini dapat mencakup perilaku seperti kurangnya motivasi, kebosanan, frustrasi, atau bahkan penolakan untuk terlibat dalam kegiatan belajar. Penyebab sikap negatif terhadap pembelajaran, yaitu sebagai berikut. Pertama, pengalaman buruk di masa lalu, yakni siswa yang pernah mengalami kegagalan atau pengajaran yang tidak menyenangkan mungkin mengembangkan sikap negatif terhadap pembelajaran. Kedua, metode pengajaran yang monoton berupa penggunaan metode pengajaran yang tidak variatif dan membosankan dapat menyebabkan siswa merasa jenuh dan tidak tertarik. Ketiga, tekanan akademis berupa tekanan dari orang tua, guru, atau diri sendiri untuk mencapai hasil yang tinggi dapat menciptakan stres dan mengurangi kecintaan siswa terhadap pembelajaran. Keempat, kurangnya dukungan emosional seperti siswa yang tidak merasa didukung oleh guru atau teman sebaya mungkin merasa terisolasi dan kehilangan motivasi. Kelima, perbedaan gaya belajar seperti ketika metode pengajaran tidak sesuai dengan gaya belajar siswa, mereka dapat merasa tidak berhasil dan mengembangkan sikap negatif. Dampak sikap negatif terhadap pembelajaran sebagai berikut ini. Pertama, rendahnya keterlibatan, misalnya, siswa yang memiliki sikap negatif cenderung kurang terlibat dalam diskusi kelas dan kegiatan belajar Kedua, kinerja akademis yang buruk sering kali berdampak langsung pada hasil akademis yang rendah. Ketiga, masalah emosional, yakni siswa mungkin mengalami kecemasan, depresi, atau masalah emosional lainnya akibat sikap negatif yang berkepanjangan. Keempat, sikap negatif dapat mengarah pada pengembangan karakter yang buruk, seperti kurangnya rasa percaya diri dan motivasi. Solusi untuk mengatasi sikap negatif terhadap pembelajaran, yaitu sebagai berikut ini. Pertama, menerapkan pembelajaran aktif yang melibatkan siswa secara langsung, seperti diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, atau penggunaan teknologi, dapat meningkatkan keterlibatan. Kedua, memberikan penguatan positif dapat membantu meningkatkan motivasi dan mengubah sikap negatif. Ketiga, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung yang baik antara guru dan siswa, serta menciptakan suasana yang aman dan mendukung, dapat membantu siswa merasa lebih nyaman. Keempat, menggunakan pendekatan diferensiasi dengan menyesuaikan dengan kharakteristik siswa sehingga dapat membantu mereka merasa lebih berhasil dan Kelima, memberikan dukungan emosional melalui konseling atau program pengembangan sosial emosional dapat membantu siswa mengatasi masalah yang mereka hadapi. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 845-860 Sikap negatif terhadap pembelajaran dapat menjadi penghalang besar bagi keberhasilan akademis siswa. Dengan memahami penyebabnya dan menerapkan solusi yang tepat, guru dan pendidik dapat membantu siswa mengembangkan sikap positif yang akan mendukung proses pembelajaran mereka. Kurangnya Dukungan Emosional Dukungan emosional yang minim dari guru atau lingkungan sekitar dapat membuat siswa merasa terisolasi, yang berpengaruh pada kemampuan mereka dalam belajar. Perbedaan Gaya Belajar Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda. Metode pengajaran yang seragam sering kali tidak efektif untuk semua siswa, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih variatif. Solusi Berdasarkan Tinjauan Teoritis Teori Lingkungan Belajar Menurut teori lingkungan belajar, menciptakan ruang yang nyaman dan teratur dapat meningkatkan konsentrasi siswa. Penataan ruang yang baik dan penggunaan teknologi yang mendukung dapat menjadi solusi. Teori lingkungan belajar mencakup berbagai pendekatan dan konsep yang menjelaskan bagaimana lingkungan fisik dan sosial mempengaruhi proses belajar. Berikut beberapa teori utama dalam lingkungan belajar sebagai berikut ini. Teori behaviorisme, yakni menekankan pengaruh lingkungan eksternal terhadap perilaku belajar. Belajar dilihat sebagai respon terhadap rangsangan dari lingkungan, dan reinforcement atau penghargaan digunakan untuk memperkuat perilaku yang diinginkan. Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah laku. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukan perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran di aplikasikan dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang ada di sekolahsekolah pada umumnya. Pembelajaran yang berpedoman pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah tersusun dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. AuSiswa di harapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang di pahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus di pahami oleh muridAy. Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau Input yang berupa stimulus dan keluaran atau Output yang berupa respon. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa terhadap Penerapan Budaya Positif Kesepakatan . (Fauziati. Zurita. Maarif. Lizarti. Yetisya, & Syofyani , 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 845-860 http://jurnal. id/index. php/dedikasi stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respon. oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru . dan apa yang dihasilkan siswa . , semuanya harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku. Kelebihan teori behavioristik dalam pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut ini. Membisakan guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar. Guru tidak membiasakan memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika murid menemukan kesulitan baru ditanyakan pada guru yang bersangkutan. Mampu membentuk suatu prilaku yang diinginkan mendapatkan pengakuan positif dan prilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif yang didasari pada prilaku yang tampak. Dengan melalui pengulangan dan pelatihan yang berkesinambungan, dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika anak sudha mahir dalam satu bidang tertentu, akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang berkesinambungan tersebut dan lebih . Bahan pelajaran yang telah disusun hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu mampu menghasilakan suatu prilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu. Dapat mengganti stimulus yang satu dengan stimuls yang lainnya dan seterusnya sampai respons yang diinginkan . Teori ini cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsure-unsur kecepatan, spontanitas, dan daya tahan. Teori behavioristik juga cocok diterapakan untuk anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru, dan suka dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung. Pembiasaan dan disiplin menjadi pegangan dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan dalam penambahan pengetahuan di kategorikan sebagai kesalahan yang perlu di hukum dan keberhasilan belajar di kategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. AuSiswa adalah obyek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus di pegang oleh sistem yang berada diluar diri siswa. Demikian juga, ketaatan pada aturan juga di pandang sebagai penentu keberhasilan belajarAy (Degeng, 2. Maka dari itu perlu kita ketahui mengenai apa yang dimaksud teori belajar behavoristik dan bagai mana implikasi teori behavioristik dalam pembelajaran. Berdasarkan penjelasan tersebut dari disimpulkan bahwa teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dari beberapa teori belajar behavioristik yang dikembangkan dapat disimpulkan bahwa untuk memunculkan respon yang diharapkan dibutuhkan penguatan . Aplikasi teori belajar behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya sehingga model yang paling cocok adalah Drill dan Practice, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan anak usia dini. TK untuk melatih kebiasaan baik. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 845-860 karena anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang ada dilingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan Sedangkan untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi teori behavioristik ini banyak digunakan antara lain untuk melatih percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori kognitivisme, yakni fokus pada proses mental yang terlibat dalam belajar. Lingkungan belajar yang mendukung, seperti ruang kelas yang teratur dan sumber daya yang memadai, dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas (Given, 2014: . Dalam belajar, kognitivisme mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor eksternal atau lingkungan. Bagi kognitivisme, belajar merupakan interaksi antara individu dan lingkungan, dan hal itu terjadi terusmenerus sepanjang hayatnya. Kognisi adalah suatu perabot dalam benak kita yang merupakan AupusatAy penggerak berbagai kegiatan kita: mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisis berbagai masalah, mencari informasi baru, menarik simpulan dan sebagainya (Nugroho, 2015: . Teori konstruktivisme adalah pendekatan dalam pendidikan yang menekankan bahwa belajar adalah proses aktif dalam hal ini individu membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa belajar adalah proses aktif di mana individu membangun pengetahuan mereka sendiri. Lingkungan belajar yang kolaboratif dan interaktif, seperti diskusi kelompok dan proyek, sangat mendukung pendekatan ini. Shymansky mengatakan konstuktivisme adalah aktivitas yang aktif, di mana peserta didik membina sendiri pengetahuannya, mencari arti dari apa yang mereka pelajari, dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide-ide baru dengan kerangka berfikir yang telah ada dimilikinya. Berdasarkan pendapatnya di atas, maka dapat dipahami bahwa konsturktivisme merupakan bagaimana mengaktifkan siswa dengan cara memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk memahami apa yang mereka telah pelajari dengan cara menerpakan konsep-konsep yang di ketahuinya kemudian mempaktikkannya ke dalam kehidupan sehari-harinya. Berdasarkan pendapat para tersebut, dapat disimpulkan bahwa yaitu konstruktivisme merupakan sebuah teori yang memberikan keluasan berfikir kepada siswa dan memberikan siswa dituntut untuk bagaimana mempraktikkan teori yang sudah di ketahuinya dalam kehidupannya. Teori sosial budaya, yakni dikembangkan oleh Vygotsky, teori ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam proses belajar. Lingkungan belajar yang kaya akan interaksi dan dukungan sosial dapat memperkaya pengalaman belajar. Teori pembelajaran experiential, yakni menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam belajar. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk praktik dan refleksi dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa. Penerapan Budaya Positif Kesepakatan . (Fauziati. Zurita. Maarif. Lizarti. Yetisya, & Syofyani , 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 845-860 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Teori Motivasi Teori motivasi, seperti yang diungkapkan oleh Maslow, menunjukkan bahwa memenuhi kebutuhan dasar siswa sangat penting. Pendekatan seperti pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa. Teori Perilaku Positif Teori perilaku positif menekankan pentingnya penguatan positif untuk mendorong perilaku baik. Penghargaan dan pengakuan dapat meningkatkan sikap siswa terhadap pembelajaran. Teori Kecerdasan Emosional Penerapan teori kecerdasan emosional dalam kelas dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung emosi siswa. Pelatihan untuk guru dalam memahami dan mengelola emosi siswa sangat diperlukan. Multiple Intelligences Teori multiple intelligences oleh Howard Gardner menunjukkan pentingnya mengenali gaya belajar yang Pendekatan diferensiasi dalam pengajaran dapat membantu memenuhi kebutuhan semua siswa. Budaya Positif Disiplin Positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa . ermasuk orangtua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda, dan lainny. Kriteria Utama Disiplin Positif Kriteria utama disiplin positif sebagai berikut ini. Pertama, bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan . enunjukkan sikap hormat dan memberi semanga. Kedua, membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari kelas. Ketiga, memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil . pemberian hukuman bersifat dapat menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif dalam proses belajar pada anak yang bersifat jangka panjan. Dengan begitu, pendidik fokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, bukan hanya pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu. Keempat, menerapkan disiplin positif berarti membekali murid dengan keterampilan sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat, kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab kontribusi, kerja sama. Kelima, mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun. Disiplin positif bertujuan untuk membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif . ositive reinforcemen. untuk mempromosikan perilaku yang baik. Untuk dapat mencapai hal tersebut, kita perlu memberikan murid panduan yang jelas. Pendekatan ini secara aktif mempromosikan partisipasi anak dan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 845-860 penyelesaian masalah dan di saat yang bersamaan juga mendorong orang dewasa, dalam hal ini yaitu pendidik, untuk menjadi panutan positif bagi anak-anak muda dalam perjalanan tumbuh kembang mereka. Disiplin positif bukanlah membiarkan peserta didik melakukan apa pun yang mereka inginkan. Bukan juga tentang tidak memiliki aturan, batasan atau harapan, dan reaksi jangka pendek. Apalagi tentang hukuman alternatif untuk menampar, memukul dan mempermalukan. Disiplin positif adalah solusi jangka panjang yang mengembangkan disiplin diri peserta didik. Komunikasi yang jelas, konsisten, penguatan harapan, aturan, dan batasan secara konsisten. Disiplin positif didasarkan pada mengenal peserta didik dan bersikap adil, membangun hubungan yang saling menghormati dengan peserta didik, mengajar peserta didik keterampilan seumur hidup, dan menumbuhkan kecintaan mereka belajar. Disiplin positif mengajarkan sopan santun, tanpa kekerasan, empati, harga diri dan rasa hormat untuk orang lain dan hak-hak mereka. Budaya Positif di Sekolah Budaya positif di sekolah adalah konsep yang menekankan pada pembentukan karakter dan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Lickona . menjelaskan bahwa budaya sekolah yang berperan positif dalam pengembangan karakter siswa, serta menciptakan suasana yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Budaya positif mencakup norma-norma yang diterima bersama, seperti saling menghargai, jujur, disiplin, dan konsisten. Pembelajaran Sosial dan Emosional (SEL) Social and Emotional Learning (SEL) adalah pendekatan yang mengutamakan pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa. CASEL . mendefinisikan SEL sebagai proses yang membantu siswa memahami dan mengelola emosi mereka, membangun hubungan yang positif, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab. Peran Guru dalam Membangun Budaya Positif Guru memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk budaya positif di sekolah. Zimbardo . menekankan bahwa guru harus dapat menjadi model yang baik dalam menciptakan suasana positif di kelas. Guru yang adil, peduli, dan terbuka terhadap kebutuhan siswa akan membentuk interaksi yang lebih sehat antara siswa dan guru, serta menciptakan lingkungan belajar. METODE PENELITIAN Metodologi penelitian yang digunakan pada penelitian ini, yaitu studi literatur. Studi literatur adalah proses sistematis untuk mencari, mengidentifikasi, menganalisis, dan mensintesis literatur yang relevan dengan topik penelitian tertentu. Tujuannya adalah untuk memberikan landasan teori yang kuat, mengidentifikasi celah penelitian . esearch ga. , dan membangun konteks untuk penelitian yang akan dilakukan. Nazir . mengatakan bahwa studi kepustakaan atau studi literatur merupakan teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan. Penerapan Budaya Positif Kesepakatan . (Fauziati. Zurita. Maarif. Lizarti. Yetisya, & Syofyani , 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 845-860 http://jurnal. id/index. php/dedikasi HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan pada tulisan ini menggunakan alur STAR, yakni situasi, tantangan, aksi, dan hasil. Situasi Beberapa masalah yang muncul antara lain adalah rendahnya partisipasi aktif siswa, kesulitan dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif, dan kurangnya rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajaran Selain itu, interaksi antar siswa di kelas juga cenderung kurang harmonis dan sering terjadi ketidakharmonisan dalam diskusi kelompok. Situasi ini mempengaruhi kualitas pembelajaran, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang membutuhkan komunikasi aktif dan keterlibatan siswa. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menerapkan budaya positif berupa AuKesepakatan KelasAy untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan mendukung keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Tantangan Sebagai guru Bahasa Indonesia, kita bertugas menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya nyaman tetapi juga memotivasi siswa untuk aktif berpartisipasi dan belajar dengan maksimal. Untuk itu, perlu merencanakan penerapan budaya positif berupa "Kesepakatan Kelas" yang melibatkan siswa dalam penyusunan aturan kelas yang dapat memperbaiki interaksi antar siswa dan membangun kedisiplinan serta tanggung jawab terhadap pembelajaran. Aksi Langkah-langkah yang diambil untuk menerapkan budaya positif melalui kesepakatan kelas adalah sebagai Pengenalan dan Diskusi Tentang Kesepakatan Kelas Pada pertemuan pertama, menjelaskan konsep kesepakatan kelas dan pentingnya aturan bersama untuk menciptakan suasana belajar yang positif dan efektif. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pendapat tentang apa yang mereka anggap penting dalam menciptakan kelas yang nyaman dan kondusif untuk belajar. Mendiskusikan nilai-nilai positif seperti saling menghargai pendapat, mendengarkan dengan baik, menjaga ketertiban, serta pentingnya partisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penyusunan Kesepakatan Kelas Bersama Siswa Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan aturan-aturan yang mereka anggap perlu untuk dipatuhi bersama dalam kelas Bahasa Indonesia. Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi dan kami bersama-sama memilih dan menyusun aturan yang akan menjadi kesepakatan kelas. Contoh Kesepatan Kelas Beberapa contoh kesepakatan yang disepakati bersama adalah sebagai berikut ini. Menghormati pendapat teman saat berdiskusi. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 845-860 Mengikuti aturan kelas dengan disiplin . isalnya, datang tepat waktu, tidak mengganggu tema. Berani bertanya atau memberikan pendapat dalam diskusi kelas. Tidak berbicara ketika guru atau teman sedang berbicara. Penandatanganan dan Penyebaran Kesepakatan Kelas Setelah aturan disepakati, kesepakatan tersebut dicetak dan dipajang di kelas sebagai pengingat bersama. Setiap siswa menandatangani kesepakatan kelas sebagai bentuk komitmen untuk mematuhi aturan yang telah disepakati bersama. Siswa juga diberikan salinan kesepakatan kelas untuk mereka simpan sebagai bentuk tanggung jawab Pengawasan dan Evaluasi Berkala Setiap minggu, melakukan evaluasi dengan siswa untuk mengevaluasi sejauh mana mereka sudah mematuhi kesepakatan kelas. Siswa diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman atau tantangan yang mereka hadapi dalam menerapkan kesepakatan tersebut. Jika ditemukan aturan yang kurang efektif atau belum sepenuhnya diterapkan, kami bersama-sama melakukan refleksi dan membuat perbaikan atau penyesuaian. Saya memberikan pujian atau reward bagi kelompok yang berhasil menerapkan kesepakatan dengan baik, untuk memotivasi siswa lainnya. Hasil Setelah beberapa bulan penerapan kesepakatan kelas, lingkungan belajar di kelas Bahasa Indonesia menunjukkan perubahan yang positif sebagai berikut ini. Meningkatnya Partisipasi Aktif Siswa Siswa lebih berani untuk mengemukakan pendapat dan bertanya saat pembelajaran. Diskusi kelas menjadi lebih hidup karena setiap siswa merasa dihargai dan memiliki hak untuk berbicara. Partisipasi dalam tugas kelompok dan diskusi juga meningkat, karena siswa merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran. Interaksi yang Lebih Positif Antar Siswa Dengan adanya kesepakatan yang menekankan pada saling menghargai dan mendengarkan, interaksi antar siswa menjadi lebih harmonis. Konflik atau ketegangan yang sebelumnya muncul kini dapat diselesaikan dengan cara yang lebih matang dan sopan. Siswa lebih saling mendukung dalam kegiatan belajar, baik secara individu maupun dalam kelompok. Lingkungan Kelas yang Lebih Kondusif dan Disiplin Suasana kelas menjadi lebih tenang dan teratur. Siswa lebih disiplin dalam mengikuti aturan kelas, seperti datang tepat waktu, tidak mengganggu teman, dan mengikuti instruksi dengan baik. Proses pembelajaran berjalan lebih lancar karena siswa lebih fokus dan tidak ada gangguan yang mengganggu konsentrasi mereka. Penerapan Budaya Positif Kesepakatan . (Fauziati. Zurita. Maarif. Lizarti. Yetisya, & Syofyani , 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 845-860 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Peningkatan Hasil Pembelajaran Dengan lingkungan yang kondusif dan keterlibatan siswa yang meningkat, hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia juga mengalami peningkatan, baik dalam aspek keterampilan berbahasa . erbicara, menulis, mendengarka. maupun pemahaman materi. KESIMPULAN Penerapan budaya positif melalui AuKesepakatan KelasAy berhasil menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif, aktif, dan harmonis. Dengan melibatkan siswa dalam penyusunan aturan kelas, mereka merasa lebih bertanggung jawab terhadap pembelajaran dan saling menghargai satu sama lain. Hal ini berkontribusi positif terhadap peningkatan partisipasi, disiplin, dan kualitas pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penerapan budaya positif telah menunjukkan hasil yang signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang Melalui program-program pengembangan karakter, pengelolaan kelas yang positif, dan keterlibatan orang tua, sekolah berhasil menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan mendukung bagi siswa untuk belajar dan berkembang. Budaya positif tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, tetapi juga membantu mengurangi perilaku negatif dan memperkuat pengembangan karakter siswa secara holistik. Meski tantangan masih ada, dengan komitmen yang kuat dari semua pihak, budaya positif dapat terus berkembang dan memberikan manfaat besar bagi proses pendidikan di sekolah ini. DAFTAR PUSTAKA